” SOLANDRA “

Pernahkah engkau merasa hidup begitu hampanya, kosong melompong seperti selembar kertas putih yang belum ditulisi? Pernahkah engkau bangun pagi dan merasa tidak tahu apa yang harus engkau kerjakan hari ini? Pernahkah engkau demikian segannya pulang ke rumah karena tidak ada siapa-siapa di sana? Pernahkah engkau begitu malasnya membuka kelopak matamu karena tidak ada lagi yang ingin kaulihat? Bab I mulai turun di Las Vegas. Panas yang menyengat di ambang empat puluh dua derajat Celcius mulai mereda. Lampu-lampu yang menjadikan kota yang tak pernah tidur itu tampil semarak setiap saat, mulai berkilauan menghiasi setiap sudut jalan. Tiba-tiba saja seluruh kota menjadi benderang oleh kelap-kelip lampu warna-warni. Iklan pertunjukan yang fantastis bertebaran di depan deretan hotel-hotel dari yang standar sampai yang eksklusif. Lobi-lobi hotel di sepanjang Sunset Strip dipenuhi penjudi profesional dan amatir yang berlomba mengadu untung. Turis mancanegara lalu-lalang di sepanjang kaki lima. Kamera mereka tidak henti-hentinya menjepret objek-objek yang memikat. Sementara di sudut-sudut jalan, beberapa orang anak muda menawarkan foto gadis-gadis ranum menawan yang dapat dipesan untuk menyejukkan malam. Pose mereka begitu memikat. Membuat yang ditawari jadi sulit! menolak. Las Vegas memang kota yang menarik. Unik. Tidak membosankan. Hampir setiap tabun kota itu menyajikan sesuatu yang baru. Entah pertunjukan yang fantastis atau hotel baru yang eksklusif. Tetapi Paskal tidak tertarik untuk keluar! menelusuri jalan yang panas terik seperti di gurun pasir itu. Dia memilih tinggal di lobi hotelnya yang luas dan sejuk. Setelah bosan menyusuri setiap sudut hotelnya yang sangat luas itu, dia minum segelas ice coffee sambil menikmati serombongan pemain musik yang sedang mengalunkan Come Back to Sorrento. Dan ketika lagu yang syahdu itu membelai lembut relung-relung hatinya, tiba-tiba saja Paskal merasa rindu pada istrinya. Kerinduan yang begitu saja menitis. Seperti rasa haus yang sekonyong-konyong menyentak. Lambat-lambat Paskal melangkah menuju ke kamarnya. Membiarkan matanya menikmati apa saja yang dapat dinikmati di sekelilingnya. Mesin-mesin judi yang gemerincing memuntahkan uang logam di lobi hotel yang sangat luas. Para penjudi yang memelototi tarian dadu di meja roulet. Kartu-kartu yang dihamparkan di meja bakarat. Dan gadis-gadis cantik berpakaian seronok yang lalu-lalang memamerkan diri. Tetapi Paskal tidak tergugah untuk berhenti. Keinginannya saat itu hanya satu. Pulang ke kamar untuk menemui istrinya. Meskipun dia tidak yakin Solandra ada di kamar. Di hotel yang memiliki deretan toko eksklusif yang menawarkan demikian banyak barang bermerek yang menggoda mata dan dompet, rasanya mustahil menemukan seorang wanita menganggur di kamar. So landra pasti masih memanjakan matanya di luar. Percuma mengajaknya pulang ke kamar kalau dia masih meninggalkan hatinya di toko. Jadi sambil menyimpan senyumnya, Paskal menuju ke lift yang akan membawanya ke kamar. Menunjukkan kunci kamar berbentuk sehelai kartu kepada penjaga yang selalu siaga di sana. Dan masuk ke dalam lift. j Paskal membuka pintu kamarnya tanpa mengharapkan sambutan. Dia mengira akan mengendus udara kamarnya yang sejuk tapi kosong. Tetapi begitu pintu terbuka, yang membelai hidungnya justru aroma parfum yang sudah sangat dikenalnya. Aroma yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Campuran harum melati yang lembut dan aroma sitrus yang menggoda. Dan Paskal belum sempat menutup pintu, ketika makhluk yang amat memesona itu muncul begitu saja entah dari mana. “Hai,” sapanya lembut mendayu bagai angin berembus. Solandra tegak di hadapannya bagai bidadari yang turun dari kahyangan. Rambutnya yang hitam lurus tergerai bebas sedikit melewati j bahunya yang terbuka. Gaunnya yang berwarna hijau melon dengan keyhole front dan halter neck memamerkan bahunya yang putih mulusi mengundang belaian. Sementara sabuk hitam yang meliliti pinggangnya yang ramping semakin membius Paskal, Membuatnya sampai ) lupa menutup pintu. Solandra menyunggingkan seuntai senyum j manis yang memabukkan. Dia memutar tubuh- j nya-di depan suaminya. Membuat gairah Paskal semakin menggelegak tak tertahankan. “Bagaimana?” Senyum Solandra begitu menggoda. “Bagus nggak bajunya?” “Bukan bajunya,” sahut Paskal sambil melepaskan pegangannya pada daun pintu. Membiarkan pintu itu menutup dengan sendirinya. Diraihnya istrinya dengan penuh kerinduan ke dalam pelukannya. Dikecupnya bahunya yang terbuka dengan mesra. Ketika bibirnya mulai merambah ke leher dan tangannya mulai melepaskan gaun istrinya, Solandra menggeliat manja sambil tertawa lembut. “Percuma beli baju hampir tiga ratus dolar! Dilihat saja enggak!” “Siapa bilang percuma?” desah Paskal terengah-engah meredam gairahnya. “Baju ini membuat malam kita datang lebih cepat!” “Betul?” Solandra membelai wajah suaminya sambil menyuguhkan seuntai senyum manis yang menggoda. Senyum yang membuat Paskal tak mampu lagi menahan berahinya,. “Boleh permisi ke kamar mandi sebentar?” “Tidak,” sahut Paskal sambil tergesa-gesa melepaskan pakaiannya. “Sudah terlambat!” Paskal membawa istrinya ke tempat tidur. Membaringkannya dengan lembut. Mencumbunya dengan penuh kerinduan seolah-olah mereka baru saja berpisah selama berbulan-bulan. “Aku mencintaimu, Andra,” bisiknya sambil mengecup telinga istrinya dengan mesra. Menghirup aroma parfum yang membuat berahinya meledak-ledak tak tertahankan. Kecupan itu membuat Solandra menggeliat geli sambil menahan gairah yang meronta di dada. Embusan napas suaminya menggelitik telinganya, merangsang bulu romanya yang langsung meremang. Solandra tidak ingin semuanya berlangsung terlalu cepat. Dia ingin menahannya. Supaya kenikmatan ini tidak segera berakhir. Supaya kemesraan ini tidak segera berlalu. Tetapi ketika tangan suaminya yang membelai rambutnya, pipinya, lehernya, kemudian mulai turun ke bawah, dia tidak tahan lagi. Lebih-lebih ketika bukan hanya jari-jemari Paskal yang melimpahkan kemesraan itu. Mulutnya juga. *w Solandra tidak mampu bertahan. Dia menyerah. Dan mendesah penuh permohonan sambil membiarkan gairahnya meluncur lepas dari kungkungannya. “Please,” pintanya sementara tangannya meremas rambut Paskal dengan penuh kerinduan. Dan Paskal tidak menunggu sampai gairah mereka yang sudah sampai ke puncaknya itu mengendur kembali. Dia memberikan apa yang diminta istrinya dengan segera. Disatukannya tubuhnya dengan tubuh wanita yang sangat dicintainya. Dan, tatkala tubuh mereka berayun dalam alunan simfoni cinta yang sangat indah, Paskal merasakan kepuasan yang tak terperi. Sementara Solandra yang masih, melekat rapat ke tubuh suaminya juga merasakan kenikmatan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Kenikmatan yang hanya dapat diberikan oleh suaminya. Kenikmatan yang begitu sempurna karena dianyam bukan hanya oleh tali-temali gairah dan nafsu. Tetapi karena dibuhul  oleh simpul cinta yang amat kuat. Lama ketika kemesraan itu telah berlalu, ketika mereka sudah sama-sama terkulai dalam keletihan dan kepuasan,. Paskal belum terlelap juga. Dia masih mengawasi istrinya yang ter-golek di sampingnya dengan penuh kasih sayang. Wajah yang cantik itu terkulai di at nya yang terbuka. Sementara matanya yang indah, mata yang selalu dikaguminya, terpejam rapat dalam buaian kantuk. Rambutnya yang hitam lurus, rambut yang selalu dikaguminya, rambut yang selalu memancing keinginan Paskal untuk membelainya, tergerai di dada Paskal seraya menebarkan keharuman yang merangsang. Paskal begitu mengasihi istrinya. Dia begitu memuja Solandra. Mengagumi semua yang adai dalam dirinya. Kadang-kadang kalau sedang memandangi istrinya tidur seperti ini, Paskal sering bertanya sendiri, apa jadinya kalau dia kehilangan Solandra. Kalau dia harus hidup tanpa wanitai yang dicintainya dengan sepenuh hati. Semoga hari itu tidak pernah datang dalam hidupku, pinta Paskal pahit. Semoga kami j tidak pernah berpisah. Semoga aku tidak akan ¦! pernah kehilangan dia! Bab II tENALIN, cowok gue,” Sania meraih lengan pria ganteng yang datang bersamanya ke reuni SMA mereka. “Keren nggak?” Solandra hanya membalas canda temannya dengan seuntai senyum. Senyum manis yang membuat serangga pun rasanya ingin ikut tersenyum. Dia memang tidak pernah berubah, pikir Sania kagum. Lima tahun tidak mengubah penampilan dan sifatnya. Dia masih tetap Solandra yang dikenalnya di SMA. Ketua kelas yang sabar. Murid yang paling patuh. Dan siswi yang paling pintar. Sania masih ingat sekali kejadian di SMA mereka saat itu. Bapak Fisika mendadak berhalangan datang. Ah, sebenarnya bukan mendadak. Bapak Fisika memang sering bolos. Menimbulkan persepsi jelek mengenai dirinya. Ngobjek, biasa,” komentar si nyinyir Sally, seperti biasa, sok tahu. “Bininya ngajak ke Pasar Baru,” sambung Utin sambil tertawa mengikik. Tawa yang kalau malam, apalagi kalau dia tertawa dekan kuburan, pasti membuat orang merinding. “Kabur, yuk,” usul Sania, kreatif seperti biasa. Dia memang paling sering mengajukan usul yang secara aklamasi diterima oleh seluruh kelas, kecuali tentu saja, si ketua. Solandra menjadi belingsatan sendirian ketika; ditinggalkan oleh semua temannya. Soalnya dialah yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan teman sekelasnya, meskipun dia tidak bersalah. Dan Bapak Kepala Sekolah tidak peduli apa alasannya. Tidak peduli yang salah bukan sang ketua kelas. Itu tanggung jawab seorang pemimpin. Harus menerima hukuman akibat kesalahan anak buahnya. Memang bagus kalau prinsip itu diterapkan j sesudah mereka terjun ke masyarakat nanti. Karena biasanya kalau sudah jadi pemimpin, mereka lebih sering cuci tangan. Solandra dihukum untuk kesalahan yang dilakukan teman-temannya. Ketika Bapak Kepsek tahu kelasnya kosong melompong, Solandra dimarahi habis-habisan. Tentu saja dia harus memarahi Solandra kalau tidak mau memarahi bangku dan dinding kelas. Nanti dikira edan. Dan Solandra menerima hukumannya dengan sabar. Menyalin tugas fisika yang harus dikerjakan hari ini. Membersihkan kelas. Dan menunggu sampai jam pulang sekolah di kantor Kepala Sekolah. Dia tidak melawan. Tidak membantah. Tidak menyalahkan siapa-siapa. Wajahnya tetap jernih meskipun lelah. Perangainya tetap selembut biasa. Dan dia masih bisa tersenyum tipis ketika pamit hendak pulang. Ketika keesokan harinya teman-temannya tahu apa yang terjadi, mereka menyorakinya. Tetapi Solandra tidak marah. Dia hanya menyampaikan apa yang dikatakan Bapak Kepala Sekolah. Dan menyuruh teman-temannya menyalin tugas fisika. Selesai. Tidak ada gerutuan. Tidak ada keluhan. “Lu diomelin Kepsek, ya?” tanya Titin penasaran. “Iya,” sahut Solandra singkat. “Dmukum juga?” U&gt; “Ngapain sih nanya lagi?” potong Sally gemas. “Udah tau masih nanya!” “Hati lu terbikin dari apa sih, Dra?” gerutu Sania heran campur kesal. “Lu marah dong! Mencak-mencak dikir! Lu kan nggak salah. Masa lu yang dihukum?” “Kan itu emang tanggung jawab ketua kelas,” sahut Solandra lunak seperti biasa. “Gun gagal mimpin kalian.” Solandra memang seperti itu.  Sampai sekarang. Tak ada yang bisa mengubahnya. Solandra masih tetap secantik dan selembut ketika pertama kali Sania mengenalnya. Tiga tahun menjadi sahabatnya di SMA, Sania sudah kenal sekali sifat-sifat Solandra. Dia gadis yang alim. Teman yang setia. Pendengar yang sabar. Seseorang seperti Sania sangat membutuhkan teman seperti Solandra untuk tempat mencurahkan perasaan. Karena itu persahabatan mereka berlangsung mulus sampai sekarang meskipun mereka kuliah di dua kota yang berbeda. Sania masuk fakultas kedokteran di Jakarta, sementara Solandra memilih fakultas kedokteran gigi di Surabaya, karena ibunya pindah ke sana. Solandra sudah sering mendengar cerita Sania tentang teman-teman kuliahnya termasuk Paskal Prakoso, pria yang dibawanya malam ini. Selama berpisah Sania memang sering mencurahkan isi hatinya melalui surat-surat yang dikirimnya. Tetapi Solandra belum pernah melihat Paskal. Dan ketika pertama kali Solandra melihat pemuda itu, dia merasakan sebuah perasaan aneh menjalari hatinya. Perasaan yang belum pernah dicicipinya. Ketika mata mereka bertemu untuk pertama kalinya, hatinya terasa bergetar seperti dawai. Sebuah lagu bagai mengalun lembut menyapa sisi paling dalam di lubuk hatinya. Ketika itu rasanya sekujur sarafnya ikut bernyanyi. Inikah cinta? pikir Solandra resah. Cinta pada pandangan pertama? Ya Tuhan, jangan! Lelaki ini milik Sania. Milik sahabatku! Tetapi Paskal memang tipe pria yang sangat menarik. Sulit ditolak. Sukar dijauhi. Bukan hanya tubuhnya saja yang melukiskan kelaki-lakian yang sempurna. Wajahnya pun mengguratkan ketampanan yang prima. Rahang yang kokoh. Sepasang mata yang melekuk dalam di rongga mata yang mengapif tulang hidung yang tinggi. Dan bibir tipis yang dilatarbelakangi sederet gigi yang putih rata. Wow! Solandra sangat mengaguminya. Lebih-lebih kalau dia sedang tersenyum.” Karena- setiap kali tersenyum, bukan hanya bibirnya saja yang merekah. Pipinya pun ikut melesung pipi. Dan senyum itu seolah-olah bukan hanya berhenti di bibir. Senyumnya seakan merambah ke se-.j kujur parasnya, membuat wajahnya ikut berlumur senyum. Tubuhnya yang menjulang gagah, pasti tak kurang dari seratus delapan puluh, dibalut, oleh kulit kecokelatan yang bersih. adanya | yang bidang melengkapi postur atletis yang ditampilkannya. Tanpa bertanya pun, Solandra yakin, kalau bukan atlet, dia pasti gemar berolahraga. “Gimana?” desak Sania ketika mereka saling mengucapkan salam perpisahan malam itu. “Gimana apanya?” Solandra berusaha menyembunyikan perasaannya. Ya Tuhan, jangan! Jangan sampai dia tahu! “Heran!” Sania memukul bahu temannya dengan gemas. “Kalo di kelas lu jago banget. Kenapa kalo di luar jadi telmi sih?” “Nggak ngerti ah lu ngomong apa!” “Apa lagi? Ya cowok gue!” “Kenapa cowok lu?” “Keren nggak?” “Keren.” Datarnya nada suara Solandra membuat Sania semakin penasaran. “Lu cewek apa bukan sih?” “Kok nanya gitu?” “Seingat gue, lu nggak pernah naksir cowok.” “Nggak perlu lapor sama elu, kan?” “Gue taii, lu cewek superalim, religius, inosen, dan lain-lain. Tapi pacaran tuh nggak dosa! Lu boleh aja naksir cowok. Percaya deh, Tuhan nggak marah!” “Udah deh, San, lu jangan ngaco terus!” Susah payah Solandra berusaha menyembunyikan parasnya yang tiba-tiba saja terasa panas. “Tuh, udah ditungguin cowok lu di depan! Ntar dia ngamuk, lagi!” “Paskal? Ngamuk?” Sania tertawa lebar. “Nggak pernahlah! Dia cowok yang paling sabar!” “Kalo jadi cowok lu emang mesti sabar tujuh turunan!” “Ayo, lagi pada ngegosipin siapa lagi nih?” sambar Ria, yang dua kali terpilih jadi pemimpin tim pemandu sorak SMA mereka, tapi tidak pandai memilih suami. Teman-temannya termasuk Sania, kecewa sekali ketika melihat pria yang digandengnya malam ini. Benar-benar sudah hampir kedaluwarsa. Sudah perutnya gendut, rambutnya hampir botak, lagi. Dahinya yang lebar, licin dan mengilap seperti helm. Kalau ada semut iseng-iseng jalan di sana, pasti sudah dua kali tergelincir. Heran. Dilihat dari sudut mana pun, lelaki j ini bakal tidak masuk hitungan. Nah, mengapa Ria justru memilihnya? Mengapa dia begitu tidak selektif, memilih pria yang hamp ir masuk museum? “Orangnya baik banget,” sahut Ria santai ketika teman-temannya penasaran mengorek rahasianya. “Sabar. Jujur. Kebapakan. Kayak bokap gue.” “Tapi lu mau cari suami kan, Ria? Bukan nyari babe,” sindir Delon yang sejak dulu naksir Ria. Penasaran sekali dia melihat seperti apa tampang lelaki yang akhirnya memiliki gadis yang didambakannya. Sudah sakit kali mata si Ria! “Atawa lu ngincer duitnya, ya?” “Sembarangan ngomong!” Ria memukul bahu Delon dengan gemas. Persis seperti dulu waktu SMA. Sampai lupa dia sudah punya suami. “Jahat banget sih mulut lu!” Justru saat itu suaminya muncul mengajak pulang. Tetapi sampai di depan pintu aula pun Ria masih mencari-cari teman-temannya. Rasanya dia belum ingin berpisah. “Ayo, lagi ngegosipin siapa lagi nih?” tanya Ria begitu dia melihat Sania sedang tertawa lebar. “Mau tau aja,” sahut Sania seenaknya. “Jangan percaya aja sama omongan dia, Dra!” sergah Sally, si nyinyir. “Dari dulu sampe besok, omongannya cuma setengah persen yang betul! Sisanya gombal! Ngibul!” “Jangan pada godain Solandra aja kenapa sih lu!” Seperti biasa Dicky selalu tampil sebagai pahlawan kesiangan. Seperti dulu juga teman-temannya tahu, Dicky sudah lama naksir Solandra. “Bilang sama aku kalo ada yang godain kamu ya, Dra!” 3f2 Solandra hanya tersenyum tipis. Sementara, teman-temannya tertawa gelak-gelak. “Dari dulu juga dagangan lu nggak laku!” ejek Sania geli. “Nggak pernah insaf juga!” “Lu punya cermin nggak sih, Ky?” sambar Sally menahan tawa. “Ngaca dong lu! Selama! muka lu masih jerawatan gitu, mana ada cewek yang naksir? Boro-boro Solandra, gue aja’ ogah!” “Menghina banget sih?” belalak Dicky purad pura gusar. “Ntar gue culik lu!” Sambil menahan tawa, Sania menyeret Solandra menjauhi teman-temannya. Selama] masih berkumpul bersama mereka, gurauan mereka memang tidak ada habis-habisnya. Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Begitu banyak kenangan indah yang mereka ingat kembali Begitu banyak peristiwa lucu yang membangkitkan tawa. Memang masa di SMA merupakan masa yang paling indah. Tidak heran kalau mereka enggan melupakannya. “Besok kita ngumpul lagi, ya?” tukas Sania kepada Solandra ketika malam itu mereka berpisah. “Awas lu kalo nggak nongol!” Sania memang masih ingin melepas kangen. Sudah lima tahun mereka tidak pernah berjumpa. Wajar saja kalau dia masih ingin mengobrol dengan sahabatnya. Curhat lewat surat kan tidak sama dengan kasak-kusuk begini. Lebih asyik. Yang tidak wajar justru Paskal. Di luar dugaan, ketika Solandra datang ke rumah Sania untuk menepati janjinya, Paskal ikut muncul di sana. “Tumben,” cetus Sania tanpa menyembunyikan keheranannya. “Ngapain kemari siang-siang begini?” “Emangnya nggak boleh nongol siang-siang?” jawab Paskal seenaknya setelah dia menyapa Solandra. Tentu saja tanpa melupakan senyum patennya. Senyum yang dia tahu selalu membuat gadis-gadis sulit tidur seperti minum secangkir espresso. “Elu kan kalong. Biasa terbang malam.” “Udah bagus bukan vampir! Bisa abis tuh darah lu!” Mereka tertawa geli. Solandra ikut tersenyum meskipun dia sedang repot berusaha menenteramkan hatinya. Jangan, Tuhan, jangan, pintanya antara khusyuk dan cemas. Jangan sampai saya mengkhianati reman saya sendiri! Mengambil milik orang lain…. “Ngomong-ngomong ngapain sih lu kemarir^j tanya Sania penasaran ketika sudah hampir satu jam Paskal mengobrol dengan Solandra; dia belum mengatakan juga apa tujuannya ke rumah Sania. “Emang nggak boleh?” “Ya boleh sih. Cuma heran aja. Biasanya kalo nggak ada perlunya kan elu nggak nongol jj siang-siang begini. Jangan-jangan gara-gara Solandra, ya? Lu naksir dia, ya?” “Kalo gara-gara dia emang kenapa? Nggak cemburu, kan?” “Kenapa mesti cemburu? Pacar bukan, laki bukan!” Lagi-lagi mereka tertawa geli. Membuata Solandra terenyak bingung. “Jadi dia bukan cowok lu, San?” cetus Solandra tak sabar ketika Paskal permisi pulang. Itu pun setelah tiga kali digebah Sania. Sania tertawa renyah. “Banyak yang bilang dia cowok gue.” “Kenyataannya bukan?” “Emang kenapa kalo bukan?” “Nggak kenapa-napa. Cuma aneh aja. Luj ngenalin dia cowok elu. Tapi kenyataannya buk an. Apa nggak aneh?” “Kita cuma temenan doang.” Belum pernah Solandra merasa hatinya demikian lega. Tapi begitu perasaan lega itu terlukis di wajahnya, Sania langsung melihatnya. “Kenapa? Naksir?” desaknya tajam. “Ah, nggak.” Solandra menyembunyikan wajahnya yang kemerah-merahan. “Kalo gue naksir sama semua cowok yang “lewat, udah berapa kali gue kawin?” Tapi pria yang satu ini memang berbeda. Paskal bukan sembarang pria lewat. Dia pria istimewa. Dan untuk pria yang satu ini, Solandra tidak dapat mengelak semudah biasa. Karena dia sudah jatuh cinta. Dan Sania terlambat menyadari, bukan hanya Solandra yang mencintai Paskal. Bab III ANIA dan Paskal berteman sejak tingkat persiapan fakultas kedokteran. Mereka berada dalam satu kelompok kerja dalam praktikum biologi maupun kimia anorganik. Mereka sudah merasa cocok sejak pertama kali berkenalan. Paskal tipe pria yang gampang bergaul. Humoris. Dan punya penampilan yang prima. Tidak heran kalau dia menjadi salah satu mahasiswa favorit di kampusnya. Sebaliknya Sania gadis yang menarik. Lincah. Selalu tampil apa adanya. Tidak heran kalau dalam waktu singkat mereka menjadi pasangan yang cocok. Di dalam maupun*di luar kampus. Apalagi mereka punya hobi yang sama. Basket, renang, dan karate. Mereka selalu mengisi waktu luang bersama- j sama. Tetapi selama lima tahun berteman, hub an mereka tidak pernah lebih dari itu. Teman kuliah. Teman main basket. Teman nyontek. Pokoknya mereka saling membutuhkan. Saling mengisi. Saling membantu. Kalau mobil Sania rusak, dia tinggal menelepon Paskal. Sebaliknya kalau Paskal perlu catatan kuliah, dia tinggal menghubungi Sania: Dulu teman-teman Sania mengira mereka pacaran. Tapi lama-kelamaan mereka tahu, Sania hanya menganggap Paskal sahabatnya. “Kayak abang gue deh,” sahut Sania seenak perutnya seperti biasa. “Kebetulan gue nggak punya abang. Mudah-mudahan aja adik-adiknya nggak pada komplen.” Selama lima tahun, Sania memang tidak merasa terusik dengan hubungan mereka. Karena selama itu, Paskal memang tidak pernah jatuh cinta. Dia sering bergaul intim dengan gadis-gadis. Tapi tidak ada yang serius. Teman-teman kuliahnya menjulukinya playboy kampus. Soalnya dia sudah memacari hampir semua gadis cantik di kampusnya. Tetapi tidak ada yang bertahan lebih dari enam bulan. “Kalo ada yang mecahin rekor, tahan tuj bulan aja ama elu, Pas, pasti udah masuk ‘Berita Kampus’,” gurau Sama setiap kali Paskal putus dengan teman gadisnya. “Heran. Mau nyari yang kayak apa lagi sih lu?” “Yang cakep kayak bintang film, tapi bawel kayak elu,” sahut Paskal sambil menyeringai pahit. “Bohongi Lu emang nggak pernah serius! Gue sumpahin lu jatuh cinta setengah gila sama nenek-nenek bongkok! Biar tau rasa lu! Disumpahin mantan-mantan lu!” Sania tahu pasti, Paskal memang tidak pernah serius. Dia selalu menceritakan sudah sejauh mana hubungannya dengan gadis-gadisnya Menceritakan sambil tertawa geli mengenai teman gadisnya sampai Sania tahu rahasia-rahasia kecil dari mantan-mantan pacar Paskal. Hal-hal yang seharusnya tidak boleh diceritakan pada orang lain. Keterlaluan! Tetapi namanya saja Paskal. Dia memang brengsek! Dia tidak pernah serius pacaran. -i Dia tidak pernah merasa bersalah menceritakan apa yang tidak boleh diceritakan kepada sahabatnya. Tidak heran Sania jadi sering senyum-senyum sendiri kalau bertemu muka dengan teman gadis Paskal. Aku tahu semua rahasiamu, celoteh Sania dalam hati. termasuk ukuran BH-mu sampai i model CD-mu! Hihihi…. j Tetapi kali ini, ada yang berbeda. Kali ini, sesuatu yang tidak biasa terjadi. Kali ini, Paskal jatuh cinta. Dan kali ini, dia serius. Kali ini, dia jadi pelit memberi info. Dia malah terkesan menutup-nutupi. Terpaksa Sania yang mendesak. Mengorek. Memancing. Karena dia penasaran sekali. “Siapa sih cewek lu yang baru ini, Pas? Gue kenal orangnya?” “Bukan orang jauh, San.” “Gue tau bukan orang dari bulan! Tapi siapa dong?” “Temen lu, San.” “Temen gue?” Sania mengerutkan dahinya. “Lu tau nggak sih berapa ribu temen gue?” “Solandra.” Sania terenyak diam. Tidak menyangka Solandra-lah orangnya! Jadi… Melihat sahabatnya tertegun  diam, Paskal jadi penasaran. “Dia belum punya pacar kan, San?” “Mana gue tau!” sergah Sania sengit. Sesudah menyemprot dia baru menyesal. Mengapa dia jadi sekasar itu? Mengapa dia marah? “Lu kan sahabatnya. Masa nggak tau dia udah punya cowok atau belon?” “Mana gue tau? Dia kan jauh di Surabaya. Emang gue satpamnya!” “Dia nggak pernah cerita?” “Lu kan tau kayak apa orangnya si Solandra.” “Nggak pernah ngadu sama elu?” “Jarang.” Tentu saja Sania bohong. Dan dia sendiri jadi bingung. Mengapa harus berbohong? • “Gue nggak peduli,” cetus Paskal tegas. “Pokoknya sebelum dia jadi istri orang, dia masih bebas diperebutkan! Iya, kan, San? Lu setuju kan, fren? Lu nyokong gue, kan? Selalu di belakang gue kayak gerobak?” Paskal memukul bahu Sania separo bercanda seperti biasa. Tapi kali ini Sania tidak biasa, j Kali ini dia tidak menyambut canda temannya. Wajahnya mendung seperti langit mau hujan. “Lu kenapa sih?” desak Paskal heran. Menyadari ada yang berubah pada temannya. “Lu nggak setuju gue pacaran sama Solandra? Ada yang gue nggak tau tentang dia? Dia lesbi? Nggak doyan cowok? Drakula? Suka ngisep &lt;fctrah?” “Jangan ngaco lu ah!” berungut Sania kesal, ggak lucu!” “Gue serius, San! Lu kan temen gue. Makanya gue nanya. Sebelon kejeblos!” “Lu nggak bakalan bisa dapat Solandra!” “Kenapa? Tampang gue kurang komersil?” “Dia bukan cewek buat elu!” “Abis cewek buat siapa dong?” “Solandra tuh alim abis, tau nggak? Religius! Nggak doyan cowok model elu!” “Nggak peduli! Pokoknya sekali punya target, bakal gue kejar sampai dapat!” Dan Paskal tidak main-main. Dia benar-benar mengejar Solandra. Semenjak saat itu, tidak ada akhir minggu yang terlewatkan. Setiap hari Sabtu, Paskal selalu ke Surabaya untuk menemui gadis idamannya. Tetapi menaklukkan gadis sekaliber Solandra memang tidak mudah. Diperlukan kerja keras dan sedikit kenekatan. Tentu saja Solandra tahu siapa yang datang. Dia tahu siapa yang memenuhi rumahnya dengan setiap jenis makanan yang ada di Jakarta. Paskal memang brengsek. Bukannya membawa bunga, dia malah bawa makanan. “Bunga kan nggak bisa dimakan, buangbuang uang aja,” katanya seenak perutnya kev tika- Solandra tertegun melihat aneka makan-, an sebanyak itu. “Kalo makanan kan lain. Bikin kenyang perut.” “Tapi makanan sebanyak ini bukan bikin kenyang,” sahut Solandra bingung. “Bikin muntah.” “Jangan dimakan semua dong. Pilih aja yang kamu doyan. Aku kan nggak tau kamu suka makanan apa. Jadi kubeli aja semua. Beres, ; kan?” Pria yang satu ini memang sangat menarik. Ya penampilannya. Ya tingkah lakunya. Ya cara bicaranya. Pokoknya komplet. Sejak pertama kali melihatnya Solandra sudah merasa tertarik. Tetapi berkencan? Nanti • dulu. Kata Sania, Paskal bukan pemuda baik-baik. Pacarnya banyak. Solandra tidak mau menjadi salah satu koleksinya. Apalagi ibunya juga bilang begitu. Ketika Mama pulang, dia kaget melihat makanan sebanyak itu. Dikiranya ada pesta. “Pesta apa?” – tanyanya antara bingung dan tersinggung. “Kok Mama tidak diberitahu?” “Bukan pesta, Ma,” sahut Solandra tersendat. “Ini oleh-oleh.” “Oleh-oleh?” Berkerut dahi ibunya. “Dari mana? Pemilik foodcourtl” “Teman Andra. Dari Jakarta.” “Dia punya resto?” “Bukan, Ma. Cuma dia nggak tau Andra doyan makanan apa.” “Jadi dibelinya makanan sebanyak ini? Edan!” Bukan edan. Paskal memang nyentrik. Tetapi apa pun pendapat ibunya, seperti apa pun kelakuan Paskal, dia tetap menarik. “Hati-hati dengan pria seperti itu,” entah sudah berapa kali ibunya memperingatkan. “Yang berlebihan biasanya cepat bosan.” Tapi Paskal tidak ada bosan-bosannya. Setiap akhir minggu dia muncul. Tentu saja bersama aneka hidangan yang berbeda. “Please, jangan bawa makanan lagi,” pinta Solandra kewalahan. Anjingnya saja sampai sudah tidak mau makan karena bosan dijejali makanan dari Paskal tiap hari. “Beratku sudah naik dua kilo.” “Masa?” Paskal tersenyum santai. “Nggak apa-apa. Pinggangmu masih ramping kok.” “Tapi dua bulan lagi pasti aku sudah mirip guling.” “Guling malah enak dipeluk, kan?” Pipi Sol an d ra memerah. Membuat Paskal tambah ketagihan ingin menjailinya terus. “Oke, minggu depan aku  janji nggak bawa makanan. Tapi kamu mesti janji dulu.” “Janji apa?” sergah Solandra hati-hati. Matanya menatap Paskal dengan ragu-ragu. Membuat yang ditatap semakin ingin membelai pipinya. Dan membisikkan lembut di telinganya, Jangan takut, Manis. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi menghadapi gadis alim macam Solandra perlu taktik. Perlu, pendekatan yang halus. Terlalu berani dia malah kabur. Terlalu lancang jangan-jangan dia tidak, mau ketemu lagi. Jadi Paskal juga harus menjaga baik-baik tingkahnya. Menjaga baik-baik tangannya. Jangan sampai kelepasan nyelonong ke pipi Solandra. Wah. Bisa runyam. “Kamu mesti mau pergi bersamaku.” “Ke mana?” “Ke mana aja. Jalan-jalan. Makan malam. Nonton.” “Berdua?” Ya ampun. Mana ada orang pacaran bertiga? “Kamu mau bawa satpam? Oke, asal dia dek!” “Aku mesti minta izin Mama dulu.” Astaga, Solandra! Umurmu sudah dua tiga! Masa pacaran aja mesti minta izin Mama? Kalah anak SMA! Tetapi Solandra tetap Solandra. Dia memang unik. Baginya pergi berdua dengan seorang pria tetap hal istimewa. Perlu exit permit. Dari siapa lagi kalau bukan dari ibunya. Karena ayahnya sudah meninggal. “Sama anak lelaki yang suka bawa makanan itu?” suara ibunya di telepon terdengar dingin. Ibunya memang belum pulang. Masih di salah satu tokonya yang baru saja dibuka. “Bukan anak lelaki, Ma,” sahut Solandra sabar. “Paskal sudah berumur dua puluh tiga tahun.” “Lebih bahaya lagi. Kamu harus hati-hati…” Dan bla, bla, bla, sederet wejangan yang baru dan sudah basi mengalir keluar bagai air sungai dari mulut ibunya. Kalau dibukukan, pasti sudah tujuh kali cetak ulang. “Iya, Ma,” sahut Solandra sabar. Patuh. “Saya tahu.” mfitm Bukan main, Paskal menghela napas lega setelah setengah jam jantungnya berdebar-debar menunggu keputusan ibu Solandra. Kalau tamsetengah jam lagi, jantungku pasti sudah benar-benar permisi! Solandra mau diajak makan malam. Tapi dia menolak ke bioskop. Menolak naik becak. Dia memilih berjalan kaki pulang ke rumahnya. Yang satu ini memang luar biasa, pikir Paskal yang semakin mengagumi gadis yang sedang dikejarnya. Antik. “Serius kamu mau jalan kaki?” desak Paskal bingung. “Rumahmu kan lumayan jauh.” “Jalan kaki habis makan bagus, kan?” Solandra tersenyum manis. “Membakar kalori.” Oke deh. Terserah kamu saja. Kalau kamu mau jalan kaki ke Jakarta juga boleh. Dengan kamu, ke mana pun kuikuti! Dan ternyata Solandra benar. Berjalan kaki berdua ternyata memang menyenangkan. Mereka mengobrol sepanjang jalan. Jarak yang cukup jauh jadi terasa dekat. Tentu saja topik obrolan mereka hanya yang ringan-ringan. Kalau terlalu berat, Paskal takut dianggap tabu. Nanti Solandra tidak mau diajak kencan lagi. Kalau kebersamaan mereka , malam ini dapat dianggap kencan. Memegang tangannya saja Paskal tidak berani. “Terima kasih buat makan malamnya,” kata Solandra sopan ketika mereka berpisah di depan rumahnya. Terima kasih? Paskal sampai berjengit. Astaga. Ini kencan atau makan malam bisnis? “Aku boleh ngajak pergi lagi minggu depan?” “Makan malam lagi?” “Takut jinsmu nggak muat?” Solandra tersenyum. Begitu manisnya senyum itu merekah di bibirnya sampai Paskal harus menahan diri mati-matian supaya tidak menerkam Solandra, memagut bibirnya, dan mengulumnya dengan mesra. Astaga! Bisa pingsan dia. Paskal harus menunggu sampai dua bulan sebelum dia berani memeluk gadis itu. Tetapi ketika dia hendak mencium bibirnya, Solandra mengelak. “Jangan,” pintanya jengah. Parasnya memerah. Matanya menghindari tatapan Paskal. “Kenapa?” desak Paskal penasaran. “Kamu gadisku. Kenapa nggak boleh dicium?” “Ciuman di bibir cuma boleh dilakukan oleh suami-istri,” sahut Solandra kemalu-maluan. “Kita belum boleh melakukannya.” Kata siapa? Paskal sudah hampir menyemburkan pertanyaan itu dengan gemas. Tetapi melihat sikap Solandra, ditahannya lidahnya. “Oke,” katanya sambil menelan kejengkelannya. “Gum pipi boleh?”* Solandra tidak menyahut. Tidak mengangguk. Tidak juga menggeleng. Jadi dengan hati-hati Paskal meraih bahu Solandra dan mengecup pipinya. Begitu lembut. Begitu halus. Khawatir dia terpekik kalau ciuman Paskal terlalu bernafs u. Tetapi heran. Solandra tidak terpekik. Dia malah seperti menikmati ciuman kilat itu. Padahal mestinya ciuman itu tidak berarti apa-apa. Kurang panas. Kurang berani. Kurang gereget. Apalagi cuma di pipi. Bah! Ciuman anak-anak! Tetapi jika itu ciuman pertama untuk Solandra, efeknya pasti berbeda. Dan memang ku yang dirasakan Solandra. Dia begitu baha- I gia sampai jantungnya tidak bisa berdebar normal meskipun dua jam sudah berlalu.</p> <p>”Tebak gue pacaran sama siapa, San,” suara i Solandra di ujung telepon terdengar demikian cerah. “Siapa,” Sania menghela napas berat. Tentu-saja dia cuma pura-pura. Dia malah sudah tahu sebelum Solandra mengetahuinya! Laporan Paskal sudah lengkap! “Temen lu, San. Bukan orang jauh deh.” “Siapa?” desah Sania malas. “Paskal.” “Lu serius, Dra?” tanya Sania datar. “Kayaknya sih iya, San. Gue belum pernah ngerasa kayak begini. Rasanya kali ini gue betul-betul jatuh cinta.” Kalau bukan Solandra yang berkata demikian, barangkah Sania tidak terlalu menggubrisnya. Berapa banyak gadis yang pernah berkata demikian? Rasanya, kali ini gue betul-betul jatuh cinta, i Tetapi karena yang berkata demikian Solandra, Sania percaya sekali gadis itu serius. Solandra tidak pernah main-main. Dia selalu serius. Dan selama ini dia belum pernah jatuh tinta. Tentu saja tidak ada yang salah dengannya. Tidak ada salahnya dia jatuh cinta, bukan? Solandra belum punya pacar. Dan dia sudah berumur dua puluh tiga tahun. Salahnya… dia jatuh cinta pada Paskal! Tetapi… apa pula salahnya? Apa salahnya jatuh cinta pada Paskal? Mengapa dia tidak boleh jatuh cinta pada Paskal? Karena mereka teman-temannya? Sahabatr sahabatnya? Atau… karena… Sania tidak rela? Tidak5 rela Paskal menjadi milik Solandra? Mengapa? Karena… Karena…. Tiba-tiba saja Sania terkesiap. Tiba-tiba saja dia menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah disadarinya. Dia sendiri mencintai Paskal! Karena itu dia tidak rela Paskal mencintai j gadis lain, siapa pun gadis itu! Solandra memang sahabatnya. Tetapi dia juga tidak berhak memiliki Paskal! Karena Paskal miliknya! Hanya dia yang berhak memiliki Paskal! Hanya dia! Selama ini Sania tidak pernah menyadari dia mencintai Paskal. Dia mengira mereka hanya teman baik. Teman yang saling membutuhkan. Saling mengisi. Saling membantu. Tidak lebih dari itu. Tidak lebih. Sekarang ketika miliknya hampir diambil orang, Sania baru sadar, dia menginginkan Paskal. Dia menginginkan pemuda itu untuknya sendiri! Tetapi sekarang semuanya sudah terlambat. Paskal sudah jatuh cinta pada Solandra. Tak mungkin diubah lagi. Sania menyadari dia tidak dapat dibandingkan dengan Solandra. Sebagai wanita, Solandra begitu sempurna. Tubuhnya tinggi ramping. Tetapi tidak terlampau tinggi seperti pemain basket profesional. Tidak seperti… Sania. Karena gemar berolahraga sejak kecil, Sania memang agak terlalu tinggi sebagai wanita. Karena itukah Paskal tidak pernah tertarik kepadanya? Paskal hanya menganggapnya teman. Bukan pacar. Paskal tidak pernah tertarik kepadanya sebagai wanita. Padahal Sania sadar, dia bukannya tidak menarik. Wajahnya cukup cantik. Tentu saja kalau pandai berhias, dia dapat tampil lebih cantik lagi. Mungkin tidak dapat melebihi kecantikan Solandra. Dia memang nyaris sempurna. Cantik. Lembut. Feminin, Semua aspek yang disukai laki-laki ada padanya. Tetapi paling tidak, Sania merasa dia mampu menyainginya. Kalau giginya diortodonsi, mungkin giginya akan kelihatan lebih rata. Tidak berantakan begini. Mungkin dia perlu memakai kawat gigi untuk beberapa lama, tapi apa salahnya kalau dia dapat tampil lebih menawan? Kalau dia tidak dekat-dekat jaringan listrik tegangan tinggi, dia kan tidak bakal kesetrum! Bukan itu saja. Kalau rambutnya dicat, di-rebonding, barangkah rambutnya bisa tampak seindah rambut Solandra. Hitam. Lurus. Licin. Sampai semut pun rasanya bakal tergelincir kalau melata di sana! Kalau… ah. Ahh…. Rasanya semua sudah terlambat. Terlambat! Tak mungkin merebut Paskal kembali. Dia sudah menjadi milik Solandra! Seandainya pun Sania mampu, dia tidak tega. Tidak sampai hati menghancurkan hu- , bun gan mereka. Sania tahu betapa dalamnya cinta mereka. Karena baik Solandra maupun Paskal selalu menceritakan hubungan mereka. Seperti dulu. Mereka selalu melaporkan segalanya pada Sania, lak ada yang dirahasiakan. Dia jadi seperti buku harian mereka. Bedanya dia bernyawa! Bukan kertas mati yang tidak punya perasaan. Juga ketika mereka memutuskan untuk menikah dua tahun kemudian, Sania-lah orang pertama yang mereka beritahu. Ketika mereka merancang kartu undangan, Sania jugalah yang mereka mintai pertimbangan. Bahkan menentukan tempat dan waktu pernikahan pun Sania ikut dilibatkan. Tentu saja baik Solandra maupun Paskal tidak tahu betapa sakitnya hati Sania. Karena Sania memang menyimpan baik-baik perasaannya. Sania tidak ingin mereka tahu betapa hancur hatinya melihat pernikahan sahabat karibnya dengan pria yang diam-diam dicintainya. Lebih-lebih melihat betapa bahagianya mereka. “Tuhan baik banget sama gue, San,” gumam Solandra ketika dia menelepon dari hotelnya di Las Vegas. Saat itu dia dan Paskal sedang berbulan madu ke Amerika. “Selama ini nggak ada yang kurang dalam hidup gue. Berkat Tuhan buat gue begitu banyak. Sekarang Dia masih ngasih gue bonus. Suami yang luar biasa baiknya.” Sania tidak berkata apa-apa. Karena ketika mendengar kebahagiaan sahabatnya, hatinya terasa begitu sakitnya sampai air mata menggenangi matanya. Diam-diam dia membayangkan kebahagiaan Solandra. Diam-diam dia membayangkan apa yang sekarang sedang mereka lakukan. Diam-diam dia berandai-andai. Ya, seandainya dialah yang berada di tempat Solandra… Seandainya dia yang menjadi Solandra… Seandainya dia yang memiliki Paskal! Bukankah dia yang menemukan pemuda ku? “Dia bukan cuma cantik,” pujian Paskal ketika mereka bertemu sepulangnya dia dari Amerika, mengiris pedih hati Sania. “Dia istri yang sempurna. Gue tengltiu banget sama elu, San.” “Ah, buat apa,” dengus Sania datar. “Bukan gue kok yang bikin dia sempurna. Tuh, terima» kasih sama Yang di Atas!” “Ya, Solandra juga bilang begitu. Gue mesti berubah. Mesti ngucap syukur. Mesti balas kebaikan Tuhan dengan berbuat baik sama orang lain.” “Makanya, dengerin tuh khotbah bini lu! Siapa tau lu ikut jadi alim kayak dia.” “Boro-boro jadi alim, San. Sembahyang aja gue nggak pernah. Rasanya susah ngomong sama yang nggak kelihatan. Makanya kata Solandra, Tuhan ngirim dia ke alamat gue. Supaya gue ketularan jadi alim. Padahal yang ngirim dia kan elu ya, San. Makanya gue terima kasih sama elu.” Kalau saja hidup ini punya cetakan kedua, pikir Sania antara sedih dan kesal. Kalau saja jam waktu bisa diputar kembali____Masih maukah dia membawa Paskal untuk menemui Solandra? Masih maukah dia memperkenalkan mereka? Karena kalau mereka tidak pernah bertemu, mereka pasti tidak bisa jatuh cinta! Dan Paskal masih tetap jadi miliknya! Tetapi… benarkah Paskal sudah jadi miliknya? Bukankah dia bukan milik siapa-siapa? Bertemu Solandra atau tidak, Paskal tetap tear-, bang bebas seperti layang-layang. Liar seperti burung di udara. Hinggap di mana saja yang dia suka. Kalau kemudian dia nyangkut di pohon, jatuh melayang ke setangkai bunga dan bunga itu kebetulan bernama Solandra, siapa yang nyangka? Siapa yang harus disalahkan? Bab IV SEBENARNYA awal kisah cinta Paskal-Solandra tidak semulus itu. Perlu waktu hampir* dua tahun sebelum ibu Solandra dapat menerima Paskal sebagai pacar anaknya. “Prakoso?” Ibu Solandra mengernyitkan keningnya ketika pertama kali berkenalan dengan pacar anaknya. “Siapa nama ayahmu? Apa pekerjaannya?” “Mama,” keluh Solandra, sabar seperti biasa. Gadis lain pasti sudah meledak kalau ibunya menanyai pacarnya dalam nada seperti itu. “Kok kayak interogasi sih.” Sekarang aku tahu dari mana Solandra memperoleh kecantikan yang demikian memikat, pikir Paskal sambil mengawasi perempuan berpenampilan anggun yang duduk dengan sangat berwibawa di hadapannya. Tentu saja dengan tatapan mata yang se- ¦ sopan-sopannya. Dia kan tidak mau diusir ke-luar pada hari pertama dia bertemu dengan calon mertuanya. Kalau Paskal menatapnya dengan tatapan nyalang menilai, seperti biasa kalau dia menatap cewek, nilainy a pasti langsung anjlok. “Diam,” tukas ibu Solandra datar. “Bukan kamu yang Mama tanya.” “Tapi masa baru ketemu langsung nanya siapa bapaknya sih, Ma. Nggak sopan, kan?” “Nggak apa-apa,” Paskal melontarkan seuntai senyum santai ke arah Solandra. Memang tidak apa-apa. Ayahnya bukan koruptor yang namanya sudah demikian beken karena merugikan negara sekian triliun. Jadi apa salahnya kalau ibu Solandra menanyakannya? Paskal tidak malu kok mengakuinya. Malah kalau dia mau tahu lebih banyak lagi, Paskal tidak keberatan membawanya ikut meninjau pabrik tekstil ayahnya. Kata Solandra, ibunya juga wanita karier yang hebat. Busana anak-anak rancangannya bukan hanya sudah merebut pasaran dalam negeri, tapi sudah diekspor juga ke mancanegara. Siapa tahu kalau sudah berkenalan, mereka bisa menjadi mitra bisnis yang cocok. Jadi tanpa menyembunyikan nada bangga dalam suaranya, Paskal menyebutkan nama. ayahnya. Siapa yang belum kenal ayahnya? Apalagi mereka yang berkecimpung dalam bisnis pakaian. Tetapi begitu mendengar nama ayahnya, ibu Solandra bukannya menaruh respek. Dia malah membeliak marah. “Agusti Prakoso!” desisnya dengan gigi-geligi terkatup rapat menahan geram. Apakah Papa pernah menipunya? pikir Paskal kecewa. Sial betul! Begitu banyak korban yang bisa ditipunya. Kenapa mesti perempuan ini? Hhh. Sesudah itu ibu Solandra tidak mau bicara lagi. Dia langsung bangkit dari kursinya. Dan I meninggalkan mereka tanpa permisi. Sesaat Paskal dan Solandra saling pandang dengan bingung. “Kayaknya ibumu kenal ayahku,” cetus” Paskal resah. “Dan kayaknya bukan perkenalan yang manis,” sambung Solandra cemas. “Masalah bisnis?” gumam Paskal bimbang. “Atau… pribadi?” Solandra mengangkat bahu. 50 “Mama nggak pernah cerita soal bisnisnya padaku. Dia sibuk sendiri. Dari pagi sampai malam. Repot terus dilibat pekerjaan.” “Papamu?” “Aku nggak pernah lihat Papa. Mama nggak pernah mau cerita. Katanya Papa sudah meninggal sebelum aku lahir.” Tiba-tiba saja Paskal merasa dingin. Sebuah pertanyaan sekonyong-konyong merasuki pikirannya. Membuat dia belingsatan seperti kucing yang ekornya tersulut api. Mungkinkah… mungkinkah mereka…? Tidak, bantah Solandra ketakutan, ketika Paskal mengemukakan kemungkinan” itu. Tidak! Jangan! *** Paskal hampir tidak sabar menunggu ayahnya kembali dari New York. Begitu ayahnya pulang, dia langsung minta penjelasan. “Perempuan siapa?” tanya ayahnya letih. “Kamu ini bagaimana sih. Papa baru pulang sudah ditanya-tanya begini!” “Papa kenal sama Elena Mandagie? Itu tuh, pemilik Bintang Kecil.” Tidak ada perubahan di paras ayahnya. Paras ku menampilkan kelelahan. Tapi tidak keterkejutan. Apalagi kecemasan. Untuk suatu alasan yang sudah sekian lama tersimpan di hatinya, Paskal sedikit lega. Kalau Papa tidak kaget, tidak takut, ku artinya dia tidak punya dosa, . kari? Kalau benar menitipkan benih itu dosa. “Namanya cukup beken,” sahut ayahnya acuh tak acuh. “Kenapa kamu menanyakan dia? Jangan bilang kamu naksir cewek seumur dia. Keterlaluan kamu!” “Kira-kira dong, Pa! Emang udah abis cewek yang masih produktif!””Ya siapa tahu. Kamu kan sudah lama kehilangan figur ibu.•Tidak heran kan kalau mencari wanita yang lebih tua.” “Papa, jangan sok jadi psikolog!” “Cuma nerka. Kenapa kamu menanyakan dia? Punya utang?” “Kenapa sih Papa selalu berpikiran negatif?” “Kamu tidak pernah menyodorkan yang positif!” “Jadi saban tahun Paskal naik tingkat, tidak pernah menghamili teman apalagi dosen, tidak, pernah tertangkap bawa bowat, itu bukan hal-hal positif?” “Oke, kamu menang,” ayahnya tertawa letih. “Ini soal apa, Boy?” “Pertanyaannya belum dijawab.” “Pertanyaan apa?” “Pikun atau pura-pura lupa sih?” “Papa masih jetlagl” “Papa kenal Elena Mandagie?” “Tahu namanya saja.” “Belum pernah ketemu orangnya?” “Kenapa memangnya?” “Kok dia kenal Papa?” Sekarang ayahnya tersenyum lebar. Ada keangkuhan tersirat di bibirnya yang merekah gagah. Harus diakui, dalam usianya yang sudah merambah ke setengah abad, ayahnya masih tampil menawan. Tua. Tapi gagah. Ibarat mangga, matang pohon. Dan belum busuk. “Siapa yang nggak kenal Papa? Kamu terlalu memandan g rendah ayahmu, Boy.” “Tapi dia bukan mengagumi Papa! Dia malah terkesan benci! Siapa dia, Pa? Saingan bisnis? Atau… bekas pacar Papa?” “Mana Papa tahu?” “Jangan bohong, Pa! Jujur aja! Supaya Paskal tau siapa Solandra!” “Solandra?” Seuntai senyum tipis bermain di dia cewekmu sekarang? Solandra. Bukan main. Dia pasti cantik seperti bunga yang jadi namanya. Kamu memang jagoan!” “Yang Paskal tanya ibunya, Pa. Elena Mandagie. Dia bukan salah satu koleksi Papa?” “Enak saja kamu ngomong! Papa bukan playboy macam kamu!” “Tapi kenapa begitu Paskal nyebut nama Papa, dia sewot?” “Kenapa tanya Papa? Tanya dia!” *** “Ayahku nggak mau ngaku,” kata Paskal begitu dia bertemu kembali dengan Solandra* satu minggu kemudian. “Katanya dia nggak punya hubungan apa-apa sama ibumu.” “Ayahmu nggak bohong?” tanya Solandra bimbang. “Buat apa?” “Menutupi sesuatu di masa lalunya.” “Affair maksudmu? Sama ibumu?” “Rasanya ini bukan masalah bisnis.” papa bilang nggak kenal sama ibumu.” “Tapi ibuku kenal ayahmu. Kenal baik. Cuma Mama nggak mau cerita apa-apa.” “Pelan-pelan mesti kamu selidiki.” “Gawat. Ngomong ke situ aja Mama udah meledak-ledak kayak petasan.” Dan yang lebih gawat lagi, ketika hubungan mereka sudah semakin erat, ibu Solandra mencegah anaknya melanjutkan hubungan mereka. Sebelum telanjur. Sebelum nasi menjadi bubur. “Mama lihat dia semakin sering mengunjungimu,” cetus ibunya dingin. “Ya, namanya aja pacaran, Ma,” sahut Solandra, sabar seperti biasa. “Mama tidak mau kamu pacaran dengan dia.” “Tapi kenapa, Ma?” protes Solandra kecewa. “Paskal baik kok. Dan saya menyukainya.” “Karena dia putra Agusti Prakoso. Mama tidak mau berhubungan lagi dengan dia.” “Mama punya masalah apa sih sama ayah Paskal? Kenapa kami yang harus menanggung akibatnya?” “Pokoknya Mama tidak mau kamu berhubungan lagi dengan pemuda itu. Titik!” “Harus ada alasannya kan, Ma! Dan kami berhak tahu!” “Ayahnya bajingan!” “Dia pernah menipu Mama?” “Lebih dari itu.” “Dia bekas pacar Mama?” “Ngomong apa kamu!” Dengan sengit ibu Solandra bangkit dari kursinya. Dan percuma menanyainya lagi Dia tidak mau lagi membuka mulutnya. Bungkam seribu bahasa. Meninggalkan Solandra dalam kesedihan dan kekecewaan.</p> <p>Sebenarnya ibu Solandra tidak ingin menyakit hati putri tunggalnya. Dia tidak tega. Solandra gadis yang baik. Alim. Sabar. Tida pernah mengecewakan orangtua. Biasanya di juga tidak pernah membangkang. Solandra anak yang patuh. Taat pad orangtua. Tidak pernah kurang ajar. Sejak kecil, mereka memang hanya tinggal berdua. Ibu Solandra bertindak selaku orang tua tunggal bagi anaknya. Tetapi dia berhasi Dia berhasil mendidik putrinya menjadi anak yang baik. Alim. Tidak mengecewakan. Prestasinya di sekolah selalu memuaskan. Tidak pernah ada laporan mengenai kenakalannya. Yang datang selalu pujian dan kekaguman. Padahal ibu Solandra hampir tak punya waktu untuk mendampingi anaknya belajar. Dia sibuk terus dilibat pekerjaan. Bagaimana ibu Solandra sampai hati mengecewakan anak yang seperti itu? Tetapi kalau sudah menyangkut Agusti Prakoso, dia tidak punya pilihan lain. Tidak bisa ditawar lagi. Keputusannya sudah bulat. Tidak ada hubungan lagi dengan lelaki itu. Titik! Tidak ada koma lagi. Titik. Titik! . Solandra tidak boleh berhubungan lagi dengan Paskal. Betapapun baiknya dia. Betapapun tampannya pemuda itu. Tetapi kali ini, ada yang berbeda. Kali ini, pendirian Solandra sangat teguh. Dia berani membantah perintah ibunya. Tampaknya dia benar-benar menyukai pemuda itu. Dan dia tidak mau berpisah lagi. “Maafkan saya, Ma,” desahnya dengan air mata berlinang. Sedih karena mengecewakan ibunya. Untuk pertama kalinya dia berani membangkang. Untuk pertama kalinya dia menyakiti hati Mama. “Saya mencintai Paskal. Kami sudah berjanji, hanya maut yang dapat memisahkan kami.” Ibu Solandra sangat terharu mendengar kata-kata putrinya. “Mama takut dia sebejat ayahnya, Andra,” gumamnya lirih. “Mama tidak mau ada lelaki yang menyakiti hatimu. Lebih-lebih kalau dia sudah menjadi suamimu.” Solandra merangkul ibunya dengan hangat. Dikecupnya pipinya dengan penuh kasih sayang. “Paskal nggak sejaha t itu, Ma. Dia sayang sama Andra.” “Permulaannya memang selalu begitu, Andra. Kelihatannya dia sayang. Tapi sesudah jadi istrinya, dia bisa berubah seratus delapan puluh derajat! Dia bisa menjelma menjadi suami yang kejam. Saat itu sudah terlambat untuk menyesal.” “Ma,” desis Solandra hati-hati. “Maaf kalau Andra nyakitin hati Mama. Boleh saya nanya, Ma? Jangan jawab kalau nggak mau.” “Punya hubungan apa Mama dengan ayahnya?” Ibunya memalingkan wajahnya untuk menutupi perasaannya. Tetapi tanpa melihat pun, Solandra dapat merasakan sakitnya hati “Ma…” Solandra menyentuh lengan ibunya dengan bimbang. “Dia bukan… ayah saya, kan?” “Dia pernah jadi suami Mama,” sahut ibunya getir. “Tapi kamu bukan anaknya. Mama sudah memilikimu ketika menikah dengannya.” “Dan… Paskal?” “Suatu hari seorang wanita datang menemui Mama. Dia membawa anaknya ke rumah kita,” Solandra terenyak di kursinya. Tidak menyangka sejarah masa lalu ibunya begitu pahit. Dan selama ini Mama menyimpannya untuk dirinya sendiri. Tidak seorang pun yang diajaknya berbagi duka. Sambil menahan tangis Solandra merangkul ibunya sekali lagi. “Ceritain semuanya, Ma,” bisiknya lirih. “Supaya Mama punya tempat buat berbagi kesedihan.” Ibunya menggeleng sambil menggigit bibirnya menahan tangis. “Semuanya sudah lewat. Tidak perlu diceritakan lagi. Mama cuma tidak mau kamu menerima nasib seperti Mama. Dikelabui lelaki yang menjadi suamimu.” “Dia ninggalin Mama begitu aja?” “Perempuan itu istrinya yang sah. Belakang. an baru Mama tahu, surat nikah kami PalSll. Sebulan kemudian, mereka menghilang. Pergj ke Amerika.” “Dan dia nggak pernah ngontak Mama lagi?” “Buat apa? Mama sudah jadi sampah. Mama harus berjuang mati-matian untuk mengangkat kepala ini lagi. Tapi Mama tidak sudi mengemis belas kasihannya.” Solandra menatap ibunya dengan air mata berlinang. Sebersit perasaan bangga bercampur ham merambah ke hatinya. Ternyata Mama memang perempuan yang mengagumkan. Dari kubangan derita, dia tidak melata untuk pasrah saja menerima hinaan orang. Dia berjuang untuk bangkit dan tegak kembali. Pantas saja Mama menolak hubungannya dengan Paskal. Bertemu dengan ayah Paskal saja sudah menyakiti hatinya. Membangkitkan kenangan masa lalunya yang teramat pahit. Bagaimana dia dapat menerima pemuda itu sebagi calon menantunya? Yang paling penting bukj* itu, bantah ib«’ nya ketika Solan^ r uqra minta maaf dan mc nyatakan pengertiannya. Yang paling Mama takuti, dia mewarisi kebobrokan bapaknya. Mama tidak mau kamu disakiti. Sudah cukup Mama saja yang merasakan kepahitan itu! Ketika malam itu Solandra berbaring di tempat tidurnya, air matanya tidak henti-hentinya mengalir ke pipi dan menetes ke bantalnya. Kalau dia bukan lelaki yang Engkau sediakan untukku, Tuhan, bisiknya pedih, mengapa kami harus dipertemukan? Tetapi… benarkah Paskal bukan lelaki untuknya? Bukan Tuhan-kah yang membuka jalan untuk mempertemukan mereka? Supaya mereka dapat mendamaikan kembali ayah Paskal dan ibunya? Bab V y/l/ETIKA Paskal mendengar apa yang telah dilakukan ayahnya pada ibu Solandra, dia begitu marahnya sampai tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Seharusnya dia lega karena Solandra bukan adiknya. Tetapi j keputusan Solandra untuk mengakhiri hubungan mereka, membuat Paskal tambah frustrasi^! “Kenapa aku yang harus dihukum untuk kesalahan yang dibuat ayahku?” geramnya se-f telah mulutnya dapat dibuka kembali. Solandra memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan air matanya» Sekaligus supaya j’ pemuda itu tidak melihat betapa hancur hatinya. Tetapi Paskal malah meraih dagunya. Dan memaksanya bertatap muka. “Lihat aku, Andra!” sergahnya gemetar menahan perasaannya. “Coba bilang kamu tidak v mencintaiku lagi!” Sekarang Solandra terpaksa membalas tatapan Paskal. Dan di balik tirai air mata yang mengaburkan pandangannya, dia menemukan sebongkah cinta yang begitu besar di mata pemuda itu. Sanggupkah dia menyingkirkan cinta yang demikian tulus? “Aku sangat mencintaimu,” bisik Solandra getir. Paskal meraih gadis itu ke dalam pelukannya. Didekapnya Solandra erat-erat seolah-olah tidak ingin melepaskannya lagi. “Kala u begitu, jangan pergi, Andra,” pintanya lirih. Diletakkannya dagunya di puncak kepala gadis itu. Rambutnya yang lembut dan memancarkan aroma yang bernuansa cemara, membelai hati Paskal. Membenamkan keyakinan yang lebih besar untuk memiliki gadis ini, apa pun tantangannya. “Aku tidak bisa menyalahkan Mama, Pas,” desah Solandra dalam pelukan pemuda itu. “Berat baginya untuk bertemu lagi dengan ayahmu. Apalagi menerimanya sebagai keluarga.” “Aku akan menemui ayahku. Minta dia datang minta maaf pada ibumu dan menyelesaikan persoalan mereka.” Tetapi masalahnya tidak semudah itu. Ayal Paskai tidak sudi menemui ibu SoJandra. Apalagi untuk meminta maaf.. “Papa tidak kenal,” bantahnya sengit. “Buat apa minta maaf? Memang Papa salah apa?” 1 “Papa masih mungkir?” geram Paskal jengkel. “Papa pernah menyimpan dia selama dua tahun! Yzag Papa berikan selama itu cuma selembar surat nikah palsu!” “Omong kosong! Percaya saja kamu dengan segala cerita murahan begitu!” “Elena Mandagie bukan perempuan murahan, Pa! Dia tidak bakal merendahkan dirinya dengan mengarang cerita palsu hidup bersama seorang lelaki selama dua tahun!” “Ah, perempuan di mana-mana sama saja! Yang ada di kepala mereka cuma duit dan shopping!” “Papa begitu merendahkan perempuan!” “Mereka memang dilahirkan untuk berada di bawah kita, Boy. Kamu jangan bodoh, i Mereka tidak pernah bisa menyejajarkan diri f-dengan laki-laki. Karena kodrat mereka me- M mang di bawah kita!” “Papa kelewatan!” “Karena itu ayahmu ini tetap kuat dan di-jl hormati, Boy. Karena prinsip yang kupegang dari dulu sampai sekarang. Karena aku selalu ingin di atas, maka aku selalu berada di atas. Jelas? Kamu harus banyak belajar dari ayahmu kalau ingin jadi laki-laki sejati!” “Kalau maksud Papa jadi laki-laki sejati itu berarti menipu wanita dengan surat nikah palsu, saya tidak mau, Pa. Menurut pendapat Paskal, membohongi cewek itu perbuatan banci, bukan jantan!” “Perempuan memang dilahirkan untuk dibohongi, Boy!” Ayahnya tertawa sinis. “Karena mereka diciptakan untuk menggoda dan merayu laki-laki!” “Papa! Papa lupa ya, Papa punya dua anak perempuan? Papa rela mereka kena karma, dihina dan ditipu lelaki karena dosa Papa?” “Sudah zaman nuklir begini masih percaya karma!” ejek ayahnya pedas. “Percuma disekolahkan sampai ke universitas! Pikiranmu masih seperti orang kampung!” Papa benar-benar jahat. Benar-benar busuk! Dia kejam bukan hanya terhadap saingan bisnisnya. Tapi juga terhadap perempuan! Karena itu Paskal nekat meninggalkan ayahnya. Padahal saat itu kuliahnya belum selesai. “Bukan hanya karena kamu, Andra,” cetus Paskal pahit. “Tapi juga karena aku tidak bisa lagi menghargai ayahku sendiri.” “Bodoh,” komentar ayahnya ketika Paskal nekat meninggalkan rumah. “Rela melepas warisan miliaran rupiah buat seorang wanita!” “Berikan saja pada Prita dan Paulin. Mereka juga anak Papa.” “Tapi kamu anak sulung! Anak lelaki satu-satunya. Seharusnya perusahaan tekstil Papa jadi milikmu! Kalau kamu tidak sebodoh ini. Memilih perempuan daripada harta!” *** Bahkan sesudah Paskal meninggalkan rumah ayahnya, ibu Solandra masih belum dapat menerimanya. “Tidak menjamin dia tidak berubah kalau [ sudah menjadi suamimu nanti," katanya t a- 'M war. "Lalu dia mesti bagaimana lagi, Ma?" keluh I Solandra lirih. "Dia sudah memutuskan hu- i bungan dengan ayahnya demi saya. Sudah j meninggalkan rumah. Mengorbankan semua , miliknya. Kehilangan harta warisannya. Apa i lagi yang harus dikorbankannya «upaya Mama percaya dia sungguh-sungguh mencintai saya?" Akhirnya ibu Solandra memang melunak. Melihat kekerasan hati dan kesungguhan pemuda itu, dia mengalah. Membiarkan hubungan mereka berlanjut. Tetapi dia tetap belum dapat bersikap manis pada Paskal. Hatinya masih diliputi kecurigaan. Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, kan? Like father, like son. Tetapi Paskal tidak peduli. Begitu lulus, dia langsung melamar Solandra. Dan lamarannya langsung ditolak. Ibu Solandra belum yakin akan keseriusannya. Dan yang lebih penting lagi, belum percaya pada kejujurannya. Solandra harus _ memohon agar diizinkan menjadi istri Paskal. Kalau tidak, di a akan tetap menikah, dengan atau tanpa restu ibunya. Kali ini, anak yang tidak pernah membangkang itu rupanya sudah berubah. Tekadnya sekeras baja. Tidak dapat dilumerkan lagi. Biarpun dengan air mata ibunya. "Jika dia seperti kata Mama, menipu dan mengkhianati saya, mungkin Andra akan hancur seperti Mama dulu," kata Solandra Tapi kalau Mama melarang Andra menikah dengannya, Mama membunuh saya." Akhirnya dengan berat hati ibu Solandra merestui pernikahan putrinya. "Mama tidak mau melihat ayahnya," tukasnya dingin. "Jika dia datang, Mama yang pergi." "Paskal tidak mengundang ayahnya," sahut Solandra pahit. "Tapi kedua adiknya bakal datang. Mama tidak bend pada mereka, kan? i Mereka nggak tahu apa-apa, Ma." "Asal bukan lelaki durjana itu," desis ibunya datar. Ayah Paskal memang tidak hadir. Tetapi melalui adik Paskal, dia menitipkan selembar cek Paskal merobek cek itu dan mengembalikannya kepada ayahnya. Ketika Solandra ingin mengembalikan juga hadiah perkawinan dari ibunya berupa dua lembar tiket perjalanan ke Amerika, Paskal mencegahnya. "Ibumu tidak bersalah," katanya lirih. "Kalau m kita kembalikan hadiahnya,, dia pasti tersing-J gung. Dan dia tidak bisa memaafkanku lagi." | Bab VI Z/ EKMULAANNYA sangat sederhana. Mereka sedang merayakan ulang tahun perkawinan mereka yang kesepuluh. Paskal membawa istrinya menelusuri kembali perjalanan bulan madu mereka yang pertama. Dia membawa Solandra berwisata ke Pantai Barat Amerika. • Dari San Francisco mereka menuju ke Las Vegas. Mereka bermalam di hotel baru yang sepuluh tahun lalu belum dibangun. Mereka sangat menikmati malam-malam yang indah di Las Vegas. Menyaksikan cabaret yang fantastis sampai, pertunjukan sirkus yang spektakuler. Bagi Solandra, masih ditambah dengan shopping yang amat mengesankan. Karena sepuluh tahun yang lalu, dia belum mampu membeli baju-baju yang begitu didambakannya. Saat itu dia belum praktik. Dan dia tidak mau menghamburkan uang ibunya. Tetapi sekarang, semuanya berbeda. Sekarang dia me. miliki uang sendiri. SoJandra bahkan tidak mau memakai uang suaminya. Untuk shopping dia lebih bebas kalau memakai uangnya sendiri. Tentu saja Paskal tidak tahu. Dua dari tiga barang belanjaan istrinya dibeli dengan uangnya sendiri. Kalau Paskal tahu, dia pasti tersinggung. Karena dia tahu, pendapatan Solandra sebagai dokter gigi sudah lebih besar daripada gajinya sebagai dokter umum di rumah sakit plus penghasilannya buka praktik I pribadi. Bagi Paskal, Las Vegas juga sangat menarik. Karena di kota judi itu dia bisa memuaskan E gairah berjudinya. Mula-mula Solandra memang selalu melarangnya berjudi "Nanti Tuhan marah," katanya sepuluh tahun yang lalu, ketika untuk pertama kalinya dia I melihat betapa mahirnya suaminya main i bakarat. Paskal bisa menerka dengan tepat j kapan banker yang menang. Kapan harus me- j masang player. Dan kapan harus meletakkan I cMps-nya di tie. Delapan dari sepuluh tebakannya tepat. Dan Solandra merasa ngeri melihat gaya main judi suaminya. Kalau menang, Paskal akan memasang modal dan kemenangannya sebagai taruhan. Kalau dia menang lagi, dia akan menggandakan taruhannya. Tidak heran sekalinya kalah, seluruh kemenangan berikut modalnya ikut amblas. "Duitmu bakal ludes, Mas," keluh Solandra ngeri. Tidak tahan menonton suaminya main bakarat. Rasanya terlalu tegang untuk jantungnya. "Namanya juga judi," sahut Paskal tenang seperti biasa. "Mana ada yang menang? Yang menang ya kasinonya." "Sudah tahu begitu kok diteruskan?" "Senang saja." "Nanti ketagihan." "Ah, aku kan cuma main kalau lagi liburan begini," sahut Paskal menghibur. "Di Jakarta buktinya aku nggak pernah main." "Pokoknya jangan berjudi, Mas. Dosa." . Repot amat malaikat yang mencatat daftar dosa kalau main judi saja dosa, pikir Paskal setengah mengejek. Tentu saja hanya dalam hati. Mereka kan sedang berbulan madu. Masa sudah mengajak bertengkar? "Tidak ada orang yang menjadi kaya dari berjudi, Mas," sambung Solandra seperti ibu guru yang sedang menasihati muridnya yang ketahuan nyontek. "Buktinya kemenangan Mas akhirnya habis semua, kan?" Karena aku" tidak hati-hati, sahut Pas kal dalam had. Kupertaruhkan semua hasil kemenanganku. Dan kebetulan tebakanku salah! Hah, orang berjudi memang begitu, kan? Harus berani menyambar bahaya! Namanya saja berjudi! "Kasino begini ada setannya, Mas. Nanti semua uang Mas Pas ikut amblas. Kita nggak bisa ke LA. Terpaksa mudik sebelum waktu- i hya:-" Setannya bukan di dalam kasino, Manis, m Paskal menahan tawanya. Tapi di dalam hati si penjudi itu sendiri. Karena dia serakah! Tapi itu memang sifat manusia, kan? Serakah! Makanya tidak ada penjudi yang menang! Saat itu memang Paskal tidak sampai kalah habis-habisan. Karena dia mengikuti petuah j istrinya. Berhenti sebelum seluruh isi koceknya j amblas. Tapi minatnya main judi tak pernah ] luntur. Sungguhpun Paskal hanya berjudi kalau j sedang berwisata. Sekarang pun Solandra masih tidak suka &lt;4tf suaminya main judi. Tetapi pencegahannya tidak seperti dulu lagi. Lebih lunak. Mungkin sekarang dia sudah percaya, suaminya bukan penjudi. Di Jakarta Paskal tidak pernah berjudi. Taruhan saja tidak: Dia hanya berjudi kalau iseng. Seperti sekarang. Habis dia harus ke mana? Shopping kan dia tidak suka. “Jangan main banyak-banyak, Mas,” kata Solandra sebelum dia meninggalkan suaminya di lobi hotel. “Nanti aku nggak bisa beli baju.” “Jangan khawatir,” Paskal tersenyum lebar. “Kalau menang, bukan cuma bajunya, tokonya pun kubelikan untukmu.” “Nggak mau ah,” Solandra tersenyum manis membalas kelakar suaminya. “Kalau punya toko di sini, siapa yang akan menemani Mas pulang ke Jakarta?” “Gampang,” Paskal melirik seorang wanita cantik yang lewat di sisinya. “Yang itu boleh juga, kan?” “Betul?” Solandra mengulum senyumnya. “Mas mau menukarku dengan dia?’ “Tersanjung?” “Terhina!” “Masa?” Paskal pura-pura mengangkat alisnya dengan kaget. Diputarnya kepalanya meng. ikuti wanita yang baru saja melewatinya. “Apa kurangnya dia? Memang rasanya bukan gres baru. Tapi biar secondhand, bodinya belum penyak-penyok. Mukanya belum didempul. Tarikannya kayaknya juga masih sip! Turbo!” “Mas nggak ingat dia, ya?” Solandra menahan tawanya. “Ingat siapa?” Sekali lagi Paskal memutar kepalanya. Diawasinya wanita itu dari belakang. I Hm, lenggak-lenggoknya begitu profesional, j “Bukan salah satu tantemu, kan?” “Ingat show yang kita lihat tadi malam?” “Show dua dunia?” sergah Paskal hampir j berteriak saking kagetnya. Solandra tertawa geli. “Jadi dia…?” Paskal menggagap tidak percaya. “Nggak nyangka, kari?” Solandra mencubit -M lengan suaminya yang masih terpukau heran. “Benar-benar salah cetak!” cetus Paskal antara kagum dan jijik. “Jangan begitu, Mas,” Solandra meraih lengan suaminya dan mengajaknya, pergi. “Mereka harus dikasihani. Tidak gampang hidup seperti itu.” “Kenapa Tuhan salah menempatkan onderdil mereka?” “Tuhan tidak pernah salah, Mas. Mereka yang keliru memilih.” “Memilih antara jadi lelaki atau banci?? ^ “Tuhan memberi manusia kebebasan untuk memilih.” “Kalau begitu mereka tidak perlu dikasihani. Sudah menjadi pilihan mereka sendiri untuk hidup seperti itu, kan?” “Yang harus dikasihani bukan pilihannya, Mas. Tapi hidupnya. Karena hidup yang mereka pilih itu bukan hidup yang gampang.” “Memang susah berdebat dengan hamba Tuhan,” gurau Paskal sambil mencubit ujung hidung istrinya. “Aku bukan hamba Tuhan, Mas. Belum.” “Memang. Kamu masih istriku.” Paskal meraih istrinya ke dalam pelukannya dan mengecup bibirnya dengan mesra. “Dan kamu akan tetap menjadi istriku. Sampai selama-lamanya. Takkan kuizinkan siapa pun mengambilmu. Tidak juga Tuhan.” “Jangan ngomong begitu, Mas. Kita semua milik Tuhan. Jika Tuhan menginginkan, siapa pun dapat diambil-Nya. Tak ada yang dapat menghalangi.” “Tapi Tuhan tidak sekejam itu, Jcan? Katamu Tuhan itu baik dan penyayang. Mustahil Tuhan yang begitu baik tega memutuskan cinta kita dan merampasmu dari pelukan suami yang begini menyayangimu.” “Kadang-kadang* jalan Tuhan tidak terduga, Mas. Kadang-kadang kita tidak tahu di mana ujungnya dan mengapa kita harus melaluinya.” Ketika Solandra mengucapkan kata-kata itu, Paskal tidak terlalu memerhatikannya. Sudah biasa istrinya mengucapkan kata-kata seperti itu. Selam a ini jalan hidup mereka memang lurus-lurus saja. Dia tidak menduga, saat itu mereka sudah dekat ke sebuah kelokan yang amat tajam. *** Malam itu mereka menikmati malam yang j sangat indah. Seakan-akan malam bulan madu mereka sepuluh tahun yang lalu kembali menjelang. Gaun hijau melon seharga tiga ratus dolar itu menjadi saksi bisu tetes-tetes cinta yang menitik ke hamparan awan kebahagiaan yang melayang ke nirwana. “Aku sangat mencintaimu, Andra,” bisik Paskal sambil memeluk istrinya erat-erat, seakan-akan ingin membenamkan tubuh istrinya ¦ ke dalam tubuhnya sendiri. Seakan-akan dengan begitu dia tidak mungkin lagi kehilangan wanita yang sangat dikasihinya. Seakan-akan dengan begitu mereka tidak mungkin berpisah. Tidak mungkin dipisahkan lagi oleh kekuatan apa pun. Solandra membalas pelukan suaminya dengan sama eratnya. Didekapkannya kepalanya ke dada suaminya. Begitu eratnya sampai telinganya mampu menangkap denyut jantung suaminya yang bergemuruh dilanda gelombang cinta yang menderu dahsyat sepetti ombak yang menerkam pantai. Tiba-tiba saja secercah keinginan yang amat dalam menggurat sanubari Solandra. Membuat sekujur tubuhnya bergetar menahan perasaan yang bergejolak. ”’•”Tanamkan benihmu di tubuhku, Mas,” pintanya dengan suara memelas yang tak mungkin ditolak. “Biarkan aku mengandung anakmu. Beri aku kesempatan untuk mengandung dan membesarkan buah hati kita.” “Aku juga menginginkannya, Andra,” balas Paskal lembut. Dikecupnya rambut istrinya yang harum semerbak. “Tapi seandainya tak hadir buah cinta kasih kita sekalipun, aku tetap mencintaimu.” “Akan kuberikan cinta dan seluruh hidupku untukmu, Mas. Seandainya jantungku tidak berdenyut lagi sekalipun, cintaku padamu takkan pernah mari.” “Cintamu segala-galanya untukku, Solandra. Biarkan jantung kita berdenyut dalam satu denyutan sampai kematian datang menjemput kita.” — Tak terasa air mata Solandra menitik ketika mendengar bisikan mesia suaminya. Cinta -Paskal terasa begitu luhur. Begitu indah. Begitu j abadi. Cinta yang dinyatakannya dalam getaran j suaranya yang begitu membuai. Yang membuat ! Solandra seperti melayang ke langit bertabur j bintang-bintang yang mengedip mesra ke arah- • nya. Cinta! Betapa indahnya tajuk yang terpasang di kepalamu! Betapa moleknya permata yang bersinar di hatimu! Ketika dua insan saling berbagi rasa, ketika J belahan jiwa menemukan lekuk tempat cinta 1 berlabuh, ketika hati bagai tak henti bernyanyi, siapa mampu mengusir kebahagiaan -yang demikian berseri? Cinta Paskal kepada istrinya bukan hanya terpaku pada kemolekan tubuhnya dan kejelitaan parasnya. Setelah sepuluh tahun tubuh dan jiwa mereka bersatu dalam ikatan yang begitu kuat, rasanya hampir tak ada kekuatan yang mampu mengoyakkannya. Tak ada wanita yang mampu mengalihkan cinta dan kekaguman Paskal pada Solandra. Sebaliknya cinta Solandra kepada suaminya begitu tulus. Begitu murni. Begitu abadi. Laksana bongkah-bongkah es di kutub selatan, bahkan panasnya sinar matahari pun tak mampu mencairkannya. Dan dalam sebelanga adonan cinta yang begitu putih bersih, muncul setitik derita yang tak mungkin lagi dienyahkan. Karena hidup ini bukan seuntai lagu tanpa akhir. Bab VII *q/ (j/aaa, kok mens lagi ya, Mas.” Suara Solandra begitu kecewa. Seolah-olah kedatangan tamu tak diundang di tengah-tengah kemesraan bulan madu kedua mereka itu melenyapkan sebagian kebahagiaan yang tengah mereka reguk. “Nggak apa-apa,” sahut Paskal santai. Meskipun dalam hati dia juga agak kecewa. Masih terbayang jelas kemesraan yang telah mereka j nikmati dalam dua malam terakhir ini. Rasanya ¦ masih belum puas. Masih ingin menikmati malam-malam selanjutnya. Tapi dia tidak ingin menambah kekecewaan istrinya. “Masih un- j tung bukan kemarin, kan.” “Betul Mas nggak kecewa?” desak Solandra dari dalam kamar mandi di kamar hotel mereka di Las Vegas. “Nggak,” Paskal melemparkan koran pagi yang sedang dibacanya di ruang duduk. “Yang penting kan kita selalu bersama. Tiap jam. Tiap menit. Tiap detik. Kecuali…” senyum mengembang di bibirnya, “kalau kamu lagi shopping.” “Atau Mas sedang berjudi.” Solandra meny eringai masam. Paskal menghampiri istrinya di kamar mandi. Tepat pada saat Solandra sedang melepaskan bajunya hendak mandi. Dan melihat kemolekan tubuh istrinya, gairah Paskal meledak lagi. Diraihnya tubuh Solandra ke dalam pelukannya. Diciuminya lehernya dari belakang. Dan dalam sekejap mereka sama-sama terbakar api yang panas menggelegak. “Tuh, katanya nggak apa-apa,” keluh Solandra penuh penyesalan. Menyesal karena tidak dapat menikmati kebersamaan yang begitu mereka dambakan. Tapi lebih menyesal lagi karena tidak dapat memuaskan suaminya. “Memang nggak apa-apa,” Paskal memutar tubuh istrinya dalam pelukannya. Lalu mengecup dan mengulum bibirnya dengan mesra. “Begini juga boleh kok.” “Sudah ah,” Solandra berusaha melepaskan dirinya. “Nanti nggak selesai nggak enak.” bilang nggak enak?” PaskaJ mencium istrinya sekali lagi. “Berani bilang yang ini nggak enak?” “Enak,” Solandra membalas ciuman suaminya j dengan hangat. “Tapi jangan kebanyakan. Sam- i pai smi dulu ah. Aku mau mandi.” “Aku juga mau mandi.” “Nggak ah, aku mau keramas/” “Kebetulan.” Paskal membawa istrinya ke bawah pancuran. I Dibukanya keran air sebesar-besarnya tanpa f menghiraukan protes-protes Solandra. Sesudah t basah kuyup Paskal baru ingat, dia masih me- I makai baju. ¦Kg, *** Paskal sudah biasa mengeramasi rambut istrinya. Tetapi entah mengapa, kali ini rasanya, dia tidak ingin menyudahinya. Sampai Solandra j yang memintanya. “Sudah ya, Mas? Rasanya sebentar lagi aku bersin.” “Kedinginan?” Paskal tertawa geli, “Atau takut semua rambutmu rontok di tanganku?” kuyup. Meremas-remasnya dengan penuh kekaguman. “Rambutmu indah sekali, Sayang,” bisiknya sambil mengecup leher istrinya. Tidak peduli busa shampoo bercampur air yang membasahi leher Solandra melekat di bibirnya. “Rasanya aku begitu mencintai rambutmu. Mahkotamu.” “Cuma rambutku?” Solandra pura-pura merajuk. “Kalau aku botak, kasih sayang Mas Pas ikut luntur?” “Aku mencintai setiap inci tubuhmu, Andra,” Paskal memeluk istrinya dengan mesra. “Setiap inci tubuhmu adalah milikku.” Ketika Paskal semakin bergairah mencumbunya, Solandra mengelak sambil tertawa lembut. “Mas, aku boleh minta time-out?” Tiba-tiba saja Paskal sadar. Mereka sedang di kamar mandi. Bukan di kamar tidur. “Dingin?” bisiknya lembut. Solandra mengangguk. Karena dia tidak mampu lagi membuka mulutnya. Bibir Paskal telah melekat erat di bibirnya. Sementara air masih mengucur deras ke atas kepala mereka. *#* Selesai keramas, PaskaJ juga yang mengering. kan rambut Solandra. Bahkan menyisirinya. Dan menggunting beberapa heiai rambut yang mencelat kekar. Sudah sepuluh tahun mereka melakukannya. Dan mereka sangat menikmatinya. Tetapi pada , saat-saat bulan madu seperti ini, saat-saat itu i terasa lebih indah. “Katanya kalau lagi mens nggak boleh ke- I raraas ya, Mas?” cetus Solandra ketika suaminya sedang menyisiri rambutnya dengan penuh J perasaan, seperti pelukis yang sedang menggoreskan kuasnya di atas kanvas. “Ah, siapa bilang?” “Nenekku.” “Ngaco!” Paskal tertawa geli. “Dokter gigi j masih percaya yang begituan! Belajar fisiologi nggak?” “Dulu aku paling benci faal, Mas.” “Kenapa? Dosennya killer? Ngomongnya cadel jadi kuliahnya tidak jelas?” “Aku paling ngeri disuruh motong kodok. Kelinci. Kera.” Paskal tertawa geU. “Mestinya dari dulu kamu kenal aku! Biar aku yang-jadi tukang jagalnya!” “Tapi belum terlambat mengenalmu sekarang juga, kan?” Solandra memutar kepalanya dan menengadah. Matanya yang bersinar-sinar memancarkan kebahagiaan menatap suaminya dengan penuh kasih sayang. “Tidak ada kata terlambat,” Paskal menunduk dan mengecup bibir istrinya. “Karena waktu sekarang milik kita.” Ketika Solandra merasa kecupan suaminya makin kerap dan panas, disingkirkannya bibirnya sambil tertawa lembut. Teruskan nyisirnya saja ya, Mas,” pintanya separo bergurau. “Atau aku mesti cari kapster lain. Habis yang ini ganas banget sih!” *** Ketika tegak di antara bumi dan langit di tepi tebing terjal Grand Canyon of Colorado, Solandra kelihatan begitu terbius oleh kemegahan alam yang tengah disaksikannya. Meskipun bukan baru pertama kali berada di sa na, dia Selalu terpesona menikmati panorama yang demikian menggetarkan sukma. ¦ “Mahabesar Tuhan yang menciptakan suguhan alam yang sedahsyat ini ya. Mas,” bisiknya dalam balutan kekaguman yang khidmat. Paskal tidak menanggapi cetusan kekaguman istrinya Tidak menyangkal. Tidak juga meng-iyakan. Meskipun dalam had dia berujar sendiri, Yang mengikis tebing sampai terbentuk jurang yang begini mengagumkan adalah Sungai Colorado yang mengalir di bawah sana, Andra! Kepada sungai itulah kekagumanmu harus kamu tumpahkan! Dialah ahli pahat yang mengagumkan itu. Yang selama jutaan tahun memahat dinding jurang ini. Tetapi Paskal memang tidak pernah membantah kepercayaan Solandra yang demikian dalam kepada Tuhan-nya. Sejak sebelum menikah pun dia sudah tahu, Solandra teramat religius. “Dia bukan cewek yang cocok buat elu!” kata Sania dulu. “Dia alim. Religius. Tempatnya bukan di tong sampah dunia kayak lu, Pas!” Tentu saja Sania kenal sekali akhlak sahabatnya. Dibesarkan dalam keluarga yang beran-takan, ibunya kabur dengan lelaki lain, ayahnya seperti menikah lagi dengan pekerjaannya, Paskal tumbuh menjadi pemuda yang liar. Dia mengecap kebebasan seperti mengecap rokoknya yang pertama, yang diisapnya waktu berumur dua belas tahun. Seperti ayahnya yang tidak pernah awet dengan seorang wanita pun, Paskal juga tidak betah dengan seorang gadis saja. Seperti kumbang, dia terbang dari satu kelopak bunga ke kelopak yang lain. Bedanya, Paskal mendadak jadi jinak setelah bertemu dengan Solandra. Sementara ayahnya masih sibuk keluar-masuk hutan. Tidak peduli usianya sudah merambah ke kepala lima. Dia masih tetap seliar tiga puluh tahun yang lalu. Memangsa semua yang lewat di depannya. Dan meninggalkannya untuk memburu yang kin. Tidak heran kalau Paskal tidak percaya pada apa yang disebut Solandra “Tuhan”. Semenjak kecil tidak ada yang mengajarinya agama. Tidak ada yang menyuruhnya berdoa. Buat apa ngomong sama sesuatu yang tidak kelihatan, katanya waktu itu. Waktu Solandra mengajarinya berdoa. Sepuluh tahun menikah, Solandra selalu berusaha mendidik suaminya untuk lebih mengenal Tuhan. Tetapi meskipun tidak pernah membantah, Paskal tahu, dia belum berubah. Jauh di dalam hatinya, masih bertengger sebaris tanya, benarkah Tuhan ada? Benarkah Dia bukan cuma ilusi manusia yang selalu mencari jawab atas semua misteri yang belum diketahuinya? Benarkah Tuhan bukan sekadar kotak ajaib tempat semua surat permohonan diposkan? “Suatu hari nanti aku ingin melayang seperti 1 burung, Mas,” desah Solandra sambil menatap jauh ke dasar jurang. “Terbang di antara celah- j celah tebing yang curam, melayang menyusun 1 sungai yang mengalir berkelok-kelok…” “Tidak usah menunggu lama-lama,” potong Paskal. Entah mengapa secercah perasaan tidak-1 enak mendadak menerpa hatinya. Rasanya dia j tidak ingin mendengar lagi kelanjutan kata-kata Solandra “Sekarang juga kubawa kamu terbang.” Hari ku Paskal memang membawa istrinya terbang dengan pesawat kecil yang melayang-layang bagai burung di atas Grand Canyon of Colorado. Dia juga membawa Solandra menonton film tiga dimensi yang menyuguhkan kemegahan alam yang demikian memesona. Menonton film itu seperti membiarkan diri mereka ikut merasakan ganasnya Sungai Colorado tatkala rafting dalam sebuah sampan. Ikut melayang seperti burung ketika pesawat mereka berkelok-kelok tajam terbang menyusuri lekuk sempit di antara tetjalnya tebing. Bahkan turut mencicipi nuansa menegangkan ketika mereka serasa ikut mendaki jalan setapak yang licin dan curam menuju ke bibir jurang. Beberapa kali karena ngerinya Solandra mendesah sambil memeluk suaminya. Paskal merangkul bahu istrinya sambil sekali-sekali mengelus dan meremas punggungnya. Sementara tangannya yang lain menggenggam tangan Solandra. Tangan itu terasa dingin dan basah berkeringat. “Ngeri, kan?” ejek Paskal setengah bergurau ketika mereka keluar dari teater yang menyuguhkan film itu. “Siapa suruh mau jadi burung!” Hari yang melelahkan itu menjadi hari yang sangat berkesan bagi mereka. Begitu banyak kenangan indah yang melekat di sanubari. Duduk-duduk di tepi tebing sambil menung gu matahari terbenam. Bercanda sambil saling colek. Berpelukan sambil melangkah. Kadang-kadang berhenti untuk saling melekat, kan bibir. “Sekalian minta hpgios-mu supaya bibirku tidak kering,” gurau Paskal setiap kali dia mencium istrinya. “Dasari” Solandra pura-pura mengeluh. “Disuruh pakai sendiri nggak mau!” “Buat apa?” Paskal tersenyum lebar. “Aku tahu cara yang lebih asyik!” Ketika sedang melangkah sambil bergan- I dengan tangan di jalan setapak di bibir tebing, I tiba-tiba Solandra membungkuk. Memungut j sebuah batu hitam sebesar kelereng. Dibersih-‘ 1 kannya batu itu dengan bajunya. Digosoknya i sampai mengilat. “Lihat, Mas,” cetusnya gembira. Seperti anak kecil menemukan mainan baru. “Batu ini bagus I ya Mungkin umurnya sudah ribuan tahun.” (j “Aku tahu batu yang lebih bagus,” sahur Paskal sambil tersenyum, “Umurnya juga sudah A ribuan tahun.” j Keesokan harinya di Las Vegas, Paskal mem- | belikan istrinya seuntai kalung emas dengan bandul berlian. Dikenakannya kalung itu di leher istrinya. Kemudian dikecupnya lehernya dengan penuh kasih sayang.. “Benar kan kataku,” gurau Paskal di telinga istrinya. “Aku bisa memberimu batu yang jauh lebih bagus?” “Terima kasih, Mas.” Solandra menggeliat sambil memutar tubuhnya. Dan membalas ciuman suaminya yang tegak di belakangnya. “Kalung ini sangat bagus. Tapi aku boleh menyimpan batu hitam itu, ya? Kenang-kenangan kalau salah seorang dari kita sudah tidak ada.” “Kamu ngomong apa sih!” tukas Paskal sambil mencubit pipi istrinya dengan gemas. “Awas kalau berani ngomong begitu lagi! Ku-cubit pantatmu!” Solandra tertawa geli menyambuti kelakar suaminya. I^H “Sori, aku kelepasan, Mas! Kayak ada yang menggoyangkan lidahku! Kata-katanya meluncur begitu saja!” “Bohong! Kamu cari alasan saja supaya boleh menyimpan batu kali itu!” Mereka masih bergurau terus. Tetapi sampai mereka masuk ke kamar pun, perasaan tidak •nak itu masih juga tersisa di sudut hati Paskal. Dari Las Vegas Paskal membawa istrinya ke Los Angeles. Mereka bisa naik pesawat terbang. Tetapi Paskal memilih naik bus umum. Karena alat transportasi itulah yang mereka pilih sepuluh tahun yang lalu. Mereka begitu gembira ketika setelah berpanas-panas menunggu bus di halaman sebuah hotel, mereka dapat duduk berduaan di j dalam bus yang sejuk ber-AC. Hampir lima j jam terguncang-guncang di jalanan membuat perjalanan mereka semakin mengasyikkan.-A Lebih-lebih ketika bus itu berhenti di kedai j cepat saji dan Paskal membeli sebuah hotdog j yang mereka santap berdua. Persis seperti dulu. Nikmat. Hangat. Mesra. “Aku ingin menikmati saat-saat seperti ini sepuluh tahun lagi, Mas,” desah Solandra ketika , Paskal menyeka sisa-sisa mustard yang menodai sudut bibirnya, “Oke,” Paskal menyeringai lebar sambil men-jilati sisa mustard di ujung jarinya. “Begitu ;, pulang aku pesan tiket perjalanan untuk selunas. Siapa tahu sepuluh tahun lagi sudah tidak ada orang sakit!” | “Mas janji kita akan ke sini lagi pada ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh?” “Aku janji kita akan kemari setiap tahun!” • “Betul?” Solandra menatap suaminya sambil tersenyum. Paskal membalas tatapan istrinya dengan hangat. Bukan main indahnya mata wanita yang sudah sepuluh tahun menjadi belahan jiwanya ini. Setiap kali menatap mata itu, PaskaJ begitu mengaguminya seperti menatap indahnya bintang-bintang di langit. Mata itu bening dan teduh menyejukkan seperti air kolam yang baru dikuras. Memang. Dalam usia tiga puluh lima tahun, Solandra masih menyuguhkan kecantikan yang luar biasa. Kecantikan yang terasa abadi biarpun dua belas tahun telah berlalu sejak Paskal pertama kali melihatnya. Hidungnya masih sebagus dulu. Pipinya masih semulus bayi. Bahkan bibirnya yang melekuk manis masih membangkitkan keinginan Paskal untuk memagutnya setiap ada kesempatan. Aku mencintaimu, Sayang,” bisik Paskal sambil memeluk dan mencium bibir istrinya, ‘^Rasanya tambah mencintaimu setiap detik. Setiap menit. Setiap jam. Setiap hari….” Dan mereka hampir ketinggalan bus. *** Universal Studio sudah jauh berubah dibandingkan ketika mereka pertama kali ke sana sepuluh tahun yang la lu. Hampir tak ada tempat yang membangkitkan nostalgia. Semuanya sudah berubah. Tempat-tempatnya. Atraksi-atraksinya. Mula-mula tentu saja mereka kecewa. Tetapi j makin siang, kekecewaan itu semakin pupus. Begitu banyak atraksi baru yang lucu dan menegangkan. Rasanya tidak bosan-bosannya j mereka keluar-masuk studio. Bahkan ketika j sore itu mereka basah kuyup disemprot slang air tatkala menikmati pertunjukan air, semua -kekecewaan itu lenyap seketika. Paskal dan Solandra dapat menikmati wisata ‘ yang sangat berkesan sehari penuh walaupun mereka terpaksa membeli T-shirt karena baju mereka basah kuyup. “Mas, yang basah bukan cuma bajuku saja…” keluh Solandra setelah mengenakan Tshirt barunya. “Basahnya sampai ke dalam….” “Buka saja,” sahut Paskal seenaknya. “Di sini tidak ada yang peduli kamu pakai BH atau tidak.” “Mas rela orang-orang melihat…” “Nggak apa,” potong Paskal sambil menyeringai bangga. “Masih ranum kok. Nggak malu-maluin yang punya.” “Idih!” Solandra memukul bahu suaminya dengan gemas. “Porno!” “Siapa yang porno?” Paskal tertawa geli. “Siapa yang…” “Sudah ah! Jangan mengejek terus!” “Duh, tambah cakep kalau ngambek!” Paskal mencolek pipi istrinya. “Sering-sering ngambek ya? Biar suamimu tambah sayang!” Solandra pura-pura menampar pipi suaminya sambil tersenyum manis. “Kalau aku tahu Mas Pas begini jahatnya…” “Kamu mau cari gantinya?” “Boleh?” “Pernah lihat rahang patah?* “Mas lupa aku dokter gigi?” “Kamu lupa aku karateka ban hitam?” Mereka sama-sama tertawa renyah. Udara yang panas menyengat tak terasa menyi]^ Lebih-lebih ketika perakan air membasahi mereka di sana-sini. “Rasanya aku ingin semuanya ini tidak pernah berakhir, Mas,” desah Solandra manja. I “Aku janji cinta kita tidak pernah berakhir, Andra,” sahut Paskal mantap. “Dia hadir di setiap helaan napas kita.” Bab VIII %y ULANG ke Jakarta melahirkan rutinitas sehari-hari yang membuat Paskal selalu sibuk dari pagi sampai malam. Pagi bertugas di rumah sakit. Sore buka praktik dokter umum. Malam pun Paskal masih memenuhi panggilan beberapa keluarga pasiennya yang sudah menganggapnya dokter keluarga. Kesibukannya membuat Paskal selalu tiba di rumah dengan sisa-sisa kelelahannya. Sementara sebagai dokter gigi yang andal dan dermawan, Solandra pun tidak kalah sibuknya. Pasiennya selalu antre sampai malam. “Rasanya kita harus sudah mulai mengurangi kesibukan kita kalau ingin punya anak,” Paskal menyeringai pahit ketika mereka tiba di ranjang dengan sisa-sisa keletihan mereka Di sisinya, Solandra tergoiek sama lelahnya. “Mas capek, ya?” “Masih ada generator cadangan kaJau kaom mau.” “Bukan yang itu. Aku cuma minta dipijat kok. Tadi hampir setengah jam ekstraksi M3. Rasanya pegal sekali.” “Oke. Ada bonusnya?” “Bonus apa? Sudah ioyo begitu.'” “Kan aku sudah bilang, ada generator cadangan.” “Nggak ah.” “Ingat baju tidur yang kubelikan di Frisko?” Solandra tidak menjawab. Dia hanya tersenyum simpul. Senyumnya tambah lebar ketika jari-jemari suaminya mulai meraba dan mempermainkan payudaranya “Kaku sekarang kamu pakai baju itu, ku-jamin tidak sampai setengah menit…” “Nggak bisa, Mas.” Solandra menggeliat geli sambil mendesah. Tapi erangan itu justru tambah membakar gairah Paskal. Dia menggulingkan tubuhnya ke atas tubuh istrinya. Dikecupnya ujung hidungnya dengan mesra. Ditatapnya mata- ‘ nya dalam-dalam. ak sedekat itu, dia seperti dapat \ melihat dirinya dalam bola mata istrinya yang sebening gletser. “Kenapa? Sudah tidak tertarik pada suamimu?” Paskal membiarkan tangannya membelai dan meremas dengan mesra. “Ada pasien cakep di kamar praktikmu tadi? Lebih keren dari aku?” “Sudah ah,” Solandra menyingkirkan tangan suaminya. “Iseng banget sih.” “Isengin istri sendiri apa salahnya? Nggak dosa, kan? Malaikatmu pasti nggak repot mencatat.” “Nggak salah kalau selesai. Tapi kalau kepalang tanggung kan malah nggak enak!” “Siapa bilang tidak selesai? Apa aku mesti minum jamu dulu? Atau…” Paskal menyebut merek sebuah obat kuat. Solandra tersenyum geli. “Nggak usah.” “Putar VCD yang baru kubeli, ya? Kata yang jual, pemainnya aktris terkenal.” “Apa bedanya kal au pemainnya bukan artis?” “Nggak mau lihat?” “Nggak usah.”, “Ada apa sih?” “Neeak ada apa-apa.” PaskaJ menggulingkan tubuhnya. Menelungkup di sisi tubuh istrinya. Ditatapnya mata Solandra dengan cermat. “Serius kamu nggak mau?* “Bukan nggak mau,” Solandra membalas tatapan suaminya dengan lembut. “Nggak bisa.” “Nggak bisa?* sergah Paskal bingung. “Masih mens.” Sekarang Paskal tersentak kaget. Matanya ( mengawasi istrinya dengan cemas. “Sejak di Vegas, kan?” Solandra mengangguk. “Sudah lebih dari dua rninggu dong.” “Hampir tiga minggu.” “Dan kamu belum ke dokter?” “Kupikir bakal berhenti sendiri.” “Besok kamu mesti ke obgyn. Jangan-jangan I miom.” “Ada obgyn perempuan di rumah sakit Mas?” “Yang penting bukan jenis kelaminnya. Tapi I otaknya!” “Tapi aku tidak mau ada lelaki lain yang melihatnya kecuali suamiku,” “Aku akan mendampingimu. Kalau dia berani kurang “Rahangnya bakal retak?” Solandra tersenyum masam. Paskal menatap istrinya sesaat. Lalu dikecupnya bibirnya dengan penuh kasih sayang. Karena tidak ada ahli kandungan wanita di rumah sakit tempat Paskal bekerja, mereka mencarinya di rumah sakit lain. Teman sejawat Paskal merekomendasikan seorang ahli kandungan wanita yang mengambil spesialisasi di Australia. “Bukan orang lain, Andra,” Paskal tersenyum lega ketika mengetahui siapa ahli kandungan yang direkomendasikan sejawatnya. “Kamu pasti menyukainya.” “Mas kenal dia?” “Bukan kenal lagi.” “Bekas pacar di kampus dulu?” “Bekas sahabatmu di SMA.” “Dia?” Mata Solandra terbuka lebar. Ditatapnya suaminya dengan tatapan tidak percaya. Dia sudah menjadi ginekolog?” “Yang terbaik di rumah sakitnya!” Paskal menyeringai bangga, “Heran. Padahal waktu kuliah dulu, dia tidak pintar-pintar amat!” “Kata dosenku, dokter yang sukses belum tentu mahasiswa yang paling pintar!” Hampir setengah menit Solandra dan Sania berpelukan. Seakan-akan mereka ingin menumpahkan seluruh kerinduan yang telah lama menggumpal di dada. “Kalau aku tahu kamu ptaktik di sini, Sah,” sergah Solandra terharu, “aku pasti sering ke sini!” “Terus terang sih aku juga belum lama kembali dari Melbourne. Bam beberapa bulan tugas di sini sekalian adaptasi.” “Kok kamu nggak cari kita sih?” “Behim sempat.” Cuma itu alasan Sania. . Alasan lain, hanya dia yang tahu. “Kamu sudah menikah? Mana suamimu, San? Kok nggak dikenalin?” “Kami sedang pisah sementara.” “Lho, kok gitu?” “Biasalah. Pasangan yang sama-sama sibuk.” “Kamu pikir aku dan Mas Pas tidak sama sibuk? Tapi semakin lama kami tidak bertemu, malah semakin kangen rasanya.” “Kamu beruntung.” Sania membalikkan tubuhnya untuk menyembunyikan wajahnya. Kamu memang selalu beruntung! “Suamimu dokter juga, kan?” “Ginekolog.” “Wah, selevel dong!” “Levelnya lebih tinggi. Dia dosenku. Sudah profesor.” “Bukan main! Pintar juga kamu cari suami, San!” Tidak sepintar kamu. Karena dia tidak bisa dibandingkan dengan Paskal! “Cakep, San?” “Siapa?” “Ya suamimu! Jahat kamu. Tidak pernah ditunjukkan pada kita. Fotonya saja tidak pernah!” “Kamu pasti nggak suka.” “Bohong! Dia pasti kayak Robert Redford. Kalau tidak, masa sih kamu mau?” “Lebih mirip Bob Hope.” “Hah?” Solandra menutup mulutnya menahan tawa. “Yang betul, San!” “Tidak oercava ya sudah.” “Onfa pada pandangan pertama?” Cinta memang buta. Kadang-kadang ^ sekalian. “Lebih karena faktor kesepian. Dia duda I Aku lajang.” “Karena itu kalian akhirnya menikah?” “Tidak juga. Cuma hidup bersama.” Suara j Sania terdengar datar. Dia tidak berusaha menyembunyikan nada bosan dalam suaranya. “Kamu sudah berubah, San,” keluh Solandra pahit. Kamu kan tahu, hidup bersama tanpa nikah tidak indah di mata Tuhan. “Kata Paskal kamu menorrhagia, Dra,” iania I berusaha mengalihkan topik pembicaraan. “Dia I khawatir ada mioma di uterusmu.” “Ah, dia memang selalu khawatir. Sakit se- [ dikit saja pikirannya sudah yang bukan-bukan.'” I “Tidak ada salahnya diperiksa, kan?” “Kalau tahu ginekolognya kamu, aku sudah datang dari dulu!” *** “Mioma uteri,” Sania memperlihatkan hasil foto USG yang baru saja diambilnya kepada Paskal. “Hampir empat senti.” “Tidak bahaya kan, San?” tanya Paskal sambil mengamat-ama ti foto yang ditunjukkan Sania. “Miom delapan puluh persen jinak, kan?” “Lebih baik kita laparoskopi,” sahut Sania hati-hati. Paskal tidak suka mendengar nada suara Sania. Dia seperti mengkhawatirkan sesuatu. Apa yang dilihatnya? Sesuatu yang mencurigakan? Sesuatu yang… ah, berdasarkan pengalamannya… kurang baik? “Lihat saja hasil PA-nya sehabis laparoskopi nanti,” Sania selalu mengelak setiap kali didesak Paskal. “Mudah-mudahan jinak.” Tegangnya paras suaminya membuat Solandra cemas. Lebih-lebih ketika mendengar anjuran Sania. Operasi? Mengapa sampai sedrastis itu? “Tidak bisa diberi obat’dulu, Mas?” tanyanya khawatir. “Sania bilang lebih cepat diketahui jenis -miom-nya, lebih baik.” “Maksud Mas, dia takut miom ini ganas?” “Bukan begitu. Kamu kan tahu kebanyakan mioma uteri itu jinak. Masa dokter gigi tidak tahu? Kamu dulu lulusnya nggak nyogok dosen, kan?” Tetapi kali ini Solandra tidak menanggapi kelakar suaminya. Dia juga merasa, PaskaJ hanya pura-pura tidak khawatir. Sebenarnya dia sendui tengah berusaha menutupi kegelisahannya. Apa yang dikatakan Sania? Sesuatu yang : mengkhawatirkan? “Aku .tidak mau dioperasi, Mas,” desah Solandra menahan tangis. “Aku masih ingin [ punya anak….” “Siapa bilang ini operasi histerektomi? Rahimmu tidak diangkat, Sayang. Kamu masih i bisa memberi suamimu tercinta ini selusin anak! Sania cuma ingin mengambil sedikit 1 jaringan tumormu….” “Untuk dikirim ke PA, kan? Diperiksa ganas atau tidak?” “Eh, pintar juga dokter gigi ini ya,” Paskal memeluk istrinya sambil pura-pura tertawa. Tetapi karena dia tidak pandai menyembunyikan perasaan yang sebenarnya, tawanya menjadi sumbang. Dan Solandra semakin mencurigai kecemasan suaminya. “Aku tidak mau dioperasi, Mas,” gumamnya sedih. “Ini bukan operasi, Andra!” “Apa namanya kalau bukan operasi? Aku dibawa ke kamar operasi, dibius, perutku dibuka….” “Cuma diintip sedikit. Diambil jaringan tumormu untuk diperiksa….” “Aku tidak mau, Mas….” “Harus. Kalau tidak, Sania tidak dapat menentukan jenis miom-mu.” “Kalau Mas bilang sebagian besar miom itu jinak, buat apa lagi diperiksa?” “Tapi ada yang tidak, kan?” “Kalau tidak, apa gunanya lagi diopetasi?” “Astaga, pandirnya dokter gigi iml*^ “Kalau ganas, terapinya histerektomi, kan? Tidak, Mas! Aku tidak mau rarumku diangkat! Kalau memang aku hams meninggal, aku mau tubuhku kembali ke pangkuan Tuhan dengan utuh!” “Ya ampun! Kamu seperti bukan dokter saja!” Tetapi kali ini pun gurau Paskal tidak mempan. Tidak dapat menenangkan perasaan istrinya. Dan tidak dapat menggiringnya ke meja operasi. Solandra tetap menolak dioperasi, apa pun alasan Paskal, bagaimana pun dia mendesak istrinya. Kegigihannya membuat PaskaJ semakin bingung. Apalagi semaJcin hari perdarahannya bukannya berhenti, malah semakin banyak. Obat-obatan yang diberikan Sania seperti tidak mempan menghentikan perdarahan itu. Suatu malam darah yang keluar begitu banyaknya sampai Paskal demikian paniknya, j Dia menelepon Sania pada jam satu malam. “Tidak ada obat lagi yang dapat kuberikan, Pas,” kata Sania murung di tengah-tengah I kantuknya “Solandra belum menyerah juga? f Dia belum mau juga dioperasi?” “Dia masih percaya Tuhan akan menyembuhkannya,” sahut Paskal sama muramnya. “Setiap , j hari dia menunggu datangnya mukjizat.” Sania menghela napas panjang. “Aku tahu bagaimana religiusnya Solandra, j Pas. Tapi sebagai dokter gigi, mestinya dia lebih realistis. Tidak ada doa tanpa usaha. Tuhan juga tidak mau kita diam saja menunggu datangnya mukjizat. Kita harus berusaha!” “Tolong katakan pada Solandra, San. Kamu bisa kemari?” “Tengah malam begini? Rasanya percuma saja, Pas. Bawa saja dia ke rumah sakit besok. J ‘. Mudah-mudahan aku bisa mengubah pendapatnya.” Semalaman itu Paskal tidak mampu memicingkan mata sekejap pun. Entah berapa belas kali malam itu Solandta bolak-balik ke kamar mandi mengganti pembalut wanitanya yang sudah penuh darah. Bukan hanya Solandra yang ketakutan melihat darah sebanyak itu. Paskal juga. Padahal sebagai dokter, darah sudah menjadi santapannya sehari-hari. Darah sebanyak apa pun tidak pernah lagi membuatnya  takut. Tapi lain kalau yang mengeluarkan perdarahan sebanyak itu istrinya sendiri! Paskal bukan hanya takut. Dia panik. Putus asa. Tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghentikan perdarahan sebanyak itu. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasa sia-sia menjadi dokter. Karena menolong istrinya sendiri saja dia tidak mampu! “Besok kita ke rumah sakit ya, Sayang,” pinta Paskal ketika dia sedang memapah Solandra yang tengah melangkah tertatih-tatih ke kamarnya dari kamar mandi. “Biarkan Sania menolongmu.” “Apa masih ada gunanya, Mas?” desai, Solandra sedih. “Rasanya rahimku hampi, jebol.**»” “Tidak, Andra. Aku yakin kamu akan sem. bah.” “Cuma mukjizat yang bisa menyembuhkan, ku, Mas.” “Kita harus berusaha, Andra. Tidak dapat pasrah saja menunggu mukjizat.” “Mas percaya mukjizat?” tanya SoJandra lirih j ketika Paskal membaringkannya dengan hati- j hati di tempat tidur. “Percaya,” sahut Paskal asal saja. Padahal se- | benarnya dia tidak percaya pada segala macam mukjizat. “Tapi aku juga percaya pada ilmu kedokteran. Biarkan Sania menolongmu, Andra.” “Tolong ambilkan sarung yang merah itu, Mas.” “Buat apa?” – “Takut darahku tembus ke seprai.” “Persetan. Akan kubelikan seratus seprai lagi kalau darahmu mengotorinya.” “Tapi aku sangat menyukai seprai ini, Mas. Kubeli waktu ulang tahun perkawinan kita kesembilan. “Ingat. Tapi aku tidak peduli jika seprai ini jadi belang-belang kena darahmu sekalipun, Andra. Aku mau kamu sembuh! Demi aku, Andra, biarkan Sania menolongmu!” “Mas yakin perdarahan ini berhenti kalau Sania melakukan laparoskopi?” “Tidak. Tapi dia jadi tahu jenis tumormu. Dan kita dapat melakukan terapi yang lebih adekuat.” “Terapi apa, Mas? Histerektomi? Radiasi? Kemoterapi?” sergah Solandra menahan tangis. “Jangan berpikir sejauh itu, Andra. Untuk apa? Yang penting kita mengetahui diagnosis penyakitmu dengan cepat dan tepat.” “Lalu?” “Lalu kita memilih terapi yang tepat!” “Ada terapi yang tepat untuk kanker, Mas?” rintih Solandra setengah putus asa. “Dalam stadium dini kanker dapat disembuhkan, Andra! Lagi pula, siapa yang bilang kanker? Di-PA saja belum!” “Aku punya firasat jelek, Mas….” “Please, Andra. Tolong kabulkan permintaanku sekali ini saja!” irnya Solandra menyerah juga. Demi injra, dia rela menyerahkan dirinya kt atas meja operasi. Dia membiarkan Sania melakukan laparoskopi. Mengambil sedikit jaring» an tumornya dan memeriksakannya di laborato- : rium Patologi Anatomi. Ketika istrinya sedang menjalani operasi, j Paskal tidak berani mendampinginya di mang I bedah. Dia memilih menunggu di luar. Tidak j sampai hari melihat perut istrinya dibuka. 1 Betapa kedinya pun luka operasi yang dibuat j Sania. Belum pernah ada lelaki yang melihat milik- J ku, Mas, rintih Solandra sesaat sebelum didorong di atas brankar memasuki ruang operasi. Selain kamu! Sekarang, berapa orang yang j! melihatnya? Cuma Sania, jawab ‘Paskal menghibur di tengah-tengah kegelisahannya sendiri. Dan dia I perempuan! Suster OK-nya juga perempuan ‘ semua! Ymg cowok cuma penata anestesinya. Dan yang dilihatnya cuma monitor dan kepalamu1. Tentu saja Paskal tidak mengatakan, asisten Sania seorang pria. Tapi peduli apa? Siapa yang memerhatikan hal-hal kecil begitu dalam Paskal tahu, Solandra memang puritan. Tetapi mereka tidak punya pilihan lain. Kalau boleh memilih, Paskal juga tidak mau istrinya dioperasi. Kalau bisa, biar dia saja yang menggantikan. Tetapi kalau sudah tidak ada pilihan lain, mau apa lagi? *** Paskal baru berani menemui Solandra setelah dia dibawa ke ruang pemulihan. Saat Paskal melihatnya, Solandra belum sadar. Wajahnya pucat pasi. Tetapi bagaimana pun kondisinya saat itu, dia masih belum kehilangan kecantikannya. Dan ketika melihat istrinya dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba saja Paskal merasa cintanya kepada Solandra semakin bertambah. Jangan pernah meninggalkanku, Sayang, bisiknya dalam hati. Jangan biarkan aku sendirian hidup di dunia ini…. Karena tanpa kamu, hidup ini tidak ada artinya lagi! Tatkala Solandra sadar dari efek pembiusan, tatkala untuk pertama kalinya dia membuka matanya, Paskal merasa hatinya sa ngat lega. Diciumnya dahi istrinya dengan lembut dan hati-hati. Seolah-olah dia begitu takut melukainya. Begitu khawatir ciumannya akan menya kid Solandra. “Semua sudah selesaiy Sayang,” bisiknya halus. “Sania sendiri yang akan mengawasi pemeriksaan PA-mu di lab. Dia janji akan mengabari kita secepatnya.” Tetapi ketika hasil itu keluar, bukan hasil menggembirakan yang mereka peroleh. Kabar itu datang seperti guntur di siang hari bolong. Ketika melihat paras Sania, sebenarnya baik Paskal maupun Solandra sudah dapat menerkanya Tetapi tidak ada yang berani menanyakan* nya. Sampai Sania sendiri yang terpaksa menyampaikannya. “Leiomiosarkoma,” cetusnya pahit. Lab dia menunduk. Tidak berani menatap sahabat-sahabatnya. ; Sarkoma! Itu berani rumor ganasi Kanker! Paskal sering mendengar diagnosis itu. Tetapi selama ini orang lain yang mengidapnya. Pasiennya. Temannya. Kenalannya. Bukan Solandra! Bukan istri yang sangat dicintainya.’ Tak sadar tangannya mencari dan” meraih tangan Solandra. Dalam genggamannya tangan istrinya terasa dingin. Tapi barangkali bukan hanya tangan Solandra yang dingin. Tangannya juga. Karena saat itu dia sangat ketakutan. Begitu takutnya seperti mendengar langkah-langkah Malaikat Maut…. Ya Tuhan, bisik Solandra dalam hati. Kuatkan diriku menerima apa pun keinginan-Mu! Dia berusaha tampil tabah. Berusaha menahan air matanya. Karena tidak ingin menambah kesedihan suaminya. Memang pada saat menerima kabar buruk itu, bukan dirinyalah yang pertama kali dipikirkannya. Tetapi Paskal! Dia pasti sangat sedih. Ketakutan. Dan Solandra tidak ingin menambah derita suaminya dengan melihat air matanya. Padahal sesungguhnya dia sendiri merasa sangat ketakutan tatkala mendengar diagnosis penyakitnya. Solandra merasa seperti tiba-tiba saja dicemplungkan ke lubang gelap yang sangat dalam tanpa dasar…. Dinding lubang itu seperti bergerak menjepitnya. Makin lama makin rapat sampai dia sulit bernapas…. “Aku menganjurkan total histerektomi, Pas,” sambung Sania sambil tetap menghindari menatap wajah sahabat-sahabatnya. Tidak tega melihat pucatnya paras mereka. Dia pura-pura meneliti kertas hasil lab di hadapannya. “Lebih cepat lebih baik. Karena dalam sebulan sajs miom Solandra sudah bertambah besar du senti. Artinya pertumbuhannya termasuk ce. pat.” “Artinya rahimku harus diangkat, San?” tanya Solandra sambil berusaha menekan perasaannya. “Rahim dan kedua ovariummu, Dra. Kalau periu aku akan membersihkan pula isi pelvismu. Mudah-mudahan belum menjalar ke kelenjar getah bening dan vesica urinaria.” Solandra menggigit bibir untuk menahan tangisnya. Dirasanya genggaman suaminya se-makin erat. “Kalau aku menolak dioperasi, berapa lama lagi umurku, San?” “Andra!” cetus Paskal antara marah dan sedih. “Pertanyaan apa itu! Kamu lupa, kamu tidak bakal pergi sendiri? Jika kamu mati, aku juga tidak ingin hidup lagi.'” Sania mengangkat wajahnya dan menatap sahabatnya dengan sedih. “Kenapa jadi berpikir sepandir itu?” keluh Sania sambil berusaha menyembunyikan perasaannya. Betapa dalamnya cinta kasih mereka! Mengapa tidak pernah ditemukannya cinta kasih semurni itu? “Kita di sini sedang merundingkan terapimu, Dra! Bukan kematian kalian!” “Aku tidak mau dioperasi, San,” desah Solandra dengan air mata berlinang. “Kalau aku hams mati, aku ingin pergi dengan tubuh utuh. Bukan tubuh kurus kering, kepala botak, dan perut morat-marit bekas luka operasi!” • “Andra!” sergah Paskal dengan mata berkaca-kaca. “Apa pun jadinya dengan tubuhmu, aku tetap mencintaimu! Di mataku, ‘kamu tetap secantik seperti pertama kali aku melihatmu!” Sekali lagi Sania merundukkan kepalanya. Tidak tega melihat kesedihan kedua sahabatnya Tetapi terlebih lagi tidak mampu menyaksikan •cinta kasih yang begitu mumi yang terlukis di depan matanya. Bahkan ketika maut sudah menghadang, mereka masih mampu menampilkan kasih yang begitu tulus. Begitu dalam. Begitu murni. *## Paskal menghantam tembok kamar mandinya berkali-kali. Sesudah tangannya terasa sakit, dia baru berhenti memukul. Dan dia menangis. Di atas kepalanya air dari pancuran mengucur deras. Airnya berbaur den gan air matanya. Biasanya tempat ini adalah tempat yang paling disukainya. Tempat membersihkan j tubuh. Sekaligus tempat bermesraan. Tapi saat ini, membayangkan hal yang biasa mereka j lakukan berdua di sini malah menambah pedih 1 luka di hatinya Mengapa hidup sekejam ini? Mengapa alam ( sejahat ini? Solandra begitu baik. Begitu sabit, j Begitu suci. Begitu sempurna! Apa salahnya j sampai dia dihukum seberat ini? Kanker. Mengapa Solandra yang harus mengidap kanker? Mengapa bukan orang lain? Yang jahat. Yang culas. Yang dengki. Mengapa mereka justru sehat-sehat saja? Kanker rahim! Mengapa penyakit jahanam ku justru memilih Solandra? Dia yang tidak pernah menodai genitalianya dengan perbuatan tercela! Dia yang selalu menjaga kesucian tubuhnya. Dia yang begitu menjauhi kemak- j siatan. Mengapa justru dia yang dihukum? Atau… penyakit memang bukan hukuman dosa? Itu yang selalu diucapkan Solandra. Dengan penuh keyakinan. Karena seganas apa pun M |^118 penyakit yang dideritanya, itu tidak dapat melunturkan kepercayaannya. Padahal Paskal tidak dapat membayangkan apa yang terjadi jika penyakit jahanam itu sudah menggerogoti tubuh istrinya. Dia tidak dapat membayangkan jika Solandra harus pergi lebih dulu. Mampukah dia menanggung beban seberat ini? Paskal ingin berteriak. Ingin menjerit untuk menumpahkan beban berat yang menindihi hatinya. Tapi dia tidak ingin Solandra mendengarnya. Dia tidak ingin istrinya tahu betapa sedih hatinya. Betapa takutnya dia! Ketika keluar dari kamar mandi, dia melihar Solandra sedang berdoa di sisi tempat tidurnya. Dia tampak begitu khusyuk. Begitu khidmat. Sering Paskal melihat istrinya berada dalam situasi seperti itu. Kalau sedang berdoa, Solandra memang pantang diganggu. Seperti sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana kecuali dia dan Tuhan-nya. Dia bisa berada dalam kesunyian selama berjam-jam. Entah apa yang dibicarakannya. Apa yang dipin tanya. • Tetapi belum pernah Paskal melihat istrinya dalam keadaan seperti ini. Kali ini, dia tampak lebih serius. Lebih khusyuk. Lebih khidmat. 119 Sampai rasanya Paskal seperti melihat asap ^ luar dari ubun-ubun kepalanya. Barangkali cuma halusinasi, pikir Paskal sambil mengendap-endap keluar dari kamarnya. Karena pikiranku yang sedang kacau. Paskal memang sedang sedih. Takut. Sekaligus marah. Entah harus marah kepada siapa. Tapi dia merasa diperlakukan tidak adil. Oleh siapa? Alam? Dunia? Tuhan? “Jangan marah pada Tuhan, Mas,” pinta Solandra ketika mereka pulang ke rumah tadi. Suaranya begitu lembut. Begitu sabar. Dia seperti mengerti perasaan suaminya. “Tuhan tidak pernah salah.” Memberimu penyakit seperti ini juga tidak salah? Mengapa Tuhan salah alamat? Mengapa tidak dadrimnya penyakit ini kepada orang « Koruptor. Rampok. Pembunuh. Pelacur, ^^i—pada orang sebaik Solandra, Tetapi tidak seorang Dun A . h «*»• langit tetap JJ.* ,dapat men’aWab’ Paskal-tegakdisebuS ^ malam ^ an Jakarta Sambil tanah lapang di pinggir seribu tanya.timbunan samPah di sebelah sana juga tetap bergeming. tak ada malaikat yang turun menjawab pertanyaanya.tak ada suara yang membalas kegalaunya.tak ada semuanya sepi.semuanya bisu dimanakah engkau tuhan? Masihkah Engkau Di atas sana? Mengapa Engkau tetap membisu?sungguh kah engakau ada?atau engkau cuma ilusiusi semata-mata? Bab IX halaman belakang rumah mereka yam; mungil, ada tiga tangga batu yang menghubungkan taman dengan teras rumah. Paskal dan Solandra biasa duduk-duduk di sana sambil mengobrol memandangi bintang. Biasanya Paskal duduk bersandar ke tiang kayu yang menyangga atap teras. Sementara Solandra duduk di depannya. Menyandarkan punggungnya ke tubuh suaminya. Malam ini mereka melakukan hal yang sama. Paskal membelai-belai rambut istrinya. Kadang-kadang mengelus dan memijat punggungnya. Bedanya, malam ini mereka melakukannya sambil menangis. Tak ada lagi seloroh yang memancing senyum. Tak ada kata-kata manis yang bernada mesra. Malam ini, semuanya lenyap ditelan j kesedihan. Di langit, bintang masih bersinar. Tapi sinarnya tidak lagi secetah hari-hari kemarin. Malam ini, semuanya berkabut. Bahkan bulan tampak begi tu muram seperti mengerti kesedihan mereka. “Aku ingin memberimu anak, Mas,” rintih Solandra lirih. Air mata mengalir perlahan ke pipinya. Paskal merangkul pinggang istrinya dengan kedua belah lengannya. Diciumnya lehernya sambil menelan air mata yang tersekat di tenggorokannya. Dia tidak menjawab. Karena begitu membuka mulutnya, dia khawatir tak .dapat lagi menahan tangisnya. Kesedihannya memang sudah tidak terkata-kan lagi. Tetapi dia tidak ingin air matanya menambah kesedihan Solandra. “Kalau aku pergi, aku ingin ada anak-anak yang mendampingimu.” Lupakan anak, Andra, tangis Paskal dalam hati. Siapa pun yang kamu tinggalkan di sampingku, tidak sama dengan kamu! Dan aku tetap merasa kehilangan! “Aku tidak takut mati, Mas,” desah Solandra sambil membelai-belai lengan suaminya. “Kematian bukan akhir segala-galanya. Kemarian adalah awal perjumpaan dengan Tuhan. Tapi aku tidak tega meninggalkanmu sendiri, an….” •¦•¦.-“» “Kamu tidak akan pergi, Andra,” bisik Paskal di telinga istrinya. “Aku tidak akan mengizinkan kamu pergi.'” “Bolehkah aku mengajukan satu permintaan, Mas?” Solandra meletakkan kepalanya di bahu suaminya. Ditatapnya mata Paskal dalam-dalam. Paskal menunduk dan mengecup bibir istri- j nya sebelum menjawab. “Mintalah apa saja, Sayang,” bisik Paskal j penuh ham. “Seandainya kamu minta bintang di langit sekalipun, akan kugapai untukmu.” Solandra membelai-belai pipi suaminya dengan lembut. “Aku ingin punya anak, Mas….” desahnya Mi. “Oke,” gumam PaskaJ setelah tercenung sejenak. “Sesudah kamu sembuh, kita akan mengadopsi seorang anak.,..” “Aku menginginkan anakmu, Mas. Benihmu.” “Andra….” “Apakah permintaanku keterlaluan?” “Tidak. Tapi rasanya..’. “Jika ovariumku masih baik, dapatkah kita menyatukan ovumnya dengan spermamu?” “Andra….” “Aku tahu. Uterus dan kedua ovariumku akan diangkat. Mereka akan melakukan total histerektomi. Tapi kita bisa melakukan sebelumnya, kan? Maksudku melakukan pembuahan in vitro?” “Lalu di mana kamu hendak menanam hasil konsepsinya?” “Di rahim seorang ibu pengganti.” ¦• Lama Paskal terenyak sebelum mampu membuka mulutnya lagi. “Aku tidak yakin kita dapat melakukannya di sini/s..” “Kita cari tempat yang mampu melakukannya, Mas. Mungkin sangat sulit. Tapi bukan tidak mungkin, kan? Mas mau mengabulkan permintaanku? Walaupun kedengarannya amat sukar?” “Kamu sudah punya calon?” “Sampai saat ini belum. Tapi aku akan mencarinya, Mas.” “Rasanya terlalu naif, Andra,” gumam Paskal murung setelah menghela napas panjang. “Pada saat kita harus berkonsentrasi untuk menyem buhkan penyakitmu….” “Aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian, Mas.” “Kata siapa kamu akan meninggalkanku?” “Mas mau mengabulkan permintaanku?” Paskal menatap istrinya dengan sedih. 0, Andra! Andra! Seandainya aku mampu! Seandainya aku dapat! Apa yang tidak mau kuberikan padamu? Nyawaku sekalipun jika kamu minta akan kuberikan! _ “Maaf kalau permintaanku membuatmu tambah sedih, Mas….” desah Solandra pilu ketika melihat kesedihan yang melumuri tatapan suaminya “Tapi kehadiran seorang anak akan membuatku semakin tabah, Mas. Semakin menambah semangat hidupku.” “Sesudah itu kamu mau dioperasi, kan?” sergah Paskal getir. “Please, Andra, aku tidak mau kehilangan kamu!” Sebenarnya Sania sedang sangat sibuk. Tetapi begitu Paskal meneleponnya ingin bertemu, dia langsung meluangkan waktu. Dia meninggalkan pasien-pasiennya untuk menemui Paskal. “Solandra sudah mau dioperasi?” tanyanya begitu mereka bertatap muka. Terus terang dia tidak menyangka melihat pembahan yang begitu besat pada diri Paskal. Dia seperti sudah tujuh malam tidak tidur wajahnya muram dan pucat. Matanya redup. Senyum menghilang dari bibirnya. Tubuhnya juga langsung susut. Dia jadi kelihatan lebih tinggi dari sebelumnya. Tetapi seperti apa pun perubahannya, Sania tidak dapat menghilangkan perasaan yang sudah lama dipendamnya. Bertambah tersiksa Paskal, Sania malah merasa daya tariknya semakin menyengat. “Belum,” sahut Paskal lesu. Dia seperti tanaman yang sudah sebulan tidak disiram. “Rasanya dia harus dibujuk, Pas. Kita tahu apa yang kita hadapi. Kita  sedang berlomba dengan waktu.” “Dia mau dioperasi dengan satu syarat.” “Syarat?” Sania mengangkat alisnya dengan heran. “Syarat apa?” Paskal menceritakan keinginan terakhir Solandra. Dan untuk beberapa saat Sama tos j tegun bengong. “Kamu mau menolongku, San?” “Apa yang bisa kuban»?* Tolong buatkan rujukan pada suamia» Katanya dia profesor terkenal di bidang obstetri ginekologi” Sesaat Paskal melihat air muka Sama berubah. Sesaat dia tertegun. Tidak tahu harus menjawab apa. Ketika dia mampu membuka mulutnya kembali, suaranya terdengar agak dingin. “Maksudmu, kamu ingin membawa Solandra operasi di Melbourne?” “Bukan nggak percaya sama kamu, San,” desah Paskal lirih. “Tapi kalau Solandra harus dioperasi, aku ingin yang paling baik buat dia.” “Dan kamu menganggap aku kurang baik?” “Bukan begitu, San. Tolong jangan tambah beban pikiranku. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu…” “Aku tahu,” potong Sania datar. “Nanti malam aku telepon dia.” “Terima kasih, San. Kapan kira-kira suamimu bisa menerima kami? Aku ingin berkonsultasi juga tentang keinginan Solandra yang ter- [ akhir.” “Secepatnya. Rasanya dia bisa mengatur semuanya untuk kalian.” Lalu sesaat sebelum berpisah, Sania menambahkan dalam nada dingin, “Tapi kamu harus tahu, dia bukan suamiku. Kami belum menikah.” #*+ “Cuti lagi?” sambut direktur rumah sakit tempat Paskal bekerja. Suaranya dingin. “Baru dua bulan yang lalu kan Anda mengambil cuti tahunan.” “Saya harus membawa istri saya berobat, Dok,” sahut Paskal datar. Tidak suka mendengar nada suara bosnya. Masa dia belum mendengar apa yang me- • nimpa istrinya? Atau… dia memang belum mendengar karena terlalu sibuk? Atau mungkin… dia tidak peduli. Masih banyak pekerjaan lain yang harus di-urusinya. Urusan pribadi karyawannya bukan urusannya. “Berapa lama?” suaranya tetap tidak simpatik. Di telinga Paskal yang sedang murung, yang sedang membutuhkan dukungan moral dari kolega-koleganya, suara itu jadi terdengar menyakitkan. Memang. Barangkali bukan salahnya. Tidak semua orang harus terlibat dengan masalah pribadinya. Itu tanggung jawab PaskaJ sendiri. Tetapi tidak dapatkah dia bersikap lebih lunak, lebih simpatik? Berapa lama? Pertanyaan yang sulit dijawab. Karena ini bukan perjalanan wisata. Ini perjalanan menu/u ke meja operasi. Mungkin juga perjalanan menuju ambang batas antara hidup dan mati. “Saya tidak bisa mengatakannya, Dok,” sahut Paskal tawar. Barangkah seharusnya dia bersikap lebih sopan. Lebih mengiba-iba. Barangkah’ begitu seharusnya menghadapi atasan. Supaya dikasihani Dan cutinya dikabulkan. Tetapi dalam kondisi mental seperti yang dialami Paskal sekarang, siapa yang ingat untuk berbasa-basi? “Saya tidak bisa memberikan cuti terlalu lama,” kata atasannya sama datarnya. “Tidak adil terhadap karyawan yang lain.” “Kalau begitu saya mengundurkan diri,” 1 sergah Paskal tega». Kemarahan sudah menggumpal di dadanya. “Silakan,” sahut atasannya sama tegasnya. Matanya berkata, Siapa yang butuh kamu? Masih banyak tenaga medis lain yang mengincar tempatmu. Baru juga dokter umum. “Ajukan saja surat permohonan pengunduran diri.” Paskal merasa ditantang. Hatinya sakit sekali. Pada saat dia membutuhkan dukungan moral dan material, yang diterimanya justru perlakuan yang sangat tidak bersahabat. “Saya akan mengajukan surat pengunduran diri sepulangnya saya dari luar negeri,” katanya dingin. “Sebaiknya sekarang saja,” sambut si angkuh sama dinginnya. “Saya tunggu surat Anda di meja saya besok pagi.” *** Paskal tidak pernah mengatakan kepada Solandra, dia sudah mengundurkan diri. Dia tidak mau menambah beban pikiran istrinya. Sudah cukup berat beban yang harus ditanggungnya. Tetapi ketika teman-teman sejawatnya mendengar keputusannya untuk mengundurkan . diri, mereka terperanjat. P”Mengapa sampai sedrastis itu, Pas?” “Aku tidak punya pilihan Jain,” sahut PasJcai lesu. “Saat ini yang ada daiam pikiranku cuma menyembuhkan Soiandra.” “Seharusnya dia bisa menunggu sampai kau pulang.” Dan seharusnya dia bisa bersikap Jebih sim§patik. Mereka sudah bertugas bersama di rumah sakit ini cukup lama. Ketika, masih menjadi  teman sejawat, hubungan mereka memang tidak pernah akrab. Tapi paiing tidak, sikap si direktur angkuh, waktu itu masih berstatus dokter biasa, tidak searogan ini. Dia malah pernah minta Paskai menggantikannya jaga malam di Unit Gawat Darurat ketika anaknya masuk rumah sakit karena demam berdarah. Tetapi rupanya masa lalu tinggal masa lalu. Ketika seseorang sudah sampai di puncak, kadang-kadang dia malas melihat ke bawah lagi. Karena kepalanya sudah terlalu besar. Berat untuk digerakkan. Terus terang, Paskai sendiri sedang bingung memikirkan dana yang haru* dikeluarkan. Me-. nurut Sania, biaya operasi, pemeriksaan dan rawat inap di rumah sakit, dapat berkisar antara sepuluh sampai lima belas ribu dolar. Belum termasuk tiket pesawat dan biaya penginapan untuk Paskai sendiri. “Post op biasanya Soiandra juga harus konsultasi dengan onkolog. Aku bisa merekomendasikan onkolog terkenal. Dia mengambil S3-nya di Amerika.” Itu berarti tambahan biaya. Untuk konsultasi dan biaya sewa apartemen sekeluarnya Soiandra dari rumah sakit. “Kunjungan pertama sekitar dua ratus dolar,” sambung Sania, seperti mengerti kesulitan sahabatnya. “Kunjungan berikutnya delapan puluh sampai seratus. Tapi untuk biaya MRI, bone-scan, dan lain-lain pemeriksaan post op dibutuhkan sekitar dua ribu lagi. Belum lagi kalau diperlukan kemo dan radiasi.” ¦&gt; “Aku tahu,” sahut Paskai lesu. “Soal biaya tidak kupikirkan.” Bohong. Biaya merupakan tambahan pikiran yang harus dipikirkan meskipun Paskai ingin sekali mengenyahkannya dari otaknya.” Cicilan rumah mereka masih lima tahun lagi. Selama ini, semuanya tertutup berkat penghasilannya dan penghasilan Soiandra. Mereka malah dapat leluasa berwisata ke luar negeri untuk merayakan ulang tahun perkawinan mereka. Tetapi, ketika musibah ini tiba-tiba datang menyapa, Paskai baru menyadari pentingnya memiliki tabungan yang cukup. Uang memang bukan segala-galanya. Tetapi pada saat-saat seperti ini, uang tidak kalah pentingnya dengan yang lain. Apalagi yang mesti ditanggungnya sekarang bukan hanya biaya operasi. Soiandra menginginkan yang lain. Dia menginginkan anak mereka memiliki surrogate mother. Dan biayanya tidak murah. Paskai tidak bisa meminjam uang dari ibu Soiandra, karena Soiandra sudah berpesan untuk tidak memberitahu ibunya mengenai penyakitnya. Paskai juga tidak bisa menjual mobilnya supaya tidak membuat hati Soiandra bertambah sedih. Satu-satunya yang bisa dilakukannya saat ku cuma menemui ayahnya. *** “Pinjam uang?” Seringai bermain di bibir ayahnya ketika Paskai duduk di depan meja tulis ‘di ruang kerjanya yang nyaman. “Sesudah sepuluh tahun menghilang, tanpa mengirim sepucuk surat sekalipun, kamu mau pinjam uang? Bukan main. Ada apa, Boy? Kamu kalah main judi?” Paskai harus mengatupkan rahangnya menahan marah. Kalau bukan untuk Soiandra, dia tidak sudi menemui ayahnya lagi. Apalagi untuk meminjam uang! Tetapi demi Soiandra, demi kesembuhannya, apa pun akan dilakukannya! “Tidak masalah untuk apa,” sahut Paskai datar. “Papa nggak perlu tahu.” “Enak saja,” sahut ayahnya angkuh. Sepuluh j tahun tidak mengubah perilakunya. Tidak juga I penampilannya. Dia masih tetap segagah dan sesombong dulu. Hidup nyaman dan liar rupanya merupakan obat awet muda ‘baginya., j Barangkali ayahnya juga menyesali penampilan anaknya yang kuyu dan lesu. Jadi dokter rupanya tidak mudah. Dalam sepuluh tahun saja dia sudah tampil jauh lebih tua dan suram. Barangkali melihat orang sakit setiap hari membuat dokter jadi cepat tua. “Pinjam ke bank saja harus mencantumkan untuk apa.” “Papa mau minjamin saya uang atau tidak?” Paskai bangkit dari kursinya dengan sengit. !” Bukannya marah, ayahnya malah tersenyum lebar. Tidak ada warna mengejek dalam senyumnya. Tapi bagaimanapun. Paskai panas karena merasa terhina. “Kok galakan yang Sambil mengentakkan kakinya Paskai mendorong kursinya dengan kasar. Lalu dia melangkah ke pintu tanpa menoleh lagi. Sesampainya di pintu, dia mendengar ayahnya memanggil. Nadanya masih tetap seringan tadi. Tidak mengejek. Tapi entah mengapa, tetap terasa menyakitkan. “Berapa?” Tiga ratus,’* Naik sebelah alis aya hnya. Tiga ratus apa?” “Juta.” “Cuma segitu?” Kali ini ayahnya tidak menyembunyikan nada terkejut dalam suaranya. Cuma segitu. Paskai tambah merasa terhina. Tiga ratus juta sudah begitu besar untuknya. Tetapi untuk ayahnya, cuma segitu. Makanya dulu Papa bilang jangan jadi dokter. Jadi pengusaha! Barangkali begitu yang dikatakan matanya kalau mata itu bisa bicara. Tetapi di depan Paskai yang parasnya sudah merah padam, ayahnya memang tidak berkata apa-apa. Dia langsung membuka laci meja tulisnya. Dan mengeluarkan buku ceknya. Ketika melihat ayahnya sedang menandatangani cek. itu, diam-diam Paskai melangkah kembali ke depan meja tulis. Tetapi dia tidak duduk. Dia hanya berdiri saja menunggu ayahnya selesai menulis cek. Tetapi ketika dia mengulurkan tangannya untuk mengambil cek itu, ayahnya menariknya kembali. “Tunggu,” cetusnya tiba-tiba. “Akan saya kembalikan secepatnya,” meledak lagi amarah Paskai. “Papa jangan khawatir!” “Oke! Oke! Tapi bukan itu yang Papa mau.” “Apa lagi?” desis Paskai tersinggung. “Papa butuh jaminan?” “Bukan. Tapi pinjaman ini ada syaratnya.” “Syarat?” Paskai menggebrak meja dengan sengit. Akhir-akhir ini dia memang gampang meledak. Sarafnya sudah tegang sekali. Rasanya sudah hampir sampai ke ambang batas yang tidak dapat ditolerir Jagi. Mungkin dia sudah butuh obat penenang dan antidepresi. Terkejut ayahnya ketika melihat reaksi Paskai. Matanya membeiiak kaget. “Kamu kenapa, Boy?” tanyanya agak bingung. Seperti tidak percaya anaknya bisa bertingkah seperti itu. “Sebenarnya sudah berapa banyak utangmu?” “Papa nggak perlu tahu,” sahut Paskai geram. “Sekarang yang penting Papa mau pin-jamin Paskai duit nggak?” “Kasar sekali sikapmu,” keluh ayahnya tanpa menyingkirkan perasaan bingungnya. Matanya mengawasi putranya dengan heran. “Seperti bukan kamu yang datang. Bukan anak Papa yang Papa kenal sepuluh tahun yang lalu. Kamu sudah berubah, Boy.” “Bukan urusan Papa. Mana ceknya? Saya boleh ambil sekarang atau besok?” Ayahnya melemparkan ceknya ke atas meja. Cek itu melayang dan mendarat di tepi meja tulisnya. Tanpa permisi-Paskai mengambilnya. “Papa bilang ada syaratnya.” “Terserah Papa,” sahut Paskai acuh tak acuh. Syarat apa saja. Dia tidak peduli! “Papa ingin kamu bekerja di sini.” Sekejap Paskai tertegun. Ditatapnya ayahnya dengan heran. “Papa sudah ingin pensiun.” “Kan ada Paulin.” “Dia tidak punya bakat. Tidak punya naluri dagang. Pekerjaannya tidak ada yang sukses. Terlalu lunak sebagai pengusaha.” “Maksud Papa, dia kurang kejam? Tidak bisa membunuh saingan?” ejek Paskai sinis. “Dia mesti seperti Papa. Berdarah dingin dan bermulut busuk?” “Jangan kurang ajar!” desis ayahnya tersinggung. “Uang yang kamu perlukan itu berasal dari si mulut busuk ini!” “Akan saya kembalikan,” potong Paskai tidak sabar. “Berikut bunganya.” “Jangan sombong. Yang Papa perlukan bukan bunganya. Tapi tenagamu.” “Saya tidak berjiwa dagang. Seperti Paulin. Barangkali turunan Mama. Coba saja Prita. Siapa tahu dia mewarisi bakat Papa.” “Ah, Prita masih suka hura-hura. Belum saatnya terjun ke bisnis. Kamu yang Papa perlukan untuk menggantikan Papa.” “Nanti saya pikirkan,” sela Paskai tidak sabar. Sekarang yang penting cuma Soiandra! Cuma keselamatannya yang ada di kepala Paskai. Yang lain, urusan nanti. Dia malah tidak tahu masih ingin hidup atau tidak kalau Soiandra sudah… ah, Paskai tidak ingin memikirkannya lagi! Dibuangnya jauh-jauh pikiran itu. Dia tidak mau memikirkannya. Dia harus membawa Soiandra untuk berobat. Dia harus dapat menyembuhkan penyakit Soiandra, apa pun taruhannya! “Ada satu syarat lagi,” sambung ayahnya sambil mengawasi Paskai dengan tajam. “Nanti saja kalau saya sudah mengembalikan uang ini” “Kamu mau mengabulkannya?” “Tergantung apa syaratnya.” “Lagakmu bukan seperti orang yang pinjam uang.” Masa bodoh amat. *** “Tidak,” bantah Soiandra sedih. “Setelah ku- 1 pikir-pikir, aku tidak mau diopetaai, Mas. Aku tidak ingin kehilangan rahimku.” “Tapi aku tidak ingin kehilangan kamu, Andra! Dan operasi adalah satu-satunya jaI lan!” Soiandra tidak menjawab. Dia membalikkan tubuhnya di tempat tidur. Membelakangi su aminya. Paskai merangkulnya dari belakang. Melekatkan pipinya ke pipi istrinya yang basah. Di- •-sekanya air mata yang mengalir dari sudut mata Soiandra dengan ujung jarinya. Mengapa Tuhan sekejam ini padamu, Sayang? pikir Paskai sedih. Apa dosamu sampai kamu dihukum seperti ini? Kamu perempuan yang sangat baik. Tidak pernah menyakiti siapa pun. Penyakit bukan hukuman dosa, Mas, kata Soiandra beberapa hari yang lalu. Jangan menyalahkan Tuhan. Kadang-kadang kita sedang diuji. Kita harus tabah dan tetap percaya. Supaya lulus ujian. Tetapi Paskai tidak percaya. Dia hanya tidak menjawab. Karena tidak ingin tambah menyakiti hati istrinya. “Tolonglah aku, Andra,” pinta Paskai lirih. “Biarkan dokter mengangkat rahimmu. Biarkan dokter menyembuhkanmu. Supaya aku bisa tetap memilikimu.” “Tuhan akan menyembuhkanku, Mas. Mar kita berdoa mohon pertolongan-Nya. Aku yakin, suatu hari mukjizat itu akan datang menghampiriku.” “Tapi bukan berarti kita harus diam saja menunggu datangnya mukjizat, Andra. Kita harus berusaha!” “Aku tidak ingin kehilangan rahimku, Mas! Aku tidak mau perutku dibuka. Mas kan tahu aku punya bakat keloid. Mas Pas bisa bayangkan jeleknya perutku kalau di bekas insisinya tumbuh keloid?” “Andra!” Paskai membalikkan tubuh istrinya. Kini mereka berbaring berhadapan. Saling tatap. “Aku tidak peduli seperti apa jeleknya tubuhmu! Tidak akan mengurangi cintaku padamu! Kamu dengar? Aku tidak peduli! Seperti apa pun kamu, aku tetap mencintai-; mu!” Paskai memeluk istrinya erat-erat. “Tolong kabulkan permintaanku, Andra! Kumohon padamu. Biarkan dokter menyembuh-kanmu!” “Melalui operasi?” “Tidak ada jalan lain!” Dalam gelap, Paskai mendengar istrinya me142 narik napas. Dalam. Berat. Seperti menyimpan berton-ton beban kesedihan. “Mas yakin aku masih bisa sembuh?” desah Soiandra lirih. “Ya, Andra, aku yakin! Asal kamu mau dioperasi!” Sunyi sejenak sebelum suara Soiandra terdengar lagi. Murung. Getir. “Sania yang akan melakukannya?” “Tidak. Aku akan membawamu ke dosennya. Profesor Lawrence yang akan melakukannya.” “Suami Sania?” “Sania sudah menghubunginya. Dia bersedia menerima kita minggu ini juga. Aku minta waktu sampai minggu depan karena harus mengurus visa.” “Tapi dari mana biayanya, Mas?” “Jangan khawatir. Tabunganku cukup____” “Mas Pas lupa. Itu tabungan bersama. Aku tahu persis jumlahnya. Dan kita baru saja mengurasnya untuk berlibur ke Amerika.” “Aku punya simpanan lain. Kamu tidak tahu.” “Bohong. Dari mana uang itu, Mas? Pinjam? Atau… dari Mama?” riamu meiarangjku untuk memberitaku Mama tentang penyakitmu, kan?” “Jadi Mas pinjam dari mana?” “Kamu nggak perJu tahu. Pokoknya biayanya ridak usah kamu pikirkan. Yang penting kita harus berjuang untuk mengenyahkan kankermu! Kita harus menang! Kita harus mengalahkannya, Andra!” “Bagaimana dengan keinginanku yang terakhir, Mas?” ranya Soiandra ragu-ragu. “Anak?” “Mas tidak keberatan, kan?” “Tentu saja aku tidak keberatan punya anak, tapi…” “Mas sudah tanya Sania?” “Dia akan berkonsultasi dengan suaminya.” “Mas pikir kita akan berhasil?” “Aku lebih mengharapkan keberhasilan operasimu, Andra!” mM “Sembuh itu suatu mukjizat, Mas,” kata Soiandra lambat-lambat. Nadanya khidmat sekali seperti sedang melantunkan doa. “Tapi punya anak darimu juga suatu mukjizat.” Bab X JA hari kemudian, Paskal menerima telepon dari Sania. “Bisa temui aku di rumah sakit, Pas?” suara Sania terdengar sangat serius. “Oke. Sekarang, San?” “Ya. Ada yang ingin kubicarakan.” Paskai datang secepat yang dia mampu. Rasanya napasnya hampir putus ketika dia sampai di depan meja tulis di kamar kerja Sania. Ada apa? Sania salah diagnosis? Yang diperiksanya bukan contoh jaringan tumor dari rahim Soiandra? Yang ditemukannya bukan sarkoma? Memang tidak realistis. Tapi harapan-harapan itu mengganggu pikiran Paskai sepanjang perjalanan ke rumah sakit. Bukan tidak mungkin. Bukan tidak mungkin! Kemungkinan salah diagnosis selalu ada…. 145 “Ada apa, San?” tanyanya sambil menahan napas. “Kabar baik?” lolong, berikan kabar baik padaku! Tergantung penafsiranmu,” sahut Sania datar. “Mengenai apa?” “Surrogate mother.” ” Kamu sudah membicarakannya dengan „suamimu? Eh, maksudku…” “Kamu ingin melakukannya di sana?” I “Kamu bisa melakukannya di sini, San? Mungkin prosedurnya lebih mudah. Lebih cepat pak.” “Dan lebih murah.” “Kamu bisa melakukannya demi Soiandra, San? Demi persahabatan kita____” “Kalau kamu izinkan aku mencoba.” “Oke. Lakukanlah secepatnya, San. Supaya kami bisa berangkat lebih cepat ke Melbourne untuk histerektomi. Kamu bisa tolong mengatur semuanya untuk kami?” “Serahkan saja padaku.” “Juga untuk mencari ibu pengganti?” “Akan kuusahakan.” “Dan aspek hukumnya?” “Aku akan menghubungi pengacaraku.” “Pasti tidak mudah. Tapi demi Soiandra…” “Memang belum ada aturan hukum yang mengaturnya. Tapi bisa kita cari celah-celah hukumnya.” “Berapa kira-kira biayanya?” “Jangan dipikirkan dulu. Biar aku yang mengatur.” “Dan menanggung biayanya?” Paskai begitu berterima kasih sampai rasanya dia ingin memeluk Sania. “Terima kasih, San. Semua biayanya pasti aku ganti.” “Nggak apa-apa. Yang penting operasi Soiandra harus sukses. Kamu konsentrasi ke situ saja.” “Terima kasih, San. Terima kasih.” Sebagai ungkapan terima kasih, Paskai memeluk Sania dengan hangat. Sesaat Sania tidak mampu menolak. Bahkan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Barangkali bagi Paskai pelukan itu tidak berarti apa-apa. Cuma ungkapan terima kasih. Cuma pelukan seorang sahabat. Tidak lebih. Tetapi buat Sania, pelukan itu justru me- ; nyalakan kembali bara cintanya yang sudah hampir padam. Dia merasa seluruh tubuhnya . terbakar. Dadanya menggelegak. Darahnya 147 mengalir deras di seluruh pembuluh darahnya. Sampai mukanya terasa panas. Bahkan pelukan Mike tidak memberikan efek sedahsyat ini, keluh Sania jengah di dalam had. Ketika Paskai melepaskan pelukannya, se orang perawat memasuki ruangan untuk menaruh sehelai status di meja Sania. Tetapi Paskai tidak peduli. Dia memang tidak merasa bersalah. Terima kasih, San,” katanya terharu. “Akan kukatakan pada Soiandra apa yang akan kamu lakukan untuknya.” Tidak usah,” Sania berusaha menyembunyikan parasnya yang memerah. “Itu gunanya sa- I habat, kan?” *** Seperti Paskai, Soiandra juga sangat berterima kasih pada Sania. “Nggak tahu bagaimana harus membalas budimu, San,” kata Soiandra selesai menjalani semua prosedur yang harus dilakukannya. “Lupakan saja,” sahut Sania pendek. “Kamu yakin bakal berhasil, San?” 148 “Akan kuusahakan sedapat mungkin. Aku juga belum pernah melakukannya. Perlu berkonsultasi terus dengan Mike. Tapi berhasil atau tidak, tergantung banyak faktor. Kadang-kadang kita tidak bisa mengatasi semuanya.” “Tapi aku percaya Tuhan akan mengasihani-ku, San. Jika operasiku gagal, Dia pasti akan memberikan gantinya.” “Berdoa sajalah, Dra.” “Kabari aku secepatnya jika sudah berhasil ya, San.” “Apa pun hasilnya, aku akan memberitahu Paskai secepatnya.” “Terima kasih, San.” Soiandra memeluk sahabatnya erat-erat. Ketika sedang merangkul Soiandra, Sania merasa bajunya basah. Dan dia tahu dari mana air yang membasahinya. Tidak terasa, matanya pun ikut berkaca-kaca. “Sudahlah, Dra. Kamu harus tabah. Jangan stres. Supaya daya tahanmu tetap kuat. Ingatlah, apa pun yang terjadi, tetaplah tegar seperti Soiandra yang selama ini kukenal.” “Aku takut, San,” rintih Soiandra pilu. “Aku bukan takut mati. Aku tidak tega meninggalkan Mas Paskai.” “Aku tahu,” gumam Sania tersendat. “Jika usaha kita berhasil, kami bisa punya anak, tapi aku tidak mampu mendampinginya sampai besar, maukah kamu menolong Mas Pas menjaga anak kami, San?” “Sudahlah, jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku akan berjuang sekuat tenaga supaya kamu dapat melihat dan membesarkan anakmu.” “Aku percaya padamu, San. Beruntung sekali aku memiliki sahabat seperti kamu dan suami seperti Mas Pas. Tuhan begitu baik padaku.” Tentu saja ibu Soiandra heran. Anaknya, baru saja pulang dari Amerika. Sekarang mau pergi lagi? Rasanya baru dua bulan…. “Ke Australia?” dia mengerutkan keningnya. “Jalan-jalan lagi? Perkawinanmu tidak sedang dalam masalah, kan?” “Nggak, Ma. Kami cuma ingin punya anak,” sela Paskai sebelum istrinya menjawab. Sekilas ibu Soiandra menatap menan tunya. Wajah Paskai begitu serius. Walaupun dia berusaha menutupinya, ibu Soiandra menemukan kemuraman melumuri parasnya. Ada apa? Benarkah masalahnya hanya anak? Sesudah sepuluh tahun perkawinan anaknya baik-baik saja, dia memang mulai yakin, menantunya berbeda dengan ayahnya yang brengsek itu. Tetapi melihat muramnya paras mereka, secercah kecurigaan mulai menjalari hatinya. “Suamimu baik-baik saja?” tanya ibu Sojandra hati-hati ketika dia berada berdua saja dengan anaknya. Baik, Ma, keluh Soiandra dalam hati. Saya yang sakit! Tetapi di depan ibunya, Soiandra berusaha menampilkan sikap yang setenang mungkin. Seolah-olah memang tidak ada apa-apa. “Mas Paskai baik-baik saja, Ma.” “Dia tidak macam-macam?” desak ibunya penasaran. Sekarang Soiandra benar-benar tersenyum. Tulus. “Mas Paskai suami yang paling baik, Ma. Setia. Jujur. Sangat mengasihi saya.” “Syukur kalau begitu. Hati-hati saja. Lelaki ‘di awal empat puluh suka mulai macam-macam. Katanya memasuki masa puber kedua. Krisis percaya diri sering membawa Jaki-Iakt mencari wanita yang lebih muda. Supaya mereka bisa membuktikan kepada dirinya, sendiri mereka masih tangguh dan jantan.” Senyum Soiandra melebar. “Mas Pas tidak seperti itu, Ma. Lagi pula umurnya kan baru tiga lima.” “Pulang, Andra?” tanya Paskai yang bara . saja melewati pintu depan. Dia bara menyuruh taksinya parkir di depan pintu. Supaya Soiandra tidak usah jalan terlalu jauh. Padahal yang namanya jauh itu hanya beberapa meter! Tapi Paskai memang begitu. Sejak tahu istrinya sakit, Soiandra sama sekali tidak boleh lelah. “Pulang dulu ya, Ma,” gumam Soiandra getir. Dirangkulnya ibunya sambil menahan tangis. “Mama mau oleh-oleh apa dari Australia? Bayi kanguru?” “Bayimu saja,” sahut ibunya spontan membalas kelakar anaknya. Dan dia tidak melihat betapa sedihnya Soiandra mendengar jawaban ibunya. Kalau saja Mama tahu! Dia ke Australia untuk membuang rahimnya! “Betul kalian tidak mau nginap?” tanya ibunya di depan pintu rumahnya. “Masih banyak yang belum dibereskan, Ma. Padahal lusa sudah harus berangkat.” “Langsung ke bandara?” “Iya, Ma,” Paskai yang menjawab. Dia meft-cium tangan mertuanya sebelum membimbing tangan istrinya. Tetapi Soiandra melepaskan pegangannya. Dan memeluk ibunya sekali lagi. Ketika anaknya sedang merangkulnya, entah mengapa tiba-tiba saja ibu Soiandra merasa hatinya berdebar tidak enak. Apa ini, pikirnya ketika sedang mengawasi taksi mereka meninggalkan halaman rumahnya. Firasat apa? Mengapa hatiku terasa begini tidak enak? *** Dari Jakarta, mereka membutuhkan hampir tujuh jam perjalanan untuk mencapai Sydney. Sesudah transit di bandara, mereka harus terbang satu jam dua puluh menit lagi ke Melbourne. Sebenarnya Paskai ingin langsung mengungi Profesor Lawrence. Tetapi melihat kondisi j istrinya, dibatalkannya keinginannya. Soiandra terlihat letih. Padahal waktu fee Amerika, dia sama sekali tidak kelihatan lelah. Apakah karena suasana hati mereka saat itu? Perjalanan yang demikian jauh, memakan waktu hampir dua puluh jam, tidak terasa melelahkan. Betapa cepat masa-masa indah itu berlalu, pikir Paskai ketika sedang membimbing istrinya keluar dari bandara. Soiandra bukan hanya terlihat lelah. Wajahnya juga pucat. Padahal Paskai tahu, dia masih berusaha keras tampil secantik dan sesegar biasa. Dia tidak mau kelihatan sakit. Untuk suaminya dan untuk dirinya sendiri, dia tetap ingin tampil cantik. Ketika Paskai ingin minta kursi roda, j Soiandra menolaknya mentah-mentah. “Aku masih kuat, Mas,” bantahnya gigih. “Buat apa kursi roda?” Paskai memang membatalkan niatnya untuk memesan kursi roda sesampainya pesawat di bandara. Tetapi ketika melihat panjangnya antrean di counter imigrasi, dia menyesal sekali telah mengurungkan niatnya. Sekarang dia melihat betapa lelahnya Soiandra meskipun dia berusaha keras menutupinya. Mengapa? pikir Paskai cemas. Mengapa kondisinya menurun secepat itu? Benarkah karena penyakitnya? Atau… dampak psikologis semata-mata? *** Di Melbourne, mereka menginap di sebuah hotel kasino yang terletak di pusat kota. Di depan hotel itu, Sungai Yarra mengalir tenang. Sementara  gedung-gedung pencakar langit tampil sebagai latar belakangnya. Hotel mereka tidak jauh dari pusat perbelanjaan. Tetapi Soiandra sudah kehilangan gairah belanjanya. Dia memilih beristirahat saja di kamarnya. Sementara Paskai juga sudah kehilangan minatnya untuk bermain judi. Padahal kasino terletak di bawah hotel mereka. B Mengapa hidup begitu cepat berubah? pikir Paskai ketika dia sedang memijati kaki istrinya yang sedang berbaring di tempat tidur. Tubuh Soiandra tidak kelihatan kurus. -Tubuhnya masih seelok dulu. Tapi dengan sedih Paskai meyakinkan dirinya, di dalam tubuh istrinya bersarang penyakit yang sangat menakutkan…. Tidak seperti biasa kalau sedang dipijati suaminya, kali ini kelakar Soiandra tidak terdengar sama sekali. Senyum manisnya juga menghilang bersama kemanjaannya. Ketika Paskai baru lima menit memijat, Soiandra sudah tertidur. Sambil meneruskan pijatannya dengan lebih hari-hari supaya tidak membangunkan istrinya, Paskai mengawasi Soiandra dengan penuh cinta kasih. Kecantikannya masih memesona. Kulitnya masih semulus biasa. Rambutnya juga masih sehitam dan selebat dulu. letapi sampai kapan Soiandra dapat mempertahankan semuanya? Aku tidak peduli, Andra, bisik Paskai dalam hati. Aku tidak peduli sejelek apa pun kamu nanti, aku tetap mencintaimu! Dan cintaku tidak akan pernah berubah apa pun yang akan menimpamu! *** Supaya tidak menambah keletihan Soiandra, sengaja Paskai memesan makanan di kamar. Dia melarang Soiandra bangun, biarpun hanya untuk duduk di meja dekat jendela. Paskai menyusun bantal di ranjang dan memaksa Soiandra duduk bersandar di sana. Lalu dia duduk di sisi tempat tidur untuk menyuapi istrinya. “Aku belum dioperasi, Mas,” gurau Soiandra terharu. “Aku masih bisa makan sendiri.” *j “Tapi aku ingin menyuapimu. Nggak salah, kan? Masa menyuapi istri saja mesti nunggu dioperasi dulu. Aturan mana tuh?” Mereka saling bertukar senyum. Tapi mereka sama-sama tahu, betapa senyum mereka pun telah berubah. Biar masih semesra biasa, senyum itu kini menyimpan kegetiran. Ketika Paskai sudah menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulut istrinya, Soiandra mengambil sendoknya. Dan menyuapkan sesendok lagi untuk Paskai. Tidak sampai hati menolak, terpaksa Paskai membuka mulutnya lebar-lebar. “Aku ingin -ke Vegas lagi, Mas,” gumam Soiandra ketika Paskai sedang membersihkan bibirnya dengan serbet. “Aku ingin ke Grand Canyon bersamamu.” 157 “Kita akan ke sana,” janji Paskai tegas. “Sesudah kamu sembuh.” “Mas bisa dapat cuti iagi?” “Persetan,” Paskai keiepasan mengumpat. Sesudah mengumpat, dia baru menyesal. Karena Soiandra agak terperanjat mendengarnya. “Mas tidak melanggar peraturan rumah sakit, kan?” tanyanya cemas. “Mas diizinkan mengambil cuti lagi? Curi tahunan Mas Pas kan sudah habis.” “Curi luar biasa. Kalau perlu, cuti di luar tanggungan.” Atau, persetan, cuti apa pun. Tidak ada yang dapat” menghalangiku membawamu ke mana pun kamu hendak pergi! Soiandra memang tidak bertanya lagi. Tetapi dalam hatinya, Paskai ragu apakah dia masih dapat membohongi Soiandra. Jiwa mereka sudah melekat demikian dekat sampai berbohong pun rasanya sulit. Jangan-jangan dia sudah tahu, suaminya sudah berhenti kerja. Memang tiap pagi Paskai masih berangkat seperti biasa. Seolah-olah dia masih kerja di rumah sakit. Tetapi kalau diperhatikan, pulangnya selalu lebih cepat. Kadang-kadang dia hanya pergi selama dua jam. Setelah itu, dia sudah tergopoh-gopoh pulang menemui istrinya. “Tidak ada kerjaan,” ,sahut Paskai kalau Soiandra bertanya mengapa dia bisa pulang secepat itu. “Daripada godain suster, mendingan pulang godain istri sendiri, kan?” Soiandra hanya tersenyum menyambut kelakar suaminya. Kadang-kadang Paskai bertanya dalam hatinya, sudah tahukah Soiandra? Hanya dia tidak ingin menanyakannya? *** Profesor Michael Lawrence sama sekali tidak menarik, kecuali dia memiliki sekian banyak titel yang berderet menyemarakkan namanya. Kalau tidak dalam keadaan tertekan, Paskai pasti bertanya-tanya bagaimana Sania bisa jatuh hati pada laki-laki seperti ini. Matanya tidak melukiskan kecerdasannya. Tatapannya terlalu lunak. Kepalanya nya ris botak. Bibirnya tebal. Pipinya bulat. Perutnya, gendut. Tubuhnya pun pasti tidak lebih tinggi dari Sania. Pendeknya, untuk urusan penampilan, kategorinya minus. Belum lagi umurnya, yang . paling sedikit berbeda dua puluh tahun dengan Sania. Jadi apa yang menarik dalam dirinya yang membuat Sania terpikat? Padahal Sania begitu pemilih. Kalau tidak, masa dia masih melajang sampai berumur tiga puluhan? Kesepian? Atau… kebersamaan yang mereka jalani sehari-hari? Profesor Lawrence tidak banyak bicara. Tetapi baik kata-katanya maupun caranya melakukan pemeriksaan menunjukkan profesionalitasnya. Paskai langsung menaruh respek dan kepercayaan padanya. Dia merasa mendapat harapan lagi. Harapan kesembuhan bagi Soiandra. “Aku percaya padanya, Andra,” kata Paskai dalam taksi yang membawa mereka ke laboratorium untuk memeriksa darah. “Aku yakin dia dapat menyembuhkanmuv” “Aku percaya pada Tuhan, Mas,” sahut Soiandra mantap seperti biasa. “Kalau Dia j mau, Dia dapat menyembuhkanku. Walaupun tanpa operasi.” “Tuhan akan meminjam tangan Profesor Lawrence,” sergah Paskai cepat. “Karena Tuhan tidak bisa turun tangan sendiri membedah “Tuhan tidak perlu membedah. Dia hanya perlu mengacungkan jari-Nya.” Ya sudah,*kata Paskai dalam hati. Apa pun katamu. Tapi operasi sudah disiapkan. Harinya sudah ditentukan. Hari Senin minggu depan. Dan Soiandra kelihatan sedih walaupun dia berusaha menutupinya. Profesor Lawrence sudah menjelaskan prosedur operasinya. Sudah menjelaskan apa saja yang harus dilakukan menjelang hari operasi. Kapan Soiandra mesti masuk rumah sakit. Apa saja yang harus dipersiapkan. Dia juga sudah menjelaskan dengan gamblang berapa biaya yang dibutuhkan. Tidak peduli mereka teman-teman baik perempuan yang pernah jadi teman sekamarnya. Tidak peduli mereka seprofesi. Dalam hal ini, dokter-dokter di Indonesia memang masih lebih murah hati. Banyak di antara mereka yang masih menghargai etika profesi. Membebaskan teman sejawat dari biaya pengobatan. Jumlah biaya yang dibutuhkan untuk operasi Soiandra hampir setara dengan jumlah biaya yang diperkirakan Sania. Jadi Paskai tidak khawatir. Dia’sudah siap. Soiandra yang agak Menyesal juga dia tidak mengizinkan Paskai memberitahu ibunya. Kaiau uangnya sampai kurang, kepada siapa suaminya* harus berutang? “Jangan pikirkan biayanya,” sahut Paskai tenang tapi mantap. “Sania sudah memperkirakan berapa biaya yang dibutuhkan. Jadi aku sudah siap.” Tapi dari mana Mas dapat uangnya?” “Jangan khawatir. Kamu tahu beres saja. Jangan penuhi pikiranmu dengan yang tidak perlu. Supaya daya tahanmu tidak turun. * Paskai memang mempersiapkan istrinya dengan sebaik-baiknya menjelang hari operasi. Dia memberikan makanan yang terbaik. Memaksa Soiandra makan sebanyak-banyaknya biarpun dia tidak matt “Lupakan dietmu. Kamu harus makan i banyak supaya kuat.” “Dan jadi gendut supaya Mas tambah nggak suka?” Soiandra pura-pura merajuk. “Sudah perutnya penuh parut, gembrot lagi.” “Siapa bilang? Aku suka kok yang berisi. Supaya mantap kalau dipeluk.” “Mas mau memelukku?” tanya Soiandra hotel mereka. “Kenapa tidak? Ini permintaan yang kutunggu-tunggu.” “Tapi aku punya perasaan, Mas agak takut memelukku malam ini. Takut keterusan ya?” “Siapa bilang tidak boleh begituan menjelang operasi? Kalau tidak terlalu capek, tidak dilarang kok.” “Tapi aku cuma ingin dipeluk, Mas. Supaya bisa tidur nyenyak. Tidak diganggu mimpi buruk.” Tanpa diminta lagi, Paskai memeluk istrinya. Ya, memang cuma itu yang dapat dilakukannya malam ini, seandainya pun dia ingin lebih. Perdarahan Soiandra masih banyak. Rasanya perdarahan itu tidak pernah berhenti satu hari pun. Soiandra membalas pelukan suaminya. Dan dia dapat merasakan ketakutan Paskai. Ketakutannya akan kehilangan istrinya. Ya Tuhan, bisik Soiandra dalam hati. Jika mungkin, jangan renggut aku dari pelukan suamiku. Aku tidak tega meninggalkannya. Tapi jika itu bukan kehendak-Mu, biarlah ke-hendak-Mu saja yang terjadi. Rumah sakit tempat Soiandra dioperasi tidak terlalu besar. Juga tidak menampilkan kemegahan apalagi kemewahan. Dibandingkan dengan rumah sakit kelas satu di Jakarta, h ampir tidak ada artinya. Tetapi rumah sakit itu bersih. Dan tenaga medis maupun paramedisnya menampilkan profesionalitas yang tinggi. Meskipun terkesan agak materialistis karena pasiennya orang asing yang tidak membayar dengan asuransi, Paskai tidak peduli. Dia tidak sempat menganalisis karena sedang tegang menunggu saat operasi. Paskai memegang tangan Soiandra ketika brankarnya didorong masuk ke kamar perawatan. Kamar itu tidak terlalu besar. Dan diperuntukkan bagi dua orang pasien. Soiandra mendapat ranjang di dekat pintu masuk Di dekat jendela, berbaring wanita separo baya yang tampaknya baru menjalani operasi. Di seberang ranjang Soiandra ada WC merangkap kamar mandi. Sementara di atas kepaknya, agak jauh ke arah kaki, tergantung TV berukuran dua puluh satu inci. Di samping tempat tidur ada meja kecil, lemari, dan kursi. Paskai duduk di sana selama perawat mempersiapkan Soiandra untuk operasi esok pagi. Profesor Lawrence tidak muncul malam itu. Tetapi ahli anestesi dan dokter jaga datang untuk, mengajukan beberapa pertanyaan dan melakukan pemeriksaan singkat. Lalu Paskai harus meninggalkan istrinya di sana. Dan pulang ke hotelnya. Ketika sedang naik taksi seorang diri ke hotel, tak tertahankan air mata yang selama ini dipendamnya baik-baik meleleh ke pipinya. *** Kamar hotelnya terasa sangat sepi. Begitu masuk, Paskai seperti masih mencium aroma parfum istrinya. Ketika duduk di tepi tempat tidur, bayangan tubuh Soiandra pun masih serasa jelas terbaring di sana. Baju tidurnya. Kopernya. Alat-alat makeup-nya. Semuanya mengingatkan Paskai padanya. Bagaimana aku bisa kehilangan kamu, pikir Paskai sedih. Semua benda mengingatkanku padamu. Kamu terbayang ke mana pun mataku memandang. Kamu hadir di setiap helaan napasku! Tanpa membuka bajunya lagi Paskai membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia merasa letih. Tapi yang paling dirasakannya bukan itu. Dia merasa kesepian. Kehilangan. Tidak tahu harus melakukan apa. Tidur rasanya tidak mungkin. Nonton TV tidak kepingin. Bahkan main judi pun tidak menarik lagi. Tidak ada semangat. Untuk mengisi perut sekalipun. Padahal sejak siang dia belum makan. Paskai tertelentang bisu di tempat tidurnya. Menatap kosong ke langit-langit kamarnya. Apa yang harus kulakukan tanpa Soiandra? Berpisah semalam saja rasanya aku sudah kehilangan seluruh gairah hidupku! Malas melakukan apa pun. Sedang apa Soiandra sekarang? Bisa tidur nggak kamu, Sayang? Paskai membayangkan istrinya berbaring seorang diri di ranjang rumah sakit. Tegang, mungkin juga takut, menunggu hari esok. Ah, seandainya dia boleh menemani! Seandainya mereka bisa tidur bersama malam Seandainya dia bisa memeluk Soiandra. Membisikkan dia akan selalu berada di dekatnya…. Dalam pakaian rumah sakit yang berwarna putih, wajah Soiandra tampak begitu pucat ketika ditinggalkan tadi. Matanya menyimpan kesedihan yang bercampur kecemasan ketika mereka harus berpisah. Tetapi dia masih berusaha tampil tegar. Masih berusaha menyembunyikan kesedihannya. Mungkin untuk menghibur suaminya. Supaya Paskai tidak bertambah sedih. Supaya dia bisa lebih tenang meninggalkannya. Soiandra tahu sekali bagaimana perasaan suaminya. Dia dapat merasakannya. “Pulanglah,” pinta Soiandra ketika Paskai belum mau juga meninggalkannya. Belum mau juga melepaskan tangannya. “Sudah malam. Jauh juga kan ke hotel kita.” “Besok aku pindah ke apartemen yang lebih dekat,” sahut Paskai sambil mencium tangan istrinya. “Supaya bisa lebih lama berada di dekatmu. Kalau tidak diusir, aku mau tidur di luar.” “Jangan, Mas. Pulang saja. Istirahat. Nanti Mas sakit. O ya, Mas Pas belum makan, kan? Makan, ya? Janji?” Paskai hanya mengangguk. Padahal dia tidak peduli sudah makan atau belum. Perutnya tidak terasa lapar sama sekali. “Mas pulang sekarang, ya? Supaya bisa istirahat. Hawanya dingin begini, takut sakit. Jangan lupa berdoa ya, Mas. Minta Tuhan menolong kita.” Benarkah Tuhan mau menolongmu? pikir Paskai skeptis. Kalau Tuhan sayang padamu, mengapa kamu harus sakit? Kamu terlalu baik untuk dihukum seberat ini! Lagi pula… di mana Tuhan berada? Ke mana aku harus mencari-Nya? Bagaimana  aku bisa minta sesuatu pada yang tidak kelihatan? Bab XI ERASI Soiandra berlangsung sukses. Profesor Lawrence sangat puas dengan keberhasilannya. Dia sudah siuman,” katanya sekeluarnya dari teater, istilah mereka untuk ruang operasi. Kondisinya cukup baik. Sebentar lagi dia dibawa ke kamar. Anda boleh tunggu di sana” “Terima kasih, Dok,” sahut Paskai lega. Rasanya dia ingin melompat-lompat untuk menyatakan kegembiraannya. Tapi dia takut diusir keluar. Suasana di sana sangat sepi. Hanya tiga orang yang sedang duduk di ruang tunggu. Dan mereka tampaknya sangat tenang. Sangat diam. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang membuat keributan. Semuanya sedang duduk membaca seperti di ruang perpustakaan. Sekali-sekali ada perawat yang berjalan keluar. Tetapi bahkan langkah sepatunya tidak terdengar. “Berapa lama rencana perawatannya, Dok?” “Lima hari kalau tidak ada komplikasi.” ‘ Lima hari. Paskai menarik napas lega. Sesudah itu mereka akan berkumpul lagi. Dan tidak akan berpisah untuk selamanya____ Bergegas dia melangkah ke kamar Soiandra. Tempat tidurnya masih kosong. Paskai duduk menunggu dengan gelisah di kursi di sisi tempat tidur. Suara roda tempat tidur yang membawa Soiandra ke kamar hampir tidak terdengar. Tetapi bahkan ketika Soiandra masih berada sepuluh meter jauhnya, Paskai sudah dapat merasakan kehadirannya. Dia sudah bangkit sebelum pintu kamar terbuka. Dan ketika tempat tidur itu didorong masuk, dia sudah menghambur ke pintu. Ketika pertama kali melihat Soiandra terbaring dengan mata terpejam di atas tempat tidurnya, Paskai hampir menjerit saking takutnya. Wajah Soiandra begitu pucat. Belum pernah Paskai melihat parasnya sepucat itu, bahkan ketika dia baru selesai menjalani laparoskopi. Tanpa menghiraukan perawat-perawat yang menyertainya, Paskai maju mendekat untuk memegang tangan istrinya. “Sayang,” bisiknya dengan suara tersekat di tenggorokan. Rasanya dia ingin menangis. Ingin meratap saking sedihnya. Tangan Soiandra begitu dingin. Dan dia tidak bereaksi. Seolah-olah dia tidak mendengar panggilan orang yang paling disayanginya. I Tetapi ketika perawat memeriksa kateternya, dia melenguh seperti merasa sakit. .’Paskai menggenggam tangannya erat-erat seolah-olah hendak memberitahu istrinya, dia berada di sampingnya. Soiandra hanya membuka matanya sekejap. Ketika mata mereka berpapasan, Paskai seperti dapat merasakan kesakitan yang terpancar dari mata itu. Tidak sadar dia ikut mengeluh. Ikut merasa sakit di perutnya. Di dadanya. Di sekujur tubuhnya. Ketika Soiandra memejamkan lagi matanya, Paskai ingin memeluknya erat-erat. Ingin mengguncang lengannya. Ingin mencegahnya terlelap kembali. Dia takut mata Soiandra takkan pernah terbuka kembali. Dia takut Soiandra meninggalkannya. Dia takut Soiandra takkan pernah sadar lagi…. Rasanya sikapnya saat itu bukan sikap pro-ionai seorang dokter. Dia lebih mirip orang awam yang panik. Orang yang tidak tahu apa-apa Yang ada di kepalanya cuma rasa takut. Takut istrinya tidak pernah siuman lagi. Takut Soiandra tidak bisa mengatasinya. Paskai begitu takut kehilangan dia! Paskai menunggu di sisi pembaringan istrinya sampai tengah malam. Kondisi Soiandra pasca-bedah tidak terlalu baik. Kesadarannya masih berkabut. Menjelang malam suhu tubuhnya malah cenderung naik. Dokter dan perawat silih berganti memonitor keadaannya. Menjelang tengah malam dia diberi transfusi darah dan oksigen. Paskai cemas sekali melihat kondisi istrinya. Dia sudah memohon agar dibiarkan menunggu di samping pembaringan Soiandra. Tetapi perawat melarangnya. Dia dipersilakan meninggalkan kamar. Terpaksa Paskai duduk di ruang tunggu. Karena dia tidak mau pulang. Dia ingin berada di dekat Soiandra. Sedekat yang diizinkan. Udara malam itu sangat dingin. Paskai harus merapatkan jaketnya untuk mengusir hawa dingin yang menusuk tulang. Dia ingin menekuk kakinya untuk menghangatkan badan. Tetapi tungkainya terlalu panjang. Kursi sekecil itu tidak muat untuk tempat kakinya, jadi terpaksa Paskai merosot di kursi. Sekadar meluruskan pinggangnya. Semalaman Paskai tidak dapat tidur. Pikiran-l^a terus melayang kepada istrin ya. Bagaimana keadaan Soiandra? Mampukah dia melewati masa kritis pascabedah? Ah, seandainya ada seseorang di sampingnya! Ada seseorang tempatnya berkeluh kesah. Seandainya Sania ada di sini! Sania. Tiba-tiba saja dia teringat sahabatnya. Mengapa dia belum memberi kabar juga? Berhasilkah ovulasi in vitro yang dilakukannya? Ketika Paskai menanyakannya sesaat sebelum berangkat ke Melbourne, Sania seperti .menghindar. Dia seperti tidak ingin memberitahukan hasilnya. “Masih kuusahakan,” katanya mengelak. “Tunggu saja hasilnya.” Burukkah hasilnya? Sania hanya tidak ingin mengatakannya supaya tidak menurunkan semangat Soiandra? “Konsentrasikan saja pikiran kalian pada operasi Soiandra,” katanya ketika Paskai mendesak terus. “Yang lain serahkan padaku.” Gagalkah pembuahan itu? Atau… memang belum saatnya diketahui hasil akhirnya? Kadang-kadang proses yang kelihatannya bakal gagal, malah berhasil ketika dokter sudah hampir putus asa. Sembuh itu suatu mukjizat, Mas. Tapi punya anak darimu juga suatu mukjizat. ku keyakinan Soiandra. Diucapkannya dengan mantap. Dengan penuh keyakinan. Mungkinkah Tuhan mengabulkan kedua-duanya? Kalau boleh memilih, rasanya Paskai akan memilih yang pertama. Karena kesembuhan Solandnttidak dapat dibandingkan dengan apa pon! Tentu saja Paskai ingin- punya anak. Tapi apa artinya anak tanpa kehadiran Soiandra? Mampukah dia merawat anak itu, .membesarkannya, dan membahagiakannya? Bagaimana dia mampu mengurus orang lain, anaknya sekalipun, kalau mengurus diri sendiri saja dia sudah enggan? Tanpa Soiandra, Paskai rasanya sudah tidak ingin hidup lagi! Pukul lima pagi, Paskai sudah diizinkan menengok istrinya. Dia setengah berlari ke kamar Soiandra. Dan melihat kondisi istrinya yang sudah jauh lebih baik dari tadi malam, Paskai merasa bersyukur sekali. Soiandra sudah sadar penuh. Hanya masih lemah. Ketika melihat siapa yang datang, dia mengulurkan tangannya. Tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. ¦ Paskai menggenggam tangan, istrinya. Membawanya ke mulutnya dengan hati-hati. Dan menciumnya dengan penuh kasih sayang. “Penyakit laknat itu sudah lenyap dari tubuhmu, Andra,” bisik Paskai lembut. “Mulai hari ini kita mulai babak kedua hidup kita. Babak yang lebih indah dari babak pertama yang pernah kita alami bersama.” Soiandra tidak menjawab. Tapi sorot matanya mengatakan, dia mengerti apa yang dikatakan suaminya. Dan dia merasa sangat bersyukur. Setelah mengalami begitu banyak penderitaan, setelah melewati puncak ketakutan di ambang pintu bedah, Soiandra memang menjadi jauh lebih kuat. Lebih tabah. Lebih tegar. Seperti tidak ada lagi yang ditakutinya. Tetapi ketika Paskai membawanya pulang ke apartemen sewaan mereka lima hari kemudian, tak urung Soiandra tak dapat menyembunyikan lagi kesedihannya. “Aku bukan lagi wanita yang sempurna, Mas,” desahnya lirih ketika Paskai membaringkannya di tempat tidur. Begitu hati-hati seolah-olah khawatir menyakiti bekas operasi di perut istrinya. “Kamu ngomong apa sih?” keluh Paskai berlagak kesal meskipun dia tahu apa maksud Soiandra. “Kalau aku belum merasakan nikmatnya ciumanmu di taksi tadi, kukira kamu masih dipengaruhi efek obat bius.” “Aku tidak bisa lagi menjadi ibu anak-anakmu, Mas,” gumam Soiandra getir tanpa menghiraukan seloroh suaminya. “Apa artinya perempuan tanpa rahim, tanpa indung telur, seperti aku ari?” “Aku tidak peduli kamu tidak punya apa-apa lagi sekalipun, Andra,” Paskai mencium bibir istrinya dengan penuh kasih sayang. “Asal jantungmu masih berada di -adamu untuk tempatku berlabuh,” “Aku ingin ada yang menggantikanku mendampingimu jika aku harus pergi, Mas.” “Kamu tidak akan pergi ke mana-mana tanpa aku.” Tapi saat itu pun Soiandra seperti sudah punya firasat, waktunya tidak akan lama lagi. Perjanjiannya dengan Tuhan sudah hampir tiba. Dia harus kembali ke rumah Tuhan yang sangat dikasihinya. Soiandra menolak keinginan suaminya untuk menemui onkolog yang dianjurkan Sania. Menolak rencana terapi lanjutan yang seharusnya dijalaninya sesudah pembedahan. “Aku ingin pulang, Mas,” desahnya lirih. Ingin tahu apakah spermamu sudah berhasil membuahi  ovumku. Sania tidak mengirim kabar, kan?” “Ah, dia pasti repot,” sahut Paskai mantap. “Sania memang begitu. Gampang lupa. Apalagi sekarang, sesudah pasiennya numpuk.” “Tapi teleponmu tidak diterima. Aku khawatir____” “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku yakin Sania pasti berhasil. Heran, dulu dia tidak pintar-pintar amat. Kenapa sekarang jadi pandai ya? Apa ketularan suaminya yang botak itu?” Tetapi Soiandra tidak membalas kelakar suaminya seperti biasa. Dia berkeras ingin pulang. ‘Tentu. Kita bisa puJang sesudah terapimu selesai.” “Aku ingin pulang sekarang, Mas. Ingin menikmati sisa hidupku bersamamu. Bukan bersama dokter.” Tentu saja,” Paskai pura-pura tertawa cerah. Tapi karena dia tidak pandai menyembunyikan perasaannya, tawanya malah terdengar sumbang. “Dokter mana yang bisa dibandingkan dengan suamimu? Nggak level, kan?””_’ Akhirnya Paskai terpaksa membawa istrinya pulang ke Jakarta. Dan hal pertama yang ingin dilakukan Soiandra sesudah sampai di rumah adalah menjumpai Sania. “Besok kita temui dia di rumah sakit,” kata Paskai ketika dia sedang memandikan istrinya. . Hatinya pedih ketika melihat bekas jahitan yang baru saja dibuka di perut istrinya. Tetapi disembunyikannya matanya. Supaya tatapannya tidak membocorkan perasaannya. “Sania pasti tidak bisa bersembunyi lagi. Biar kita jitak kepalanya. Siapa suruh tidak mau menerima telepon kita.” “Mungkin dia cuma tidak ingin menyampaikan kabar buruk kepada kita, Mas.” “Ah, Sania justru terbalik,” sahut Paskai sambil tersenyum. Dikeringkannya tubuh istrinya. Direkatkannya perban baru di bekas jahitan operasi di perut Soiandra. “Sania yang kukenal malah selalu menyembunyikan kabar baik. Menundanya supaya kita tambah gemas.” Tetapi Sania yang mereka temui keesokan harinya tidak menyembunyikan kabar baik. Setelah tidak mampu menghindar lagi, dia terpaksa berterus terang. “Maafkan aku, Andra,” katanya tanpa berani membalas tatapan sahabatnya. Tatapan yang begitu penuh harapan. “Aku tidak ingin me-ngecewakanmu. Apalagi pada saat kamu tidak boleh stres.” “Kami gagal?” desis Soiandra pahit. Bibirnya bergetar. Air matanya berlinang. Paskai melingkarkan lengannya di bahu istrinya. Tidak sampai hati menyaksikan kekecewaan Soiandra. “Bukan kamu yang gagal, Dra,” gumam Sania lirih. “Aku.” “Bukan salahmu, San. Barangkali ovumku’ memang jelek.” Ovulasinya yang gagal, San?” tanya Paskai urung. “Atau nidasinya?” Ovulasinya,” sahut Sania tersendat. “Maafkan aku.” “Bukan saiahmu, San,” sela Soiandra sambil menyentuh tangan sahabatnya dan menggenggamnya dengan tulus. “Kamu sudah berusaha Barangkali memang Tuhan belum menghendakinya. Jangan menyalahkan curimu, San.” . “Katamu dulu kalau mukjizat yang pertama gagal, Tuhan pasti akan memberikan mukjizat yang kedua, kan?” Paskai meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya dan mengecup pipinya dengan lembut. “Nah, kita sedang merasakan mukjizat yang kedua. Kamu sudah sembuh. Kamu sudah lahir kembali, Andra. Jangan sia-siakan hidup kedua kita. Mari kita nikmati seoptimal mungkin.” Bab XII t7 ASKAL menepati janjinya. Dia meninggalkan segalanya. Pekerjaan. Hobi. Teman-teman. Dia menghabiskan waktu hanya bersama istrinya. Soiandra juga sudah meninggalkan praktik-nya. Dia mengisi hidupnya hanya dengan suami dan Tuhan-nya. Mereka sengaja tidak memberitahu siapa pun. Mereka merahasiakan penyakit Soiandra. Tidak mengatakannya kepada keluarga maupun teman. Supaya tamu tidak berbondong-bondong datang menjenguk. Teman-teman tidak menelepon tanpa henti. Keluarga tidak datang menemani dari pagi sampai malam. Mungkin maksud mereka memang baik. Menyatakan simpati. Perhatian. Doa. Tapi buat orang yang menderita penyakit Seperti Soiandra, didatangi banyak orang bukan selalu berarti hiburan. Kadang-kadang melayani mereka sangat melelahkan. Dan harus mengulangi riwayat penyakitnya kepada setiap tamu yang menjenguk, sungguh bukan hal yang menyenangkan. Paskai dan Soiandra memilih menutup mulut. Menyembunyikan penyakit Soiandra. Dan menikmati hidup berdua saja. Hari-hari terakhir mereka terasa sangat berkesan. Setiap hari mereka merasa semakin dekat. Soiandra  bersyukur kepada Tuhan untuk setiap hari yang ditambahkan pada umurnya. Dia juga bersyukur masih diberi kesempatan melayani suaminya. Masih diberi waktu untuk melimpahkan kasih sayang padanya. Hidup terasa begitu indah. Sekaligus begitu cepat berlari. Pada akhir tahun yang kedua, anak sebar kanker Soiandra sudah mencapai paru-parunya. Dia memang tidak merasakan apa-apa, kecuali batuk yang tak kunjung sembuh. Tetapi dia tetap menolak segala macam terapi yang dianjurkan dokter. Sayangnya saat itu Sania sudah kembali ke Australia. Dia rujuk dengan pasangannya hanya dua bulan sesudah operasi Soiandra. Paskai jadi tidak punya teman untuk membantunya membujuk Soiandra berobat. “Buat apa lagi,” katanya lirih. “Buat apa menambah beberapa bulan umurku kalau harus menderita?” “Tapi beberapa bulan itu sangat berarti untuk kita, Andra!” sergah Paskai antara marah dan sedih. Marah karena merasa hidup ini begitu kejam padanya. Pada istrinya. Pada mereka. Sedih karena saat yang paling ditakutinya itu sudah menghadang, di depan mata. Saat perpisahan dengan orang yang paling dicintainya.1 Dan dia tidak bisa berbuat apa-apa! “Justru karena saat-saat terakhir ini. sangat berharga untuk kita, Mas,” bisik Soiandra lembut. “Aku tidak mau kehilangan sedetik pun kebersamaan kita!” “Tapi kita tidak boleh menyerah begitu saja, Andra!” desah Paskai putus asa. “Kita harus terus berusaha menyingkirkan penyakit jahanam ini!” “Dengan meredam sakit, kurus kering, dan botak? Tidak, Mas. Kalau aku harus pergi, aku ingin meninggalkanmu secantik ketika pertama kali Mas melihatku.” “5ofandraJ” Paskai hampir tidak mampu lagi menahan air matanya. Mengapa hidup begitu kejam pada mereka? Apa salah mereka sebenarnya? Cinta mereka begitu tulus. Mengapa justru harus diakhiri setragis ini? “Jangan sedih, Mas,” Soiandra membelai wajah suaminya dengan penuh kasih sayang. Ketika merasakan jari-jemari istrinya yang halus itu, Paskai harus menggigit bibirnya erat-erat supaya air matanya tidak mengalir. Berapa lama lagi dia dapat merasakan kelembutan belaian tangan istrinya? Ke mana dia harus mencari belaian yang demikian dirindukannya kalau Soiandra sudah pergi nanti? “Aku tidak mau kehilangan kamu, Andra.'” desis Paskai getir. “Jika sudah sampai waktunya, tidak seorang pun dapat mencegahnya, Mas. Waktu yang sudah dijanjikan itu tidak dapat diundur sedetik pun…” “Omong kosong!” sergah Paskai geram. “Kaku begitu buat apa manusia berobat? Buat apa ada dokter?” Buat apa aku susah payah belajar? -Buat apa aku berjuang untuk menjadi dokter? Menyembuhkan istriku sendiri saja aku tidak mampu! Bahkan mengundurkan saat kematiannya saja aku tidak bisa! “Manusia bisa berusaha, Mas,” sahut Soiandra lembut. Bahkan pada saat terakhir hidupnya, ketika Tuhan yang sangat dipercayainya pun seolah sudah meninggalkannya, dia masih tetap memperlihatkan keteguhannya. Kepercayaannya. Kesabarannya. Penyakit yang seganas apa pun tampaknya tidak mampu meruntuhkan imannya. Tidak mampu membuatnya lebur dalam ketakutan dan keputusasaan. “Tapi Tuhan juga yang menentukan.” “Kalau begitu jangan menyerah, Andra,” pinta Paskai pilu. “Biarkan aku membawamu berobat.” “Tidak ada gunanya lagi, Mas. Jika Tuhan ingin menyembuhkanku, aku bisa sembuh tanpa obat apa pun. Tapi jika waktuku sudah sampai, aku tidak takut menghadap ke hadiratNya.” “Aku yang takut, Andra! Aku takut kehilangan kamu!” “Jangan takut, Mas. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Karena seandainya jantung ini berhenti berdenyut sekalipun, cintaku padamu takkan pernah matt,” Akhirnya Paskai menyerah. Dia membiarkan Soiandra memilih cara yang diinginkannya untuk menikmati saat-saat terakiiir hidupnya. Paskai menjual apa saja yang masih dapat dijualnya. Dan dia memakai uang yang dimilikinya untuk membahagiakan istrinya. Dia tidak memedulikan panggilan ayahnya yang sudah berbulan-bulan menuntut janjinya. “Suatu hari aku akan datang ke kantornya,.” katanya pada adiknya yang sudah berkali-kali menelepon untuk menyampaikan pesan ayah mereka. Karena Paskai memang selalu menghindar kalau ayahnya yang menelepon. “Saat itu Papa boleh menyuruhku ber buat apa saja.” Karena saat itu aku memang sudah mati. Hidupku tidak berarti lagi. Persetan Papa ingin menyuruhku bekerja di mana saja. Sebagai apa. Digaji berapa. Aku tidak peduli! “Papa bilang kamu pengecut,” sambung Paulin kesal. Bosan karena disuruh-suruh terus mengontak kakaknya. “Berani berutang, takut bertanggung jawab!” “Bilang Papa, utangnya pasti kubayar lunas!” geram Paskai sengit. “Bagaimana mau bayar, kalau datang saja kamu takut?” “Bukan takut, tapi aku tidak punya waktu!” Paskai memang tidak punya waktu untuk mengunjungi ayahnya, kecuali ketika suatu hari Soiandra mengajukan suatu permohonan selesai mereka bermesraan. “Mas, boleh aku minta sesuatu?” “Mintalah apa saja, Sayang,” bisik Paskai mesra. “Akan kuberikan apa pun yang kamu minta.” Kecuali kesembuhan! Karena aku tidak mampu menyembuhkanmu! Aku tidak berguna! Mengalahkan penyakitmU saja aku tidak mampu biarpun aku seorang dokter! “Bilang terus terang kaku permintaanku terlalu berat ya, Mas?” “Asal jangan minta aku kawin lagi,” Paskai tersenyum pahit. “Karena dari sekarang sampai aku mati, istriku cuma kamu.” “Mas boleh menikah lagi kalau aku sudah tidak ada,” Soiandra menyunggingkan seuntai senyum haru. “Bukan berarti Mas Pas sudah tidak mencintaiku jika kelak Mas menemukan pengganti diriku…” Tidak akan pernah,” potong Paskai tegas. Tidak ada seorang pun yang dapat mengganti-kanmu.” “Aku malah lebih lega kalau ada seseorang yang dapat menggantikanku, Mas,” kata Soiandra tulus. “Bohong! Mana ada wanita yang mau disaingi.” “Mungkin selagi masih hidup, Mas. Tapi kalau sudah mati, aku malah senang kalau ada wanita yang bisa mencintai Mas Paskai. Mengurusmu. Memberimu anak…” “Sudahlah! Hentikan omong kosongmu! Sekarang apa permintaanmu? Duren? Aku akan mencarinya sampai ke Thailand biarpun lagi nggak musim!” Soiandra tersenyum manis. Diciumnya pipi suaminya dengan mesra. Paskai membalas ciuman istrinya dengan penuh kasih sayang. * “Aku ingin ke Grand Canyon, Mas,” bisik Soiandra lembut. “Apa permintaanku terlalu berat? Tabungan kita sudah habis, kan?” Sesaat Paskai tertegun. Soiandra jarang sekali mengajukan permintaan. Apalagi kalau dia tahu permintaannya akan memberatkan Paskai. Tetapi saat ini dia minta sesuatu. Dan dia tahu, permintaan itu tidak mudah. Soiandra tahu uang mereka tidak banyak lagi. Apakah… waktunya sudah hampir tiba? Apakah Soiandra sudah merasa… mereka hampir berpisah? Karena itu dia ingin berada di suatu tempat yang sangat berkesan bagi mereka? Ketika melihat suaminya tertegun, Soiandra salah sangka. Dia mengira Paskai memikirkan biayanya. Karena itu sambil tersenyum manis dia merangkul suaminya. “Maafkan aku, Mas,” bisiknya di telinga Paskai. “Aku yang tidak tahu diri. Jangan pikirkan lagi permintaanku tadi. Di mana pun kita berada, asal bersamamu, aku sudah merasa bahagia. Lupakan Grand Canyon. Besok kita ke Surabaya, ya? Sudah kangen sama Mama.” “Kita akan ke sana,” sahut Paskai tegas. Seandainya aku harus merampok sekalipun, akan kukabulkan permintaanmu yang terakhir! “Minggu depan kita ke Grand Canyon. Mau cari batu kali lagi, kan?” Didekapnya istrinya erat-erat. Dipejamkan-nya matanya. Dan dibulatkannya tekadnya. Tak seorang pun dapat mencegahnya lagi. Tak seorang pun mampu melerainya mengabulkan permintaan terakhir istrinya! **« “Akhirnya!” cetus ayahnya sinis ketika melihat Paskai muncul di kamar kerjanya. “Akhirnya kamu berani datang juga! Sudah siap membayar utangmu? Bukan cara jantan bersembunyi seperti itu!” Paskai tidak memedulikan ejekan ayahnya. Wajahnya sangat serius sampai ayahnya mengerutkan dahi. Paskai duduk di kursi di depan meja tulis ayahnya. Dan meraih pulpen yang tergeletak di dekatnya. “Saya butuh tiga ratus juta lagi, Pa,” katanya sungguh-sungguh sambil menyodorkan pulpen ayahnya, “Kalau Papa ingin saya menandatangani surat perjanjian apa pun, saya akan menandatanganinya tanpa membaca isinya lagi.” “Khas penjudi yang kalah main,” sindir ayahnya setelah rasa kagetnya hilang. “Apa pun kata Papa,” sahut Paskai dingin. “Ucapkan saja.” “Asal kamu dapat uang,” sambung ayahnya sinis. “Tidak. Kali ini Papa  tidak sudi memberimu uang lagi. Papa tidak rela perusahaan «R bangkrut untuk melunasi utang judimu!” “Papa tahu tidak bakal bangkrut kalau hanya memberi saya tiga ratus juta!” “Memang. Tapi Papa tidak mau memberimu uang lagi. Tidak sepeser pun!” Paskai menggebrak meja dengan kasar. “Papa mau lihat saya mati?” “Percuma mengancam ayahmu.” Sekarang Paskai bangkit dari kursinya. Dia melangkah ke jendela. Dan mengangkat sebuah kursi di dekatnya. Ketika dia mengayunkan kursi itu ke jendela, ayahnya tahu, Paskai serius. Dia tidak main-main dengan ancamannya. Kamar kerjanya terletak di tingkat dua puluh. Kalau Paskai membuang dirinya ke bawah, tak ada lagi yang dapat menolongr nya____ “Tunggu!” seru Agusti Prakoso antara marah dan cemas. “Kenapa kamu senekat ini?” “Papa sudah tahu jawabannya!” Paskai melemparkan kursinya dengan sengit. “Kalau Papa lebih suka melihat mayat saya terkapar di bawah kantor Papa…” “Berapa sebenarnya utangmu?” geram ayahnya penasaran. “Di mana kamu berjudi? Papa dengar kamu sudah tidak kerja, tidak praktik. Istrimu yang seperti malaikat itu tidak bisa mencu’dikmu? Mencegahmu main judi?” “Jangan sebut Soiandra seperti itu!” teriak Paskai gemas. “Atau saya hancurkan kantor ini!” “Seperti apa?” balas ayahnya sama gemasnya. Lho, siapa dia sampai berani mengancam ayahnya seperti itu? “Papa kan bilang istrimu seperti malaikat! Tidak salah, kan? Katamu dulu dia sangat cantik, baik, dan suci! Dia tidak bisa memuaskanmu lagi sampai kamu harus memuaskan dirimu di meja judi?” “Papa mau berikan uang itu atau tidak?” “Ini yang terakhir!” Ayahnya menarik laci meja tulisnya dengan geram*. “Sesudah ini, masa bodoh di mana kamu mau bunuh diri, Papa tidak peduli!” Agusti mengeluarkan buku ceknya. Dan menandatanganinya. Lalu dengan kasar dilemparkannya cek kosong itu ke atas meja. “Kamu boleh mengisinya sendiri,” katanya datar. “Asal kamu tahu saja, dananya tidak melebihi satu M.” “Mana kertas yang harus saya tanda tangani?” “Kertas apa?” “Kertas kosong. Papa boleh mengisinya apa saja.” ‘ “Tidak perlu,” sahut ayahnya dingin. “Tanda tangan penjudi apa artinya? Tanda tanganmu tidak berharga sepeser pun!” Dengan sengit Paskai meraih sehelai kertas di atas meja tulis ayahnya. Lalu digoreskannya tanda tangannya di atas kertas kosong itu. “Saya masih punya rumah,” dengusnya kering. “Papa boleh memilikinya kalau saya tidak bisa membayar utang.” “Rumah yang masih kredit?” seringai di bibir ayahnya begitu menyakitkan. “Kalau bisa dijual, rumah itu pasti sudah ludes juga!” Kata-kata ayahnya memang sangat mengiris hati. Tetapi paling tidak, ayahnya masih menyayanginya. Dia tidak rela Paskai bunuh diri di hadapannya. Dan dia masih sudi meminjamkan uangnya. Dengan uang itu, Paskai dapat mengabt gin an terakhir Soiandra. Membawanya Ice Pantai Barat Amerika. Tempat mereka mengecap bulan madu yang sangat berkesan. Tetapi ketika Paskai hendak memulai perjalanan mereka seperti dulu, Soiandra menolak. Dia minta diantarkan langsung ke Las Vegas. Meskipun Soiandra tidak mengatakan alasannya, Paskai tahu apa sebabnya. Soiandra takut dia tidak kuat lagi. Meskipun selama setahun terakhir ini dia tidak kelihatan sakit, Paskai tahu, tubuh istrinya semakin lemah. “Kamu tidak mau berbasah-basahan lagi de- , ngan suamimu di Universal Studio?” “Takut masuk angin, “sahut Soiandra sambil tersenyum tipis. “Bukan takut suamimu akan mematahkan rahang orang yang menertawakan bajumu yang basah?” “Soiandra tertawa kecil seraya membelai pipi suaminya dengan penuh kasih sayang. Kalau biasanya Paskai merasa nikmat, kali ini dia merasa sedih. Pertanyaan itu tiba-tiba saja meruyak hatinya. Siapa yang akan membelainya lagi jika Soiandra sudah tidak ada? Ke mana dia harus mencari belaian sayang itu jika kekasihnya sudah pergi jauh? “Aku ingin pergi ke mana saja bersamamu, Mas,” gumam Soiandra lembut. “Tapi aku khawatir menyusahkanmu.” “Aku akan menggendongmu kalau kamu capek.” “Gendong saja aku ke bibir Grand Canyon.” Tetapi Soiandra tidak perlu digendong. Dia hanya perlu dibimbing untuk mencapai tepi jeram. Paskai sendiri merasa heran. Tiba-tiba saja dia sepert i melihat Soiandra yang dulu. Kuat. Lincah. Riang. Entah dari mana dia memperoleh tenaganya. Padahal perjalanan yang mereka tempuh cukup sulit. Dan panasnya matahari siang itu sangat menyengat. Soiandra bukan saja mampu melangkah di jalan setapak yang berpasir panas dan licin. Dia juga sanggup melompat dari batu ke batu untuk mencapai bibir jeram. Keringat bercucuran di wajah dan lehernya. Tetapi dia tidak tampak terlalu lelah. Dari mana dia memperoleh tenaganya? Benarkah sudah terjadi keajaiban? ts a “Aku merasa berdiri di batas antara bumi dan langit, Mas,” gumamnya sambil memandang jauh Jce jurang terjaJ di bawah sana. Sinar matahari memantulkan aneka warna bebatuan. Ungu. Cokelat. Merah. “Jika Tuhan bisa menciprakan keindahan yang begini me-•mukau di bumi, Dia pasti memiliki Taman Firdaus yang lebih indah lagi di surga….” “Buat apa berada di taman yang bagaimanapun indahnya kalau tidak bersama suamimu?” keluh Paskai parau sambil merangkul pinggang • istrinya. Soiandra seperti baru terjaga dari pesona yang memukaunya. Dia menoleh. Dan menatap suaminya dengan mesra. “Suatu hari kita akan berada bersama-sama di sana, Mas,” bisiknya lembut. “Aku akan selalu menunggumu.” “Jangan ngomong begitu, Andra,” bantah Paskai pahit. “Aku tidak ingin berada di mana pun tanpa kamu! Berjanjilah kamu akan sembuh dan selalu berada di sini, di sampingku!” “Bukan aku yang menentukan saatnya, Mas.” “Tuhan akan memberikan mukjizatl Mustahil Dia begitu kejam padamu, Andra! Kamu begitu baik! Begitu setia! Begitu taat kepada-Nya!” “Dia sudah memberiku mukjizat, Mas,” kata Soiandra khidmat. “Kalau tidak, mustahil aku bisa berada di sini.” Barangkali Soiandra benar. Hari itu dia tidak kelihatan lelah. Tidak kelihatan seperti orang sakit. Bahkan batuknya seperti menghilang entah ke mana. Padahal biasanya mengerjakan’ pekerjaan yang ringan saja napasnya sudah memburu. Dia pasti merasa sesak napas walaupun di depan Paskai dia selalu berusaha menyembunyikannya. Mereka menghabiskan sehari-semalam di Grand Canyon of Colorado sebelum kembali ke Las Vegas. Mereka menempati hotel yang dulu. Tetapi Soiandra tidak memuaskan hasrat belanjanya. “Buat apa,” katanya sambil tersenyum ketika Paskai menanyakannya. “Aku sudah punya segalanya. Mas tidak main?” “Katamu judi itu dosa, kan? Lebih baik aku menemani istriku saja. Supaya malaikatmu tidak repot mencatat daftar dosaku.” Mereka menghabiskan waktu bersama-sama. Tidak berpisah sekejap pun. Tetapi ketika sedang mencumbu istrinya malam itu, untuk pertama kalinya Paskal merasa, saatnya sudah dekat. Soiandra seperti tidak ingin Paskal melepaskan pelukannya meskipun kemesraan itu sudah berakhir. Dia bahkan seperti minta mereka mengulangi semuanya dari awal lagi. Padahal dua tahun terakhir ini mereka tidak pernah melakukannya secara maraton lagi. Paskal ta-kut istrinya terlalu lelah. “Peluk aku erat-erat, Mas,” desah Soiandra, masih terengah dalam kenikmatan. “Aku ingin terlelap dalam pelukanmu.” “Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Sayang,” bisik Paskal sambil memeluk istrinya erat-erat dalam rengkuhan lengan-lengannya. “Takkan kubiarkan kamu pergi.” “Kalau suatu hari aku harus pergi sendiri, Mas, aku ingin tidak ada air mata yang mengiringi kepergianku,” pinta Soiandra lemah lembut. “Supaya aku tidak usah menoleh ke belakang dan merasa berat meninggalkanmu.” “Kamu tidak akan pergi, Andra. Kamu tidak akan pernah pergi tanpa akut”. “Aku harus pergi lebih dulu, Mas. Ke tempat yang lebih indah dan abadi. Berjanjilah suatu hari kamu akan menyusulku ke sana. Supaya tidak sia-sia penantianku.” Aku tidak tahu ke mana harus menyusulmu, tangis Paskal dalam hati. Karena aku tidak percaya ada hidup yang kedua! Seperti memahami perasaan suaminya* Soiandra membelai pipi Paskal. Tetapi kali ini Paskal menangkap tangannya. Tidak tahan merasakan belaian yang dulu amat dinikmatinya. Digenggamnya tangan Soiandra erat-erat. Dikatupkannya rahangnya menahan perasaannya. “Aku akan membimbingmu ke sana^ Mas,” bisik Soiandra lembut. “Aku akan menunjukkan jalannya.” *** Paskal ingin membawa istrinya ke San Francisco. Ingin membawany a bermalam ke sebuah hotel mewah yang tarifnya ribuan dolar semalam. Mereka pernah melewati hotel itu dulu. Pernah berangan-angan suatu saat kelak akan mencicipinya. Dan kini Paskal ingin menikmati angan-angan itu. Tetapi Soiandra minta diantarkan pulang. – bahkan minta diantarkan ke rumah ibunya dua hari setelah mereka sampai di Jakarta. “Kamu ingin mengatakannya pada Mama?” tanya Paskal murung. “Tidak,” sahut Soiandra tegas. “Biar Mama tidak usah tahu sampai saat terakhir.” Tapi Mama pasti menyesal, Andra. Mama akan menyalahkanku karena tidak sempat menikmati saat-saat terakhir bersamamu.” “Ini bukan saat untuk ditangisi, Mas. Aku tidak ingin bersedih melihat air mata Mama.” “Tapi lebih baik Mama menyiapkan diri daripada mendadak menerima kabar buruk.” “Bukan kabar buruk, Mas.” “Bukan kabar burukkah kehilangan kamu?” “Kalian tidak akan kehilangan aku, Mas. Aku akan selalu berada di dekatmu. Kamu akan merasakannya walaupun tidak melihat.” Kata-kata Soiandra memang semakin aneh. Seperti kelakuannya juga. Suatu hari Paskal menemukan istrinya sedang membereskan baju-bajunya dan memasukkannya ke dalam koper. “Kamu mau ke mana, Andra?” cetus Paskal heran. “Mau jalan-jalan lagi?” Soiandra mengangkat wajahnya dan tersenyum manis. Melihat senyum itu, Paskal harus mengakui, tak ada yang berubah dalam dirinya. Dia masih tetap secantik ketika pertama kali Paskal melihatnya. Soiandra memang ingin tampil seperti itu sampai saat terakhir hidupnya. Dan tampaknya keinginannya yang satu ini terkabul. Tubuhnya masih tetap ramping dan seksi. Tidak berubah menjadi kurus kering seperti pasien-pasien yang mengidap penyakit yang sama. Wajahnya tetap ayu dan mulus. Rambutnya hitam dan lebat seperti yang selama ini dikagumi Paskal. Bahkan senyumnya masih tetap semanis dulu. Penderitaan seakan-akan tak pernah menyentuhnya. “Mau ke mana lagi, Mas?” balasnya lembut. “Kan sudah pergi ke tempat-tempat nostalgia kita.” “Bilang saja kamu mau ke mana, Andra. Aku akan membawamu ke sana. Katamu kamu ingin melihat Machu Pichu, kan? Mari kita ke sana, biar aku harus menggendongmu sekalipun.” “Rasanya sudah terlambat, Mas. Yang kuinginkan sekarang cuma bermalas-malasan di rumah bersama suamiku.” Tapi aku tidak mau menunggu maut :u-di di rumah saja, Andra! Mari kita berjuang mencari kesembuhanmu.’ Jika medis sudah tidak mampu, kita cari pengobatan alternatif) Tetapi Soiandra tetap menoiak. “Jika Tuhan ingin aku sembuh, Dia mampu menyembuhkanku tanpa pengobatan apa pun. Dia hanya perlu menjentikkan jari-Nya. Tapi jika saatku sudah riba, aku sudah siap.” Soiandra mungkin sudah siap. Dia sudah pergi ke tempat yang diinginkannya. Dia sudah menemui ibunya. Sudah tinggal seminggu di sana sambil mengobrol panjang-lebar sampai Mama sendiri heran. “Ada apa, Dra?” tanya ibunya seperti punya firasat buruk. “Ada apa kenapa, Ma?” balas Soiandra berlagak bodoh. “Kamu kelihatannya lain.” ; i “Lain bagaimana, Ma?. Masa nggak boleh ngobrol sama Mama? Sudah lama kita nggak ketemu, kan? Andra kangen sama Mama.” Mama juga kangen. Tapi kenapa rasanya ada sesuatu yang berbeda? Bahkan cara Soiandra memeluknya terasa berbeda. Soiandra seperti ingin menyampaikan sesuatu. Atau… dia bukan saja ingin menyampaikan sesuatu. Dia ingin memeluk ibunya untuk… untuk apa? Ada sesuatu dalam pelukan anaknya yang membuat ibu Soiandra merasa resah. Firasatnya sebagai seorang ibu terusik ketika Soiandra memeluknya demikian erat dan lama. Bahkan air muka putrinya yang begitu tenang mengganggu perasaannya. Ada apa? Mengapa tiba-tiba saja dia merasa… takut? “Boleh besok Andra ikut Mama ke toko?” cetus Soiandra ketika dia melepaskan pelukannya. “Ngapain?” tanya ibunya sambil berusaha menyembunyikan perasaannya. Perasaan apa ini? Bingung? Takut? “Sudah bosan jadi dokter gigi? Mama dengar kamu sudah nggak praktik.” “Cuma pengen santai, Ma.” “Suamimu tidak mengizinkan kamu praktik? Supaya lebih banyak istirahat? Ini masalah anak, kan?” ¦ “Bukan masalah apa-apa, Ma. Andra cuma ingin ikut Mama ke toko. Lihat Mama kerja. Masa nggak boleh sih?” “Biasanya kamu nggak ketarik sama baju.” “Orang bisa berub ah, kan?” “Betul kamu mau ke toko?” “Betul ya, Mas?” Soiandra menoleh manja kepada suaminya. “Mas juga mau ikut, kan? Nggak alergi sama bau baju baru di toko?” Ke mana pun kamu pergi, aku ikut, Andta. Sampai ke tapal batas aku tidak bisa lagi menyertaimu! Paskal memang belum siap. Dia belum bisa menerima takdir. Takdir yang akan memisahkan mereka. Tetapi ketika akhirnya takdir itu datang, tak seorang pun dapat menolaknya. Tidak juga Paskal. Bab XIII itu tidak ada bedanya dengan hati lain. Soiandra menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya, seperti yang telah bertahun-tahun dilakukannya. Dia sudah rapi ketika Paskal bangun dan menciumnya seperti biasa. “Pagi, Sayang,” bisik Paskal sambil merengkuh bahu istrinya dan membawanya ke meja makan. “Kenapa sih kamu nggak bisa bangun «angan dikit?” “Karena aku ingin .menyiapkan sarapan untuk suamiku,” sahut Soiandra sambil menyunggingkan seuntai senyum manis. “Aku kan bisa nunggu. Janji besok kita bangun sama-sama, ya?” “Nggak ah,” Soiandra bergayut manja ke lengan suaminya. “Takut terusnya diajak mandi bareng. Nanti tidak selesai-selesai sarapannya.” Paskal tertawa lunak. Dikecupnya pipi istrinya dengan mesra. Ketika ciumannya turun ke leher, Soiandra menggeliat manja. Harumnya aroma parfum istrinya merangsang gairah Paskal. Membuat nafsu makannya surut. Berganti dengan selera yang lain. Tetapi berbeda dari biasanya, kali ini Soiandra menolak dengan halus. Dia tidak menolak pelukan suaminya. Tidak menolak ciumannya yang panas. Tapi ketika Paskal hendak melanjutkannya, Soiandra-mengelak. “Mas,” desahnya sambil membelai pipi suaminya dengan penuh kasih sayang. “Mas tidak marah kalau saya minta sesuatu?” “Mintalah apa saja, Sayang,” sahut Paskal dengan perasaan tidak enak yang tiba-tiba meruyak ke hatinya. Perasaan yang dengan susah payah berusaha disingkirkannya. “Mas mau kan bawa saya ke rumah sakit?” Kata-kata itu seperti petir yang tiba-tiba menyambar. Membuat gairah Paskal langsung hilang. Berganti dengan kecemasan yang luar biasa. Direngkuhnya bahu istrinya. Ditatapnya wajahnya dengan khawatir. “Kamu kenapa, Andra? Apa yang terasa?” “Nggak rasa apa-apa,” sahut Soiandra dengan 2o6 ketenangan yang luar biasa. “Cuma dada saya terasa sakit, Mas. Nggak terlalu sih. Mas tidak perlu khawatir.” Tentu saja Soiandra berdusta. Dia tidak akan minta diantarkan ke rumah sakit kalau tidak terasa apa-apa. Paskal tahu sekali, rasa sakit di dadanya kali ini pasti sudah tidak tertahankan. Bohong kalau Soiandra mengaku tidak terlalu sakit. Kalau rasa sakitnya masih dapat diatasinya dengan obat-obatan yang diam-diam diminumnya sendiri seperti biasa, dia pasti tidak akan mengatakannya. Karena itu Paskal membawanya secepat mungkin ke rumah sakit. Dan hasil foto rontgen sito yang dilakukan saat itu juga menjelaskan segalanya. Gambaran paru-paru Soiandra sudah tidak berwarna hitam lagi. Hampir seluruh parunya sudah berwarna putih. Artinya sudah hampir tidak ada jaringan paru yang sehat. Seluruhnya sudah tertutup oleh jaringan tumor. “Bising napasnya sudah tidak terdengar,” kata sejawat Paskal yang melakukan pemeriksaan auskultasi. “Sungguh mengherankan Soiandra baru mengeluh sekarang.” Daya tahannya memang luar biasa. Bar kali bukan hanya daya tahannya. Tapi juga ketabahannya. Soiandra seperti ingin menanggung sendiri penderitaannya. Tidak ingin membaginya dengan siapa pun. Termasuk dengan suaminya. Orang yang paling dekat dengannya. Sampai saat terakhir, dia ingin berjuang sendirian. Tidak mau membuat suaminya ikut merasakan penderitaannya. Dia masih berkeras ingin melangkah dengan tenaganya sendiri sesampainya di rumah sakit. Paskal harus memaksanya menunggu kursi roda yang dimintanya dari Unit Gawat Darurat.. “Saya masih kuat kok, Mas,” katanya sambil berusaha menyembunyikan napasnya yang mulai memburu. Wajahnya tampak agak pucat membiru. Paskal sendiri heran betapa cepatnya segalanya berubah. Ketika ditemuinya di ruang makan tadi pagi, Soiandra masih tampak se- ; cantik dan sesegar kemarin. Tidak ada tanda-tanda dia sakit. Tubuhnya masih seharum biasa. Rambutnya masih serapi dulu. Bahkan riasan waja hnya masih begitu memesona. Seolah-olah Soiandra tidak ingin tampil beda sampai saat terakhir hidupnya. Dia ingin tampak cantik untuk selama-lamanya. Dengan penampilan secantik itulah dia ingin dikenang oleh suaminya. Mungkin karena itu pula Soiandra tidak ingin berlama-lama berbaring di atas ranjang rumah sakit. Tidak ingin berlama-lama menyiksa Paskal yang harus berjaga siang-malam di sisi pembaringannya. Malam itu juga keadaan umumnya langsung memburuk. Sesak napasnya menghebat meskipun sudah diberi bantuan oksigen. Keringat membanjiri wajahnya. Tangannya yang berada dalam genggaman Paskal terasa dingin. Mukanya pucat dan mengerut seperti menahan sakit. Soiandra memang tidak mengucapkan se-patah kata pun. Tetapi Paskal dapat merasakan penderitaannya. Dia kesakitan. Dan napasnya sesak sekali. Malam itu juga dokter ICU minta izin untuk melakukan intubasi. Paskal dihadapkan pada pilihan yang amat berat. Tetapi dia memang harus memilih. Dan melihat keadaan istrinya saat itu, dia tidak punya pilihan lain. Paskal tidak ingin Soiandra menderita. Sudah ip penderitaannya. Jangan diperpanjang p Untuk pertama kalinya Paskal terpaksa merelakan kepergian wanita yang dicintainya. Dia tidak tahan lagi menyaksikan penderitaan istrinya Daripada Soiandra harus menderita sehebat ini, lebih baik dia pergi. Pergi ke tempat yang dirindukannya. Tempat di mana tak ada lagi penderitaan. Tempat yang selalu disebutnya. Tempat yang bahkan masih disinggungnya pada saat terakhir mereka bermesraan. “Aku akan menunggumu di sana, Mas,” bisiknya ketika merasakan ketakutan suaminya Ketakutan Paskal kehilangan istrinya. Kehilangan wanita yang sangat dicintainya. Kehilangan kemesraan yang takkan pernah diperolehnya lagi. Kehilangan kebersamaan yang j takkan pernah mereka nikmati lagi. “Di tempat di mana tak ada. lagi yang lain kecuali kebahagiaan.” “Tidak bahagiakah kita sekarang, Andra?” desah Paskal getir. Suaranya parau menahan tangis. “Di sepanjang hidup perkawinan kita, pernahkah kita tidak merasakan kebahagiaan? Kamu membuat hidupku berlumur madu. Kamu membuat aku tidak ingin merasakan hidup yang lain. Hidup kita sudah terlalu indah. Terlalu nyaman untuk digantikan dengan hidup yang bagaimanapun menariknya.” “Hidup kita memang sudah nyaris sempurna, Mas,” bisik Soiandra lembut. “Tapi tidak ada hidup yang sempurna seperti hidup di surga.” Tidak peduli apa pendapatmu, Andra, bantah Paskal pahit. Bagiku hidup kita sudah sempurna! Sangat sempurna! Aku tidak ingin ada hidup yang lain! “Seandainya aku dapat memberimu anak, Mas,” bisik Soiandra ketika mereka sedang berpelukan di atas tempat tidur menunggu datangnya kantuk. “Seandainya ada Soiandra kecil yang dapat menemanimu sesudah aku pergi.” Tidak ada yang dapat menggantikanmu, Andra! Tidak juga anak kita! Sejak diintubasi, Soiandra tidak pernah memperoleh kesadarannya kembali. Dia seperti sedang tidur lelap. Napasnya teratur. Air mukanya tenang. Kecuali endotrakheal tube yang mencuat dari mulutnya dan infus yang menghunjam lengannya, Soiandra tidak ada bedanya dengan Soiandra yang setiap malam berbaring di sisinya. Paskal sepetti melihat istrinya sedang tidur. Wajahnya tetap cantik. Rambutnya yang tergerai hitam di atas bantal tetap mengundang belaian. Tak bosan-bosannya Paskal membelai-belai rambut istrinya. Bahkan menciumnya. Dia seperti masih dapat mengendus harumnya aroma rambut Soiandra. Perawat yang menyaksikan tingkah laku Paskal sampai tidak tahan melihatnya. “Belum pernah aku melihat suami yang begitu mencintai istrinya seperti Dokter Paskal,” keluhnya kepada sejawatnya di luar ruang ICU. Tak sadar dia mengusap air mata yang menggenangi matanya. “Aku juga belum pernah berdoa untuk pasienku, Na,” sahut sejawatnya h’rih. “Biasa- i nya pasien ICU kan sudah pasien lost case. \ ICU cuma tempat transisi antara dunia dan akhirat. Tapi tadi malam aku berdoa untuk j istri Dokter Paskal. Mudah-mudahan Tuhan mengasihani mereka dan membuat keajaiban. Mudah-mudahan dia termasuk pasien yang berhasil keluar dari pintu itu tidak di atas brankar kamar mayat.” . Tetapi harapan perawat itu pun tampaknya sia-sia  belaka. Sama sia-sianya dengan harapan Paskal. Harapan ibu Soiandra yang .menunggu di luar. Harapan teman-teman mereka yang bergantian datang. Sia-sia Paskal menunggu di samping tubuh istrinya sambil memegangi tangannya. Menunggu mata istrinya terbuka kembali Mata yang indah itu tidak pernah memandangnya lagi. Barangkali Soiandra tidak ingin Paskal melihat kesakitan yang membayang di matanya. Atau dia ingin suaminya tetap membayangkan matanya seindah dulu? Soiandra mengembuskan napasnya yang jet* akhir empat hari kemudian. Satu jam sebelum Soiandta pergi, Paskal sudah merasa saatnya hampir tiba. Tekanan darah Soiandra menurun terus. Denyut jantungnya melemah. Paskal melarang dokter yang merawatnya melakukan resusitasi. Dia ingin istrinya pergi dalam damai. Tak ada lagi yang dapat dilakukan manusia. Biarlah Soiandra pergi dengan tenang. Paskal yakin kalau istrinya masih dapat bicara, dia akan minta seperti itu juga. Soiandra akan minta dibiarkan pergi dengan tenang. “Pergilah, Sayang,” bisik Paskal lembut di telinga istrinya. DibeJai-beJainya rambutnya dengan penuh kasih sayang. “Aku sudah reia. Jangan merasa berat lagi meninggalkan suamimu. Berjalanlah ke Taman Firdaus-mu. Kamu sudah hampir sampai, Sayang. Aku janji tidak akan menangisi kepergianmu.” Sambil menggigit bibirnya kuat-kuat menahan tangis, Paskal mencium dahi istrinya. Mesra dan lama. Sampai tiba-tiba dia merasa, Soiandra telah pergi. Telah meninggalkannya untuk selama-lamanya, hanya sedetik sebelum dengung monitor menyadarkannya, saat itu telah tiba. Saat perpisahan. Paskal merasa dadanya sakit seperti, dikoyak-kan sebilah belati. Nyerinya terasa sampai ke puncak kepala dan ke ujung jari kaki. Sekujur tubuhnya seperti dirajam belasan batu. Kulitnya laksana disayat seribu sHet. Sakitnya hampir tak tertahankan lagi. Tetapi Paskal tetap menahan air matanya. Karena itulah permintaan Soiandra. “Kalau” suatu hari aku harus pergi sendiri, Mas, aku ingin tidak ada air mata yang mengiringi kepergianku,” pinta Soiandra pada malam terakhir mereka bermesraan di Las Vegas. “Supaya aku tidak usah menoleh ke belakang dan merasa berat meninggalkanmu.” Paskal memenuhi permintaan istrinya. Dia sedih. Dia hancur. Tetapi dia menahan air matanya. Paskal hanya mencium bibir istrinya untuk terakhir kalinya setelah alat bantu pernapasan dicabut dari mulutnya. Dan dia terkenang kepada malam pertama mereka. Malam dia pertama kali mencium bibir Soiandra. Merasakan kelembutan bibirnya. Merasakan gairah yang membakar hatinya. Dan merasakan cinta yang merambah ke sekujur tubuhnya. Malam itu adalah malam pengantin mereka. Saat pertama kali mereka menyatukan tubuh mereka dalam gulungan kasih yang menggelora. Saat pertama kali mereka menikmati kepuasan yang sempurna. “Terima kasih, Andra,” bisik Paskal bahagia setelah kenikmatan itu berakhir dalam sebuah dekapan yang hangat dan lama. “Terima kasih karena telah menganugerahkan malam yang begini indah dalam hidupku.” Paskal mencium bibir istrinya dengan mesra. Setelah bibir mereka saling melepaskan, Paskal masih mengusap bibir yang ranum itu dengan penuh cinta kasih. Kenangan akan malam pertama mereka itu tiba-tiba saja menyeruak kembali ke benak Paskal. Justru pada saat Soiandra sudah meninggalkannya. Sudah tak dapat membalas ciumannya lagi. Tetapi bibirnya yang menggurat indah di wajahnya yang begitu manis dan damai tak pernah berubah sampai saat napas terakhir meninggalkannya. Di mata Paskal, Soiandra masih tetap secantik seperti pertama kali dia melihatnya. Diusapnya bibir Soiandra dengan ujung jarinya. Dibelainya rambutnya. Dikecupnya pipinya sambil memeluk tubuhnya untuk terakhir kalinya. Entah sudah berapa ratus kali dia memeluk tubuh Soiandra. Merasakan kedua tubuh mereka menyatu dalam gulungan cinta. Kini dia telah sampai pada saat terakhir dia dapat memeluk tubuh istrinya. Sesudah ini tak ada lagi pelukan. Tak-ada lagi Soiandra. Tak ada lagi wanita yang sangat dicintainya. Dipuja. DiSolandra telah pergi. Dia telah melangkah ke tempat yang sangat jauh. Ke mana Paskal harus menyalurkan cintanya setelah Soiandra pergi? Ke mana dia har us mencari kalau rindunya sudah tidak tertahankan lagi? Rasanya Paskal ingin mati saat ku juga. Ingin mengejar istrinya. Mengikuti jejaknya. Buat apa hidup tanpa Soiandra? Buat apa bangun esok pagi kalau sudah tidak ada yang ingin dilihatnya lagi? Saat ini tak ada lagi yang diinginkannya. Rasanya dia ingin membanting tubuhnya ke lantai dan menangis sampai mati. Tapi Paskal sadar, bukan itu yang diinginkan- Soiandra. Seperti dia ingin terlihat cantik dan tegar sampai saat terakhir, dia juga ingin melihat suaminya tampil tabah dan kuat setelah saat perpisahan itu tiba. Jadi sambil mengatupkan rahangnya kuat’ .. kuat, Paskal tegak di sisi pembaringan. Menyaksikan dengan tabah perawat yang tengah menyiapkan keberangkatan Soiandra ke k mayat. Dibiarkannya ibu Soiandra terisak di s. ban sambil memeluk Soiandra. Kata-kata- nya begitu mengharukan. Menambah sedih had Paskal. ; “Kenapa bukan Mama saja yang mati, Dra?” rintihnya dengan suara memilukan. “Kenapa harus kamu? Kamu baru tiga delapan! Masih muda sekahT Paskai dapat merasakan hancurnya hati seorang ibu yang kehilangan anak tunggalnya. rapi Paskai tidak menangis. Hanya air mata yang menggenangi matanya. Dia berusaha tabah. Berusaha tampil tegar di depan semua orang. Sejak dari ICU sampai ke ruang jenazah. Juga ketika sejawat- , sejawatnya menyalaminya. Termasuk Ibu Direktur. Yang hari itu tampak berbeda. Bukan j hanya kelihatan terharu. Dia juga tampil penuh penyesalan, :&gt; “Jangan balaskan sakit hatimu, Mas,” pinta Soiandra ketika akhirnya dia mengetahui pertikaian suaminya dengan direktur rumah sakit tempatnya bekerja. “Karena balas dendam hanya akan membuatmu menderita. Jika Mas mengampuni, Mas akan merasa damai.” Karena ingat pesan istrinya, Paskai menerima uluran tangan direktur rumah sakit tanpa perasaan benci. Juga ketika ayahnya datang menemuinya dengan paras penuh sesal. “Kenapa tidak bilang,” keluhnya sambil merengkuh bahu putranya. “Kamu kan bisa terus terang sama Papa.” Paskal tidak menyahut. Tetapi untuk pertama kalinya sejak dia meningkat dewasa, dia memeluk ayahnya. Ketika merasakan pelukan putranya, untuk pertama kalinya pula setelah sekian puluh tahun, ayahnya menitikkan air mata. *** Sania muncul pada saat pemakaman Soiandra. Dia langsung terbang ke Jakarta untuk menghadiri upacara pemakaman sahabatnya. Begitu melihat Paskal, air matanya langsung luruh. Tanpa dapat menahan tangisnya lagi, dia memeluk Paskal. Tak ada kata-kata yang dapat diucapkannya. Hanya air mata dan isak tangisnya yang mewarnai pertemuan mereka. Paskal berusaha mati-matian menahan air matanya. Hanya supaya dia dapat memenuhi keinginan istrinya. Mengabulkan permintaan-yang terakhir. ‘Jangan ada air mata, San,” gumam Paskal pahit. Suaranya parau. Matanya basah. Tetapi dia ingin tetap tampil tegar. Demi Soiandra. “Andra tidak ingin ada air mata yang mengiringi kepergiannya.” Tetapi tangis Sania tidak dapat dilerai. Dia menangis terus. Bahkan sesudah upacata pemakaman selesai. Sania masih berlutut sambil menangis di depan gundukan tanah yang membukit di hadapannya. “Maafkan aku, Dra,” desahnya getir. “Aku tidak bisa menolongmu….” Di kaki makam, Paskal bersimpuh sambil tertegun lirih mengawasi taburan bunga yang menyemai di atas gundukan tanah merah. Di bawah sana, berbaring istrinya yang cantik. Wanita yang sangat dikasihinya. Belahan jiwanya. Bagaimana dia sanggup meninggalkan istrinya seorang diri di sini? Sejak menikah, mereka belum pernah berpisah semalam pun. Kecuali ketika Soiandra berada di rumah sakit. Saat itu mereka memang berpisah. Tapi Soiandra tidak sendirian. Ada dokter dan perawat yang menungguinya. Sekarang siapa lagi yang menemaninya? Hanya mayat-mayat dingin dan kaku yang berbaring di sebelahnya! Karena itu Paskal tidak ingin beranjak dari sana. Dia ingin berada di sana terus. Ingin menemani istrinya. Ke mana dia harus pergi tanpa Soiandra? Ayahnyalah yang menyentuh bahunya menyadarkannya. “Sudah saatnya pergi, Boy,” katanya lembut. Suara Papa yang paling lembut yang pernah Paskal dengar. “Biarkan Soiandra beristirahat dalam damai.” “Saya tidak mau meninggalkannya sen dirian,” desah Paskal getir. “Dia tidak sendirian.” Papakah yang bicara itu? Atau malaikatkah yang membisikkannya? Karena belum pernah Paskal mendengar ayahnya bicara seperti itu! ‘”Soiandra sudah dikelilingi malaikat-malaikat.” Benarkah ada malaikat? Benarkah ada hidup yang kedua? Benarkah ada Tuhan? Benarkah ada surga? Benarkah Soiandra sudah sampai di sana? Atau cerita itu cuma dongeng penghiburan untuk orang yang ditinggalkan?” Harapan palsu yang ditanamkan bagi yang putus asa? Supaya ada harapan mereka suatu saat dapat bertemu kembali? Katakan padaku, Sayang, pinta Paskal dalam mobil ayahnya yang membawanya pulangi Katakan padaku kamu sudah sampai di sana. Di Taman Firdaus. Katakan kamu sudah bertemu Tuhan-mu. Katakan kepercayaanmu tidak sia-sia. Katakan kamu tidak sendirian di sana. Katakan! Supaya hatiku tenang. Dan aku dapat menerima kepergianmu dengan lebih tabah! Tetapi Soiandra tidak datang. Suaranya yang lemah lembut itu tidak pernah terdengar lagi di telinga Paskal. Tak ada lagi Soiandra. Tak ada lagi istrinya yang cantik. Yang sangat dicintainya. Yang ditemuinya di sana hanya rumah kosong. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada yang menyambutnya. Tidak ada yang memeluknya. Tidak ada yang menganugerahinya senyum manis yang sangat menyejukkan. Jadi buat apa dia pulang? Buat apa dia tinggal di rumah? Semua benda di rumah ini mengingatkannya pada Soiandra! • Lebih baik aku pergi, desis Paskal dalam hati. Lebih baik aku tidak berada di tempat yang penuh kenangan manis bersamamu! Karena hatiku sangat sakit! Sepeninggal ayahnya Paskal langsung pergi. Dia mengendarai mobilnya entah -ke mana. Sampai dia sudah merasa sangat lelah. Begitu lelahnya sampai membuka matanya pun terasa berat. Dia turun di sebuah hotel. Dan memesan sebuah kamar. Ketika masuk ke kamar dan melihat tempat tidur yang kosong, hatinya terkoyak lagi. Dia ingin menangis. Dengan siapa dia tidur di sana? Siapa yang akan menemaninya? Siapa yang memeluknya? Menciumnya dengan penuh kasih sayang mengucapkan selamat tidur? Akhirnya Paskal masuk ke kamar mandi. Dia ingin merendam tubuhnya di dalam bak. Biar esok pagi dia ditemukan mati beku di sana. Tetapi kamar mandi pun mengingatkannya pada Soiandra. Pada tubuhnya yang basah dan hangat dalam pelukannya di bawah pancuran. Pada rambutnya yang basah tergerai. Pada shampoo yang dibalurkannya di atas rambut itu. Aku bisa gila! pekik Paskal. Tidak tahu pekikan itu hanya dalam hatinya atau benar-benar telah diteriakkannya. Soiandra telah memiliki setiap inci tubuhnya Merasuki -seluruh jiwanya. Bagaimana Paskal dapat mengusirnya? Dapat melupakannya biarpun hanya dalam mimpi? Akhirnya Paskal membeli obat tidur. Minum begitu banyaknya sampai dia heran dia masih hidup setelah menelan obat sebanyak itu. Atau… dia sudah mati? Setankah yang mengetuk pintunya? Menyeret tubuhnya dan menjebloskannya ke neraka kalau benar ada neraka di bawah sana! Ketukan pintu sudah berubah menjadi gedoran. Tetapi Paskal tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Atau dia bukan tidak mampu? Dia tidak mau! Persetan siapa yang mengetuk pintu! Buat apa dibuka? Pasti bukan Soiandra yang berdiri di depan pintu! Soiandra sudah pergi. Dia sudah pergi jauh. Bahkan dalam mimpi pun dia tidak datang! , Akhirnya pintu itu terbuka juga. Dan Paskal melihat seorang wanita samar-samar tegak di sampmg pembaringannya. Tapi perempuan itu bukan Soiandra! Dia Perempuan itu duduk di s’&amp;i pembaringannya Entah apa yang dikatakannya. Dia melakukan beberapa pemeriksaan singkat. Dokterkah dia? Persetanl Buat apa dokter datang kemari? Dokter yang paling pintar pun tidak dapat membawa Soiandra ke sinil Dokter tidak dapat menyembuhkan Soiandra! Dia sudah mati! Mati! M-a-t-i…! MATI! Bab XIV i? ERNAHKAH engkau merasa hidup begitu hampanya, kosong melompong seperti selembar kertas putih yang belum ditulisi? Pernahkah engkau bangun pagi dan merasa tidak tahu apa yang harus engkau kerjakan hari ini? Pernahkah engkau demikian segannya pulang ke rumah karena tidak ada siapa-siapa di sana? Pernahkah engkau begitu malasnya membuka kelopak matamu karena tidak ada lagi yang ingin k aulihat? Ketika Sania membaca kertas coretan Paskal yang ditemukan perawat di tempat tidurnya di rumah sakit, air matanya menitik lagi. Dia dapat merasakan kesedihan Paskai. Dapat merasakan kehancurannya. Keputusasa-annya. Dan Sania merasa bertambah sedih karena dia tidak dapat menolong sahabatnya. Paskai sudah hancur. Dia hampir mati karena kebanyakan menelan obat tidur. Ketika Sania membawanya ke rumah sakit pagi itu, dia sudah cemas sekali. Khawatir tidak dapat menolong jiwa sahabatnya. Tetapi Paskal selamat. Fisiknya dapat disembuhkan. Psikisnya yang tidak. Dia seperti sudah tidak mempunyai gairah hidup. Sudah kehilangan semangat. “Waktu yang akan menyembuhkannya,” kata dokter yang merawatnya. Tapi Sania tidak percaya. Dia tidak percaya Paskal dapat melupakan Soiandra. Sampai kapan pun. Cinta mereka begitu kuat. Begitu murni. Begitu indah. Sania selalu iri pada kisah cinta sahabatnya. Cinta itu seperti tak pernah berakhir. Siapa bilang nasibku lebih baik dari nasibmu, Dra, keluh Sania dalam hati. Kamu punya seorang suami yang begitu memujamu. Mencintaimu. Dalam usiamu yang begitu pendek, kamu punya hidup yang sangat berharga. Sangat indah. Yang tidak mungkin ditukar dengan kebahagiaan yang seperti apa pun juga. Bukan kebetulan Sania menemukan Paskal ;’• di kamar hotel itu. Dia memang membuntuti Paskai terus sejak dari pemakaman. Sejak semula dia sudah merasa khawatir. Paskal memang tidak menangis. Tapi itu bukan berarti dia tidak sedih. Kadang-kadang menangis malah lebih baik. Supaya kesedihan mempunyai tempat penyaluran. Ketika Paskal masuk- ke hotel, Sania ikut bermalam di hotel itu. Ketika sampai siang dia tidak keluar-keluar juga dari kamar, dia menemui manajer hotel itu sambil menunjukkan identitas dokternya. Lalu mereka bersama-sama masuk ke kamar dan menemukan Paskal di sana. Masih hidup. Tetapi sudah hampir sekarat. “Soiandra pasti tidak menginginkan kamu seperti ini, Pas,” keluh Sania ketika menemukan sahabatnya hampir mati. “Dia tidak mau kamu bunuh diri.” – Tapi Paskal memang tidak bermaksud bunuh diri. Dia hanya ingin tidur. Ingin melupakan segalanya. Ingin menemui Soiandra dalam mimpi. “Dia tidak datang,” celoteh Paskal dalam perjalanan ke rumah sakit. “Siapa yang datang, Pas?” tanya Sania meskipun dia tidak memerlukan jawaban. “Dia tidak datang,” gumam Paskal seperti meracau. “Tidak juga dalam mimpiku.” Soiandra memang tidak pernah datang. Tidak dalam alam nyata. Tidak juga dalam alam mimpi. Paskal hanya dapat membayangkannya. Mengenangnya. Dan merindukannya. Yang muncul setiap hari di hadapannya hanyalah Sania. Dia yang dengan kesetiaan seorang sahabat selalu menemani. Menghibur. Dan mengobati. Bahkan sesudah Paskal keluar dari rumah sakit. “Kenapa kamu nggak pulang, San,” keluh Paskal dengan perasaan bersalah. “Kamu sudah terlalu lama menemaniku. Nanti suamimu marah.” “Dia bisa mengerti kok,” sahut Sania asal saja. Padahal jawaban yang sebenarnya hanyalah, aku tidak peduli. Sudah lama cinta Sania padanya padam. Atau… bukan padam? Cintanya terhadap Mike memang tak pernah bersemi. Mike hanya pelarian. Atau lebih celaka lagi, pengisi kesepiCintanya yang sesungguhnya hanya untuk Paskal. Tetapi dia tidak beruntung karena Paskal justru jatuh cinta pada Soiandra. Paskal tak pernah mencintainya. Dia malah tak pernah tahu Sania menaruh hati padanya. Kalaupun akhirnya Sania menikah dengan Mike, itu hanya karena mereka sudah punya anak. Dan Sania ingin anaknya punya ayah. Ternyata Mike sangat menyayangi anak mereka. Meskipun bukan suami yang baik, dia ternyata ayah yang nyaris sempurna. ” Mungkin di hari tuanya, Mike merasa begitu beruntung ketika akhirnya ada seorang bocah lucu yang memanggilnya “Daddy”. Tidak heran kalau Mike mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada anak mereka. Justru itulah alasan Sania tidak mengajukan permohonan cerai meskipun semakin hati dia semakin merasakan ketidakcocokan dalam hubungan pernikahan mereka. Sania rela hidup dalam perkawinan yang gersang demi kebahagiaan anaknya. Dia rela menunggu sampai Mike meninggal. Supaya anaknya tidak usah merasakan trauma perceraian orangtuan ya. Ketika Sania mendengar kabar kematian Soiandra, dia langsung terbang ke Jakarta. Yang diingatnya saat itu hanyalah Paskal. Dia pasti sangat sedih. Mampukah dia mengat penderitaannya sendirian? Apa yang dilihatnya memang sesuai dengan kecemasannya. Apa yang ditakutinya terbukti. Ternyata Paskal amat kehilangan. Kesedihan hampir membunuhnya. Sania tidak sampai hati melihat penderitaan laki-laki yang dicintainya. Dia ingin membantu menyembuhkan bukan hanya fisik Paskal. Tapi juga luka di hatinya. Sayangnya, Paskal tetap tidak menyambuti uluran kasih sayangnya. Bahkan sepeninggal Solandta, dia masih tetap menolak cinta Sania. Paskal hanya menganggapnya sahabat. Tidak lebih. Padahal Sania sudah mencoba berterus te-. rang. Sudah berusaha menyatakan cintanya ketika dalam suatu kesempatan berdua di rumahnya, Sania terdorong memeluknya dari belakang. Saat itu Paskal sedang tegak termenung di depan lukisan Soiandra yang tergantung di dinding ruang tengah rumahnya. Tiba-tiba saja dia merasa seseorang memeluknya dari belaI kang kejap Hangatnya tubuh yang meJekat ke punggungnya membangkitkan gairahnya. Sekejap dia merasa seolah-olah Solandra-lah yang merangkulnya seperti yang biasa dilakukannya kalau Paskal sedang mengagumi lukisannya. Serentak Paskal berbalik dan balas merangkul. • “Andra,” desahnya hangat, penuh kerinduan. Lalu Paskal menyadari, dia keliru. Tidak ada wangi parfum beraroma melati itu. Tidak | ada rambut hitam panjang yang menebarkan harum semerbak. Yang dipeluknya bukan Soiandra! Tidak ada Soiandra, Tidak ada istri yang dicintainya; Wanita yang dirindukannya. Yang dipeluknya Sania. Sahabatnya. Sahabat istrinya. “Maafkan aku, San,” desisnya dengan perasaan bersalah. “Sekejap tadi kukira kamu…” Paskal belum sempat melepaskan pelukannya. Karena Santa juga tampaknya tidak ingin dilepaskan. Dia malah melingkarkan kedua belah lengannya di leher Paskal. Dan mencium bibirnya dengan lembut. Paskal terkejut sekali. Tidak menyangka Sania berani melakukannya. Sania memang sudah berubah. Dia kini seorang wanita dewasa. Dan dia lama hidup dalam lingkungan yang sangat terbuka dalam menyatakan kasih sayang. Sania tidak ragu-ragu lagi menyatakan pe-. rasaannya. Apalagi Paskal kini seorang duda.’ Soiandra sudah meninggal. Tak ada lagi yang menghalangi Sania menyatakan cintanya. “Sania,” Paskal melepaskan bibirnya dengan perasaan tidak enak. “Tidak seharusnya kita melakukan ini….” “Sudah lama aku ingin mengatakannya, Pas,” Sania melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuhnya. Memunggungi Paskal. “Sudah lama aku sadar, aku mencintaimu. Aku memendamnya baik-baik demi Soiandra. Demi persahabatan kami.” Sekejap Paskal tertegun. Dia terkejut. Sangat terkejut. Sania mencintainya? Rasanya tidak masuk akal! “Tapi aku tidak pernah mencintaimu, San,” keluh Paskal ketika mulutnya sudah dapat dibuka kembali. “Bagiku, kamu sahabatku. Sahabat sejati. Sampai kapan pun.” “Juga sesudah Soiandra meninggal?” gumam Sania lirih. Hatinya sakit sekali sampai rasanya dia ingin menangis. I “Tak ada yang dapat menggantikan Soiandra, r San. Tidak juga kamu.” “Tidak ada harapan Jagi bagiku? Juga kalau aku rela menunggu sepuluh tahun lagi?” “Sampai kapan pun,” sahut Paskal tegas ¦ tapi pahit. Sania menjatuhkan dirinya ke kursi di dekatnya. Dia merasa lemas. Luruh. Hancur. Bahkan sampai saat terakhir Paskal tetap menolaknya. Kehilangan Soiandra tidak membuatnya membutuhkan seorang pengganti. Paskal menghampirinya dari belakang. Tegak di belakang kursinya. Dan memegang kedua belah bahunya. Meremasnya dengan simpatik. “Ada apa dengan Mike,. San?” tanyanya penuh pengertian. “Kalian bertengkar lagi?” “Kami tidak pernah cocok.” “Karena itu kamu lari padaku?” “Kamu bukan tempat pelarian, Pas,” Sania memegang lengan sahabatnya dengan sedih. “Kamu cintaku yang pertama. Sayang aku terlambat menyadarinya.” “Maafkan aku, San,” Paskal membelai bahu sahabatnya dengan sentuhan seorang teman. SDia merasa terharu mendengar pengakuan sahabatnya. Tetapi cinta tidak dapat dipaksa lahir dari sebuah keharuan. “Dari dulu sampa sekarang, kamu sahabatku. Aku menyayangimu. Tapi  hanya sebagai teman. Karena cintaku hanya untuk Soiandra. Aku tidak bisa memindahkannya. Biarpun dia telah meninggal.” “Pas,” Sania menengadahkan kepalanya. Menatap Paskal dengan tatapan berlinang air mata. “Maukah kamu mengabulkan satu permintaanku?” “Apa saja, San,” sahut Paskal lirih. “Asal aku bisa mengabulkannya.” “Bolehkah aku menunggumu sepuluh tahun lagi?” Aku tidak ingin meracuni hidupmu.” “Lebih baik hidup menyandang harapan daripada tidak memiliki harapan sama sekali, kan?” “Perkawinanmu tidak mungkin diperbaiki lagi?” “Mike ayah yang baik. Tapi bukan suami yang dapat diharapkan.” “Bukan karena kamu istri yang tidak setia? Kamu memikirkan lelaki lain selama menjadi istrinya?” “Aku tidak ingin mengatakannya,” sahut Sania pahit. Dia melepaskan tangan Paskal “Karena aku tidak ingin menghina lelaki yang f telah menjadi suamiku, seperti apa pun dia.” ¦ “Mungkin dia tidak dapat memuaskan batin- 1 mu- Tapi bukan hanya itu tujuan perkawinan, j San.” “Tahu kenapa kami belum bercerai sampai j sekarang?” dengus Sania pahit. “Karena anakku.” j “Anak alasan yang baik untuk memper- j tahankan perkawinan.” “Selama ini aku bersabar demi anakku. Tapi setelah berjumpa lagi denganmu, keputusanku berubah. Aku memutuskan untuk bercerai, kalau anakku sudah cukup besar untuk menerimanya.” “Mudah-mudahan saat itu pikiranmu sudah berubah lagi.” “Mudah-mudahan kamu juga sudah berubah, Pas,” Sania bangkit dari kursinya. Memutar tubuhl&amp;ya. Dan menatap Paskal dengan penuh harapan. “Sepuluh tahun lagi. Mungkinkah sudah ada secuil tempat kosong di hatimu untuk aku?” Paskal menghela napas panjang. Dadanya terasa sakit setiap kali menarik napas. “Jangan terlalu berharap, San,” gumamnya lesu. “Aku tidak ingin mengecewakanmu lagi; “Kecewa sudah menjadi jalan hidupku. Kuharap jalan itu berakhir sepuluh tahun lagi. Kalau aku menemukanmu berdiri di sana. Pada hari peringatan kematian Soiandra yang kesepuluh.” “Di mana?” “Ingat kantin tua di kampus kita? Tunggu aku di sana kalau kamu sudah bisa menerimaku. Aku bersumpah akan menggantikan, tempat Soiandra di hatimu.” Kamu akan kecewa lagi, San, desah Paskal dalam hati. Karena sejak dulu sampai kapan pun, tempat di hatiku hanya untuk Solandta! Hanya dia yang boleh berada di sana! *** Dan Paskal menepati janjinya. Dia tidak pernah menikah lagi. Bahkan tidak pernah bergaul intim dengan seorang wanita pun. • Hidupnya hanya diisinya dengan pekerjaan. Dan karena dia tidak mau lagi menjadi dokter setelah gagal menyembuhkan istrinya, dia bekerja di perusahaan ayahnya. Sekalian membayar utang. Mula-mula pekerjaannya memang amburadul sampai ayahnya merugi beberapa ratus juta. Ayahnya sudah berpikir-pikir untuk memecat-nya daripada perusahaannya bangkrut. Tetapi hanya sebulan sebeium ayahnya memecatnya, Paskal berhasil memulihkan dirinya. Pekerjaannya mulai membaik sehingga ayahnya berniat memberinya kesempatan beberapa bulan lagi. “lasanya memang hanya pekerjaan yang dapat menyembuhkannya,” kata Agusti ketika menerima laporan stafnya. “Cuma dengan bekerja dia dapat melupakan almarhum istrinya.” “Papa keliru kalau mengira dia dapat melupakan Soiandra,” keluh Paulin lirih. “Nggak gila saja sudah bagus, Pa.” “Kamu tidak punya teman wanita yang dapat kamu kenalkan pada abangmu, Lin?”r “Boro-boro teman wanita, Pa,” gerutu Paulin pahit. “Papa jangan mimpi deh.” “Tapi sampai kapan Paskal mau begini terus?” “Sudah nasibnya kali, Pa. Kita pasrah sajalah.” “Di dunia ini perempuan bukan cuma satu, Lini” “Tahu, Pa! Tapi perempuan yang dicintai Paskal justru sudah nggak ada di dunia!” “Lalu bagaimana kita bisa menolongnya?” Paulin tidak tahu. Prita juga tidak. Tidak ada yang tahu. Bahkan ayah mereka yang pintar itu pun tidak tahu. Tidak ada yang dapat mengubah Paskal. Tidak ada yang dapat membuatnya melupakan Soiandra. Setiap malam dia masih merindukannya. Membayangkannya. Memimpikannya. ¦ Setiap pagi dia masih bangun dengan kepala pusing. Dengan lesu. Tidak bergairah. Setahun telah berlalu ketika akhirnya Soiandra singgah dalam mimpinya. Tetapi kehadirannya hanya memuaskan sebagian kerinduan Paskal karena dia da pat melihat istrinya lagi. Dia tidak dapat menyentuh Soiandra. Tidak dapat menciumnya. Tidak dapat menggaulinya Bahkan tidak dapat mengajaknya ngobrol. Soiandra sudah berbeda. Dia seperti berada di dunia lain. Bisa dilihat. Tapi tak dapat disentuh. Pada akhir tahun yang kedua, Soiandra semakin kerap datang dalam mimpinya. Hampir setiap malam. Tetapi tidak ada yang dikatakannya walaupun tatapannya seperti ingin m&lt; ngatakan sesuatu. Paskal kenal sekali tatapa almarhum istrinya. Kaiau Soiandra memandangnya seperti itu, biasanya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Setiap kali terjaga dari mimpinya Paskal selalu memikirkan apa artinya pertemuannya dengan Soiandra tadi. Mengapa Soiandra tidak * berkata apa-apa? Benarkah dia sudah sampai di Taman Firdaus? Benarkah ada surga? Benarkah ada Tuhan? Mengapa tatapan Soiandra tampaknya begitu sedih? Apa yang ingin diungkapkannya? Sedihkah dia melihat keadaan Paskal? * Tetapi aku harus bagaimana, keluh Paskal getir. Tak ada kegembiraan lagi di dunia untukku, Andra! Tanpa kamu, yang ada dalam hidupku sekarang cuma penderitaan! Lebih bak ajak aku ke sana. Bawa aku bersamamu! *** “Pekerjaanmu mulai bagus,” kata ayahnya empat tahun kemudian. Dia orang yang peht dengan pujian. Tetapi melihat hasil kerja anak’ nya, dia tidak dapat mencegah mulutnya lagi untuk memuji. “Papa bangga padamu. Ingin memberikan penghargaan untuk prestasimu.” “Simpan saja hadiahnya, Pa,” sahut Paskal datar. “Buat nyicil utang Paskal.” “Kamu tidak mau menerima hadiah dari Papa?” “Tidak.” Agusti Prakoso mengerutkan dahinya. Makin khawatir melihat sikap anaknya. Mengapa seperti tidak ada hal yang dapat membuat Paskal gembira? Bahkan pujian ayahnya dianggapnya angin lalu saja! Padahal dalam hidupnya, be-‘ rapa kali ayahnya sempat memuji? “Sudah boleh pergi, Pa?” tanya Paskal jemu. “Masih banyak kerjaan.” “Tidak kamu tanya dulu apa hadiahnya?” “Tidak ada lagi yang dapat menggembirakan saya.” “Juga kalau hadiahnya tiket ke Las Vegas dan uang buat berjudi di sana?” Las Vegas! Tempat terakhir yang dikunjunginya bersama Soiandra! Tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan! Tentu saja Paskal mau ke sana. Tetapi hanya* bersama Soiandra. Dan bukan untuk berjudi! Bukan karena sekarang dia takut malaikat mencatat dosanya. Tapi karena judi sudah tidak dapat memuaskan dirinya lagi. ; Lagi pub dia sudah berjanji ketika Soiandra sakit, dia tidak akan menyentuh permainan itu lagi. Paskal tidak mau membuat Soiandra sedih. Dari tempatnya yang tinggi di atas sana, kalau benar ada surga di atas langit sana, Soiandra pasti sedih kalau melihat Paskal berjudi lagi. Jadi persetan dengan tawaran ayahnya! Papa tahu sekali kegemarannya. Ingin menyenangkan hatinya dengan memberikan hadiah itu. Tapi Papa tidak tahu, semua sudah berubah. Sekarang, tak ada lagi yang dapat menyenangkan hatinya. Karena sebenarnya dia sudah mati. “Sudah saatnya kamu mengubah hidupmu,” ayahnya mencoba menasihati. Agusti cemas sekali melihat kondisi anaknya. Dalam usia empat puluh dua tahun, dia seperti sudah tiga kali mati. Tidak ada sinar secuil pun di wajahnya. “Wajah itu selalu muram. Matanya redup. Dan senyum hampir tidak pernah hadir lagi di bibirnya. Mau jadi apa dia? Mayat hidup? “Hidup ini begitu indah. Sayang kalau disia-siakan.” Ya, hidup ini memang indah. Tapi selama Soiandra berada di sampingnya. Sesudah dia pergi, hidup ini seperti neraka’. “Ambil cuti. Pergilah berlibur. Manjakan diri- . mu. Kamu punya segalanya.” Kecuali satu. Soiandra. Dan itu yang utama! Itu yang terpenting! Tanpa Soiandra, hidupnya tidak berarti lagi1. “Sumbangkan saja hadiah Papa ke rumah yatim-piatu, Pa,” cetus Paskal tawar. “Barangkali di sana masih ada kegembiraan.” Dan Papa bisa meringankan dosa! “Benarkah tidak ada lagi yang dapat Papa perbuat untuk menyenangkan hatimu?” keluh Agusti Prakoso sedih. Hanya kalau Papa dapat menghidupkan-Soiandra kembali! Dan membawanya kepada saya! “Papa tahu kamu sangat mencintai istrimu. Tapi Soiandra sudah empat tahun meninggal. Kamu sudah harus mulai melupakannya dan mencari penggantinya.” v^jfl Kalau saja semuanya semudah itu, Pa! Tapi  sampai kapan pun saya tidak dapat melupakan Soiandra. Karena dia belahan jiwa saya. Dia berada dalam hati saya. Jantung saya. Mata saya. Kepala saya. Napas saya! Kalau saya mengusirnya dari sana, saya ikut mati\ Bab XV bibir tebing terjal di Grand Canyon of Colorado, Paskai tegak tepekur mengawasi kebesaran alam. Tapi kali ini dia mengaguminya seorang diri. Tak ada lagi wanita yang sangat ‘dikasihinya Yang biasanya tegak di sisinya dengan pinggangnya yang ramping dalam rengkuhan lengannya. Tak ada wanita cantik yang sangat dikaguminya. Yang menguasai segenap cinta yang dimilikinya. Sang kehadirannya membuat hidupnya terasa indah. Kali ini dia tegak seorang diri di sini. Dengan nostalgia yang sangat menyakitkan. “Aku merasa berdiri di batas antara bumi dan langit, Mas,” gumam Soiandra ketika terakhir kalinya dia berada di tempat ini. Matanya memandang jauh ke jurang terjal di bawah emantulkan aneka warna bebatuan. Ungu. Cokelat. Merah. “Jika Tuhan bisa menciptakan keindahan yang begini memukau di bumi, Dia pasti memiliki Taman Firdaus yang lebih indah lagi di surga.” Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang kedua puluh. Paskal pernah berjanji untuk membawa istrinya kemari lagi. Paskal tidak ingin mengingkari janjinya. Lebih-lebih janji pada wanita yang sangat’dicintainya. . “Mas janji kita akan ke sini lagi pada hari ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh?” terngiang kembali di telinga Paskal pertanyaan Soiandra. Diucapkannya dengan manja ketika mereka sedang menikmati hotdog berdua di kedai cepat saji, dalam perjalanan dengan bus dari Las Vegas ke Los Angeles sepuluh tahun yang lalu. Paskal bukan hanya ingin menepati janjinya. Pada hari istimewa ini, dia memang ingin berada di sini. Di tempat yang paling disukai Soiandra. Di tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan indah. Di tempat Paskal ingin mengenang istrinya. Sudah sepuluh tahun berlalu. Tapi kata-kata Soiandra masih terngiang jelas di telinga Paskai. di sini. Paskal malah masih bisa mengenang dengan jelas harumnya parfum istrinya ketika l dia merangkul tubuh Soiandra dari belakang. Paskal begitu merindukan Soiandra. Dia 1 ingin bisa memeluk tubuhnya lagi. Mencium bibirnya lagi. Membelai rambutnya lagi. “Aku ingin menikmati saat-saat seperti ini sepuluh tahun lagi, Mas.” Suara Soiandra seperti I berembus di telinga Paskal. Padahal tidak ada | angin. Tidak ada kabut. Tidak ada apa-apa. Tetapi mengapa dia seperti mendengar suara Soiandra? Ada di sinikah dia sekarang? Mengapa aku tak dapat melihatnya? Datanglah, Andra, pinta Paskal lirih. Temani suamimu. Muncullah sekali saja. Supaya dapat kurengkuh tubuhmu. Kubenamkan dalam pelukanku____ Tetapi Soiandra tidak muncul. Dia tidak datang. Bayangannya pun tidak. Bahkan suaranya yang lembut itu tidak berembus lagi. Semuanya hening. Semua sunyi. Sia-sia Paskal menunggu. Sia-sia dia berpanas-panas di sana. Tak ada Soiandra. Tak ada istrinya yang cantik. Yang sangat dicintainya. Bahkan sesudah tujuh tahun berlalu, cinta itu tak lekang juga. Cintanya masih tetap seperti dulu. Seutuh dulu. Cinta yang abadi. Yang tak tergantikan. Paskal masih menunggu beberapa saat lagi sampai dia yakin, Soiandra tidak datang. . Soiandra sangat mengagumi tempat ini! Dia senang tegak di sini. Di antara langit dan bumi. Tapi sekarang dia memilih tempat yang lebih indah. Taman Firdaus, katanya. Begitu betahkah dia di sana sampai tak mau datang menjenguk suaminya? Atau… dia tidak bisa datang? Dia ingin. Tapi tak mampui *** Paskal pulang dengan kecewa ke hotelnya. Hotel yang terakhir ditempatinya bersama Soiandra. Senja sudah turun di Las Vegas. Tetapi panasnya masih tetap seperti di padang pasir. Membuat Paskal ingin buru-buru masuk ke hotelnya. Dia melewati lobi hotelnya yang luas. Yang dipenuhi mesin-mesin dan meja judi. Tetapi gemennting uang iogam tidak memikat hatinya ¦ lagi. Tumpukan chips tidak menantang se-r* mangat judinya lagi. Dia lewat saja dengan lesu. Menolefi saja tidak. Meskipun haus, ke coffee tidak memancing seleranya lagi. Come Back to Sorrento yang membuai lembut malah menambah pedih luka di hatinya. D ia langsung menuju ke kamarnya. Kamar i yang sepi. Kamar yang kosong menyiksa…. j Paskal membuka pintu kamarnya tanpa j mengharapkan sambutan. Dia mengira akan j mengendus udara kamarnya yang sejuk tapi I kosong. Tetapi begitu pintu terbuka, yang membelai I hidungnya justru aroma parfum yang sudah sangat dikenalnya. Aroma yang selalu mem-buarnya mabuk kepayang. Campuran harum I melati yang lembut dan aroma sitrus yang j menggoda. Dan Paskal belum sempat menutup pintu ketika makhluk yang amat memesona itu mun- ‘ cul begitu saja entah dari mana. “Hai,” sapanya lembut mendayu bagai angin berembus. Paskal membuka matanya lebar-lebar. Hampir tidak memercayai penglihatannya sendiri. Wanita cantik itu tegak di hadapannya bagai bidadari yang turun dari kahyangan. Rambutnya yang hitam lurus tergerai bebas sedikit melewati bahunya yang terbuka. Gaunnya yang berwarna hijau melon dengan keyhole front dan halter neck memamerkan bahunya yang putih mulus mengundang belaian. Sementara sabuk hitam yang meliliti pinggangnya yang ramping semakin membius Paskal. Membuatnya sampai lupa menutup pintu. “Andra!” desah Paskal hampir tercekik. Soiandra menyunggingkan seuntai senyum manis yang memabukkan. Dia memutar tubuhnya di depan suaminya. Membuat kerinduan Paskal semakin menggelegak tak tertahankan. “Bagaimana?” Senyum Soiandra begitu menggoda. “Bagus nggak bajunya?” Pertanyaan yang sama! Benarkah ini peristiwa nyata? Atau cuma halusinasinya semata-mata? Dia begitu mendambakan istrinya sampai khayalan itu muncul dari alam bawah sadarnya, menembus ke alam nyata? Tetapi halusinasi atau bukan, Paskai tidak hendak melepaskannya lagi. Dia tidak mau kehilangan Soiandra lagi! Diraihnya istrinya dengan penuh kerinduan ke dalam pelukannya. Dikecupnya bahunya yang terbuka dengan mesra. Ketika bibirnya mulai merambah ke leher dan tangannya mulai melepaskan gaun istrinya, Soiandra menggeliat manja sambil tertawa lembut. “Percuma beli baju hampir tiga ratus dolar! Dilihat saja enggak!” “Kamu datang, Andra,” desah Paskal penuh kerinduan. Tidak memedulikan kelakar istrinya. Tidak memedulikan benarkah Soiandra yang berada dalam pelukannya. “Akhirnya kita bertemu lagi!” Didekapnya Soiandra erat-erat. Diciuminya rambutnya. Wajahnya. Bibirnya. Lehernya. Dadanya. “Jangan pernah meninggalkanku lagi,” pinta Paskal sambil membelai rambut istrinya. Rambut yang dikaguminya. Rambut yang memancarkan harum semerbak. “Jangan pergi, Andra!” Mula-mula Paskal tidak tahu dia berrnimpi, berkhayal, atau benar-benar berada di alam nyata. Semuanya terasa begitu nyata. Bukan halusinasi. Bukan mimpi. Dia seperti memeluk Soiandra. Menciuminya. Membelainya. Soiandra benar-benar datang ke kamarnya. Tersenyum. Bicara. Tertawa. Sudah gilakah aku? pikir Paskal ketika semuanya telah berakhir dan dia menemukan dirinya tergolek seorang diri di atas ranjang dalam kamarnya yang sepi. Tapi kalau menjadi gila memberikan kenikmatan yang demikian dirindukannya, rasanya dia rela gila! Kalau dengan menjadi gila dia dapat bertemu kembali dengan Soiandra, apa ruginya menjadi orang gila? Sayangnya kegilaan semacam itu tak dapat diulanginya lagi. Berapa hari pun dia menunggu di sana, dia tak pernah lagi mengalami sensasi seperti itu. Soiandra tidak pernah muncul lagi. Sia-sia Paskal menunggu. Sia-sia dia memohon. Akhirnya dengan putus asa dia pulang ke akarta. Menyimpan barang-barangnya di rumah. Mengabari adiknya dia sudah pulang. Lalu dia langsung ke kuburan. Bersimpuh di depan makam istrinya. Memandang getir nisan Soiandra. “Aku rindu, Sayang,” bisiknya sambil menabur bunga. “Kapan kita bisa bertemu lagi?” ” Sehari-semalam Paskal bersimpuh di sana. Sampai ayah dan adiknya datang menjemputnya setelah mencarinya ke sana kemari. “Rasanya sudah saatnya kita bawa dia ke psikiater, Fa,” cetus Paulin iba. Tidak sampai hati melihat keadaan abangnya. “Tidak,” sahut ayahnya tegas. “Paskal tidak gila. Dia kuat. Kalau dia lemah, dia sudah gila sejak tujuh tahun yang lalu. Ketika Soiandra meninggalkannya.” “Bukan cuma orang gila yang memerlukan psikiater, Pa,” keluh Paulin pahit. Akhirnya Agusti mengalah. Da n mengantarkan anaknya ke seorang dokter kenalannya. . Dokter ku mengonsultasikan Paskal kepada seorang psikiater. Dokter Rosa Andolini tampil secantik namanya. Meskipun, usianya sudah empat puluh satu tahun, tidak seorang pun dapat membantah, dia masih sangat menarik. Pakaiannya rapi. Rambutnya tertata dengan baik. Makeup-nya pun pas. Tidak berlebihan. Sesuai dengan umurnya. Sesuai pula dengan profesinya. Dan karena dia seorang doktet jiwa, pasiennya dari kalangan atas pula, dia tidak perlu berlelah-lelah memeriksa pasien. Dia hanya perlu mengajak mereka bicara. Tetapi jangan kaget kalau berbicara dengan dia selama dua puluh menit dikenakan biaya konsultasi sebesar dua ratus lima puluh ribu. Mula-mula Paskal juga menganggap kedatangannya ke sana hanya buang-buang waktu dan uang saja. Apa yang diharapkannya dari dokter wanita itu? Andolini tidak dapat menyembuhkan jiwanya bagaimanapun pandainya dia. Dokter itu juga tidak dapat melenyapkan kesedihannya betapa pintarnya pun dia bicara. Dan yang paling penting, dia tidak dapat menghadirkan Soiandra! Tidak di kamar praktiknya. Tidak juga di kamar tidur Paskal. Jadi buat apa dia kemari seminggu dua Mula-mula Paskal memang hanya ingin mengikuti kehendak ayahnya. Karena dia sudah malas membantah. Malas berdebat. Pulang dari Las Vegas dia memang sudah seperti patung bernyawa. Kalau tidak disuruh makan, tidak makan. Kalau disuruh ke dokter, dia berangkat ke sana tanpa membantah. Tetapi lama-kelamaan, dia merasa betah juga mengobrol dengan Dokter Andolini. Dia bukan hanya sabar. Siap mendengarkan seluruh keluhan pasiennya. Termasuk kemarahan Paskal terhadap nasib buruk yang menimpa istrinya. Kesedihannya karena kehilangan wanita yang sangat dicintainya. Sampai keraguannya atas kemungkinan adanya hidup yang kedua. Kehidupan setelah kematian. “Soiandra hadir kembali dalam hidupku. Aku bisa memeluknya. Menciumnya. Aku melihat senyumnya. Mendengar tawanya. Tidak. Itu bukan mimpi! Bukan halusinasi! Dia sungguh-sungguh datang kembali!” Kelebihan Dokter Andolini bukan hanya kesabarannya mendengarkan. Tapi juga kemahirannya mengikuti arus emosi pasiennya. Dia tidak membantah pendapat Paskal. Tidak menyela kata-katanya. Tidak menganggap penumpahan perasaannya itu omong kosong belaka. Dan yang paling penting, Dokter Andolini tidak menganggap pasiennya gila. Sakit jiwa. Ngawur. “Aku ingin mengulanginya lagi, Dokter. Aku ingin melihatnya kembali. Aku sudah mencoba minum obat-obat psikotogenik untuk menim* bulkan halusinasi. Tapi Soiandra tidak datang dalam halusinasiku.” “Saya mengerti,” sahut Dokter Andolini ramah. Simpatik. Penuh pengertian. Dia selalu menempatkan dirinya di pihak pasiennya. Bukan di seberangnya. Bukan rahasia lagi kalau hampir setiap pasiennya merasa begitu tergantung padanya setelah tetapi mereka berakhir. Pada setiap akhir sesi, mereka merasa lebih lega. Dan ingin datang lagi untuk sesi berikutnya. Dokter Andolini hampir tidak pernah memberikan obat kepada pasiennya. Apalagi kepada pasien yang dokter seperti Paskal. Yang dilakukannya hanya psikoterapi. Dan setelah enam kali bertemu muka, Paskal merasa gelombang emosinya mulai membaik. Dia sudah bisa bekerja kembali. Sudah.kernbah ke rutinitas kehidupannya seperti sebelum berangkat ke Las Vegas bulan Jaiu. Memang masih tetap hidup yang kosong. Tandus. Gersang. Tapi paling tidak, dia tidak gila. Atau tidak ingin menjadi gila.- Hanya karena dia ingin bertemu lagi dengan Soiandra. Terima kasih telah menyeimbangkan kembali emosi saya, Dok,” kata Paskal sore itu di kamar prakak Dokter Andolini yang luas dan sejuk. Tidak seperti kamar praktik dokter pada umumnya, mang praktik itu lebih mirip ruang tamu yang asri dan menyenangkan. Tidak ada bau obat suntik yang membuat perasaan pasien menjadi tegang. Atau bau lisol yang menyebabkan hidung mendengus. Pengharum ruangan beraroma pinus, dikom-binasi dengan hijaunya daun-daun wave of love yang panjang melengkung menyejukkan mata, tampil begitu dominan di ruangan itu. Tidak ada buku yang bertumpuk-tumpuk menyesakkan napas. Tidak ada majalah yang berserakan merusak pemandangan. Semua b ukunya tertata rapi di rak buku. Majalah disusun rapi seperti di perpustakaan. Bukan itu saja. Jika haus tiba-tiba mengganggu di tengah-tengah sesi, minuman dapat diambil seenaknya di bar kecil atau di lemari es di sudut ruangan. Musik lembut mengalun merdu dari perangkat CD. Sementara TV plasma yang tergantung di dinding menampilkan gambar-gambar indah laksana lukisan. Semuanya menyebabkan pasien yang berada di ruangan itu merasa santai. Biasanya mereka duduk di sofa panjang berjok kulit lembut dengan warna pastel yang nyaman. Sementara Dokter Andolini sendiri duduk agak jauh di kursi putarnya. Tempat dia bisa mengawasi pasiennya dengan baik tanpa pasien itu sendiri merasa diawasi. “Apa arti kata-kata ini?” Dokter Andolini tersenyum manis. Senyum yang selalu menyejukkan hati pasien-pasiennya. Membuat mereka tidak merasa rugi mengeluarkan uang hanya supaya bisa ngobrol dengan dokter itu. “Tidak ,ada pertemuan berikutnya? Anda sudah merasa sembuh?” Paskal membalas senyum dokter itu dengan menyunggingkan seuntai senyum pahit. “Saya tidak dapat sembuh kecuali dapat bertemu lagi dengan istri saya.” “Sejak semula, saya yakin Anda tidak sakit, Dokter Paskal. Anda hanya terobsesi untuk bertemu lagi dengan istri Anda.” Terima kasih atas pengertian Anda. Saya juga berterima kasih karena sejak semula Anda . tidak menganggap saya gila.” Ketika Paskal bangkit sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan dokter itu, Rosa Andolini melakukan sesuatu yang tidak disangka-sangka. Dia bangun dari kursinya. Dan menampar pipi Paskal sekuat-kuatnya. Paskal terjajar mundur saking kagetnya. Mukanya terasa pedih. Tapi rasa terkejutnya membuat dia hampir tidak memedulikan rasa sakitnya. “Apa arti tamparan ini?” tanyanya bingung sambil mengelus pipinya. “Salah satu cara pengobatan baru di bidang psikiatri?” ‘”Supaya Anda merasa sakit,” sahut Dokter Andolini tenang. “Dan supaya Anda tahu, bukan hanya Anda yang pernah merasa sakit. Banyak orang yang kehilangan orang yang mereka cintai. Mereka sakit. Tapi mereka berangsur sembuh. Waktu akan menyembuhkan luka mereka.” “Pernyataan ini untuk pasien saja, atau juga untuk dokternya?” tanya Paskal pahit. “Ternyata saya memang berhadapan dengan seorang dokter,” senyum kagum bermain di bibir Dokter Andolini. “Rupanya selama saya memeriksa Anda, Anda juga menganalisis saya.” “Anda juga pernah kehilangan, Dokter? Pernah merasa sakit seperti saya?” “Tiga belas tahun yang lalu, suami saya tewas dalam kecelakaan pesawat terbang.” “Anda pasti sangat kehilangan.” “Tapi saya tidak luluh dalam kesedihan seperti Anda. Setelah gagal bunuh diri, saya malah memutuskan untuk masuk psikiatri.” “Mungkin suatu saat nanti Anda mau menceritakan kisah Anda pada saya.” “Kenapa tidak sekarang saja?” tantang Dokter Andolini tegas. Tantangan itu membuat Paskal tertegun. Sekejap dia hanya menatap dokter iru tanpa mengucapkan sepatah kata pun. *** Dokter Rosa Andolini mengajak Paskal makan malam di sebuah restoran tua di daerah Menteng. “Di sini dulu Anda biasa makan malam dengan suami Anda,” cetus Paskal ketika pesanan makanan mereka datang. “Tidak,” sahut Rosa Andolini sambil menyunggingkan seuntai senyum getir. “Kami tidak “pernah makan di sini. Kecuali pada malam terakhir sebelum dia berangkat.” “Sesudah itu, Anda pernah makan di sini lagi?” Rosa menggeleng. “Baru malam ini.” “Kalau begitu, saya merasa diistimewakan.” Bagi Rosa Andolini, Paskal memang pasien istimewa. Dalam enam kali pertemuan, dia sudah merasa dekat dengan pasien yang satu ini. Bukan hanya karena mereka sama-sama dokter, tapi juga katena kisah cinta mereka yang sama-sama beraldur tragis. “Ketika Bambang pergi, saya sedang hamil enam bulan,” kata Rosa tanpa ditanya. “Anak yang begitu kami dambakan dalam tiga tahun perkawinan kami.” “Sebelum Soiandra pergi, dia ingin sekali memberikan seorang anak kepada saya. Tapi harapannya itu tak pernah kesampaian. Anda lebih beruntung dari saya, Dok. Karena ada yang ditinggalkan suami Anda untuk Anda. “Bagaimana kalau malam ini kita buat perjanjian?” “Perjanjian apa? Maaf. Saya orang yang tidak pandai menepati janji.” ” Saya rasa Anda justru orang yang bersedia mati untuk mempertahankan janji Anda.” “Janji apa yang akan kita buat malam ini? Saya harap bukan pertemuan untuk terapi berikutnya.” Rosa Andolini tersenyum manis. Matanya bersinar menggoda. Tapi Paskal tidak tergugah. Mata itu bukan mata Soiandra. Bukan mata .yang dikaguminya. Bukan mata yang dipujanya. “Tidak perlu. Anda sudah sembuh.” “Jadi?” “Karena Anda bukan pasien saya lagi, tolong jangan panggil saya Dokter.” Sesaat Paskal tertegun. Lalu seuntai senyum merekah di bibirnya. Alangkah tampannya dia, pikir Rosa kagum. Seandainya saja senyumnya tidak sepahit itu. “Panggil saya Rosa. Oke? Sekarang kita kolega. Hubungan kita bukan hubungan, doktet-pasien lagi.” “Oke,” Paskal mengangguk. “Tapi .sud* lama saya bukan dokter lagi.” “Saya tidak peduli. Kita sama-sama membutuhkan seorang teman. Karena kita punya garis nasib yang hampir sama. Ditinggal oleh orang yang kita cintai.” Sejak makan malam itu, sebenarnya Rosa Andolini sudah membuka lebar-lebar pintu hatinya. Sayangnya, Paskal tidak pernah mengambil peluang yang disodorkan. Dia tidak menolak diajak makan malam. Tidak menolak diminta menemani menghadiri seminar. Tetapi ketika Rosa Andolini. menghendaki peningkatan hubungan mereka, Paskal menolak. Padahal setelah minum dua cawan anggur sesudah makan malam di hotel berbintang lima itu, mereka sama-sama merasa terbuai. Hangatnya alkohol bukan hanya meningkatkan libido, sekaligus membuat mereka lebih terbaka. Paskal mengerti sekali apa yang diinginkan Rosa saat ini. Bukan hanya matanya saja yang memancarkan keinginan itu. Bahasa tubuhnya pun menyatakan demikian. Tetapi Paskal tidak ingin melayaninya. Dia memilih mengantarkan Rosa pulang daripada berkencan di kamar hotel. f ~j “Maafkan saya,” gumam Paskal dalam mobil ketika keheningan menyelimuti suasana. Dia tahu sekali mengapa Rosa mendadak jadi bisu. Dia pasti sangat kecewa. “Saya belum dapat melakukannya.” “Belum dapat atau tidak mau?” cetus Rosa dingin. “Saya belum dapat melupakan Soiandra.” “Tapi suatu hari kamu harus bisa melupakan-I nFa-” Bagaimana aku bisa melupakan desah napasku sendiri, keluh Paskal getir. Soiandra mem-bayangiku ke mana pun aku pergi! Bahkan di balik kecantikanmu, Rosa, aku masih melihat Soiandra! Masih membayangkan wajahnya. Tatapan matanya. Senyumnya. ¦ Menghirup aroma parfummu mengingatkan aku pada harumnya tubuh istriku. Harumnya rambutnya. Lipstiknya. Bagaimana aku bisa melupakannya? Bagaimana aku bisa menggeser Soiandra, menggantinya dengan perempuan lain, siapa pun dia? Paskal tidak pernah datang lagi ke kamar praktik Dokter Rosa Andoiini. Beberapa kali Rosa mencoba menghubunginya. Tetapi Paskai selalu menghindar. “Apa sih kurangnya dokter itu?” gerutu Paulin, yang sudah merasa gerah melihat dinginnya reaksi abangnya terhadap wanita. 1 Dia tahu sekali sudah berapa kali Dokter Andolini menelepon Paskal. Di rumah. Di kantor. Di ponsel. Tetapi Paskal tidak mau melayaninya. “Nggak ada,” sahut Paskal acuh tak acuh. “Lalu kenapa ditolak? Sampai kapan kamu mau begini terus?” “Sejak kapan itu jadi urusanmu?” “Aku khawatir melihat keadaanmu, Paskal!” “Seharusnya kamu khawatir sejak tujuh tahun yang lalu!” “Kami semua memang khawatir,” gerutu Paulin gemas. “Kamu yang tidak peduli!” “Tidak usah khawatir. Aku tidak apa-apa. Dokter Andolini juga bilang aku sudah sembuh. Tidak usah datang ke tempat praktiknya lagi.” “Kamu jangan berlagak bodoh, Paskal! Kamu bukan nggak tahu kan dokter itu naksir kamu?” “Bukan urusanmu.” “Kamu tidak tertarik padanya?” “Tidak termasuk hal yang harus kuiaporkan pada atasan, kan?” “Serius, Paskal! Kami semua berharap kamu jadi manusia lagi! Bukan mayat hidup seperti tujuh tahun terakhir ini!” “Tapi mayat hidup ini tidak merugikan perusahaan, kan? Atau kamu ingin aku di-PHK?” “Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan!” Paulin hampir menjerit saking gemasnya. “Kami ingin kamu hidup normal lagi! Punya istri. Punya anak kalau bisa. Punya kehidupan. Punya masa depan____” “Terima kasih, Paulin,” suara Paskal melunak. “Aku tahu apa yang harus kulakukan.” “Jangan sia-siakan kesempatanm u, Paskal. Dokter Andolini pasangan yang cocok untukmu. Dia memahami dirimu. Mengerti kesulit-anmu. Dapat merasakan penderiraanmu. Kamu mau tunggu yang seperti apa lagi?” “Yang seperti Soiandra,” sahut Paskal mantap. Sesudah itu Paulin tidak mampu membuka mulutnya lagi. Dia kesal. Sekaligus iba pada kakaknya. *** Sepeninggal Soiandra, Paskai memang tidak memberikan kesempatan kepada perempuan mana pun untuk masuk daiam hidupnya. Tidak Dokter Rosa Andoiini. Tidak juga Sania. Pada hari kematian SoJandra yang kesepuluh, Paskal malah pergi ke rumah mertuanya di Surabaya. Bukan menunggu Sania di kantin I tua di kampusnya. Di dalam pesawat yang menerbangkannya ke Surabaya, pikirannya melayang sekejap ke Jakarta. Sudah tibakah Sania di sana? Sedang menunggu dengan sia-siakah _dia.. di kantin kampus mereka? Kasihan. Dia pasti sangat kecewa. Tapi hidup memang kejam. Tak ada orang yang tak pernah kecewa. Dan tak ada yang dapat Paskal lakukan untuk menolongnya. Karena Paskal tidak mau bersandiwara. Berpura-pura mencintai Sania hanya supaya dia tidak kecewa. Maafkan aku, San, desah Paskal pedih. Aku masih belum dapat melupakan Solandra. Belum dapat menggantinya dengan dirimu. Karena dia masih bertakhta di hatiku. Tak ada tempat kosong untukmu. Pada saat yang sama, di kantin sebuah universitas di Jakarta, Sania sedang mengusap air matanya dengan kecewa. Kantin itu sudah berubah. Tak ada lagi kantin tua yang membangkitkan kenangan-kenangannya semasa mahasiswa. Nostalgia persahabatannya dengan Paskal. Kantin itu sudah lenyap. Berganti dengan kantin baru yang tidak dikenalnya. Tetapi kekecewaan Sania bukan hanya karena tidak ada lagi yang dikenalnya di sana. Tetapi juga katena dia tidak menemukan pria yang dicarinya. Paskal tidak muncul. Sia-sia Sania duduk lima jam lebih di sana. Sampai pemilik kantin itu merasa heran. Apa yang ditunggu wanita separo baya ini£ Seorang teman lama? Bekas pacar? Mukanya tampak demikian sedih dan kecewa. Tidak datangkah orang yang dinantikannya? Orang itu pasti bekas pacarnya waktu kuliah dulu. Kalau tidak, masa parasnya begitu muram? Cinta, desah pemilik kantin itu dalam hati. Indah, sekaligus menyakitkan! Lihat bagaimana sikapnya waktu membayar minumannya. Lihat bagaimana cara dia radangkah. Tertatih-tatih seperti mengidap penyakit kronis.Sebelum meninggalkan kantin dia masih menoleh sekali lagi. Berpikir sebentar. Seperti mempertimbangkan mau menunggu lagi atau tidak. Akhirnya dia melangkah ke luar dengan paras muram. Sania memang masih ragu. Tidak datangkah Paskal? Mungkinkah dia lupa? Siapa tahu dia baru ingat nanti malam. Mungkin dia terlalu sibuk. Daripada harus kembali dengan sia-sia ke Melbourne, Sania memutuskan untuk pergi ke rumah Paskal. Bahkan juga ke kantornya kalau perlu. Ke mana saja. Asal dia dapat menemui lelaki itu. Tetapi jawaban yang diperolehnya membuat Sania lemas. Paskal tidak ada di rumah. Tidak ada di kantor. Pembantunya tidak tahu ke mana dia pergi. Adiknya mungkin tahu, tetapi tidak mau mengatakannya: Akhirnya Sania terpaksa pulang dengan sia-sia. Penantiannya selama sepuluh tahun tidak membuahkan hasil. Rupanya Paskal tetap belum dapat melupakan Solandra. Sampai kapan pun. Bab XVI ETELAH menghadiri perayaan ulang, tahun ayahnya yang ketujuh puluh tujuh, Paskal langsung berangkat ke Surabaya. Dia menerima sms, ibu Solandra sakit. Dan Elena mengharapkan kedatangannya. Dia tidak dapat memenuhi janjinya untuk menemui rekan bisnisnya di Tours. Penyakit jantungnya mendadak kambuh. Dokter melarangnya melakukan aktivitas apa pun. Jadi terpaksa untuk pertama kalinya dia minta tolong pada Paskal. “Pertemuan ini sangat penting,” katanya ketika Paskal menjenguknya di rumah sakit. “Penting untuk kelanjutan bisnis Mama.” “Tentu,” Paskal menggenggam tangan mertuanya sambil tersenyum lembut. “Kalau tidak, mana pernah Mama minta tolong pada saya?” Sudah empat belas tahun JEJena Mandagie kehilangan anak kesayangannya. Selama itu, Paskal dengan rajin mengunjunginya setiap enam bulan. Tetapi Elena belum pernah sekali pun minta bantuan menantunya. “Kata Solandra, kamu tidak menyukai bisnis pakaia n.” “Sekarang saya berkecimpung dalam bisnis pakaian jadi juga, Ma. Tidak sia-sia Andra mengajak saya ke toko Mama saat terakhir kami mengunjungi Mama di Surabaya.” “Syukurlah kalau begitu,” ibu Solandra menghela napas berat. Matanya yang redup menerawang jauh seperti mengenang pertemuannya yang terakhir dengan putrinya. “Supaya Mama punya penerus untuk melanjutkan bisnis ini jika Mama sudah tidak ada.” “Mama jangan ngomong begitu ah.” “Mama serius, Pas. Mama ingin mewariskan | bisnis ini padamu.” “Mama tidak takut perusahaan yang sudah j Mama bina dari muda ini bangkrut di tangan saya?” Paskal mencoba bergurau untuk mencairkan suasana. “Mama kan tahu kualitas , saya.” “Justru karena Mama tahu kualitasmu. Ayahmu sudah beberapa kali menyampaikan kemajuanmu. Mama bangga mendengarnya.” Paskal tersentak kaget. Ditatapnya ibu Solandra dengan tatapan tidak percaya. “Papa menelepon Mama?” “Malah sudah dua kali datang kemari.” “O ya?” Paskal tertegun bingung. “Mama sudah memaafkannya,” desah ibu Solandra lirih. “Kapan, Ma?” desak Paskal tidak percaya. “Kapan Mama memaafkan ayah saya?” “Di pemakaman Solandra. Empat belas tahun yang lalu. Ketika dia datang menyalami Mama. Ketika melihat air mata yang menggenangi matanya, Mama tahu saat itu dia tidak bersandiwara. Dia benar-benar menyesal.” Paskal tidak mampu mengucapkan separah kata pun. Jadi kepergian Solandra ternyata tidak sia-sia. Dia sudah berhasil mendamaikan orangtua mereka! *** Tours terletak tiga ratus kilometer di selatan Paris. Terletak di daerah yang disebut Chateaux Country, di lembah Loire yang permai. Dan seperti namanya, di area itu terdapat berbagai chateau yang indah-indah dan bersejarah, seperti Chenenceaux, Amboise, Cheverny, Chambord, dan masih banyak Jagi Tetapi sepeninggai Solandra, Paskal seperti kehilangan seluruh gairahnya untuk bertualang menyusuri perjalanan sejarah. Kehilangan semangat untuk menyaksikan keindahan yang bertebaran di sekitarnya. Sekarang semua itu tidak menarik lagi baginya. Tanpa Solandra, tak ada lagi keindahan. Yang ada hanya kemuraman dan rutinitas pekerjaan. Memang membosankan. Tapi apa lagi yang dapat dilakukannya? Tiap hari dia hanya ber- j harap semoga malam cepat datang. Semoga hari ini cepat berlalu. Semoga hari esok cepat muncul. Dan semoga dia semakin dekat ke hari pertemuannya kembali dengan Solandra. Karena itu Paskal tidak mau membuang-buang waktu. Jalan-jalan ke chateau? Buat apa? Dia kan bukan turis lagi! Buat apa melibat bangunan kuno, melihat ranjang dan meja-kursi yang sudah berumur ratusan tahun? Yang ingin dilihatnya cuma Solandra.’ Tapi dia tidak ada di sana! g saja menuju Tours untuk menyelesaikan tugasnya. Bertemu dengan mitra bisnis ibu Solandra di sebuah galeri yang sangat terkenal di kota itu. Dan membicarakan topik bisnis mereka. Pembicaraan itu baru selesai sekitar pukul tiga siang. Dan Paskal merasa perutnya lapar sekali. Dia langsung berjalan kaki ke seberang dan masuk ke sebuah kafe. Memesan sepotong cheesecake dan secangkir kopi. Sambil duduk di bawah payung lebar berwarna merah, dia menikmati kesibukan jalan raya di depannya. Saat itu sudah hampir setengah empat sore. Angin yang berembus sejuk sudah mulai terasa menggoda kulit. Matahari bersinar malu-malu, mengintai di celah-celah ranting-ranting pohon yang rindang di tepi jalan. Cuaca meredup dan suram. Tapi lampu jalanan berbentuk lima bola yang terpancang di atas tiang di hadapannya belum dinyalakan. Barangkali memang masih terlalu sore. Selesai menyantap kue dan menghirup kopinya, Paskal melangkah ke depan kafe. Di sana ada sebuah bangku panjang berwarna kelabu yang kebetulan kosong. skal duduk-duduk di sana menikmati ma nusia yang laiu-laiang di kaki Jima di hadapannya. Di samping kaki lima, ada sebuah jalan kecil yang hanya muat satu mobil. Tapi jalan sesempit itu pun masih sesak dipadati kendaraan. Paskal melayangkan pandangannya ke seberang, ke gedung megah yang dihiasi delapan pilar dan disebut Palais de Justice. Di halaman depan, air mancur mencipratkan airnya sementara bendera Prancis melambai-lambai di atapnya. Pukul empat tepat, ketika lon ceng di atas ‘Hotel De Ville berdentang, sebuah bus berwarna hijau telur asin berhenti di pemberhentian bus. Penumpang berduyun-duyun turun. Ramai. Tapi tertib. Sebagian menyeberangi jalan. Beberapa di antaranya melangkah ke kaki lima dan melewati tempat Paskal duduk. Saat itulah mata Paskal tertumbuk pada seorang gadis remaja berpenampilan Melayu. Gadis itu mengenakan celana hipster dengan blus tanktop yang memamerkan pusar dan bahunya, seolah tidak peduli pada sejuknya udara yang menyapa kulitnya. Padahal dia bawa jaket. Jaket biujins itu melongok keluar dari ranselnya. Paras gadis itu luar biasa cantik. Rambutnya yang hitam lurus tergerai melewati bahunya yang mulus dan terbuka. Sementara pinggangnya yang ramping terayun gemulai laksana dahan pohon yang bergoyang ditiup angin ketika dia melangkah. Tetapi bukan kecantikan bidadari itu yang mengempaskan naluri Paskal. Dalam empat belas tahun terakhir ini, berapa banyak bidadari yang lewat dalam hidupnya? Tetapi tidak seorang pun yang berhasil menggugah gairahnya! Namun yang satu ini sungguh berbeda. Bukan kecantikannya. Tapi kemiripannya dengan Solandra! Seandainya dia lebih tua sepuluh tahun, Paskal pasti tidak ragu lagi, almarhum istrinyalah yang telah menitis ke dalam jasad gadis remaja ini! Hanya sekejap Paskal sempat bengong. Karena langkah gadis itu begitu cepat. Sebentar saja dia sudah menghilang di antara kerumunan orang yang berjalan di kaki lima. Bergegas Paskal mengejarnya. Seolah-olah tidak mau melepaskannya lagi. Dia ikut rombongan manusia yang menyeberang di depan Banque Hervet. Mengikuti gadis itu dari jarak lima meter di belakangnya, v’ Dia sendiri tidak tahu mengapa harus mengikuti gadis itu. Apa yang hendak dilakukannya. Dia tidak sempat berpikir lagi. Semuanya berlangsung begitu cepat. Kalau terlalu lama berpikir, gadis itu pasti keburu lenyap. Jadi Paskal terus saja membuntuti gadis remaja yang mirip Solandra itu. Makin lama makin sedikit orang yang melangkah searah dengan mereka. Mempermudah Paskal membuntutinya. Gadis itu masih melangkah cepat-cepat di depannya, tanpa sadar ada seorang laki-laki yang mengikutinya. Atau… dia tahu tapi tidak peduli? Sudah seringkah dia memperoleh seorang pengagum gelap? Tidak heran kalau melihat •’ wajahnya yang demikian cantik dan tubuhnya yang begitu ramping. Apalagi sentuhan oriental di parasnya yang belia menambah daya tarik eksotiknya. Mau ke mana dia? pikir Paskal ketika gadis itu menyeberang di depan Pharmacie du Progress. Pulang ke rumah? Di sinikah rumahnya? Siapa orangtuanya? Mengapa dia begitu mirip Solandra? Benarkah dia titisan almarhum istrinya? » Tetapi-gadis itu tidak berhenti di sana. Dia masih melangkah terus menuju ke arah La Gare SNCF, stasiun kereta api. Tergesa-gesa Paskal mengikuti gadis itu membeli karcis kereta. Ternyata dia membeli karcis TGV yang menuju ke Montparnasse di Paris. Kereta itu berangkat pukul setengah enam sore. Paskal tidak sempat lagi kembali ke hotelnya untuk mengambil kopernya. Apa boleh buat, desahnya sambil mengatur napasnya. Aku tidak boleh kehilangan dia. Aku harus tahu benarkah ada reinkarnasi! Dia begitu mirip dengan Solandra. Segala-galanya. Wajahnya. Tubuhnya. Bahkan gerak-geriknya. Kalau umur gadis ini tujuh atau delapan tahun saja lebih tua, dia pasti serupa dengan Solandra ketika pertama kali Paskal melihatnya di reuni SMA-nya! Paskal tidak kebagian bangku di dekat gadis itu dalam TGV yang melaju cepat ke Paris. Karena itu dia kehilangan kesempatan untuk berkenalan. Satu-satunya kesempatan yang dimilikinya hanyalah ketika gadis itu naik Metro. Untung dia punya karcis Metro untuk tiga hari. KaJau tidak, dia tidak bisa masuk ke stasiun. Dari jauh dia melihat gadis itu masuk ke kereta yang berhenti di depannya. Dia langsung duduk tanpa memilm-milih bangku lagi. Bangku di sebelahnya kebetulan kosong. Paskal melompat masuk hanya sesaat sebelum pintu kereta ku tertutup. Dan terhuyung-huyung dia mendaratkan tubuhnya di bangku kosong di sebelah gadis itu. “Maaf/’ cetusnya sambil tersenyum tulus ketika tidak sengaja kaki gadis itu tersentuh oleh kakinya. Sekarang gad is itu menoleh. Dan matanya bertemu dengan mata Paskal. Saat itulah untuk pertama kalinya Paskal merasa yakin, gadis ini memang titisan Solandra! Matanya, gayanya menilai, caranya menatap, persis Solandra! Ya Tuhan! Itulah pertama kali dalam hidupnya Paskal menyebut nama Tuhan. Terima kasih karena telah mengirimkan kembali wanita yang sangat kucintai! Tidak peduli Solandra lahir kembali melalui reinkarnasi ataupun titisan, gadis di hadapannya ini pasti jelmaan Solandra! Tidak seorang pun dapat menyangkalnya! “Mengapa mengikuti saya?” tanya gadis itu f ketika melihat laki-laki aneh di sebelahnya menatap dengan berlinang air mata. Jadi dia tahu Paskal mengikutinya! Tetapi baik suaranya maupun tatapan matanya sama sekali tidak mencerminkan rasa takut. Dia hanya merasa heran. Paskal ingin sekali memeluk gadis itu. Ingin membelai rambutnya. Ingin mencium bibirnya. Ingin membisikkan di telinganya betapa dia sangat mencintainya. Merindukannya. Tetapi sikap gadis, itu yang seperti orang asing, menahan gerakannya. Paskal menjadi ragu. Mengapa Solandra tidak mengenalinya? Ke mana tatapan matanya yang demikian lembut dan penuh cinta kasih itu setiap kali memandangnya? “Solandra,” bisik Paskal getir. Tetapi desahannya yang begitu penuh kerinduan ditelan bising roda Metro yang menjerit menggilas rel. Tak ada yang dapat bicara nyaman dalam Metro yang berlari cepat. lagi stasiun demi stasiun terasa begitu cepat dilalui. Kalau lalai, tujuan bisa langsung terlewati. Gadis itu juga sudah tidak mengacuhkannya lagi. Dia turun di Montparnasse Blenvenue, Melangkah cepat-cepat menelusuri lorong-lorong di bawah tanah menuju ke Metro lain yang mengambil jurusan utara. “Tunggu!” seru Paskal sambil mengejar gadis itu. Gadis ku menghentikan langkahnya dan ber-balik. Sekarang matanya menatap dengan marah. “Tolong jangan ganggu saya,” katanya dalam bahasa Inggris yang sangat fasih. Walaupun parasnya Melayu, lidahnya tidak. Pengucapan bahasa Inggrisnya sangat sempurna. Sama sekali tidak beraksen Prancis. Mungkin dia bukan orang sini. “Atau saya panggil polisi.” “Saya hanya ingin bertanya.” “Tanya apa?” “Siapa namamu?” “Perlu apa tanya nama saya?” “Saya ingin mengenalmu.” “Saya tidak ingin berkenalan.” Gadis itu memasukkan tiket Met***** w _J_ mesin di pintu masuk. Besi penghalang langsung berputar ketika didorong oleh tubuhnya. “Tunggu!” pinta Paskal memelas. Dia memasukkan tiket Metro-nya ke mesin di samping pintu masuk. Kalau tidak punya tiket, dia tidak bisa mendorong palang besi yang menghalangi langkahnya. Gadis itu tidak jadi melangkah. Dia berbalik. Dan menunggu beberapa langkah di depannya. Ditatapnya Paskal dengan tidak sabar. “Boleh saya memperlihatkan selembar foto padamu?”; “Saya tidak mau melihat fotomu.” “Kalau kamu tidak tertarik, kamu boleh pergi. Saya janji tidak akan mengikutimu lagi.” Gadis itu berpikir sebentar. Lalu dia menunggu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Paskal cepat-cepat mengeluarkan dompetnya. Dan mengambil foto Solandra yang selalu dibawanya ke mana-mana. Diperlihatkannya foto itu sambil bergumam, “Sekarang kamu tahu mengapa saya mengejarmu?” Tidak sadar tangan gadis itu terulur mengambil foto di tangan Pasical. Diamat-amatinya I dengan cermat. Lalu tatapannya berpindah Jce f wajah Paskal. Ketika gadis itu sedang mengawasinya dengan bingung, Paskal ingin menangis. Dia seperti melihat Solandra. Tegak di hadapannya dengan tatapan yang sangat dikenalnya. Tidak sadar dia berdesah pilu, “Solandra….” Gadis itu mengembalikan fotonya tanpa berkata apa-apa. Tapi dari air mukanya, Paskal tahu, kecurigaannya sudah berkurang. “Terima kasih,” gumam Paskal terharu. “Boleh mengajakmu minum?” “Tidak,” sahut gadis itu mantap. “Saya tidak mau minum dengan orang asing. Apalagi malam-malam begini.” “Nama saya Paskal Prakoso,” kata Paskal cepat-cepat sambil mengikuti langkah gadis itu. “Saya dokter dari Indonesia.” Tapi saya sudah tidak praktik. Saya hanya ingin kamu menaruh respek. Di mana-mana dokter profesi yang terhormat, kan? Walaupun tidak jarang yang jahat. Atau sakit jiwa sekalian. Dan ternyata usahanya berhasil. Dugaannya tid ak keliru. Meskipun tidak sakit, bertemu seorang dokter rupanya lebih menenangkan. “Siapa wanita dalam foto itu?” tanya gadis itu tanpa mengurangi kecepatan langkahnya memburu kereta Metro yang sudah terdengar gemuruhnya. “Almarhum istri saya. Namanya Solandra.” “Mengapa mukanya mirip saya?” “Itu yang ingin saya ketahui. Boleh saya mengenalmu lebih jauh?” “Saya harus pulang. Sudah malam.” , “Oke. Saya akan mengantarmu.” “Tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri.” Gadis itu melompat ke dalam Metro. Paskal mengikutinya. Karena sudah malam, Metro itu nyaris kosong. Biasanya pada jam pulang kantor* alat transportasi yang paling diminati penduduk Paris ini penuh sesak. Setelah melewati lima pemberhentian, gadis itu turun di Stasiun St. Michel. Paskal segera mengikutinya. Dan mereka berjalan cepat-cepat keluar dari stasiun. Mendaki beberapa undakan. Lalu menghirup udara bebas di luar. “Mau pakai jaket saya?” tanya Paskal ketika merasa udara malam mulai dingin. “Tidak usah. Saya punya jaket sendiri. Lagi pula sudah dekat.” “Rumahmu di sini?” “Bukan rumah saya.” “Lalu kamu mau ke mana malam-malam begini?” Nada khawatir dalam suara Paskal menyentuh hati gadis itu. Sejak semula dia memang sudah yakin, pria aneh ini bukan orang jahat. Setelah melihat foto istrinya, dia bertambah yakin, hanya kemiripan wajah mereka yang membuat pria itu mengikutinya. Wajah mereka memang benar-benar mirip. Dan bukan hanya Paskal yang heran dengan kemiripan itu. “Pernah dengar Program Pertukaran Siswa? Bahasa Prancis saya bagus. Jadi saya yang terpilih dikirim kemaxL Tinggal dengan orang Prancis.” “Dari mana asalmu?” “Goldcoast.” “Tinggal dengan orangtua di sana?” “Ya. Ayah saya seorang radiolog.” “Lalu yang di Tours?” “Saya menjenguk teman.” “Oh, begitu. Berapa umurmu?” “Enam belas.” Padahal Solandra meninggal empat belas tahun yang lalu. Jadi dia tidak mungkin titis-annya. Karena waktu gadis ini lahir, Solandra belum meninggal! “Kamu percaya reinkarnasi?” Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan mantap. “Kalau kamu kira saya reinkarnasi istrimu…” “Kalian begitu mirip! Saya seperti melihat istri saya hidup kembali. Saya begitu terharu ketika melihat caramu menatap saya.” “Kamu pasti sangat mencintainya.” “Dengan segenap jiwa saya.” “Dia juga sangat mencintaimu?” ‘Dia pernah bilang, seandainya jantungku tidak berdenyut lagi sekalipun, cintaku padamu takkan pernah mati.” Cinta kalian pasti sangat tulus, pikir gadis itu kagum. Cinta abadi. Cinta yang sudah jarang ditemukan saat ini— “Kenapa istrimu mati?” “Kanker.” Sesaat gadis itu tertegun. “Dia pasti sangat menderita,” gumamnya lirih. “Tidak. Kami bahagia sampai saat terakhir Dan dia tetap cantik sampai maut datang menjemputnya.” “Kelihatannya kamu sangat memujanya.” Paskal tersenyum getir. Tetapi di dalam senyumnya, gadis itu menemukan cinta yang sangat tulus. Sangat dalam. Tak ternilai. “Saya sangat mencintainya. Mengaguminya. Memujanya. Merindukannya. Empat belas tahun telah berlalu, saya belum pernah menemukan wanita yang dapat menggantikannya.” “Karena kamu tidak mencarinya,” sahut gadis remaja itu dalam nada sok tahu. Entah dari mana dia mempelajarinya. Mungkin dari buku-buku yang dibacanya. Karena baru seumur dia, bagaimana mungkin dia mengenal cinta abadi? Cinta yang ada di kamusnya baru cinta monyet! Tentu saja itu pendapat Paskal. Berdasarkan pengalaman pribadi. “Sudah sampai,” cetus gadis itu ketika mereka tiba di depan sebuah rumah. “Saya tidak bisa mengajakmu masuk.” “Tentu saja,” sahut Paskal sambil tersenyum ramah. “Saya han V4 ingin tahu namamu.” :AK^^nketerousay -Boleh?” . jarimu?” -fl -Karena kamu kembali-‘ Bab XVII %y ASKAL tidak berdusta. Pertemuannya dengan Tracy membuat dia merasa hidup kembali. Dan karena pertemuan itu berlangsung di kota yang seromantis Paris, hubungan mereka menjadi lebih cepat akrab. Paskal merasa begitu bahagia karena dia dapat memandang kembali mata Solandra. Dapar membelai kembali rambut Solandra. Dapat menyentuh kembali tangan Solandra. Empat belas tahun dia merindukannya. Sekarang tiba-tiba saja mimpinya menjadi kenyataan. Angan-angannya menjadi daging.  Solandra hadir kembali di hadapannya.’ Terima kasih, Andra, desahnya hampir di setiap helaan napasnya. Terima kasih karena telah mengabulkan permohonanku. Terima j kasih karena telah hadir kembali dalam hidupku! Sekarang aku percaya memang benar ada hidup yang kedua. Karena inilah hidup kedua kita! Mula-mula Tracy tidak peduli. Dia tidak peduli diperlakukan sebagai Solandra, atau persetan siapa pun. Lelaki yang sudah pantas jadi ayahnya ini, umurnya pasti tidak kurang dari lima puluh tahun, memperlakukannya dengan sangat baik. Dengan lembut. Dengan manis. Dengan penuh cinta kasih. Dia melimpahinya dengan begitu banyak hadiah yang tidak mungkin dibeli dengan uang sakunya. Baju. Sepatu. Tas. Perhiasan. Hm, wanita mana yang tidak tergiur? Gadis mana yang tidak suka dimanjakan dengan berbagai hadiah mahal? Tidak peduli kadang-kadang kelakuannya agak aneh. Misalnya saja dia mati-matian mencari gaun berwarna hijau melon dengan potongan keyhole front dan halter neck. Dia memohon agar Tracy mau mengenakannya. Dan ketika melihat Tracy memakai gaun itu, air matanya langsung berlinang-linang. “Terima kasih, Andra,” bisiknya dalam bahasa yang tidak dimengerti Tracy. “Terima kasih karena telah memberiku kesempatan melihatmu dalam gaun ini lagi.” Lalu dia memeluk Tracy dengan sangat lembut, seolah-olah Tracy terbuat dari pualam yang mudah pecah. “Jangan tinggalkan aku lagi, Andra,” bisiknya di telinga Tracy. “Jangan pernah meninggalkan aku lagi….” Lalu dia mencium pipi Tracy dengan ciuman yang sangat hangat. “Aku merMabtaimu,” desahnya dalam bahasa yang tidak dimengerti tetapi dalam nada universal yang dapat dipahami oleh semua wanita di dunia, nada penuh kerinduan. Itulah pertama kali Tracy menerima ciuman Paskal. Dan tiba-tiba saja dia merasa kehangatan mengalir dari pipi ke dadanya. Ada yang bergolak di dalam sini. Tracy merasa bergetar. Dan dia merasa hangat. Merasa bergairah. Merasa bergelora. Dan Paskal tidak berhenti sampai di sana saja. Paskal membawanya ke tempat-tempat yang romantis. Restoran-restoran yang mahal. Kafe dan bistro eksklusif yang bertebaran di seantero Paris. Lalu dia mulai menceritakan kisah cintanya. Istrinya. Nasib malang yang menimpa mereka. Tiap malam dia bercerita. Seolah-olah Tracy anaknya yang baru berumur empat tahun. Yang tiap malam harus didongengi sebelum tidur. Mula-mula Tracy bosan mendengar ceritanya. Dia tidak kenal perempuan yang katanya punya muka yang sangat mirip dengan wajahnya itu. Tetapi lama-kelamaan entah mengapa, Tracy tertarik juga. Dia begitu mengagumi kisah cinta mereka seperti dia mengagumi kisah cinta Romeo dan Juliet. Jadi setiap malam Tracy menunggu kelanjutan cerita Paskal. Makin lama makin tidak sabar menunggu akhirnya. Dan ketika ending cerita itu tiba, Ttacy ikut menangis bersama Paskal. Anehnya, setelah mendengar cerita itu, ketika’ menyaksikan betapa dalam cinta Paskal pada istrinya, Tracy jadi terpengaruh. Dia jadi ingin punya seorang laki-laki yang memuja dan mengasihinya seperti itu. Memang benar. Mula-mula Tracy tidak mempunyai perasaan apa-apa. Dia hanya merasa senang karena dimanjakan. Dipuja. Dicintai. | Lelaki itu memperlakukannya dengan sangat baik. Lembut. Sopan. Tidak pernah kurang ajar. Tidak pernah minta lebih kecuali ciuman di pipi. Tetapi memasuki minggu yang kedua, setelah ciuman yang begitu hangat di pipinya, setelah mendengar cerita Paskal yang begitu tragis, Tracy mulai merasa berbeda. Dia mulai merindukan pelukan lelaki itu. Merindukan belaian kasihnya di rambutnya. Di pipinya. Bahkan sentuhan ujung jarinya di bibir mulai terasa menggetarkan sukma. Tracy mulai mendambakan ciumannya. Mengharapkan bisikan cintanya yang begitu lembut dan mesra. Rasanya kalau sehari saja udak bersua, Tracy merasa kehilangan. Mungkinkah aku jatuh cinta pada pria yang pantas jadi ayahku? pikirnya bingung. Tapi perasaan ini sungguh berbeda dengan perasaan yang pernah kumiliki selama ini. Aku mengagumi Pierre. Pernah dicium Tony. Tapi jatuh cinta? Rasanya amat berbeda. Pria ini memperlakukan diriku bukan sebagai gadis remaja enam belas tahun. Dia memper-lakukanku sebagai wan ita dewasa. Di tangannya aku merasa menjadi wanita seutuhnya. Di hadapannya aku merasa tersanjung. Dimanja. Dipuja. Dicintai. Dan suasana Paris yang romantis .sangat mendukung kedekatan mereka. Setelah menyusuri Sungai Seine di atas perahu malam itu, keduanya seperti tidak terpisahkan lagi. Bateaux Parisiens yang membawa mereka menikmati keindahan lampu-lampu yang berkelap-kelip meronai Menara Eiffel, sinar redup dari Katedral Notredame di kejauhan, kegelapan yang menyungkup sesaat ketika mereka lewat di bawah jembatan Pont Neufj semuanya terasa begitu menggoda. Membenamkan mereka ke dalam pelukan romantisme yang diembuskan oleh suasana yang demikian memukau. Mereka duduk berpelukan dalam perahu tanpa mengucapkan separah kata pun. Hanya membiarkan mata dan hati mereka menikmati keindahan di luar dan kemesraan di dalam. “Aku mencintaimu,” bisik Paskal lembut, kali ini dalam bahasa Inggris. Dan Tracy ingin membalasnya dengan sebuah ciuman mesra di bibir Paskal. Tetapi pria itu menolaknya dengan halus. “Kata Solandra, ciuman di bibir hanya boleh dilakukan sesudah kita menikah.” Tentu saja Tracy kecewa. Dia gadis yang dibesarkan dalam kultur Barat. Ciuman di bibir tidak ada bedanya dengan ciuman di tempat lain. Hanya pernyataan kasih sayang. ‘Lelaki ini. memang bukan hanya aneh. Kadang-kadang naif. Konyol! Tetapi kalau cinta sudah bicara, yang konyol pun bisa dimaafkan. Tracy dapat memahami prinsip Paskal, betapapun anehnya. Dia memang sudah aneh dari semula, kan? jadi Tracy tidak memaksa. Tidak mendesak. Meskipun dia begitu ingin mencium bibir lelaki itu. Ditahannya saja keinginannya. Diredamnya baik-baik gairah yang melonjak-lonjak di dadanya. Dan gairahnya untuk memagut bibir lelaki yang dicintainya itu mereda ketika mendengar pertanyaan yang tidak diduganya. “Maukah kamu pulang bersamaku ke Jakarta?” bisik Paskal sambil memandang ke dalam mata Tracy. Mata indah yang sangat dikaguminya. Mata Solandra. Miliknya. Pujaan hatinya. Kekasihnya. Lamatankah. ini? Pria ini melamarnya? Alangkah mesranya’. Dia dilamar dalam perahu yang sedang menyusuri Sungai Seine di kota Paris. Kota paling romantis di dunia! “Bawalah aku ke mana saja,” sahut Tracy seperti dalam mimpi. Bagi gadis remaja seusianya, cinta adalah segala-galanya. Ketika dia merasa sudah menemukan cinta suci, mengapa harus memikirkan lagi ke mana cinta akan membawanya? Bahkan maut pun akan disongsongnya jika ada yang menentang mereka. Meragukan cinta yang membuhul mereka dalam ikatan yang begitu kuat tak teruraikan. Dan ketika rintangan itu datang dari Geoffroy Beaufils, pemilik rumah – yang ditinggali Tracy selama di Paris, Tracy memutuskan untuk meninggalkannya hari itu juga. “Bawalah aku pergi,” pintanya kepada Paskal. “Bawa ke mana saja asal kita tidak usah berpisah lagi.” “Biarkan aku bicara dengan Geoffroy,” tukas Paskal murung. Tentu saja dia juga tidak mau berpisah dengan Tracy. Dia ingin membawa gadis itu pulang bersamanya ke Jakarta. Tetapi membawa gadis remaja seusianya tentu tidak mudah. Apalagi secara resmi mereka tidak punya hubungan apa-apa. Ketika bertemu dengan Geoffroy, Paskal sudah merasa hubungannya dengan Tracy tidak akan berlangsung mulus. Pria Prancis itu sebaya dengan Paskal. Dan penampilannya menyatakan dia berasal dari kalangan intelek. “Seharusnya Anda merasa malu,” kata Geoffroy terus terang. Khas orang Barat. Suaranya semuram wajahnya. Seserius tatapan matanya. “Berapa umur Anda? Anda tahu berapa usia Tracy? Dia baru enam belas tahun! Anda pantas jadi ayahnya!” Paskal tertegun bengong. Untuk pertama kalinya kenyataan itu menyentakkan kesadarannya. Selama ini kehadiran kembali Solandra dalam hidupnya telah membutakan dirinya. Dia lupa, Tracy bukan wanita yang sebaya. Dia jauh lebih muda. Umurnya baru enam belas. Dan.benar, dia pantas jadi anaknya! “Tracy dikirim kemari oleh orangtuanya, oleh sekolahnya, untuk belajar bahasa. Belajar kebudayaan kami. Adat-istiadat kami. Bukan untuk pacaran dengan lelaki yang pantas menjadi ayahnya! Jika terjadi apa-apa dengan dia, Anda menodai kehormatan saya. Keluarga saya. Kami yang bertanggung jawab selama  Tracy tinggal di rumah ini.” “Maafkan saya,” gumam Paskal dengan suara tetsendat. “Saya khilaf. Tapi Anda tidak usah khawatir. Saya menghormati Tracy. Memujanya. Mencintainya dengan tulus. Saya tidak pernah bermaksud menodainya atau menghina keluarga Anda.” “Saya percaya,” suara Geoffroy melunak. “Tracy sering bercerita tentang Anda. Setelah bertemu sendiri, saya yakin, dia benar. Anda orang baik. Saya hanya mohon agar Anda tidak mengganggu Tracy lagi.” Mengganggu? pikir Paskal resah. Aku mencintainya! Mengganggukah namanya mencintai dan memuja seorang wanita dengan segenap I jiwaku? *** Paskal meninggalkan rumah Geoffroy dengan perasaan hampa. Akhirnya kebahagiaan itu harus berakhir juga. Dua minggu lebih dia seperti memiliki kembali dunianya yang hilang. Dia seperti hidup kembali. Dengan Solandra di sampingnya, dia seperti bangkit dari kematian. Kini dia harus kehilangan Solandra lagi. Dia harus kembali ke hidupnya yang kosong. Hidup yang tidak berarti. Paskal bukan hanya sedih. Dia kecewa. Putus asa. Tetapi dia tahu, Geoffroy Beaufils yang benar. Siapa pun Tracy, titisan Solandra atau bukan, dia cuma seorang gadis enam belas tahun! “Anda pantas jadi ayahnya!” kata Geoffroy tadi. Aku pantas jadi ayahnya! Karena umurku sudah lima dua. Padahal aku begitu ingin jadi kekasihnya. Cintanya. Suaminya! Aku ingin dia jadi Solandra! Solandra-ku! Tidak peduli berapa umurnya! Berapa umurku! Tetapi angan-angan itu tampaknya akan membentur batu karang. Akan hancur ber- j keping-keping. Sama seperti hatinya! Hancur j berkeping-keping! . • *** Bateaux Parisiens masih meluncur mulus di atas Sungai Seine. Menara Eiffel masih berkelap-kelip memamerkan lampu-lampunya. Pasangan-pasangan romantis masih saling peluk dalam perahu. Muda-mudi masih berciuman i di atas jembatan Alexander III. Turis yang i bercampur dengan penduduk Paris masih memenuhi kafe dan bistro di sepanjang Avenue des Champs Elysees. Sepasang kekasih sedang menikmati pizza yang lezat di bawah udara terbuka di depan kafe. Mata mereka yang bertemu dalam tatapan diam-diam yang mesra penuh cinta, mengingatkan kembali Paskal pada kisah cintanya. Pada kenangan masa lalunya. Di sudut yang lain, di ujung jalan kecil yang remang-remang, sepasang remaja tengah berpelukan. Bibir mereka melekat dalam pagutan yang mesra penuh gairah. Hari sudah larut malam. Tapi Paris memang belum terlelap. Aroma cinta terasa dalam helaan napas setiap insan yang menekun malam di sana. Nuansa romantis mengisi jiwa-jiwa yang dahaga. Cinta, nafsu, dan gairah berdesakan seakan minta dipuaskan. Tetapi Paskal sudah kehilangan jiwanya. Kehilangan matahari hidupnya. Dia tidak terpengaruh oleh kenikmatan di sekelilingnya. Tidak tergiur oleh rangsangan yang ditawarkan. Dia melangkah dengan perasaan kosong di kaki lima. Tidak tahu ke mana kakinya membawanya. Kalau mengikuti kata hatinya, dia ingin tinggal lebih lama lagi di Paris. Di sinilah dia merasa hidup kembali, walaupun hanya sekejap. Kalau harus mati, dia ingin mati di sini. Supaya pada saat terakhir, dia masih dapat merasakan pelukan Solandra. Tracy pasti datang menjenguknya. Dan dia akan minta gadis itu memeluknya erat-erat. Sampai maut datang menjemputnya. Mungkinkah saat itu Solandra sendiri yang menjemputnya? “Aku akan membimbingmu,” katanya dulu. Betapa indahnya. Solandra yang datang menyambutnya. Membimbingnya ke Taman Firdaus. . Tetapi berita yang datang tiba-tiba itu menggagalkan rencananya. Memudarkan impiannya. Adiknya menelepon. Ibu Solandra meninggal. Paskal harus pulang. Dia ingin menghadiri pemakaman ibu mertuanya. Jadi Paskal tidak punya pilihan lain. Dia hams meninggalkan Paris. Meninggalkan Tracy. Meninggalkan semua kenangan indahnya di sini. Dia sudah memutuskan esok akan pulang kembali ke Indonesia. Melanjutkan hidupnya yang lama. Yang gersang. Yang membosankan. Yang kosong. Yang sepi. Entah sampai kapan. Sampai maut menjemputnya. Entah satu atau dua dasawarsa lagi, mungkin ada titisan Solandra yang lain yang akan ditemuinya. Yang dapat memberinya kebahagiaan walaupun hanya sekejap. Yang dapat memuaskan kerinduannya memandang dan meny entuh wanita yang sangat dicintainya. Sesudah itu dia akan menutup matanya rapat-rapat. Dan berharap kalau kelak dia membuka matanya lagi, dia akan menemukan Solandra. Dan mereka tidak akan pernah berpisah lagi. “Aku akan membimbingmu,” kata Solandra dulu. “Ke tempat aku telah menunggumu.” Di mana tempat itu? Tempat yang disebutnya Taman Firdaus? Mungkinkah aku sampai ke sana? Hidupku berlumur dosa. Aku tidak percaya Tuhan. Bagaimana aku dapat menjurai pai Solandra lagi kalau aku tidak dapat mencapai surga? *** Bandara Charles de Gaulle tidak terlalu ramai pagi itu. Antrean di tempat check in pesaw juga tidak sepanjang antrean di tax refund, tempat orang-orang antre untuk minta pengembalian pajak barang-barang yang mereka beli di Prancis. Setelah memperoleh boarding pass, Paskal meninggalkan check in counter. Dia sedang melangkah di antara deretan ttoli kosong tatkala dia mendengar namanya dipanggil. I Ketika Paskal menoleh dengan kaget, dia melihat Tracy mengejarnya dari belakang sambil melambai-lambaikan tangannya. Paskal serentak melepaskan travel bag yang tergantung di bahunya. Dan membuka kedua lengannya lebar-lebar untuk menerima Tracy dalam pelukannya. Lama mereka saling dekap tanpa mampu I mengucapkan sepatah kata pun. Cinta dan kerinduan seperti magma dalam perut gunung f berapi yang bergolak, meronta minta dimuntahkan ke luar. “Jangan tinggalkan aku!” rintih Tracy lirih, mati-matian menahan gairah yang meronta di f dada. Dipeluknya lelaki yang dicintainya erat- j erat. Seolah-olah dia tidak rela melepaskannya J lagi”Maafkan aku, Tracy….” Paskal b , melepaskan dirinya dari pelukan Tracy. Tetapi usaha yang paling sulit justru menaklukkan gairahnya sendiri. “Aku harus pulang.” ‘ “Aku mencintaimu!” sergah Tracy menahan tangis. “Aku akan mengikutimu ke mana pun kamu pergi! Bawa aku ke negerimu, Paskal! Jangan tinggalkan aku lagi!” “Tidak mungkin, Tracy. Kamu masih di bawah umur. Aku tidak bisa membawamu…” “Aku tidak peduli! Jangan tinggalkan aku!” “Tapi…” “Belikan aku tiket ke Jakarta!” “Tracy!” “Negerimu memberikan visa on arrival, kan? Artinya aku bisa minta visa di Jakarta?” “Tapi, Tracy…” “Bawalah aku ke sana!” “Aku bisa ditahan kalau Geoffroy melaporkan aku menculik anak di bawah umur!” “Kamu tidak menculik siapa pun! Aku pergi atas kemauanku sendiri!” “Kamu harus mengatakannya dulu kepada Geoffroy, Tracy. Kalau tidak, dia akan mencarimu ke mana-mana!” “Aku sudah bilang, aku mau pulang.” “Dia pasti tidak percaya. Dengar, Tracy. Kamu harus kembali ke rumah Geoffroy. Sehujan lagi, aku akan kembali kemari menjemputmu.” “Sebulan!” pekik Tracy separo histeris. “Sadar-‘ kah kamu betapa lamanya sebulan? Aku tidak bisa berpisah selama itui Aku bisa gila!” Aku tahu, keluh Paskal dalam hati. Aku pernah mengalami berpisah dengan orang yang kucintai selama empat belas tahun! Tapi kita tidak punya pilihan lain! “Aku janji akan kembali ke Paris menjemputmu. Kita akan bersama-sama pulang menjumpai orangtuamu. Oke?” “Kamu akan menjumpai orangtuaku? Buat apa?” m&amp;&lt; I “Kamu tidak ingin memperkenalkan aku I kepada orangtuamu?” “Buat apa? Minta izin?” “Kamu baru enam belas tahun, Tracy!” “Tapi tidak perlu minta* izin untuk pacar- I an!” “Tentu, kalau kamu pacaran dengan teman f sekolahmu. Tapi kamu pacaran dengan pria I yang pantas jadi ayahmu!” “Apa bedanya? Beda umur orangtuaku dua | puluh tahun!” “Beda umur kita tiga puluh enam tahun, flacy!” “Peduli apa? Kamu kan sudah duda. Aku masih gadis. Tidak ada yang melarang kita menikah!” “Siapa yang bicara soal pernikahan? Kamu baru enam belas tahun!” “Kita kan tidak mau menikah besok! Aku bisa menunggu sepuluh tahun lagi. Yang penting, kita tidak berpisah!” Paskal menghela napas panjang. Memang sulit bicara dengan remaja. Apalagi remaja yang sedang jatuh cinta. Tentu saja dia juga tidak ingin berpisah. Bertemu dengan Tracy seperti membangkitkannya dari kematian. Tracy mengembalikan hidupnya bersama Solandra. Tetapi membawa gadis di bawah umur tanpa izin orangtua ke negerinya, sama saja dengan menentang hukum. Paskal tidak mau hubungannya dengan Tracy menimbulkan masalah . Dia ingin menikmati hubungan yang sah. Bukan yang melanggar hukum. Karena itu dia ingin Tracy menyelesaikan programnya di sini tepat waktu. Ingin memperkenalkan dirinya secara baik-baik kepada orangtua Tracy. Ingin mendapat restu mereka kalau mungkin. Memang, tidak salah kalau orangtua Tracy menentangnya. Orangtua mana yang rela anak gadisnya yang baru berumur enam belas tahun pacaran dengan duda setengah abad? Tapi kalau Paskal memperlihatkan kesungguhan harinya, kalau dia punya kesempatan untuk bercerita tentang Solandra, mungkinkah masih ada harapan baginya? Bagaimanapun, dia tidak boleh salah langkah. Membawa Tracy pulang ke Jakarta sekarang, sama saja dengan menculiknya. Sama saja dengan menutup harapannya yang terakhir. Orangtua Tracy pasti tidak menyukai lelaki yang menculik anaknya, apa pun alasannya! Untung akhirnya Paskal berhasil menyadarkan Tracy. Berhasil mengubah tekadnya. Berhasil memaksanya berpikir dengan akal sehat. Setelah belasan kali melafaskan janji akan kembali ke Paris untuk menjemputnya bulan depan, akhirnya Tracy mengizinkan Paskal pergi. makm aku *** menunggumu di kaki Menara Eiffel – i ‘ «, C1«el, kata Tracy sesaat sebelum mereka berpisah. “Kalau kamu tidak kembali juga sampai musim dingin tiba, orang-orang akan menemukan jasadku sudah membeku di sana.” walaupun nadanya seperti main-main, Paskal yakin, Tracy serius dengan ancamannya. Bab XVIII CpLENA MANDAGIE mewariskan Bintang Kecil, perusahaan konfeksi niiliknya, kepada Paskal Juga rumah beserta semua harta bendanya. Dia tidak punya ahli waris lain setelah anaknya meninggal. Dan dia yakin itu pula yang diinginkan Solandra. Sudah lama Elena membuat surat wasiatnya. Ketika melihat betapa besar cinta Paskal kepada Solandra, bahkan setelah putrinya meninggal, Elena menyuruh pengacaranya membuat surat wasiat baru, yang mewariskan seluruh kekayaannya kepada Paskal. Terus terang, Paskal merasa terharu sekaligus terbebani ketika mengetahui isi surat wasiat mertuanya. Sekarang dia dituntut untuk mempertahankan dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan ibu Solandra. Padahal selama ini, Paskal tidak punya tanggung jawab apa-apa. Dia bekerja di perusahaan ayahnya hanya untuk mengisi waktu dan membayar utang. Dia tidak mau mengambil alih perusahaan ayahnya. Diserahkannya semua kepada adiknya. Tetapi sekarang, dia punya tanggung jawab baru. Dan dia tidak bisa mengalihkan tanggung jawab itu kepada siapa pun. Elena Mandagie pasti tidak rela kalau sepeninggalnya perusahaannya amburadul. Solandra juga pasti sedih kalau perusahaan yang dengan susah payah dikelola oleh ibunya bangkrut di tangan suaminya. Paskal dituntut untuk membuktikan kemampuannya. Dia tidak mau mengecewakan Solandra. Jangan khawatir, Sayang, desahnya, meskipun dia tidak yakin dia mampu mengambil alih semua tugas mertuanya. Mama memang hebat. Tapi aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan harapannya. Demi kamu, aku akan berjuang supaya sehebat ibumu. Karena merasa tidak sanggup bekerja di dua perusahaan, Paskal menghadap ayahnya untuk mengajukan permohonan pengunduran diri. Meskipun kecewa, Agusti Prakoso dapat memahami alasan anaknya. “Papa mengerti,” katanya sambil menghela napas panjang. “Tenagamu diperlukan di perusahaan mertuamu. Jadi dengan berat hati Papa melepaskanmu.” “Papa masih punya Paulin,” ujar Paskal lirih, menyadari untuk pertama kalinya betapa sudah tuanya ayahnya sekarang. Penampilannya sudah tidak se-mocbo dulu lagi. Biarpun masih berusaha tampil tegar, Agusti Prakoso tidak dapat meredam proses ketuaan yang mulai menggerogoti dirinya. “Dia CEO yang hebat.” “Papa tahu,” sahut Agusti datar. “Papa bangga dengan keberhasilan Paulin. Akhirnya dia berhasil membuktikan kehebatannya.” “Dia mewarisi bakat Papa.” Tidak. Justru itu yang tidak dimilikinya. Dia punya ilmu yang hebat. Punya pengalaman segudang. Tapi dia tidak punya intuisi yang tajam. Tidak punya kekerasan hati seorang bisnismen. Paulin tidak mewarisi bakat Papa. Justru kamu yang mewarisinya, Boy.” Sudah lama ayahnya tidak menyebutnya dengan panggilan itu. Apalagi sesudah Paskal memasuki umur separo baya. Dulu panggila n itu tidak berarti apa-apa. Tapi sekarang, justru ketika sudah sekian lama Paskal/ tidak mendengar ayahnya memanggilnya dengan sebutan itu, Paskal merasa tersentuh. “Sebenarnya Papa ingin kamu yang menggantikan Papa memegang kendali perusahaan ini.” Karena meskipun sudah tujuh tahun menyatakan mengundurkan diri, sebenarnya Agusti Prakoso tetap memegang kendali perusahaannya dari balik layar. “Saya tidak sanggup, Pa.” “Papa tahu. Kamu sudah memilih. Perusahaan Elena lebih kecil dari perusahaan kita. Tapi kamu memilihnya juga. Karena Solandra, kan? Untuk dia kamu rela melakukan apa saja. Su- -dah kamu temukan penggantinya? Kata Prita, kamu lama di Paris karena menemukan seseorang yang mirip Solandra. Benar?” “Dia mirip segala-galanya, Pa,” sahut Paskal terus terang. “Saya merasa seperti Solandra hidup kembali.” “Lalu tunggu apa lagi? Kembali ke sana, bawa dia pulang.” “Umurnya baru enam belas tahun, Pa.” Agusti Prakoso tercengang. Dia sampai tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. paskal menatap ayahnya dengan tatapan t I ganjil sebelum lambat-lambat membuka mulutnya. “Papa percaya reinkarnasi?” “Tidak,” sahut Agusti tegas. “Tapi kalau dia baru berumur enam belas, kamu harus menunggu lama sekadi!” “Kalau Papa punya anak perempuan berumur enam belas tahun, Papa mengizinkan dia pacaran dengan duda berumur lima puluh dua tahun?” “Tidak,” jawaban ayahnya sama tegasnya. “Tapi yang memutuskan bukan orangtuanya. Kalian sendiri.” Paras ayahnya berubah ketika dia melanjutkan kata-katanya. “Ketika ibumu , melahirkanmu, umurnya baru enam belas tahun,” Sekarang giliran Paskal yang tercengang I mengawasi ayahnya. J “Ibumu meninggal ketika, melahirkanmu.” Paskal .tambah bengong. Jadi,., ibu Paulin J bukan ibunya? Perempuan yang ketika dia kecil dulu dipanggilnya Mama bukan ibunya? I Perempuan yang meninggalkan ayahnya untuk j lari dengan lelaki lain itu bukan ibu kandung- I nya? jadi aku anak haram, pekik Paskal dalam hati. Ibuku belum menikah ketika melahirkan aku! “Ketika menikah dengan ibu Paulin, Papa membawamu.” “Dan Elena Mandagie?” gumam Paskal pahit. “Papa menikahinya juga?” “Sesudah menikah dengan ibu Paulin. Tapi kami tidak benar-benar menikah. Karena surat nikah yang Papa berikan kepadanya palsu.” * “Tega Papa memperlakukan wanita seperti itu. Jangan sampai Paulin dan Prita kena karma, ada lelaki yang menipu mereka kayak begitu!” “Waktu itu Elena sudah janda. Dia sudah punya Solandra…” “Nggak peduli! Dia tetap seorang wanita! Papa nggak pantas…” “Iya, Papa sudah nyesal kok. Tidak perlu dimarahi lagi. Elena juga sudah memaafkan . Papa.” “Kalau begitu, memang Paulin yang berhak mewarisi perusahaan Papa. Dia anak Papa yang sah.” “Siapa bilang kamu anak tidak sah? Kamu surat lahir yang sah!” Pa Tentu, Papa bisa melakukan segalanya.” Perusahaan” ini akan kamu warisi juga, Paskal. Paulin tidak bisa menguasainya sendiri.” “Tidak usah, Pa. Anggap saja warisan saya sebagai pengganti sisa utang saya.” “Utangmu sudah lunas.” “Warisan ibu Solandra sudah lebih dari cukup untuk saya, Pa. Warisan Papa biar untuk adik-adik saja. Saya datang hanya untuk menyampaikan surat permohonan pengunduran diri.” Agusti tidak menjawab. Dia hanya menghela napas berat. Sesudah terdiam beberapa saat, dia baru membuka mulutnya kembali. ‘ “Kapan kamu berangkat lagi?” “Ke mana?” “Ke mana kamu harus menjemput pacar remajamu?” Paskal tidak menjawab. Wajahnya berubah murung. Ayahnya mengawasinya dengan cermat. “Jangan sia-siakan umurmu, Boy,” gumam ayahnya perlahan-lahan. “Carilah yang realistis. Lupakan bayangan yang tak mungkin lagi kamu kejar.” *** Bayangan itu masih menunggunya di kaki Menara Eiffel. Dalam kegelapan, siluet tubuhnya yang tinggi ramping tampil begitu memesona. Di belakangnya, tak kalah menariknya, menjulang Menara Eiffel yang megah bermandikan cahaya. Dalam kegelapan Paskal tidak dapat melihat wajah Tracy. Tetapi dia dapat membayangkan air mukanya yang berubah berlumur bahagia dan haru ketika dari kejauhan dia melihat laki-laki yang ditunggunya melangkah tergesa-gesa menghampirinya. Tracy tidak menunggu sampai Paskal tiba di dekatnya. D ia berlari menghampiri. Sementara Paskal pun mempercepat langkahnya sampai setengah berlari. Mereka menghambur ke pelukan masing-masing seperti dilemparkan oleh tangan raksasa yang tidak kelihatan. Paskal merasa tubuh yang dingin itu menggeletar dalam pelukannya. Tetapi geletar itu pasti bukan karena dinginnya udara malam. Geletar yang merambah di sekujur kulit lengannya adalah derai keharuan dan kebahagiaan yang tak terperi. -Tj-acy membenamkan wajahnya di dada lelaki yang dicintainya. Membiarkan laki-laki jtu menciumi rambutnya dengan penuh kasih sayang. Paskal membelai-belai rambut yang hitam lurus itu dengan penuh kerinduan. Membiarkan harumnya aroma rambut itu menjelajah ke seluruh pelosok hatinya. Solandra, bisiknya dengan cinta dan rindu yang pedih. Betapa aku kehilangan dirimu! “Jangan tinggalkan aku lagi, Paskal,” desah Tracy menahan tangis. “Atau aku mati!” “Aku tidak akan meninggalkanmu lagi,” bisik Paskal di telinga gadis itu. Dikecupnya telinganya dengan penuh kasih sayang. * “janji?” desah Tracy sambil menggeliat menahan gairah yang bergejolak di dadanya. Darah mudanya meluncur cepat di seluruh pembuluh darah tubuhnya. Membuat dirinya seperti terbakar panasnya api yang berkobar. “Janji akan membawaku ke mana pun kamu per- i gi?” Paskal hanya dapat menganggukkan kepalanya, i “Kamu sudah makan?” Siapa yang memikirkan makan dalam ke-rti ini? Dia sudah hampir seminggu tidak makan. Hanya minum dan sekali-sekaK menyantap crepes atau burger. “Kamu pasti belum makan.” Suara itu! Suara yang selembut suara seorang ayah! Kadang-kadang Tracy benci diperlakukan seperti itu. Dia tidak butuh ayah! Dia butuh laki-laki! “Kita makan, ya. Nanti kamu sakit.” “Jangan perlakukan aku seperti anak kecil!” protes Tracy manja. “Tapi bukan cuma anak kecil yang perlu makan, kan?” bujuk Paskal sambil tersenyum lembut. Ya Tuhan, senyum itu! Tracy tidak mungkin lagi melupakannya! Dia begitu merindukan senyum itu! Senyum yang merekah” begitu menawan di bibir lelaki yang dicintainya! Rasanya dia tidak mungkin menolak apa pun permintaan pria ini. Jangankan hanya diajak makan. Diajak lebih dari itu pun dia mau. Dibawa ke mana pun dia tidak akan membantah. Diminta menyerahkan apa pun dia rela! Tetapi Paskal tidak mengambil apa yang diinginkannya. Bagaimanapun rindunya dia kepada tubuh Solandra, betapapun inginnya dia mempersatukan tubuhnya dengan tubuh wa-mta dicintainya, dia menahan dirinya mati-matian agar tidak menodai gadis remaja dalam pelukannya ini. “Jangan perlakukan aku seperti anak kecil,” protes Tracy ketika Paskal berhenti sampai di sana. “Aku seorang wanita. Bukan anak-anak lagi.” Tracy ingin mengatakan meskipun umurnya baru enam belas tahun, dia sudah mengerti apa yang diinginkan Paskal. Apa yang didambakan pasangan seperti mereka dalam keadaan seperti ini. Dan dia memahami pula akibatnya. Tidak ada yang perlu ditakuti. Tidak ada pula yang perlu disesah. “Solandra ingin kami melakukannya di malam pengantin,” sahut Paskal lembut. “Aku juga ingin melakukannya pada malam itu. Kalau ada malam semacam itu dalam hidup kita.” *** Seminggu kemudian, Tracy membawa Paskal ke rumahnya untuk menemui orangtuanya. Meskipun yakin orangtua Tracy akan menolaknya, Paskal tidak punya pilihan lain. Dia harus mencoba. Atau dia akan kehilangan gadis ini untuk selama-lamanya. Rumah orangtua Tracy terletak di area perumahan mewah di Goldcoast, negara bagian Queensland, yang terletak di sebelah timur Australia. Meskipun harga tanah di daerah itu sangat mahal, rumah-rumah yang berada di area itu tidak mencerminkan kemewahan yang berlebihan. Tetapi ketika melihat rumah orangtua Tracy, Paskal bertambah yakin, misinya akan gagal total. Orangtua mana yang sudi anak tunggalnya menikah dengan lelaki yang pantas jadi ayahnya? Apalagi dia berasal dari dunia ketiga. Negeri berkembang yang sering dilecehkan sebagai sarang teroris dan gudang koruptor. Orangtua Tracy ternyata bukan orang sem-barangan. Bukan berasal dari orang kebanyakan. Bukan keluarga sederhana. Ayahnya yang dokter ahli radiologi pasti orang terpandang- di sini. Relakah dia putrinya jadi gunjingan  orang karena menikah dengan lelaki yang pantas jadi ayahnya? Atau… orang-orang di sini tidak senahg bergunjing? Ah, rasanya tidak mungkin. Karena gosip di mana pun manis rasanya. Disukai orang di seluruh dunia. Tidak peduli bagaimanapun majunya negaranya. Bagaimanapun inteleknya penduduknya. Jadi meskipun Tracy tampak begitu bersemangat, Paskal pasrah saja. Dia menurut saja ketika Tracy menarik tangannya, mengajaknya masuk ke dalam. Tidak ditampakkan-nya pesimisme yang melanda hatinya. Dia mencoba memperlihatkan wajah yang secerah mungkin. Siapa tahu dengan begitu dia tampak lebih muda sepuluh tahun! “Mom!” teriak Tracy, dari ambang pintu. “Lihat siapa yang datang!” Perempuan itu muncul dari ruang dalam. Tubuhnya tinggi kurus. Sangat kurus. Rambutnya sudah berwarna dua. Mukanya tirus dan pucat. Tetapi seperti apa pun berubahnya dia sekarang, Paskal tetap mengenalinya. Dan melihat ibu Tracy, tiba-tiba saja tabir yang melingkupi misteri itu tersibak. Bab XIX ‘Y jylNDl itu sebabnya Tracy begitu mirip Solandra!” cetus Paskal dengan gigi terkatup menahan geram. Ditatapnya Sania dengan tatapan penuh dendam. “Kamu membohongi kami, Sania! Kamu berkhianat pada Solandra! Ovulasi itu berhasil! Tracy anak kami!” “Ada apa ini?” sergah Tracy heran. Dia tidak mengerti sepatah pun kata-kata Paskal. Karena pria itu menggunakan bahasa Indonesia. Ditatapnya Paskal dengan hetan. Belum pernah dia melihat Paskal semarah itu. Matanya yang biasanya bersorot lembut, kini seperti bola api yang terbakar dalam panasnya neraka. Ketika dia menoleh ke arah ibunya, dia menjadi lebih bingung lagi. Ibunya yang biasanya keras dan tegas itu kini seperti pesakitan yang ketakutan menanti hukuman. Matanya bukan hanya bers takut. Mata itu memancarkan rasa bersalah yang sangat dalam. “Mom?” desis Tracy bingung. Tetapi ibunya sudah membalikkan tubuhnya untuk menyembunyikan wajahnya. Walaupun. tidak melihat, Tracy tahu, ibunya sedang menangis: Padahal selama enam belas tahun hidupnya, berapa kali dia melihat ibunya menitikkan air mata? Sekarang aku bukan hanya tidak memperoleh cinta pria yang diam-diam kucintai, pikir Sania sambil menahan sedu sedannya. Sekarang aku malah menuai kebencian yang amar sangat! Lihat bagaimana cara Paskal menatapku! Dia seperti hendak membunuhku! “Paskal?” Tracy menoleh kembali ke arah pria yang masih menatap ibunya dengan penuh kegusaran itu. Ketika mendengar suaranya, Paskal seperti i tersentak dari kemarahan yang membiusnya. i Dia berpaling ke arah Tracy. Dan sorot mata- j nya kembali berubah lembvtt. Tapi bukan ke- \ lembutan yang biasa. Bukan cinta yang Tracy j kenal. / &lt; Kini pria itu memandangnya dengan cinta I dan kelembutan yang berbeda. Amat berbeda. i Seandainya ada Solandra kecil yang dapat menemanimu sesudah aku pergi…. “Tracy…” desah Paskal lirih dilibat keharuan. Matanya terasa panas. Dia ingin menangis. Diraihnya gadis itu ke dalam pelukannya. Didekapkannya kepalanya erat-erat ke dadanya. Dibelai-belainya rambutnya dengan penuh kasih sayang. Tapi bahkan belaian itu pun terasa berbeda. Tak ada lagi kemesraan. Tak ada lagi kerinduan. Tak ada lagi gairah. Yang tertinggal hanya kehangatan dan kasih sayang. “Paskal!” cetus Tracy penasaran. Direnggang-kannya tubuhnya. Ditatapnya pria itu dengan jjpran. “Apa yang terjadi? Kamu kenal ibuku?” ‘ “Kami bersahabat sejak di uni,” sahut Paskal |etir. Diraihnya kembali gadis itu ke dalam pelukannya. Tetapi kali ini Tracy menolak. “Ceritakan padaku!” desaknya penasaran. “Punya hubungan apa kalian!” “Kamu anakku, Tracy!” desis Paskal gemetar menahan emosinya. “Ibumu menyembunyikan kamu…” “Tidak!” protes Tracy histeris. Dilepaskannya pelukan Paskal dengan panik. Matanya menatap liar. 101 Tidafcf- lelaki ini bukan ayahnya.’ Lelaki _ kekasihnya.’ Satu-satunya pria yang dicintainya.’ “Maafkan aku, Tracy,” desah Paskal pilu. “Aku ayahmu;…” “Tidak!” jerit Tracy menahan tangis. Dia menoleh ke arah ibunya seolah-olah minta pertolongan. “Mom!” Teriris hati Sania ketika mendengar suara putrinya. Seperti itu juga suaranya kalau dia jatuh ketika kecil dulu. Dia “kesakitan. Dan dia min ta tolong pada ibunya! Tapi bagaimana dia harus menolong anaknya? Tidak ada lagi yang dapat dilakukannya! Bahkan untuk keluar dari kumparan dosanya pun dia sudah tidak mampu! Dosanya sudah terlalu besar! w(-‘?-1 “Mom! Dia bohong, kan?” desak Tracy getir. Melihat sikap ibunya dia sebenarnya sudah tahu, Paskal benar. Dia tidak berdusta! Tapi I dia masih tetap berharap ibunya dapat menolongnya. Seperti yang selama ini selalu di- / lakukannya! “Tracy,” Sania memandang putrinya dengan j air mata berlinang. “Ada yang harus Mommy ceritakan padamu…” “Tidak perlu!” potong Tracy gemas. “Bilang saja aku bukan anaknya!” ‘ “Dia memang ayahmu, Tracy,” gumam Sania lirih. Dia menoleh ke arah Paskal. Dan menatapnya dengan getir. “Aku berutang penjelasan padamu…” “Tidak ada lagi yang perlu kamu jelaskan!” sergah Paskal jijik. “Kamu mencuri embrio kami! Jelaskan saja pada Solandra kalau kamu bertemu dia nanti! Solandra benar. Jika mukjizat yang pertama gagal, mukjizat yang kedua pasti berhasil. Aku sudah melihatnya sekarang. Tracy adalah mukjizat yang dinantikan Solandra sampai akhir hidupnya. Kamu yang dengan kejam merenggut kesempatan Solandra untuk melihat anaknya! Anak kami!” Sambil menahan emosinya Paskal memutar tubuhnya. Langkahnya telah terayun untuk meninggalkan tempat itu ketika suara Tracy melengking di belakangnya. “Paskal!” Paskal menoleh. Dan matanya bertemu dengan mata putrinya yang berlinang air mata. “Panggil aku Daddy, Tracy,” pintanya lirih. “Sekali saja dalam hidupku aku ingin mendengar anakku memanggilku Daddy.” Tidak!” jerit Tracy gemas. “Kamu bukan ayahku.’ Kamu bohongi Kukira kamu begitu mencintai istrimu? Ternyata kamu tega juga mengkhianatinya dengan menodai ibuku!” Sejenak Paskal terperangah. Jadi Tracy telah salah sangka! Dia mengira dia lahir karena hubungan gelap Paskal dengan ibunya! “Tracy! Kamu salah mengerti____ Solandralah ibumu?” “Bohong? Perempuan itu yang mengandung dan melahirkanku?” jarinya menunjuk ke arah Sama dengan geram. “Hanya saja aku tidak tahu, kamulah yang menebarkan benih di rahimnya! Kamu Busuk, Paskal! Selama ini kukira kamu lelaki paling suci dan paling baik di seantero jagat! Ternyata kamu tidak ada bedanya dengan lelaki lain!” “Dengar dulu, Tracy…” Tetapi Tracy sudah tidak mau mendengarnya lagi. Dia menghambur masuk meninggalkan Paskal dengan ibunya. Sekarang Paskal menoleh i ke arah Sania dengan tatapan jijik. “Jadi kamulah ibu pengganti itu,” desisnya j muak. “Kamu menanamkan embrio kami di j rahimmu sendiri!” – “Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya, i Pas,” pinta Sania pilu. i “Tidak perlu! Semuanya sudah sangat jelas! Jika aku tidak kebetulan bertemu dengan Tracy, aku malah tidak pernah tahu kami punya anak! Kamu melanggar sumpah doktermu, Sania. Kamu membohongi dan menipu pasienmu! Sekaligus sahabat yang sangat menyayangi dan menghormatimu!” Dengan jijik Paskal memutar tubuhnya. Dan melangkah ke pintu. Di pintu, dia masih sempat mendengar suara Sania, getir dan penuh penyesalan. “Maafkan aku, Pas. Kalau saja kamu beri aku kesempatan untuk menjelaskannya….” «tapi memang tidak perlu lagi penjelasan. Semuanya sudah jelasf Tracy anaknya. Anaknya dengan Solandra. Anak yang begitu diinginkan Solandra untuk mendampingi Paskal sepeninggal dirinya. Itukah arti mimpinya selama ini? Solandra ingin mengatakan padanya mereka punya anak? Tetapi Solandra tidak mampu menyampaikannya pada Paskal. Karena di antara yang hidup dan yang mati, ada batas yang tidak mungkin ditembus. Mereka tidak bisa berkomunikasi lagi. Solandra tidak bisa.mengatakan di mana Tracy. Tetapi nasib telah menuntunnya ke sana. Mempertemukannya dengan anaknya. Paskal bergidik ketika membayangkan apa jadinya jika hubungan mereka berlanjut ke jenjang yang lebih -intim. Dia akan menodai anaknya sendiri! Aib yang tak terhapus. Dosa yang tak berampun! Sekarang pun dia sudah sangat menyesal. Telah mencintai dan memperlakukan anaknya seperti seorang kekasih. Seperti dia telah memperlakukan Solandra! Selama ini dia mengira Tracy adalah titisan Solandra. Ternyata dia keliru. Tracy memang duplikat Solandra. Karena dia anak  mereka! . Seandainya kamu punya kesempatan untuk melihatnya, Andra, desah Paskal lirih dalam perjalanan pulang. Kamu pasti sangat bahagia! Atau… kamu sudah melihatnya? Karena itu kamu begitu ingin memberitahukannya padaku? Dia sangat cantik, Andra. Dia begitu mirip kamu! Kamu pasti bangga punya anak seperti dia…. Seandainya saja kamu bisa menimangnya… membelainya… mengecupnya…. Semua gara-gara Sania! Dia yang dengan keji membantai harapanmu untuk memberikan seorang anak padaku! Mengapa manusia dapat berubah sedrastis itu? Sania yang baik. Yang setia. Yang selalu siap membantu. Mengapa dia berubah? Karena… dia jatuh cinta padaku? Karena dia baru sadar sebenarnya sudah lama dia mencintaiku? Karena itu dia menginginkan anakku setelah sia-sia merebut hatiku? Aku harus mengambil Ttacy kembali. Tekad itu lahir begitu saja malam itu. Tepat tengah malam. Setelah Paskal sia-sia mencoba tidur. Dia bukan hanya benci pada Sania. I Panas. Sakit hati. Dendam. Tetapi dia juga menginginkan Tracy. Kali ini dengan keinginan seorang ayah. Kerinduan seorang bapak. Bukan lagi kerinduan yang penuh gairah seperti yang selama ini dirasa-| kannya. Aku harus mengambil anakku kembali. Itu keinginan terakhir Solandra. Dia ingin memberikan seorang anak padaku. Supaya dapat mendampingiku. Menggantikannya merawatku. Menemaniku. .Solandra pasti tidak rela Tracy menjadi anak Sania dan Mike. Tapi… masinkah Sania menjadi istri Mike? Menurut cerita Tracy, ayahnya ahli radiologi. Bukan ahli kandungan. Mungkinkah Sania sudah berpisah dengan Mike dan menikah dengan lelaki lain? Karena ku dia pindah ke Goldcoast. Tapi persetan! Peduli apa siapa pun suaminya! Paskal akan menempuh jalur hukum untuk menuntut anaknya kembali. Sekarang dia memiliki cukup uang untuk melakukannya. Berapa pun mahalnya harga yang harus dibayar, akan dijalaninya juga. Paskal yakin dengan pemeriksaan DNA, dia pasti dapat membuktikan Tracy bukan anak Sania. Tracy anaknya. Anaknya dengan Solandra! Paskal hanya perlu mencari bukti-bukti yang dapat menguatkan tuntutannya. Dan itu tidak terlalu sulit. Dia dapat minta bantuan sejawar-nya di Jakarta. Di rumah sakit tempar dulu Sania bertugas. Perawat yang dulu mendampinginya juga masih bertugas di sana. Mungkin yang sulit adalah menembus pintu hukum di Australia karena Sania dan Tracy adalah warga negara mereka. Tetapi Paskal yakin, bila dia memakai pengacara dari negara itu, jalannya menjadi lebih mudah. Pendek kata, apa pun akan dilakukannya untuk merebut Tracy kembali. Bukan semata-mata untuk membalas dendam pada Sania. Tapi untuk memenuhi keinginan Solandra yang terakhir. Sekaligus untuk mengambil anaknya. Miliknya. Haknya. Tetapi… bisakah seorang anak dimiliki? Berhakkah dia menentukan jalan hidup Tracy, siapa pun dia? Jika Tracy lebih suka hidup di Australia,” jika dia memilih tetap menjadi anak Sania, berhakkah Paskal menggugatnya? Tidakkah tindakannya malah akan menambah penderitaan Tracy? Aku harus menanyakan kehendak Tracy dulu, pikirnya sambil menghela napas berat. Dia sudah cukup besar untuk berpikir dan memilih. Tracy bukan anak kecil lagi. Mungkin sudah terlambat untuk menuntutnya sekarang. Dengan tekad itu, keesokan harinya Paskal datang lagi ke rumah Tracy. Kali ini yang menjumpainya bukan hanya Sania. Tapi juga suaminya. Dokter Peter Thomson yang ahli radiologi ku sudah berumur tujuh puluh dua tahun. Tetapi penampilannya masih seperti pria yang berumur enam puluh tahun. Rambutnya memang sudah menipisi Nyaris botak. Tetapi tubuhnya belum renta. Masih terlihat kokoh. Diam-diam Paskal jadi ingat ayahnya. Barangkali waktu mudanya dokter tua ini juga senang bertualang. Di dunia olahraga. Atau dunia yang lain. “Jadi Andalah dokter dari Indonesia yang mengacaukan keluarga saya,” sambutannya sangat kering. Bahkan dia tidak menyambuti salam Paskal. Sania-lah yang mengenalkan suaminya. Dan dia tidak mengatakan di mana Mike Lawrence. Suaminya yang pertama. “Bukan saya yang mengacaukan keluarga Anda,” sahut Paskal sama dinginnya. “Sudah tanya pada istri Anda apa yang dilakukannya pada keluarga saya?” “Paskal, please,” pint a Sania menahan tangis. “Tolonglah aku!” Tolong kamu? Ingatkah kamu, suatu waktu dulu, kami pernah minta pertolonganmu? Apa yang telah kamu lakukan untuk menolong kami? “Aku memang bersalah padamu dan… Solandra….” Ketika menyebut nama itu, Sania tersedu. “Jika kamu beri aku waktu untuk menjelaskannya…” “Tidak perlu. Semua sudah jelas.” “Aku ingin bicara denganmu berdua saja, Pas. Please, demi masa lalu kita.” Masih adakah yang tersisa dari masa lalu kecuali pengkhianatan dan dusta? “Tapi sekarang yang penting, kita hams memikirkan Tracy….” “Aku datang bukan untuk menemuimu atau minta maaf pada suamimu. Aku kemari untuk bicara dengan Tracy. Aku akan menjelaskan semuanya. Jika dia bersedia, aku akan menempuh semua jalan untuk menuntut anakku kembali.” “Ngomong apa dia?” potong Peter kesal. Matanya menatap istrinya dengan ridak sabar. “Dia tahu di mana Tracy?” “Tracy kabur?” sergah Paskal kaget. “Sejak kemarin sore dia tidak pulang. Peter dan aku sudah mencarinya ke mana-mana….” Tracy menghilang? Paskal tertegun kaku. Jika Tracy pergi, hanya ada satu tempat… * “Kamu tahu ke mana kira-kira dia pergi, Pas?” suara Sania begitu penuh permohonan. Seperti itu jugakah suara Solandra dulu? Ketika dia memohon sahabatnya untuk menolongnya? Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Paskal memutar tubuhnya. Di belakangnya, dia mendengar Perer mengomel. Tetapi dia tidak peduli. “Pas!” Sania mengejarnya sampai ke halaman. Paskal berhenti melangkah. Tapi tidak ber-i’balik. “Kamu tahu di mana Tracy?” Tanpa menjawab, Paskal melanjutkan langkahnya. Sania mengejarnya terus tanpa memedulikan panggilan suaminya. *** Sebenarnya Paskal sudah tidak ingin mendengar lagi apa pun yang dikatakan Sania. Tetapi Sania tidak mau melepaskannya lagi. Dia mengikuti Paskal terus. Juga ketika Paskal duduk di pinggir laut di Surfer’s Paradise. Menatap laut yang membiru luas di depannya. “Aku terdorong melakukannya, Pas,” gumam Sania lirih. “Ketika melihat ovulasi itu berhasil, aku tergoda melakukannya. Dan ketika dari hari ke hari aku merasakan embrio itu tumbuh di rahimku, aku merasa tidak mau kehilangan dia lagi. Berbulan-bulan aku menghidupinya, fetus itu seperti sudah menyatu dengan diriku, Pas, meskipun dia bukan berasal dari tubuh-‘ ku….” Sania menyusut air matanya. “Kamu mungkin tidak bisa mengerti, karena kamu bukan seorang wanita. Kamu tidak punya naluri keibuan. Kamu tidak dapat merasakan Sakitnya jika anak yang kamu kandung harus kamu berikan kepada ibu lain….” “Tapi ibu lain itu Solandra, San!” bentak Paskal hampir berteriak. “Yang sakit kanker! Yang umurnya tidak lama lagi! Yang begitu mengharapkan pada saat terakhir dapat memberikan seorang anak untuk mendampingi dan menghibur suaminya! Yang kamu khianati itu Solandra, sahabatmu! Yang begitu memercayai-mu!” “Aku menyesal, Pas….” “Tidak ada gunanya lagi sesal itu! Kamu melenyapkan satu-satunya kesempatan Solandra untuk menimang dan mencium anaknya!” “Aku rela melakukan apa saja untuk menebus dosaku, Pas____” “Akan kutanyakan pada Tracy apa yang diinginkannya. Kalau dia ingin ikut aku, kamu harus rela menyerahkannya padaku.” “Tidak mungkin, Pas! Suamiku bisa membunuhku! Selama ini dia tidak tahu…” “Sudah saatnya dia tahu siapa istrinya!” “Kasihani aku, Pas….” “Kamu tidak kasihan pada Solandra! Buat apa aku mengasmanimu?” “Paling tidak kasihanilah aku! Sahabatmu! Kalau kamu tidak bisa memberikan cinta padaku, berikanlah rasa ibamu! Cuma itu yang bisa kuharapkan darimu sekarang!” “Dari dulu juga kamu tahu, cintaku hanya untuk Solandra! Aku tidak pernah membo-hongimu. Pura-pura mencintaimu. Memberikan harapan palsu padamu. Aku hanya menganggapmu sahabat. Teman yang kuhormati. Kuhargai. Tapi apa balasanmu? Kamu mengkhianati Solandta, sahabat karibmu sendiri!” “Tidak ada lagi yang dapat kita lakukan untuk Solandra! Tapi kamu bisa menolongku dan Tracy! Kamu mau dia tahu masa lalunya? Kamu mau Tracy membenci ibunya kalau dia tahu apa yang ibunya pernah lakukan?” “Bukan hanya Tracy! Aku ingin suamimu dan semua pasienmu tahu betapa bejatnya moralmu sebagai dokter dan sahabat!” : “Sudah cukup  kamu sakiti aku, Pas,” desah Sania menahan tangis. “Kenapa tidak kamu bunuh saja aku?” “Karena aku bukan pembunuh,” sahut Paskal dingin. “Dan aku masih ingin bertemu Solandra di Taman Firdaus-nya.” “Peter bukan Mike. Dia pasti langsung men-ceraikanku jika tahu riwayat kelahiran Tracy.” “Di mana Mike? Kalian bercerai?” “Mike sudah meninggal. Tapi sampai sekarang Peter mengira Tracy anakku dengan Mike.” “Dia harus tahu betapa bejatnya masa lalu istrinya.” “Kalau kamu melakukannya untuk membalas dendam padaku…” “Aku membalas dendam untuk Solandra. Sekalian membuka mata Tracy. Dia hams tahu siapa ibunya yang sebenarnya. Aku akan membawanya ke makam Solandra.” “Oke jika itu yang kamu kehendaki,” Sania menyeka air matanya dengan pasrah. “Hidupku memang sudah tidak berharga lagi. Aku orang aoa\ n; sepanjang hidupku aku men- . yang gae&lt;”cinta. Tapi sampai di ujung hidupku, aku tidak pernah menemukannya.” “Kalau tidak mencintai Mike, buat apa kawin dengan dia? Buat apa menikah dengan User?” “Aku menikahi Mike supaya Tracy punya ayah. Karena waktu itu mentalku masih Timur. Aku lupa aku tinggal di negeri yang walaupun letak geografisnya di timur, tapi mental penduduknya Barat. Mereka tidak peduli jika se-j andainya waktu ku aku menjadi single parent sekalipun.” “Dan Peter?” “Ketika Mike meninggal, Tracy sangat kehilangan ayahnya. Karena itu aku ingin memberinya seorang pengganti.” “Peter ayah yang baik?” Paskal tidak ingin menanyakannya. Tapi lidahnya terdorong juga untuk bertanya. “Tidak sebaik Mike. Tapi paling tidak, Tracy punya ayah.” Dan sekarang dia punya aku! Dia harus tahu akulah ayah biologisnya! Ayahnya yang sebenarnya! Tapi… maukah Tracy menganggapku ayahnya? Dia sudah telanjur menganggapku kekasihnya! Bab XX ^—^RACY merasa hidupnya hancur. Cintanya terkubur. Harapannya lebur. Satu-satunya pria yang dicintainya, dipuja, dikagumi, ternyata ayahnya sendiri! Semua cerita yang indah-indah itu cuma dongeng belaka! Tak ada cinta suci. Tak ada cinta yang tak ternoda! Kalau dikiranya cinta Paskal kepada istrinya begitu tulus, dia bohong! Dia sama saja dengan lelaki lain. Dia telah menodai perempuan lain. Dia menghamili ibunya! Oh, kenapa harus ibunya? Kenapa bukan perempuan lain saja? Tracy sudah telanjur mencintai Paskal. Sudah telanjur mengaguminya. “Maafkan aku, Tracy. A Kata-kata itu seperti bekti yang menikam perutnya. Bles! Sakitnya terasa begitu menyengat! “Ada yang barm Mommy ceritakan padamu…” Lebih sakit lagi mendengar suara ibunya. Lebih sakit ‘lagi menarik belati yang menghunjam di perutnya! Mengapa mereka begitu jahat? Mengapa mereka tega menyakiti hatinya? “Maafkan aku, Tracy. Aku ayahmu.” Kata-kata itu seperti halilintar yang berulang-ulang menyambar. Gemanya tak mau hilang dari telinga Tracy. Aku ayahmu…. Aku ayahmu…. Aku ayahmu…. Paskal pasti tidak berdusta. Ibunya menguatkan kata-katanya. Mereka terselingkuh. Mereka busuk! Mereka jahat! Apa lagi yang mau diceritakan ibunya? Dusta apa lagi yang ingin dikarangnya? Sebagus apa pun dongengnya, pasti tidak mampu menutupi dosa mereka! Karena dosa mereka Tracy terpuruk dalam kenistaan. Bercinta dengan ayahnya sendiri! Ayahnya! Cinta pertamanyaj^|^(i. Air mata Tracy mengalir lagi kalau ingat kemesraan yang dirasakannya di Paris. Semua begitu indah. Tapi semua begitu cepat berlalu! “Aku mencintaimu,” bisik Paskal ketika perahu beratap kaca itu menyusuri Sungai Seine. Suaranya begitu mesra. Begitu lembut. Membuat hati Tracy berbunga-bunga. Hangat. Nyaman. “Jangan pernah meninggalkanku lagi,” pinta Paskal ketika dia memeluknya dengan sangat lembut. Ketika itu Tracy tengah mengenakan gaun hijau melon seperti permintaannya. Saat itu Tracy merasa sangat .bahagia. Sorot mata lelaki itu begitu memuja. Begitu mengagumi, seolah-olah dia melihat bidadari turun dari kahyangan. Sekarang kebahagiaan Tracy pupus sudah. Kenangan indah di Paris itu cuma ilusi Semuanya palsu! Tak ada cinta abadi. Tak ada cinta yang suci murni! Lebih baik aku mati, tangis Tracy pilu. Lebih baik aku lenyap untuk selama-lamanya! Biar mereka menyesal. Biar mereka menyesal seumur hidup! tera ng Paskal khawatir sekali. Biarpun belum punya anak, dia mengerti sekali psikologi remaja yang putus cinta. Apalagi yang cintanya direnggut dengan begitu kejam dan mendadak seperti Tracy. Bagi remaja seusianya, cinta adalah segala-galanya. Putus cinta bisa sangat menghancurkan. Menyedihkan, lapi harus memutuskan cinta karena lelaki yang dicintainya adalah ayah kandungnya sendiri, lebih memilukan lagi kalau bukan mematikan. Apalagi Tracy mengira Paskal menghamili ibunya. Dia tidak tahu apa yang sesungguhnya -terjadi. Dan Paskal belum sempat menjelaskan perbuatan busuk Sania. Tracy tidak memberinya waktu. Dia seperti tidak mau mendengar apa-apa lagi. Tracy sudah putus asa. Kekasihnya ternyata ayahnya sendiri! Apa lagi yang harus didengarnya? Tracy sedang berada pada titik yang sangat foods. Orang-orang yang dicintainya, dipujanya, dihormatinya, ternyata cuma kutu busuk! Ibunya, idolanya selama belasan tahun, ternyata tidak ada bedanya dengan pelacur! nya, cuma seorang pembual! Kata-katanya sama murahnya dengan perbuatannya. Sama kotornya dengan debu di tanah! Paskal gelisah sekali. Jantungnya meronta liar dicengkeram rasa takut. Akan berbuat nekatkah Tracy? Dia masih begitu muda. Masih hijau. Jiwanya masih terlalu labil. Dia belum dapat berpikir panjang. Bunuh diri mungkin dirasanya sebagai pelepasan yang paling tepat! Supaya dia tidak usah merasa sakit lagi! Tolong lindungi anak kita, Andra, pinta Paskal sepanjang perjalanan ke Paris. Satu-satunya tempat yang mungkin dituju Tracy. Jika dia ingin bunuh diri, di sanalah tempat yang dirasanya paling tepat. Karena di sanalah dia pertama kali jatuh cinta. Di Paris cintanya bersemi. Di Paris pula dia ingin mengakhiri cintanya. Setibanya di Paris, Paskal langsung mencarinya di Menara Eiffel. Tapi Tracy tidak ada di sana. Sia-sia dia bersusah payah mencari anaknya di antara kerumunan sekian banyak manusia yang sedang mengagumi menara yang paling terkenal di dunia itu. Sia-sia dia mencarinya sampai ke puncak menara. Tracy tidak ada di mana-mana. Dengan resah Paskal menyusuri tepian Sungai Seine. Tapi di sana pun Tracy tidak ditemuinya. Tracy tidak ada di jembatan. Tidak ada pula dalam perahu yang hilir-mudik di sungai itu. Percuma Paskal duduk-duduk di sana menunggui1 turis yang pergi-datang dengan perahu. Rasanya sudah hampir semua tempat yang pernah mereka kunjungi sudah didatanginya. Bahkan Avenue des Champs Eiysees^ sudah ditelusurinya dari ujung ke ujung. Setiap kafe di pinggir jalan dHongoknya. Setiap toko yang pernah disinggahinya dimasukinya. Setiap gadis yang ditemuinya diperhatikannya baik-baik. Yang dari belakang punya potongan tubuh seperti Tracy dikejarnya supaya dapat melihat wajahnya. Seluruh kebun Jardin du Luxembourg, tempat mereka pernah berjalan sambil bergandengan tangan, sudah diperiksanya. Boulevard St Michel yang merupakan jalanan yang paling kerap mereka lewati juga sudah ditelusurinya. f Ke mana lagi dia harus mencari Tracy? f Akhirnya Paskal mencoba mencarinya di f rumah Geoffroy. Tapi yang ditemuinya cuma sebentuk wajah yang gersang.. “Buat apa mencarinya di sini? Tracy tidak pernah kemari lagi.” Jadi ke mana dia? pikir Paskal bingung. Salahkah dugaanku? Tracy tidak pergi ke Paris? Dia masih ada di Goldcoast? Kata Sania, Tracy membawa tas dan travel %-nya. Sania tidak tahu di mana paspornya. Mungkin dibawa. Mungkin pula tidak. Dia membawa semua uang tabungannya. Percuma Peter memblokir kartu kredit dan ATM-nya. Uang Tracy cukup untuk membeli tiket ke mana pun. Yang dapat dilakukan Peter hanyalah mencoba menelusuri daftar penumpang pesawat yang meninggalkan Bandara Coolangatta. Dari sana dia bisa terbang ke Sydney. Sulitnya, Tracy dapat juga naik bus ke Brisbane dan berangkat melalui bandara internasional di sana. Jika naik bus, dia hanya perlu waktu satu jam untuk mencapai Brisbane. MttjiSj Sementara Peter dan istrinya masih berkutat mencari ke mana Tracy pergi, Paskal sudah tiba di Paris. Malangnya, sampai malam dia mencari Tracy ke tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi, gadis itu tidak ditemukan juga. Paskal sudah hampir putus asa ketika hampir puk ul satu malam itu dia kembali ke kaki Menara Eiffel. Jantungnya tersengat ketika dari kejauhan dia mengenali bayangan gadis yang tengah menggigil kedinginan di sana. Cuaca saat itu memang sudah mulai dingin. Kalau Tracy sudah beberapa jam berada di sana dalam pakaian seperti itu, dia bisa menderita hipo-termia! “Tracy!” seru Paskal tanpa ragu sedikit pun. Dia yakin sekali siapa yang sedang tegak seorang diri dalam kegelapan di sana. Mendengar suaranya, gadis itu langsung menoleh. Tetapi berbeda dengan dulu, Tracy tidak langsung menghambur ke dalam pelukannya. Dia malah lari menjauhi. “Tracy! Tunggu!” seru Paskal cemas. Dia khawatir sekali melihat keadaan anaknya. Larinya sudah limbung. Mungkin benar dia sudah menderita hipotermia! Paskal tidak memerlukan waktu lama untuk meraih.putrinya. Begitu tubuh Tracy terbenam dalam pelukannya, dia dapat merasakan tapa dinginnya kulit gadis itu. “Tracy,” sergah Paskal cemas. “Kamu bisa sakit!” Bukan hanya sakit. Kalau bipotermianya sudah lanjut, dia bisa mati! Tracy tidak menjawab. Bukan karena tidak mau. Tapi karena tidak mampu lagi. Bibirnya yang sudah membiru menggeletar kedinginan. Dia mendesah. Bergumam. Tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak jelas lagi. Tanpa membuang waktu lagi, Paskal menggendong anaknya, menghentikan taksi, dan membawanya ke hotel yang terdekat. ‘Anda perlu dokter?” tanya resepsionis hotel itu ketika melihat keadaan Tracy. “Saya dokter,” sahut Paskal mantap. “Saya tahu bagaimana menolong anak saya.” Tujuh belas tahun Paskal tidak pernah menolong pasien. Sejak dia meninggalkan profesi dokternya karena merasa tidak mampu menolong istrinya sendiri. Sekarang dia dituntut untuk menyelamatkan anaknya. Dan dia tahu, dia harus bergerak cepat. Karena suhu tubuh Tracy sudah turun sekali. Dia bukan hanya merasa tangan-kakibenya yang kedinginan. Tapi sekujur tubuhnya. Dadanya. Perutnya. Punggungnya. Lupa dirinya berada di hotel bukan di rumah sakit, lupa mereka cuma resepsionis dan pelayan bukan perawat, Paskal langsung memerintahkan mereka membantunya. Dia menyuruh pelayan mengisi bak mandi dengan air hangat. Menghangatkan temperatur kamar secepat-cepatnya. Dan menyediakan minuman panas. Paskal sendiri yang menggendong putrinya ke kamar mandi. Melucuti pakaiannya yang basah. Dan merendam tubuh Tracy dalam air hangat. Diangkatnya tangan dan kakinya agar lebih tinggi dari tubuhnya. Lalu dia berlutut di sisi bak mandi. “Tracy,” bisiknya di telinga putrinya. Dibelai-belainya pipinya dengan penuh kasih sayang. Ditenangkannya anaknya yang mulai panik ketika merasa kaki-tangannya tidak terasa lagi. “Jangan takut. Papa ada di sini. Di sampingmu. Papa akan menolongmu.” Ketika Paskal menggendong putrinya keluar dari kamar mandi, dia melihat dokter hotel sudah menunggu di samping tempat tidur. *** Kalau menuruti kata hatinya, Paskal tidak ingin menelepon Sania. Biar saja dia kelabakan mencari putrinya. Tapi ketika keesokan harinya dia menanyakan pendapat Tracy, keputusannya berubah. Tracy memang belum mau bicara. Tidak mengucapkan sepatah kata pun walau Paskal yakin dia sudah sadar penuh. Suhu tubuhnya sudah kembali normal. Dan kondisinya sudah membaik. Umurnya yang masih muda dan kondisi fisiknya yang baik membuat pemulihan tubuhnya berlangsung cepat. Tetapi sejak terjaga pagi itu, dia belum mau bicara. Bahkan melihat ke arah Paskal pun dia segan. Wajahnya tetap murung. Dan sikapnya sangat kaku. Tetapi ketika Paskal bertanya apakah dia ingin, memberitahu ibunya, Tracy mengangguk lemah. “Oke,” Paskal menyodorkan notes kecil di samping tempat tidur. “Tulis saja nomor teleTidak banyak yang Paskal katakan kepada Sania. Dia hanya berkata singkat, “Aku sudah menemukan Tracy. Dia di Paris.” Lalu Paskal menyebutkan nama hotel dan nomor kamarnya. Dua hari kemudian Sania sudah tiba di sana. Begitu melihat kondisi anaknya, dia amat terguncang. Dikiranya Tracy sakit. Sania sudah memburu hendak merangkul Tracy ketika Paskal mencegahnya. “Jangan!” perintahnya tegas. “Dia sedang tidur. Dia perlu istirahat.” “Kenapa dia, Pas?” sergah Sania cemas. “Hipotermia. Dia membiarkan dirinya mem beku di kaki Menara Eiffel.” “Ya Tuhan!” desis Sania sambil menutup mulutnya menahan kepiluan hatinya. Anaknya mencoba bunuh diri! “Jangan sebut nama Tuhan,” desis Paskal dingin. “Kamu tidak pantas mengucapkannya.” Sania tertegun. Dia menoleh ke arah Paskal. Dan matanya bertemu dengan mata yang dingin itu. Hatinya kembali tercabik oleh kekecewaan yang amat sangat. Nyerinya terasa sampai ke ujung kaki. Itukah orang yang pernah dicintainya? Seperti itukah kini tatapan mata sahabatnya? Paskal demikian membencinya. Sorot matanya yang berlumur kebencian meluluhlantakkan harga dirinya. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas tak bertenaga. Dia merosot lemah. Bersimpuh di sisi tempat tidur. Pandangannya kembali ke arah” putrinya yang sedang tertidur lelap. Wajahnya memang demikian mirip Solandra. Seperti hendak menghukumnya, Solandra sengaja menitipkan wajahnya pada putrinya. Supaya setiap kali Sania melihatnya, dia teringat pada pengkhianatannya. Dosanya. Ke-kejiannya. (Hanya Sania yang tahu betapa dia mencintai Tracy. Tapi hanya Sania pula yang tahu betapa tersiksa dirinya setiap kali memandang anaknya! “Tracy harus tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Paskal dingin. “Tidak adil membiarkan dia menuduhku berselingkuh dengan kamu. Tracy bukan anak haram!” “Beri aku waktu, Pas…” “Katakan saja siapa yang harus mengatakannya,” potong Paskal geram. “Kamu. Atau aku.” “Kalau Tracy sudah cukup kuat, aku akan . menceritakan segalanya.” Tetapi sudah dua hari mereka tinggal di hotel itu, Sania belum menceritakannya juga. Padahal kondisi fisik Tracy sudah pulih. Hanya mentalnya yang masih tertekan. Dia belum mau bicara. Lebih suka berbaring di tempat tidur sambil memejamkan matanya. “Beri dia kesempatan, Pas,” pinta Sania ketika Paskal mendesaknya terus. “Jiwanya belum cukup kuat untuk mendengar yang sebenarnya.” “Atau kamu yang belum cukup kuat menceritakan dosamu?” sindir Paskal jengkel. “Kutunggu sampai besok. Kalau kamu belum men-. ceritakannya juga, aku yang akan membuka aibmu.” “Mengapa kamu sekejam ini padaku?” keluh Sania lirih. “Pantaskah kamu dikasihani? Kekejamanmu pada Solandra sudah tidak terampuni!” “Kamu akan menyesal, Pas..&amp;” “Aku memang menyesal,” geram Paskal. “Menyesal membawa Solandra padamu!” Aku juga menyesal membawamu ke pesta reuni kami, keluh Sania dalam hati. Menyesal memperkenalkan Solandra padamu! ketika Paskal mengeluarkan kunci kamar Tracy untuk membuka pintu, seorang pelayan room service sudah keburu membuka pintu dari dalam. Dia mendorong kereta makanannya ke luar dan memberi hormat kepada Paskal. Paskal masuk ke dalam dan membiarkan pintu tertutup sendiri di belakang tubuhnya. Ketika mengayunkan langkahnya, dia mendengar suara Peter. Dan dia tertegun di depan pintu kamar mandi yang terletak di fiyer. Sejak kapan Peter datang ke sini? Untuk diakah Sania memesan makanan? Ketika Paskal meninggalkan kamar ini tadi pagi, Peter belum ada di sana. Dan Sania tidak pernah mengatakan suaminya akan menyusul kemari. Dia malah bilang terpaksa datang sendiri karena Peter sangat sibuk. Sekarang ternyata Peter menyusulnya. Karena Sania? Atau… karena Tracy? Dia meninggalkan semua kesibukannya untuk menyusul mereka ke Paris. “Ketika Mike meninggal, Tracy sangat kehilangan ayahnya. Karena itu aku ingin memberinya seorang pengganti.” arena itu Sania menikah dengan Peter. Karena dia ingin memberikan seorang ayah untuk Tracy setelah sia-sia menunggu Paskal. Sania sudah datang ke Jakarta. Sudah menunggu di kantin di kampus mereka. Tetapi Paskal tidak muncul juga. Sania masih mencoba datang ke rumah Paskal. Masih mencoba menggapai cintanya. Tetapi dia tidak dapat menemukan Paskal. Sania sudah menunggu selama sepuluh tahun. Berharap semoga Paskal sudah berubah. Semoga Paskal kini dapat menerima cintanya. Terapi Paskal tetap menolak. Karena cintanya memang hanya untuk Solandra. Dia tidak pernah mencintai Sania. Seandainya saat itu Sania berterus terang, maukah Paskal menjadi suaminya, menjadi ayah Tracy? Tetapi bagaimana mengatakan siapa Tracy sebenarnya tanpa membuat Paskal geram? ‘Bagaimana memohon Paskal menjadi ayah Tracy, k arena sebenarnya dia memang ayah anak itu! – “Ibumu tidak bersalah, Tracy,” suara Peter terdengar begitu lembut. I Paskal melihat tangan lelaki itu mengelus-elus rambut Tracy dengan kelembutan seorang ayah. Melihat hal itu, secercah perasaan ganjil menyusup ke hati Paskal. “Ketika peristiwa itu terjadi, dia belum menikah. Dia tidak berselingkuh. Dia tidak mengkhianati siapa pun. Kamu tidak patut membencinya. Dia tidak membuangmu ketika tahu I dia hamil. Dia malah mencari seorang laki-I laki yang dapat menjadi ayahmu. Karena lelaki yang menjadi ayah biologismu sudah punya [ istri.” Kurang ajar, geram Paskal gemas. Punya hak apa dia menjelaskan sesuatu yang tidak diketahuinya? Atau… memang itu yang dikatakan Sania kepadanya? Itu dustanya yang terakhir untuk melengkapi kebohongan yang telah diperbuatnya! Tetapi belum sempat Paskal mendampratnya, Peter mengucapkan dua kalimat lagi yang membuat Paskal terenyak. “Kasihanilah ibumu, Tracy. Hidupnya tidak lama lagi.” Tracy menatap ayahnya dengan nanar. Perer membelai pipinya dengan lembur. “Ketika kamu di Paris, Dokrer Young menemukao kanker stadium tiga B di paru-parunya. Sudah terlambat untuk dioperasi.” Sekarang Tracy menoleh kepada ibunya. Matanya menatap ngeri. Sania memeluk anaknya sambil menahan tangis. “Mommy tidak mau kamu pulang karena mendengar kabar itu. Makanya kami belum memberitahu kamu.” “Mom!” itulah kata pertama yang terlompat dari mulut Tracy setelah beberapa hari membisu. Pasti itu pula kata pertamanya ketika bayi dulu. Lalu dia memeluk ibunya dan menangis. Saat itu Peter melakukan sesuatu yang membuat langkah Paskal tertahan. Dia merangkul anak-istrinya erat-erat. Rangkulan itu pasti rangkulan hangat seorang ayah. Seorang suami. Ketika melihat cara Peter merangkul Sania dan Tracy, perasaan ganjil itu kembali merambah di hati Paskal. Lelaki itu pasti menyayangi Tracy. Menyayangi Sania. Dan sekarang, kehadirannya pasti lebih chbutuhkan daripada kehadiran Paskal. Paskal tidak sampai hati merenggut sisa kebahagiaan Sania. Kalau benar ada kebahagiaa0 di akhir hidupnya. Dia juga sudah merasa, Tracy akan memilih mendampingi ibunya daripada ikut Paskal. Ibunya sedang sekarat. Tracy pasti tidak mau meninggalkannya. Siapa pun Sania, bagi Tracy, dialah ibunya. Ibu kandungnya. Yang mengandung dan melahirkannya! Perlahan-lahan Paskal memutar tubuhnya. Meninggalkan kamar itu. Dan menutup pintu kamar. Bab XXI f-1 kei am ASKAL kembali ke Jakarta tanpa menunggu sampai Sania menceritakan rahasianya kepada Tracy. Dan karena Tracy tidak mau melihatnya lagi, Paskal hanya menitipkan sepucuk surat dan sebentuk kalung emas untuk putrinya. Di bandul kalung itu terikat batu hitam mengilat yang dipungut Solandra hampir dua puluh tahun yang lalu di Grand Canyon. Tadinya Peter melarang Sania memberikan surat dan kalung itu pada Tracy. “Buat apa?” gerurunya kesal. “Dia cuma mengganggu Tracy saja. Mengacaukan emosi Tracy yang sudah mulai tenang.” Tetapi Sania percaya, Paskal tidak sejahat itu. Dia percaya, Paskal menyayangi anaknya seperti mereka mengasihi Tracy. Jadi Sania ber-;eras memberikan kalung dan surat itu kepada aknya ketika mereka meninggalkan Paris. «Kamu bakal menyesal,” dumal Peter gemas. Makin tua dia memang makin nyinyir. Tapi satu hal yang tak dapa’t dibantah. Dia juga menyayangi Tracy. Dan pada saat Sania sadar hidupnya sudah tidak lama lagi, dia bertambah membutuhkan Peter. Karena dia memerlukan seorang ayah ¦ untuk Tracy. Seseorang yang mengasihinya. Seseorang yang akan melindunginya sepeninggal Sania. “Kamu lihat bandul kalung itu? Batu apa itu? Jangan-jangan black magid” Sania juga tidak tahu batu apa yang tergantung di kalung itu. Paskal menyuruh toko perhiasan mengikatnya di sana, pasti batu itu sangat berharga baginya. Mungkin semacam jimat. Pengusir bala. Pembawa keberuntungan. Atau apa pun juga. Yang pasti, Paskal tidak akan memberikan benda pembawa sial kepada anaknya. Mula-mula Tracy juga tidak mau memakai kalung itu. Bahkan menerimanya saja dia segan. Tetapi selesai membaca surat ayahnya di pesawat, Sania melihat matanya berkaca-kaca. Dan dia menyimpan ka lung itu di rasnya. “Terimalah kalung ini sebagai tanda mata ayah-ibumu, Tracy. Ibumu, Solandra, memungut batu hitam itu di Grand Canyon tujuh belas tahun yang lalu, ketika cinta sedang merambah ke seluruh pembuluh darah kami. “Batu itu bukan batu mulia yang mahal harganya. Batu ku cuma batu biasa. Terbuang dan terhantar di tanah kotor selama ratusan mungkin pula ribuan tahun. Diinjak puluhan ribu kaki manusia dan binatang. Tapi artinya buat kami sangat besar. Karena seperti batu yang telah ribuan tahun teronggok abadi di sana, seperti itu jugalah cinta suci kami. Kekal dan abadi untuk selamanya. Tak lekang oleh waktu. Tak luntur oleh maut. “Ada satu hal lagi yang ingin kukatakan padamu, Tracy. Jika kamu kka proses kelahiranmu berlumur dosa, kamu keliru. Kamu bukan anak haram, Tracy. Kamu tidak lahir dari perselingkuhanku dengan ibu yang mengandung dan melahirkanmu. “Kamu lahir dari sebuah mukjizat. “Tuhan mengabulkan permintaan terakhir hamba-Nya yang sangat setia. Karena Solandra begitu yakin, jika mukjizat kesembuhan yang dimintanya tidak dikabulkan Tuhan, Dia akan emberikan mukjizat yang lain. “Kamulah mukjizat itu, Tracy. “Ketika aku tahu kamu anakku, untuk pertama kalinya aku percaya, Tuhan memang ada. Karena kalau bukan Dia, siapa lagi yang dapat memberikan mukjizat semacam itu? “Saat ini, hanya ada satu permintaan lagi yang kupanjatkan pada Tuhan. Aku berdoa, semoga suatu hari nanti, entah sepuluh tahun I lagi, dua puluh tahun, atau tiga puluh tahun, aku dapat melihatmu lagi. Datang bersujud di depan nisan ibumu, Solandra. Dan menghampiriku dengan kalung tanda mata dari orangtuamu melingkar di lehermu sambil me-| manggilku Daddy. “Aku berharap saat itu aku masih dapat melihatmu. Menyentuhmu. Dan menciummu. “Tetapi jika Tuhan baru mengabulkannya setelah jasadku terbujur dalam peti mati, aku tetap bersyukur, Tracy. “Karena Solandra selalu mengajarkan, yang jadi adalah kehendak Tuhan. Bukan kehendak 1 kita. “Dia memang wanita yang sangat istimewa, Tracy. Wanita yang berhati mulia. Wanita yang punya iman yang sangat teguh. Tidak ada cobaan yang dapat melunturkan kepercayaannya kepada Tuhan. “Aku beruntung memiliki dua orang wanita yang sangat berharga dalam hidupku. Kamu, anakku. Dan Solandra, belahan jiwaku. “Sekarang aku baru sadar, sebenarnya memiliki Solandra dan kamu juga sebuah mukjizat. “Sekarang aku tinggal menunggu mukjizat, yang terakhir dalam hidupku.” *** Dan mukjizat itu akhirnya datang juga. Bukan sepuluh tahun. Bukan dua puluh tahun. Bukan pula tiga puluh tahun. Baru tiga tahun berlalu ketika Tracy muncul di rumahnya. Hari itu tepat hari ulang tahun perkawinannya yang ketiga puluh. Paskal baru saja hendak berangkat ke pemakaman Solandra ketika, gadis itu tiba-tiba muncul di ambang jpintu. Paskal hampir tidak memercayai penglihatannya. Sekejap dia mengira Solandra-Jah yang datang. Sekarang, ketika kedewasaan telah menyen-ih dirinya, Tracy malah menjadi semakin mirip engan Solandra, sampai Paskal hampir tidak dapat lagi menemukan perbedaannya. Satu-satunya yang membuat Paskal tahu wanita di hadapannya ini bukanlah Solandra hanyalah karena wanita itu mengenakan kalung itu di lehernya. Kalung emas dengan bandul batu hitam yang Paskal berikan kepada anaknya tiga tahun yang lalu. Sesaat mereka sama-sama tertegun. Saling pandang tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun. Tracy berusaha meredam kerinduan yang bersorot di matanya. Tetapi ketika dia gagal menyembunyikannya dari tatapan ayahnya, dia menunduk sambil menahan tangis. Ketika Paskal melihatnya, matanya menjadi berkaca-kaca. Dan dia tahu apa yang telah terjadi walaupun Tracy tidak sanggup mengucapkannya. Paskal menghampiri putrinya sambil membuka lengannya. Meraih Tracy ke dalam pelukannya. Dan mendekapkannya erat-erat ke dadanya. “Tracy,” bisiknya penuh kerinduan. “Terima kasih mau menemuiku lagi….” Betapa bahagianya aku kalau kamu mau memanggilku Daddy. Tetapi Tracy mungkin belum mampu mengucapkan sepatah kata pun. Kesedihan masih membelenggu jiwanya. Dia membutuhkan beberapa menit sebelum mampu membuka bibirnya yang- gemetar. “Mommy….” desah Trac y sambil menahan tangis. Tapi sekuat apa pun dia berusaha menahan tangisnya, tanggul air. matanya bobol juga. Dia menangis sesenggukan di bahu Paskal. Membuat baju Paskal basah diguyur air matanya. “Aku tahu,” bisik Paskal sambil membelai-belai rambut anaknya dengan lembut. Cinta dan kerinduan menjalari kedua lengannya yang mendekap putrinya. Cinta yang menghangatkan dadanya. Hatinya. Jiwanya. Dia tahu, Sania telah pergi. Dan dia tahu walaupun belum mendengar, Sania telah menceritakan rahasianya sebelum pergi. Dia tidak mungkin sanggup bertemu Solandra sebelum membayar lunas utangnya. Akhirnya mukjizat yang terakhir datang juga. “Mommy minta aku datang hari ini, Ayah. Katanya ini hari istimewa.” Ayah? Paskal merenggangkan pelukannya dan menatap anaknya dengan kaget. Tracy balas menatap dengan sama kagetnya. “Kenapa?” cetusnya bingung. Matanya yang indah berkilauan di balik tirai air matanya. Mata anaknya. Mata Solandra. Mata yang dirindukannya. “Kata Mommy, ayah dalam bahasa Indonesia artinya daddy.”

http://downloads.ziddu.com/downloadfile/12660040/miraw.solandra.rar.html

‘ SERUNI BERKUBANG DUKA “

Dari kantor telepon di seberang sekolahnya, Widuri telah melihat lautan merah-putih berjumbul-jumbul di halaman. Dengan gelisah dia menoleh ke jam dinding yang terpancang di atas sana. Dan menurunkan kembali tatapannya dengan kecewa. jam itu memang lebih berfungsi sebagai perhiasan daripada penunjuk waktu. Dia selalu mati pada saat Widuri memerlukan petunjuknya. Jam tangan, dia beium punya. Dan lalu lintas di jalan ini… astaga, entah sampai kapan dia baru bisa menyeberang. Padahal Suster Clara tidak peduli apa alasannya. Dia selalu mengaum kalau ada murid yang datang terlambat. Sebuah oplet mendadak berhenti di hadapannya. Begitu tiba-tiba sampai mobil di belakangnya hampir tidak keburu mengerem. “Kota? Kota?” teriak sopir oplet itu kepada Widuri yang sudah bergegas mundur takut terserempet. Widuri cuma menggeleng. Dan sopir oplet itu memacu lagi oplet tuanya ditingkahi klakson mobilmobil yang marah di belakangnya. Merasa mendapat kesempatan, tergesa-gesa Widuri berlari ke seberang. Terengah-engah dia sampai di depan sekolahnya. Telat lagi nih, ketua kelas kira!” Widuri menoleh ke balik gerobak tukang mi juhi yang mangkal di dekat pintu gerbang. Dan melihat bapak tukang mi juhi sedang tersenyum memamerkan gigi emasnya. Tetapi tentu saja bukan dia yang berbunyi tadi. Di balik kaca gerobaknya, Widuri telah melihat bayangan dua ekor tikus yang barusan menekat memanggilnya. “Ngapain di situ?” “Ngapain masuk?” balas Yulia sama cepatnya. Dia memasukkan sepotong kerupuk sagu ke mulutnya. Dan mengunyahnya dengan nikmat seolah-olah cuma dia yang pernah mencicipi enaknya kerupuk berwarna jingga itu. “Nggak ada pelajaran  kok!” “Tapi diabsen, kan!” “Sebodo amat! Males, ah!” Yulia menyendok lagi sesendok penuh sambal tanpa permisi. Si tukang mi juhi cuma melirik tanpa berani membuka mulut. Sambalnya sudah hampir habis setengah botol. Tetapi kedua nona ini kelihatannya belum mau berhenti juga menyendok sambal. Mudah-mudahan saja sebentar lagi mereka sakit perut. Kalau tidak, botol sambalnya pasti sudah kosong sebelum mi juhinya habis. Dan langganannya yang kebanyakan terdiri atas anak-anak SMA itu pasti marah-marah. Mi juhi sih tidak pakai sambal! Sama saja dengan bohong! “Hari ini kan hari perpisahan kita dengan anakanak kelas tiga, Yul.” Widuri mencoba memancing emosi mereka. Kalau cuma buat makan mi juhi, buat apa mereka datang ke sekolah? “Perpisahan apaan?” nimbrung Esti sama bersemangatnya. Padahal dia juga sedang repot memindahkan isi piring ke perutnya. Melihat Yulia menyendok sambal lagi, Esti ikut-ikutan minta tambah meskipun mulurnya sudah menciut-ciut kepedasan. Tambah sambal saja kan nggak bayar lagi! “Pesta sih di bangsal! Ngangkutin bangku sendiri, lagi! Udah deh, WO aja! Mendingan nongkrong di sini!” “Ah, ketua kelas kan lain!” Yulia mengerdipkan sebelah matanya, entah karena kepedasan, entah karena mau mengejek. “Anak emas Suster Clara kok! Mana mau bolos? Bisa runtuh tuh pagar!” Percuma memang menggiring kambing ke air. Lebih baik Widuri lekas-lekas masuk sebelum dia betul-betul terlambat. Dan Suster Clara yang agung memang sudah tegak di depan kantor kepala sekolah. Entah siapa yang punya ide jail menempatkan kantor kepala sekolah di sebelah pintu masuk. Suster Clara tahu betul siapa-siapa saja yang melewati ambang pintu itu sesudah pukul tujuh. “Ketua kelas harus memberi contoh yang baik,” dia mulai “bernyanyi” lagi. “Bukannya malah selalu datang paling belakang!” “Maaf, Suster.” Widuri memamerkan senyumnya yang paten. Yang membuat Suster Clara terbatuk-batuk karena tidak tega memarahi terus. Siswinya yang satu ini memang lain dari yang lain. Dia cantik. Pandai. Pintar pula memikat hati orang. Membuat Suster Clara sering merasa tidak sampai hati memarahinya. Seperti sekarang. Sambil mengulum senyum ke-malu-maluan. Widuri menukikkan matanya ke bumi, seakan-akan hendak minta tolong kepada semut-semut yang sedang beriring-iring di bawah sana. Tolong, lunakkan hati biarawati berhari baja ini! Biar hukumannya tidak terlalu lama. Acara kelasnya masih berantakan! “Bikin kue lagi?” Suara Suster Clara memang masih sebengis tadi. Tapi tatapannya mulai melunak. Meskipun ketika mata mereka beradu saat Widuri mencuri-curi pandang, Suster Clara masih mencoba menatap dengan sedingin-dinginnya. “Membantu orangtua itu baik, Widuri. Tapi jangan dipakai untuk alasan datang terlambat. Disiplin harus mulai dipupuk sejak kamu masih sekolah….” Sebuah sepeda mendesir lewat di belakang Widuri. Pengemudinya tidak berhenti. Tidak juga turun dari sepedanya. Dia cuma menyapa dengan hormat. “Selamat pagi, Suster!” “Eh, Parlin! Sini dulu!” Suster Clara membelalak marah. “Aturan mana datang-datang terus nyelonong begitu?!” Malas-malasan Parlin turun dari sepedanya. Menuntun sepeda itu perlahan-lahan menghampiri Suster Clara. Dan mencoba menyogoknya dengan seulas senyum terbaik yang pernah dimilikinya. Tetapi Suster Clara memang hanya satu dari sekian segelintir manusia yang masih tahan sogokan. Tidak mempan disuap. “Kamu tahu jam berapa sekarang?” “Selamat pagi, Suster.” Dua ekor tikus kesiangan menyelinap masuk lagi. “Selamat siang, Nona-nona!” balas Suster Clara sinis. “Kesiangan bangun lagi?” Winarti dan Yeni saling lirik sambil tersenyum kecut Keduanya sama-sama mengharap semoga temannya saja yang menjawab. Tetapi di depan Suster Clara, cecak pun rupanya ikut membisu. “Hari ini memang hari terakhir Tidak ada pelajaran pula. Tetapi bukan berarti kalian bisa masuk semaunya saja. Disiplin tetap harus ditegakkan!” Suster Clara mondar-mandir di depan mereka dengan tangan di belakang punggungnya. Matanya seperti sinar X yang menembus sampai ke tulang sumsum. Membuat keempat muridnya yang tegak berderet di depannya mendadak berubah menjadi patung batu.  Kalau soal disiplin, Suster Clara memang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Jangankan murid. Guru saja dimarahi jika terlambat. Mereka baru dilepaskan setelah ceramah tentang disiplin berlangsung hampir seperempat jam. Masih untung hari itu hari terakhir. Dan semua sedang sibuk menyiapkan pesta sekolah. Kalau tidak, pelajaran tentang disiplin pasti masih ditambah lagi dengan pelajaran menghormat matahari di lapangan terbuka sana. Bergegas Widuri naik ke atas. Ke kelasnya sendiri. Di tangga, sepasang tangan jail menarik rambutnya yang dlekor kuda. Widuri menoleh dengan marah. Dan melihat Parlin sedang menyeringai selangkah di belakangnya. “Jangan, ah! Iseng amat sih!” “Rambut model begini mestinya sudah masuk museum.” “Bukan urusanmu!” “Pantas kamu kesiangan terus.” “Nggak nyusahin kamu kok!” “Tapi ngerepotin kamu! Rambut sepanjang ini….” Parlin mengulurkan tangannya. Mencoba menyentuh rambut Widuri sekali lagi. Tetapi Widuri mengelak dengan meniiringkan kepalanya. “Eh, jangan lancang, ya!” Widuri membelalakkan matanya. Membuat sepasang matanya yang indah mengundang itu jadi semakin menggairahkan. Dan membuat Parlin jadi semakin ketagihan ingin menggodanya dan menggodanya lagi. “Waduh! Masa begitu saja marah! Nggak boleh pegang rambut pacar sendiri?” “Pacar?” belalak Widuri pura-pura berang. “Belum tahu bagaimana rasanya kehilangan kepala, ya?” “Astaga galaknya!” Parlin menyeringai simpatik. “Boleh menjemputmu nanti malam? Pansermu ada di rumah?” “Panser? Panser apaan?” “Ibumu.” “Sialan kau!” “Habis dia merepet terus kalau aku datang.” “Salahmu sendiri. Siapa suruh tampangmu kayak tukang sumbangan.” “Nanti malam kita diundang.” Parlin mencoba meraih tangan Widuri yang berjalan selangkah di depannya. “Pesta perpisahan anak-anak kelas tiga. Di rumah Titie.” Tetapi Widuri pura-pura tidak melihat. Dia senang bergurau dengan Parlin. Senang berada di dekatnya. Tetapi tidak hari ini. Dia tidak punya waktu lagi untuk main-main. Kelasnya pasti masih berantakan. Kursi-kursi belum turun. Acara yang akan dipersembahkan oleh kelas mereka pasti belum beres juga. Widuri mempercepat langkahnya. Meninggalkan Parlin jauh di belakang. Dari jauh dia sudah melihat teman-temannya bergerombol di depan pintu kelas. Mereka lebih suka tertawa-tawa di sana daripada membantu mengatur acara. Diam-diam Widuri menghela napas panjang. Mengapa mereka tidak pernah mau kerja kalau tidak dikomandokan? Mengapa semuanya mesti menunggu perintah? Dan ibunya! Lagi-lagi Widuri menghela napas. Seandainya Ibu mau mengerti sedikit saja tugasnya sebagai ketua kelas! Sudah menjadi tradisi di sekolahnya, perpisahan dengan kelas tiga selalu diadakan di aula. Karena jeleknya aula itu, anak-anak merasa lebih cocok menjulukinya bangsal. Suster Clara tidak setuju kalau pesta perpisahan dengan anak-anak kelas tiga yang sebentar lagi akan meninggalkan sekolah itu dilakukan di luar. “Yang akan mereka tinggalkan sekolah ini kok,” katanya tegas dan ketus seperti biasa. “Mengapa harus mengadakan perpisahan di tempat lain?” Dan sabda yang dipertuan agung memang tidak dapat dibantah. Kaku anak-anak kelas tifa ingin mengadakan acara perpisahan model lain, mereka harus mengusahakan nv-a sendiri. Tentu saja di luar sekolah. Karena pesra perpisahan dengan acara dansa-dansi pasti tidak direstui Suster Clara. “Tidak kreatif,” katanya tegas. “Tidak berbudaya.” Dan jadilah, keftendaknva. Selama Suster Clara menjadi kepala sekolah, dari tahun ke tahun demikianlah model pesta perpisahan mereka. Mereka berkumpul di aula. Tup-tiap kelas menyuguhkan acara hasil kreasi mereka masing-masing. Selesai menonton acara yang dipertunjukkan, dibagikan minuman dan es lilin. Kadang-kadang kue-kue juga. Tergantung dana yang tersedia. Tergantung banyak atau sedikitnya anak-anak yang menunggak tidak bisa menyumbang. Lab selesai. Mereka boleh bersalam «lamin. Boleh pulang. Atau makan bakso dulu di depan. Kalau anak-anak kelas tiga masih penasaran, mereka boleh mengadakan pesta perpisahan yang lebih berkesan. Yang lebih cocok dengan selera remaja. Tentu saji malam hari. Siapa mau pesta di siang; hari bolong?  Itu sit pesta anak-anak! Tempik sorak mengiringi masuknya sang penari topeng dan munculnya pembawa acara di atas panggung. Dan ketika sorak-sorai tidak berhenti juga meskipun Elsa sudah meraih alat pengeras suara, Suster Clara yang duduk di hari» paling depan berpaling ke belakang. Ajaibnya, begitu dia menoleh, separo isi ruangan yang bersorak seperti koor itu langsung mereda. “Brengsek!” bisik Winarti kepada Yen i yang duduk di sampingnya. “Cowok -cowok di belakang situ menyoraki si Elsa. tahu nggak, bukan tari topengnya si Ina!” Elsa memang sexy. Baik penampilannya maupun gaya jalannya selalu mengundang tepuk tangan. Kalau ditakar dengan timbangan remaja, memang bukan lagi termasuk kategori anak S MA. Kapan saja dia muncul, ke mana saja dia lewat, anak-anak lelaki selalu menyiulinya. Soalnya goyang pinggulnya maut. Dan yang tertarik kepada Elsa rupanya bukan cuma pemuda-pemuda saja. Suster Clara juga. Entah sudah berapa kali Elsa dipanggil menghadap. Hari Ini make~up-nyz terlalu tebal seperti penari kabukL Esok jalannya seperti penari jaipongan. Lusa lain lagi. “Mau sekolah atau jadi peragawati?” damprat Suster Clara pedas. “Sana cuci mukai” Dengan kesal Elsa meninggalkan kantor kepala sekolah. Yang benar saja! Dia kan bukan baru bangun tidur! Masa disuruh cuci mukai Lunturlah semua make-up-ny%. Baru ketika Elsa menyadari Suster Clara sedang mengawasinya dengan tajam dari belakang, dia buru buru mengubah cara berjalannya. Dan dia jadi seperti robot yang kehilangan sekrup di pinggangnya. “Memangnya semua orang mesti kayak dia?” gerutu 13 Elsa setelah dirasanya suaranya sudah cukup jauh untuk didengar Suster Clara. “Nggak boleh dandan biar jadi suster nungguin patung seumur hidup di gereja?* “Dandan sih boleh saja,” komentar Widuri blak-blakan seperti biasa. “Tapi kalau bibirmu merah begitu, nanti disengat tawon, dikira kembang!” “Acara berikutnya…” Suara Elsa yang merdu merayu mengalun empuk melewati pori-pori pengeras suara. “Persembahan dari kelas dua IPA, judulnya: Sehari di DUA IPA!'” Lalu tepuk tangan menggemuruh lagi, sebagian malah berirama mengikuti langkah-langkah Elsa yang mengundurkan diri dari atas panggung. Dan seperti tadi-tadi juga, gempa itu baru mereda ketika Suster Clara menoleh ke belakang. “Selamat pagi, Anak-anak!” Dewi muncul di panggung dengan menirukan gaya Ibu Prancis yang manja-manja centil, lebih-lebih kalau di kelas sebelah ada Bapak Jerman yang merupakan bibit unggul dari Nusa Tenggara Timur. Bapak Jerman yang muda dan ganteng itu memang favorit di sekolah mereka. Penggemarnya bertumpuk-tumpuk. Mulai dari siswi, guru, sampai-sampai tante yang jaga kantin jadi ikut-ikutan latah menjadi muda lagi kalau kebetulan Bapak Jerman makan di sana. Malah Yulia bilang, bakso di mangkuk Bapak Jerman selalu lebih banyak dua buah dibandingkan yang di mangkuk mereka, padahal harganya sama. “Besok ulangan.” Prabowo yang mendadak jadi kumis hari ini menirukan gaya Bapak Kimia. “Boleh buka buku, Pak?” teriak anak-anak perempuan. “Halaman berapa sampai berapa sih, Pak? Biar gampang carinya!” “Boleh buka buku.” Prabowo memamerkan senyum simpatik Bapak Kimia yang membuat anak-anak perempuan tidak akan lupa seumur hidup. “Tidak ada di buku kok.” “Adanya di mana, Pak?” “Di kepala saya.” Gemuruh tawa memenuhi ruangan. Membuat jantung Widuri yang sejak tadi berdebar dua kali lebih cepat, mereda kembali. Sajian kelas mereka mendapat tanggapan. Tidak dicemoohkan disuruh turun. “Guten tag, Herr Simon!” teriak penonton dari kelas tiga IPA ketika B ram masuk dengan lagak-lagu Bapak Jerman. “Hari ini kita akan belajar bahasa Jerman sambil menyanyi.” B ram menirukan suara Bapak Jerman yang khas, dalam dan berat. Diam-diam Widuri tersenyum sendiri. Ada keharuan menitik di hatinya menyaksikan kembali cukilan keadaan sehari-hari di kelas mereka. Dua tahun telah berlalu sejak dia pertama kali masuk di sekolah ini. Semua guru-guru selalu baik padanya. Ibu Bahasa Indonesia yang manis dan lugu. Yang selalu memberi angka delapan untuk karangan-karangannya. Ibu Bahasa Inggris yang tegas tapi lembut. Bapak Biologi yang alim. Sampa i Bapak Fisika yang galak tapi tak pernah memarahinya. Semuanya baik. Semuanya bekerja keras membimbing dia dan teman-temannya sampai sekarang. Tidak marahkah mereka disindir seperti ini? 1 c Diam-diam Widuri melirik ke baris kedua. Di sudut sana, Bapak Matematika yang genit tapi simpatik sedang tersenyum-senyum sendiri. Sementara Bapak Olahraga yang pemalu, senyum tersipu-sipu ketika dagelannya dipentaskan oleh Kiki dan Ari. “Saya nggak bisa ikut hari ini, Pak,” kata Kiki pura-pura menyesal sekali. Padahal di tasnya ada novel baru Barbara Cartiand yang sedang asyik dibacanya. Tokoh gadis dalam novel itu sedang seru-serunya dilanda asmara, yang tentu saja tidak dapat diungkapkannya kepada pria pujaannya, karena sang pangeran juga masih malu-malu kucing. Seandainya dia diizinkan tidak ikut olahraga hari ini, dia bisa sembunyi-sembunyi meneruskan membaca novelnya. “Kenapa lagi?” Ari yang cukuran rambutnya memang mirip taruna Akabri itu cocok sekali memerankan Bapak Olahraga yang mahasiswa STO itu. “Mens, Pak.” “Masa?” Paras Bapak Olahraga mulai kemerah-merahan. Barangkali dibakar sengatan matahari pukul delapan pagi. Barangkali juga dibakar oleh sebab yang lain. “Minggu lalu kan sudah?” “Eh, Bapak nggak percaya?” tantang Kiki. Dan menyerahlah sang guru. Habis dia mau apa lagi? Widuri menutup acara itu dengan penampilannya sebagai Suster Clara. Dengan kerudung seorang biarawati, kacamata putih dan tangan di belakang punggung, dia mondar-mandir di atas panggung sambil memberi kuliah tentang disiplini “Disiplin harus mulai dipupuk sejak kamu masih sekolah… kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? Hari ini memang hari terakhir. Tidak ada pelajaran pula. Tapi bukan berarti kalian bisa masuk semaunya saja. Disiplin tetap harus ditegakkan!” Di tengah-tengah tepuk tangan yang amat riuh, Suster Clara bangkit. Naik ke atas panggung. Dan menyalami Widuri. Untuk pertama kalinya Widuri melihat mata tua itu, mata yang selalu bersorot tegas dan galak di balik kacamata putihnya, berkaca-kaca dibelai keharuan. “Wah, dia pidato lagi deh!” gerutu Parlin yang sengaja memilih tempat yang paling dekat dengan bagian konsumsi. “Kapan acara makannya nih?” “Nah, siapa bilang ada jatah buat kamu?” Ita yang memimpin seksi konsumsi pura-pura berang. “Ini cuma buat guru-guru dan para pemain kok!” “Tapi kamu kan pacar saya, Ta. Masa nggak ada jatah buat laki sendiri?” “Eh, udah kepingin berhenti jadi orang ‘kali, ya!” belalak Ita separo bergurau. “Berani-beranian ngaku-ngaku!” “Nah, bini lu yang di panggung tuh mau di-kemanain?” nyeletuk Tina. “Yang mana bini gua?” Parlin menoleh ke panggung. Meskipun tanpa menoleh pun dia sudah tahu siapa yang sedang berdiri di sana. “Yang mana kamu kira?” tertawa Ita. “Yang pipinya sudah kempot tuh! Suster Clara!” “Dosa lu!” Parlin ikut tertawa geli. “Dia kan malaikat!” “Maunya sih si Widuri,” ejek Tina lagi. “Ngaca dulu dong!” Tampang sih sudah boleh* menimpali Ita. “Modal yang payah! Masa dari dulu cuma sepeda karatan!” “SssttfAnak-anak yang duduk di dekat mereka pura-pura membelalak marah. “Dewa lagi bersabda, kamu berani ketawa-tawa di situ, ya! Dikirim menghadap Batara Surya baru kapok kamu!” Sambil tersenyum Parlin memalingkan lagi wajahnya ke atas panggung. Tetapi acara sudah selesai. Pesta sudah bubar. Minuman mulai dibagi-bagikan. Widuri yang sedang menuruni tangga mengiringi Suster Clara tampak demikian berseri-seri. Acara persembahan kelasnya berhasil. Beberapa anak kelas tiga menghampirinya untuk mengucapkan selamat. “Bagus deh acaranya!” Tanpa diundang, An to mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Widuri. Padahal dia cuma ingin memegang tangan gadis itu. “Kita jadi geli campur haru.” Barangkali dia cuma ngecap. Barangkali juga benar. Buat anak-anak kelas tiga yang akan segera meninggalkan sekolah, kenangan yang paling pahit pun bisa jadi mengharukan. “Nanti malam datang, ya!” seia Nia, ketua kelas III IPS. “Perpisahan di antara kita sendiri.” “Di rumah Titie,” sambung Anto, seakan-akan takut tidak kebagian. lirikan Widuri. “Titie gendut. Tahu, kan? Di Jalan Sukabumi. Saya jemput, ya?” “Wah, terlambat,  Bung!” sambar Prabowo yang baru muncul dari balik panggung. “Widuri sudah dicarter kok!” “Parlin, ya?” desak Anto penasaran. Dia berpaling kepada Parlin yang kebetulan baru datang. “Kasih aku kesempatan sekali ini. Ya? Ayolah, Pak Cik! Kau kan masih punya waktu setahun lagi! Masih banyak kesempatan! Kalau aku, cuma tinggal ini malam sajalah!” “Ambil, ambil!” tersenyum Parlin. “Asal ingat mulangin aja!” “Lho, kok malah minta sama orang lain! Yang pesan si Rizal, tahu nggak? Bukan Parlin!” Serentak gerombolan yang makin lama makin bertambah banyak itu tertawa geli. Tidak sengaja Widuri menoleh ke arah kerumunan anak-anak kelas III IPA yang baru saja bubar. Dan matanya bertemu dengan mata Rizal. Tatapan yang dingin itu semakin membeku ketika melihat belasan pasang mata sedang menatapnya sambil tersenyum. Rizal sudah buru-buru menyingkir meninggalkan teman-temannya tatkala Widuri menghampirinya sambil mengulurkan tangan. “Zal,” panggilnya sewajar-wajarnya. “Sampai ketemu lagi, ya. Maafkan kesalahanku….” Tetapi Rizal hanya menoleh sekilas. Sekejap pun dia tidak memandang uluran tangan Widuri. Apalagi menyambutnya. Dia malah berpura-pura tidak melihat. Ketika sambil mendengus Rizal hendak meninggalkan tempat itu. Parlin menepuk bahunya. “Ayo dong, Zal! Sal aman!” katanya sambil tersenyum. “Widuri kan sudah minta maaf!” “Iya, Zal,” sambung Eni, meskipun tidak ada yang minta pendapatnya. “Kita kan akan segera meninggalkan sekolah ini. Meninggalkan mereka. Masa mau kau bawa terus marahmu? Tetapi Rizal tidak menjawab sepatah pun. Tanpa berkata apa-apa ditinggalkannya tempat itu. “Buset, sampai sebegitu marahnya tuh anak]” gerutu Eni jengkel karena kata-katanya dianggap angin lewat. “Acuh aja deh!” hibur Parlin. Tentu saja kepada Widuri. Padahal Widuri sendiri tidak merasa perlu dihibur. Dia tidak peduli Rizal mau memaafkannya atau tidak. Pokoknya dia sudah minta maaf. “Namanya juga cowok keias bulu!” BAB II Terus terang Widuri sudah tidak ingat lagi kapan pertama kali dia melihat Rizal. Bukannya menghina. Soalnya mereka tidak sekelas. Rizal lebih tinggi setingkat. Dan dia tidak punya kelebihan apa-apa. Sebali lihat, orang pasti lupa. Mukanya seperti batu kurang asah. Ibarat patung belum selesai dipahat. Tulang-tulang pipinya menonjol. Dagunya runcing seperu ujung tombak. Profilnya hampir segi tiga seperti ular sendok. Bukan itu saja. Air mukanya pun begitu dingin. Kosong. Tanpa ekspresi. Entah dari batu apa dibuatnya. Rasanya kalau dia ditaruh di museum, pasti ada pengunjung yang bakal keliru membedakannya dari patung. Bodinya minus. Ramping tinggi seperu wortel. Gaya jalannya lebih payah lagi. Mengingatkan orang pada burung pinguin yang kepunahannya cuma tergantung kepada tanda tangan segelintir manusia. Satu-satunya kelebihannya barangkali hanya karena Rizal pin far menulis sajak. Tetapi sajak-sajak cinta satu eksemplar yang dimuat di majalah dinding sekolah itu cuma mengundang perhatian gadis-gadis yang emosional seperti Maya. Karena dia yang menjadi redaksi, dia pula yang hampir setiap hari membaca sajak-sajak Rizal. lama-lama Maya merasa sajak-sajak itu seolah-olah ditujukan untuknya. Siapa lagi yang paling sering membaca sajak-sajak Rizal? Siapa yang paling rajin menggumuli puisi-puisi itu? Teman-temannya yang lain menoleh ke dinding saja hampir tidak sempat. Apalagi membaca sajak! “Dia naksir kamu, Wid,” kata Maya kepada Widuri. Tentu saja Rizal-lah yang dimaksudkannya. Siapa lagi. “Dia puitis lho! Seniman sih! Melalui sajak-sajaknya dia menyalurkan kerinduannya kepadamu.” Ketika Widuri cuma menanggapinya dengan sepotong senyum, Maya jadi semakin penasaran. Dan semakin bersemangat mempublikasikan sang penyair. * “Mau lihat sajaknya, Wid?” “Lain kali saja deh, May. Soalnya kalau soal sajak aku betul-betul buta sih. Nggak ngerti. Nah, mau bilang cinta saja pakai muter-muter dulu ngomongin kembang, manggil-manggil burung….” “ku namanya kamu nggak berseni!” keluh Maya penuh penyesalan, seakan-akan anugerah seni terbaik tahun ini jatuh ke tangan pengemis yang lebih menghargai nasi bungkus daripada sajak. “Kamu belum pernah  sih menghayati bagaimana rasanya kalau ada seorang laki-laki yang menciptakan puisi khusus untukmu! Apalagi sajak cinta! Duh, rasanya kita tiba-tiba merasa menjadi wanita sejati, Wid!” “Astaga! Kalau untuk merasa menjadi wanita sejati saja harus dipuja dengan sajak dulu, pasti aku takkan pernah jadi wanita, May!” Widuri memang tidak pernah serius. Apalagi terhadap Rizal. Ibunya bilang, jangan pacaran dulu. Kalau masih sekolah, belajar saja yang baik. Pacaran cuma membuang-buang energi. Buang-buang waktu. Lebih baik membantu Ibu membuat kue. Itu sebabnya Ibu selalu mengaum menyambut setiap pemuda yang datang ke rumah. Dan itu sebabnya pula Widuri merasa bersalah kepada ibunya kalau dia pacaran. Ibu bekerja keras membuat kue untuk menyekolahkannya. Masa akan dikorupnya waktu untuk belajar yang telah dibeli dengan keringat ibunya itu buat pacaran? Widuri- bukannya tidak tahu Rizal menaruh hati padanya. Dia juga tahu untuk siapa Rizal menulis sajak-sajak cengeng yang dimuat di majalah dinding sekolah mereka. Malah sajaknya yang berjudul “Ber-labuhlah Cintaku!” sudah lebih berani lagi. Rizal menulis begini di sudut atas sajaknya: Buat gadis yang tiap hari kutatap, tapi tak pernah dapat kujangkau. Kita ini ibarat baling-baling pesawat, tiap hari selalu bersama tapi tak pernah dapat bertemu. Tetapi gadis seperu Widuri tidak akan datang sendiri menyerahkan cintanya. Apalagi kalau cuma diundang dengan sajak-sajak semacam itu. Dia harus diperebutkan. Ditaklukkan. Dia tidak akan menoleh kalau tidak dipaksa. Dan kalaupun dia menoleh, yang pertama-tama di tolehnya tentu saja yang pantas untuk ditoleh. Misalnya saja si Parlin yang jago voli itu. Sudah jadi bintang lapangan, jago berkelahi lagi. Untuk membela regunya, dia tidak segan-segan main kasar. Biar babak belur sekalipun. Dan untuk meraih Widuri, dia tidak peduli berapa banyak pemuda yang mengaku pacar gadis itu. Kebetulan Parlin pun punya tampang lumayan. Kombinasi yang jarang. Sudah cakep, pintar lagi. Tidak heran biarpun galak, ibu Widuri tidak pernah ^ melarang Parlin berkunjung ke rumahnya. Soalnya Parlin pintar. Dan menurut pendapat ibu I Widuri, anaknya akan ikut-ikutan jadi pintar kalau belajar bersama Parlin. Kalau menyangkut soal pelajaran, ibu Widuri memang melunak sedikit. Sepera ibu-ibu gadis cantik lainnya, dia lebih suka anaknya jadi dokter daripada jadi penyanyi. Padahal penghasilan penyanyi jauh lebih tinggi dari dokter. Kalau mau dicari-cari lagi, Parlin masih punya kelebihan lain. Gayanya ngepop. Lagak-lagunya tengil-tengil simpatik. Kasar sama sesama cowok tapi lembut kalau menghadapi cewek. Duh, pendeknya tipe pemuda yang sedang digandrungi gadis-gadis masa kini. Tidak heran kalau dia jadi laris. Dan dikejar-kejar cowok laris macam Parlin tentu saja lebih membanggakan daripada main mata dengan cowok yang tidak laku seperti Rizal. Disodorkan-sodorkan saja teman-temannya pada tidak mau. Apalagi dikejar-kejar. Puf. Cowok kelas bulu! Dan entah siapa yang jail menyampaikan kelakar Widuri itu ke telinga Rizal. Yang jelas saat itu Rizal jadi populer dengan gelarnya. Cowok kelas bulu. Dan ketika dia tahu Widuri-lah yang menciptakan gelar itu, dia langsung menarik diri. Mengubur dirinya dalam sakit hati dan dendam yang tak kunjung padam. Tentu saja Widuri sudah berusaha minta maaf. Tapi sambutan Rizal… astaga, dinginnya! “Buat apa?” Rizal balik bertanya ketika Widuri datang meminta maaf. “Saya memang seperti itu. Cuma cowok kelas bulu. Bukan kelas berat seperti si Parlin.” “Tapi saya kan cuma main-main, Zal. Jangan marah dong.” “Kalau suatu hari nanti ada lelaki yang mempermainkan dirimu, barangkali kamu baru dapat merasakan bagaimana rasanya dipermainkan. Apalagi…” Rizal membuang wajahnya ke tempat lain. Dan dalam kegelapan, di bawah cahaya api unggun yang samar-samar di depan kemah mereka di lereng Gunung Gede, Widuri melihat paras Rizal membeku dalam lautan dendam. “…oleh orang yang kamu sayangi….” Tanpa menunggu reaksi Widuri lagi, Rizal meninggalkan tempat itu. Terus terang Widuri menyesal. Ketika melihat lelaki itu berlalu dalam kegelapan dengan kepala  tertunduk, dia sudah membuka mulutnya untuk memanggil. Dia melihat betapa terluka tatapan mata Rizal tadi. Dan heran. Untuk pertama kalinya dia dapat ikut merasakan kesakitan yang diderita Rizal akibat tikaman belati yang dihujamkan oleh gadis yang demikian dipujanya. Mengapa harus menyakiti lagi hati laki-laki yang mencintainya? Dia sudah cukup menderita karena cintanya yang tidak terbalas. Alangkah pedihnya bertepuk sebelah tangan. Mengapa mesti ditambahnya lagi derita laki-laki itu? “Zal!” teriak Widuri cemas. Ketika dilihatnya Rizal melangkah terus tanpa menoleh, dipanggilnya dia sekali lagi. Tetapi yang muncul justru Parlin. Bukan Rizal. Rizal sudah menghilang ditelan kegelapan di bawah sana. “Cepat kejar dia,” pinta Widuri panik. “Nanti dia bunuh diri!” “Bunuh diri?” Parlin menyeringai separo mengejek. Dia tenang-tenang saja menyulut rokoknya. “Karena patah hati?” “Aku serius!” geram Widuri antara kesal dan cemas. “Dia sedang sakit hati. Dia bisa melakukan yang tidak-tidak!” “Apa misalnya? Gantung diri di pohon toge?” “Jangan bergurau, Parlin!” “Kamu tidak usah kuatir. Tidak ada orang yang mati karena cinta.” “Tapi dia bisa celaka!” “Dia bisa teriak-teriak kalau ketemu hantu. Atau kecebur di kali.” “Dia tidak bakal menjerit! Dia sedang sakit hati!” “Lalu mencari mati? Biar saja kalau begitu. Buat apa ditolong. Orang susah-susah mencari mati kok dilarang.” “Petugas apa kamu ini? Kamu kan seksi keamanan!” “Tapi seksi keamanan menolong orang yang mencari hidup, bukan yang mau cari mati!” Parlin memang brengsek. Daripada capek-capek mencari Rizal, dia lebih suka memetik gitar mengiringi suara nyanyian teman-temannya di depan api unggun di muka kemah mereka. Angin malam yang sepoi-sepoi menggoyang-goyangkan lidah api yang menjilat-jilat menghangatkan tubuh dan hati mereka. Sementara Blowing in the Wind mengalur syahdu mengaduk-aduk kalbu remaja yang sedang menggelora dibuai indahnya panorama alam di puncak gunung. Bukan tanpa sengaja kalau Parlin memilih duduk di atas batu di dekat Widuri. Angin malam yang baik hati membelai-belai rambut Widuri yang tergerai bebas di punggungnya. Mengirimkan beberapa helai anak rambut yang menyebarkan aroma harum ke muka Parlin. Menggelitik lembut pipinya yang mulai hangat dibakar api unggun yang menyala di dalam hatinya sendiri. Sambil memetik gitar, Parlin seakan-akan terbius kembali kepada pertemuannya yang pertama dengan Widuri. Sejak pertama kali melihat, Parlin sudah tertarik kepada gadis yang satu ini. Dia sederhana. Tapi kesederhanaannya tidak memudarkan daya tarik alamiah yang dipancarkannya. Di tengah-tengah teman-teman putrinya yang serba modern, Widuri ibarat setangkai seruni di tengah-tengah kebun mawar yang semarak. Matanya yang bening, tatapannya yang lembut, sejuk dan sdaiu tersenyum, membuat Widuri cepat populer. Bukan hanya di antara teman-teman sekelas-, nya saja. Dia ngetop mulai dari kelas satu sampai ke kelas tiga. Mulai dari kantin sampai ke ruang guru. Tidak heran kalau peminatnya berjejal-jejal. Mulai dari Anto yang punya mobil tahun terbaru sampai Rizal yang cuma punya modal sajak. Tetapi Parlin tidak peduli siapa pun saingannya, apa pun modal mereka. Dengan sepeda bututnya dia berani menghadang panser di rumah Widuri. Tidak peduli sudah berapa kali dia disambut oleh perempuan yang tampangnya lebih asam daripada cuka biang itu. Tidak peduli mengapa begitu banyak barang berjatuhan di dapur kalau dia sedang asyik ngobrol dengan Widuri. Atau mengapa ibu gadis itu membanting pintu lebih keras kalau sudah satu jam lebih dia tidak mau pulang-pulang juga. “Maaf, ya.” Widuri-lah yang akhirnya menyuruhnya pulang. Parlin tidak akan menyerah sekalipun rumah ku rubuh. “Aku mesti bantu Ibu.” “Begini cara ibumu memanggil?” “Biasanya malah lebih keras lagi.” “Ada perbedaan kalau temanmu datang naik sepeda atau naik mobil?” Widuri tersenyum. Senyum itulah, senyum yang tak pernah lekang dalam situasi apa pun, yang membuat Parlin semakin tidak peduli jika seandainya datang sepasukan tentara menggusurnya sekalipun. “Tidak pernah ada yang tahan duduk di kursi itu lebih dari sepulu h menit.” “Diusir?” “Tidak perlu. Mereka sudah kabur sendiri.” “Kecuali aku?” “Cuma kamu yang paling tidak tahu diri. Harus diusir.” “Ibumu tidak pernah mengusirku kok.” “Yang nempel di kepalamu itu kuping apa pangsit? Nggak denger panci-panci yang berjatuhan di dapur? Itu kode buat kamu, tahu nggak?” “Acuh saja. Kita kan lagi belajar.” “Nah, kamu pikir kenapa ibuku belum keluar mengusirmu?” “Tentu saja karena aku pintar. Karena ibumu tidak perlu lagi membayar guru untuk memberimu les tambahan!” Tahu mengapa aku mulai menyukaimu? keluh Widuri dalam hati ketika sedang mengeringkan rambutnya di depan kipas angin. Dia belum punya alat pengering rambut. Tidak mungkin pula pergi dengan rambut masih basah begini. Sebentar «lagi Parlin akan datang menjemputnya. Dan untuk alasan yang dia sendiri tidak tahu, dia tidak mau pergi tanpa mencuci rambutnya terlebih dahulu. Sudah seharian Widuri memanggang kue di dapur. Bau rambutnya pasti sudah sama dengan bau panggangan. Jadi terpaksa dia duduk di dapur. Di sebuah bangku di dekat tungku pemanggang kue. Ibu selalu menggunakan kipas angin kecil untuk mengipasi arang di dalam tungku itu. Panasnya hawa dapur dan embusan angin dari kipas itu bisa mengeringkan rambut dengan cepat. Kalau Parlin datang nanti, Widuri harus sudah selesai merapikan rambutnya. Mengikatnya baik-baik menjadi sebuah ekor kuda. Menyisakan sedikit anak rambut di dahinya membentuk poni. Dan cukuplah. Dia tidak akan repot merapikan rambutnya yang beterbangan jika berboncengan sepeda nanti. Kalau tidak, dia bisa jadi kuntilanak sesampainya di bioskop. “Mau ke mana?” Tidak ada keramahan sedikit pun dalam suara Ibu ketika Widuri hendak pergi. Garis-garis kerutan di dahinya seakan-akan sudah sama banyaknya dengan terali-terali panggangan kue di atas tungku. “Mau nonton, Tante.” Parlin-lah yang mendahului menjawab meskipun bukan dia yang ditanya. “Ada sandiwara di sekolah.” Tentu saja Parlin tidak berdusta. Memang ada pertunjukan sandiwara di sekolah. Dan mereka mau pergi nonton. Tetapi tentu saja bukan nonton sandiwara. Parlin hendak mengajak Widuri nonton bioskop. Dia tahu ini kencan yang pertama untuk Widuri. Baginya ini merupakan suatu kehormatan. Dan Parlin telah menebus kehormatan itu dengan kerja keras selama seminggu lebih di bengkel sepeda ayahnya. Rupiah demi rupiah dikumpulkannya. Supaya dia dapat membeli dua helai karcis kelas satu. Masih untung dia punya sebuah sepeda butut. Tidak perlu keluar ongkos untuk transpor. Bukan salahnya kalau sampai di depan loket karcis mereka bertenu dengan Ita dan Una. Antrean sudah begitu panjang. Laki-laki semua. Tampangnya gatal-gatal pula. Sekali-dua kali men-colek-colek rasanya bukan termasuk dosa. Apalagi kalau yang dicolek tipe gadis seperti Tina. Tidak dicolek barangkali malah dia yang marah. Tersinggung. Merasa tidak dianggap. Terpaksa Parlin yang maju. Habis cuma dia yang laki-laki! Dan kurang ajar si Ita. Dia titip minta dibelikan karcis, tetapi tidak menitipkan uangnya. Padahal uang Parlin hanya cukup untuk membeli dua helai karcis. Parlin jadi kebingungan macam monyet kegatalan. Semakin dekat ke loket, semakin gelisah dia merogoh-rogoh saku celananya. Padahal dia tahu tidak ada apa-apa lagi di sana. “Duluan deh, Mas,” bisiknya kepada lelaki berkumis yang antre di belakangnya. Walaupun bingung, tanpa berkata apa-apa laki-laki itu maju menggantikan tempat Parlin. Tentu saja tidak lupa dia meraba dompetnya dan memindahkannya dari saku belakang celananya ke saku kemejanya. Sialan! maki Parlin dalam hati. Dikira gue copet, apa! Parlin melirik ke samping. Ke pedagang rokok yang berjualan di dekat loket. Dia sering membeli rokok di situ kalau nonton. Maukah dia meminjamkan sedikit uang untuk beli karcis? ^Tetapi tempat Widuri berdiri terlalu dekat. Ita dan Tina memang sedang asyik ngobrol. Ada bom jatuh di belakangnya pun mereka pasti tidak tahu. Satu-satunya keraguan cuma Widuri… dia memang sedang mendengarkan teman-temannya ngobrol. Tapi kalau Parlin keluar dari barisan, dia pasti tahu. Dan Parlin tambah gelisah. Loket sudahssemakin dekat. Tinggal dua orang lagi… Tuka r tempat yuk, Bang,” katanya kepada pemuda di belakangnya. “Lu gila apa sakit?” Dengan kasar pemuda itu mendorong Parlin ke belakang. “Minggir deh kalau nggak mau beli karcis! Nyempit-nyempitin ajal” “Sialan! Orang baik-baik kasih duluan malah marah!” geram Parlin tersinggung. “Kalau nggak mau beli karcis jangan di sini!” belalak pemuda itu sama beringasnya. Tahu-tahu tangannya sudah meraih kerah kemeja Parlin dan merenggut-kannya keluar dari antrean. Tukang copet, kali,” bisik laki-laki di belakangnya. “Sana deh berkelahi biar kita lebih cepat sampai di depan loket!” gurau yang lain. Tetapi ketika mereka betul-betul baku hantam, barisan yang panjang itu malah bubar. “Lho, kok jadi berkelahi?” teriak Ita antara terkejut dan cemas. Dia tambah panik ketika mengenali Parlin-lah yang sedang bergumul. “Apa-apaan nih?” “Parlin! Parlin! Sudah” jerit Tina ketakutan melihat tinju Parlin berulang-ulang menghantam muka lawannya yang sudah mulai mengucurkan darah. Kalau tidak segera dipisahkan oleh petugas keamanan, pemuda itu pasti sudah babak belur. Dan malam .itu mereka tidak jadi nonton. Parlin dibawa ke pos keamanan. Sementara Widuri dan kedua temannya terpaksa pulang naik becak. *** Api unggun di muka kemah semakin meredup. Ranting-ranting kayu telah berubah menjadi arang. Sementara bulan semakin condong ke barat. “Tidur yuk, ngantuk,” cetus Ika sambil menepuk nyamuk di pipinya. “Sebentar lagi deh.” Bram menyesal tidak melihat lebih dulu nyamuk di pipi Ika. Dia yang mengharapkan sebentar lagi ada nyamuk lain yang kesasar ke sana. Dan dialah yang menyentuh pipi Ika yang mulus, menggantikan tempat sang nyamuk. “Rizal belum kelihatan juga, Par,” kata Widuri tiba-tiba. “Cari dong!” “Repot amat sih!” Parlin masih memetik gitarnya dengan santai. “Masih banyak kok yang model begitu. Buat apa dicari!” “Aku tidak main-main! Dia sudah pergi begitu lama… Jangan-jangan ada apa-apa….” “Ada apa? Hantu juga nggak mau sama dia! Kalau dibawa juga bakal dipulangin lagi!” Teman-temannya tertawa geli. Tetapi Widuri sudah tidak bisa tertawa lagi. Dia benar-benar kuatir. Rizal sudah pergi demikian lama. Kalau ada apa-apa, suasana camping mereka yang santai dapat berubah tragis. Dan semua itu gara-gara dia… dialah yang lancang menjuluki Rizal sebagai cowok kelas bulu! Widuri memang cuma main-main. Kesalahannya hanyalah karena dia tidak mengerti, tidak boleh main-main dengan pemuda macam Rizal. Dia cuma segan pergi mencari kayu bakar berdua saja dengan pemuda itu. Teman-temannya sengaja mengolok-olokkan mereka berdua. Mereka -sudah tahu bagaimana Rizal mendambakan Widuri. Tidak ada yang rugi kalau Rizal jadi pacaran dengan Widuri. Mereka malah lega. Satu saingan berat telah tersingkir. Begitu banyak pemuda yang jadi pecundang boleh diperebutkan lagi. Parlin. Anto. Bram. Prabowo… wah, pendeknya semua bibit unggul. Dan semua sedang menunggu Widuri, “Hati-hati, Wid!” gurau Yulia yang sedang memasak supermi. “Jangan kelewat asyik mencari kayu bakar! Nanti dicium orang dari belakang nggak tahu!” “Ah, dia cuma cowok kelas bulu kok!” sahut Widuri spontan tadi tanpa dipikir lagi. “Mana berani nyium? Paling-paling nyentil kelingking!” Dan entah siapa yang kurang ajar menyampaikan olok-olok itu ke telinga Rizal… Dia begitu marahnya sampai Widuri jadi kebingungan sendiri. Rizal tidak mau lagi ditemani. Dia pergi sendiri mencari kayu bakar. Terpaksa Widuri yang berlari-lari menyusulnya. Tetapi permintaan maafnya tidak ditanggapi sama sekali. Rizal malah nekat pergi dari perkemahan mereka. Ke mana dia pergi? “Kalau kamu tidak mau, biar aku yang cari!” desis Widuri jengkel. “Ada yang mau ikut mencari Rizal?” “Heran, kuatir amat sih?” gerutu Parlin sambil menurunkan gitarnya. “Keselamatannya tanggung jawabku!” “Lho, kamu bukan seksi keamanan kok!” “Tapi dia pergi karena aku!” Widuri bangkit dengan mengentakkan kakinya. Tetapi sebelum dia melangkah pergi, Parlin telah meraih lengannya. “Tunggu saja deh di sini. Biar aku yang cari.” Sambil menjingjing gitarnya Parlin bangkit dari batu yang didudukinya. “Kalau kamu yang hilang, aku malah lebih repot lagi.” P arlin segera mengumpulkan teman-temannya dari seksi keamanan dan pergi mencari Rizal. Hampir subuh ketika mereka sudah hampir putus asa, mereka baru menemukan pemuda itu. Rizal sedang duduk termenung. Menatap jurang yang menganga lebar di bawah kakinya. Dalam gelap, Bram hampir tergelincir ke bawah karena kaget ketika melihat pemuda itu. “Sialan! Kukira hantu duduk!” “Zal!” teriak Parlin dari kejauhan. “Ngapain di situ? Bertapa?” “Kalau mau bunuh diri jangan di sini, Zal!” gerutu Bram kesal. Mereka sudah capek-capek mencari, orang yang dicari malah lagi enak-enak duduk mengobrol dengan nyamuk. “Di rumah saja! susah mengambil mayatmu di jurang!” Tetapi Rizal tidak bergerak sedikit pun. Jangankan menyahut, menoleh saja tidak. Dia seolah-olah sudah disihir jadi batu. “Zal!” dengan gemas Parlin memukul bahunya. “Ayo, pulang! Teman-teman sudah kuatir!” Tetapi Rizal malah balik memukulnya dengan geram. Parlin yang tidak menyangka diserang, terhuyung ke belakang. Hampir jatuh jika Bram tidak keburu menopangnya. Ketika Parlin maju dengan marah hendak menerjang Rizal, sekali lagi Bram memeganginya. “Jangan!” cegahnya. “Buat apa dilayani? Dia lagi smting!” Rizal memang bukan tandingan Parlin. Kalau mereka berkelahi, Rizal bisa sungguh-sungguh terlempar ke dalam jurang di bawah sana. Buru-buru Bram memanggil teman-temannya. Beramai-ramai mereka membawa Rizal pulang. Dia memang melawan. Tidak mau pulang. Tetapi menghadapi empat pasang tangan yang kokoh, Rizal seperti batang kayu yang dipindahkan dengan traktor. “Kalau suatu hari nanti ada lelaki yang mempermainkan dirimu…” Terngiang lagi kata-kata “Rizal tadi di telinga Widuri ketika dia melihat Rizal diseret pulang oleh teman-temannya. Barangkali Rizal cuma mendoakan. Mengharapkan. Semoga ada lelaki lain yang dapat membalaskan dendamnya kepada Widuri. Yang jelas, dia sendiri tidak mengancam. Tidak mengganggu. Dan tidak pernah membuat Widuri susah. Rizal mengubur cinta dan dendamnya di dalam relung-relung gelap di sudut hatinya sendiri. Hanya melalui bait-bait sajaknya yang sendu ditumpahkannya seluruh perasaannya. Dipaparkannya alur penderitaannya. Disalurkannya riak-riak rindu dendamnya. Sampai suatu hari mereka bertemu kembali. Dalam suatu penemuan yang tidak disangka-disangka. Lulus SMA, Widuri masuk ke sebuah fakultas kedokteran di Jakarta. Cuma suatu kebetulan kalau Rizal juga memilih fakultas yang sama setahun sebelumnya. Dan mereka berjumpa kembali dalam acara penggoj lokan mahasiswa baru yang punya nama bagus Acara Perkenalan Mahasiswa. Ketika itu namanya sudah berganti menjadi Posma. Pekan Orientasi Studi Mahasiswa. Tetapi temanya masih tetap penggonjlokan dan balas dendam. Posma memang konyol. Apa pun namanya. Sejak masih bernama perploncoan. Sampai Mapram. Sampai Posma. Cuma namanya saja yang diganti. Sifatnya tetap sama. Penggojlokan yang konyol. Tentu saja cuma konyol buat yang diplonco. Lebih-lebih bagi cami laris macam Widuri. Sejak hari pertama dia sudah habis dikerjain. Raka-raka jadi dua kali lebih ceriwis kalau menggojloknya. Dua kali lebih tengil. Dan dua kali lebih ngotot. Sebaliknya rakanita-rakanitanya menjadi dua belas kali lebih sadis. Lebih penasaran. Dan lebih tak kenal ampun mengganyangnya. Sejak hari pendaftaran, Widuri memang sudah nge-pop di kampusnya. Tubuhnya lebih tinggi dari rata-rata cami yang ikut mendaftar. Membuatnya menonjol sekali lihat saja. Memaksa rakanita-rakanita kerdil yang kurang minum susu itu terpaksa menengadah kalau menatapnya. Tentu saja ini suatu penghinaan. Cami tidak boleh lebih tinggi dari rakanitanya. Tidak heran kalau selama Posma berlangsung, Widuri terpaksa merangkak tiap kali lewat di depan seorang rakanita. a-7 Tapi Widuri memang lain dari yang lain. Bukan fisiknya saja yang tangguh. Mentalnya pun tabah. Dia tidak pernah mengeluh. Tidak pernah merenggut. Di-apakan saja, dia selalu tersenyum. Disuruh apa pun dia kerjakan. Tanpa malu-malu. Tanpa kehilangan senyum. Tidak heran kalau wajahnya tetap menawan sekalipun kumal. Dia memang cantik. Sudah loyo dan kotor pun tetap menarik. Maka para raka dan rakanita-nya juga jadi  senang padanya. Dan dia selalu jadi rebutan. Seperti malam ini. Acaranya memang khas. Lain dari yang lain. Judulnya? Malam Pelelangan Cama-Cami. Persis suasana di pasar budak. Cama-cami dikumpulkan di sudut aula. Sam per sam disuruh naik ke atas panggung. Me-lenggak-lenggok di bawah siulan ejekan dan tepukan riuh para raka dan rakanita yang menonton di bawah panggung. Diiringi hiruk-pikuknya tabuhan drum band di pinggir panggung, mereka harus memamerkan kebolehannya masing-masing. Tentu saja kebolehan yang konyol-konyol. Berlagak jadi banci kesasar. Joget dalam irama dangdut yang kacau-balau. Atau sekadar berkaok-kaok tarik suara. Lalu mereka harus memperkenalkan diri. Menyebut nama jelek dan nama bagusnya sekalian. Nama pacar. Vital statistik. Dan hobi. Kemudian lelang pun dimulai. Penonton mulai menawar. Yang satu mencoba melebihi yang lain. Dan suasana menjadi bertambah panas ketika giliran cami yang paling ngetop dilelang. Sejak melangkah ke atas panggung, Widuri memang telah mengundang peminat. Lenggak-lenggoknya empuk menggiurkan. Maklum, pernah belajar menari sejak kecil. Langkah-langkahnya lemah gemulai. Senyumnya hot. Merangsang siulan nakal datang bertubi-tubi dari setiap sudut aula. Ketika dia menunjukkan kebolehannya tarik suara, lagu yang dipilihnya pun tidak kepalang tanggung. Lagu dangdut. Lengkap dengan goyang pinggulnya. Tidak heran kalau seluruh aula jadi gaduh. “Nama bagus saya Ratu G.O.” Widuri mulai memperkenalkan diri dengan senyum dikulum. “Nama jelek Widuri Widiastuti. Nama pacar Alain Delon. Vital statistik 36-23-38. Hobi bantu Ibu di rumah.” “Huuuu…!!!! Ngibul!!!” Hampir semua mulut terbuka lebar. “Tampang kayak lu paling-paling bantu ngabisin makanan!” “Gua buka tawaran sepuluh perak!” teriak Dimaz sambil berdiri. Mengharapkan lirikan pertama Widuri. Dan benar saja. Widuri memang melirik padanya. Lirikan captunl “Lu nawar apa ngeledek?” sambar Endang me-manas-manaskan suasana. “Kira-kira dong, masa cuma nawar sepuluh perak!” “Habis dia memang cuma berharga sepuluh perak!” Sekilas Widuri melirik ke asal suara. Dan parasnya mendadak memucat. Senyumnya langsung pudar. Kalau ada orang yang paling tidak ingin dijumpainya saat ini, orang itu adalah Rizal. Dan celakanya, justru dia yang sedang bercokol di sudut sana! Mati aku! pikir Widuri kelabukan. Kalau Rizal mau membalas, sekaranglah saatnya! Kalau dia berhasil memenangkan diriku, inilah hari pembalasan itu! *Dua puluh lima!* Rakanita Hetti dengan suaranya yang khas mulai mengajukan tawaran. Dia memang terkenal judes. Galak. Sadis. Suaranya melengking merusak telinga. Teriaiun-teriakannya lantang menggelegar merontokkan jantung. Bahkan sampai tidur pun rasanya Widuri masih dapat mendengar be n t akan-bentakan-nya. Tapi bagaimanapun, lebih baik punya majikan Hetti daripada Rizal. “Dua puluh tujuh setengah!” teriak Ferri lantang. “Lima puluh!” sambar Anwar. “Nawar si pakai setengah-setengah!” “Tujuh lima!” sambar Ferri panas. “Seratus!” “Seratus dua puluh lima!” “Dua ratus!” “Lima ratus!” Eh, pikir Widuri heran. Kok ngotot juga ya raka-nika Hetti ini! “Seribu!” Ferri membanting selembar uang ribuan ke atas meja- Gayanya begitu meyakinkan. Seolah-olah cuma dia yang punya uang seribu perak, “Bagus!” seni Anwar gembira. “Ini baru seru!” Tapi dia sendiri tidak berani menawar lagi. Padahal dari tadi dia termasuk peminat yang ngotot. “Nggak nawar lagi» War?” sindir Endang, Tapi Anwar cuma menyeringai kecut. “Biar saja yang lain dulu. Utangku di kantin masih numpuk. “Gengsi dong!” Endang mulai membakar lagi. “Masa kalah sama Ferri?” “Ambil yang lain saja, ah. Yang murahan dikit.” Endang dan Hetti memang termasuk dua di antara sekian banyak agen yang diselundupkan panitia lelang di antara penonton. Maksudnya tentu saja untuk me-manas-manaskan suasana. Supaya acara makin seru. Dan tawaran makin melangit. Uang yang terkumpul akan disumbangkan kepada rumah yatim-piatu yang akan mereka kunjungi bersama pada akhir Posma nanti. ‘Tidak heran kalau di depan sana, Hetti terus melaju. Saingannya memang tinggal Ferri. Soalnya tawaran mereka sudah di atas kemampuan  rata-rata kantong mahasiswa. “Dua ribu lima ratus!” tantang Hetti lagi. “Tiga ribu!” Ferri masih tidak mau kalah. Hujan tampik sorak dan lirikan gelisah Widuri setiap kali dia menaikkan tawaran» tambah membakar semangatnya. Masa kalah sama Hetti? Buat memiliki Widuri, Ferri tidak segan-segan menguras kantong. Biar tidak nonton dua kali asal dapat memiliki cami laris itu. Begitu bersemangatnya Ferri sampai lupa dia, ini cuma permainan. “Empat ribu!” sambar Hetti bersemangat. Terus terang Hetti sendiri sudah deg-degan. Gila si Ferri Ini. Mudah-mudahan dia tidak tahu akal panitia* Kalau Ferri tahu siasatnya dan ia menyerah, celakalah Hetti. Dari mana dia memperoleh empat ribu rupiah? Bisa dimaki-maki dia sama panitia. Uang hasil lelang yang lalu saja belum sampai empat ribu! Seperti tahu kecemasan rekannya, Endang langsung membakar lagi. “Ayo, Feri Kejar terus! Sudah kepalang! Masa kalah sama Hetti? Gengsi dong, Fer! Gengsi!” “Lima ribu!” Keringat sudah bercucuran di pelipis Ferri. Napas-, nya sudah terdengar sampai ke atas panggung. Lama-lama capek juga ya disoraki orang! Sekilas Hetti melirik ke Endang. Dan cepat tak terlihat, Endang menganggukkan kepalanya. Lima ribu rupiah untuk cami yang paling laris cukuplah. Dinaikkan sedikit lagi, jangan-jangan malah si Ferri yang semaput. “lima ribu!” teriak Sapto, yang malam itu jadi tukang jual obatnya. “Nggak ada yang berani nantang lagi? Wah, jadi apa kamu semua di situ? Baru goceng sudah keok semua! Ayo, nggak ada yang mau nawar lagi? Nggak nyesel nih nanti? Lihat dulu dong barangnya! Barang baru, masih mulus, lagi. Tangan pertama. Begitu bayar, langsung balik nama!” “Lima ribu!” teriak Sapto sekali lagi. “Untuk kedua kalinya, lima ribu rupiah! Masih ada yang berani nawar?” Hidung Ferri sudah kembang-kempis. Dadanya sesak menahan napas. Mulutnya megap-megap seperti ikan kurang air. Satu kesempatan lagi. Dan Widuri akan jadi miliknya! Selama Posma berlangsung, dia berhak menyuruh gadis itu melalaikan apa saja. Berhak minta diperlakukan sebagai majikan, sebagai pemilik, sebagai pacar, pendeknya sebagai apa saja! Fiu! Apalah aninya lima ribu?! “Lima ribu rupiah!” Suara Sapto melengking lagi. “Lima ribu rupiah untuk Saudara…” “Sepuluh ribu!” Mendadak seluruh ruangan menjadi sunyi. Semua mata mencari asal suara itu. Sepuluh ribu? Astaga! Apa tidak salah dengar? “Siapa yang nawar itu?” teriak Sapto penasaran. “Aku.” Rizal bangkit dengan tenang dari kursinya. * “Berapa katamu tadi?” “Sepuluh ribu. Kontan.” “Monyong! Kenapa bukan dari tadi?”« “Ngitung duit dulu.” Serentak aula menjadi gaduh. Ferri hampir semaput di tempatnya. Hetti dan Endang juga. Tapi tentu saja yang dua ini hampir semaput karena memikirkan uang yang bakal mengalir ke kas mereka. Rizal sendiri tetap tenang. Sekilas pun dia tidak melirik Widuri. Tidak diacuhkannya gadis yang sudah pucat-pasi itu. Sialan! maki Widuri gemas. Tentu saja cuma dalam hati. Cami mana boleh ngomel. Bisa kiamat nanti. Kalau dia tidak mengacuhkan aku, buat apa ikut-ikutan nawar? Dari tadi dia diam saja. Kenapa tiba-tiba ikut nimbrung begini? Diam-diam Widuri berdoa supaya Ferri saja yang menang. Diam-diam dia berdoa supaya pemuda itu mulai menawar lagi. Dia tidak mau menjadi milik Rizal. Di samping itu, dia ingin harganya lebih tinggi lagi. Sepuluh ribu! Pasti tidak dapat disaingi lagi oleh cami mana pun. Termasuk oleh si Rita, cami yang katanya paling sexy itu! Duh, bangganya jadi cami yang paling mahal! Semoga tawaran mereka melangit terus. Semoga mereka makin penasaran dan makin ngototi “Naikin dikir lagi, Fer,” bisik Endang di telinga Ferri. “Masa kalah sama Rizal? Aku tahu dia belum bayar uang kuliah tuh!” “Sepuluh ribu lima ratus!” teriak Ferri parau. Dia sudah hampir tidak kuat berdiri. Kakinya goyah. Sepuluh ribu lima ratus! Ya, Mamak! Alamat puasa tidak nonton bulan ini! S^P’ “Sebelas ribu seratus sebelas.” “Sialan!” damprat Ferri panas. “Kenapa mesti pakai beratus sebelas segala?” “Itu nomor indukku.” Rizal masih setenang tadi. Aula jadi riuh lagi oleh tawa. “Ayo, Fer, melangit terus,” pancing Endang pula. “Lihat tuh, Widuri lag i ngeliatin kamu! Masa sudah nyerah sih? Malu dong!” Ketika Ferri melirik ke panggung, Widuri memang sedang menatapnya. Dan entah mengapa, melihat tatapan yang penuh permohonan itu, Ferri rela menggadaikan motornya sekalipun untuk memiliki Widuri. Sayang, tidak boleh menggadaikan barang. Syaratnya cuma uang yang ada di kantong. Tidak boleh pinjam sana utang sini. Dan terkutuklah dia. Hari ini dia cuma membawa uang sembilan belas ribu. Tidak lebih! Ferri menguras isi dompetnya. Menumpahkannya ke atas meja. Dan menghitungnya bersama Endang. “Sembilan belas ribu!” teriak Endang separo histeris. Dia sampai lupa* bukan dia yang menawar. “Sembilan belas ribu sembilan belas perak,” sahut Rizal sambil melambai-lambaikan dua lembar uang dua puluhan ribu. “Ayo, Saudara Panitia, mulailah mencari uang kembaliannya! Aku tidak mau kurang seperak pun!” . “Kadal kau!” maki Sapto geli. “Di mana cari duit perakan?” “Itu urusanmu! Pokoknya aku minta uangku dikembalikan! Pas!” “Baiklah, Saudara-saudara! Apa boleh buat! Cami Ratu G.O. telah terjual dengan harga sembilan belas ribu sembilan belas rupiah kepada Saudara Rizal. Sementara mencari uang kembalinya, panitia memerintahkan agar cami Ratu G.O merangkak menghadap majikan barunya!” “Tidak usah!” sekejap pun Rizal tidak menoleh kepada Widuri. “Biarkan saja dia di sana. Karena aku tidak ingin memilikinya, lelanglah dia sekali lagi.” Kalau Widuri terbelalak, kali ini benar-benar karena terkejut. Dia menoleh kepada Rizal. Menatapnya dengan bingung. Tetapi pemuda itu melirik pun tidak. Kenapa dia tidak ingin memiliki diriku? pikir Widuri heran. Dia punya kesempatan yang baik sekali untuk membalas dendam. Untuk apa mengorbankan sembilan belas ribu rupiah kalau bukan untuk memiliki diriku? “Aturan permainannya, seorang cami tidak boleh dilelang dua kali,” protes Ferri penasaran. “Kalau kau tidak menginginkannya, juallah padaku.” “Berapa?” “Kau minta berapa?” “Berani berapa?” “Sepuluh ribu?” “Terlalu mahal. Seperti kata Saudara Dimaz tadi, harganya cuma sepuluh perak. Kalau Saudara Dimaz masih sudi membelinya, kujual dia dengan harga sepuluh perak!” Keangkuhan Widuri remuk seperti kaca dibanting ke batu. Cami yang paling laris, cami yang paling ngetop, dijual kembali dengan harga sepuluh rupiah! [Bahkan cami gendut macam arca seperti si Irah, masih laku dua puluh lima perak! Duh, pintarnya bajingan itu menghina dirinya! Widuri hampir tak mampu lagi membendung air matanya. Siksaan fisik yang bagaimanapun sadisnya, gojlokan mental yang seperti apa pun kejamnya, masih dapat ditahannya! Tapi penghinaan seperti ini… Oh, sakitnya! Dan seperti ingin menikmati penghinaan itu, baru sekarang Rizal memalingkan wajahnya menatap Widuri. Sekejap mereka bertemu pandang. Dan di mata yang dingin itu, Widuri seperti mengulangi kembali kejadian dua tahun yang lalu, ketika dia masih duduk di bangku S MA. “Kalau suatu hari nanti, ada lelaki yang mempermainkan dirimu, barangkali kamu baru dapat merasakan bagaimana sakitnya dipermainkan, apalagi oleh orang yang kamu sayangi.” Inikah hari pembalasan? Rizal akan membalaskan sakit hatinya dengan meminjam tangan Dimaz karena dia tidak berani melakukannya sendiri? BAB III (“Dia memang cakep,” komentar Dimaz ketika melihat [Widuri untuk pertama kalinya pada hari pendaftaran rcami-cami di fakultas mereka. "Tapi kalau dikiranya dia yang paling cakep, dia keliru. Kalau disangkanya dia dapat mempermainkan semua cowok seenak perutnya sendiri saja, dia bakal gigit jari!" Hari itu mereka memang sengaja tidak menampakkan diri pada Widuri. Dari kejauhan saja Dimaz dan Rizal mengawasi gadis itu. "Jangan kuatir, Zal!" Dimaz menepuk bahu sahabatnya setelah Rizal selesai menceritakan kisah sakit hatinya dua tahun yang lalu. "Serahkan saja padaku. Kau tahu beres saja." "Apanya yang tahu beres? Jangan-jangan kau sendiri nanti yang dipermainkannya!" "Lihat saja nanti." Dimaz tersenyum tipis. "Aku kan bukan tipe cowok-cowok yang dikenalnya selama ini." Pengalamannya dengan lelaki sudah segudang. Jangan-jangan kau sendiri yang naksir dia nanti!" "Taruhan, Zal, asal kauikuti usulku, aku pas ti dapat membalaskan sakit hatimu!" *** Dimaz memang keren. Paling tidak, di antara mahasiswa-mahasiswa fakultas kedokteran yang minus itu, dia terhitung prima. Tubuhnya tinggi besar, suatu penampilan yang jarang ditemukan di kampus mereka. Wajahnya tampan. Ganteng, kata orang. Sikapnya tenang-tenang menggemaskan. Dan dalam menghadapi gadis-gadis, dia tidak pernah terburu nafsu. Tidak pernah mengejar sampai finish. Gadis-gadisnya cukup dipikat sekali. Sesudah itu, biasanya merekalah yang akan mengejar-ngejar dia. Celakanya justru sikapnya yang acuh-acuh butuh inilah yang menarik hati Widuri. Soalnya yang satu ini benar-benar lain dari yang lain. Dia tidak mengejar-ngejar Widuri seperti yang biasa dilakukan oleh pemuda-pemuda lain. Dimaz yakin sekali akan kemampuan dirinya. Dan dia tahu apa kelebihan-kelebihannya. Dia memang mendekati Widuri. Tapi bukan untuk mengejarnya. Dia mendekat untuk menaklukkan hati gadis itu. "Mulai malam ini, sayalah majikanmu," kata Dimaz ketika malam itu Widuri berlutut menghadapnya. "Sudah tahu nama saya?" "Sudah, Raka Dimaz," sahut Widuri sambil mengulum senyum. Kurang ajar, pikir Dimaz. Masih bisa senyum-senyum dia. Dasar genit. "Tapi kamu tidak boleh panggil saya Raka." "Jadi saya harus panggil apa, Raka?" "Panggil saya Tuan Besar." "Baik, Tuan Besar." "Tiap pagi kamu punya tugas." "Apa tugas saya, Tuan Besar?" "Sehabis apel pagi, kamu mesti tunggu saya di pintu gerbang. Begitu saya datang, kamu harus lari menyongsong saya sambil menyalak. 'Guk Guk Guk\ Mengerti?" "Mengerti, Tuan Besar," sahut Widuri sopan. Tapi dalam hati tentu saja dia sudah memaki seratus kali. Memangnya dia anjing? "Sesudah itu kamu mesti bersihkan mobil saya. Ada pertanyaan?" "Tklak ada, Tuan Besar." **# Dan begitulah yang terjadi setiap pagi. Begitu mobil Dimaz membelok ke halaman kampus, Widuri sudah siap di depan pintu. Dia berlari-lari kecil di belakang mobil yang sedang mencari tempat parkir itu sambil menirukan suara anjing. Tapi sialan si Dimaz! Meskipun banyak tempat parkir yang masih kosong, dia tidak langsung memarkir mobilnya. Sengaja dia membawa dulu mobilnya berputar-putar mengelilingi halaman kampus, sampai Widuri terengah-engah kecapekan mengejarnya. Dan para raka serta rakanita yang menonton adegan itu tertawa terpingkal-pingkal. "Gila si Dimaz!" komentar Rakanita Hetti sambil tersenyum. Tentu saja senyum gembira. "Ada-ada saja ulahnya!" "Nikmati, Zal;" kata Dimaz sambil mengemudikan mobilnya dengan santai. "Lihatlah bagaimana gadis yang pernah menyakiti hatimu itu sekarang mengejar-ngejar kamu." Rizal memang menoleh ke belakang. Tetapi dia tidak merasa puas. Apa enaknya membalas dendam secara begini? Widuri memang mengejar-ngejar mereka. Tapi itu karena terpaksa. Karena tugas. Fisiknya memang tersiksa. Tapi kalau dia beristirahat nanti, semua keletihannya langsung hilang. Dan dia sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Rizal ingin cara lain. Yang lebih menyakitkan hati. Yang membuat Widuri menderita berhari-hari. Sedih. Kesal. Sakit hati. Seperti apa yang pernah dilakukan gadis itu terhadap dirinya dua tahun yang lalu. "Sudah dulu deh," kata Dimaz sambil memarkir mobilnya di tempat panas. "Nanti kalau kelewat capek, nggak beres dia bersihin mobil gua." Begitu Dimaz turun dari mobilnya, Widuri sudah tegak di samping mobil itu. Dia memang letih. Keringat bercucuran membasahi wajah dan lehernya. Tapi dia masih dapat tegak dengan gagahnya di depan Dimaz. Matanya masih tetap bersorot menantang. Dan senyum yang khas ku masih tetap menghiasi bibirnya. Dia memang hebat, pikir Dimaz kagum. Belum pernah aku ketemu cewek macam begini. "Jongkok!" perintah Dimaz segalak mungkin. Betul juga kata si Rizal. Menghadapi gadis ini dia tidak boleh bersikap lunak. Salah-salah dia sendiri yang dipermainkan. "Dengarkan baik-baik tugasmu untuk besok Cari sepasang cecak yang lagi pacaran. Tapi yang jantan mesti lebih bule!" Sepasang cecak yang lagi pacaran! Astaga! Ngo-mong sih gampang. Nyuruh sih enak. Tapi dari mana dia tahu cecaknya jantan atau betina? Belum lagi cari cecak jantan yang bule! Sialan! bikin susah orang saja! Sem alam-malaman Widuri menunggu dengan sabar di beranda rumahnya. Biasanya banyak cecak di sana Dan kadang-kadang ada yang main kejar-kejaran juga. Barangkali yang begitu itu yang lagi pacaran. Tapi malam ini, rupanya mereka tahu ada seorang pemburu cecak di bawah sana. jangankan berkejar-kejaran seperti biasa, yang keluar saja hanya satu-dua. Itu pun cuma nongkrong nunggu nyamuk. Dan tidak ada satu pun yang bule! Akhirnya kesabaran Widuri habis juga. Disuruhnya adiknya menangkap dua ekor cecak dan memasukkannya ke dalam kantong plastik. Persetan jantan atau betina. Kalau dia tidak tahu yang mana yang jantan, Dimaz juga pasti tidak tahu! "Mana cecaknya?" bentak Dimaz begitu Widuri berlutut di hadapannya. "Ini, Tuan Besar." Ketika menyodorkan kantong plastik yang berisi cecak itu, ekor mata Widuri melihat Rizal datang menghampiri. Sambil berkacak pinggang, Rizal tegak di hadapannya. Dia pasti sedang merasa dirinya jadi dewa, pikir Widuri sambil menahan senyumnya. Biarlah Sekali-sekali ada yang bisa dibanggakannya. Merasa menguasai diriku. Ahoi! Tetapi Rizal sendiri tidak berkata apa-apa. Yang membentak justru Dimaz. "Yang mana cowoknya?" Pas, pikir Widuri gembira. Seperti yang telah kuduga dari semula. Pasti itu pertanyaan Dimaz yang pertama. Dan memang sejak masih di rumah, Widuri sudah menyiapkan jawabannya. "Yang bule ini, Tuan Besar," sahut Widuri tanpa ragu-ragu. Tentu saja itu perbuatan adiknya. Membuat cecak itu lebih putih dari warna aslinya. Dan melihat kecerdikan Widuri, Dimaz hampir tak dapat menahan tawanya. Geli campur gemas. "Bagaimana kamu tahu yang ini cowoknya?" "Karena dia mengejar-ngejar yang betina, Tuan Besar." "Lantas bagaimana kamu tahu yang itu betinanya?" "Karena dia yang dikejar-kejar, Tuan Besar." Sejenak Dimaz mati langkah. Tak tahu mesti bertanya apa lagi. Kancil ini memang cerdik, pikirnya sambil menahan senyum. "Kenapa mereka sekarang diam saja? Suruh mereka berkejar-kejaran lagi di sini. Saya mau lihat." "Mereka tidak mau, Tuan Besar." "Kenapa?" "Mereka malu. Soalnya hari masih siang. Dan di sini banyak orang." Sekali lagi Dimaz mati langkah. Dan kali ini dia menyerah. "Baiklah. Tugas pertama telah kamu lakukan dengan baik," kata Dimaz separuh menyindir. "Sekarang sebagai hadiahnya saya beri kamu tugas yang paling enak. Bersihkan mobil saya." Sekejap Widuri melirik mobil Dimaz. Dan tiba-tiba saja dia menyadari betapa kotornya mobil itu! Sudah berapa hari mobil ini tidak dicuci? Atau Dimaz sengaja mengotori mobilnya dengan lumpur. Tetapi kalau Dimaz mengharapkan melihat mendung di wajah Widuri, dia akan kecewa lagi. Sedikit pun Widuri tidak memperlihatkan kemengkalan hatinya. Sambil tetap mengulum senyum, dia berlalu dari hadapan Dimaz. *** Terus terang Dimaz sendiri mulai merasa heran. Semakin hari semakin seru dia menggojlok Widuri. Tetapi semakin sengit dia menggojlok, semakin tidak tega hatinya. Dan semakin tertarik juga dia pada kepribadian gadis itu. Widuri tidak pernah merengut. Apalagi mengeluh. Semua perintah dijalankannya dengan baik. Dari tugas yang paling menjengkelkan sampai yang paling tidak masuk akal pun selalu dapat dikerjakannya. Nah, menghadapi gadis seperti ini, Dimaz mau bilang apa lagi? Bagaimanapun dia berusaha menyakiti hati Widuri, gadis itu tetap tabah. Jangankan menangis, kehilangan senyuman saja tidak pernah! Seolah-olah semua ini cuma permainan saja baginya. Semuanya dipandang enteng! Dan heran, semakin dekat masa Posma ini berakhir, semakin gelisah juga hati Dimaz. Dia belum dapat menepati janjinya untuk membalaskan dendam Rizal. Tapi yang lebih penting lagi, dia justru merasa berat berpisah dengan gadis yang sudah hampir seminggu ini selalu berada di dekatnya! Astaga! Apa dia juga sudah jatuh cinta? Dari ruang kuliah yang terletak di lantai dua itu sudah sejak tadi Dimaz mengawasi Widuri yang sedang membersihkan mobilnya di halaman kampus di bawah sana. Begitu asyiknya sampai dia tidak merasakan kehadiran Rizal di belakangnya. *** Sebenarnya sejak pertama kali melihat Dimaz, Widuri sudah merasa tertarik kepada pemuda yang satu ini. Dia tidak pernah bersikap lembut , apalagi memanjakan Widuri. Tapi di situlah anehnya cintsi. Justru kepada pemuda yang selalu bersikap acuh tak acuh ini Widuri benar-benar jatuh hati! Sudah banyak pengalamannya bersama pemuda yang macam apa pun tingkahnya. Tapi belum pernah dia merasa seperti ini. Rindu rasanya kalau sehari saja tidak melihat dia. Ingin lekas-lekas bertemu. Ingin melihat wajahnya. Menatap matanya. Mendengar suaranya. Duh, gagahnya dia kalau sedang mengisap rokok sambil mengangkat sebelah kakinya ke atas bangku! Wfc'} Tidak bosan-bosannya Widuri mengawasi gerak bibirnya yang sedang memaki itu. Tidak heran kalau Widuri tak pernah cemberut, seberat apa pun tugas yang dipikulkan ke bahunya. Dia malah selalu menunggu dengan dada berdebar-debar kedatangan pemuda itu di pintu gerbang setiap pagi.... Seperti pagi ini. Begitu mobil Dimaz muncul, Widuri sudah bersiap-siap untuk mengejar mobil itu sambil menyalak seperti biasa. Tapi kali ini, Dimaz tidak berputar-putar dengan mobilnya. Dan dia sendirian. Dimaz langsung memarkir mobilnya di bawah pohon. Biasanya mana mau dia parkir di tempat teduh begitu! Sengaja diparkirnya mobil itu di tempat yang paling panas. Supaya Widuri jangan terlalu bule katanya. Biar kepanasan sedikit.' "Hari ini tidak usah cuci mobil," katanya begini turun dari mobilnya. "Ada tugas istimewa untukmu." Terus terang hati Widuri sudah berdebar tidak enak melihat cara Dimaz menatapnya. Dia pasti menyuruhku minta tanda tangan Rizal, pikir Widuri gemas. Tapi ternyata bukan itu saja yang diminta Dimaz. Lebih dari itu. "Pergi ke rumah Raka Rizal," katanya dengan gaya seenaknya. "Bawa dia kemari." "Bawa... kemari...," menggagap Widuri. Enak sekali dia bicara! Kayak bawa barang saja! "Paksa kalau dia nggak mau," sambung Dimaz tanpa mengacuhkan kebingungan Widuri. "Kamu bujuk kek, rayu kek, todong kek... itu urusanmu! Pokoknya bawa dia kemari!" Kurang ajar! maki Widuri gemas. Tentu saja cuma dalam hati. Ini pasti kerja sama mereka. Si Rizal itu terlalu sok untuk menyuruhnya datang ke rumah. Maka disuruhnya Dimaz mengatur sandiwara ini. Dan untuk pertama kalinya Widuri merasa kecewa. Ketika jatuh ke tangan Dimaz pada malam pelelangan itu, sebenarnya Widuri sudah merasa lega. Dikiranya dia sudah lolos dari pembalasan dendam Rizal. Tidak heran kalau Widuri jadi tambah menyukai Dimaz. Sekarang siapa sangka, justru Dimaz yang menyerahkannya kembali kepada Rizal untuk dipermainkan! *** Dan seperti yang telah diduga Widuri, Rizal memang mempersulit tugasnya. Pertama kali Widuri datang ke rumahnya, Rizal tidak ada. Tentu saja itu cuma kata teman yang satu kos dengan dia. Mungkin saja, dan Widuri yakin sekali, Rizal ada di dalam. Tapi dia tidak mau keluar. Terpaksa Widuri mengayuh kembali sepedanya pulang. Kedua kalinya dia datang ke gang yang becek itu, Rizal memang ada. Tapi dia tidak mau keluar. "Masih capek," kata temannya sambil tersenyum-senyum. "Lain kali saja deh. Rizal baru pulang." Ketiga kalinya Widuri muncul kembali di tempat kos Rizal. Posma sudah hampir berakhir. Besok malam inagurasi. Kalau sekarang dia tidak mau keluar juga, kuadukan sama panitia, pikir Widuri gemas. Seenaknya saja mempermainkan orang. Sudah rumahnya jauh, jalanannya becek, lagi. Apalagi kalau hujan lebat begini. Sampai basah kuyup baju Widuri. Padahal dia sudah pakai jas hujan. Tapi mobil-mobil yang melewatinya dengan kejam mencipratkan lumpur dari ban mereka ke bajunya. Untunglah kali ini Rizal menyuruhnya masuk. Dia sudah menunggu di dalam kamar kosnya. Widuri melepaskan dulu jas hujannya dan membuka -sepatunya yang penuh lumpur itu sebelum melangkah dengan hati-hati ke kamar Rizal. "Selamat siang, Raka," sapa Widuri sesopan-sopan-nya. Tapi yang ditegur cuma mendengus. Menoleh pun tidak. Masih asyik sendiri dengan bacaannya. Sialan! Sekali lagi Widuri memaki. Baru juga jadi raka. Lagaknya sudah selangit! "Ngapain ke sini?" tanya Rizal dingin. Tanpa menoleh sekejap pun. "Disuruh Raka Dimaz, Raka," sahut Widuri masih dalam nada sopan. Tapi dalam hati tentu saja dia sudah mengutuk sejadi-jadinya. "Minta tanda tangan?" Brengsek! Masih pura-pura lagi. Padahal  semua itu pasti kamu yang atur! "Raka Dimaz minta Raka Rizal datang ke kampus." "Bilang hari ini aku repot." Duh, sombongnya! "Tapi Raka Dimaz bilang mesti hari ini, Raka." "Sejak kapan dia berhak mengaturku?" belalak Rizal marah. Sekarang dia menatap Widuri. Dan sorot mata itu, astaga dinginnya! Tak sadar Widuri sampai menggigil sedikit. Begitu besarkah dendam laki-laki itu kepadanya? Dan Widuri tersentak kaget. Rupanya tadi Rizal menanyakan sesuatu. Dia tidak mendengarnya karena sedang tertegun bengong. Maka begitu dibentak, dia jadi gelagapan. "Kamu dengar apa kataku?!" "Ti... tidak, Raka...," menggagap Widuri. "Maaf...." "Bilang aku tidak mau datang!" "Tapi Raka harus datang!" "Bagus!" Ada senyum yang amat menyakitkan tersungging di mata Rizal. "Sekarang kamu yang mau mengaturku! Kamu kira kamu ini apa? Pergi! Aku tidak mau melihat mukamu lagi!" Dan kesabaran Widuri sampai pada puncaknya. Dia belum pernah dibeginikan. Apalagi oleh seorang laki-laki. Widuri sadar, ini bukan main-main lagi. Rizal telah memperalat Posma ini untuk membalaskan dendam pribadinya. Itu sudah keterlaluan! Terus terang saya tidak peduli Raka mau datang atau tidak," kata Widuri menahan marah. "Tapi Raka Dimaz menyuruh saya kemari. Kalau saya tidak berhasil membawa Raka ke kampus, saya tak dapat tanda tangan!" "Itu urusanmu! Apa hubungannya dengan aku? Kamu toh bukan apa-apaku!" "Tapi kau yang mengatur sandiwara ini!" Sekarang Widuri benar-benar tak dapat menahan dirinya lagi. "Kau yang menyebabkan aku jatuh ke tangan Dimaz!" Mula-mula Rizal hanya tertegun menatapnya. Barangkali dia tidak menyangka Widuri akan seberani itu. Tetapi Widuri tidak menunggu sampai dia dibentak lagi. Dia sudah nekat. Mau dikeluarkan dari Posma pun dia sudah tidak peduli lagi. Daripada harga dirinya lebih diinjak-injak lagi, lebih baik dilampiaskannya saja kekesalannya di depan Rizal. "Pengecut! Dari dulu aku tahu kau pengecut! Sekarang untuk membalas dendam padaku saja, kau mesti pinjam tangan Dimaz! Pengecut!" Lalu tanpa menunggu kekagetan Rizal meledak menjadi kemarahan, Widuri sudah lari meninggalkan rumah itu. *** Ketika melihat Widuri kembali ke kampus dengan mata merah tanpa Rizal, sebenarnya Dimaz telah dapat menduga apa yang terjadi. Dan tiba-tiba saja, melihat bekas-bekas tangis di mata gadis yang tak pernah berduka itu, Dimaz merasa iba. Apalagi melihat bajunya yang basah kuyup itu. Tiba-tiba saja dia jadi berpihak pada Widuri. Bersimpati padanya. Rizal memang keterlaluan, gerutunya dalam hati. Sudah kuberi kesempatan bagus masih tahan harga. "Mana Raka Rizal yang saya pesan?" sambut Dimaz berlagak bodoh. Seandainya Widuri tidak sedang demikian kesal, dia pasti sudah dapat merasakan perubahan dalam suara Dimaz. "Dia tidak mau datang." "Jadi kamu tidak dapat melakukan perintah saya?" Tak ada jawaban. Untuk pertama kalinya Dimaz melihat Widuri menundukkan kepala di hadapannya. Dan heran. Melihat sikap gadis itu, keinginan Dimaz untuk membalaskan dendam Rizal langsung rontok. "Kamu tahu apa artinya tidak dapat melakukan perintah saya?" Tak ada jawaban. Gadis itu menunduk makin dalam. "Artinya kamu harus dihukum. Tahu apa hukumannya?" Kali ini Widuri menggeleng. Dan menunduk lagi. Pasrah menanti hukuman. Untuk pertama kalinya selama Posma ini dia tak dapat menjalankan tugas. Tetapi justru melihat sikapnya yang penuh penyerahan itu, melihat gadis yang biasanya pantang menyerah itu kini menunduk pasrah di hadapannya, kekerasan hari Dimaz langsung luntur. Dia tidak sampai hati menghukum Widuri. "Kemarikan buku tanda tanganmu.'9 Widuri mengeluarkan buku kecil yang sudah basah kuyup itu dari dalam tasnya yang terbuat dari karung. Lalu dengan lesu disodorkannya buku itu kepada Dimaz. Dimaz mencoretkan beberapa guratan di atas buku ku. Membolak-balik halaman-halamannya. Dan mencoret-coret lagi. "Ini bukumu." Dimaz mengembalikan buku itu ke tangan Widuri. "Hari ini tidak ada tugas. Kamu boleh pulang. Tukar bajumu dan keringkan buku ini. Nanti sore saja kamu datang lagi." Keheran-heranan Widuri mendengar perintah itu. Sampai lupa dia mengucapkan terima kasih. Apa-apaan i ru? Kenapa dia jadi sebaik ini? Dan ketika sesampainya di rumah Widuri membuka buku tanda-tangannya, matanya langsung terbelalak. Dimaz bukan hanya mencantumkan tanda tangannya sendiri. Dia juga mencantumkan tanda tangan Rizal dan selusin tanda tangan teman-temannya yang lain lengkap dengan nomor induk mereka masing-masing! Astaga, pikir Widuri bingung. Apa-apaan ini? Permainan apa lagi yang hendak dipraktekkan Dimaz? Tetapi ternyata kekuatiran itu tidak beralasan. Karena sampai Posma berakhir, Dimaz tidak pernah menyusahkannya lagi. Dia memang belum seramah raka-raka yang lain. Tidak pernah mengajaknya pulang sama-sama. Apalagi nonton. Bahkan Dimaz tidak memintanya untuk menemaninya di malam inagurasi. Padahal untuk suatu alasan yang Widuri sendiri tidak tahu, dia ingin sekali Dimaz-lah yang mengajaknya. Dimaz masih tetap acuh tak acuh seperti dulu. Tetapi paling tidak, sekarang dia tidak pernah bersikap kasar lagi. Tidak pernah menyakiti hatinya lagi. Tidak mau lagi menjadi kaki-tangan Rizal untuk membalaskan dendamnya. "Huu, dia sih memang aneh," gerutu Rita ketika tanpa sengaja mereka membicarakan Dimaz. "Anti cewek! Banci, kali!" Bagi Rita, bukan laki-laki namanya kalau tidak tertarik kepada dirinya. Bukan laki-laki kalau belum pernah meneleponnya mengajak kencan. Gadis yang satu ini memang tipe pesawat pemburu. Kalau tidak dikejar, dia tidak malu-malu mengejar. Tetapi bagi Widuri, justru laki-laki model beginilah yang menarik hatinya. Laki-laki angkuh yang sukar ditaklukkan, yang selalu menganggap remeh wanita, yang tidak mengacuhkan perempuan. Laki-laki seperti ini justru yang mencetuskan tantangan! BAB IV Sebenarnya bukan Dimaz tidak tertarik kepada Widuri. Kalau dia jujur kepada dirinya sendiri, dia mesti mengakui, sejak hari pertama melihat Widuri, dia telah terpikat. Gadis Itu bukan cuma cantik. Dia menarik. Segala-galanya. Semua yang ada pada dirinya menimbulkan kekaguman. Rambutnya yang diekor kuda. Wajahnya yang polos. Matanya yang bening menyejukkan. Senyumnya yang mengundang gairah.... Penampilannya selalu sederhana. Tubuhnya yang tinggi ramping, tidak terlalu sexy tetapi membuat setiap lelaki yang melihatnya jadi merindukan seorang istri, bukan cuma sekadar seorang wanita. Padahal sejak dikhianati Astri waktu SMA dulu, Dimaz sudah begitu yakin, dia tidak akan pernah jatuh cinta lagi. .Dia benci wanita! Perempuan itu di mana-mana sama saja. Mereka memperalat laki-laki dengan menggunakan kecantikannya. Jika datang lelaki lain yang punya modal lebih besar, mereka membuat kontrak baru. Memilih berdagang dengan cinta yang lebih menguntungkan. Dengan laba masa depan yang lebih cerah, Astri menjual cintanya kepada Bakhtiar. Padahal ada apanya lelaki itu? Giginya saja sudah tidak ada yang asli, apalagi hatinya! Palsu! &gt;-j-, Mukanya sudah keriting. Kulitnya sudah keriput. Lemak yang tertimbun di perutnya yang gendut sudah cukup untuk menggoreng sekandang lembu. Tetapi Astri masih mau padanya! Dasar perempuan! Bah, air mata mereka sama tidak berharganya dengan cintanya! Dimaz benci melihat air mata Astri. Buat apa dia menangis? Toh dia sendiri yang memilih lelaki itu! Tentu saja Dimaz tidak tahu, Astri menikah bukan karena dia mencintai Oom Bakhtiar. Bukan pula karena uangnya. Dia menikah karena ayahnya. Karena dia sayang pada keluarganya. Untuk suatu hal yang tak mungkin dapat dimengerti oleh seorang laki-laki, Astri telah mengorbankan dirinya. Cintanya. Masa depannya. Tetapi di depan Dimaz, dia membisu seribu bahasa. Dia tidak merasa perlu membela diri lagi. Buat apa? Dimaz toh tidak mungkin bisa mengerti. Dia masih terlalu polos. Masih terlalu hijau. Baginya, cinta masih semurni tetes embun yang menitik dari langit. Bagaimana dia bisa mengerti, jika Astri memilih cintanya, dia harus mengorbankan ayahnya. Keluarganya. Perusahaannya. Padahal perusahaan ayah-nyalah yang menghidupi orangtua dan adik-adiknya. Perusahaan inilah yang kini terlibat utang pada Oom Bakhtiar. Dimaz tidak mungkin mengerti. Cinta saja kadang-kadang tidak cukup. Mereka memerlukan landasan lain untuk membangun sebuah mahligai perkawinan ya ng kokoh. Sebaliknya pengkhianatan Astri malah membuat kepercayaan Dimaz kepada kesetiaan cinta punah sama sekali. Rasanya dia tidak ingin lagi jatuh cinta. Dia tidak bisa membayangkan hidup bersama perempuan lain. Tidak pernah ada perempuan lain dalam mimpinya kecuali Astri. Kalau dia ingin menikah, Astri-lah yang harus menjadi istrinya. Kalau bukan Astri, lebih baik dia tidak usah kawin. Tetapi tiba-tiba muncul Widuri dalam kehidupannya. Dan sejak melihat gadis itu, Dimaz tahu, percuma membohongi dirinya sendiri. Dia tidak dapat lagi mengasingkan hatinya dari sentuhan cinta. Padahal dalam pertemuan mereka yang pertama, Dimaz hanya ingin menolong Rizal. Dia cuma ingin membantu sahabatnya membalas dendam. Kebetulan objek pembalasan mereka sama. Seorang wanita. Dengan membalaskan dendam Rizal, Dimaz seakan-akan membalas dendamnya sendiri kepada Astri. Tetapi Widuri bukan Astri. Dia tidak punya salah apa-apa kepada Dimaz. Lagi pula dia terlampau menarik. Terlalu berbahaya untuk dibiarkan selalu berada di dekatnya. Setelah bergaul sekian lama semasa Posma, Dimaz bukan saja tidak berhasil membalaskan dendam Rizal. Malah dia sendiri yang semakin kewalahan membendung perasaan simpatinya kepada Widuri. Ketika Posma berakhir, Dimaz sudah berusaha menjauhkan diri. Dia tidak ingin terlibat cinta lagi. Apalagi dengan Widuri. Apa yang mesti dikatakannya kepada Rizal nanti? Tetapi semakin dia menjauhkan diri dari gadis itu, semakin tidak tertahankan lagi perasaan rindunya kepada Widuri. Dia begitu marah kalau Widuri pulang dengan Parlin. Mereka tidak satu fakultas. Widuri di kampus timur, Parlin yang mahasiswa teknik mesin itu di kampus barat. Tetapi setiap Widuri pulang kuliah, Parlin pasti sudah menunggu di luar. Padahal kuliah di fakultas teknik cukup repot. Buat apa dia menyempatkan diri tiap hari menjemput Widuri? Bus banyak. Bajaj tidak kurang. Mau menumpang mobil teman juga banyak yang menawarkan. Mengapa mesti pulang boncengan sepeda panas-panas begini? Dasar pemuda itu yang tidak tahu diri! Baru punya modal sepeda tua saja sudah berani mengajak Widuri pulang! Tetapi... Widuri tidak menolak. Dia tidak memilih ikut Eko yang punya motor. Atau Lukman yang selalu menawarkan tempat yang paling istimewa di mobilnya. Widuri tidak malu berboncengan sepeda dengan Parlin. Pacarnyakah laki-laki itu? Kata Rizal, mereka sudah bersahabat sejak masih di S MA. Kalau menilik nada suara Rizal, pasti Parlin bukan teman biasa. Dan Dimaz jadi semakin penasaran. Apalagi melihat penampilan Parlin. Biarpun modalnya cuma sepeda, dia tidak pernah merasa minder. Tubuhnya tinggi tegap. Kerja keras di bengkel sepeda ayahnya membuat kulitnya hitam dibakar panasnya matahari. Tetapi sekaligus menumbuhkan otot-otot yang mengagumkan di tubuhnya. Wajahnya tampan. Sikapnya jantan. Kalau dia mau, jangankan cuma Widuri, separo isi kampus ini pun bersedia menunggu giliran jadi pacarnya. Dan rela menjadi lebih hitam pulang naik sepeda tiap hari. "Pulang?" Tak tahu Dimaz mengapa dia berani mengucapkan pertanyaan itu. Hampir setiap hari dia melihat Widuri sedang duduk menunggu bersama beberapa orang temannya di depan gerobak tukang bakso di muka kampus. Tetapi dia tidak pernah berani membuka mulurnya. Dimaz malah berpura-pura tidak melihat Diluncurkannya mobilnya cepat-cepat ke jalan raya. Dan tukang parkir berambut keriting itu berteriak-teriak marah karena Dimaz tidak membayar uang parkir. Padahal gajinya sudah dibayar oleh fakultas. "Ikut yuk?" Sekarang Dimaz malah tidak tahu dari mana dia memperoleh keberanian mengucapkan tawaran itu. Gila! Apa kata Rizal nanti? Tetapi Widuri cuma tersenyum. Sebaris giginya yang putih bersih berbaris rata memamerkan senyum yang membuat Dimaz hampir lupa bernapas. "Terima kasih." Tapi Widuri ddak bergerak untuk bangkit dari tempat duduknya. Apalagi menghampiri mobil Dimaz. "Nunggu?" Tiba-tiba saja Dimaz merasa panas. Belum pernah dia mengajak seorang gadis pulang dengan mobilnya. Biasanya merekalah yang antre minta ikut. Widuri cuma mengangguk. Senyum tak lekang dari bibirnya. Dan ketika dia tersenyum, sekujur wajahnya seakan-akan  ikut tersenyum. Matanya begitu bagus. Teriknya matahari pukul dua belas siang dan panasnya asap kuah bakso yang mengepul dari mangkuknya, tidak menghilangkan kesejukan yang terpancar dari balik bulu matanya yang panjang lentik. Tidak seperti gadis yang duduk di sampingnya. Mukanya pahit terus seperti vitamin B-kompleks. Dimaz tidak menunggu sampai sepeda Parlin merapat di trotoar. Dengan ekor matanya dia telah melihat pemuda itu sedang mengayuh sepedanya di jalur lambat. Dia tidak terlihat terburu-buru, seakan-akan dia begitu yakin Widuri pasti sedang menunggunya dan akan tetap menunggu biarpun dia datang terlambat. Parlin bahkan seakan-akan tidak peduli Widuri sudah kepanasan menunggunya. Atau... Widuri memang tidak pernah merasa kepanasan? Dimaz-lah yang panas karena ajakannya ditolak. Karena Widuri memilih menunggu Parlin daripada ikut dengan mobilnya? Atau... dia mulai merasa cemburu? Dimaz menginjak pedal gasnya dengan kasar. Mobil itu melonjak ke depan. Langsung ke jalan raya. Hampir saja ditabrak sebuah bajaj yang baru keluar dari jalur lambat dan tidak keburu berhenti. Sumpah serapah pengemudi bajaj itu tidak sampai ke telinga Dimaz. Telinganya sudah hangus dibakar oleh api kemarahan yang berkobar di hatinya sendiri. "Kok diam saja?" tegur Parlin ketika disadarinya sudah hampir seperempat jam dia "main pingpong sendirian". Tidak ada reaksi dari Widuri Jangankan menjawab. Mendengar saja tidak. Dia sedang asyik dibuai oleh perasaannya sendiri. Tidak biasanya Dimaz mengajaknya pulang. Biasanya menegur saja tidak mau. Dia selalu berpura-pura membuang muka kalau melihat Widuri. Tetapi hari ini dia bukan saja menghentikan mobilnya. Dia menyapa. Menegur. Bahkan mengajaknya pulang bersama-sama! Dan... matanya! Benarkah ada kecemburuan di matanya? Belum pernah Widuri melihat Dimaz menatapnya seperti itu... marahkah dia karena Widuri menolak tawarannya? Atau... dia marah karena Parlin-lah yang menjemputnya? Karena Widuri memilih menunggu Parlin daripada ikut dengan mobilnya? "Hai!" Sengaja Parlin mengejutkannya. "Mendadak jadi gagu, ya?" "Jangan nengok-nengok!" desah Widuri, ngeri merasakan olengnya sepeda Parlin. "Nanti nubruk bajaj!" "Kok diam saja sih?" "Kan lagi dengar kamu ngomong." "Tapi kalau ditanya, jawab dong!" "Nanya apa?" "Katanya dengar!" 'Tidak bisa diulang?" "Mesti tunggu sejam lagi." "Ah, memangnya warta berita!" ttfMsJ "Mikirin apa sih?" "Ah, nggak." "Lelaki itu lagi?" "Lelaki mana?" "Bekas rakamu yang sok itu." "Semua juga sok." "Kamu tahu yang mana yang kumaksud." "Aku malah tidak tahu kamu lagi membicarakan siapa." "Temannya Rizal yang ganteng itu. Siapa namanya sih?" "Dimaz?" Entah mengapa, berdebar-debar hati Widuri setiap kali menyebut namanya. Oh, untung saja Parlin sedang sibuk mengayuh sepedanya. Seandainya dia menoleh ke belakang, dia pasti dapat melihat betapa merahnya paras Widuri! Aneh. Bagaimana mungkin menyebutkan nama Dimaz saja sudah memacu aliran darahnya secepar ini? "Kelihatannya dia juga naksir kamu." "Naksir?" Sekali lagi darah menyembur ke muka Widuri. Mukanya terasa panas. Hangus sampai ke telinga. "Ngomong saja jarang kok!" Widuri memang tidak berdusta. Sesudah Posma berakhir; mereka memang jarang bertemu. Apalagi ngobrol. Tetapi entah mengapa, Parlin punya firasat, lelaki yang satu ini berbahaya. Sepuluh kali lebih berbahaya daripada Anto. Bram. Prawoto. Atau Rizal sekalipun. "Jangan dekat-dekat dia. Tampangnya buaya." "Buaya? Pacaran saja nggak pernah kok!" "Buaya memang tidak pernah pacaran! Dia langsung menelan!" "Apanya yang mau ditelan? Dia tidak pernah mendekati cewek!" "Tentu saja! Kalian yang mengejar-ngejar dia!" Pria yang satu ini memang aneh, pikir Widuri ketika sedang sibuk memanggang kue. Heran. Sepanjang hari ini hanya Dimaz yang memonopoli seluruh pikirannya. Apa pun yang dilihatnya, pasti yang terbayang wajah Dimaz juga. Ada apa dengan masa lalunya? Mengapa dia kelihatannya menjauhi wanita? Dimaz tampak begitu cocok dengan Rizal. Apakah karena mereka sama-sama membenci wanita? Karena pada suatu waktu dulu, ada seseorang wanita yang pernah menyakiti hatinya? Ah, se andainya aku punya kesempatan! Seandainya dia memberi aku kesempatan sekali lagi, akan kuper-liharkan betapa lembutnya hati seorang perempuan! "Eh, melamun, lagi!" Entah sudah berapa lama Ibu tegak di sana. Mengawasi Widuri yang sudah setengah jam lebih tertegun menatap kosong ke arah panggangan kuenya. "Nanti kuenya hangus lagi!" Bergegas Widuri mengangkat loyang kuenya dari dalam pagangan sederhana yang terbuat dari kaleng yang sudah berwarna kehitam-hitaman karena seringnya dipakai. Untung baru tepi kuenya saja yang hangus. Tengahnya masih bagus. Kalau tidak, dia pasti kena marah lagi. "Minta ampun ini anak!" Ibunya mengawasi kue yang tepi-tepinya sudah hangus itu sambil menggeleng-geleng. "Sudahlah sana belajar saja! Biar Ibu yang bikin kue!" "Ah, nggak ada yang perlu dihafal kok, Bu. Ten-tamen masih lama." t "Tapi kalau begini kerjamu, kue Ibu bisa hangus semua! Ada apa sih? Kok dari tadi melamun terus? Ada hantu baru lagi?" Ibu selalu menyebut teman-teman prianya "hantu". Soalnya mereka selalu gentayangan datang kemari. Dan Ibu tidak menyukai mereka. "Kalau kau sudah kepingin kawin, Ibu kan sudah punya calon." "Ah, Ibu." Widuri membalikkan loyangnya di atas nampan dengan jengkel. Karena terlalu keras ditumpahkan, kue yang masih panas itu malah pecah. "Aduh!" Entah berapa kali Ibu mengaduh. Hampir setiap kali menarik napas. "Kerjamu hari ini betul-betul tidak beres semua!" "Habis Ibu ngomel aja sih." "Lho, Ibu yang disalahkan? Kamu yang melamun terus kok! Ayo, bilang sama Ibu, ada apa?" "Ah, nggak ada apa-apa. "Perawan sudah cukup umur seperti kamu mestinya sudah kawin. Kalau tidak, melamun terus!" "Ah, Ibu! Lagi-lagi kawin! Saya belum kepingin kawin kok, Bu!" Tapi teman-teman lelakimu sudah bolak-balik terus kemari, kayak kucing kelaparan!" "Biar saja! Mereka kan cuma teman!" "Tapi buat apa melayani mereka? Tanto kan lebih baik. Orangtuanya kenalan baik Ibu, anaknya sudah cukup umur, direktur pula! Mau apa lagi?" Tapi saya belum mau kawin, Bu!" Tidak baik punya teman pria sebanyak itu, Widuri. Hari ini yang naik sepeda. Besok datang yang pakai motor. Lusa muncul yang punya mobil. Tetangga-tetangga nanti bilang apa? Masa kamu mau layani semua laki-laki sebanyak itu?" "Lho, mereka cuma teman kok, Bu! Apa salahnya mereka kemari? Saya masih mau kuliah. Belum mau kawin!" "Boleh, boleh kau sekolah terus. Tapi ingat, kau tetap seorang wanita. Yang paling penting untukmu bukan titel. Bukan uang. Tapi suami!" "Ah, Ibu sih kuno!" "Bilanglah apa saja. Ibu kunolah. Ketinggalan zamanlah. Nanti baru kau tahu, Ibu-lah yang benar. Apa pun yang telah kaumiliki, yang dicari oleh seorang wanita tetap laki-laki juga! Biar kau punya gedung bertingkat, mobil bagus, uang segudang, titel berderet di depan namamu, kalau kau belum punya suami, kau tetap dianggap belum sempurna!" "Jangan kuatir deh, Bu! Saya pasti kawin, tapi bukan besok!" gerutu Widuri sambil memindahkan kuenya ke tempat kue yang lebih bagus. Tetapi karena terburu-buru, sepotong kue tergelin-:* ke atas meja. Sebelum Ibu melihat, cepat-cepat Widuri mendorong kue itu ke bawah. Kue jatuh ke lantai. Dan ditangkap dengan sigap oleh si Putih. Tetapi anjing celaka! Entah sudah bosan tiap hari makan kue, entah kuenya yang tidak enak, kue yang sudah separo dikunyah itu dimuntahkannya kembali. Sekarang Ibu bukan cuma marah melihat kue yang jatuh itu. Dia lebih marah lagi karena lantai menjadi kotor. Tahu gelagat kurang baik, si Putih cepat-cepat merangkak ke bawah lemari. Di sini aman, karena kaki Ibu tidak akan bisa sampai kemari. Kalau tidak, dia pasti kena tendang. Padahal dia tidak salah apa-apa. Dia cuma menggunakan haknya. Sebagai karnivor, dia tidak bisa makan kue setiap hari. "Orangtua Tanto sudah berapa kali datang kemari. Tapi kau tidak pernah ada di rumah. Yang mereka temui lagi-lagi cuma kue buatan tanganmu!" "Yang mereka mau temui kan Ibu, bukan saya!" "Mereka mau melamarmu untuk Tanto!" "Saya masih kuliah!" "Tapi kau mesti ingat, Wid, kau anak sulung. Adik-adikmu banyak. Ibu sudah tua. Sampai kapan Ibu masih.sanggup dipanggang panasnya asap di dapur tiap hari?" "Kalau c uma uang soalnya, saya masih bisa kerja kok, Bu!" "Katanya kau kepingin jadi dokter." "Saya bisa kuliah sambil kerja." "Kuliah dokter kan tidak gampang, Wid." Tapi kalau disuruh memilih, lebih baik aku tidak meneruskan kuliah daripada kawin, pikir Widuri jengkel Apalagi dengan Tanto! Kenal saja tidak! Widuri hanya pernah melihatnya sekali. Tampangnya sih tidak jelek. Cuma kelewat rapi. Semua gerak-geriknya serbasalah. Canggung. Seolah-olah melakukan apa saja rikuh. Dan yang paling tidak disukai Widuri, Tanto anak ibu. Seolah-olah dia masih seorang anak laki-laki berumur enam tahun. Apa-apa mesti tanya ibunya. Padahal umurnya dua kali umur Widuri. Widuri tidak suka jenis laki-laki seperti ini. dia mengagumi laki-laki yang jantan. Dewasa. Tahu apa yang dikehendaki. Seperti Parlin. Atau... Dimaz. Dan ingat pemuda itu, tiba-tiba Widuri menjadi gugup. Sepotong kue jatuh lagi. Kali ini langsung ke tmtaL Tetapi kali ini, si Putih tidak menerkamnya. Dia mengintai saja dari balik lemari. BAB V Ketika Dimaz masuk ke kamar kos Rizal, dia sedang duduk berlunjur di atas dipan. Bertelanjang dada sambil mengipas-ngipas dengan koran bekas. Dan mencorat-coret sesuatu di bukunya. Ah, apa lagi? gerutu Dimaz dalam hati. Paling-paling dia lagi bikin sajak. Dasar penyair! "Jadi pergi nggak?" "Sebentar lagi deh. Aku belum mandi," sahut Rizal tanpa menoleh. Dia masih asyik merenungi bukunya. "Lekas dong! Mau pergi nggak?" Malas-malasan Rizal menutup bukunya. Melemparkannya ke sudut tempat tidur. Bangkit sambil meraih handuknya dan berjalan ke luar. Dimaz menjatuhkan dirinya ke atas satu-satunya kursi di kamar itu. Kamar berukuran 3x3 meter yang pengap dan panas. Heran, si Rizal itu bisa betah mengurung diri di kamar yang panasnya seperti neraka begini! Susah sekali memaksa dia keluar dari tempat pertapaannya ini. Rizal lebih senang melamun sambil membuat sajak di dalam penjara yang dibuatnya sendiri daripada keluar mencari udara segar. Kalau bukan teman baik mereka yang ulang tahun malam ini, dia pasti lebih suka mengobrol dengan cecak-cecak di kamarnya daripada pergi ke pesta. "Dansa nggak bisa, minum nggak bisa, ngobrol nggak bisa, ngapain aku ke sana?" keluhnya di sepanjang jalan dari kampus sampai ke tempat kosnya siang tadi. "Dina marah kalau kau tidak datang." "Ah, dia tahu juga nggak, aku datang atau tidak!" "Siapa bilang? Dina kepingin kau baca sajak buat dia! Makanya kau diundang!" "Aku malas. Tidak tahu harus berbuat apa di sana." "Tidak ada yang memaksamu melakukan apa yang tidak kausukai! Ayo, Zal, sampai kapan kau mau begini terus? Sekali-sekali pesta kan nggak apa-apa. Masa kau mengeram terus di kamar?" Akhirnya Rizal mengalah. Dia ikut juga ke pesta Dina. Tetapi begitu malasnya dia berangkat, sehingga mereka baru sampai waktu pesta sudah hampir selesai. "Kok baru datang?" gerutu Dina jengkel. Sebenarnya dia mengharapkan Dimaz datang lebih cepat. Dia ingin D'umz membantunya meniup lilin-lilin di atas kue ulang tahunnya. Masa dia baru datang sekarang, setelah kuenya habis dipotong dan dibagi-bagikan! "Kenapa nggak datang besok pagi saja sekalian?" "Duh, jangan marah dulu dong," tersenyum Dimaz. "Ini jaka tingting dandannya lebih lama dari perawan!" Dia memukul bahu Rizal yang sedang tertegun menatap ke tengah ruangan. Beberapa pasangan sedang asyik berdansa. Ketika Dimaz menoleh mengikuti arah tatapan Rizal, dia melihat Widuri sedang berdansa dengan Parlin. Dan sejenak Dimaz merasa napasnya sesak. Padahal untuk gadis itulah dia muncul di tempat ini! Dalam gaun malamnya yang sederhana, rambut tergerai bebas melewati bahunya ke atas punggung, Widuri tampak secantik Dewi Nawangwulan yang sedang mandi. Belum pernah Dimaz melihat Widuri menggerai rambutnya seperti ini. Biasanya dia selalu mengikat rambutnya dengan rapi. Dia tampak begitu eksotis, sampai Dimaz hampir lupa di sisinya ada Rizal dan Dina. "Masuk yuk!" ajak Dina masih separo menggerutu. "Yang lain-lain sudah hampir pulang kalian baru datang!" "Kau seharusnya bersyukur tuan besar kita ini masih mau datang, Din!" Dimaz mengerdipkan matanya ke arah Rizal. "Coba, di pesta mana d ia pernah muncul? Cuma di pestamu ini Rizal mau datang!" Persetan dia mau datang atau tidak, gerutu Dina dalam hati. Bukan dia kok yang kuharapkan! "Wah, tumben!" cetus Dodi heran. Dia sedang minum di bar bersama teman-temannya ketika Dina membawa kedua tamunya masuk. "Lihat, Teman-teman! Penyair kita!" Serentak semua mata menoleh ke pintu. Dan Widuri hampir menginjak kaki Parlin ketika sekilas matanya beradu dengan mata. Dimaz. "Baca sajak, Zal!" Dua gadis langsung menyerbu dan mendaulat Rizal. Padahal mereka cuma ingin agar Dimaz menghirup parfum mereka. "Wah, jangan! Aku ddak siap!" Rizal mundur dengan panik. Darah segera menyembur ke mukanya. Membuat sekujur parasnya merah padam. "Ayo, Zal! Jangan malu-malu!" Dodi bangkit menghampiri Rizal sambil menyodorkan sesloki anggur. "Minum dulu deh! Biar berani!" "Jangan." Rizal mendorong minuman itu jauh-jauh dari mulurnya. Baunya saja hampir membuatnya muntah. "Aku tidak biasa minum." "Minum dikit, Zal." Dua-tiga pemuda memaksanya minum. "Nggak apa-apa kok! Biar berani! Kau kan laki-laki!" Dimaz ingin menolong sahabatnya. Dia sudah mengulurkan tangannya untuk merenggut gelas di tangan Dodi. Tetapi Dina lebih cepat lagi menyeretnya ke tengah ruangan. Terpaksa Dimaz mengayunkan kakinya mengikuti irama musik. "Halo," sapa Dimaz ketika mereka mendekati Widuri yang masih berdansa dengan Parlin. Widuri menoleh sambil tersenyum. Dan melihat bibir yang indah mengudang kecupan itu, Dimaz sampai lupa di sudut sana Rizal sedang berjuang membebaskan dirinya dari pengaruh alkohol yang mulai mengaliri tenggorokannya. Dia sudah terbatuk-batuk beberapa kali. Tetapi teman-temannya masih memaksanya minum seteguk lagi. Rizal merasa seluruh isi perutnya hampir tumpah. Tenggorokannya panas seperti terbakar. Kepalanya terasa amat pusing. Dia ingin duduk. Ingin membaringkan tubuhnya. Tetapi Dodi malah mendorongnya ke tengah-tengah ruangan. "Ayo, Zal! Baca sajakmu!" teriaknya bersemangat. Musik yang semakin lama semakin hangat, busa minuman keras yang melimpah ruah dan asap rokok yang mulai menyesaki ruangan, semakin membuat mereka terbenam dalam suasana pesta yang meriah. Dimaz sudah menghabiskan dua gelas anggur. Sudah berdansa dengan empat gadis. Tetapi matanya belum lepas juga mengincar Widuri. Gadis itu masih asyik berdansa dengan Parlin. Padahal Parlin juga sudah separo mabuk. Dansanya sudah tidak benar lagi. Dia lebih banyak bergoyang-goyang daripada mengikuti irama musik. Beberapa pasangan malah sudah terkulai di kursi. Dua-tiga pemuda terkapar di atas permadani. Di tengah-tengah ruangan, Rizal menggerak-gerakkan tangannya seperti orang berdeklamasi. Tetapi yang keluar dari mulutnya bukan sajak. Hanya lenguhan-lenguhan yang tidak jelas bunyinya. Di bar Dodi sedang tertawa-tawa memukuli meja. Di sebelahnya, Bonar sedang menyanyikan Lisoi sambil mengacung-acungkan gelasnya. "Ayo, isi lagi!" Dina menuangkan anggur lebih banyak lagi ke gelas Dimaz. "Gelasmu sudah kosong!" Dimaz masih ingin meneguk segelas anggur lagi. Dia ingin mabuk. Ingin melenyapkan profil Widuri dari ingatannya. Dia tidak ingin lagi melihat Widuri berdansa dengan Parlin. Tetapi dia juga tidak rela kalau Widuri dibiarkan tanpa pengawasan di tangan si pemabuk. Karena itu, ketika Dina mengisi lagi gelasnya, dibuangnya jauh-jauh gelas itu. Dia bersandar saja ke bar, mengawasi Parlin yang sedang membawa Widuri berputar-putar ke sekeliling ruangan. "Sudah ah," protes Widuri berkali-kali, "Pulang yuk." Dia juga minum sedikit tadi. Dan sekarang dirasanya kepalanya amat ringan. Widuri takut keburu jatah pingsan di sini. Dia takut melihat teman-temannya sudah mabuk semua. Bagaimana dia pulang nanti? Apa kata Ibu kalau mencium bau minuman keras dari mulutnya? Widuri belum pernah ikut pesta seperti ini. Kalau dia tahu begini kesudahannya, lebih baik dia tidak datang. Pariin-lah yang memaksa mereka ikut menghadiri pesta ulang tahun Dina. Widuri tidak menyangka pestanya akan sebrengsek ini. Dia minum karena harus ikut mengangkat toast mengucapkan selamat kepada Dina. Parlin memaksanya menghabiskan isi gelasnya. Dan sekarang... beginilah  jadinya! Dia sudah tidak tahu lagi sedang berdansa atau cuma sekadar berputar-putar sepmi gasing! Dan Parlin sudah tidak dapat diajak bicara lagi! Matanya meram-melek seperti lampu sein. Mulutnya berbunyi terus seperti knalpot rusak. Tetapi rangkukn-nya di pinggang Widuri malah terasa semakin erat. Widuri merasa dadanya sudah melekat di dada Parlin. Seuap kali dia mencoba merenggangkan tubuhnya dengan sisa-sisa tenaganya, Parlin malah mengetatkan kembali dekapannya. "Parlin, pulang yuk!" teriak Widuri separo menangis. "Aku capek!" Sesosok tubuh yang sedang berdansa di samping mereka tumbang pula ke lantai. Dan Parlin tidak keburu menghindar. Kakinya tersandung tubuh yang terkapar di lantai itu. Dan dia tersungkur mencium lantai. Widuri yang masih dipeluknya erat-erat ikut jatuh terduduk. "Par! Parlin!" Dengan panik Widuri mengguncang-guncang tubuh Parlin yang sudah tidak bergerak lagi. "Bawa aku pulang!" Sekarang Widuri sudah benar-benar menangis. "Bawa aku pulang, Parlin!" Sebuah tangan terulur menyentuh bahunya. Ketika Widuri mengangkat mukanya, dia melihat Dimaz tegak di hadapannya. Rambutnya kusut masai. Napasnya berbau alkohol. Berdirinya pun limbung. Tetapi matanya masih mata yang dikenal Widuri. Tatapannya memberikan secercah perasaan aman di hatinya. Widuri mengulurkan tangannya. Dan Dimaz menariknya bangun. "Kuantarkan kau pulang," katanya parau. "Tapi kau sendiri mabuk!" protes Widuri cemas. "Bagaimana..." "Kau harus pulang." Terhuyung-huyung Dimaz membawa Widuri melintasi separo ruangan yang telah berubah menjadi tempat tidur. Tubuh-tubuh yang telah tidak bergerak lagi saling tindih di lantai. "Kau tidak boleh tinggal di sini. Tidak bisa... tidak bisa... berada... di tempat ini..," Dimaz melangkahi sesosok tubuh. Tetapi karena matanya sudah berkunang-kunang, kakinya malah tersandung. Dia terhuyung hampir jatuh. Widuri cepat-cepat menahannya. Dimaz mencoba tardiri tegak. Dia mengangkat kakinya tinggi-tinggi seperti hendak melangkahi sesosok tubuh lagi. Padahal tidak ada apa-apa di depannya. Terpaksa Widuri memapahnya. "Kau lihat pintunya?" desis Widuri bingung. Dia memapah Dimaz ke pintu. Tetapi pemuda itu malah melangkah ke jendela. "Pintunya di sini." "Maaf," sahut Dimaz parau. "Aku melihat dua pintu." Susah payah Widuri membimbing Dimaz melangkahi tubuh demi tubuh yang malang melintang di hadapan mereka. "Awas!" katanya ketika melihat Dodi sedang tidur melintang dengan enaknya di ambang pintu. "Kau lihat itu?" . Dimaz mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Dia melangkah sejauh-jauhnya seolah-olah melangkahi dua sosok tubuh, padahal yang menghalangi jalannya cuma Dodi. "Kau mabuk," keluh Widuri panik. "Bagaimana kau bisa mengantarku pulang?" "Kau tahu yang mana mobilku, kan?" "Tentu saja. Waktu Posma dulu, aku yang selalu mencucinya." "Nah, carilah." "Kau mau mengemudikan mobil dalam keadaan seperti ini?" "Kau mau jalan kaki pukul dua malam?" "Lebih baik kita naik taksi!" "Oke, carilah taksi!" Widuri menoleh ke jalan selebar lima meter di depan rumah Dina. Jangankan taksi, jangkrik saja tidak ada yang lewat. Jalan kaki ke depan sampai ke jalan raya dia takut. Sampai di sana kalau ada taksi, kalau tidak? Naik becak lebih takut lagi. Memang ada Dimaz. Tetapi bisa apa pemuda yang sedang mabuk? Jalan saja sudah sempoyongan. Dimaz tidak menunggu sampai Widuri yang memutuskan. Dia merambat dari satu mobil ke mobil di sebelahnya. Terhuyung-huyung melangkah mencari mobilnya sendiri. Di samping sebuah mobil dia' berdiri agak lama. Mencari-cari kunci mobil di saku celananya. Lalu sambil terbungkuk-bungkuk mencoba memasukkan kunci mobilnya ke lubang kunci mobil itu. "Itu bukan mobilmu!" desis Widuri antara kesal dan iba. Dia sudah ingin menangis. Takut tidak bisa pulang. Dan takut dimarahi Ibu. Sudah pukul dua malam! Padahal tadi dia berjanji hanya sampai pukul sepuluh.... Widuri mengambil kunci dari tangan Dimaz. Kalau menunggu sampai Dimaz menemukan mobilnya sendiri dan membuka pintu, matahari pasti sudah keburu terbit! "Kau tidak bisa nyetir!" protes Widuri ketika Dimaz menjatuhkan rubuhnya di belakang kemudi I demikian  rupa seolah-olah dia sudah setahun lebih I tidak pernah duduk. "Kau mabuk!" "Mobil ini tidak bisa jalan sendiri." "Tapi... kita bisa celaka!" "Lalu kau mau apa? Telepon ayahku?" Dimaz mencoba memasukkan kunci di lubang tern- I pat staner. Berkali-kali dia gagal sehingga terpaksa ; sekali lagi Widuri yang menolongnya. Sejenak jari-jari tangan mereka bersentuhan kem- j bali. Dan Widuri harus menggigit bibirnya menahan debar jantungnya sendiri. Kalau tidak, dia pasti tidak I berhasil juga memasukkan kunci itu. Dimaz menstarter mobilnya dengan susah payah. I Dan Widuri baru menghela napas lega ketika mesin- I nya berbunyi. Untung mobil ini tidak ikut mabuk! Dengan satu lonjakan yang kasar, mobil itu melun- J cur keluar. Widuri memejamkan matanya dan mena- I han napas. Menunggu terdengarnya bunyi benturan. Tetapi untung. Sisi-sisi mobil itu lewat hanya dua I millimeter dari badan mobil di sampingnya. Baru saja I Widuri membuka matanya sambil menghela napas I lega, bumper mobil Dimaz menyerempet pintu ger- I bang. Dan Widuri terlonjak kaget. "Nggak apa-apa," kata Dimaz santai saja, seolah- I olah mereka cuma menyambar angin. "Cuma kena pintu sedikit." "Pelan-pelan dong," rintih Widuri gemetar. "Aku I takut." "Kalau takut ngapain datang ke sini? Ini bukan |.y pesta buat gadis baik-baik seperti kau!" "Parlin yang mengajakku. Katanya diundang Dina." "Kau belum kenal Dina." "Aku kapok." "Kamu minum juga?" "Cuma toast. Kata Parlin..." "Lagi-lagi Parlin!" geram Dimaz jengkel. Kalau sedang marah begini, nyetirnya lebih jelek lagi. Widuri hanya dapat menahan napas. Entah sudah berapa kali dia memanggil-manggil nama Timan. "Memangnya dia apamu? Dewa atau guru?" Widuri diam saja. Lebih baik diam daripada membuat Dimaz tambah parah. Tetapi diam pun rupanya malah membuatnya marah juga. "Anak itu brengsek! Kata Rizal dia tukang berkelahi! Anak geng!" Sekali lagi jantung Widuri memukul keras. Jadi Dimaz juga memerhatikannya! Kalau tidak, buat apa dia mencari tahu tentang Parlin? Dia begitu marah. Apakah karena Parlin? Karena dia cemburu...? "Kok diam saja?" desak Dimaz penasaran. "Aku takut. Bergerak saja takut. Apalagi bicara." "Kau tidak perlu takut padaku." "Aku takut pada mobilmu. Takut nabrak." "Tapi kau tidak takut bergaul dengan pemuda brengsek itu!" "Ah, Parlin tidak pernah jahat padaku. Kami berteman sejak SMA." "Pacarmu?" "Cuma teman." "Kau selalu pulang sama dia." "Rumah kami searah." "Tapi cukup jauh, kan?" "Dekat juga." "Bohong!" Jantung Widuri hampir melompat ke leher. Bukan karena bentakan Dimaz. Tapi karena mobil mereka oleng ke lori sampai ban depannya hampir terperosok ke dalam selokan. "Aku tahu di mana rumahmu! Aku juga tahu rumah Parlin!" Dia tahu rumahku, pikir Widuri hampir pingsan menahan debar jantungnya sendiri. Oh, rasanya darah di dalam pembuluh darahnya bukan hanya menyembur ke muka. Soalnya yang terasa panas bukan cuma mukanya. Tapi dadanya juga. Perutnya. Telapak tangan. Sampai ke telapak kaki. Rupanya denyutan sistole jantungnya begitu kuatnya sampai darah menyembur ke mana-mana. Dan Widuri harus menarik napas dalam-dalam karena tiba-tiba dadanya terasa sesak. Sejenak Widuri jadi megap-megap sendiri, padahal dia tidak punya penyakit asma. Dan pengapnya belum hilang tatkala dia terpaksa menahan napas lagi. Kali ini karena Dimaz mendadak menginjak rem. Widuri terdorong ke depan dan terpental kembali ke belakang sampai punggungnya membentur jok mobil. Dia ddak jadi menghela napas lega ketika menyadari mobil itu telah berhenti di depan rumahnya sendiri. Lampu ruang depan masih menyala. Dan begitu mendengar bunyi pintu mobil ditutup kembali, pintu rumahnya langsung terbuka. Ibu berdiri di ambang pintu. Mukanya tidak kelihatan karena gelap. Cahaya lampu dari dalam rumah menyoroti tubuhnya dari belakang. Tetapi tanpa melihat pun Widuri telah dapat membayangkan bagaimana ekspresi wajah ibunya sekarang. "Sudah jadi hostess sekarang, ya?!" bentak Ibu sebelum Widuri sempat mengucapkan pembelaan. Bahkan sebelum Dimaz keburu membuka mulutnya mengucapkan selamat malam. "Bu..." "Masuk!" geram Ibu begitu sengitnya. Seandainy a ada cecak di langit-langit sana, cecak itu pasti sudah jatuh ke bawah karena kagetnya. Terpaksa Widuri masuk. Kalau dia lebih lama berdiri di luar, Ibu akan lebih sengit lagi berteriak-teriak. Dan semua tetangga akan terbangun menertawakan mereka. Mungkin juga malah memaki. Widuri hanya sempat menoleh kepada Dimaz. Sejenak mata mereka bertemu. Cuma sedetik, karena di detik lain, suara Ibu sudah menggelegar lagi. "Mana orangnya yang berani membawa anak perawanku sampai pukul dua malam?! Mana?! Aku ingin lihat!" "Bu!" Widuri sampai tidak jadi melangkah masuk. Dia harus membela Dimaz! Astaga, dia tidak bersalah apa-apa! Bukan Dimaz yang membawanya sore tadi! Tapi Ibu sudah membalik begitu cepatnya. "Masuk!!" geramnya sengit. Matanya membelalak marah. Telunjuknya diangkat menunjuk ke pintu seperu ujung tombak yang siap ditikam bila Widuri masih membandel. Terpaksa Widuri masuk. Dia masih melirik sekali lagi kepada Dimaz. Kasihan dia! Berdiri saja sudah susah, masih dimarahi, lagi. "Kamu yang berani bawa anak saya sampai pagi, ya?" "Bu! Sudah!" keluh Widuri dari ambang pintu. "Malu!" "Diam kauT "Saya minta maaf, Bu," gumam Dimaz sambil berusaha berdiri tegak. Dia tidak mau jatuh di depan ibu Widuri. Tetapi tanah celaka yang diinjaknya ini... rasanya permukaan tanah di bawah kakinya sudah tidak rata lagi! "Kuadukan kau nanti pada orangtuamu!" sergah ibu Widuri panas. "Seenaknya saja membawa-bawa anak orang!" "Bu!" desah Widuri separo menangis. "Sudah, Bu! Malu!" "Sekali lagi, kuadukan kau pada polisi!" Dengan geram ibu Widuri melangkah masuk dan membanting pintu. Terhuyung-huyung Dimaz melangkah menghampiri mobilnya. Ketika sudah duduk, Dimaz bersyukur masih dapat duduk di dalam mobil, bukan di atas kap. Baru tatkala dia tidak dapat menemukan kemudinya, dia sadar, dia duduk di jok belakang. *** Widuri menelungkup di tempat tidurnya sambil menangis. Bekas tamparan ibunya terasa pedih di pipi. Tetapi lebih sakit lagi hatinya. Ibu memang galak. Cerewet. Judes. Tetapi rasanya Ibu tidak pernah menamparnya. Ibu pasti sudah begitu gelisah menunggunya. Widuri belum pernah keluar malam. Apalagi sampai pukul setengah tiga! Biasanya paling-paling dia pergi sampai pukul delapan malam. Itu pun dengan izin khusus. Ada teman yang ulang tahun. Menikah. Pesta perpisahan karena ada yang mau ke luar negeri. Nonton dengan teman-temannya, itu pun pertunjukkan yang sore. Belum pernah Ibu mengizinkan dia keluar sampai pukul sepuluh malam. Tetapi kali ini, Ibu mengizinkan. Mungkin Ibu kasihan kepadanya. Widuri telah membantu ibunya dengan rajin selama dua-tiga hari belakangan ini. Pesanan kue sedang ramai. Mungkin juga karena Ibu sudah mulai percaya kepada Parlin. "Pergi dengan siapa?" Ibu tidak.segera menolak ketika Widuri memohon diizinkan pergi sampai pukul sepuluh malam. Soalnya pestanya baru mulai pukul delapan. Datang pukul tujuh kan tidak lucu. Memangnya pelayan? Mau bikin bersih ruangan. "Parlin, Bu." "Berdua saja?" Nah, ini pertanyaan berbahaya! "Di sana kan banyak teman-teman, Bu." "Naik sepeda?" "Wah, nggak dong! Bisa kusut rambut saya." "Habis naik apa?" "Bajaj. Oplet. Atau taksi. Apa saja." "Yang ulang tahun teman baikmu?" "Baru kenal sih. Tapi anaknya baik. Anak residivis." "Apa itu? Pernah masuk penjara?" cetus Ibu kaget"Oh, bukan!" Widuri tersenyum geli menahan tawa. "Residivis di universitas artinya anak yang mengulang kelas. Tahun lalu ddak naik tingkat." "Kok bodoh? Kelewat sering pesta, kali." "Boleh ya, Bu?" pinta Widuri sungguh-sungguh. "Sekali ini saja. Saya belum pernah pergi lewat dari pukul delapan." Entah kasihan melihat mata Widuri, entah teringat betapa lelahnya Widuri membuat kue akhir-akhir ini, tidak biasa-biasanya Ibu mengabulkan permintaannya! "Ingari Hanya sampai pukul sepuluh! Pukul sepuluh teng kamu sudah harus ada di rumah! Lebih dari itu, tidur di luar saja! Pintu sudah dikunci!" "Oh, Ibu!" Widuri merangkul ibunya dengan gembira. Keharuan menyesak dadanya. "Terima kasih, Bu!" "Widuri!" panggil Ibu sekali lagi ketika Widuri sudah berlari-lari ke kamarnya. Widuri berhenti di depan pintu kamar. Dan berpaling. Ibu  masih berdiri di tempatnya yang tadi. Menatapnya dengan tatapan ganjil. "Hati-hati." Cuma itu. Widuri merasa amat terharu. Ibu memang galak. Cerewet. Judes. Kadang-kadang malah memalukan kalau sedang marah-marah di depan teman-temannya. Tidak peduli siapa yang datang, Ibu selalu begitu. Tetapi hari ini Widuri menyadari betapa sayang Ibu kepadanya! Betapa baik hatinya sebenarnya! Ibu bersikap demikian karena hendak melindunginya. Yang salah hanya karena Ibu terlalu overprotective. Tetapi semua itu justru karena cintanya. Terdorong perasaannya yang meledak-ledak antara gembira dan haru, Widuri kembali lari memeluk ibunya. Diciumnya pipi ibunya dengan manja. Kemudian melayang-layang bagai bidadari kasmaran yang sedang merenda cintanya di atas pelangi, Widuri berlari-lari ke kamarnya. Hampir tidak dapat dipercaya! Dia boleh pergi! Bukan main. Padahal dia sudah hampir putus asa. Rasanya hilang semua penat akibat kerja keras beberapa hari ini! Sebenarnya bukan ulang tahun Dina yang menarik hati Widuri. Bukan pula karena dia boleh pergi dengan Parlin. Pergi dengan pemuda itu sudah terlalu biasa. Sejak tiga tahun yang lalu, ketika mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA, Widuri sudah sering keluar bersama Parlin. Bahkan ke gunung pun sudah pernah! Tidak ada lagi keistimewaan pergi dengan pemuda itu. Dadanya tidak pernah berdebar-debar lagi. Jantungnya tidak pernah lagi berdenyut lebih cepat. Bagi Widuri, Parlin sudah menjadi sahabatnya yang paling dekat. Tetapi cuma sekadar sahabat. Tidak lebih. Rasanya dia tidak pernah mencintai pemuda itu. Dia hanya menyukainya. Karena Parlin baik. Setia. Berani. Dan selalu melindungi. Selalu menolong. Tetapi Dimaz lain. Sejak bertemu dengan pemuda itu, Widuri merasa dunianya jadi lain. Jiwanya lain. Tubuhnya lain. Rasanya dia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Ada apa dengan dirinya? Mengapa jantungnya berdebar lebih cepat kalau matanya beradu pandang dengan mata Dimaz? Mengapa dadanya berdebar-debar bahkan ketika mereka baru saja bertemu, ketika Widuri baru saja melihat dia datang? Mengapa tidak enak sekali rasanya kalau melihat Dimaz mengobrol dengan intim bersama gadis-gadis cantik di kampus mereka? Mengapa begitu sakit hatinya jika melihat Dimaz tertawa-tawa sambil bergurau bebas dengan Rita yang sexy atau Dina yang genit? Mengapa demikian rindu rasanya kalau tidak bertemu dengan pemuda itu sehari saja? Inikah... cinta? Widuri belum pernah merasa seperti ini. Tidak ketika dia masih bersama Anto. Atau Bram. Atau Prawoto. Atau Parlin sekalipun. Mungkinkah... karena dia belum pernah berpisah sehari pun dengan Parlin? Parlin selalu berada di dekatnya. Tiap hari. Tiap hari mereka selalu bertemu. Itukah yang menyebabkan Widuri belum pernah didera perasaan rindu kepadanya? Sebaliknya dengan Dimaz. Sejak Posma berakhir, mereka memang jarang bertemu. Apalagi sejak Widuri menolak ajakan Dimaz untuk pulang bersama-sama. Pemuda itu seakan-akan sengaja menghindar. Padahal Widuri begitu rindu kepadanya. Dan tidak sengaja dia mendengar obrolan Dina dengan teman-temannya di ruang praktikum kimia siang tadi. "Dimaz kauundang?" tanya Rita tanpa malu-malu. "Pasti dong," tersenyum Dina sambil meneteskan beberapa tetes asam asetat ke dalam tabung reaksi. "Kalau tidak masa kamu mau datang!" "Yang betul nih! Nanti kayak dulu. Katanya mau datang, tidak tahunya cuma kembangnya yang muncul!" "Ada tekniknya dong untuk mengundang cowok macam dia!" Widuri melirik Dina dari balik deretan tabung-tabung reaksinya. Tepat pada saat Dina sedang mengerdipkan sebelah matanya sambil tersenyum madu. Dan entah mengapa, melihat senyum itu, ingin rasanya Widuri menyiramkan isi tabung reaksinya ke muka Dina. Supaya dia tidak usah lagi melihat senyum itu! Supaya Dimaz tidak pernah lagi melihat betapa cantiknya dia kalau sedang tersenyum! "Ah, sok tahu kamu, Din!" gerutu Rita, mengkal karena merasa dilangkahi. Masa si Dina yang pinggulnya rata, dadanya kempis seperti boneka tergilas kereta api itu bisa mengalahkannya? Dia saja tidak mampu mengundang Dimaz datang. Sudah empat kali dia bikin pesta, tidak pernah satu kali pun  Dimaz muncul "Mau taruhan?" "Apa?" "Nonton show di HI?" Bagi Rita dan Dina, taruhan semangkuk bakso atau sebungkus rokok cuma permainan anak-anak Taruhan mereka mesti yang harganya paling sedikit mampu untuk membayar cicilan uang kuliah sebulan. "Eh, melamun lagi!" Kuncoro menepuk bahu Widuri dari belakang. Asisten yang satu ini memang agak genit. Tangannya selalu dipakai untuk mencolek bahu mahasiswi yang cantik. "Lihat tuh! Apa yang kamu campur ini? Bisa meledak laboratorium kita nanti!" Sambil berbicara, tangannya ikut bergerak. Sengaja Widuri mengelak supaya ujung jari i Kuncoro tidak menyentuh bahunya lagi. Dia jijik melihat ujung jari yang sudah kekuning-kuningan dimakan asap rokok itu. Lagi pula enak saja memegang-megang orang! Apa haknya? Mentang-mentang asisten. Sembarangan saja. Dan Widuri sudah hampir melupakan pesta Dina itu ketika Parlin tiba-tiba mengajaknya datang ke sana. "Kita diundang juga," kata Parlin sambil mengayuh sepedanya. "Nggak enak kalau tidak datang." "Malam, ah. Aku nggak bakalan dikasih sama Ibu." Percuma datang ke pesta kalau baru setengah jam sudah mesti bergegas-gegas pulang. Sudah beberapa kali Widuri datang ke pesta teman-temannya. Tetapi dia tidak pernah bertemu dengan Dimaz... barangkali dia baru datang kalau Widuri sudah pulang... jadi buat apa dia datang? Tetapi Parlin memaksanya terus. Dan Widuri terpaksa minta izin kepada ibunya. Ibu sudah begitu baik memberi kelonggaran sampai pukul sepuluh malam. Widuri-lah yang telah menodai kepercayaan Ibu! Dia telah membuat Ibu begitu kuatir. Tidak bisa tidur sekejap pun. Padahal siangnya Ibu telah begitu letih. Malam harus bergadang pula menunggu pintu. Kasihan Ibu! Dia pasti bingung. Cemas. Tidak tahu mesti mengadu kepada siapa. Ayah sudah lama pergi. Adik-adiknya masih kecil. Kepada siapa harus dibaginya kerisauannya? Widuri sudah lama memaafkan tamparan ibunya di pipinya tadi. Sudah lama melupakan pelototan matanya. Bentakan-bentakannya. Ibu memang seperti itu. Kalau satu hari saja tidak membelalak, barangkali matanya sakit. Tetapi Widuri belum dapat memaafkan dirinya sendiri. Dia telah membuat Ibu gelisah. Cemas. Panik. Tidak tidur se-malam-malaman. Ayam sudah berkokok tiga kali ketika Widuri sampai di depan pintu kamar ibunya. Di sana, sekali lagi dia berperang dengan perasaannya sendiri. Masuk. Tidak. Masuk. Tidak. Tidurkah Ibu? Akhirnya didorongnya perlahan-lahan pintu itu. Ibu memang tidak pernah mengunci pintu kamarnya. Widuri tahu betul itu. Buat apa dikunci? Ayah tidak ada. Adik-adik selalu bolak-balik ke sana. Apalagi si bungsu Wiwin. Tiap kali halilintar menggelegar, dia pasti lari ke kamar Ibu. Tidak peduli pukul berapa. Dan Ibu selalu membiarkan pintu kamarnya tidak terkunci, seakan-akan Ibu selalu memberi kesempatan kepada anak-anaknya untuk berlindung,, kapan pun mereka membutuhkannya. Sejenak Widuri tertegun di ambang pintu. Kamar Ibu gelap. Tetapi tidak gulita. Ada lampu kecil di sudut sana yang memberi penerangan samar-samar ke seluruh kamar. Widuri dapat melihat ibunya tidur telentang. Mukanya menghadap ke arah pintu. Tapi Widuri tidak dapat melihat matanya. Terlalu gelap. Sekilas keraguan kembali melintas di hatinya. Akan dibangunkannyakah ibunya? Siapa tahu Ibu baru saja tidur. Ibu amat lelah. Kasihan kalau dibangunkan. Sebentar lagi toh Ibu sudah harus bangun membuat kue. TapL... "Ada apa?" tegur Ibu tanpa bergerak. Entah sudah berapa lama Ibu memerhatikan Widuri tegak di sana. Jadi Ibu juga belum tidur! Tak tertahankan lagi Widuri lari menghambur memeluk ibunya. Sekejap dirasanya tubuh Ibu membeku dalam pelukannya. "Bu, maafkan saya!" tangis Widuri lirih. Air matanya meleleh membasahi muka ibunya. Tetapi ketika perlahan-lahan Ibu membalas merangkulnya, Widuri tahu, yang membasahi pipi ibunya bukan cuma air matanya. Ibu sendiri sudah menangis. *** Sengaja Widuri berpanas-panas menunggu di depan pintu, tidak di dekat tukang bakso bersama teman* temannya seperti biasa. Mobil Dimaz diparkir tidak jauh dari pintu. Dan sebentar lagi, dia pasti keluar. Widuri tahu sekali hari ini tidak ada praktikum. Selesai kuliah, Dimaz  pasti pulang. Dia ingin minta maaf untuk kejadian tadi malam. "Nunggu siapa, Wid?" Dua-tiga mahasiswa yang kebetulan lewat menyapanya. "Ah, kayak nggak tahu aja," nyeletuk yang lain. "Nunggu yang punya sepeda, tahu nggak?!" "Ikut saya saja, Wid," menimpali pemuda yang datang belakangan. "Di rumah saya banyak sepeda!" Tdih, ngajakin pulang, sih begitu," gurau satu-satunya mahasiwi yang berjalan bersama mereka. "Widuri juga tahu bapakmu tukang loak sepeda di Pasar Rumput! Tidak usah diperkenalkan lagi!" Widuri cuma tersenyum membalas gurauan mereka. Membuat pemuda-pemuda itu tambah gemas. "Pulang yuk, Wid. Nanti saya antar sampai ke rumah deh. Apa perlu surat jalan?" "Mendingan ikut aku, Wid," sela yang lain. "Mobilku bukan mobil dinas. Bensinnya tidak dibayar oleh uang rakyat!" "Ala, rayuan gombal!" Teman-temannya tertawa geli. "Merayu cewek sih kayak kampanye!" Widuri ikut tertawa, sekadar untuk menyenangkan hati mereka. Padahal dadanya sudah berdebar-debar. Dimaz sudah muncul dari balik klinik mahasiswa di kelokan sana. Sebentar lagi dia akan melewati aula. Dan tiba di pintu depan. Dia akan melihat Widuri dikerumuni sekelompok pemuda yang sedang tertawa-tawa. Dimaz pasti kesal. Dia akan cepat-cepat lewat. Memberi salam sekadarnya. Lalu buru-buru naik ke mobilnya. m&amp;&lt;t Widuri jadi gelisah. Dia mesti meloloskan diri dari mereka sekarang. Kalau ddak, Dimaz akan keburu melihatnya. "Duluan, ya," kata Widuri tanpa melepas senyumnya. Semua mata serentak menoleh ke pintu gerbang. Mencari sebuah sepeda. Tapi yang muncul cuma bau semerbak dari selokan di depan kampus yang selalu mampet karena merangkap tugas sebagai tempat sampah. "Ke mana, Wid?" teriak mereka penasaran. "Ada deh," sahurnya tanpa memberi kesempatan kepada mereka untuk bertanya lagi. Sengaja Widuri menyelinap ke balik deretan gerobak tukang bakso dan tukang es serut yang mangkal di depan. Ketika mereka sudah naik ke mobil masing-masing, dia baru keluar. Bergegas menghampiri Dimaz yang sedang membuka pintu mobilnya. Sekejap Widuri merasa bingung. Gugup. Dia sudah tegak tepat di belakang Dimaz. Tetapi tidak berani menyapa. Pintu sudah terbuka. Sebentar lagi Dimaz akan masuk. Sialan, mengapa dia tidak menoleh juga? Tidak merasakah dia ada orang di belakangnya? Masa dia tidak mendengar gemuruh gempa yang sedang me-morakporandakan hati Widuri? Atau... dia pura-pura? "Dimaz..." Rasanya Widuri belum habis mengucapkan nama itu, Dimaz sudah berbalik begitu cepatnya sampai Widuri jadi terkejut sendiri. Tidak sadar dia mundur selangkah. Sekilas mereka saling tatap. Dan sekilas Widuri lupa mau omong apa. Dia malah hampir lupa menarik napas. "Aku minta maaf...." "Buat apa?" "Kekasaran ibuku tadi malam...." Sekarang Dimaz tidak menjawab. Sebagai gantinya» dia tetsenyum. Dan Widuri harus mengakui, itu senyum terbaik yang pernah dilihatnya. Dia benci dirinya sendiri. Dia benci karena begitu mengagumi senyum Dimaz. Kekaguman yang membuat otak dan lidahnya seakan bertukar tempat. Dua-duanya tidak mau diajak kompromi. Dua-duanya tidak dapat dipergunakan. Padahal dalam saat-saat seperti ini, Widuri sangat membutuhkannya! Dia membutuhkannya supaya tidak terlihat norak di depan Dimaz! &amp;*^t "Minta maaf sih boleh saja." Sekarang bukan hanya bibirnya yang tersenyum. Kedua bola matanya yang berbinar-binar itu pun seakan-akan tenggelam dalam lautan senyum. "Tapi mesti ada penyilihnya dong." "Apa?" "Naiklah ke mobilku." "Kau mau membawaku kepada ibumu?" "Kau bawa uang?" "Uang?" Widuri membiarkan Dimaz membukakan pintu untuknya. "Untuk menyogok ibumu?" Tahu berapa tarif ibuku sekali bertemu muka?" "Ibumu dokter?* "Dokter hewan." Mereka sama-sama tertawa. Dimaz menyilakan Widuri masuk. Dan menutupkan pintu mobilnya kembali. Dia sendiri masuk dari pintu yang lain. "Mau apa kaubawa aku menghadap ibumu? Supaya dibantai juga?" "Siapa bilang aku mau membawamu ke tempat Ibu?" Dimaz menghidupkan mesin mobilnya. "Kau-kira kau punya modal apa? Ibuku angker." "Lalu ke mana kau mau bawa aku?" "Tentu saja ke rumahmu. Ke mana lagi?" "Itu sah bukan hukuman!" "Ada satu hukuman lagi." "Apa?" "Mint a izin pada ibumu untuk menemaniku makan nanti malam. Berani?" "Kau masih berani menghadap ibuku?" "Ibumu suka menggigit?'' 'Tidak kalau kau bukan ayam. Tapi Ibu lebih galak dari macan." "Kebetulan ayahku bekas pawang. Aku tahu bagaimana caranya menjinakkan macan." Tepat ketika mobil mereka meluncur ke jalan raya, Parlin tiba dengan sepedanya. Dia melihat Widuri di dalam mobil Dimaz. Keduanya sedang tertawa cerah. Belum pernah Parlin melihat paras Widuri demikian berseri-seri. Dan klakson bajaj di belakangnya menyadarkan Parlin, dia mesti menepi. "Minggir lu!" teriak pengemudi bajaj itu jengkel. "Berhenti sih di tengah jalan! Babe lu punya apa?" Dalam keadaan biasa, Parlin pasti sudah balas memaki. Tetapi dalam keadaan seperti ini, dia tidak punya semangat lagi untuk menanggapi. Dia masih duduk di atas sadel sepedanya. Sebelah kakinya ditopangkan pada bangku tukang rokok di pinggir jalan. Matanya masih mengikuti mobil Dimaz yang telah meluncur jauh di sela-sela lalu-lintas yang ramai. Dan mukanya berubah dingin. Amat dingin. *** Semua pekerjaan Widuri hari ini tidak ada yang beres. Kue-kue hangus. Tempat gula terbalik sampai gulanya berceceran ke lantai mengundang semut. Loyang-loyang berjatuhan seperti ada gempa. Pendeknya semua berantakan. Sampai Ibu kewalahan menanganinya. "Sudah! Sudah!" keluh Ibu kesal. "Sana pergi mandi saja! Biar Ibu kerjakan sendiri!" "Ah, baru pukul empat kok, Bu," sahut Widuri sambil melirik ke jam dinding sekali lagi. Padahal dia sudah hafal sekali ada di mana jarum jam itu sekarang. Setiap dua puluh detik dia menoleh ke sana. Alangkah lamanya jarum itu bergerak! Dimaz akan menjemputnya pukul enam. Dan Ibu, entah malaikat mana yang sedang merasukinya, Ibu mengizinkan dia pergi. Asal pulangnya tidak lebih dari pukul delapan! Dan Widuri sudah berjanji hampir di setiap desah napasnya, kali ini dia tidak mau mengkhianati janjinya lagi. Dia tidak boleh menodai janjinya kepada Ibu! "Sudahlah pergi dandan sana!" gerutu Ibu. Tapi meskipun begitu judes suaranya, di telinga Widuri hari ini suara Ibu lebih merdu daripada suara Skeeter Davis. "Nanti kue Ibu gosong semua!" #** Widuri sedang mengeringkan rambutnya ketika bel pintu tiba-tiba berdering. Dia melonjak kaget. Hampir mengijak kaki Ibu yang sedang mengaduk telur. Baru setengah enam, pikir Widuri bingung. Masa sih dia sudah datang? "Rasain!" Adiknya yang sedang membantu Ibu mengocok telur tersenyum mengejek. "Udah deh, bakar aja rambutmu biar cepat kering!" "Dei DeF Widuri berlari keluar memanggil adiknya yang satu lagi. "Bukakan pintu dulu dong! Suruh tamunya masuk, ya!" "Masuk ke mana? Ke kamarmu atau ke dapur?" Ade yang sedang asyik memperbaiki radio, sebenarnya bukan memperbaiki, cuma mengotak-atik. Hobinya memang bongkar pasang. Meskipun hasilnya lebih banyak yang dibongkar daripada dipasang. "Jangan konyol!" teriak Widuri dari depan kamarnya. "Suruh tunggu di kamar depan. Suruh Menuk bikin minuman, ya." "Oke, Bos!" Ade balas berteriak. "Atur deh terus! Seenaknya saja nyuruh-nyuruh orang! Siapa sih yang datang? Presiden Amerika Serikat?" Tetapi sambil menggerutu dia berjalan juga ke pintu depan. Bergegas Widuri menyisir rambutnya. Mengikatnya baik-baik. Menyapukan make-up tipis-tipis di wajahnya. Dan mengenakan gaunnya yang paling bagus. Lima menit sebelum pukul enam Widuri baru siap. Dia keluar dari dalam kamarnya dan melangkah anggun ke ruang depan seperti seorang peragawati melangkah di atas catwalk. Dia sudah berputar lebih dari sepuluh kali di depan kaca, sehingga kalau cermin itu bisa berbunyi, dia pasti sudah marah sejak tadi. Sambil melangkah dengan dada berdebar-debar, Widuri membayangkan betapa cantiknya bayangan yang dilihatnya di depan kaca. Secantik itu pulalah gadis yang akan muncul di depan Dimaz... dan Widuri tertegun kaku di depan pintu. Yang sedang duduk menunggu di ruang tamu bukan Dimaz. Tidak ada Dimaz. Tidak ada lelaki yang diharapkannya akan memuji kecantikannya. Barangkali bukan dengan suaranya. Bukan dengan kata-kata. Tetapi dengan matanya yang tajam menembus sampai ke ulu hati itu. Yang membuat setiap kali memandang k e dalam matanya, Widuri merasa dirinya sedang terperosok ke dalam sumur yang amat dalam.... "Parlin...," desah Widuri sambil menahan napas. Tidak ada tatapan yang memuja. Tidak ada gumam yang memuji. Parlin menatapnya dengan heran. "Mau pergi?" "Ya." Widuri mengembuskan kata itu bersama napasnya. Dia duduk di depan Parlin. Dan membalas tatapannya dengan dingin. "Maafkan peristiwa tadi malam, Wid." kata Parlin seakan membaca kebekuan di mata Widuri. "Kau marah?" "Kau tidak marah kalau dibawa ke pesta lalu ditinggal mabuk begitu saja?" "Maafkan aku. Aku minum terlalu banyak. Kau pulang sendiri?" "Pada pukul dua malam? Aku pasti tidak sampai ke rumah!" "Lantas siapa yang mengantarmu?" Widuri belum sempat menjawab. Ade sudah masuk kembali bersama seorang pemuda. "Pasien lagi, Mbak," katanya separo bergurau. "Sore rumah ini kayak praktek dokter saja. Tamu pergi dan datang bei^dliran." Parlin menoleh. Ketika dia melihat siapa yang datang, dia sudah tahu apa jawaban pertanyaannya tadi. "Jadi kau yang mengantarkan Widuri pulang tadi malam." Parlin menyeringai dingin. "Keberatan?" Dimaz membalas sama dinginnya. Itu namanya mencari kesempatan dalam kesempitan." "Maaf, Parlin," cetus Widuri segera ketika dilihatnya Parlin sudah berdiri dari tempat duduknya. Mencium gelagat tidak baik begini, lebih baik Widuri cepat-cepat menyingkirkan Dimaz. "Kami sudah mau pergi." &amp; "Wah, gerak cepat rupanya, ya?" geram Parlin sambil menatap Widuri dengan tajam. "Tidak perlu izinmu, kan?" sela Dimaz pedas. Parlin menoleh. Dan mengawasi Dimaz dengan mata menyipit. Rahangnya sudah terkatup rapat. Widuri sudah membaca tantangan di mata Parlin. Dia melihat kilat keluar dari mata yang bersorot ganas itu. Keduanya sudah saling berhadapan. Sama tingginya. Sama tegapnya. Sama beringasnya. Saling tatap dengan bengis, seakan-akan dua ekor harimau yang bersiap untuk saling terkam. "Aku pergi dulu, Parlin." Cepat-cepat Widuri meraih tangan Dimaz dan menariknya pergi. "Sampai besok!" mk^! Di pintu Dimaz masih menoleh sekali lagi. Sekilas mereka saling pandang dengan tajam. Tetapi Widuri sudah menyeretnya ke luar. *** "Punya hak apa dia atas dirimu?" geram Dimaz sambil mengemudikan mobilnya. "Pacar bukan, saudara bukan! Sok jago!" "Parlin temanku yang paling baik." "Tapi dia tidak berhak menguasaimu!" "Dia cuma ingin melindungiku." "Dia menganggap dirinya pacarmu!" "Ah, kami cuma berteman." "Aku tidak suka melihat caranya mernperlakukan-mu." "Dia juga tidak menyukaimu," keluh Widuri sabar. J07 Tapi aku menyukai kalian berdua. Jadi sudahlah, jangan ribut.'' "Kalau kau masih ingin melihatku datang, aku tidak mau melihat dia lagi. Aku juga tidak mau ada lelaki kin datang ke rumahmu." Widuri menoleh dengan terkejut. Tapi heran, tidak ada rasa jengkel mewarnai tatapannya. "Kok datang-datang sudah mau main monopoli?" "Aku cemburu," sahut Dimaz tesendat. Dia menoleh. Dan matanya berpapasan dengan mata Widuri yang sedang tersenyum. "Parlin sudah menjadi temanku sejak S MA. Kau baru kemarin. Kau sudah berani mengusir dia?" "Jangankan cuma dia. Sepuluh lagi yang seperti itu aku tidak takut!" "Sudah, jangan marah-marah. Kita mau pergi makan, kan? Nah, nanti perutmu sudah penuh angin." Dimaz menoleh sekilas. Widuri juga berpaling. Sekejap mereka beradu pandang. "Jangan nengok-nengok ah," desah Widuri sambil bum-bum membuang tatapannya kembali ke depan. "Nanti nabrak." Padahal dia cuma kebingungan bagaimana menyembunyikan kegugupannya kalau mata yang tajam itu menikam tepat di tengah-tengah biji matanya. "Kenapa kauikat rambutmu?" "Hhh?" Widuri menoleh lagi dengan terkejut. "Rambutmu." "Kenapa rambutku?" "Aku ingin melihatnya tergerai bebas seperti tadi malam" "Ah...." Darah menyembur ke muka Widuri. Membiaskan warna merah sampai ke telinga. "Please...!' Dimaz menoleh sekilas. Dalam tatapannya yang cuma selintas itu Widuri menangkap pijar-pijar permohonan berloncatan di sana. "Biarkan rambutmu terurai...." "Bajuku tidak cocok." "Biar." "Aku tidak bawa sisir." "Biar." "Nanti berantakan." "Biar. Cuma aku yang lihat kok." Widuri menghela napas. Hati-hati diangkatnya lengan nya. Dilepaskannya rambutnya. Digerai-geraikan-nya rambut itu ke bahunya. "Puas?" Dia menoleh malu. Dimaz menatapnya. Dan melihat cara laki-laki itu memandangnya, rasanya Widuri tidak ingin lagi mengikat rambutnya. Malam itu mereka makan di sebuah rumah makan di bilangan Jalan Thamrin. Rumah makannya sendiri tidak besar. Tetapi suasananya hangat. Sebatang lilin yang sengaja dinyalakan di meja mereka membuat suasana tambah romantis. Nyala api lilin itu seakan-akan berpendar-pendar membagi kehangatannya ke hati dua insan yang duduk berhadapan, memadu senyum dan tatapan. Musik yang lembut mengalun merdu, lapat-lapat membelai setitik benih yang sudah mulai bertunas di sudut hati. "Suka?" tanya Dimaz sambil menatap piring Widuri yang sudah separo kosong. "Enak," tersenyum Widuri. "Aku belum pernah makan makanan seperti ini. "Mestinya minumnya anggur." "jangan. Aku janji pulang pukul delapan. Tidak mau membohongi Ibu lagi." Mereka sama-sama tertawa perlahan mengingat kejadian tadi malam. Tidak cocok kalau minum soft drink." "Di mana kau belajar minum anggur?" "Waktu di Jerman dulu." "Kau pernah ke sana?" "Enam tahun yang lalu. Ayahku" pernah jadi staf kedubes kita di sana." "Wah, anak diplomat kau rupanya. Kenapa tidak studi di sana saja?" "Kan kepingin melihatmu. Tuhan bilang, jodohku ada di sini. Jadi aku cepat-cepat pulang." "Bilang saja kau tidak laku di sana!" "Siapa bilang? Aku hampir saja kawin dengan gadis bermata biru." "Ah, dia pasti sakit mata." "Nanti kalau kita sudah kawin, kuajak kau ke sana. Sekalian berbulan madu." "Menemui gadismu?" "Sekalian mencicipi makanan seperti ini di Moven Pick." "Jauh-jauh cuma buat makan?" "Namanya juga bulan madu. Siang-malam ya makan terus." "Idih!!" Widuri tersenyum malu. "Siapa pikirmu yang mau bulan madu?" "Kau tidak mau bulan madu ke Jerman? Lebih suka naik gondola di Venesia?" "Ngaco! Siapa yang bicara soal kawin?" "Kau tidak mau kawin?" "Tidak kalau belum jadi dokter." "Apa hubungannya kawin dengan dokter? Banyak yang bukan dokter bisa kawin." "Semua perempuan bisa kawin. Tapi tidak semua perempuan bisa jadi dokter." "Tapi tidak semua dokter bisa kawin!" "Pokoknya aku mau jadi dokter dulu." "Buat apa? Setahun sebelum kau lulus, kau sudah bisa jadi istri dokter." "Kalau cuma buat jadi nyonya dokter, sekarang juga aku bisa. Buat apa tunggu sampai setahun sebelum aku lulus." "Karena sekarang Dokter Dimaz belum lulus!" Mereka sama-sama tersenyum. Dimaz memang pandai berkelakar. Pandai membuat suasana menjadi enak. Widuri demikian mengaguminya. Dimaz mengantarkannya pulang tepat pada pukul delapan malam. Karena sebelum jarum arlojinya tepat menunjukkan pukul delapan, dia membawa Widuri berputar-putar dulu dengan mobilnya. "Kita mesti belajar menghargai waktu," katanya serius seperti sedang mengajar di depan kelas. "Kalau sampai pukul delapan waktu yang diberikan, mengapa kita harus membuang-buang waktu?" Dimaz tidak sekadar mengantarkan Widuri sampai di depan pintu. Dia masuk ke dalam. Mengobrol sedikit dengan adik-adik Widuri. Memberi salam kepada ibunya, walaupun ibu Widuri lebih tertarik kepada sate ayam yang mereka bawa pulang. Tidak heran kalau dalam waktu singkat, Dimaz telah berhasil menaklukkan had adik-adik Widuri dan menjinakkan ibunya. Dia sopan. Tahu aturan. Tidak pernah melanggar janji. Dan selalu membawa oleh-oleh. Adik-adik Widuri yang masih kecil-kecil sudah cukup berpihak kepada Dimaz jika mereka dibawakan makanan saja. Tetapi Ade dan Menuk yang sudah remaja periu pendekatan cara lain. Ade boleh pinjam mobil kalau sekali-sekali dia ingin pergi membawa pacarnya. Menuk dibelikan buku-buku novel dan majalah-majalah remaja yang sangat digemari gadis-gadis seumurnya. Ibu lebih sulit sedikit pendekatannya. Tidak cukup cuma dibawakan makanan saja. Kue-kue bikinan tangannya mesti dipuji-puji setinggi langit. Dan bukan cuma pujian kosong karena boleh makan kue gratis setiap kali datang. Dimaz membelinya juga untuk dibawa pulang. Dia malah memesan beberapa loyang kue Lapis Surabaya. Katanya ibunya suka sekali kue bikinan ibu Widuri. Dan setiap kali berangkat selalu berpesan  supaya jangan lupa kalau pulang membawa kue. Padahal di rumahnya kue Lapis Surabaya bertumpuk-tumpuk tidak termakan. Dan ibu Dimaz sudah kewalahan menyimpannya, sampai dibagi-bagikan kepada te-tangga karena pembantu mereka saja sampai muntah-muntah, bosan seharian makan kue terus. «Demi Allah, Dimaz, jangan bawa kue lagi!" geram bunya sesaat sebelum Dimaz pergi ke rumah Widuri 'ore itu. "Apa kau mau menikah sama tukang kue?" BAB VI "Kenapa kau sekarang tidak mau menungguku pulang?" Parlin masih duduk di atas sadel sepedanya. Kakinya yang kiri menopang pada pagar batu pendek di depan beranda rumah Widuri. "Kau selalu terlambat," sahut Widuri sambil menyirami bunga di halaman. "Aku bosan menunggu." "Bukan karena kau bosan naik sepeda? Karena ada yang punya mobil? "Bagiku yang penting orangnya, bukan kendaraannya," sahut Widuri acuh tak acuh. "Kalau kau belum malu naik sepeda, kenapa sekarang selalu menolak pergi bersamaku?'' "Sudah kukatakan, aku tidak mau pergi lagi bersamamu." &gt; Tapi kenapa? Memangnya kau mau jadi biarawati? Kenapa tidak mau pergi lagi bersamaku?" "Kan aku sudah bilang, Dimaz cemburu padamu" Widuri sudah selesai menyiram. Dia menjinjing alat penyiram bunga yang terbuat dari kaleng. Hendak masuk ke dalam rumah. Sudah sore. Sebentar lagi Dimaz datang menjemput. Kalau dia datang nanti, Widuri harus sudah rapi. Tetapi Parlin malah memalangkan kakinya. Menghalangi Widuri masuk. "Kau takut sama Dimaz?" desisnya separo mengejek. "Takut nggak diantar naik mobil lagi?" "Aku memang takut," sahut Widuri tanpa malu-malu. "Takut kehilangan dia." "Itu sebabnya kau tak mau pergi lagi bersamaku?" "Aku ingin tetap bersahabat denganmu, Parlin," kata Widuri sesabar mungkin. "Tapi jangan mengharapkan lebih dari itu." "Bodoh kau, Wid!" "Katakanlah apa saja," sahut Widuri tenang. "Cinta memang bodoh." "Jadi kau betul-betul jatuh cintrong sama si Dimaz?" Sekali lagi Parlin tertawa dibuat-buat. "Diobati kali kau, ya!" "Sekarang minggirlah!" bentak Widuri dingin. "Aku mau lewat." "Jangan bodoh, Sayang! Dia tidak sungguh-sungguh mencintaimu!" "Aku tidak minta pendapatmu." "Dimaz itu temannya si Rizal. Dia merayumu untuk membalaskan dendam Rizal. Begitu kau jatuh cinta padanya, dia akan pergi meninggalkanmul" Tentu saja Widuri tidak percaya. Dimaz memang teman Rizal. Waktu Posma dulu, Widuri percaya kalau Dimaz mau membantu Rizal membalas dendam. Tetapi sekarang soalnya sudah lain. Widuri bukan baru sekali ini menghadapi laki-laki. Dia tahu sekali bagaimana lelaki yang sedang jatuh cinta. Mereka mungkin berbohong dengan kata-katanya. Tapi tak mungkin dengan matanya. Kalau Dimaz tidak mencintainya, bagaimana dia dapat mengatur tatapannya yang bersorot penuh cinta itu? Dimaz memang bukan seperti pemuda lain, yang mengobral cinta dengan kata-kata. Selama ini, dia malah belum pernah menyatakan cintanya. Tetapi dari caranya menatap, dari. sikapnya, dari perilakunya memanjakan Widuri, dia sudah menyatakan cinta dengan caranya sendiri. Seperti malam ini. Ketika Dimaz mengantarkannya pulang nonton. Mereka berpisah di depan rumah Widuri. Tapi, aduhai susahnya berpisah semalam saja! Sudah hampir lima menit mereka saling pandang. Sambil berpegangan tangan di serambi yang remang-remang gelap itu. Tapi belum ada tanda-tanda Dimaz hendak melepaskan tangan Widuri dari genggamannya. Sebaliknya Widuri pun tidak berusaha menarik tangannya Dia hanya menatap Dimaz dengan pasrah. Dan melihat gadis yang sedang separo menengadah memandangnya itu, melihat tatapannya yang lembut, melihat bibirnya yang separo terbuka, basah menantang itu. Dimaz sudah tidak tahan lagi ingin mengecupnya. Dia tahu, Widuri sendiri mengharapkan ciuman itu. Kalau tidak, dia tidak akan bersikap menanti seperti ini. Dimaz tidak akan membiarkan gadisnya menanti lebih lama lagi. Diraihnya bahu Widuri dengan lembut. Ditundukkannya kepalanya lebih dekat ke wajah gadis itu. Lalu diciumnya bibirnya dengan mesra. Tetapi belum sempat mereka menikmati keindahan ciuman itu, mereka sama-sama tersentak dan sama-sama saling melepaskan diri dengan terkejut. Ada tepukan tangan di balik tubu h Dimaz. Dan ketika dia memutar tubuhnya dengan cepat, langsung saja parasnya memucat. Di hadapannya tegak Parlin dengan dua temannya. Entah sudah berapa lama mereka tegak di sana. Tetapi bukan itu yang paling mengejutkan Dimaz. Rizal juga ada di antara mereka. Dan melihat tatapannya, Dimaz segera membatalkan niatnya untuk menjotos Parlin. "Nah, sekarang percaya tidak, Zal?" cetus Parlin sambil tertawa mengejek. "Agenmu ini sudah berkhianat. Bukan membalas dendam seperti yang dijanjikannya padamu, malah dia yang main sendiri dengan gadismu!" Melihat betapa pucatnya paras Rizal, Dimaz tidak jadi meninju Parlin. Perhitungannya dengan pemuda itu bisa ditunda sampai lain kali. Tapi pertanggungjawabannya di depan Rizal tidak dapat ditunda lagi. Dimaz langsung maju menghampiri Rizal. "Zal, dengar dulu," katanya dengan perasaan bersalah. "Kujelaskan padamu." Tetapi langkah Dimaz segera terhenti ketika tiba-tiba saja Rizal mengayunkan sebilah benda berkilat ke perutnya. Refleks tanpa berpikir lagi, Dimaz mengelakkan tikaman pisau itu. "Zal!" teriaknya kaget. "Kau gila!" Tapi Rizal rupanya betul-betul sudah gila, bukannya berhenti, dia malah menyerang terus. Dan meskipun dia ddak pandai berkelahi, serangan-serangannya yang membabi buta itu cukup merepotkan Dimaz. Apalagi ketika Parlin dan teman-temannya ikut mengeroyok dirinya. Widuri menutup mukanya dengan kedua belah tangannya. Entah sudah berapa kali dia menjerit. Ngeri melihat rikaman-ukaman Rizal ke tubuh Dimaz. Dan sakit hati mendengar pengakuan pemuda itu. Dimaz tidak membantah tuduhan Parlin. Dia malah ingin menjelaskan sesuatu kepada Rizal. Penjelasan apa? Kenapa Dimaz begitu takut pada Rizal? Kenapa Rizal demikian marahnya? Seorang laki-laki pengecut seperti Rizal tidak akan menyerang, apalagi dengan pisau, kalau tidak merasa sangat disakiti. Dan menghadapi Rizal, Dimaz tadi tidak berkelahi dengan sungguh-sungguh. Dia cuma mengelakkan serangan. Tidak membalas sama sekali. Kenapa Dimaz demikian merasa bersalah kepada Rizal? Hanya ada satu alasan. Semua yang dikatakan Parlin itu benar. Jadi Dimaz tidak mencintainya! Dia cuma ingin mempermainkan dirinya untuk membalaskan dendam Rizal! Widuri merasa hatinya sakit sekali. Dia merasa benci pada Dimaz. Pada Rizal. Pada Parlin. Pada mereka semua! Tapi ketika Parlin mengayunkan pisaunya ke dada Dimaz yang sudah tidak berdaya diringkus oleh kedua temannya, tak tahan lagi Widuri memekik sekuat-kuatnya. Ngeri membayangkan bagaimana ujung pisau yang tajam berkilat-kilat itu merobek dan menembusi dada laki-laki yang dicintainya! Tetapi pada saat-saat terakhir, terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka. Rizal menangkis tikaman pisau Parlin dengan lengannya sendiri. Dan ketika tangkisan-nya meleset, Pisau Parlin malah menikam lambung Rizal sendiri! Widuri menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya. Mencoba menahan jerit kengerian terlepas dari celah-celah bibirnya ketika melihat Rizal jatuh berlutut sambil menebah perutnya. Darah yang memerah mengalir dari celah-celah jarinya. Mukanya mengerut kesakitan. Tetapi dia tidak mengaduh sedikit pun. Melihat keadaan Rizal, perkelahian itu langsung berhenti dengan sendirinya. Dengan panik Parlin membuang pisaunya yang berlumuran darah. Sambil memekik dia memburu tubuh Rizal yang terkulai ke tanah. Kedua orang temannya langsung kabur. Meninggalkan Dimaz yang terhuyung-huyung hampir jatuh. "Za L. Zal....!" Parlin menghambur ke tubuh Rizal dan meng-guncang-guncangnya. Tetapi darah yang keluar malah bertambah banyak. Dan wajah Rizal yang pucat pasi mengerut menahan sakit. "Maafkan aku, Zal!" desah Parlin panik. "Aku tidak sengaja!" Rizal tidak menyahut. Hanya kepalanya yang terkulai ke lengan Parlin. "Angkat dia ke mobilku." Dimaz-lah orang pertama yang berhasil mengatasi diri mereka dari shock akibat kejadian yang tidak disangka-sangka itu. Widuri masih tertegun di tempatnya. Menutupi mulutnya dengan kedua belah tangannya. Matanya mengawasi Rizal dengan penuh kengerian. Sementara Parlin masih dengan sia-sia mencoba memanggil-manggil nama Rizal. Dia bertambah cemas ketika mata Rizal terpejam ra pat. Dan tubuhnya tidak bergerak-gerak lagi. Terseok-seok Dimaz memaksa dirinya menghampiri mereka. Sebenarnya dia sendiri hampir tidak kuat lagi. Dia juga panik. Bingung. Takut. Dan pusing. Bekas-bekas pukulan mereka membuat kepalanya terasa berdenyut-denyut. Mukanya berlumuran darah. Seluruh tubuhnya sakit dan nyeri. Tetapi melihat ke-adaan Rizal, dia insaf, pemuda itu perlu pertolongan segera. Maka ditindasnya rasa peningnya. Ditindasnya kengerian melihat darah yang begitu banyak mengucur dari lambung Rizal. Ditindasnya kepanikannya sendiri. Ketika melewati tempat Widuri, tidak sengaja mereka beradu pandang. Sekejap Dimaz merasa ragu. Tidak sadar kakinya dengan sendirinya berhenti melangkah. Dia bimbang. Hendak menegur. Tetapi tidak tahu harus mengatakan apa. Sekilas Dimaz melihat mata Widuri bersorot iba. Ibakah dia melihat wajah Dimaz babak-belur begitu? Atau... itu cuma ilusinya sendiri? Karena di detik lain, mata yang indah itu, mata yang selalu bening dan sejuk, mata yang selalu tersenyum, mata yang selalu bersorot mengundang, berubah menjadi sebuah gunung es yang amat dingin. Dan Dimaz tidak mungkin lagi melupakan, betapa sakitnya cara Widuri menatapnya saat itu. Tanpa memberi kesempatan lagi kepada Dimaz untuk membuka mulutnya, Widuri membalikkan tubuhnya dan berlari masuk ke dalam rumah. Hanya suara Parlin yang putus asa yang masih dapat menyadarkan Dimaz. Dia insaf, kalau dia tidak membawa Rizal ke rumah sakit sekarang juga, mungkin mereka sudah terlambat untuk menyelamatkan jiwa pemuda itu. *** "Berkelahi, ya?" sambut perawat jaga itu ketika melihat dua orang pemuda menggotong temannya dengan susah payah. Dia melirik ke pintu dengan jengkel. Seperti biasa, kalau ada orang berkelahi, yang mengantarkan pasti segudang. Mereka berjejal-jejal di pintu untuk sekadar menonton. "Mabuk?" Tidak ada yang menjawab. Dimaz merasa keningnya makin berdenyut-denyut. Pandangannya mulai kabur. Diselaputi oleh darah yang mulai mengering di mata kirinya. Jangankan menjawab. Melangkah saja sudah sulit. Terseok-seok Dimaz mengangkat tubuh Rizal memasuki unit gawat darurat di rumah sakit itu. Sementara Parlin masih shock melihat hasil perbuatan tangannya sendiri. Bag* seorang tukang berkelahi seperti itu darah bukan sesuatu yang mengerikan. Cuma lebih merah sedikit dari kecap. Tapi darah sebanyak itu belum pernah dilihatnya.' Dan semua itu... hasil buatan tangannya sendiri! Rasanya Dimaz hampir tidak kuat lagi mengangkat kaki Rizal. Tetapi perawat gemuk yang judes itu ddak mau membantu sedikit pun! Dia cuma memerintah saja. Mentang-mentang perempuan. "Taruh sini," katanya sambil menunjuk ke sebuah brankar. "Biar gampang kalau perlu didorong ke kamar operasi" Kamar operasi Bergetar lagi jantung Dimaz. Operasi Begitu gawatkah keadaan Rizal? Dia tidak membuka matanya sama sekali. Dan diam saja meskipun sepanjang jalan tadi Parlin dengan putus asa berkali-kali mencoba memanggil namanya. "Tunggu saja di luar." Sekali lagi karung beras ber-seragam putih itu mengomandokan mereka dengan tegas. "Saya panggil dokter." Kalau dalam keadaan biasa, Parlin pasti sudah balas membentak. Tapi sekarang, membuka mulut pun dia tidak mampu. "Barangkali yang satu 'ini perlu ditolong juga, Mbak," seia perawat yang seorang lagi. Dia memandang Dimaz dengan ragu-ragu.."Lukanya kelihatannya lumayan juga." "lapi tutup dulu pintunya," sahut perawat gemuk itu lagi. "Suruh orang-orang yang berjejal di pintu tunggu di luar. Ini kan bukan tontonan!" *** Malam, itu juga Rizal harus dioperasi. Perdarahannya luar biasa hebatnya sehingga dia memerlukan transfusi darah sampai beberapa botol. "Saya kuatir ada kelainan pembekuan darah," komentar dokter bedah. "Perdarahannya luar biasa. Ada keluarganya di sini?" Dimaz dan Parlin yang sedang menunggu di luar kamar operasi saling pandang. Keluarganya? Rizal tidak pernah cerita tentang keluarganya. Mereka cuma tahu ibunya tinggal di Bukittinggi. Ayahnya sudah lama meninggal. Dia dibiayai oleh pamannya untuk melanjutkan sekolahnya di Jakarta. Dan kini tinggal di sebuah rumah kos. "Pamanku yang ingin aku jadi dokter," katanya d i antara ceritanya yang serba sedikitr Rizal memang pendiam. Dia jarang menceritakan curinya. Jarang mengacuhkan urusan orang lain. Dia mengubur dirinya dalam timbunan buku-buku dan diktatnya. Belakangan Dimaz baru tahu, Rizal bukan hanya mengubur dirinya. Dia mengubur pula cintanya dalam timbunan dendam dan kebencian kepada seorang gadis! "Aku sendiri sih lebih suka jadi insinyur." "Nah, kenapa kau mau saja disetel pamanmu?" Dimaz teringat kepada kata-katanya saat itu. "Kau kan laki-laki. Lelaki mesti punya pendirian." "Aku kan cuma orang bayaran." Seperti biasa, Rizal selalu kelabu. "Paman yang membayar semua biaya studiku. Aku tidak mau mengecewakan dia. Tidak mau mengecewakan ibuku pula. Aku tidak mau pengorbanan mereka sia-sia." Dimaz merasa wajahnya pedih. Bekas-bekas lukanya terasa nyeri. Tetapi lebih pedih lagi hatinya. Lebii nyeri lagi terasa di dalam sini. Seorang putra daerah yang baik... yang pergi fa Jakarta untuk meraih cita-cita... sekarang dia terbarint di meja operasi... hanya karena cinta. Cintanya yang gagal kepada seorang gadis. Dendam-t nya kepada gadis yang dicintainya itu. Dan sakit hatinya kepada sahabat karib yang telah mengkhianatinya,... Dimaz menutup mukanya dengan kedua belah telapak tangannya. Di sudut sana, dua polisi yang ikut duduk menunggu mengawasi mereka dengan mulut terkatup rapat Sementara Parlin sudah tidak dapat lagi duduk dengan sabar. Dia mondar-mandir di ruang tunggu itu sambil tidak henti-hentinya merokok. Kalau saja operasi itu gagal... dia akan menjadi seorang pembunuh! Ketika pintu kamar operasi terbuka, rokok itu jatuh dengan sendirinya dari mulutnya. Dia langsung memburu dokter bedah yang baru keluar itu tanpa sempat bernapas lagi. "Bagaimana, Dok?" tanyanya panik. Dimaz juga sudah bangkit dari tempat duduknya. Tetapi dia belum sempat melangkahkan kakinya menghampiri mereka, kata-kata dokter itu seperti halilintar yang menyambar telinganya. "Menyesal sekail." "Oh, tidak!" Parlin memekik sambil membalikkan i tubuhnya. Dia menelungkup ke dinding. Dia meninju dinding itu berkali-kali "Maafkan aku, Zal!" tangisnya lirih. "Maafkan aku! Aku tidak sengaja " Dimaz jatuh kembali ke tempat duduknya. Dia terkulai lemas di sana. Diremas-remasnya rambutnya dengan sedih. Dia baru sadar ketika seseorang menyentuh bahunya. Lambat-lambat dia menengadah. Dan melihat seorang polisi tegak di hadapannya, *** Gerimis yang turun rintik-rintik menambah kelabunya suasana di pemakaman, seakan-akan alam pun ikut berduka. Ikut mengantarkan kepergian Rizal ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Payung-payung hitam yang terkembang di atas kepala-kepala yang tertunduk pilu, seperti awan gelap yang menyelubungi mendung yang menggantung di wajah mereka masing-masing. Widuri berdiri agak jauh di belakang. Seolah-olah tidak sampai hati mendengar rintih tangis ibu Rizal di tepi hang lahat. Orang tua yang malang itu... Perempuan yang kehilangan satu-satunya harapan... Alangkah kejamnya maut yang memisahkan mereka! "Kalau suatu hari nanti ada lelaki yang mempermainkan dirimu, barangkali kamu baru dapat merasakan bagaimana rasanya dipermainkan. Apalagi oleh orang yang kamu sayangi...." Rasanya kata-kata itu baru kemarin diucapkan Rizal. Masih begitu jelas terngiang di telinga Widuri. Masih begitu jelas terbayang betapa dinginnya tatapan matanya. Betapa teriuka tatapannya. Rizal begitu mencintainya. Heran, mengapa baru sekarang terasa sekali betapa kejamnya memperlakukan Rizal seperti itu. Widuri memang cuma main-main. Dia hanya tidak tahu, dia tidak boleh main-main dengan lelaki semacam Rizal. Sakit hatinya demikian dalam. Dendamnya demikian membara. Tetapi cintanya pun tak kunjung padam... Benarkah Rizal masih mencintainya? Masih hidupkah tunas cintanya dalam timbunan bara dendam? Tetapi kalau tidak... mungkinkah dia semarah itu? Mungkinkah dia sampai, kalap hendak membunuh Dimaz? Sampai demikian sakitkah hatinya melihat sahabatnya mengkhianati dirinya? Dan Dimaz... satu-satunya lelaki yang telah memaksanya belajar mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh... laki-laki yang telah mengajarnya menangis dan  tertawa dalam cinta.... Bukan seperti Parlin. Atau Anto. Atau Bram. Atau persetan, seperti siapa pun yang pernah mengajaknya kencan. Dengan mereka, cinta cuma sebuah taman firdaus yang indah. Kebun mawar yang semarak dengan harumnya bunga dan manisnya madu. Tetapi justru Dimaz yang telah mengkhianati dirinya! Justru laki-laki itu yang telah mempermainkan cintanya! Memperalat cinta mereka untuk membalaskan dendam sahabatnya! Oh, alangkah kejamnya! Mula-mula Widuri merasa demikian benci kepada mereka. Kepada Rizal. Kepada Parlin. Lebih-lebih kepada Dimaz! Tetapi ketika melihat mayat Rizal, ketika menyaksikan ibu pemuda itu menangis me-raung-raung meratapi kepergian putranya, sakit hatinya berganti menjadi penyesalan. Lebih-lebih ketika melihat Dimaz dan Parlin datang ke pemakaman dikawal dua polisi. Perkara mereka memang belum disidangkan. Keduanya masih ditahan. Masih dalam pemeriksaan yang berwajib. Tetapi Widuri merasa amat berdosa. Dirinya menyebabkan tiga laki-laki yang baik mendapat musibah. Ibu Rizal begitu hancur ditinggal pergi oleh satu-satunya anaknya. Satu-satunya harapan. Satu-satunya tempat berlindung di hari tua.... Ayah Parlin demikian terpukul melihat anaknya ditahan. Apalagi kalau sampai masuk penjara karena pembunuhan. Pemuda yang masa depannya begitu cerah. Haruskah dia meringkuk dalam penjara karena cinta? Parlin yang tampan. Yang selalu riang. Yang tidak pernah kelihatan susah. Dia memang nakal. Berandal. Kadang-kadang malah kurang ajar. Tapi dia tidak jahat. Bukan penjahat yang harus disekap di dalam sebuah ruangan sempit berterali besi! Ayahnya bekerja keras untuk mengirimnya ke universitas. Mereka memang bukan orang kaya. Ayahnya cuma punya bengkel kecil. Bengkel sepeda di sebuah gang yang sempit. Tetapi dia sudah bertekad untuk menjadikan anaknya orang pintar. Biar taraf kehidupannya lebih baik daripada orangtuanya. Dan sampai sebegitu jauh, Parlin sudah berhasil melegakan hati orangtuanya. Otaknya encer. Sekolahnya maju. Tidak pernah tinggal kelas. Biarpun belajarnya tidak serius. Biarpun dia cuma belajar kalau sedang menghadapi ulangan,biarpun dia lebih senang ngelayap daripada mengajak ngobrol ecek ecek di rumahnya yang sempit. Biarpun dia lebih senang pacaran dengan seorang gadis daripada dengan buku tapi dasar otaknya cerdas, pelajarannya selalu berhasil Studinya selalu lancar.sampai suatu hari, cita cita orangtuanya terpaksa harus kandas di tengah jalan' dia harus meringkuk dalam penjara karena pembunuhan. pembunuhan yang tidak disengaja... dan semua itu gara-gara Widuri, gadis yang dicintainya <p>BAB VII Parlin harus menebus kesalahannya di dalam penjara selama enam tahun. Sementara itu Dimaz dibebaskan karena tidak terbukti bersalah. Parlin memang mengakui kesalahannya dengan terus terang. Dengan jantan dia berdiri di depan meja hijau menghadapi majelis hakim yang mengadili perkaranya. Dia tidak membutuhkan seorang pembela. Dia tidak membantah semua tuduhan yang ditujukan oleh jaksa penuntut umum kepadanya. Dia mengiyakan kesaksian Widuri yang diceritakan dengan air mata berlinang dan suara tersendat-sendat. Bahkan ketika vonis dijatuhkan, dia cuma diam dengan kepala tertunduk dalam. Wajahnya pucat pasi. Tatapannya redup. Matanya sayu. Dan Parlin tidak melelehkan air mata setetes pun ketika ibunya memeluknya sambil menangis. Dia hanya menoleh dengan sedih kepada ayahnya yang langsung berjalan keluar meninggalkan ruang si ang dengan kepala merunduk. Tatkala Widuri datang menghampirinya dengan air mata berlinang, Parlin malah membuang mukanya ke tempat lain. Dan pengawalnya segera membawanya ke dalam mobil tahanan. Dia tidak menoleh sama sekali kepada ibunya yang menangis memanggil-manggil namanya. Atau kepada Widuri yang masih tertegun di sana. Atau kepada Dimaz yang sedang t dipeluk dan diciumi oleh kedua orangtuanya. Dimaz memang dibebaskan dari semua tuduhan.Pengadilan menganggapnya tidak bersalah. Terapi j Dimaz yang keluar dari tahanan bukan lagi Dimaz yang dijebloskan ke dalam penjara beberapa waktu yang lalu. Dia benar-benar sudah berubah. Jiwanya sudah dirusak oleh perasaan bersalah nya sendiri. Gara-gara dia Rizal tewas. Gara-gara dia Parlin masuk penjara. Gara-gara dia Widuri begitu terluka. Dan korbannya masih ditambah lagi dengan orang-orang yang tidak bersalah. Orang-orang yang ikut menderita akibat perbuatannya. Orangtua Parlin. Ibu Rizal. Ayahnya sendiri.... Ayah begitu terpukul ketika dia masuk penjara. Ayah demikian malu mendengar anaknya ditahan cuma karena perkelahian akibat memperebutkan seorang gadis! "Kalau kau masuk penjara karena merampok, aku masih tidak begini malu! Dibui gara-gara perempuan! Bah, memalukan!" Tapi apa yang salah? Siapa yang memulai perkelahian Salahkah kalau dia ingin menolong Rizal Selama setahun mereka bergaul, Rizal begitu baik Dia memang pendiam. Kaku dalam pergaulan. Kadang-kadang malah agak aneh. Tetapi hatinya baik. Rizal selalu bersedia membantu Dimaz. Mencoretkan tanda tangan Dimaz di buku absensi kalau Dimaz tidak masuk. Mencatatkan kuliah kalau kebetulan diktatnya tidak dijual di bursa dan Dimaz tidak ikut kuliah itu. Membantu membuat praktikum kalau Dimaz sedang terburu-buru. Pendeknya apa saja Rizal pasti mau menolong. Salahkah Dimaz jika dia juga ingin membantu Rizal? Selama setahun bergaul di kampus, belum pernah Dimaz melihat Rizal akrab dengan seorang gadis. Jangankan pacaran. Naksir saja tidak pernah. Maka begitu dia menampakkan perhatian yang demikian besar terhadap seorang gadis, ketika Widuri mendaftarkan diri di kampus mereka, Dimaz langsung tergerak ingin menolong sahabatnya. Dia juga tahu Rizal senang menulis puisi. Tetapi tentu saja dia tidak pernah berniat membacanya. Dimaz tidak tertarik pada sajak. Apa-apaan pantun-pantunan kayak di zaman Siti Nurbaya begitu? Mau ngomong cinta saja pakai berputar-putar dulu memuji alam dan memanggil-manggil bintang segala! Tetapi setelah Rizal meninggal dan Dimaz dibebaskan dari tahanan, dia pergi dan mengambil barang-barang Rizal yang masih tersisa di tempat kosnya. Dan di bawah tumpukan buku-bukunya, Dimaz menemukan album puisi Rizal. Lama Dimaz duduk termenung mengawasi buku di tangannya. Kalau dalam keadaan biasa, pasti sudah dicampakkannya kembali buku itu. Untuk apa buang-buang waktu membaca sajak? Tetapi dalam keadaan seperti ini, trenyuh melihat barang-barang yang ditinggalkan sahabatnya, teriris melihat tulisan-tulisannya kembali, terpukul melihat kamarnya, pakaian-pakaiannya, buku-bukunya, fotonya... rak terasa air mata menggenangi sudut matanya. Rizal begitu percaya kepadanya. Dia percaya Dimaz dapat menolongnya. Membantu membalaskan sakit hatinya kepada Widuri. Widuri. Teringat kepada gadis itu, hari Dimaz bertambah pedih. Dia melihat Widuri dari kejauhan waktu penguburan Rizal. Gadis itu mengenakan gaun hitam. Payung hitam. Mukanya yang pucat begitu kontras dengan warna hitam yang menyelubunginya. Matanya merah berair. Bibirnya digigitnya menahan tangis. Begitu sedihkah dia? Dimaz jadi bertanya-tanya seorang diri. Masih cintakah dia kepada Rizal? Atau... cuma sekadar penyesalan? Dimaz jadi tergerak hendak menyelami puisi Rizal. Di dalam buku ini barangkali tersimpan apa-apa yang tidak mereka ceritakan kepadanya. Sesuatu yang mungkin pernah mewarnai hubungan mereka... Ya, Tuhan! Masih cemburukah dia kepada Rizal? Kepada seseorang yang sudah meninggal? Kepada sahabat yang dikhianatinya, tetapi yang malah telah menghindarkannya dari maut yang dibawa oleh ujung pisau Parlin? , sebenarnya bukan pisau Parlin. Rizal-lah yang membawa pisau itu. Ketika Dimaz berhasil menangkis tikaman Rizal, pisaunya jatuh ke tanah. Dalam keadaan kalap, Parlin tidak berpikir panjang lagi. Dipungutnya pisau itu. Dan di tangan seorang jago berkelahi seperti Parlin, pisau yang sama jadi sepuluh kali lebih berbahaya. Dimaz yakin, Parlin sungguh-sungguh dengan tikamannya. Dia memang brengsek. Berandal. Tukang bikin onar. Tapi dia betul-betul mencintai Widuri. Dia cemburu ketika Widuri berpaling kepada Dimaz. Lebih-lebih ketika dirasanya Widuri sudah berubah. Gadis yang tidak pernah serius itu sekarang benar-benar berusaha mencintai seorang laki-laki saja. Belajar mencintai Dimaz dengan sungguh-sungguh. Parlin pasti rela m asuk penjara untuk membunuh Dimaz, lelaki yang dicemburuinya. Tetapi membunuh Rizal? Harimau pun tidak tega membunuhnya! Parlin tidak sengaja membunuh Rizal. Dan dia harus menebusnya di dalam penjara. Harus menukar cintanya dengan kebebasannya sendiri. Dimaz ingat bagaimana tabahnya Parlin mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan meja hijau. Seorang pemuda yang baru berumur sembilan belas tahun di depan majelis hakim yang agung dan angker.... Dimaz ingat bagaimana tertekannya Widuri tatkala memberi kesaksian di depan pengadilan. Suaranya terputus-putus. Air matanya berlinang. Dan tatapannya ke arah Parlin demikian sedih. Baik waktu dia berdiri di mimbar saksi, maupun ketika mendengar vonis yang dijatuhkan kepada Parlin. Dimaz juga melihat bagaimana Widuri berusaha mendekati Parlin tatkala pemuda itu hendak dibawa keluar dari ruang sidang..,. Apakah yang hendak diucapkannya sebagai kara perpisahan? "Aku akan menunggumu" seperti yang sering dibacanya di dalam buku-buku cerita? Dimaz ingat sekali, Widuri bahkan tidak berusaha menghampiri dirinya. Ketika tidak berhasil mendekati Parlin, Widuri malah lari ke luar. Dan Dimaz tidak pernah melihatnya lagi... karena Widuri memang tidak pernah lagi menoleh ke arahnya.... Masih marahkah Widuri kepadanya? Begitu bencikah Widuri kepada dirinya sekarang? Tetapi di mana sebenarnya letak kesalahannya? Salahkah kalau dia ingin menolong seorang sahabat? Salahkah jika kemudian dia jatuh cinta kepada Widuri? Gadis itu begitu cantik. Begitu menarik. Segala-galanya Sikapnya yang bebas, lincah, periang. Bibir dan matanya yang selalu tersenyum mengundang gurah. Salahkah seorang lelaki kalau jatuh cinta kepada gadis seperti dia? Cuma Widuri yang mampu mencairkan kebekuan hatinya Padahal hati itu sudah jadi es. Dibekukan oleh pengkhianatan Astri Dengan geram Dimaz membanting buku di tangannya Dia memang selalu gemas kalau ingat Astri. Tetapi ketika disadarinya buku kumpulan puisi Rizal-lah yang dicampakkannya, lekas-lekas dipungutnya kembali buku itu. Dikatupkannya rahangnya rapat-rapat. Dan dibukanya lembaran pertama. Tuhanku, Jika cinta hanya datang sekali Mengapa Justru kepada perempuan yang keliru? Dimaz tepekur menatap halaman yang dua pertiganya masih kosong itu. Barangkali karena pada kalimat-kalimat ini menyiratkan semua puisi di dalam albumnya, maka Rizal menempatkan puisi ini sebagai yang pertama. Widuri-kah perempuan yang dimaksudkannya? Tapi... siapa lagi? Rizal tidak pernah kelihatan intim dengan seorang gadis pun. Sementara teman-teman prianya asyik membicarakan seorang gadis, Rizal menyingkir dengan sendirinya. Dia sibuk sendiri dengan bukunya. Dia lebih suka menghafal pelajaran atau mencorat-coret bukunya, mencipta sajak, daripada ikut menggosipkan si Rahayu yang jadi simpanan Bapak Pembantu Dekan. Atau menertawakan celana mini si Dina yang membayang di balik gaunnya yang menerawang. Atau mengagumi pinggul si Rita waktu dansa pada malam inagurasi dulu. Rita memang mahasiswi yang paling sexy di kampus mereka sekarang. Tetapi bagi Rizal, dia tidak lebih cuma seekor angsa genit yang meleter ke sana kemari memamerkan bulunya. Untuk sebagian, Dimaz memang setuju dengan pendapat Rizal. Dia sendiri cuma tertarik karena Rita enak dilihat. Perempuan tipe dia memang cuma sedap dipandangi. Santapan yang nikmat untuk mata se orang laki-laki. Untuk kantong, Rita berarti bahaya. Untuk cinta, dia bisa jadi malapetaka. Dimaz tidak keberatan kalau Rizal menjauhkan diri dari perempuan semacam Rita. Buat pemuda seperti Rizal, lebih baik tidak usah dekat-dekat kalau mau selamat. Kalau dia sampai jatuh cinta kepada Rita, dia harus mempersiapkan selusin hati cadangan. Gadis itu bertukar pacar seperti berganti baju. Tetapi tentu saja baju dari burik. Jadi Rizal pun sebenarnya tidak usah kuatir. Rita juga tidak tertarik kepadanya Apanya yang mau dilihat? Rizal tidak punya kelebihan apa-apa. Badannya cuma selembar. Mukanya seperti batu belum selesai diasah. Ibarat patung belum sempurna dipahat. Modal pun dia tidak punya Jangankan mobil, sepeda saja tidak ada. Satu-satunya keahliannya cuma menulis saja k. Tetapi di zaman serba wiraswasta begini, mana ada lagi gadis yang mau dipikat dengan sajak? Di mana ada calon mertua yang mau disogok dengan puisi? Yang merelakan anak gadisnya dilamar hanya dengan beberapa baris kata-kata, bagaimanapun bagusnya si penyair merangkaikan kata? Mau dijual ke mana kata-kata itu kalau anak mereka menangis kelaparan nanti? Tuhan, Kepada-Mu aku mengadu Kepada-Mu aku mengeluh Karena cuma Engkau yang mendengar Cuma Engkau yang bertelinga Cuma Engkau yang punya hati! Tak ada yang tersembunyi di hadapan-Mu Kau tahu Betapa aku masih mencintainya Kau tahu Betapa sia-sia memadamkan cinta Yang sedang membakar hatiku! Jadi dia masih mencintai Widuri, pikir Dimaz dengan perasaan yang dia sendiri tidak bisa menerka artinya. Masih ibakah dia kepada Rizal? Atau... perasaan iba itu telah berganti dengan... perasaan cemburu? Ditutupnya buku itu dengan perasaan tidak enak. Seorang anak muda yang baik. Yang selalu dekat dengan Tuhannya. Sekarang dia telah pergi. Dibunuh oleh sahabatnya sendiri. Karena cintanya yang tak kunjung padam kepada seorang gadis. Gadis yang dipujanya dengan diam-diam. Hanya kepada Tuhan dan kepada kertas-kertas bisu ini dia mengadu. Dan gadis itu... Widuri. Pedih hati Dimaz setiap kali teringat gadis itu. Mengapa cinta harus gugur pada saat dia baru berujud kuncup, sia-sia merekah menanti belaian sang surya? Mengapa bianglala kasih baru merona tatkala malam hampir menyapa senja? 0, seandainya dia tahu, begini singkat waktu yang diberikan kepada mereka untuk merenda kasih sayang, barangkali dia tidak akan membuang-buang waktu yang demikian berharga! Dia akan mulai lebih cepat supaya dapat lebih lama menikmati hari-hari yang indah bersama Widuri! Lama Dimaz termenung menatap buku di tangannya. Akan dikemanakannya buku ini? Rizal akan mati sia-sia jika buku ini tidak sampai ke tangan Widuri. Jika sajak-sajak yang ditulis dengan darahnya ini tidak dinikmati oleh wanita yang dipujanya dengan mengorbankan nyawanya sendiri. Dimaz harus menyampaikan buku ini kepada Widuri. Harus. Barangkali dengan demikian Rizal dapat memaafkan dosanya. Barangkali dengan mengantarkan buku ini, Dimaz dapat menjumpai Widuri.., meskipun hanya dalam bayangan kata-kata! *** Ke mana perginya kehangatan di rumah ini, pikir Dimaz ketika dia sedang duduk termenung seorang diri di ruang tamu di rumah Widuri. Beberapa bulan yang lalu, dia masih duduk di tempat ini. Tetapi dengan hati yang berbunga. Rongga dadanya yang hanya setangkup itu seakan-akan tidak cukup luas untuk menampung arus kebahagiaan yang melimpah ruah. Tidak cukup untuk menahan gelora cinta yang demikian deras mengempas dada. Sekarang dia duduk di tempat yang sama. Namun tidak ada lagi kehangatan. Rumah ini terasa dingin. Kebekuan menyelubungi suasana yang sepi. Tidak ada lagi adik-adik Widuri yang berceloteh mengerubunginya menunggu oleh-oleh. Tidak ada lagi gadis rupawan yang keluar menyambutnya dengan senyum malu-malu dan mata yang berbinar-binar menyimpan sejuta harapan. Yang ada cuma tinggal segenggam rasa rindu. Dan sepucuk taruk cinta yang tinggal kelopak, kering menanti gugur ke atas persada. "Maaf, Mas." Yang muncul hanya Menuk, dengan sepasang mata yang mengingatkan Dimaz kepada sepasang mata yang lain, lebih indah bercahaya walaupun serupa. "Mbak Wid nggak mau keluar." Ada nada iba di dalam suaranya. Tatapannya sesendu senyum minta maaf yang menggeliat di sudut bibirnya yang mungil. "Maafkan Mbak Wid, Mas. Dia benar-benar tersiksa setelah peristiwa itu." Dimaz menunduk sedih. Tidak bolehkah dia melihat sekejap saja, seperti apa kini setangkai seruni yang pernah dipujanya itu? Begitu dalamkah kubangan dendam yang mengubur Widuri? Begitu pekatkah lumpur kebencian yang melumuri hatinya? "Mbak Wid sudah jarang bicara, Mas. Apalagi tersenyum. Tidak mau kuliah. Tidak mau ke pasar. Tidak mau ke mana-mana. Mengurung diri dalam kamar, menyuruhnya makan saja Ibu sampai kewalahan." Sampai begitu jauh aku telah merusaknya, keluh Dimaz dalam hati. Ditatapnya buku di atas pangkuannya dengan redup. "Boleh titip ini untuknya?" "Percuma, Mas. Dia akan melempa rnya jauh-jauh sebelum membukanya." Tangan Dimaz yang sedang mengulurkan buku puisi Rizal jatuh terkulai dengan sendirinya. Jadi tidak ada harapan lagi. Bahkan sesudah mati pun Rizal tidak sempat lagi menyampaikan isi hatinya kepada Widuri! Lemah-lunglai Dimaz bangkit dari kursinya. Terseok-seok dia melangkah ke luar. Kepalanya tertunduk dalam. Dia tidak menoleh sekalipun Menuk masih mengikutinya dari belakang. "Mas," tegur Menuk sesampainya di pintu depan. Dimaz menoleh dengan segan, seakan-akan seribu kati memberati lehernya untuk mengangkat kepala. Gadis itu bersandar ke pintu. Matanya menatap Dimaz dengan sayu. Dimaz menunggu beberapa detik. Tetapi mulut yang mungil itu tetap terkatup. Bibirnya membentuk seulas garis yang membayangkan haru. Seandainya bibir itu dapat membentuk huruf, barangkali bunyinya tidak akan berbeda dengan pancaran iba yang melumuri matanya. Dimaz sudah menunggu hampir satu abad sebelum mendengar letusan magma dari perut bumi. Laharnya yang panas membara seolah-olah membenamkannya ke dalam neraka Paling panas yang pernah membakar sukmanya! Tak ada lagi tembang rindu yang mengalun sumbang membelai sepotong jiwa yang gersang! Tak ada lagi sekuntum puspa harapan yang sia-sia menanti belaian setitik embun! Kelopak kering itu telah gugur ke bumi! "Bulan depan Mbak Wid menikah." bab viii Hanya ada satu alasan yang membuat Widuri mau menerima lamaran Tanto. Dia ingin menghukum dirinya sendiri! Dia akan memenjarakan hidupnya dalam penjara perkawinan yang menyiksa. Ibu tidak memaksanya. Tanto juga tidak. Tetapi setelah kuliahnya terbengkalai, setelah butir-butir cintanya membeku bersama tetes-tetes perasaan bersalah yang menodai hidupnya, Widuri memilih meniti titian yang akan menjerumuskannya ke jurang kehancuran. Ibunya tidak mencegah. Meskipun dia tahu Tanto cuma pelarian. Ibu masih mengharap, suatu waktu nanti, Tanto dapat membangkitkan kembali Widuri dari kematian semunya. Siapa tahu di atas ranjang pengantin mereka yang dingin, tumbuh setitik kehangatan, tidak membakar tapi cukup membara? Siapa tahu kehadiran seorang bayi mungil dapat menghidupkan kembali gairah Widuri, biarpun cuma berpijar tak sampai menyala? "Saya mengerti perasaanmu, Widuri," kata Tanto sabar, setelah Widuri menolak rencananya untuk merayakan perkawinan mereka dengan sebuah pesta yang meriah. "Tapi saya ingin membuat pesta untuk memaklumkan kepada dunia, kau sudah menjadi milik saya." "Sap tidak akan berpesta seumur hidup," sahut Widuri tegas. "Saya akan selalu berkabung. Untuk dua orang laki-laki yang telah mengorbankan hidup dan kebebasannya bagi saya." "Baiklah. Saya menghormati prinsipmu," kata Tanto tenang. "Saya akan membawamu menikah tamasya." *** Cuma beberapa orang keluarga mereka yang menghadiri upacara itu. Widuri dan Tanto menandatangani surat nikah mereka di kantor catatan sipil. Lalu keduanya pulang ke rumah masing-masing. Tanto berangkat ke Surabaya untuk menyelesaikan tugasnya sebelum ditinggalkan selama sebulan berbulan madu ke luar negeri. Sementara Widuri menyiapkan barang-barangnya untuk pindah ke rumah mereka yang baru seusai berbulan madu nanti. Ada sebuah kado kecil yang terselip di antara lima lusin gelas, enam buah jam meja, dan beberapa kado lain yang lebih baik ditinggal di rumah ibunya daripada menyesaki rumah mereka yang baru. Kado itu terlalu tipis untuk dicampurkan dengan bungkusan-bungkusan berisi gelas. Terlalu kecil pula untuk dikelompokkan bersama kotak-kotak jam meja. Kalau menilik bungkusannya yang pipih itu, paling-paling setengah lusin pisau atau sendok. Tetapi melihat lebarnya, barangkali terlalu pendek untuk ukuran alat makan. Jadi Widuri tertarik ingin membukanya. Dia jadi tertegun melihat apa isinya. Sebuah buku. Tidak baru. Tidak istimewa pula. Sebuah buku yang sederhana. Sudah lusuh. Warnanya pun hampir memudar. Baru ketika membuka halaman yang pertama, Widuri merasa dingin seperti disiram dengan seember air es... buku itu tidak kosong. Dan dia kenal tulisan siapa itu. Hanya Rizal yang dapat mengukir tulisan seindah ini. Hanya Rizal yang dapat merangkai kata menyulam sajak! Dan satu -dua sajak yang pertama di buku itu telah pernah dibaca Widuri. Di majalah dinding sekolah waktu SMA dulu. Tetapi kalau dulu dia membacanya sambil lalu saja, kadang-kadang dengan senyum malu kalau diolok-olok teman-temannya, sekarang dia meresapinya dengan lebih sungguh-sungguh. Dia seorang diri dalam kamar yang hening. Dan penulis sajak ini telah tiada. Dalam lamunan Widuri, Rizal seakan-akan bangkit dari haribaan bumi. Meninggalkan peraduannya yang sepi untuk mendeklamasikan puisi-puisinya di depan Widuri. Dan dia merasa amat tergugah.... Berlabuhlah Cintaku! Berkilau di laut Upas Bergulung bersama ombak Berlalulah dari sisiku Berlabuhlah cintaku! Tak sampai lenganku meraihnya Terlalu jauh dia di seberang sana Tak mungkin kucapai bianglala cintanya Terlalu tinggi awan berarak Terlalu nisbi hamparan mega di langit biru Terlalu mahal dia bagiku Seputih layar di kaki langit Sesuci matahari di batas cakrawala Seputih itu cintaku yang sia-sia Sesuci itu hati yang merana Dihina Dan dicampakkannya! lak terasa air mata meleleh ke pipi Widuri. "Maafkan aku, Zal...," bisik Widuri lirih, seakan-akan Rizal benar-benar berada di kamarnya. "Lupakanlah masa lalu kita, Widuri." Bayangan itu bagai segumpal asap yang bergulung di keheningan suasana. Malam bertambah pekat. Di luar hujan rintik-rintik pula. Tetapi Widuri mendengar suara Rizal, begitu jelas membelai-belai telinganya. "Marilah kita memulai sesuatu yang baru.... Maukah kamu. menjadi sahabatku...?" Seandainya bukan Rizal yang mengatakannya, pasti Widuri tidak akan merasa demikian terharu. "Aku mau, Zal..." bisik Widuri dengan mata berkaca-kaca. Rizal mengulurkan tangannya. Dan Widuri menyambutnya. Tetapi yang dirangkumnya cuma udara yang kosong. "Kamu benar-benar mau menjadi sahabat cowok kelas bulu seperti diriku?" Itu memang suara Rizal. Tetapi belum pernah Widuri mendengar suara yang sehalus itu. Suara itu seperti sulaman benang-benang sutra yang merenda getaran bunyi di telinga Widuri. Kapan dia pernah mendengar suara selembut ini? Waktu tidur berkalang mimpi? "Kamu bukan cowok kelas bulu lagi, Zal...," bisik Widuri sambil menatap bekas luka di lambung Rizal. "Seorang cowok kelas bulu tidak akan pernah kehilangan nyawanya untuk menyelamatkan sahabatnya...." "Terima kasih! Sudah lama aku menunggu kata-kata itu!" "Aku benar-benar menyesal telah menyakiti hatimu." "Kamu pernah mengatakannya di lereng Gunung Gede waktu kita camping di SMA dulu. Ingat? Waktu itu aku tidak percaya...." "Sekarang?" Rizal tidak menjawab. Tetapi dia mengangguk. Dan di matanya Widuri telah menemukan jawaban itu. Bukan hanya jawaban. Widuri juga menemukan sesuatu yang lain. Sinar yang belum pernah ditemukannya berpijar di mata Rizal. Sinar yang disangkanya takkan pernah bersorot di mata seorang pemuda seperti dia. Dan Widuri tidak perlu menunggu lama untuk mendengar pengakuan yang sama dari mulut Rizal. "Aku mencintaimu, Widuri." "Maafkan aku, Zal..." Widuri memalingkan wajahnya. Mencoba menghindari kenyerian yang merobek-robek hatinya setiap kali menatap mata Rizal. "Aku tidak dapat mencintaimu...." "Aku tahu." "Maafkan aku." "Kau mencintai Dimaz." "Aku menyakiti hatimu..." "Cinta tak pernah salah, Widuri." "Mengapa kamu yang jadi korban, Zal?" "Jangan mengasihani diriku, Widuri. Aku tidak mau dikasihani lagi. Tidak perlu semua air mata itu." "Zal," gumam Widuri getir. "Mengapa aku tak dapat mencintai laki-laki sebaik engkau?" "Engkau dapat, Widuri," kata Rizal dengan ketenangan yang mengherankan. Ketenangan yang belum pernah menjadi miliknya. "Ikutilah aku...." Rizal mengulurkan tangannya sekali lagi. Tatapannya begitu ganjil. Bolamatanya bagai dua butir kristal putih. Kosong. Tapi cahayanya menyilaukan. Memandang ke dalam mata itu seakan melayang menuju ke dunia lain. Menembus kurun waktu, menerobos secarik tirai yang memisahkan alam mereka. "Aku tak dapat!" teriak Widuri ketakutan. Bulu tengkuknya mulai meremang. Kuduknya terasa dingin. "Jangan!" teriaknya sambil mundur ke pintu menghindari Rizal yang maju menghampirinya. Perlahan tapi pasti kedua belah lengannya terulur ke depan. Siap merengkuh  Widuri ke dalam pelukannya.... "Aku tidak bisa! Jangan!" Dan sepasang tangan yang kuat merenggutnya. Bukan dari depan. Tapi dari belakang. Sia-sia Widuri meronta. Dia dihela ke dalam kegelapan yang misterius. Hitam pekat menyelebungi dirinya. Lalu keheningan yang abadi. Kepalanya terasa kosong. Dia terkulai sambil menggenggam sepi. *** "Dia sudah sadar, Bu!" Itu pasti suara Ade. Cuma dia yang punya suara sejelek itu. Besar. Serak. Dan pecah. Dia sedang dalam masa perubahan suara. Peralihan dari seorang anak laki-laki menjadi seorang pria dewasa. Masa akil-balig. Widuri mencium bau yang amat menyengat di hidungnya. Dipalingkannya wajahnya, seakan-akan hendak mengusir bau yang menusuk hidungnya itu. Tetapi baunya tidak mau hilang juga. Widuri meraba hidungnya. Hendak menyingkirkan benda berbau yang mengganggu penciumannya. Tetapi seseorang menangkap tangannya Ketika dia membuka matanya, dia melihat Ibu. Merunduk dekat wajahnya. Mata Ibu merah berair. Kapan terakhir kalinya dia melihat Ibu menangis? Malam itu... ketika dia pulang pukul setengah tiga pagi diantar oleh seorang pemuda yang setengah mabuk? Widuri memejamkan matanya kembali. Ada cahaya yang amat menyilaukan mata di atas sana. Dia pasti berada di kamar Menuk. Hanya kamarnya yang memakai lampu seterang ini. Soalnya dia gemar sekali membaca. "Widuri..." bisik Ibu lirih. "Bangunlah, Nak..." Embusan napasnya membelai hangat pipi Widuri. Desah napas seorang ibu yang penuh kekuatiran menggelitiki telinganya. "Lihatlah, Ibu, Nak... bukalah matamu...." Widuri membuka matanya kembali. Memandang ibunya dengan mata berkedip-kedip. . "Silau...," bisiknya lirih. Ade-lah yang paling gesit. Dia meraih saklar lampu di dekat tempat tidur. Dan memadamkannya. Menuk menyalakan lampu meja di atas meja tulisnya. Mendorong kapnya sehingga sinarnya menyorot ke dinding. "Apa yang terjadi, Bu?" bisik .Widuri lemah. "Kau bicara sendiri di kamarmu, Nak." Ibu menyusut air matanya dengan sedih. "Berteriak-teriak... lari ke luar... Ade membawamu kemari... kau pingsan..." Rizal, bibir Widuri bergerak-gerak, tapi tidak ada suara yang keluar. Rizal... Matanya menerawang jauh... menatap kosong ke langit-langit kamar... "Kita harus membawanya ke dokter, Bu!" cetus Ade yang sejak tadi berdiri diam di belakang ibunya. Mengawasi Widuri dengan cemas. "Mbak Wid sakit!" Menuk yang sedang berlutut di sisi tempat tidur mengangkat wajahnya. Menatap abangnya dengan sedih. "Jiwanya yang sakit, Mas," desahnya getir. "Mbak Wid perlu seorang dokter jiwa...." *** "Kalau Ibu setuju, kami akan merawatnya di sini," kata Dokter Hernowo selesai mengadakan tanya-jawab dengan Widuri dan ibunya. "Saya tidak mau!" protes Widuri separo membentak "Saya tidak gila!" "Anda memang tidak gila," sahut Dokter Hernowo sabar. "Anda cuma perlu istirahat." "Saya bisa istirahat di rumah, Bu!" Widuri menoleh kepada ibunya dengan marah. "Kenapa saya dibawa kemari?" Tertikam hati ibunya melihat cara Widuri menatapnya. Kapan pernah dilihatnya Widuri menatap seperti ini kepadanya? Selama delapan belas tahun hanya senyum dan madu yang melumuri mata itu. Hanya pijar-pijar kebahagiaan yang menjadi miliknya. Ke mana perginya putri kebanggaannya? Dia tinggal seonggok puing dari masa lalu! "Mengurung diri di kamar, tidak mau makan, tidak mau mandi, tidak mau melakukan kegiatan sehari-hari yang paling dasar, bicara sendiri, mendengar suara-suara di telinga, dan merasa ketakutan seperti ada orang yang mau mencelakakan dirinya, tahukah Ibu gejala-gejala apa itu?" Dengan sabar Dokter Hernowo melayani ibu Widuri yang hendak membawa putrinya pulang kembali ke rumah. "Saya tidak tahu, Pak Dokter. Saya kan bukan dokter. Tapi kalau anak saya mau pulang, kalau dia merasa tersiksa dikurung di sini, lebih baik saya bawa pulang saja. Biar saya sendiri yang merawatnya." "Ibu tahu dia sakit apa?" "Saya cuma tukang kue, Pak Dokter. Saya tidak tahu apa-apa soal penyakit." "Lantas bagaimana Ibu mau menyembuhkannya kalau penyakitnya saja Ibu tidak tahu?" "Anak saya sakit apa, Pak Dokter? Dia tidak gila, kan?" "Sebenarnya bukan penyakit, Bu. Baru reaksi. Tapi kala u tidak cepat ditolong, saya kuatir anak Ibu benar-benar sakit jiwa." *** Hampir satu bulan Widuri dirawat di sanatorium jiwa Dokter Hernowo. Dia tidak tahu mengapa dia mesti diasingkan di dalam kamar sempit yang jendelanya diberi terali seperti penjara ini. ..„ Dia tidak gila. Dia menganggap dirinya tidak sama dengan pasien di kamar sebelah yang suka menjerit-jerit di tengah malam. Atau si genit di kamar sana yang selalu mencolak-colek setiap orang yang lewat di depannya. Atau bapak tua yang sepanjang hari diam saja menatap tembok di belakang sana dengan mulut komat-kamit. Widuri benar-benar merasa terhina. Dia tidak tahu untuk apa dia disuruh bergaul dengan orang-orang gila ini. Untuk apa mereka dikumpulkan dalam suatu ruangan bersama seorang perawat judes yang memimpin tanya-jawab yang mirip sekolah orang-orang idiot ini. Untuk apa berjam-jam dia disuruh berbaring sambil menceritakan mimpi-mimpinya, masa lalunya, atau keinginan-keinginannya yang terpendam kepada Dokter HernoWo. Dia tidak pernah lagi bertemu dengan Rizal. Tidak pernah berteriak-teriak lagi. Tidak pernah bicara sendiri seperti dulu. Dia hanya masih sering menangis kalau rindu pada Ibu dan adik-adiknya. Kalau terkenang kepada masa remajanya yang ceria. Kalau teringat kepada Rizal yang sudah meninggal. Atau kepada Parlin yang sedang mendekam kesepian di dalam selnya yang sempit. Atau kepada Tanto yang dengan setia mengunjunginya tiap hari. Alangkah baiknya laki-laki itu! Alangkah setianya lelaki yang kini menjadi suaminya! Tidak malukah dia punya istri orang gila? Dengan sabar Tanto selalu melayani kekasaran Widuri. Sikapnya yang dingin. Amarahnya yang kadang-kadang meledak melewati batas. Terbuat dari apa hati laki-laki itu? Mengapa dia tidak pernah marah? Sekali-sekali Widuri ingin dibentak. Ingin dimarahi. Ingin diperlakukan kasar. Supaya dia dapat menghukum dirinya sendiri. Supaya perasaan bersalah yang menghantuinya dapat dikurangi. Dia tidak mau dikasihani. Tetapi mengapa semua orang seakan-akan menaruh iba kepadanya? Bahkan Ibu yang galak pun tidak pernah marah lagi! "Besok kau sudah boleh pulang, Nak," kata Ibu dengan air mata berlinang. "Tanto sudah menyiapkan bulan madu kalian ke luar negeri." "Saya tidak mau-ke mana-mana," sahut Widuri dingin. "Jangan begitu, Nak. Tanto begitu baik padamu." "Dia bukan baik. Dia sakit!" "Begitu kau menganggap suami yang sangat menyayangimu?" "Mengapa dia tidak mau menceraikan saya? Kalau dia normal, masa dia mau punya istri orang gila!" "Kau tidak gila, Nak!" "Lantas buat apa mereka mengurung saya di sini?" "Kau dirawat, Nak. Bukan dikurung!" "Dirawat di rumah sakit jiwa, apa bedanya dengan dikurung seperti orang gila?" ^Widuri..." Ibu menatapnya dengan tatapan ter-luka. Widuri merasa hatinya ikut sakit melihat cara Ibu memandangnya. "Kenapa harus menyakiti hati Ibu lagi?" Ibu memalingkan wajahnya menghindari tatapan Widuri. Tetapi dari balik kepala Ibu, Widuri masih dapat mendengar isaknya yang tertahan-tahan. Ibu yang begitu tabah. Begitu keras. Alangkah gampangnya dia menangis sekarang! Dan semua itu gara-gara aku, geram Widuri dalam hati. Berapa banyak yang telah dikorbankan Ibu untuk dirinya. Dari Menuk dia mendengar dagangan kue Ibu sudah berantakan. Beberapa perabot rumah tangga yang masih bisa dijual sudah mulai pindah ke tukang loak. "Untung ada Mas Tanto, Mbak," keluh Menuk sambil menyeka air matanya. "Kalau tidak ada dia...." Jadi aku benar-benar sudah menjual diriku, pikir Widuri murung. Kepada seorang pembeli yang baik! Tapi bukankah itu yang diinginkannya? Dia ingin dirinya tidak berharga lagi. Dia ingin menyiksa dirinya sampai mati! Tetapi mengapa ketika dia pulang ke rumah Tanto, ketika melihat cara tetangga-tetangga memandangnya, dia merasa terhina? Mengapa begitu sakit hatinya kalau ibu Tanto menganggapnya perempuan tidak waras setiap kali mereka bertengkar? Masih hidupkah sisa-sisa harga dirinya? Masih adakah yang dapat dibanggakannya? Perempuan yang menyebabkan seorang laki-laki terbunuh. Yang menyebabkan seorang pemuda masuk penjara. Yang menyebabkan seorang mahasiwa terbaik kehilangan cit a-cita karena dikeluarkan dari fakultas. Perempuan yang pernah masuk sanatorium jiwa. Masih adakah kebanggaan yang tersisa, meskipun kini dia istri seorang direktur? Tanto memang seorang suami yang baik. Laki-laki berhari muka. Satu-satunya kekurangannya cuma karena dia terlaju lekat kepada ibunya. Terlalu patut kepada perempuan yang pernah melahirkannya itu. Kalau dia lebih dewasa, barangkali dia dapat meminta ibunya agar kembali saja ke rumah Ayah. Buat apa Ibu tinggal di rumah mereka? Buat apa dia mengemong anaknya lagi? laki-laki itu sudah punya istri. Dan istrinya mampu merawat dia Tidak perlu lagi ibunya menjagai Tanto. Toh Widuri ridak bakai mencekiknya' Meskipun perempuan itu pernah dirawat di rumah sakit jiwa, dia masih mampu mengurus suaminya sendiri. Ibu Tanto cuma membuat keadaan di rumah mereka rambah seperti di neraka saja' Tetapi... bukankah itu yang diinginkan Widuri Dia sendiri yang mendambakan hidup tersiksa seperti ini, bukan? Ternyata yang menyiksanya bukan Tanto, bukan suaminya Tapi ibu mertuanya sendiri! Perempuan itu sudah selesai memasak pada saat Widuri baru saja melangkahkan kaki ke dapur. Dia sudah menyediakan baju mana yang akan dipakai anaknya pada saat Widuri baru saja selesai menggosok kemeja yang dianggapnya pantas untuk dipakai Tanto hari ini Ibu memilih sepatu putih untuk Tanto, padahal untuk suara alasan yang Widuri sendiri tidak tahu, dia tidak suka laki-laki yang memakai sepatu putih. Ibu masih mengajak Tanto mengobrol pada saat laki-laki itu sudah mengantuk dan ingin menemani istrinya tidur. Ibu bahkan berani masuk ke kamar mereka tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Kalau Widuri mengunci pintu kamarnya, Ibu menggedornya sambil marah-marah. "Maafkan Ibu, Wid." Dengan lembut Tanto melingkarkan lengannya di bahu istrinya. Widuri sedang duduk di depan meja hiasnya. Lebih banyak memandang hampa ke dalam cermin daripada menyisir rambutnya. Tanto membungkuk di belakang tubuhnya. Memeluknya dari belakang sambil menatap wajah Widuri melalui cermin. "Ibu memang begitu. Dari dulu." "Seharusnya dia jadi istrimu juga." Tubuh Widuri membeku dalam pelukan lengan-lengan Tanto. "Bukan cuma ibu." "Jangan bilang begitu, Wid." Kalau dia tidak ingin engkau punya istri, buat apa engkau kawin?" "Sebelum aku mengenalmu, Ibu sudah memilihmu terlebih dulu." "Untuk apa? Untuk jadi nelayanmu?" "Tentu saja untuk istriku.'' Kenyataannya sesudah engkau punya istri pun ibumu masih di sini mengurusmu! "Ibu hanya kuatir engkau belum sehat betul, Wid." "Ibumu menganggapku gila!" "Ah, tidak Jangan punya pikiran yang bukan-bukan. Ibu cuma menganggapmu belum cukup sehat...." Untuk mengurusmu? Sampai kapan? Sampai kapan aku baru dianggap cukup layak untuk mengurus suamiku sendiri? "Widuri... Dengan sabar Tanto melekatkan dagunya di atas rambut istrinya. "Jangan punya pikiran sejelek itu kepada Ibu. Ibu cuma ingin membantu kita." "Ibu akan sangat membantu kita kalau beliau pulang ke rumah Ayah." "Kalau itu yang kauinginkan...." Tanto mengecup pipi istrinya dengan lembut. "Akan kuminta pada Ibu." Diambilnya sisir dari tangan istrinya. Diletakkannya di atas meja. Kemudian kuat tapi lembut, Tanto mendukung Widuri ke atas tempat tidur. Dibaring-kannya perempuan itu di atas tilam merah muda. Gaun malamnya yang hitam, sehitam rambut yang tergerai sebagian di atas bantal merah muda, sebagian lagi di atas bahunya yang putih mulus, tampak demikian eksotis. Membuat Tanto hampir tak dapat menahan lagi gairah kelakiannya yang meledak-ledak di dada. "*?i&gt;; Sudah hampir dua bulan mereka menikah, tetapi Tanto belum pernah memiliki istrinya sendiri. Sebulan Widuri dirawat di rumah sakit. Sebulan yang datang kemudian, hanya kebekuan yang menyelimuti ranjang pengantin mereka. Widuri selalu sudah tidur pada saat Tanto masuk ke kamar mereka. Dan dia tidak berani membangunkan istrinya, meskipun dengan kecupan-kecupan yang penuh keinginan. Ibu selalu makin seru mengajaknya ngobrol setiap kali Tanto bangkit ingin masuk ke kamar tidur bersama Widuri; Sebaliknya bila sore-sore Tanto sudah masuk ke kamar pada saat Widuri ada di dalam, ibunya tid ak segan-segan menyusul ke sana. Menanyakan buku, kunci mobil, majalah, atau apa saja yang dilihatnya di atas meja. Barangkali Ibu tidak ingin mereka punya anak dulu. "Kau yakin penyakit jiwa istrimu tidak menurun pada anak-anakmu?" tanyanya suatu malam. "Ibu, percayalah, Widuri tidak gua!" "Tapi dia pernah dirawat di rumah sakit jiwa! Dokter kan tidak bodoh! Masa orang normal dirawat?!" "Jiwanya hanya terganggu. Tapi dia waras!"' "Lha, apa bedanya? Menyesal sekali aku memilih perempuan seperti itu untukmu, To. Semua salah Ibu. Kau yang jadi korban." "Tapi saya bahagia, Bu. Saya cinta Widuri. Sap berterima kasih pada Ibu karena telah memilih perempuan sebaik itu untuk istri saya." "Lebih baik kau KB dulu, To. Demi masa depanmu. Kalau belum punya anak, semuanya lebih gampang." "Maksud Ibu, gampang untuk bercerai?" "Kau tidak kasihan pada anak-anakmu?" "Widuri sehat, Bu. Saya yakin." "Tapi jangan punya anak dulu, To. Itu lebih baik." "Saya justru sudah kepingin punya anak, Bu." "Kasihan anakmu, punya ibu orang tidak waras." "Ibu! Jangan pernah berkata seperti itu lagi! Widuri istri saya, Bu!" dengus Tanto berang. "Dan aku ibumu! Aku tahu yang paling baik untukmu!" "Apa misalnya, Bu? Menceraikan Widuri?" "Ibu bisa cari perempuan lain yang lebih waras untukmu, Nak." "Tapi saya tidak maui" sahut Tanto tegas. "Saya mencintai Widuri! Dan saya yalrin dia tidak gila!" Widuri bukan baru sekali-dua mendengar mertuanya mencerca dirinya. Maka begitu Tanto mengulurkan tangannya untuk memadamkan lampu di dekat ranjang mereka, Widuri sudah merasa muak. "Pintunya sudah dikunci?" desis Widuri tatkala bibir Tanto mulai menjelajahi lehernya. Sekejap bibir Tanto seakan membeku. "Nanti ibumu masuk." Tanto menghentikan ciumannya. Duduk di tepi ranjang. Dan menghela napas panjang. "Maukah kaulupakan Ibu sebentar?" keluhnya, kecewa. "Selamanya juga mau," sahut Widuri ketus. "Soalnya, ibumu mau tidak melupakanmu?" "Jangan sebenci itu padanya, Wid. Dia ibuku," kata Tanto sambil mengulurkan tangannya untuk membelai-belai tubuh istrinya. "Aku sayang padamu. Tapi aku juga sayang pada Ibu." Widuri diam saja. Sebenarnya dia masih ingin menyahut. Dengan kata-kata yang lebih pedas lagi. Tetapi dia kasihan pada Tanto. Dia lelaki yang baik. Kalau Widuri kesal kepada ibunya, mengapa mesti melukai hati Tanto. Dia tidak melawan tatkala Tanto mengecup lengannya. Bahunya. Lehernya. Bibirnya. Tetapi ketika ta- , ngan suaminya meraba-raba untuk melepaskan gaun tidurnya, Widuri langsung menggeliat dan memiringkan tubuhnya membelakangi Tanto. "Jangan," sergahnya dingin. "Ibumu tidak ingin kita punya anak." Serentak Widuri merasa tangan yang sedang memeluk tubuhnya itu mengejang. Lalu Tanto melepaskan pelukannya dengan kasar. Dia meluncur turun dari atas tempat tidur. Dan keluar sambil membanting pintu. "Kenapa?" Lapat-lapat Widuri mendengar suara ibu Tanto. Tidak ada jawaban. Cuma suara pintu yang terdengar. Kemudian teriakan ibu Tanto, "Kau mau ke mana?" Sepi. Tidak ada suara apa-apa lagi. *** Tiga hari tiga malam Tanto tidak pulang. Terus terang Widuri sudah mulai cemas. Dia bingung ke mana mesti mencari suaminya. Ibu mertuanya sudah pulang ke rumahnya sendiri. Sudah beberapa kali Widuri mencoba menghubunginya melalui telepon. Tetapi perempuan itu selalu tidak ada di rumah. Akhirnya Widuri nekat. Dia pergi ke kantor ayah mertuanya. Dia berharap bisa menemukan Tanto di sana. "Pak Tanto sudah tiga hari tidak masuk," sahut sekretarisnya dengan suara datar. Widuri merasa mereka tidak memperlakukannya sebagai istri direktur. Mereka menganggapnya tidak lebih dari seekor semut yang selalu disingkirkan jika dekat. "Pak Heru ada?" desak Widuri jengkel. "Saya ingin bertemu." "Beliau rapat." "Katakan saya mau bertemu." Sekarang sekretaris itu menatapnya dengan tajam. "Maaf, Pak Heru tidak dapat diganggu." • "Saya menantunya!" geram Widuri sengit. "Maaf, saya hanya menjalankan tugas," sahut sekretaris itu tawar. "Tidak ada perkecualian kalau beliau sedang sibuk" Widuri keluar dari kamar kerja suaminya dengan marah. Kalau Tanto pulang, akan disuruhnya suaminya memecat sekre taris yang tidak sopan ini! Tetapi rupanya yang mesti dipecat bukan cuma sekretaris itu saja. Hampir separo dari karyawan suaminya memberi jawaban yang sama. Pak Tanto tidak ada. Pak Heru tidak bisa diganggu. Jadi terpaksa Widuri menyabar-nyabarkan diri menunggu. Soalnya kalau dia marah-marah, mereka akan menganggap gilanya kumat lagi. Dan kasihan Tanto! Dia akan jadi gunjingan bawahan-bawahannya sendai Hampir pukul satu baru rapat itu selesai. Widuri sudah menunggu hampir tiga jam. Teh di hadapannya sudah lama dingin. "Silakan masuk, Bu," sapa sekretaris yang sudah sama tuanya dengan ayah Tanto ku. Heran, di mana-mana banyak sekretaris cantik. Muda. Menarik. Mengapa memilih yang sudah kropok begini? Make-up yang terlalu tebal pun tidak berhasil menutupi wajahnya yang sudah penyak-penyok. Bedaknya malah jadi seperti dempul yang ketebalan. "Ditunggu Bapak di dalam." Widuri melewati meja sekretaris itu tanpa menoleh lagi. Barangkali ibu Tanto yang memilih hantu itu untuk mendampingi anak dan suaminya. Biar aman. Biar di rumah dan di kantor mereka tidak melihat perbedaan yang terlalu mencolok Sama-sama didampingi hantu berdempul tebal. "Ada apa?" Sikap mertuanya tidak lebih ramah daripada bawahan-bawahannya. Dia tampak begitu sibuknya sehingga memandang muka menantunya pun tidak sempat. "Tanto sudah tiga hari tidak pulang." Widuri berdiri saja di depan meja tulis ayah Tanto. Tidak ada yang menyilakannya duduk, seakan-akan karena repotnya laki-laki itu sampai lupa ada kursi di hadapannya. "Besok Tanto pulang. Tunggu saja di rumah." Sekarang kesabaran Widuri benar-benar sudah habis. Dia merasa terhina. Merasa tidak diperlakukan sebagai istri Tanto. "Selamat siang." Tanpa berkata apa-apa lagi, Widuri meninggalkan kantor itu dan bersumpah tidak akan menginjakkan kakinya lagi di sana. Manusia-manusia di dalam gedung bertingkat itu sudah menjadi mesin semua. Darah mereka sudah diganti dengan minyak pelumas. Hati mereka sudah ditukar dengan besi. Widuri tidak mau menunggu di rumah. Dia me rasa hak asasinya sebagai seorang istri telah dilangkahi Dia pulang ke rumah ibunya. Dan menunggu Tante di sana. Tetapi Tanto baru muncul pada hari pertama ming-gu yang kedua. Kala itu, di luar sang surya sedang bersinar gemilang. Tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Namun badai datang bersama Tanto. Bersama tiga patah kata yang diucapkannya, lima menit setelah dia duduk di ruang tamu rumah Widuri. "Aku akan menceraikanmu." K* Widuri terhenyak di kursinya. Sudah lama dia menularkannya, bukan? Nah, mengapa mesti tersentak mendengarnya? Tanto terlalu sempurna untuk figur seorang suami. Mengapa mesti mencari istri di bangsal rumah sakit jiwa kalau di balairung istana begitu banyak putri yang dapat dipilihnya? Widuri menatap laki-laki yang sedang menundukkan kepala di hadapannya itu. Pandangannya demikian terluka sampai dia tidak berani mengangkat mukanya membalas ratapan Widuri. Jawablah dengan jujur," kata Widuri setenang ikan-ikan yang sedang berenang-renang di dalam akuarium, yang airnya tinggal separo, di sudut sana. "Ini kemauanmu sendiri?" "Ya." Tanto meremas-remas jari-jemarinya dengan gugup. "Keinginanku sendiri." Sejenak keheningan menyelimuti suasana di ruang itu. Widuri-lah yang lebih dulu membuyarkan lamunan mereka.</p> <p>silahkan di minum tehnya, Mas." "Terima kasih." Begitu gugupnya Tanto mengangkat cangkirnya, sampai beberapa tetes teh tumpah ke bajunya. Widuri mengambil secarik kertas tisu dan memberikannya kepada Tanto. "Maaf." Tanto menggagap lagi. Terburu-buru dia meletakkan cangkirnya sampai dasar cangkir itu terlalu keras menghantam piring tatakannya. "Kapan aku harus datang ke pengadilan?" tanya Widuri dengan ketenangan yang mengagumkan. Ketenangan yang membuat Tanto iri. "Oh, tidak usah," sahut Tanto, masih sibuk membersihkan bajunya dari tumpahan teh. "Suratnya akan kukirim kemari. Ayah yang akan mengurus semuanya." Masih beberapa kali lagi Tanto menyapu-nyapu bekas tumpahan teh yang sudah kering itu sebelum dia meletakkan kertas tisu yang sudah diremas-remas ke dalam asbak. Seakan-akan dengan meremas-remas kertas begitu di a dapat meraih ketenangan. "Rumah itu boleh kauambil," katanya tanpa mengangkat mukanya. "Eh, maksudku rumah kita beserta seluruh isinya akan menjadi milik Dik Widuri. Aku akan memberikan tunjangan setiap bulan." "Buat apa?" protes Widuri tersinggung. "Kita belum punya anak. Dan aku masih bisa kerja." "Maaf." Tanto menatap Widuri sekilas sebelum cepat-cepat ditundukkannya kembali kepalanya. Tetapi dalam sedetik itu, Widuri telah dapat membaca kepedihan yang merayap di matanya yang sayu. "Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Aku hanya ingin membuatmu bahagia." Widuri tersenyum pahit. "Dengan menceraikan diriku?" "Kau tidak bahagia menjadi istriku." "Kau tahu apa sebabnya." "Bukan Ibu yang memaksaku menceraikanmu. ngan salah sangka." "Bukan aku pula yang minta cerai." "Ini demi kebaikanmu sendiri, Dik Widuri. Mumpung kau masih suci." "Apa bedanya? Aku tetap seorang janda." "Aku sayang padamu, Widuri," gumam Tanto dengan suara tertekan. "Semua ini kulakukan demi kebaikanmu." "Aku mengerti," sahut Widuri sabar. Tapi kau tidak mengerti, pekik Tanto dalam hati di sepanjang perjalanan pulang. Hidupku tinggal hitungan angka. Umurku tinggal permainan tangan-tangan waktu! *** Lama ibu Widuri di ambang pintu kamar anaknya. Menatap Widuri yang sedang duduk di bingkai jendela. Sudah beberapa hari ini begitu saja kerjanya. Melamun. Melamun. Dan melamun lagi. Widuri tidak menangisi perceraiannya dengan Tanto. Ibunyalah yang menangis. Anak gadisnya yang cantik. Pintar. Menarik Dikagumi.... Ibu begitu bangga pada Widuri. Walaupun tak pernah dikatakannya. Tetapi kini bunga yang dikagumi itu layu sebelum berkembang. Satu per satu pengagumnya rontok. Tidak ada lagi ibu-ibu yang datang bertandang untuk melihat cocok tidaknya gadis itu untuk anaknya. Tak ada lagi pemuda-pemuda yang berebut giliran untuk bertamu. Reputasinya sudah demikian jeleknya. Menyebabkan seorang pemuda masuk penjara. Pemuda yang kedua mati terbunuh. Yang ketiga dikeluarkan dari fakultas. Pernah masuk sanatorium jiwa. Dan sekarang baru dua bulan menikah sudah jadi janda. Diceraikan. Malang sekali nasibmu, Nak, keluh ibu Widuri dalam hati. Air mata tak terasa mengalir lagi membasahi pipinya. Widuri masih duduk di jendela. Memandang ke luar dengan tatapan hampa. Bunga-bunga di bawah jendela kamarnya sudah lama layu. Tak ada lagi gadis manis yang sambil bernyanyi-nyanyi kecil menyiraminya setiap hari. Ranting-rantingnya kering-kerontang dibakar matahari. Daun-daunnya yang sudah menguning satu per satu rontok ke bumi. Beberapa helai yang hijau masih menengadah ke langit. Mengharap kalau-kalau dari lembayung senja di atas sana muncul segumpal awan yang akan mencurahkan setitik hujan. Tapi di tengah kemarau panjang yang menyengat begini, setetes embun pun seakan sirna. Dan makhluk Tuhan pun menanti dengan sia-sia, seperti pengemis yang menadahkan tangannya, menggeliat meregang jiwa. Masih adakah harapan yang dibawa oleh seekor rama-rama, terbang percuma dari sekuntum bu nga layu ke bunga lain yang juga tak bermadu? Seperti itulah hidupku, pikir Widuri lesu. Sesudah,kebahagiaan benalu, kesengsaraan pun seakan tak mau menerima diriku! "Widuri...." " Ada suara yang amat lirih dari ambang pintu. Ketika Widuri menoleh, dia melihat ibunya. Wajahnya telah penuh dengan air mata. "Mengapa begini malang nasibmu, Nak?" ratap Ibu tatkala dia menghambur dan merangkul Widuri sambil menangis. "Apa sebenarnya kesalahanmu?" "Ibu," desis Widuri dengan suara datar. "Tidak semua perempuan yang diceraikan suaminya punya kesalahan. Sudah bertahun-tahun Ibu mengubur diri dengan perasaan bersalah. Kepada Ayah. Kepada kami. Padahal Ibu belum tentu salah! Kalau Ayah menceraikan Ibu karena dia terpikat kepada perempuan jalanan itu, Ayah juga bersalah!" Widuri sendiri heran. Sudah lama dia memendam kata-kata itu di dalam lubuk hatinya sendiri. Sejak Ayah pergi enam tahun yang lalu. Mengapa baru sekarang dia berani mengutarakannya? Mengapa baru hari ini dia mampu membukakan mata ibunya? Enam tahun Ibu memendam sakit hatinya. Enam tahun dia mengubur diri dalam kubangan perasaan bersalak Masih sepert i pendapat ibunya Ibu, neneknya Ibu, neneknya nenek Ibu, tidak ada aib yang lebih memalukan bagi seorang wanita selain diceraikan suaminya Istri yang diceraikan pasti punya salah. Dan suami nya tidak pernah salah meskipun dia yang meninggalkan rumah. Suami yang bekerja keras mencari uang untuk memberi nafkah buat istri dan anak-anaknya, berhak menuntut untuk dilayani sebaik mungkin. Kalau pelayanan istrinya kurang sempurna, kalau istrinya sudah kumal karena sepanjang hari mengurus anak-anak, kalau istrinya sudah lelah dan mengantuk di tempat tidur, kalau istrinya tak dapat bersolek secantik sekretarisnya, kalau istrinya tak dapat mereparasi dirinya, memugar wajahnya supaya pantas mendampingi suami di resepsi kantornya, kalau... kalau... dan masih banyak kalau lagi yang dapat didorong ke depan sebagai alasan meskipun alasan yang paling tepat sebenarnya cuma satu: dia sudah bosan pada istrinya dan ingin mencicipi seketarisnya yang masih segar. Ah, ah, siapa bilang cuma orang-orang tua yang menyalahkan janda cerai yang kurang begini kurang begitu dalam melayani suami? Seorang kolumnis wanita yang terkenal malah menyodorkan berbagai resep yang harus diteguk seorang perempuan kalau dia tidak mau diceraikan suaminya! Seolah-olah laki-laki memang sudah dari sananya begitu, tidak dapat diubah lagi! Jadi kalau perkawinan mereka sakit, yang mesti berobat tentu saja istrinya. Sang kolumnis baru tersentak ketika resep berkalau-kalau sudah komplet di-praktekkannya di rumah, ternyata suaminya asyik berkalau-kalau dengan perempuan lain, yang mungkin termasuk salah seorang pembaca setia resep-resepnya! Dan Widuri tidak perlu menunggu lama untuk membuktikan kepada ibunya, janda cerai tidak selalu diceraikan suaminya karena punya salah.Tiga bulan setelah dia berpisah dengan Tanto pada suatu senja yang temaram, orangtua Tanto datang ke rumah mereka. 8 bab ix "Suruh tunggu saja di depan," kata Widuri yang masih asyik memanggang kue. "Aku sedang repot!" "Gila kau, Mbak! Yang datang mertuamu! Komplet!" belalak Ade kaget. "Masa bodoh! Mertua kek, hantu kek, pokoknya tunggu!" Astaga!" Ade mengurut dada. "Kamu saja deh yang ke depan, Nuk," katanya kepada Menuk. "Bilang Mbak lagi repot." "Huu, enak saja!" gerutu Menuk yang sedang sibuk mengocok telur. "Lihat nggak sih baju berlepotan telur begini? Kalau digoreng juga baju ini jadi telur dadar!" "Kamu saja, Win!" perintah Ade kepada Wiwin, adiknya yang paling kedi. Wiwin sedang duduk bersama si Putih, sama-sama menunggu telur yang tersisa. Bedanya si Putih menunggu telurnya, Wiwin kulitnya. Ptakaryanya yang terbuat dari seribu butir kulit telur sudah hampir selesai. Ibu guru bilang, itu suati karya seni yang hebat. Sebuah masterpiece. Padaha yang dibuatnya cuma mencelup kulit-kulit telur itu ke dalam sisa zat warna, bekas ibunya menyepuh kue. Lalu menumpukkannya sedemikian rupa, sehingga jangankan ibu gum, Wiwin sendiri tidak tahu bentuk apa itu.' Pokoknya jadi. Makin tidak keruan bentuknya, makin tinggi nilai seninya, bukan? Makin seru ibu guru memuji kreasinya! Ah, bedanya karya seni dengan hasil tangan orang gila kadang-kadang memang cuma sehelai tirai tipisi "Bilang sama Ibu, Mbak Wid nggak mau keluar." "Bilang tunggu.'" potong Widuri tanpa mengangkat kepalanya dari loyang kue yang sedang diangkatnya. "Kan bukan mereka saja yang boleh repot.'" "Sini, Win." Ade menggapai adiknya. "Panggil Ibu. Bilang Wiwin mau bicara. Ngerti?" Wiwin mengangguk. Tetapi matanya masih melekat kepada kulit telur di atas meja. Kalau si Putih keburu mengambilnya, kulit telur itu bakai remuk. Si Putih suka sekali memecah-mecahkan kulit telur dan menjilat-jilat sisa telur yang melekat di dalamnya. "Kalau Ibu sudah datang, bilang Mbak Wid lagi repot. Suruh tunggu. Tapi ngomongnya jangan keras-keras ya. Bisik-bisik saja," kata Ade sambil menepuk pantat adiknya. "Sana deh, iekasan!" Wiwin lari ke depan. Dia mengintai dari balik pintu. Ibu sedang duduk mengobrol dengan kedua tamunya. Sebentar-sebentar tamu yang perempuan itu, yang mukanya putih seperti tembok, menyeka air matanya. Kenapa dia menangis? pikir Wiwin bingung.  Dan dia tambah bingung karena sudah dua kali dia memanggil, Ibu tidak menoleh juga. "Bu!" panggilnya lebih keras. Masih dari balik pintu. Nah, sekarang Ibu berpaling. Tapi matanya.... aduh! "Sini, Wiwin mau ngomong." "Ngomong apa?" bentak Ibu tak sabar. "Ibu lagi ada tamu." "Ibu ke sini dulu." Lalu Wiwin melihat lampu kuning menyala di mata Ibu. Dia tahu, kalau lampu itu berubah jadi merah, lengannya pun akan merah dicubit Ibu. Jadi cepat-cepat saja diteriakkannya, "Kata Mbak Wid, dia lagi repot! Tamunya disuruh tunggu!" "Huss! Sana pergi!" geram Ibu gemas. Sekarang bukan cuma mata Ibu saja yang merah, pipinya pun merah. Telinganya juga. Wiwin lari ke belakang kembali dengan ketakutan. "Maaf." Ibu tersenyum kemalu-maiuan kepada kedua tamunya. "Si bungsu itu memang paling bandel." "Ah, tidak apa," sahut ayah Tanto cepat-cepat. Secepat itu pula air mukanya berubah. "Biar saja. Mungkin Widuri repot. Biar kami tunggu." Keterlaluan anak ini, gerutu ibu Widuri dalam hati. Tetapi kepada tamunya dia masih dapat tersenyum sambil bangkit meninggalkan kursinya. "Maaf, saya ambil minuman dulu." "Oh, jangan repot-repot," sela ibu Tanto lirih. "Lho, tidak apa-apa kok. Cuma teh." Bergegas ibu Widuri berjalan ke dapur. Sudah lam rasanya dia tidak pernah lagi berjalan secepat ini Baru juga sampai di ambang pintu dapur, dia sudah membuka mulurnya lebar-lebar, "Widi Lekas dong! Mertuamu menunggu!" "Biar saja," sahut Widuri tenang-tenang. "Saya mau mandi dulu." "Jangan main-main, Wid!" geram Ibu kesal. "Mereka sudah lama lho." Tiga bulan yang lalu saya pernah disuruh tunggu tiga jam di kantor mereka." "Ada soal penting yang mereka ingin bicarakan dengan kau, Wid Soal Tanto." "Waktu itu saya juga ingin menanyakan Tanto. "Sudahlah, buat apa dibalas? Kayak anak kecil saja Ayo keluar! Temui mereka!" "Suruh tunggu saja Saya mau mandi dulu." Dengan tenang Widuri melenggang keluar dari dapur. "Nuk, bikin teh ya" "Kalau tehnya mau dicampur telur sih boleh!" sahut Menuk ketus. Belakangan ini, dia memang jadi judes. Sejak Ras tam dilarang ibunya untuk berpacaran lagi dengan Menuk. Ibu pemuda itu tidak mau anaknya jadi korban seperti lelaki-lelaki yang mencintai Widuri. Dan dia tidak mau anaknya pacaran dengan gadis yang kakaknya pernah masuk sanatorium jiwa. Apalagi bara dua bulan menikah sudah jadi janda. Ih, perempuan apa itu! Dan Menuk merasa dirugikan hanya karena dia kebetulan adik Widuri! Karena tidak tahu harus marah kepada siapa, Menuk jadi lebih sering marah-marah sendiri. Sikapnya jadi seperti nenek nyinyir, meskipun umurnya baru enam belas tahun. *** Belum pernah Tanto mengemudikan mobilnya secepat ini. Sejak dia memperoleh SIM dua puluh tahun yang lalu. Waktu umurnya baru delapan belas tahun. Ibu selalu berpesan supaya kecepatan mobilnya tidak melebih enam puluh kilometer perjam, di mana pun dia mengemudi, mobil apa pun yang dikendalikannya. Dan selama ini Tanto selalu patuh. Kecuali malam ini. Ketika dia ditolak oleh istrinya sendiri. Padahal perempuan itu sudah mutlak menjadi miliknya; "Ibumu tidak ingin kita punya anak." Masih jelas terngiang di telinga Tanto kata-kata Widuri tadi. Ibu memang tidak ingin mereka punya anak, sebelum dia yakin cucunya pasti sehat. "Kau yakin penyakit jiwa istrimu tidak menurun pada anak-anakmu?" Suara Ibu begitu penuh kekuatiran. Tanto tidak tahu yang mana yang lebih dikuatirkan Ibu. Cucu-cucunya sakit. Atau darah keluarga mereka yang tidak sehat lagi. Tidak murni lagi. Tidak bersih lagi. "Lebih baik kau KB dulu, To.... Demi masa depanmu.,, kalau belum punya anak, semuanya lebih gampang...." "Seharusnya dia jadi istrimu juga... bukan cuma ibu!" "Ibu bisa cari perempuan lain yang lebih waras untukmu!" "Kalau dia tidak ingin engkau punya istri, buat apa engkau kawin?" Tanto ingin menutup kedua telinganya rapat-rapat. Dia tidak mau mendengar suara-suara itu lagi. Suara Ibu yang memusuhi Widuri. Suara Widuri yang membenci Ibu. Padahal dia mengasihi mereka. Kedua-duanya! Mengapa, dia tidak dapat memiliki kedua perempuan itu bersama-sama? Mengapa dia mesti memilih satu di antaranya? Mengapa dua orang wanita tid ak dapat hidup bersama, tinggal dengan laki-laki yang sama-sama mereka cintai? Kalau kutabrak batang pohon di depan sana barangkali semua suara ini akan lenyap, pikir Tanto sambil mengatupkan rahangnya rapat-rapat menahan marah. Barangkali Ibu akan menyesal telah membuatku terjepit dalam kesulitan seperti ini. Barangkali Ibu menyesal telah mencampuri urusan rumah tanggaku. Barangkali Widuri juga menyesal telah menolakku tadi! Tapi... inikah penyelesaian? Barangkali mereka menyesal. Kalau aku mati. Kalau tidak? Kalau cacat? Mereka pasti menyesal. Tapi aku juga menyesal! Buat apa hidup kalau cuma jadi beban mereka? Beban orang-orang yang kucintai? Lantas ke mana aku harus pergi? Ke mana harus membuang diri? Mengapa harus membuat Ibu menderita? Ibu melakukan semua ini karena dia menyayangiku. Terlalu sayang malah. Ibu selalu bertindak untuk melindungiku. Dan Widuri... dia juga tidak bersalah. Bagaimana dia bisa menjadi istri yang baik kalau tidak pernah diberi kesempatan? Kalau selalu dicurigai tidak waras? Padahal dia tidak gila. Dia baik. Cantik. Dan... aku sangat mencintainya! Mengapa harus menambah beban penderitaannya? Malam itu Tanto membawa mobilnya pulang ke rumah orangtuanya. Ayah yang masih asyik meng-kalkulasi keuntungan yang akan diterima perusahaan mereka belum tidur. Dia hanya mengangkat mukanya sedikit ketika Tanto masuk. "Mana Ibu?" Suaranya biasa saja. Wajar. Tidak ada rasa kaget. Apalagi heran. Di rumah," sahut Tanto pendek. "Lantas kenapa kau kemari?" "Saya mau tidur disini." Hm." Ayah mengisap cerutunya dalam-dalam dan memalingkan lagi mukanya ke atas kertas-kertas yang berserakan di atas meja. "Bertengkar dengan istrimu?" Tanto menjatuhkan dirinya di sofa empuk di depan TV. 'Ayah," katanya tanpa menoleh. "Hh?" Ayah juga merasa tidak perlu untuk menoleh. Dia cuma mendengus. Takut angka-angka di depannya hilang. "Ajak Ibu pulang besok." "Kenapa? Ribut dengan istrimu?" tanya ayahnya acuh tak acuh. "Biar Ibu menemani Ayah di sini." "Ah, biar saja. Ayah tidak kesepian kok." "Saya yang pusing di sana, Ayah. Dua wanita di Jam satu rumah terlalu merepotkan." *rjfei' "Lelaki apa kau ini!" dengus Ayah keras. "Ikut cam pur urusan perempuan! Urusan kecil itu! Biar saj; mereka ribut! Lelaki urus pekerjaan! Habis perkara Ribut urusan perempuan!" "Mereka tidak ribut, Ayah." "Lalu?" "Saya yang pusing." "Nah, tinggal saja di sini sampai pusingmu hilang!" "Ibu terlalu banyak mencampuri urusan rumah tangga saya." "Bah! Baru juga dua bulan kau kawin, sudah mau lausingkirkan perempuan yang telah 38 taun 9 bulan 10 hari mengurusmu!" Tanto menghela napas. Percuma bicara dengan ayahnya. Kadang-kadang dia iri kepada laki-laki yang mewariskan nama untuknya itu. Ayah tidak pernah memusingkan soal lain kecuali pekerjaan. Barangkali karena itu perusahaannya maju pesat. Buat Ayah, perempuan cuma barang antik penunggu rumah. Istri cuma mesin bibit penghasil anak. Sambil mengambil minuman dingin dari lemari es? I Tanto memutuskan untuk menemui Dokter Hernowo esok pagi. Dia ingin membicarakan soal Widuri. Benarkah penyakit jiwanya dapat diturunkan? ... "Siapa bilang istri Saudara sakit jiwa?" belalak Dokter Hernowo bingung. "Jiwanya memang pernah terganggu karena peristiwa yang mengguncangkan itu. Tapi semua orang sehat bisa mengalaminya. Mengapa harus diributkan? Saya yakin istri Saudara sehat. Saya berani jamin. Sekarang saya tanya, Saudara meragukan kesehatan istri Saudara. Apakah Saudara sendiri yakin seratus persen sehat? Saya tidak percaya!" "Lho?" sekarang giliran Tanto yang terbelalak bingung. "Maksud Dokter... saya yang tidak waras?" "Saudara menganggap istri Saudara sakit. Padahal selama dirawat di sini, kesehatannya selalu diperiksa dan diawasi. Saya tidak akan mengizinkan istri Saudara pulang kalau tidak yakin dia sehat. Nah, Saudara meragukan orang yang sehat, apa bukan Saudara sendiri yang sakit?" Dokter Hernowo tersenyum melihat Tanto terenyak bingung menatapnya. "Sekarang saya mau tanya, kapan yang terakhir Saudara memeriksakan kesehatan Saudara?" Kapan? pikir Tanto bingung. Sudah begitu lama sejak beberapa tahun yang l alu. Ketika dia diduga mengidap kencing batu. Mana sempat dia memeriksakan diri kalau tidak merasa sakit? Dia begitu repot. Pekerjaan banyak. Lagi pula siapa yang mau pergi ke dokter kalau masih sehat? " Kira-kira setahun yang lalu, air seninya memang pernah berwarna merah. Merah seperti air cucian daging. Tanto sendiri sampai kaget. Dia tidak merasa sakit sama sekali. Tidak waktu jalan. Tidak waktu buang air kecil. Tidak juga waktu duduk. Apalagi tidur. Dia merasa sehat dan dapat bekerja seperti biasa. Tanpa minum obat apa-apa, warna merah pada air seninya itu hilang sendui. Esoknya warnanya sudah normal kembali. Kuning seperti biasa. Dan Tanto sudah melupakannya. Dia tidak pergi ke dokter. Buat apa? Dia tidak merasa sakit. "Nah, mengapa tidak pergi memeriksakan diri ke dokter? Anda pucat Lesu. Tapi menginginkan keturunan yang sehat. Lalu menyalahkan istri. Itu tidak adil, kan?" Dan Ibu akan menyalahkan Widuri kalau anak-anak kami lahir tidak sehat, pikir Tanto ketika sedang menunggu hasil pemeriksaan foto rontgen saluran kencingnya. Padahal bukan dia yang salah! *** "Dokter menemukan kanker di dinding kandung kencingnya," isak ibu Tanto di depan Widuri. "Tanto ; sudah dua kali masuk rumah sakit." Dan keangkuhan Widuri hancur berderai seperi kaca dibanting ke atas batu. Kanker? Tanto? Ya, j Tuhan! Mengapa dirinya selalu membawa malapetaka I untuk setiap lelaki yang mencintainya? "Berapa lama lagi?" Widuri menggagap lirih. "Ti- f dak ada harapan, bukan?" I Kalau masih ada harapan, perempuan itu pasti ti- I dak datang kemari untuk menangis di depan menantu I yang dibencinya "Mungkin setahun." Ayah Tanto-iah yang menya- I hut. Karena begitu membuka mulutnya, tangis ibu Tanto telah meledak tak tertahankan lagi. "Mungkin juga enam bulan. Siapa yang tahu? Tanto menolak dioperasi." "Apa bedanya?" ratap ibu Tanto lirih. "Dia akan segera pergi! Tanto! Oh, kenapa bukan aku saja Kenapa mesti dia? Dia masih begitu muda'" "Ya, Allah," desis ibu Widuri terharu. "Tabahlah, Mbak Wur...." "Kami ingin kau kembali ke rumah, Nak Widuri," pinta ayah Tanto getir. "Kalau kau mau kami berlutut untuk memohon kesediaanmu...." "Karena itu Tanto ingin menceraikan saya!" gumam Widuri sambil menggigit bibir menahan tangis. "Dia tidak mau saya melihat kematiannya. Dia ingin sendirian menghadapi maut!" *** "Aku sayang padamu, Widuri." Hanya suara Tanto yang menggema di telinga Widuri sepanjang perjalanan ke rumah mereka. "Kulakukan semua ini untuk kebaikanmu.... Mumpung kau masih suci...." Apa artinya lagi kesucian? Masih sempatkah dia mengulangi suatu malam yang tersia-sia dalam hidup mereka? Masih sempatkah dia mempersembahkan miliknya yang paling berharga kepada suaminya? Masih mampukan lelaki itu mengambil apa yang telah menjadi miliknya? Tanto masih seperti tiga bulan yang lalu, ketika dia meninggalkan Widuri pada suatu malam yang kelam. Setidak-tidaknya, senyum itu masih miliknya. Masirj tersungging di bibirnya yang pucat. "Terima kasih, Widuri," bisiknya dengan penuh kerinduan ketika Widuri membenamkan diri di dalam rangkulan lengan-lengannya. "Terima kasih karena engkau mau datang." "Mas...." Widuri mengangkat mukanya. Menatap dengan pedih ke dalam mata yang bersinar-sinar dalam keharuan «itu. Pedih karena Widuri sadar, sampai saat terakhir, cinta belum datang juga menyentuh hatinya. Yang ada cuma setitik benih kasihan. Benih itu yang kini sedang bertunas. Dan. akan bertumbuh terus dengan suburnya. Untuk setitik iba itulah Widuri akan menyerahkan hidupnya. Miliknya yang paling berharga. Kehormatannya. "Widuri...." Tanto memegang kedua belah pipi Widuri dengan kedua belah telapak tangannya. "Aku sangat mencintaimu...." Widuri memejamkan matanya. Dia tidak mau Tanto melihat kesedihan yang melumuri mata itu. Dia juga tidak mau Tanto membaca pengkhianatan matanya Dia tidak mau Tanto tahu, dia tidak pernah dapat mencintai suaminya, bahkan sampai saat maut hampir memisahkan mereka' Dua tetes air mata merembes melalui celah-celah bulu mata Widuri. Mengalir perlahan-lahan ke pipi. Seperti dua anak sungai kecil yang meliuk-liuk mengalir mencari lautan  kebebasan. Dan Tanto menghapusnya dengan ujung jarinya sendiri. Diciumnya "Aku merasa hidup kembali...," bisik Tanto bersemangat. "Aku tidak percaya umurku tinggal beberapa bulan lagi! Kau percaya, Widuri?" "Mas...." Widuri membuka matanya dan membalas tatapan suaminya dengan sedih. "Maafkan aku...." Tanto tersenyum begitu bahagianya sampai sekujur parasnya yang pucat dan kurus itu seakan-akan bermandikan senyum. "Untuk apa minta maaf, Sayang?" . "Karena telah meninggalkanmu pada saat Mas sangat membutuhkan seorang teman." "Bukan kau yarig meninggalkanku, Widuri." Tanto memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. Didekapnya kepalanya erat-erat ke dadanya. "Aku yang meninggalkanmu. Aku tidak mau engkau ikut menderita." "Aku akan mendampingimu, Mas," desah Widuri tegas. "Tidak ada yang dapat memisahkan kita kecuali maut." "Dan tidak ada yang dapat memutuskan cintaku padamu, Widuri," bisik Tanto mesra. "Tidak juga maut." *** Sebelum kedatangan Widuri, Tanto mutlak menolak operasi. Buat apa? Cepat atau lambat, dia toh bakal mati juga. Operasi atau penyinaran saja ditambah obat-obatan, hasilnya cuma berbeda beberapa bulan. Nah, apa bedanya mati pada bulan Juli ataupun JaDokter sendiri tidak bisa menjamin operasi itu da pat memusnahkan kankernya sama sekali. Paling-pa ling hanya memperpanjang umurnya. Tetapi untuk apa memperpanjang umur beberapa bulan saja kalau tubuhnya mesti dirusak? Kalau kandung kencingnya mesti diangkat. Saluran kencingnya dipotong, dibuang sebagian dan sisanya ditanamkan ke kulit... bermuara di kulit' "Bukan itu saja." Widuri belum pernah melihat Tanto dalam keadaan seperti itu. Matanya merah berair. Suaranya basah tertekan. Hampir sampai ke nada histeris. "Mereka juga terpaksa membuang kelenjar-kelenjar kelaminku! Kau tahu apa artinya itu, Widuri?" Tanto membalikkan tubuhnya menghadap ke dinding. Ditinjunya dinding itu sekeras-kerasnya. "Aku akan kehilangan kejantananku! Aku bukan lagi seorang laki-laki!" Tanto menelungkup ke dinding. Menutupi mukanya dengan lengannya. Dan menangis tersedu-sedu. "Buat apa hidup kalau jadi orang invalid!" Tetapi suatu malam di dalam kamar tidur mereka yang sepi, Widuri berhasil menyentakkan kembali semangat Tanto. Bukan cuma sekadar untuk hidup menunggu panggilan maut, menghitung hari mengeja bidan, tapi untuk memerangi penyakitnya. ,^t. Sebelum ajal berpantang mati. Dia tidak akan menyerah begitu saja Karena dia tahu, di rahim istrinya telah bertumbuh setitik benih miliknya... dan dia akan menunggu... akan berjuang... akan memohon kepada Yang Maha Kuasa, semoga dia masih punya kesempatan untuk melihat benih itu menjelma menjadi manusia! Sebenarnya mula-mula Tanto selalu menolak. Dia tidak mau menggauli Widuri. "Kalau aku meninggalkanmu, aku mau kau tetap sesuci ketika pertama kali aku menjumpaimu," kata Tanto setiap kali Widuri memasrahkan dirinya di depan suaminya. Widuri sudah ikhlas. Dia rela kehilangan miliknya yang paling berharga. Apa artinya lagi kesucian, kalau dia tidak mampu memberikannya kepada suami yang demikian mencintai dan memuja dirinya. Adakah lelaki yang lebih pantas menerimanya selain Tanto? Cintanya memang sudah telanjur diberikannya kepada Dimaz. Tetapi tidak dirinya! Kehormatannya takkan pernah diberikannya kepada lelaki yang telah menjual cintanya untuk membalas dendam! Widuri bersyukur dia belum menyerahkan dirinya kepada Dimaz. Dia bersyukur masih dapat mempersembahkan yang terbaik untuk seorang suami seluhur Tanto. Dan kalau Tanto tetap tidak mau mengambilnya. Widuri-lah yang akan membimbingnya untuk mengambil apa yang telah menjadi rruliknya. Sebelum Tanto kehilangan fungsi seksualnya untuk selama-lamanya! Malam itu tatkala tidak seekor cecak pun berbunyi, tak seekor jangkrik pun bernyanyi, Widuri telah membawa Tanto menelusuri lorong-lorong gelap yang belum pernah dilaluinya, lorong yang akan membawanya ke suatu tempat yang akan menjadikannya seorang suami. Dan malam itu juga, menjelang tengah malam, ada setangkai seruni mekar dengan indahnya. Kelopaknya merekah, mengundang kumbang mengisap madu a puas-puasnya. Meskipun setelah kumbang terb an mengawang tinggi, seruni terkulai mati. Layu menani gugur ke bumi. "Mengapa ini harus terjadi?" keluh Tanto di sela-sela napasnya yang masih memburu. "Mengapa kau-berikan semua itu kepadaku, Widuri? Aku tidak berhak mengambilnya!" Widuri menggeser tubuhnya. Menopangkannya di atas rubuh Tanto yang masih terlentang bersimbah peluh. "Mas...," bisiknya sambil mengecup ujung hidung suaminya dengan lembut. "Kau mengambil apa yang sudah menjadi milikmu.'' "Tapi aku tidak pantas melakukan ini padamu!" Tanto memegang kedua belah pipi Widuri dengan kedua telapak tangannya. Peluh dan air mata yang membasahi pipi istrinya merembes ke pori-pori di telapak tangannya, mengalirkan keharuan dan ke-, hangatan ke seluruh urat-urat nadi di tubuhnya. Menyeruakkan gelombang penyesalan ke jantung Tanto. "Kau masih terlalu muda, Widuri! Kau tidak pantas jadi janda!" "Aku bangga menjadi istrimu, Mas." Dalam gelap Tanto melihat mata yang indah itu berpendar-pendar dalam linangan air mata. "Aku bangga pernah menjadi istrimu...." Tanto mendekapkan wajah Widuri ke dadanya. Dipeluknya tubuh istrinya erat-erat, seakan-akan tidak pernah mau dilepaskannya lagi. "Tuhan telah mengirimkan perempuan sebaik I engkau untuk mendampingiku menghadap ke hadirat-Nya... Jangan pergi lagi, Widuri! Jangan pernah pergi lagi! Aku mencintaimu! Aku amat membutuhkanmu! Aku sudah rela mati, tapi aku ingin mati dalam pang-kuanmu...." "Kau tidak akan mati sebelum melihat anakmu, Mas...," bisik Widuri lirih, lebih bersifat harapan daripada kepastian. "Aku bangga kalau dapat menjadi ibu anakmu...." Sekejap tubuh Tanto mengejang. Membeku dalam dekapan Widuri. Lalu di detik lain, direnggangkannya pelukannya dengan segera. Ditatapnya istrinya dengan tatapan ganjil. "Anak?" desisnya nanar. "Anakmu," bisik Widuri lirih. "Anak kita... benih yang kautaburkan dengan penuh cinta kasih di persemaian rahimku...." "Widuri..." "Kau harus melihatnya, Mas...." "Masih adakah waktu, Widuri? Apakah aku masih punya waktu...?" "Biarkan mereka menolongmu, Mas... biarkan dokter mengoperasi kankermu... biarkan anakmu melihat ayahnya, sekali saja dalam hidupnya!" "Beri saya kesempatan, Tuhan!" bisik Tanto getir. "Berilah saya kesempatan untuk melihat anak saya, untuk mendengar tangisnya!" "Mas..." Widuri merangkul suaminya dan menyelu-supkan wajahnya ke dada laki-laki itu. "Kau mau, bukan? Kau masih menganggap hidupmu berarti?" Tanto membelai rambut istrinya dengan mesra. "Kau tidak menyesal, Widuri? Kau tidak akan pernah mencicipinya lagi... kita tidak akan pernah menikmatinya lagi.,.. Suamimu sudah kehilangan kejantanannya! Dia bukan laki-laki lagi!" "Aku sudah menikmati yang terindah, Mas.... Aku tidak ingin mencicipi yang lebih indah lagi daripada yang baru saja kita nikmati bersama tadi. Biarlah keindahannya abadi... kita kenang sampai mati...." "Widuri... katakanlah apa saja yang kauinginkan...," bisik Tanto getir. Air mara yang sejak tadi menggantung di bulu matanya mulai turun menitik, membentuk bulatan-bulatan kristal yang mengalir menuruni pipinya "Kalau operasi karamu, jangankan cuma kejantananku, jantung pun akan kukorbankan, asal engkau yang minta!" Widuri memejamkan matanya Mengembuskan na-pasnp dalam-dalam. Merasakan udara panas mengalir di rongga hidungnya, menghangati dada Tanto yang melekat di wajahnya "Aku ingin kau hidup, Mas," desahnya lirih. "Untuk mendampingiku membesarkan anakmu, anak kita..." bab x Widuri melangkah hati-hati di sepanjang koridor rumah sakit menuju ke kamar tempat Tanto dirawat. Tumit sepatunya yang tidak terlalu tinggi berdetak-detak di atas lantai yang licin dan mengilat. Kalau di Indonesia saja, Widuri pasti sudah memilih memakai sandal. Dia sedang hamil lima bulan. Tetapi di negeri ini, gembel pun memakai sepatu. Ayah Tanto yang menginginkan anaknya berobat ke luar negeri. Seperti kebanyakan orang-orang berduit lainnya, ayah Tanto juga berpendapat mengirim anak ke luar negeri identik dengan menaikkan gengsi. Kalau tidak untuk studi, berobat pun jadilah. Barangkali juga sisa pemikiran peninggalan zaman Belanda, yang putih itu selalu lebih superior. Kalau  dokter-dokter di negeri sendiri sudah angkat tangan, barangkali dokter-dokter di luar negeri masih bisa bergerilya memerangi kanker. Siapa tahu?! Teknis dan medis mereka jauh lebih unggul, bukan? Padahal Dokter Schwarz, yang matanya sebiru Sungai Donau itu, pagi-pagi sudah mengeluh sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Rambutnya yang mengingatkar Widuri pada rambut-rambut jagung itu digaruknya berkali-kali, padahal tidak ada yang terasa gatal. Terlambat,* desahnya. Tentu saja dalam bahasa Jerman. Untung ada adik ayah Tanto, yang sudah sepuluh tahun bermukim di Wina. Kalau tidak, Widuri pasti terbengong-bengong seperti bebek mendengar guntur. 'Sel-sel kankernya sudah menembus ke lapisan yang paling dalam dari otot-otot kandung kencingnya. Kalau kita mau membuang kankernya, kita harus mengangkat juga kandung kencingnya, saluran kencing dan kelenjar-kelenjar kelaminnya juga." Widuri sudah pernah mendengar diagnosa yang sama dari dokter yang merawat Tanto di Indonesia. Bedanya mereka menegakkan diagnosa itu hanya dalam beberapa jam saja. Dan luluhlah harapan Widuri. Harapan yang diam-diam bertunas di harinya Sejak masih di Indonesia. Sejak mendengar cerita ayah Tanto tentang kehebatan dokter-dokter di negeri ini. Ternyata mereka pun belum punya senjata pemungkas melawan kanker! Padahal harapannya sudah melambung menyentuh langit,... Mengapa harus menangis, pikir Widuri ketika dia memalingkan wajahnya menyembunyikan tangis. Semenjak masih di Indonesia, bukankah engkau sudah j tahu akan begini akhirnya? Bukankah dia dan Tanto sudah pasrah apa pun yang akan terjadi? Mereka akan selalu bersama-sama sampai saat-saat 'r. Meskipun setiap kali melihat perut istrinya, Tanto selalu bertanya-tanya sendiri, masih sempatkah dia melihat anaknya? "Mestikah seorang anak dikandung selama sembilan bulan, Wid?" Widuri teringat percakapannya dengan Tanto pada malam terakhir sebelum dia masuk rumah sakit. Mereka sedang berbaring di atas. jok yang dihamparkan di lantai. Paman Tanto tidak punya kamar tamu. Apartemennya di Wina tidak terlalu besar. Terpaksa dia menyulap kamar kerjanya menjadi kamar tamu. "Tidak bisakah bayi kita lahir lebih cepat?" "Kalau prematur nanti tidak kuat, Mas." "Kalau dia lahir cukup bulan, aku kuatir akulah yang tidak kuat menunggunya, Wid...." "Jangan ngomong begitu ah, Mas!" protes Widuri. Perasaan tidak enak menyentak-nyentak dadanya Me-. timbulkan kepedihan yang menggigit. "Kita kemari kan justru untuk berobat!" "Aku takut, Wid...." Dalam gelap, suara Tanto begitu berbeda. Dalam dan tertekan. Widuri sampai tidak mengenali lagi suara suaminya sendiri. Dia seakan-akan sedang berbaring bersama orang lain. Seorang laki-laki asing yang tidak dikenalnya! Tanto yang selalu tenang. Selalu sabar. Yang tak pernah beriak seperti sebuah telaga yang dalam. Kini dia ketakutan... takut menghitung hari kematiannya sendiri! "Mas...." Widuri membelai-belai kepala Tanto dengan lembut. "Ingadah, Mas... di atas sana masih ada Tuhan.... Di tanganNyalah selembar nyawa kita bergantung." Tanto membenamkan kepalanya di dada Widur Dalam saat-saat seperti ini, dia memerlukan seoraa ibu. Membutuhkan tempat yang hangat untuk berlin dung. Dan Widuri tahu apa yang harus dilakukan nya. Pada saat suaminya membutuhkan seorang ibu; Widuri tidak akan bertindak sebagai seorang istri. Dia menyadari betapa dekatnya Tanto pada ibunya. Sering Widuri bertanya-tanya dalam hatinya sendiri, tidakkah salah membiarkan Tanto jauh dari ibunya pada saat-saat terakhir? Tidakkah keliru memisahkan mereka justru pada saat Tanto sangat membutuhkan kasih sayang dan perlindungan ibunya? Tidak, bantah Widuri dalam hatinya sendiri, ketika dia sedang membelai-belai kepala Tanto yang tersungkur lemah dalam pelukannya. Akan kubuktikan kepada perempuan itu, apa saja yang dapat chlakukan-nya, aku pun mampu melakukannya.' Aku bisa menjadi istri Tanto, sekaligus ibunya! Aku akan merawatnya, mendampinginya, mencintainya... masih dapatkah aku mencintainya? Masih sempatkah dia menerima cintaku? Malam itu Tanto gagal membawanya meraih pelangi yang meronai langit perkawinan mereka. Ber kali-kali dia mencoba merentangkan sayapnya. Tetapi cuma kelepak sayap yang sia-sia dari seekor burung yang gagal mengarungi angkasa. "Aku gagal menjadi suamimu, Wid...." Kepala Tanto terkulai lemah dalam pelukan Widuri. Air mata I dan peluh berbaur melumuri wajahnya. "Padahal ini f kesempatanku yang terakhir untuk menjadi seorang laki-laki!" "Kau cuma lelah, Mas," bisik Widuri sambil membelai kepala suaminya dengan iba. Dilayangkannya pandangannya ke luar melalui jendela kaca yang belum tertutup tirainya. Ada sepotong langit hitam kelam di luar sana. "Jiwamu amat tertekan...." "Besok mereka akan membantaiku, Widuri." Tangis Tanto meledak tak tertahankan lagi. "Besok mereka akan mengebiri diriku." "Jangan berkata begitu, Mas..." "Besok aku bukan laki-laki lagi!" "Mas..." Widuri memeluk suaminya erat-erat. Seakan-akan hendak menyalurkan ketabahannya ke hati Tanto. Dia ingin mengambil sebagian beban penderitaan yang memberati jiwa suaminya. Widuri ingin membagi beban itu dan menanggungnya bersama-sama. "Jangan sakiti lagi hatimu, Mas. Ingat anakmu...." Tak sampai hati Widuri melihat laki-laki yang sudah hancur itu. Yang sedang menangis dalam pelukannya. Dipalingkannya wajahnya ke jendela. Di luar langit tambah kelam. Dingin pun mulai menusuk tulang. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh mereka. Dibiarkannya Tanto menenggelamkan dirinya dalam dekapannya. Biarlah dia merasa hangat di sana. Kalau masih ada kehangatan di tengah pa-dang salju penderitaan mereka. Widuri ingin memberikan segala-segalanya kepada Tanto. Hidupnya. Pengabdiannya. Cintanya... kalau masih ada cinta yang tersisa.... Sudah lama dia tidak pernah memikirkan diriny; sendiri. Seakan-akan dia telah lebur bersama penderitaan Tanto. Tak ada lagi kepuasan, betapapun indahnya Tanto mencoba mengalunkan simfoni cintanya. Widuri tak pernah turut terbuai dalam melodi yang dipersembahkan suaminya itu. Bahkan setelah mereka tidak berdua lagi. Setelah hadir manusia ketiga di tengah-tengah mereka. Widuri sering merasa dirinya masih bukan milik Tanto.... Berapa malam dalam hidupnya dia masih memikirkan laki-laki itu... memimpikan lelaki yang telah merenggut cintanya dan menenggelamkannya ke samudra dendam? "Aha, Nyonya Sutanto!" sapa Dokter Schwarz di pintu lift. "Selamat siang!" "Selamat siang." Cepat-cepat Widuri menghapus setitik air mata yang sudah mengintip di sudut matanya. Dia sudah sampai di lantai enam, tempat Tanto dirawat. Dan seperti biasa, dia tidak mau Tanto melihat air matanya, i Seorang perawat bergegas mendorong seorang pasien di atas brankar. Widuri cepat-cepat menepi. Sedangkan Dokter Schwarz membantu menahan pintu lift agar tetap terbuka. Perawat itu mengucapkan sepatah-dua patah kata yang tidak dimengerti Widuri kepada Dokter Schwarz, sambil mendorong brankarnya masuk ke dalam lift. Dia kelihatan begitu tergesa-gesa. Barangkali keadaan pasiennya sudah amat payah. Dan dia membutuhkan pertolongan segera. Pasien itu sendiri sudah tidak bergerak-gerak sama sekali. Matanya terpejam rapat. Mukanya pucat pasi. Ketika sedang menelusuri kamar demi kamar menuju ke kamar Tanto, diam-diam Widuri membayangkan seandainya Tanto yang didorong di atas brankar itu... suatu hari nanti... mungkinkah? O, dia hampir tidak berani berpikir ke sana! Sudah dua bulan lebih Tanto dirawat di sini. Operasinya sendiri menurut Dokter Schwarz berjalan lancar. Beberapa hari lagi dia sudah boleh pulang. Sampai sebegitu jauh belum ada tanda-tanda metastasis di organ-organ lain di dalam tubuhnya. Untuk sementara, paling tidak mereka boleh menarik napas lega. Yang mesti dilakukan tim dokter di sana sekarang hanyalah mengawasi kalau-kalau ada invasi anak sebar di organ-organ yang paling sering terkena, misalnya kelenjar getah bening dan hati. Tetapi pengobatan yang paling sulit barangkali mengobati jiwa Tanto. Membangkitkan kembali gairahnya untuk hidup. Membiasakan diri hidup tanpa aktivitas seksual. Dan melatih kebiasaan-kebiasaan baru, seperti membuang air kecil melalui kulit. Tidak melalui saluran-saluran alam yang telah terbentuk semenjak dia masih di dalam perut ibunya. "Aku ingin  mati saja." Entah sudah berapa puluh kali Widuri mendengar Tanto mengerang seperti itu setelah operasinya selesai. "Buat apa hidup kalau mesti jadi manusia tidak utuh begini!" "Mas..." hibur Widuri, tabah seperti biasa. Alangkah sulitnya menabahkan diri seperti ini! Siapa bilang cuma si penderita yang membutuhkan ketabahan? Istrinya hams lebih tabah lagi! "Peganglah perutku, Mas..." Widuri mengambil tangan suaminya dan membawanya ke perutnya yang mulai membukit "Rasakanlah denyut jantung anakmu...." Tentu saja Tanto belum dapat merasakan denyut jantung bayinya. Geraknya saja belum terasa. Tetapi melekatkan tangannya di perut istrinya, selalu menimbulkan ketabahan baru bagi Tanto. Merasa ada makhluk kecil yang mewarisi darahnya melahirkan semangat baru, menggugah keinginan Tanto untuk tetap bertahan dan hidup. Paling tidak, sampai anaknya lahir. Sampai dia dapat melihat seperti siapa bayinya nanti. Sampai dia dapat mendengar seperti apa tangisnya.... Hati-hati Widuri mendorong pintu kamar tempat Tanto dirawat Tanto tidak tidur. Dia sedang berbaring telentang. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan yang cuma dia sendiri yang dapat mengerti artinya. Tanto tidak menoleh ke pintu ketika Widuri masuk. Tidak seperti dulu, tatkala dia baru saja dirawat di sini. Dia selalu menunggu kedatangan Widuri. Dia selalu tersenyum gembira setiap kali Widuri muncul. Sekarang Wkluri-lah yang selalu harus menegur lebih dulu. Tanto seakan-akan tidak berada di sini lagi. Cuma badannya saja yang berada di kamar ini. Sukmanya sudah melayang entah ke mana. Begitu tiba, Widuri langsung merapat ke sisi tempat tidur. Membungkuk untuk mengecup dahi suaminya. "Bagaimana, Mas?" bisiknya seperti biasa. Widuri tidak tahu mesti menyapa bagaimana lagi. Rasanya sudah habis perbendaharaan kata-katanya untuk menghibur Tanto. Menabahkan hatinya. Membujuknya untuk tetap hidup. Dan seperti biasa juga, Tanto tidak menjawab. Menoleh saja tidak. "Tidak lama lagi Mas boleh pulang." Sepi. Tidak ada reaksi. Widuri merasa seolah-olah cuma dia sendiri yang berada di kamar itu. "Kata Dokter Schwarz, kita sudah boleh kembali ke Indonesia. Kau tidak gembira, Mas? Tidak kangen sama Ibu?" "Aku tidak mau menemui Ibu dalam keadaan seperti ini." Tanto memalingkan wajahnya ke jendela. Suaranya demikian pahit. Demikian tertekan. "Ibu bisa shock melihat bagaimana caranya aku kencing sekarang..." "Ibu tidak perlu melihat," potong Widuri tegas. "Selama ini dia juga tidak pernah melihat, kan? Tidak sejak engkau bukan anak kecil lagi. Biar aku saja yang mengurusmu. Aku istrimu." "Istri?" Suara Tanto melengking hampir sampai ke nada histeris. Widuri sampai kaget. Dan sudah bersiap-siap menekan bel memanggil suster. "Istrikah namanya kalau aku tidak bisa jadi suamimu lagi?" "Mas! Jangan ngomong begitu! Istri toh bukan cuma petempuan yang kaugauli di tempat tidur! Istri adalah belahan jiwamu, temanmu, perawatmu, ibu anakmu!" "Tapi istri juga bukan cuma seorang wanita yanj hams menemani seonggok daging di tempat tidur Bukan cuma perawat yang mesti mengurus sesosok bangkai yang masih bernapas!" "Mas! Jangan sakiti hatiku lagi, Mas!" "Aku benci diriku, Widuri! Aku benci kenapa tidak mati saja' Aku benci kenapa harus menyiksa perempuan sebaik engkau!" "Kau ingin melihat anak kita kan, Mas? Nah, berhentilah menghina, dirimu! Di sini, di dalam rahimku, ada seorang manusia kecil yang sedang menunggu saat untuk melihat lelaki hebat yang pernah mencipta-kannya'" Mara Tanto yang tengah menatap pahit ke luar jendela berkilat-kilat digenangi air mata. Sekarang dia memang menjadi lebih cepat terharu. Mudah menangis. Widuri hampir tidak mengenali lagi laki-laki yang menjadi suaminya ini. Lelaki yang suatu waktu dulu demikian sabar. Dernikian rapi. Demikian lemah-lembut. Sekarang dia cuma tinggal kerangka berbalut kulit. Badannya habis. Mukanya tinggal tengkorak yang masih punya sepasang mara dan beberapa helai rambut. "Berapa lama lagi, Widuri? Masih adakah waktu untukku? Masih sempatkah aku menunggu sampai anak kita lahir?" "Mas...." Widuri membelai-belai wajah suaminya dengan getir. Alangkah c epatnya manusia berubah! Alangkah kurusnya wajah suaminya sekarang. Widuri seakan-akan bukan sedang membelai-belai muka manusia. Dia seperti sedang mengelus-elus tengkorak. Di mana-mana jarinya bertemu tulang. "Waktu seperti samudra yang harus kita layari, Mas. Semua kapal sedang mengarungi samudra itu akan berlabuh kembali di pelabuhan tempat dari mana dia datang. Mengapa takut mati, Mas? Setiap hari, semua manusia sedang berbondong-bondong menuju ke kuburannya masing-masing!" "Aku tidak takut mati, Wid! Aku takut meninggalkanmu! Aku takut tidak keburu melihat anak kita!" "Berdoalah, Mas...." Dengan lesu Widuri melangkah ke jendela. Tegak di muka jendela yang terbuka lebar. Dan menatap ke bawah. Ke lapangan rumput yang amat luas, yang terhampar bagai permadani hijau di bawah sana. "Kita masih punya Tuhan yang berkuasa atas hidup dan mari. Setiap desah napas kita milik Tuhan. Mintalah kepada-Nya, Mas." Di luar matahari pagi sedang bersinar dengan cemerlang. Langit demikian bersih. Demikian biru. Tidak ada mendung menodainya Awan putih melayang-layang bagai kapas. Memayungi deretan rumah-rumah bertingkat bagai kotak bersusun di kejauhan sana, dilatarbelakangi oleh bukit kehijau-hijauan yang membangkitkan kerinduan kepada tanah air di hati Widuri. Akan seperti ini teruskah hidupnya? Mendampingi seorang suami yang sudah luluh, lebur dalam keputus-asaan? Sungguhkah begini gelap hidup yang ditakdirkan untuknya? Benarkah sudah tidak ada setitik harapan. Bagaimanapun kecilnya untuk keluar dari kubangan duka ini? Widuri menunggu sampai lampu hijau untuk menyeberang menyala. Baru dia mengikuti arus orang-orang yang melangkah ke seberang. Padahal kalau dia mau lari sejak tadi, mobil yang paling depan saja masih jauh. Di Indonesia Widuri sudah terlatih untuk menyeberang di jalan yang paling ramai sekalipun. Meskipun sudah disediakan jembatan penyeberangan yang lebih berfungsi sebagai tempat menempelkan iklan. Di sini tidak berani. Takut dimarahi tidak disiplin. Nanti dicap, dasar orang Asia! Wah, di negeri orang, dia malah terangsang untuk membuktikan bahwa orang Indonesia juga bisa berdisiplin, asal mau. "Widuri!" teriak seorang pemuda berkulit sawo matang yang ikut menyeberang dari sisi yang berlawanan. Sekejap Widuri terenyak di tengah jalan. Apalagi setelah pemuda itu tegak tepat di hadapannya. Rasanya dia sampai lupa di mana dia berada. Pemuda itulah yang menariknya ke tepi. Lampu penyeberangan yang telah berubah menjadi merah. Orang-orang yang menyeberang telah sampai ke tepi jalan. Dan mobil-mobil telah meraung, siap menerjang apa saja yang menghalangi jalan mereka. 'Widuri...." Ketika pemuda itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahu Widuri, dia baru sadar. Dia tidak berrnimpi Pemuda itu benar-benar berdiri di hadapannya sekarang. wajahnya masih setampan dulu. Tubuhnya memang lebih kurus. Tetapi tatapannya masih tetap miliknya. Tatapan yang hampir setiap malam mengunjungi Widuri dalam mimpinya.... Dan Widuri mundur selangkah. Hanya supaya ujung jari pemuda itu tidak menyentuh bahunya. "Widuri!" Dimaz masih mencoba merengkuh gadis yang dirindukannya itu ke dalam pelukannya. Tetapi lengannya yang terulur membeku di udara ketika tiba-tiba matanya beradu dengan perut Widuri yang menonjol di balik gaunnya. "Widuri...?" Tatapannya sama terkejutnya dengan suaranya. "Kau...?" Widuri tidak menunggu sampai matanya yang berlumur kerinduan mengkhianati dirinya. Dia harus menyingkir. Secepat-cepatnya sebelum Dimaz menyadari, matanya tidak dapat berdusta. Sebelum Dimaz melihat air mata yang tiba-tiba saja sudah menggenangi matanya. Sebelum dia menangis di sini! Bergegas Widuri memutar tubuhnya. Dan memacu langkahnya tanpa mengacuhkan Dimaz yang sedang mengejar sambil memanggil-manggil namanya. Sebuah trem mendatangi dari arah depan. Dan berhenti tidak jauh dari tempatnya. Widuri tidak sempat lagi membaca nomornya. Lagi pula dia tidak peduli. Dia tidak peduli ke mana trem itu akan pergi. Yang penting, dia harus menyingkir secepat-cepatnya. Menyingkir dari Dimaz! Tetapi Dimaz tidak mau melepaskannya lagi. Inilah kesempatan pertama dia  dapat menemui Widuri setelah peristiwa naas di depan rumahnya itu. Hampir setahun mereka telah berpisah. Hampir setahun Dimaz tidak pernah lagi melihat wajah Widuri. Sekarang tiba-tiba saja gadis yang siang-malam dirindukannya itu melintas di hadapannya! Dan dia tidak mau melepaskannya lagi, tidak sekalipun dia mesti melompat ke dalam trem yang pintunya hampir tertutup! Widuri sudah duduk di baris ketiga dekat jendela. Dimaz menerjang tempat duduk di sampingnya, meskipun seorang laki-laki kulit putih suplah hampir melekatkan pantarnya di sana. "Maaf," kata Dimaz dalam bahasa Jerman yang tasik "Berikan kesempatan kepada kami." Kemudian tanpa memedulikan gerutuan laki-laki itu, Dimaz duduk di sebelah Widuri. Dan langsung menggenggam tangannya. Dengan sengit Widuri menarik tangannya lepas dari genggaman Dimaz. Tetapi Dimaz meraihnya sekali lagi dan tidak mau melepaskannya meskipun Widuri berusaha melepaskan tangannya. "Widuri...." Dimaz meremas tangan yang halus itu dengan penuh kerinduan. "Aku rindu padamu." Widuri tidak menjawab. Dia bahkan tidak memalingkan wajahnya dari jendela. Air mata sudah menyumbat lehernya. Kalau dia membuka mulut, dia pasti tidak dapat menyembunyikan tangisnya lagi. Dia benci lelaki ini. Dia benci! Tapi sekaligus rindu. Dia benci kepada air matanya. Dia benci dirinya. Mengapa menangis pada saat dia seharusnya terlihat gagah dalam perisai dendam? Di mana ditaruhnya kebencian yang hendak diperlihatkannya kepada laki-laki yang dibencinya ini? Di mana dendam yang telah membenamkannya ke dalam kubangan duka yang dibuatnya sendiri? Widuri merasa lengan Dimaz merangkul bahunya dengan lembut. Dan dia tidak berdaya menyingkirkan lengan itu meskipun dia ingin. Sekujur tubuhnya malah bergetar memberi respons. Begitu hangat dan bergairah seperti menyambut pahlawannya yang sudah sekian lama tidak pulang! Sungguh memalukan! Widuri tidak berdaya menaklukkan derai-derai kerinduan yang menggetarkan helai-helai rambut di seluruh tubuhnya... dan Dimaz merasa bahu Widuri bergetar halus dalam dekapan tangannya. Makin lama makin terasa bahu yang lembut itu naik-turun diayun tangis. Dimaz tidak perlu menunggu lama untuk meraih kepala Widuri ke dalam pelukannya. Kali ini tanpa perlawanan. Kepala Widuri terkulai lemah di bahu Dimaz. Dan ketika Dimaz menunduk untuk menciumnya, dia melihat muka Widuri telah basah berlinang air mata. Tidak ada lagi kata-kata yang terurai. Karena memang tidak perlu lagi. Dalam isak Widuri dan dalam belaian jari-jemari Dimaz, semuanya telah terungkap. Hujan turun rintik-rintik membasahi kota musik Wina ketika Dimaz merangkul Widuri menelusuri jikn-jalan sempit yang diapit bangunan-bangunan tua yang menjulang tinggi. Angin yang amat kencang ber-kesiur dingin. Menerpa muka dan tubuh Widuri yang menggigil dalam pelukan Dimaz. Telinganya mulai terasa sakit. Tidak tahan didera angin yang amat kencang bertiup. Tetapi di dalam rangkulan lengan-lengan Dimaz, ada secercah perasaan lain, merayap lembut tapi hangat mengisi rongga-rongga yang kosong di dadanya. O, kalau boleh memilih, jangankan cuma menerobos gerimis seperti ini, menerjang badai pun Widuri sanggup asal bersama Dimaz! Betapa lama dia telah menunggu saat-saat seperti ini. Betapa sakitnya merindukan orang yang dicintainya. Betapa pedih membunuh kerinduannya dalam kubangan dendam yang digalinya sendiri! Di depan stasiun kereta api, ada sebuah restoran Indonesia. Ke sanalah Dimaz mengajak Widuri masuk. "Kita makan sup dulu," katanya sambil mendorong pintu yang bercat merah dan kuning itu. "Kau perlu sesuatu untuk menghangatkan perutmu. Nanti sakit." Ah, hanya Widuri yang dapat merasakan, betapa indahnya debar jantung ini kalau sedang bergetar mendengar nada kuatir dari laki-laki yang dicintainya dengan segenap jiwanya.... Seorang laki-laki kurus tinggi berkacamata putih menyambut mereka dengan ramah. Dia menyapa dalam bahasa Jerman yang fasih. Tetapi ketika diketahuinya mereka orang Indonesia, dia langsung mengganti saluran. Dan siaran RRI mengumandang di udara. "Silakan duduk," katanya sambil tersenyum gem bira, seakan-akan tiba-tiba saja di a sudah kembali berada di Pasar Senen. "Makan apa?" Istrinya yang manis, yang sedang tergesa-gesa menggendong anak mereka masuk, tesenyum ramah ke arah Widuri. "Kedinginan?" sapanya dengan perhatian yang demikian besar, yang sudah sekian lama tidak ditemui Widuri sejak meninggalkan tanah air. "Minum teh panas dulu, ya?" "Tetima kasih," sahut Widuri. dengan gigi gemeletuk. Diam-diam dia masih sempat bersyukur kepada Tuhan dianugerahi tanah air yang bermandikan cahaya matahari. /Tidak seperti di sini, matahari yang bersinar cerah tadi pagi bisa dengan genitnya menghilang kalau Batara Bayu melenggang datang. "Tolong sup yang panas, ya," pinta Dimaz sambil membantu Widuri membuka mantelnya. "Sup apa saja, asal panas." Kemudian dengan lembut Dimaz mendorong Widuri duduk. Baru saja Widuri menyandarkan punggungnya, istri pemilik restoran itu telah kembali dengan secangkir teh panas yang masih mengepulkan asap. "Silakan diminum tehnya" katanya sambil meletakkan cangkir itu di atas meja di depan Widuri. Ketika Widuri mengulurkan tangannya untuk meraih cangkir itu, Dimaz mendahului mengambilnya dan menyorongkannya ke bibir Widuri. Ada kehangatan mengalir melalui kerongkongan Widuri tatkala teh panas yang harum itu mengaliri liku-liku saluran pencernaannya yang membeku kedinginan. "Lebih enak?" bisik Dimaz yang masih membungkuk di dekatnya. Widuri cuma mengangguk, karena cuma itu memang yang bisa dilakukannya dalam keadaan seperti ini. Sejak tadi hanya itu yang dilaJkukannya. Mengangguk. Menggeleng. Dan mengangguk lagi. Mata istri pemilik restoran yang besar dan bulat itu menatap Widuri dengan penuh perhatian. Barangkali dia mulai bertanya-tanya dalam hati, bisukah perempuan ini? Baru ketika Widuri menoleh dan mata mereka beradu sekejap, senyumnya merekah lagi. Begitu polos dan kekanak-kanakan. "Baru datang?" tanyanya cerah mes,kipun restorannya kosong melompong sejak tadi. Padahal mereka mesti bayar pajak. Widuri mengangguk. Ekor matanya diam-diam mengikuti Dimaz yang sudah duduk di hadapannya. Alangkah gagahnya dia dalam pullover biru tua. Dadanya yang bidang, perawakannya yang tinggi, otot-ototnya yang menyembul bangga... ah, alangkah berbeda dengan... tiba-tiba saja Widuri teringat pada sosok kerangka berbalut kulit yang terhampar putus asa.... Ya, Tuhan, pekiknya kaget dalam hati. Tidak boleh! Tidak pantas membanding-bandingkan suaminya sendiri dengan laki-laki lain, siapa pun laki-laki itu! "Dari Jakarta?" "Ya." Dimaz-lah yang menyahut. "Supnya belum selesai?" "Saya lihat sebentar." Dengan lincah perempuan itu masuk ke dapur menyusul suaminya. Meninggalkan Dimaz berdua saja dengan Widuri. Sekejap Dimaz menatap Widuri yang merunduk redup di hadapannya. Ketika dia tidak mengangkat wajahnya juga, diraihnya tangan yang terkulai lemah di atas meja itu. Diremasnya dengan lembut. "Lihat kemari, Widuri," pinta Dimaz halus. Perlahan-lahan Widuri mengangkat wajahnya. Dan untuk pertama kalinya, mata mereka beradu. Begitu banyak yang dapat dibaca dalam tatapan yang sekejap itu. Begitu banyak yang ingin diungkapkannya. Begitu banyak yang tidak mungkin diutarakannya dengan kata-kata. "Aku rindu padamu," desah Dimaz separo mengeluh. Widuri menunduk lagi. Menatap sisa teh yang tinggal separo di dalam cangkirnya. O, kalau saja dia juga boleh berterus terang! "Kau ke sini dengan suamimu?" Sekali lagi Widuri mengangguk bisu. "Tugas?" "Berobat." Sejenak tangan Dimaz yang sedang meremas-remas jari-jemari Widuri mengejang. "Kau...?" Matanya membelalak cemas. "Suamiku." "Sakit apa?" "Kanker." Sekarang Dimaz benar-benar terenyak. Tangan Widuri terlepas dengan sendirinya dari genggamannya. Dan Widuri menelungkup di atas meja. Menumpahkan air matanya di atas taplak batik penutup meja. Sudah lama Widuri tidak bisa menangis sepuas ini. Di depan Tanto, dia selalu ingin terlihat tabah. Ha nya titik-titik air mata yang kadang-kadang runtui tak tertahankan, mengalir diam-diam ke pipinya. Di depan mata Tanto, paling-paling senyum getir yang meronai bibirnya. Tetapi di depan Dimaz, Widuri seakan-akan menemukan tempat untuk menumpahkan perasaannya. Untuk beber apa saat cuma isak tangis Widuri yang tertahan-tahan yang mengisi kesunyian di tempat itu. Dimaz tertegun bisu, mengawasi bahu Widuri yang naik-turun diguncang tangis. Si pemilik restoran yang sudah keluar membawa dua mangkuk sup panas, cepat-cepat masuk kembali berpura-pura mengambil sambal. Padahal botol sambal di atas meja masih separo penuh. *** Malam telah turun menyapa senja ketika Dimaz membawa Widuri menikmati musik-musik Waltz karya komponis Johan Strauss di Scadtpark. Suasana yang romantis, alunan musik yang merdu, rangkulan lengan Dimaz yang hangat di bahunya, sekejap membuat Widuri melupakan kesedihannya. Dia lupa untuk apa dia datang ke kota tua ini. J Mengapa dia berada di sini. Dan dengan siapa dia datang. Dua bulan lebih dia telah bermukim di i Wina. Tetapi yang dikenalnya cuma apartemen paman Tanto dan rumah sakit tempat Tanto dirawat. Dimaz-lah yang mengajaknya melihat-lihat ke- f indahan kota musik ini. Dimaz pula yang menyadar- i kannya, masih banyak keindahan yang dapat dinikmati di sela-sela hidupnya yang kelam. Mengapa harus menghabiskan umur berkalang kesedihan menanti ajal? Mengapa tidak membawa Tanto melihat-lihat apa yang masih dapat dilihat oleh matanya dan dinikmati oleh hatinya? Mengapa tidak? pikir Widuri ketika dia sedang berbaring dengan gelisah di kamarnya yang gelap di apartemen paman Tanto. Sepotong langit hitam membayang di luar jendela. Menambah kalut pikirannya. Mengapa tidak membawa Tanto menikmati keindahan sisa-sisa peninggalan masa lalu di Eropa daripada membiarkannya berkubur di atas ranjang ke-putusasaan di rumah sakit? Siapa tahu tangan suci Paus di Vatikan dapat memberkati mereka kalau dia membawa Tanto ke Gereja Agung St Peter? Barangkah Perawan Suci Maria menaruh belas kasihan kepada mereka, sudi memohonkan kesembuhan bagi Tanto kalau mereka mengunjungi tempat sucinya di Lourdes? Tiba-tiba saja Widuri teringat kepada Suster Clara. Kepada wejangannya dalam pelajaran agama waktu dia masih di SMA dulu. Kalau Tuhan kelihatannya seperti belum mau menghampirimu, mengapa tidak mencoba untuk menghampiri-Nya? Di tempat-tempat yang disucikan, tempat-tempat yang membuat manusia merasa berada lebih dekat kepada Tuhan, barangkali Tanto dapat memperoleh kembali ketabahan jiwa dan kekuatan imannya. Siapa tahu ada mukjizat yang yang diantarkan melalui titik-titik air suci di Gua Perawan Maria di Lourdes? Widuri sudah sering mendengar cerita tentang mukjizat-mukjizat yang hampir-hampir tidak tercema oleh otak manusia. Penderita-penderita yang sudah tidak ada harapan iagi berangsur sembuh kalau dibawa ke sana. Apa pun penyakitnya. Dan Widuri telah bertekad untuk membawa Tanto ke tempat itu. Dia harus mencoba. Dia harus memberikan segala apa yang dapat diberikannya kepada suaminya. Dia harus pergi. Lagi pula... dia harus meninggalkan Wina."Secepatnya. Sebelum puing-puing cinta yang membara mulai berkobar lagi.... Widuri ingat bagaimana cara Dimaz memeluknya. Bagaimana cara pemuda itu memandangnya. Dan dia Itakut. Takut kaJau-kalau seperti itu pulalah tatapan matanya... seperti itu pulalah caranya membalas rangkulan Dimaz.... Ah... Dia sudah benuami. Dan Widuri tidak ingin mengkhianati suaminya. Apalagi dalam keadaan seperti ini. Sakit Seorang diri. Kesepian. Dan putus asa. Meskipun Widuri tidak pernah dapat mencintai Tanto, dia tidak mau meninggalkannya. Tidak meskipun untuk satu-satunya lelaki yang pernah dicintainya. Widuri ingat bagaimana cara Tanto memandangnya tadi. Untuk pertama kalinya dia datang terlambat. Waktu untuk berkunjung sudah hampir habis. Widuri tergopoh-gopoh datang. Masih mengenakan baju yang tadi pagi dipakainya kemari. Dan meskipun sakit, mata Tanto masih cukup ta- j jam Penilaiannya cukup kritis. Dia masih bisa berpikir. Curigakah dia? Atau... cuma perasaan Widuri belaka? Perasaannya sendiri karena merasa bersalah. Tapi... apa sebenarnya salahnya? Salahkah pergi berdua dengan Dimaz? Mereka tidak melakukan apa-apa yang salah. Dimaz hanya mengajaknya jalan-jalan. Makan. Minum. Tidak lebih. Tidak lebih? Tidak berlebihankah caranya memperlakukan Widuri? Dimaz memeluknya se akan-akan Widuri masih seorang diri, bukan istri Tanto! Dan dia bukan cuma memeluk... dia mencium juga... Begitu lembut bibirnya menyentuh bibir Widuri. Begitu hangat sentuhan cinta yang menyengat, seperti lidah api yang menjulur membakar hutan-hutan kering kerontang di hati Widuri. Dan merpati-merpati berbulu putih yang selama ini disekap dalam kandang berterali besi terbang kembali mengudara. Merentangkan sayap merengkuh kebebasan di angkasa. Mengais sisa-sisa cinta di sela-sela lembayung senja. Sementara biludak dendam melata pergi entah ke mana. Di manakah dendam? Di manakah sakit hati? Semudah itukah kebencian berlalu? "Aku cinta padamu, Widuri," bisik Dimaz semerdu alunan Waltz yang meliuk-liukkan perasaan. "Seandainya saja saat itu kau memberiku kesempatan untuk menjelaskan... tahukah kau apa yang ingin kujelaskan pada Rizal? Aku gagal membalaskan dendamnya karena keburu jatuh cinta kepadamu!" Dimaz mendekap Widuri erat-erat ke tubuhnya. Begitu rapatnya sampai-sampai Widuri heran mengapa tidak ada rasa sakit. Padahal perutnya nyaris tertekan "Mengapa harus lari kaku cintamu telah kutinggalkan padaku? Mengapa harus pergi kalau hadmu telah terperangkap di sini, Widuri?" "Aku tidak tahu," desah Widuri putus asa. "Aku malah tidak tahu benci atau sayang padamu...." "Aku tahu," bisik Dimaz lembut. "Tanyalah padaku...." "Jangan," erang Widuri ketika, dirasanya bibir Dimaz mulai mengulum bibirnya dengan penuh kerinduan. "Jangan____" Sia-sia Widuri mencoba melepaskan diri. Seluruh jajaran saraf di tubuhnya berpacu hangat memberi respons. Dadanya terasa hampir meledak digulung gelombang birahi yang mengempas laksana badai. Memorak-porandakan nuraninya yang menggapai-gapai dalam kesia-siaan. Tolonglah, Tuhan! pekik Widuri daiam hati. Dia benar-benar panik. Takut. Mereka duduk di sebuah bangku panjang di dalam taman yang remang-remang. Tempat yang terlindung oleh pohon-pohon yang rimbun. Dan hanya beberapa pasangan yang terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri yang lewat di sana. Kalau mau terjadi, terjadilah di sini! Tidak ada rintangan apa-apa. Dari luar maupun dari dalam. Pagar kawat yang berduri yang terentang mengurung hati Widuri telah lama roboh. Sebentar lagi, benteng yang terakhir pun akan runtuh juga.... Dan sesuatu menyentakkan perut Widuri. Gerakan yang belum pernah dirasakannya,.. Yang membangkitkan naluri seorang ibu.... "Ya Tuhan! Anakku!" "Anakmu?" Dimaz melepaskan pelukannya dengan bingung. "Dia bergerak, Dimaz! Dia bergerak! Anakku! Bayiku!" Dalam gelap, mata Widuri berkilat-kilat dalam linangan air mata keharuan. Berbinar-binar dalam kumparan kebahagiaan. "Di sini..." Tidak sadar Widuri mengambil tangan Dimaz dan membawanya ke perutnya. "Di sini dia menendangku!" Ditekankannya tangan Dimaz kuat-kuat ke atas perutnya. Naluri seorang ibu yang menginginkan semua orang ikut merasakan gerakan bayinya yang pertama! Meskipun sampai lelah Dimaz menunggu, gerakan itu tak kunjung dirasakannya juga. Dan dalam kegelapan yang pekat di kamarnya yang dingin, Widuri tersenyum lembut. Dibelai-belainya perutnya dengan penuh kasih sayang. Akan bergerak lagikah dia kalau dibelai seperti ini? Atau... sudah tidurkah dia larut malam begini? "Dia bergerak, Mas!" desis Widuri begitu masuk ke kamar Tanto. "Tadi dia menendangku!" Ketika dilihatnya Tanto hanya menoleh dengan tatapan hampa, Widuri melekatkan tangan suaminya di perutnya. "Bayi kita, Mas! Di sini! Dia menendangku di sini!" Adakah Tanto membaca luapan kegembiraan yang membanjiri tatapannya? Seri kebahagiaan yang melumuri wajahnya? Karena sebuah tendangan lembut di perutnya? Atau.... secercah kecupan mesra di bibirnya? Tak terasa Widuri menjilat bibirnya. Dan dadanya menggemuruh lagi oleh gempa yang menggetarkan seluruh sendi di tubuhnya. Dia merasa lemas, Tetâ„¢ sekaligus panas. Seakan-akan ada api yang m * bersama darah yang menggelegak di pembuiuh-p^ buluh darahnya. Tak sadar diraihnya bantal Tanto. Dipeluknya erat-oat. Denyut yang menyiksa melemparkannya kc awang-awang kerinduan, lak sampai punai terbang ke awan untuk meraihnya. Terempas kembali ke bumi Sayapnya terk ulai dalam keputusasaan. Di luar, langit makin gelap. Malam rambah kelam. Namun Widuri belum dapat terlelap juga.... BAB XI Di pelupuk malam sebuah gondola menelusuri Canal Grande di kota air Venesia, di tepi Laut Adriatik. Sementara angin malam melambai-lambaikan pita merah yang melingkari topi si pengayuh gondola. Santa Lucia mengalun merdu seirama dengan alunan air yang menjilat-jilat lambung gondola. Tanto terenyak di buritan, di bangku kayu yang terlalu keras untuk panggulnya yang telah terbiasa dibuai empuknya kasur rumah sakit. Alangkah indahnya," desah bibirnya yang pucat, yang sudah sekian lama tak pernah disinggahi senyum. Gedung-gedung bertingkat terbuat dari kayu yang sudah lapuk dimakan waktu, gereja-gereja tua yang semakin agung walau merupakan peninggalan masa lalu, jembatan-jembatan melengkung di atas kepala mereka tatkala gondola mereka lewat di bawahnya, dan gemericik air yang dlbelah ujung haluan gondola i__, ii mewujudkan keabadian /ang melengkung khas... mcwu'u Venesia sebagai feora turis. Meskipun kalau melewati stasiun kereta api, turis-turis muda belia dari segala penjuru dunia mengotori halaman depan stasiun itu bagai sampah bertumpuk menunggu dibakar. Mereka duduk-duduk di tepi kanal memandangi lalu-lalangnya gondola yang tak pernah dapat mereka nikmati karena terlalu mahal. Atau bergulung dalam kantong tidur yang mereka bawa ke mana-mana di belakang punggung seperti siput mengangkut rumah. Tidak di rumah-rumah pensiun an yang menyewakan kamar dengan harga murah, emper gereja pun jadi. Tidak di emper, tangga stasiun pun bisa jadi tempat bermalam yang menyenangkan. Kadang-kadang Widuri iri pada mereka. Dalam kebebasan mereka menemukan kebahagiaan. Apa artinya keindahan kalau tidak dinikmati dalam kebersamaan berselaput cinta? Di sini Widuri menemukan keindahan. Terapi tanpa cinta. Cintanya telah tertinggal jauh di sana. Di Wina Di dada seorang pemuda yang mungkin sedang termenung murung seorang diri di Sradtpark. Atau... di atas geladak perahu di punggung Sungai Donau yang biru, seperti yang mereka janjikan kemarin? Maafkan aku, Dimaz (Adakah kalimat usang lain untuk memulai sepucuk surat perpisahan?) Sungai Donau mungkin biru sebiru cinta kita yang abadi. Tapi lebih biru lagi kesetiaan seorang istri kepada suaminya. Jika ayahmu pulang nanti, jangan sia-siakan lap umurmu di Wina. Kembalilah ke Indonesia. Tanya apa yang dapat kauperbuat supaya dapat menjadi seorang laki-laki sejati, dewasa dan mandiri. Jangan cuma menjadi seorang pemuda cengeng korban cinta. Andaikan esok matahari masih bersinar, rentangkanlah sayapmu. Palingkan agar sinarnya menerangi hidupmu juga. Jangan lagi bersembunyi dalam kegelapan cinta yang lembap. Biar debu dan kerikil pun mengagumimu. Seperti dulu. Widuri Widuri masih tersungkur dalam lamunannya sendiri ketika lengan Tanto melingkari bahunya Gondola mereka menyuruk di bawah lengkungan jembatan yang anggun. Sayang lonceng-lonceng gereja membisu. Hanya puncak menaranya menjulang kehitam-hitaman mencakar langit. Dan untuk pertama kalinya setelah malam-malam yang dingin sekian lama melintasi hidup perkawinan mereka, Tanto mengecup bibir Widufi. Tak ada gempa yang menggemuruh di dada Widuri seperti ketika Dimaz menciumnya di Wina beberapa hari yang lalu. Tak ada getar kerinduan yang menjalari lengan-lengannya menghangati bibirnya. Melecut keinginan untuk balas mengecup. Tetapi Widuri serta-merta membalasnya. Meskipun hanya di bibir. Meskipun ingatannya masih terpaku pada keagungan Basilika St. Marco yang mereka tinggalkan di belakang sana. Pada burung-burung yang berkeliaran jinak di bawah kaki mereka menantikan makanan. Dan terbang kembali bila manusia mengulurkan tangan hendak menyentuh bulunya yang putih. Seekor burung menggeJepar-geJepar menjauhkan diri. Sayapnya berkepak-kepak terbang mengikuti teman-temannya. Tetapi dia tersungkur kembali ke tanah. Burung itu mengingatkan Widuri kepada nasibnya sendiri. Seperti itulah dirinya sekarang. Bagaimana bergelora kara harinya hendak terbang bersama Dimaz merenda kasih sayang, dia toh harus melata di bumi mengayomi suaminya Cin ta memang indah. Seperti yang dialunkan orkes di Piazza Sc. Marco tatkala senja mulai temaram. Dan Widuri duduk-duduk di tepi pelataran bersama Tanto mendengarkan Love is a Many Splendoured Thing sambil menikmati keindahan menara lonceng yang agung di kejauhan. Cinta memang indah. Sekaligus menyakitkan. Ciuman Tanto di atas gondola seperti duri yang menikam hati Widuri. Padahal baru beberapa hari yang lalu, mawar cinta merekah kembali di Wina.... Mengapa dia tidak dapat membalas cinta Tanto seperu dia telah menjawab cinta Dimaz? Mengapa sungguh berbeda ciuman yang dipersembahkan mereka? Mengapa justru sakit hari Widuri kalau Tanto mengecupnya dan dia terkenang lagi kepada ciuman Dimaz? Mengapa begitu bisu tangisnya ketika Tanto menggumulinya dengan sia-sia di atas ranjang mereka di kamar hotel di tepi kanal? widuri sadar akan haknya sebagai seorang istri. Dia sadar atas keinginannya selaku seorang perempuan muda yang sehat. Tapi dia juga sadar, tidak mungkin menuntut dari seorang suami yang tidak berhak lagi disebut laki-laki hanya karena dia ingin hidup dan melihat anaknya! Sementara di batas cakrawala sana, ribuan mil dari sini, seorang laki-laki muda yang sehat tepekur dalam selnya yang gelap. Merenungi terali besi yang memisahkan dirinya dari kunang-kunang yang terbang bebas bergemerlapan di luar. Dan di tepi Sungai Donau, seorang lelaki lain, lelaki yang di dadanya pernah dititipkan kasihnya yang paling tulus, bergulung rindu berkalang cinta dalam penantian yang sia-sia. Mengapa dirinya selalu jadi rebutan pria-pria yang malang? Mengapa justru pria yang memilikinya harus menjadi pria yang paling malang'di dunia, tidak mampu menggauli istrinya sendiri, padahal empasan cintanya demikian menggelora? *** Widuri mendorong kursi roda Tanto perlahan-lahan menuruni jalan berliku-liku menuju Gua Santa Maria di Lourdes. Massa yang khusuk dengan lilin bernyala dan rosario di tangan masing-masing, berjalan berbondong-bondong bagai semut beriring sambil mengalunkan Ave Mario. Dari atas, Widuri telah melihat orang-orang yang khusuknya, sementara seorang petugas sibuk mengatur massa yang berdatangan membentuk antrean panjang untuk masuk ke dalam gua. Begitu banyak orang di sana. Tetapi tidak ada kegaduhan. Suasananya cukup khidmat, padahal turis dari segala penjuru dunia bercampur baur dengan penderita segala macam penyakit. Kakek-kakek tua renta yang temtih-tatih melangkah, nenek bungkuk yang didorong di atas kursi roda, semuanya menadahkan tangan meminta berkat. Perawan Suci Maria yang tersenyum lembut, seakan-akan merupakan setitik air pengharapan yang menyegarkan, meskipun kmi hanya berujud sebuah patung kecil di dalam gua. Bersama-sama ribuan orang penderita yang memohon kesembuhan, Widuri membawa Tanto masuk ke dalam gua, menyentuh dindingnya dan mencium patung Santa Maria yang disucikan. "Tolonglah Bunda Kristus yang kudus, jika jadi kehendak Tuhan, sembuhkanlah Tanto," bisik Widuri khusuk "Dia lelaki yang baik. Terlalu baik untuk mari.,,." Sementara Tanto yang teronggok tak berdaya di atas kursi rodanya, hanya mampu menggerakkan bibirnya yang kering dalam sepotong permohonan yang telah tujuh bulan bergema di hatinya, "Berilah saya kesempatan untuk melihat anak saya!" Cuma itu. Karena itu pun sudah merupakan mukjizat urmiknya Kesembuhan sudah berlalu terlalu jauh. Dan dia hampir-hampir sudah tidak mengharaponggok daging bernapas? Lebih-lebih ketika dua bulan belakangan ini, perutnya bertambah besar, hampir berpacu dengan bertambah besarnya perut Widuri. "Lihat," kelakarnya pahit ketika mereka sedang bergandengan tangan menelusuri Pantai Riviera. "Aku juga hamil." Tanto menepuk perutnya sambil tersenyum getir. Ketika dilihatnya tatapan Widuri berubah cemas, Tanto membawa tangan Widuri yang sedang digenggamnya dan meletakkannya di atas perutnya. "Kau sering melakukan ini padaku, bukan?" Tanto tersenyum pahit. "Sekarang aku juga bisa Kandunganku sama besarnya dengan kandunganmu." "Mas, kita balik ke Wina. Periksa perutmu," "Kan kita mau ke Lourdes. Kau yang mengajakku ke sana." "Tunda dulu, Mas. Kita tanya dokter dulu, dari ma na air di perutmu ini." "Dari mana lagi?!" Sepotong senyum kering melintas lagi di bibir Tanto. "Pasti dari kanker terkutuk itu!" "Tapi kankermu sudah dibuang, Mas!" "Bukan cuma kankerku. Mereka membuang juga separo tubuhku." "Lalu dari mana air sebanyak ini di perutmu?" "Anak sebar kanker itu telah sampai ke hariku." "Mas!" "Sekarang anak sebar kanker itu telah merajalela seganas induknya. Malah mungkin lebih ganas lagi." "Tidak, Mas! Tidak!" pekik Widuri putus asa. Tetapi pekikannya lenyap ditelan birunya Laut Tengah. "Kita kembali saja ke Wina. Biarkan dokter-dokter di menolongmu sekali lagi! "Untuk apa? Mengapa harus membuang-buang waktu Jagi? Hampir dua bulan kita bersama-sama menjelajahi separo benua ini, apa lagi yang kuharapkan sementara menunggu di ranjang rumah sakitku yang sepi di Wina? Kalau aku mati, aku ingin mati di puncak Pegunungan Alpen. Atau di atas gondola di Venesia. Atau di Pantai Riviera. Atau di bawah Monas di Jakarta. Tapi aku tidak mau mati di ranjang rumah sakiti" "Kau tidak akan mati, Mas!" Widuri menunduk menggigit bibir menahan tangis. Pasir lembut di bawah kakinya seakan-akan ikut berduka bersamanya. Butir-butimya menyingkir bisu ketika mereka lewat. "Kau harus menunggu sampai anakmu lahir!" Tanto merengkuh Widuri ke dalam pelukannya. "Aku tidak akan mati," bisiknya di telinga, istrinya. "Perut ini baru akan meletus kalau kau sudah melahirkan." Tetapi ku cuma bunga kata-kata yang merekah di celah-celah bibirnya. Di sudut hatinya, sering Tanto bertanya-tanya sendiri, masih mungkinkah? Masih sempatkah? Masih keburukan? Dia sering mengusap perutnya sendiri setiap kali menatap kandungan istrinya yang kian membesar. Berapa lama lagi? "Airnya, Mas." Widuri menadahkan tangannya di bawah keran yang menyalurkan air suci dari mata air di dalam gua. Mata air itu senduti telah ditutup. Mereka yang ingin mengambil air suci, dapat menampungnya dari keran-keran yang mengucur di luar gua. Widuri menyapukan air di tangannya ke 'muka Tanto. Ke lehernya. Ke perutnya. Kemudian dia menadahkan pula tangannya untuk menampung air suci yang dibawanya ke mulut Tanto. Tanto sendiri sudah hampir-hampir tidak berdaya menggerak-gerakkan tubuhnya. Pemtnya yang semakin besar membatasi geraknya. Dan menyesakkan napasnya. Dia hanya dapat meneguk air suci yang ditampung di dalam tangan Widuri. "Pelan-pelan, Mas," gumam Widuri ketika Tanto batuk-batuk sedikit. Hanya seteguk air yang masuk ke perutnya. Air biasa. Air putih yang sejuk. Segar seperti air dari gunung yang biasa dihirupnya di pancuran waktu kecil dulu. Tetapi begitu air itu mengaliri kerongkongannya, Tanto merasa kekuatan baru menjalari lengan-lengannya. Perut yang selama ini membebaninya terasa lebih ringan. Napasnya tidak sesesak tadi. Dan dia merasa lebih segar. ¦-titel? "Aku merasa lebih enak...," desisnya ganjil. Widuri begitu terharu mendengar suara suaminya. Sudah beberapa hari ini Tanto kelihatan bertambah payah. Dia jarang bicara. Diam-diam Widuri menyesal telah membawa suaminya melakukan perjalanan yang melelahkan ini. Kondisi fisiknya sudah tidak memungkinkan, mengapa harus dipaksa? Tetapi dia harus bagaimana? Tanto sendiri tidak mau kembali ke Wina. Dia tidak mau mati di ranjang rumah sakit. Dia ingin menikmati saat-saat terakhirnya bersama istri dan anaknya. Tiap detik selalu bersama, katanya waktu di Nice dulu. Tanto demikian terkesan pada panorama panta yang indah di sana. BeJum pernah Widuri mendenga suaminya memuji suatu tempat seperti itu. Nice memang indah. Laut yang biru. Pantai berpasir lembut. Rumah-rumah bersusun bagai mutiara di atas bukit-bukit yang terhampar hijau, layar-layar putih yang terkembang di laut lepas... lebih-lebih bila senja mulai menyentuh malam. Dan matahari tersungkur di kaki langit sana, menunggu bulan tersenyum menyilih tugasnya. Pijarnya yang keemasan mengintai di batas cakrawala, menyepuh kebiruan laut, membiaskan secarik siluet hitam di aras permadani yang terhampar kuning keemasan. Sementara riak-riak ombak yang ceria bergurau manja menjilati kaki pantai. Melabuhkan kebesaran Ilahi ke pucuk hati insan yang sedang te rpesona memuja kepermaian panorama alam. "Maha Besar Tuhan," bisik Tanto khidmat. Matanya yang cekung, redup dan pudar menatap ke kejauhan. Di sana di atas kaki bukit, cahaya lampu yang berkerlap-kerfip menerobos keluar dari celah-celah jendela rumah-rumah bersusun, bagai kunang-kunang berpendar-pendar di kegelapan malam. "Begitu banyak keindahan yang belum pernah kulihat bahkan pada saat tubuhku sehat walafiat. Aku bersyukur Tuhan masih memberiku kesempatan untuk menikmati semua ini, Widuri.... Pada saat-saat terakhir, berkat Tuhan malah lebih terasa sebagai sebuah anugerah.*... Lebih banyak yang dapat kunikmati pada saat penyakit menggerogoti tubuhku... aku merasa lebih dekat kepada Tuhan... lebih dekat kepadamu." Meremang bulu roma Widuri mendengar kata-kata suaminya. Sudah hampir tibakah saatnya? niasanya dia tidak pandai mengutarakan perasaannya... apalagi dengan kata-kata yang seindah itu.... Apakah pengaruh suasana? Emosi yang tergugah karena imbauan keindahan? Atau... inikah yang disebut firasat? "Widuri...," bisik Tanto parau. Menyentakkan Widuri dari lamunannya. Menyadarkan kembali di mana dia berada kini. Nice sudah tertinggal jauh di belakang sana. Sekarang mereka berada di Lourdes. Sebuah kota kecil di Prancis Selatan. Tempat ziarah yang disucikan orang-orang Katolik. Karena menurut cerita, di Gua Grotte di Lourdes itulah Bunda Maria menampakkan diri kepada Santa Bernadette. Sekarang turis-turis dari berbagai penjuru dunia bergabung dengan penderita-penderita segala macam penyakit, memohon berkat dan minta kesembuhan kepada Tuhan melalui Bunda Maria. "Wid, apakah kita sudah bisa pulang ke Jakarta?". "Mas...." Widuri menatap suaminya dengan cemas. Mukanya pucat kekuning-kuningan. Matanya redup tak bersinar. Masih kuatkah dia? "Aku merasa lebih kuat," desah Tanto parau. "Bagaimana kalau kita pulang dulu? Aku sudah kangen pada Ibu...." "Besok kita pulang, Mas," sahut Widuri mantap. Padahal dia sendiri masih bingung. Sudah kuatkah Tanto menempuh perjalanan sejauh itu? Belasan jam di dalam pesawat terbang? "Sekarang kita pulang ke hotel, ya?" Tanpa menunggu jawaban suaminya, buru-buru Widuri mendorong kursi roda Tanto. Jalan yang mendaki membuat Widuri tiba-tiba merasa agak sesak. Terengah-engah dia mengatur napasnya. Menjaga agar Tanto tidak mendengar desah napasnya yang sudah memburu. "|*i*T Dalam keadaan hamil tujuh bulan, membawa perut sendiri saja sudah susah, apalagi mendorong kursi roda. Dan seorang pemuda yang terluput dari perhatian Widuri, padahal sudah sejak tadi dia kelihatannya begitu memerhatikan mereka, menghampiri dari belakang. "Boleh saya bantu?" tanyanya dalam bahasa Indo nesia yang lancar. Widuri menoleh dengan terkejut. Sekejap dia lupa masih berada di Prancis Selatan. Rasanya tiba-tiba saja dia merasa sudah berada di Puncak. Dan pemuda itu memamerkan seuntai senyum simpatik. "Boleh?" „ Tubuhnya tinggi semampai. Dadanya yang bidang hanya dibungkus separo oleh kemeja yang dua kancing yang paling atas sengaja dibuka untuk menantang tatapan orang-orang yang berpapasan dengannya. Harum parfum yang semerbak mengingatkan Widuri kepada kesegaran rumput-rumput hijau yang menggeliat diembus angin musim semi. Matanya yang menyembunyikan kejalangan seekor binatang buas terpadu harmonis dalam seraut wajah yang nyaris sempurna. Rambutnya yang hitam tebal bergelombang, alis tebal mengapit tulang hidung yang tinggi dan belahan dagu yang menggurat dalam seperti manusia purba, membuat dia tampak gagah bagai dewa-dewa dalam mitos Yunani di Gunung Olympus. "Boleh?" desaknya sekali lagi, melihat Widuri masih tertegun bengong menatapnya. "Oh, terima kasih." sahut Widuri separo meng-gagap. Senyumnya begitu menarik. Mengingatkan Widuri kepada seseorang... membuat dadanya berdebar aneh. "Saya rasa saya bisa...." "Biar saya tolong." Dengan tegas tetapi tetap sopan pemuda itu mengambil kursi roda yang diduduki Tanto. "Jalannya naik." "Tapi..." "Tidak apa-apa. Saya hanya ingin membantu. Saya bukan lelaki yang bisa membiarkan seorang perempuan hamil mendorong kursi roda di depan saya. Lagi pula kita sebangsa, kan?" "T erima kasih." Senyum mulai menggeliat lagi di bibir Widuri. Padahal sudah lama senyum model begini tidak muncul di bibirnya. "Dari mana tahu kami orang Indonesia?" "Ngomongnya dong," sahut pemuda itu santai, seolah-olah mereka kenalan lama. "Dari tadi saya perhatikan." "Dari Jakarta?" "Sudah sebelas tahun di luar negeri." "Oh, kok ngomong Indonesianya masih lancar? Tidak lupa?" "Bahasa Indonesia?" senyumnya begitu menggoda. "Mana ada orang yang lupa bahasa ibu sendiri.' Sampai mati juga masih ingat. Kecuali kalau memang sengaja dilupakan, supaya orang lain tahu, dari lu negeri!" Mereka sama-sama bertukar senyum. Dan sam; sama beradu pandang. "Hamil berapa bulan?" "Tujuh." "Yang sakit suaminya?" Widuri mengangguk. "Mas," katanya pada Tanto. "Kenalan dulu dong! Orang Indonesia juga." Tanto menoleh dengan susah payah. Dan laki-laki itu membungkuk dengan sopan sambil mengulurkan tangannya. Menjabat tangan Tanto dengan hati-hati. Keras. Serasa menggenggam tulang. "Boleh saya tahu nama kalian?" "Suami saya?" Widuri berlagak bodoh. "Sutanto." "Maksud saya," Dia membungkuk sekali lagi dengan sopannya, "nama kecil Anda, Nyonya Sutanto." "Widuri." "Uh, nama yang puitis. Seperti orangnya." Sialan, maki Widuri dalam hati. Di depan suami orang masih berani dia merayu. Dasar gombal! Tapi baik senyumnya maupun lirikan matanya memang sudah mewartakan dari kalangan mana dia berasal. Widuri sudah waspada sejak semula. Dengan laki-laki tipe begini, dia mesti dua kali lebih hati-hati. "Nama saya Irian." "Sendirian kemari?" "Antar teman." "Yang mana?" "Di kapel sama ibunya." j 'Tidak dicari nanti?" "Oh, mereka tahu jalan pulang kok," Senyumnya begitu menggoda. Sekaligus memikat. Membuat darah Widuri berdesir lebih cepat. Bukan hanya karena jalan yang menanjak. 'Tinggal di mana?" tanyanya lagi, ketika mereka melewati beberapa orang turis yang sedang sibuk membuat foto. Bangunan gereja berdinding putih yang melatarbelakangi mereka memang panorama yang artistik untuk diabadikan kamera. Widuri menyebutkan nama sebuah hotel di Centreville. "Mari sap antar," katanya.spontan. "Mau menunggu sebentar? Saya panggil teman saya. Anda bisa melihat-lihat toko di seberang sana. Barangkali cari oleh-oleh untuk dibawa pulang?" Dia menghentikan kursi roda Tanto tepat di depan pintu keluar. Tunggulah di sini. Saya tidak lama." "Jangan," bantah Widuri bingung. "Kami bisa pulang sendiri." "Anda tidak bisa jalan kaki ke Centreyille. Terlalu jauh buat perempuan hamil seperti Anda. Apalagi harus mendorong kursi roda..." "Kami bisa naik bus," potong Tanto parau. "Bus tidak bisa berhenti tepat di depan hotel." "Tolong panggilkan taksi saja," pinta Widuri rikuh. "Menunggu taksi di sini lebih lama daripada menunggu saya kembali. "Maaf, saya betul-betul tidak mau menyusah"Siapa bilang menyusahkan?* "Tapi..." "Jangan kuatir! Tidak ditagih ongkos! Tanpa syarat apa-apa!" Dan ternyata Irian memang Jebih baik daripada yang diduga Widuri semula. Walaupun tampangnya berandalan, hatinya baik. Dia membantu mereka dengan sungguh-sungguh. Menaik-turunkan kursi roda Tanto. Mengantarkan mereka sampai di depan kamar. Dan tanpa imbalan apa-apa. Bahkan undangan makan malam pun tidak. Padahal Widuri sudah takut. Bagaimana menolak undangan orang sebaik dia? Dia meninggalkan Widuri sesopan seperti ketika mereka bertemu siang tadi. "Ini alamat hotel saya," katanya sesaat sebelum pergi. "Kalau ada apa-apa nanti malam, telepon saya saja." Widuri sudah membuang alamat itu ke tempat sampah. Tetapi ketika malam itu Tanto mendadak sesak napas hebat, kelabakan dia mencari-cari nomor telepon Irian. *** Dokter mengeluarkan hampir satu liter cairan dari perut Tanto. Mereka tidak berani mengeluarkan lebih banyak lagi, takut mendadak shock. Bagaimanapun tindakan sederhana itu telah menyelamatkan Tanto. Napasnya tidak sesak lagi. Dia bisa berbaring dengan tenang. Perutnya memang belum kempis. Tetapi kulitnya tidak setegang semula. Melalui Irfan yang bertindak sebagai penerjemah, dokter Prancis itu menyarankan agar Tanto dirawat Dengan demikian, cairan dalam perutnya dapat dikeluarkan sedikit demi sedik it setiap hari. Kalau tidak, suatu saat Tanto bisa mendadak sesak lagi. "Jangan kuatir," bisik Irfan, iba melihat Widuri yang dicekam kebingungan dan kesedihan. "Saya akan membantumu." ' Dalam kesulitan di negeri orang, tiba-tiba saja berandal ini jadi dewa penolong. Dengan modal bahasa Inggris SMA yang cuma sepotong-potong, Widuri praktis tidak bisa berkomunikasi di negeri yang hampir semua penduduknya hanya mau berbahasa Prancis. Irfan-lah yang selalu jadi perantara. Dialah yang mengurus semuanya. Widuri tinggal ikut di belakang. Ada enaknya juga punya seorang pengurus. Padahal sejak Tanto sakit, Widuri-lah yang selalu mengurus semuanya. Baru sekarang dia merasakan, betapa enaknya kalau ada seseorang yang mau menangani semua urusannya. Begitu tiba di hotel mereka, padahal Widuri menelepon pada pukul satU tengah malam, Irfan langsung turun tangan. Dia yang membawa Tanto ke rumah sakit. Dia pula yang berbicara dengan dokter-dokter di sana Padahal sejak berada di Prancis, kening Widuri selalu berkerut setiap kali mau berbicara. Soalnya bahasa Prancis yang dikenalnya baru Au revoir dan Merci beaucoup! Kautunggu saja di sini." Alangkah tenteramnya seseorang yang bicara begitu padanya. Apalagi dalam keadaan cemas dan bingung begini. "Dudu saja. Ingat bayimu. Jangan terlalu capek." Ya Tuhan, terima kasih, diam-diam Widuri berdo, dalam hati. Terima kasih karena telah mengirim seorang laki-laki sebaik dia padaku! Justru pada saat aku sangat membutuhkannya! "Lebih baik suamimu dirawat di Paris," kata Irian setelah masa kritis Tanto lewat dan mereka sedang duduk menunggu di depan kamar Tanto. "Saya punya banyak kenalan di sana." "Tanto kepingin pulang ke Indonesia." Widuri menunduk sedih. "Tiba-tiba saja dia ingin sekali melihat ibunya." Tisiknya masih terlalu lemah untuk menempuh perjalanan sejauh itu. Kau bisa tinggal di tempat Gita, kalau tidak mau bermalam di apartemenku." Gka adalah teman dekat Irfan. Ingat sorot matanya waktu pulang bersama-sama siang tadi, rasanya Widuri lebih baik tidur di jalanan daripada di tempatnya "Rasanya kami tidak cocok," kata Widuri terus terang. Dengan Irfan, dia memang selalu ditantang untuk blak-blakan, walaupun mereka baru berkenalan satu hari. "Kami bisa ribut terus kalau tinggal sekamar." Tentu saja" Irian tersenyum, "Kata siapa kau akan tidur dengan dia?* "Maksudmu, dengan ibunya?" "Memang cuma ibunya yang tinggal di sana. Gita sudah lama pindah ke apartemenku." Widuri tidak terkejut mendengarnya. Dia memang sudah menduga bagaimana hubungan mereka ketika mendengar suara Gita yang menjawabnya waktu dia menelepon Irfan tadi. Kalau Gita berada di kamar Irian pada pukul satu tengah malam, dia pasti tidak sedang bermain scrabble di sana. Gita lahir di Paris. Ibunya Prancis. Ayahnya Indonesia. Ketika orangtuanya bercerai, Gita ikut ibunya. Ayahnya pulang ke Indonesia. Tidak heran bukan dada dan pinggulnya saja yang menyaingi Brigitre Bardot, sikap dan penampilannya pun mirip. Dengan mulut lebar seperti Sophia Loren, ujung hidung mencuat bagai kait pancing seperti Elke Sommer, Gita tampak begitu sexy, sehingga untuk pertama kalinya Widuri merasa menyesal lahir sebagai perempuan. Apalagi kalau mendengar cara Gita berbicara dengan Irfan. Walaupun sepanjang jalan dia nyerocos terus dalam bahasa Napoleon, dari caranya berbicara, Widuri sudah merasa, Gita tidak senang kepadanya. Dia tidak mengerti mengapa Irian mesti repot-repot memberi tumpangan kepada mereka. Bus banyak, taksi ada, mengapa harus mengganggu orang lain? Belakangan dari Irfan, Widuri juga tahu, malam itu juga Gita pindah dari apartemen Irfan. "Kami ribut dulu sebelum aku berangkat ke hotelmu," kata Irfan terus terang, "Gita mengancam akan pergi kalau aku mengunjungimu malam itu." "Tapi kau datang juga!" "Aku kan laki-laki." Senyum Irfan begitu mantap. Widuri sampai terpesona melihatnya. Sudah lama dia tidak menemukan lagi senyum sejantan itu. Sejak Parlin masuk penjara. Cuma dia yang memiliki senyum yang demikian maskulin. "Masa tunduk digertak perempuan?" "Kau kehilangan Gita karena aku." Ketika Widuri menyadari kekeliruannya, cepat-c epat disambungnya, "Karena kau ingin menolong Mas Tanto." Irfan menatap lekat-lekat ke biji matanya. Ditatap seperti itu, Widuri mendadak menjadi jengah. Sudah lama tak ada lelaki yang berani menatapnya selancang itu. Semenjak dia menjadi istri Tanto. "Bukan karena Tanto," sahut Irfan blak-blakan. "Tapi karena kau, Widuri." ""Ah." Widuri membuang muka. Dia takut Irfan melihat betapa merah parasnya. Nanti dia salah sangkaâ„¢ "Aku belum pernah menemukan perempuan seperti engkau," kata Irian santai seperti biasa. Dia menyulut rokoknya dengan gaya yang amat enak dilihat. "Muda. Cantik. Tapi mau menghambakan diri untuk seorang laki-laki penyakitan yang tidak kaucintai." "Aku mencintai Mas Tanto!" Tidak tahu Widuri mengapa harus berang. Dia memang tidak pernah berhasil mencintai Tanto. Nah, mengapa harus marah kalau orang lain mengetahuinya? "Dia suamiku!" Tidak semua istri mencintai suaminya." Irfan mengembuskan asap rokoknya dengan tenang. "Tapi "TertLT ? *U -««uni padamu." banlwv^ rTUk Widuri cepat-cepat kantin itu T Wbufu ditin^' Kuatlr Wan ikut bangkit. tidak mengejar. Sambil mengisap Tetapl diawasinya saja langkah-langkah Widuri r0k0kn)t Pikirannya melayang-layang seperti gum-daf C rokok yang keluar dari hidungnya, palan bab xii Sudah hampir sebulan Tanto dirawat di sebuah rumah sakit di Paris. Selama itu, Irfan-lah yang paling repot. Dia yang mengurus Tanto. Dia pula yang melayani Widuri. Mencarikan tempat tinggal yang cocok saja sudah pusing. Widuri menolak tinggal di apartemen Gita. Dia juga tidak mau tinggal di tempat Irfan. Tidak walaupun semalam saja. Hari nuraninya belum dapat menerima cara hidup semacam itu. Lagi pula Widuri masih menghormati suaminya. Padahal Irian sudah berapa kali mengajaknya. Dia memang kesepian sejak ditinggal Gita. Dan buat laki-laki yang sudah lama tinggal di Paris seperti Irfan, jalan pikirannya sudah jauh berbeda dengan pikiran Widuri. Dia tidak dapat mengerti mengapa Widuri selalu menolaknya Dia tidak percaya kalau perempuan itu tidak menginginkannya Mustahil. Tidak masuk akal kalau seorang perempuan muda yang sehat seperti Widuri tidak tertarik kepada laki-laki. Apalagi kalau suaminya seperti Tanto. Dan Irfan bukan anak kemarin sore. Pengalamannya dengan wanita barangkali sudah hampir sama tuanya dengan umurnya sendiri. Dia yakin Widuri menyukainya. Dia dapat membaca apa yang tersirat dalam sorot mata wanita itu. Walaupun Widuri selalu berusaha menyembunyikannya. Widuri memang membutuhkan pertolongan Irfan. Tetapi bukan itu saja. Dia juga butuh teman. Dan dia menyukai teman yang seperti Irfan. Dia tampan. Menarik. Gagah. Senang humor. Blak-blakan pula. Nah, mengapa harus menolak dia? Mengapa mesti susah-susah mencari tempat tinggal lain? Apartemennya kosong. Tidak usah keluar uang lagi untuk membayar apartemen lain. Mereka saling membutuhkan pula. Buat apa ditutup-tutupi? Itu namanya munafik! Tidak praktis pula. Mencari susah sendiri. "Tapi aku tidak bisa, Fan," bantah Widuri untuk kesekian sekalinya ketika dia menolak keinginan Irian untuk bermalam di tempatnya. Di luar hujan. Angin pula. Di awal musim gugur seperti ini, hawa sudah mulai dingin. Apalagi malam-malam begini. Irfan tidak mengerti mengapa Widuri memaksanya pulang. Mengapa dia tidak boleh bermalam di sini, biar di sofa sekalipun! Itu namanya keterlaluan! "Aku toh tidak akan memerkosamu!" desisnya mulai marah. "Kalau kau tidak mau, aku juga tidak akan memaksa!" "Maafkan aku, Fan," desah Widuri dengan suar, rendah. Dia menghela napas panjang. Duh, suiitnyj memberi pengertian kepada lelaki yang sebebas Irfan! "Aku perempuan Indonesia. Masih punya suami pula, Nuraniku tidak dapat menerima perbuatan seperti itu.... Lagi pula aku tidak tega menyakiti hari Mas Tanto__" "Perbuatan apa maksudmu?" geram Irian sambil meneguk minumannya sampai habis. Widuri mulai tidak enak melihatnya Kaku melihat laki-laki minum alkohol, dia selalu teringat kepada pesta mabuk-mabukkan di rumah Dina Dan setiap kali terkenang kepada pesta itu, dia selalu merasa harinya sakit. Ingat Ibu. Ingat Rizal. Ingat Parlin. Dan... ingat Dimaz. "Kauanggap apa ke inginanku terhadap dirimu? Sesuatu yang menjijikkan? Yang kotor? Yang tercela? Kalau cuma perempuan soalnya, berapa susahnya mencari lonte di Pigale sana? Tapi keinginanku bukan kebutuhan biologis semata-mata! Aku benar-benar mencintaimu!" Irian meletakkan gelasnya dengan keras di atas meja Kemudian sambil menyambar jaketnya, ditinggalkannya tempat itu dengan marah. Belum per- j nah Widuri menerima pernyataan cinta dari seorang lelaki yang diucapkan sambil marah-marah. Irfan memang lain daripada yang lain. Tapi justru karena ke- J lainannya, dia menjadi menarik. j Widuri sadar dia mesti lebih hari-hari. Laki-laki itu I terlampau menarik. Dan dia kesepian. Tanto memang I suaminya. Tapi cuma di atas kertas. Sementara di sisi- I nya, ada seorang laki-laki yang begitu menarik. Yang J fmenginginkan dirinya. Yang mencintainya. Seorang laki-laki yang amat bebas. Yang cuma namanya saja orang Indonesia. Hati dan pikirannya sudah lebih Prancis daripada orang Prancisnya sendiri. Dia hangat. Panas. Menggelegak. Kalau tiap hari mereka selalu bersama-sama, bukan tidak mungkin suatu hari nanti kawah di dada Irfan memuntahkan lahar panasnya. Bukan tidak mungkin kalau panasnya itu mampu membakar hutan kering kerontang di hati Widuri. Jangan-jangan suatu malam kelak dia lupa, . dia sudah punya suami! Ah. Widuri memandang nanar kepada botol minuman keras di hadapannya Dalam keadaan seperti ini, alkohol barangkali bisa menghilangkan pikiran yang ruwet. Kerumitan bisa dicampakkan ke dalam api pendiangan di sudut sana. Alkohol pun dapat menghangatkan badan. Alangkah dinginnya malam ini. apalagi kalau harus dilalui seorang diri.... Widuri sudah mengulurkan tangannya untuk meraih gelas. Tetapi tangan yang sedang mencengkeram gelas itu mengejang dengan sendirinya. Dia takut minum minuman keras. Takut sejak pesta gila di rumah Dina itu! Dia takut mabuk. Takut tidak dapat mengontrol emosinya. Takut tidak dapat menguasai dirinya lagi. Kalau dalam keadaan seperti itu Irian tiba-tiba masuk kembali, habislah semuanya! Tetapi Irfan tidak kembali. Dia memang menunggu sampai setengah jam lebih di apartemen Widuri. Bukan menunggu taksi, Irfan masih mengharap Widuri akan memanggilnya kembali. Wanita selembut dia pasti tidak sampai hati melihat Irian menerjang hujan menerobos angin malam-malam begini. Lebih-lebih kalau diam-diam sudah tumbuh setitik benih cinta di harinya... apalah artinya lagi kehormatan? Apalah artinya mengkhianati suaminya? Alangkah nyamannya duduk di dalam sana. Di depan perapian yang hangat. Dengan seorang wanita cantik di sisinya. Segelas anggur di tangannya. Dan musik yang mengalun lembut membelai-belai telinganya. Apalagi kalau lampu-lampu dipadamkan. Kobaran lidah api yang menjilat-jilat memantulkan sinarnya ke paras Widuri yang ayu. Bola matanya yang bening berbinar-binar dalam keremangan suasana, bagai bintang kejora berpijar menanti fajar. Senyumnya yang lembut kemalu-maluan membiaskan kehangatan yang hanya dimiliki Widuri. Dia tidak se-sexy Gita. Tidak seberani gadis-gadis Prancis yang sering kencan bersamanya. Tetapi justru karena dia tidak binal, karena dia selalu menutup diri, Irfan jadi semakin terangsang hendak memilikinya. Semakin bergairah ingin mengulum bibirnya yang segar semarak bagai sekuntum taruk menanti rekah. Dan Irian tenggelam dalam lamunannya sendiri. Dia baru sadar ketika bajunya sudah basah kuyup. Titik-titik air hujan yang menetes dari rambutnya bagai lecutan cemeti yang menyentakkan kesadarannya. Tidak ada perapian. Tidak ada lagu. Tidak ada anggur. Tidak ada gadis cantik. Yang ada cuma kegelapan. Kedinginan. Kejengkelan. Sudah setengah jam lebih dia berdiri di sini. Di dalam kegelapan di bawah hujan. Dia malah belum sempat mengenakan jaketnya. Mata dan pikirannya terpaku ke pintu di hadapannya. Ke cahaya lembut yang keluar dari celah-celah di bawah pintu itu. Tetapi pintu di hadapannya tetap tertutup. Tidak ada kepala yang menjenguk ke luar. Tidak ada suara cemas yang memanggil-manggil namanya Tidak ada undangan untuk menghangatkan badan bersama di dalam. Dan Irfan pulang dengan kecewa Dengan marah. Denga n sakit hati. Belum pernah dia menemui perempuan yang demikian tidak berperasaan seperti Widuri! Barangkali hatinya sudah mati! Sudah membeku bersama mayat hidup yang disebut suaminya itu! *** Sia-sia Widuri menunggu kedatangan Irian. Dia tidak pernah muncul kembali. Tidak di apartemennya. Tidak juga di rumah sakit. Dia menghilang begitu saja seperti ditelan Sungai Seine. Mulailah Widuri kelabakan mengurus semuanya seorang diri. Mulailah dia merasakan apa artinya kehilangan. Mulailah dia menyadari betapa dia membutuhkan Irfan. Tetapi kalau untuk ditukar dengan kehormatannya sebagai seorang istri, kalau harus ditukar dengan kesetiaannya kepada Tanto, nanti dulu. Widuri tidak rela. Tidak sudi. Dia sanggup melawan kesepian. Tahan menjanda meskipun masih mempunyai suami. Masa dia tidak mampu menghadapi orang-orang Prancis dengan bahasa Napoleonnya yang rumit dan sengau itu? Yang tidak mampu dihadapinya justru Tanto. Dia sudah tidak banyak bicara. Fisiknya yang lemah memaksanya lebih banyak membisu daripada berkata-kata. Tetapi dalam diamnya, Widuri membaca kecemburuan seorang laki-laki. Kecurigaan seorang suami. Istrinya yang muda dan cantik selalu didampingi seorang pemuda tampan yang kuat dan sehat. Siang ataupun malam mereka selalu bersama-sama. Tidak mungkinkah...? Walaupun Widuri sedang hamil, perutnya besar, pinggangnya lebar, kakinya bengkak, dia masih tetap cantik Seri yang dimiliki semua wanita yang sedang menanti menjadi ibu, sinar yang secara naluriah menjadikan seorang perempuan hamil mahkluk yang paling menarik... tidak murigkinkah pesona itu yang mencekam Irian, membuatnya menjadi demikian penuh perhatian kepada sepasang suami-istri yang tidak dikenalnya? Bukan sanak bukan keluarga, mengapa dia yang harus repot? Ketika Irfan tidak muncul-muncul lagi, dan wajah Widuri begitu paku di balik topeng senyum yang selalu dipaksakannya hadir dalam setiap pertemuan mereka, Tanto menjadi bertambah curiga. Sudah diisapkan madu dari setangkai seruni miliknya? Kalau j belum, mengapa kumbang telah berlalu meninggalkan j bunga layu menanti gugur? Tetapi Tanto tidak pernah bertanya. Dia merasa I sudah tidak punya hak lagi. Apa haknya menuntut I kesetiaan istrinya? Dia sendiri sudah melalaikan ke- I wajibannya sebagai suami lahir dan batin.' Tetapi jus- J tru karena dia tidak pernah bertanya, Widuri jadi semakin tersiksa! Dan penyakit terkutuk ini masih juga menggerogoti tubuhnya. Seakan-akan belum puas kalau korbannya belum bertekuk lutut di depan malaikat maut. Padahal dia begitu ingin melihat bayinya. Kalau anak mereka sudah lahir dan sepotong nyawa ini belum direnggut juga, akan dimintanya kepada Tuhan supaya mencabut saja nyawanya. Tanto tidak mau lagi membuat Widuri menderita! Dia masih muda. Cantik pula. Berapa susahnya janda seperti dia mencari suami lagi? Biarlah dia mencicipi kebahagiaan yang belum pernah dimilikinya sebagai seorang istri. Begitu banyak lelaki yang bisa dipilihnya. Begitu banyak lelaki baik-baik yang bersedia mengambilnya. Asal jangan pemuda berandal itu! Pemuda bertampang berandalan yang matanya kurang ajar dan mulutnya lancang seperti Irfan! *** Widuri hampir tidak mampu mencapai kamar tidurnya. Perutnya terasa amat sakit. Sebenarnya sudah terasa sejak masih di dalam taksi tadi. Tapi serangan sakitnya belum sesering ini. Sudah sampaikah waktunya? Widuri benar-benar bingung. Dia tidak tahu mesti bertanya kepada siapa. Dia seorang diri di apartemen ini. Kepada siapa dia harus minta tolong? Sudah beberapa kali matanya memintas ke pesawat telepon di sudut sana. Tetapi setiap kali tangannya terulur hendak meraih telepon, setiap kali itu pula keheraniannya surut. Masih sudikah Irfan datang ke apartemennya? Masih maukah dia menolong? Widuri memaksakan diri mengatasi semuanya seorang diri. Dia melangkah terhuyung-huyung, hampir merambat ke tempat tidurnya. Dibaringkannya tubuhnya baik-baik. Sakitnya memang agak berkurang. Tetapi hanya sebentar. Tiba-tiba saja serangan mules itu datang lagi. Dia merasa seperti ingin buang air besar. Hati-hati dia merayap ke kamar mandi yang merangkap WC. Untung letaknya tidak  terlalu jauh. Kakinya terasa sudah tidak mau diangkat lagi. Beberapa hari ini dia memang lelah sekali. Beberapa malam praktis tidak tidur. Tanto reiah memasuki stadium paling gawat dari penyakimya. Beberapa kali dia tidak sadarkan diri. Infus sudah dipasang siang-malam pada lengannya. . Dan Tanto sudah diprndahkan ke unit darurat. Siang-malam diawasi Dokter sudah meminta agar Widuri menunggu terus-menerus di samping tempat tidurnya. Setiap saat dia bisa berangkat. Diam-diam Widuri merasa panik. Menyesal. Sedih, j Kaku ada apa-apa, kepada siapa dia harus minta to- I long? Bagaimana dia harus mengurus jenazah Tanto I dalam keadaan hamil tua seperti ini? j Dia menyesal tidak membawa pulang Tanto sejak , | dulu. Tanto ingin meninggal di Indonesia. Dia ingin melihat ibunya sebelum pergi. WIduri-iah yang menahannya. Dia yang menguatirkan kesehatan Tanto Ikalau menempuh perjalanan sejauh itu. Dialah yang masih mengharapkan kesembuhan yang sia-sia. Dia juga yang mengajak Tanto memohon mukjizat di Lourdes! Padahal mukjizat itu tidak pernah ada! Tanto sudah harus pergi sebelum sempat melihat anaknya. Dia sudah harus berangkat memenuhi perjanjiannya dengan maut sebelum anak mereka lahir. Padahal dia begitu ingin melihat anaknya. Begitu mendambakan mendengar tangis bayinya yang pertama! Dan Widuri menangis sambil menelungkup di sisi tempat tidur suaminya. Tanto tidak sadarkan diri. Dari lehernya terdengar bunyi menggelegak napas yang berbaur dengan lendir yang menyekat, meskipun sebuah alat pengisap lendir terus-menerus bekerja. Napasnya pun sudah dibantu dengan oksigen. Entah sudah berapa tabung zat asam dihabiskannya dalam beberapa hari ini. Sudah berapa botol infus yang diserap tubuhnya. Sudah berapa kali dokter-dokter mencoba menyuntikkan obat melalui pipa infusnya. Tetapi Tanto tetap belum sadar juga. Dia seakan-akan sudah terlelap dalam tidurnya yang panjang. Mukanya yang pucat kekuning-kuningan sudah lebih mirip muka mayat daripada manusia. Badannya yang tinggal selembar sudah demikian tipisnya, sehingga hampir rata dengan tempat tidur. Tetapi Tanto masih bernapas. Dan selama dia masih bernapas, masih ada harapan walau cuma setitik. Ketika setitik harapan itu menjelma menjadi kenyataan, Widuri hampir tidak percaya dia sedang berhadapan dengan mukjizat yang sudah lama ditunggunya. Siang tadi ketika matahari tersenyum setelah berhari-hari bersembunyi di balik awan, Tanto mendapatkan kesadarannya kembali. Padahal dokter-dokter berkepala botak dan berhidung mancung di sana pun sudah tidak mengharapkannya lagi. Bersamaan dengan bergulirnya dua titik air mata ke pipi Widuri, doa pun mulai berderai lagi dari mulurnya. Padahal sudah lama mulut dan hatinya membisu. Sudah lama doanya tidak pernah mampir lagi di rumah Tuhan. Batang-batang rumput harapan di hatinya sudah lama menguning. Telaga kepercayaannya kepada Tuhan pun telah hampir mengering. Tetapi ketika matanya yang telah penat disarati penderitaan berpaling lagi ke surga, bilur-bilur yang menyakitkan tak terasa pedih lagi. Berdamai kembali dengan Tuhan memberikan perasaan tenteram yang tidak dimilikinya lagi akhir-akhir ini. Dan perasaan dekat dengan Tuhan membuat Widuri pasrah. Dia tidak membantah ketika dokter yang merawat Tanto menyuruhnya pulang untuk beristirahat. Sudah beberapa malam dia tidak tidur. Berjaga di samping tempat tidur suaminya. Sekarang seluruh wbuhnya terasa amat penat. Pegal-pegal. Barangkali tidur nyenyak semalaman akan mengembalikan lagi kesegaran dan kekuatan fisiknya. Dia tidak boleh sakit. Demi Tanto. Dan demi bayi dalam rahimnya! #** Widuri memekik kaget. Ada lendir bercampur darah keluar dari vaginanya... darah! Dia merasa takut. Darah selalu mengingatkannya kepada malam itu. Malam naas dua tahun yang lalu. Ketika dia melihat tubuh Rizal terkapar di depan rumahnya berlumuran darah... Sekali lagi Widuri memekik ngeri. Tetapi dia sadar, tidak ada yang mendengar pekikannya. Dia seorang diri di apartemen ini. Dan di sini manusia terlalu masa bodoh pada urusan orang lain. Kalaupun ada tetangga yang mendengar jeritannya, mereka pasti tidak mau datang mal am-malam begini. Panggil ambulans? Telepon Dokter Rene? Terhuyung-huyung Widuri merambat ke pesawat telepon di sudut ruangan. Sambil mengusap perutnya yang terasa amat mulas, diraihnya telepon itu. Hanya satu nomor yang diingatnya. Hanya nomor itu yang ada di dalam kepalanya. "Irfan...?" desahnya menahan sakit. "Tolonglah aku!" "Widuri...?" Suara mengantuk yang jengkel di ujung sana tiba-tiba berubah kuatur. "Kau kenapa? Di mana?" "Di apartemenku...." Keringat membasahi sekujur tubuh Widuri. Ya Tuhan, helum pernah dia merasa sakit perut yang begini hebat! "Mungkin saatnya... sudah sampai..." "Perutmu?" Cetus Irfan kaget. "Sudah terasa mulas?" "Sakit sekali____* Tunggu saja di sana," potong Irfan sambil melora pat dari tempat tidurnya. Gadis yang tengah tergoJei lelap di sisinya sampai tersentak terkejut. "Diam-diam saja di tempat tidurmu. Aku ke sana sekarang!" "Ada apa?" Dengan bingung teman gadisnya beringsut bangun dan duduk di tengah-tengah tempat tidur mereka. Temanku mau melahirkan," sahut Irfan sambil bergegas mengenakan pakaiannya. Tapi kau kan bukan dokterl" "Aku akan membawanya ke rumah sakit." "Dia tidak punya suami?" Mata yang masih separo mengantuk itu tiba-tiba-tiba melebar penuh perhatian. "Dia perempuan baik-baik." "Lalu di mana suaminya." "Di rumah sakit" sahut Irian singkat. Diraihnya kunci mobil. Kemudian sambil berlari ke luar, dia berteriak tanpa menoleh lagi. "Sarapan pagimu ada di dapur! Tidak usah tunggu aku. Makan saja sendiri." "Sialan kau!" Dengan gemas gadis itu melemparkan bantalnya ke pintu. Tetapi Irfan telah lenyap. Sudah sering Man menggauli seorang gadis. Dari jenis mana pun. Tetapi belum pernah dia merasa jadi bapak. Seingatnya tidak ada seorang pun di antara gadis-gadisnya yang minta pertanggungjawabannya sebagai ayah bayi yang mereka kandung. Malah dia I tidak ingat lagi apakah ada di antara mereka yang mengandung. Mereka tahu sekali bagaimana caranya supaya tidak usah menjadi seorang ibu. Gita, misalnya. Sudah enam tahun lebih mereka hidup bersama, tapi belum pernah Irfan mendengar Gita mengeluh hamil. Sekarang tiba-tiba saja dia duduk terenyak di sini. Menunggu seorang perempuan melahirkan! Aneh. Padahal perempuan itu bukan istrinya. Kenal juga baru sebulan. Mengapa dia rela repot-repot menolong seseorang yang baru dikenalnya? Menungguinya melahirkan, lagi! Perempuan itu memang cantik. Menarik. Tetapi dia sudah punya suami. Sedang hamil tua pula. Buat apa dia mengejar-ngejar perempuan itu? Widuri bahkan tidak sudi tidur bersamanya. Jangankan tidur, dicium saja dia menolak! Tapi aneh. Justru karena penolakan itu, dia malah semakin kagum pada Widuri! Dan semakin tergila-gila padanya. Belum pernah Irfan menjumpai seorang wanita yang begitu setia. Setia kepada laki-laki yang menjadi suaminya. Padahal Irfan tahu sekali. Widuri tidak mencintai laki-laki itu! Dan Tanto... apalagi yang diharapkannya dari laki-laki yang sudah tinggal tulang berbalut kulit itu? Dia sudah bukan laki-laki lagi. Namanya saja suami. Nah, tidak masuk dalam logika Irian mengapa Widuri begitu setia kepada Tanto! Dia punya hak untuk menikmati apa yang tidak dapat diberikan suaminya sebagai kewajiban, bukan? Apa salahnya kalau sekali-sekali dia... ah. Perempuan memang aneh. Tetapi... barangkali bu kan cuma perempuan yang aneh. Dia juga ikut men /adi aneh sejak bertemu dengan Widuri. Seumur iii-dup dia tidak pernah berbuat baik kecuali sepuluh tahun yang lalu. Ketika dia untuk pertama dan terakhir kali melemparkan sekeping uang logam kepada seorang pengemis. Sesudah itu, semua perbuatan baiknya pasti punya maksud. Lalu mengapa hatinya tergerak ketika melihat seorang perempuan hamil mendorong-dorong kursi roda suaminya di Lourdes? Mengapa dia masih mau berpayah-payah menolong Widuri, membawanya ke rumah sakit, padahal dia bisa membanting telepon itu dan tidur kembali? Toh sudah tidak ada apa-apa lagi yang bisa diharapkannya dari perempuan berpikiran kuno itu! Tetapi entah mengapa, begitu mendengar suara Widuri di telepon, semangat Irfan langsung tergugah kembali Sebulan dia merindukan perempuan itu. Meskipun hanya untuk  mendengar suaranya. Melihat wajahnya, Menikmati senyumnya. Tidak ada yang dapat mencegah Irfan kalau dia sedang berlari untuk mendapatkan Widuri. Tidak juga gadis yang menemaninya tidur malam itu. Irfan langsung ke apartemen Widuri seperti dikejar hantu. Dia begitu kuatir mendengar suara Widuri. Suaranya amat lemah. Amat kesakitan. Dan heran, Wan seperti ikut merasakan kesakitan Widuri. Pada- J hal apanya sih perempuan itu? Saudara bukan. Kekasih bukan.mengapa dia begitu terlibat?mengapa dia masih mau melayani Widuri? Mengapa begitu trenyuh rasanya melihat Widuri terkulai di atas sofa dengan wajah yang mengerut kesakitan? Mengapa begitu aneh debar jantungnya melihat mata yang redup menahan sakit itu bercahaya kembali ketika melihat kedatangannya? "Terima kasih," bisik Widuri tatkala Irfan memeluknya dengan penuh kerinduan. Air matanya berlinang. Mungkin karena sakit. Mungkin pula karena terharu. Terima kasih kau mau datang...." "Sakit sekali?" Irfan merenggangkannya pelukannya untuk memberi kesempatan kepada Widuri menarik napas. "Rasanya sudah saatnya," keluh Widuri kesakitan. "Sakitnya sudah tiga menit sekali...." "Kalau begitu kita mesti ke rumah sakit sekarang juga." Belum pernah Irfan merasa sepanik sekarang. Padahal yang terjadi cuma ini; seorang perempuan hendak melahirkan! Lucu. Mengapa dia yang jadi sepanik ini? Perempuan ini toh bukan apa-apanya! Anaknya pun bukan anak dia! Ke mana perginya semua logika di kepalanya? Mengapa logika harus diam kalau cinta sudah berbicara? Irfan membawa Widuri dengan teramat hati-hati, seakan-akan dia membawa sebuah lampu' kristal yang mahal dan mudah sekail pecah. Dia menunggu se-malam-malaman dengan dada berdebar-debar. Rasanya umurnya dipotong satu menit setiap kali menarik napas dengan tegangnya. Tetapi begitu anak itu lahir, Tanto-Jah yang mendapat ucapan selamat dari semua dokter dan perawat di sana! Pahadai lelaki itu tidak berbuat apa-apa! Dia cuma berbaring di ranjangnya dengan mata berkedip-kedip menunggu.... Bahkan ketika Widuri sudah diperbolehkan berjalan-jalan, yang pertama kali dilakukannya adalah mengunjungi suaminya. Dia mencium pipi Tanto sambil meneteskan air mata. Dia mencium laki-laki itu! Padahal Irfan-iah yang menolongnya. Dan dia tidak pernah mencium Irian! Widuri hanya mengucapkan terima kasih ketika Irian datang membawa bunga. Terima kasih! Bah! Seperti kepada orang lain saja! Dia memang memberikan pipinya untuk dicium. Tapi itu cuma basa-basi kosong belaka. Yudas juga mencium Yesus ketika dia mengkhianati gurunya. Widuri tidak balas mengecup. Dia cuma tersenyum. Dan cuma melontarkan sebuah ucapan terima kasih! Dia malah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum tatkala Irfan mengungkapkan uneg-uneg hatinya dengan terus terang. "Kau seperti anak kecil." Senyumnya masih lemah. Tapi ini senyum paling sempurna dari seorang ibu yang sedang diselubungi kebahagiaan karena baru saja menghadirkan seorang manusia baru di atas mayapada. "Cepat ngambek untuk hal-hal yang kecil saja." Hal-hal kecil! Jadi Widuri cuma menganggap kecemburuannya sebagai hal-hal kecili Hal-hal yang tidak berarti! Duh, betapa tidak berharganya cintanya di mata wanita itu! *** T f Sudah lama Tanto menganggap dirinya telah mati. Hanya sukmanya saja yang masih melayang-layang ' mencari tempat hinggap. Jasadnya sendiri sudah tinggal kepompong. Tetapi ketika mendengar istrinya akan segera melahirkan, tiba-tiba saja dia merasa hidup kembali. "Tuhan," bisiknya meskipun cuma Tuhan dan dirinya sendiri yang bisa mendengar. "Tolong selamatkan istri dan anakku... tolong pinjamkan juga napas-Mu untukku, Tuhan... meskipun hanya beberapa detik saja... biarkan aku melihat anakku... mukjizat-Mu yang terbesar...." Dan mukjizat seberat tiga kilo itu datang bersama fajar. "Selamat! Anak Nyonya laki-laki!" kata dokter yang menolong Widuri dalam bahasa Prancis sederhana yang sudah dihafalkan Widuri siang-malam. "Bolehkah suami saya melihatnya sekarang?" pinta Widuri setelah puas menciumi bayinya. Seluruh sakit dan penderitaan yang ditanggungnya lenyap seketika. Hatinya bergemuruh dilanda gempa keh aruan dan kebahagiaan. Seorang bayi telah lahir dari rahimnya. Dia telah mempersembahkan seorang anak laki-laki untuk Tanto! "Tolong bawa anak ini kepadanya!" "Tentu! Tentu!" Dokter dan perawat-perawat yang menolongnya tertawa simpatik. "Tapi tidak sekarang! Jagoan ini mesti dibersihkan dulu sebelum menghadap ayahnya!" Cepadah, pinta Widuri dalam hati. Tahukah kalian betapa berharganya waktu bagi kami, biarpun cuma sedetik? Widuri begitu ingin menikmati wajah Tanto tatkala untuk pertama kalinya dia melihat anaknya. Tetapi meskipun tidak melihat, Widuri dapat membayangkan bagaimana terharunya Tanto. Tangannya memang sudah tidak dapat digerakkan lagi. Perawat yang men-dampinginyalah yang harus mengangkat tangannya dan meletakkannya di tubuh bayinya. Tetapi matanya masih dapat melihat seperti apa wujud anak itu. Telinganya masih dapat mendengar bagaimana bunyi tangisnya. Terima kasih, Tuhan," bisik Tanto bersamaan mengalirnya dua tetes air mata ke pipinya. Ketika dia menempelkan pipinya ke pipi bayinya, air mata itu juga melekat di pipi si kecil. "Terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk melihat anakku... terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk memberikan sesuatu kepada darah dagingku... biarpun cuma berupa dua tetes air mata...." "Dia bahagia?" desak Widuri kepada Irian. Meskipun dia sudah tahu apa jawabannya. Irian hanya mengangguk Tiba-tiba saja pinggangnya terasa pegal. Pelupuk matanya berat dibebani kantuk. "Apa katanya?" desak Widuri lagi. "Dia tidak bilang apa-apa." "Tidak?" "Cuma bibirnya komat-kamit...." "Kau tidak dengar "Lain kali aku bawa mikrofon!" Dengan sengit Irfan membuang muka. Dan tatapannya terbentur pada seikat bunga yang terkulai sia-sia di atas meja di samping tempat tidur. Heran, biasanya perempuan yang selalu patah hati kalau bergaul dengan dia. Sekarang mengapa jadi giliran dia yang selalu sakit hati? "Fan." Widuri menyentuh tangannya dengan lembut. Ketika Irfan menoleh, matanya berpapasan dengan seuntai senyum paling manis yang pernah dilihatnya mekar di bibir itu. "Kau marah?" "Pikir saja sendiri!" "Kau tidak gembira anakku lahir?" "Masih tanya!" "Kok marah?" "Habis aku harus bagaimana? Berhahahihi di sini?" "Kau bisa menyatakannya dengan cara lain!" Dengan apa? Aku sudah membawa bunga, sudah mengucapkan selamat, sudah menciummu...." 'Lalu mengapa mesti ngambek?" "Kalau kau jadi aku, kau tidak ngambek?" Dengan sengit Irfan mengentakkan kakinya untuk meninggalkan kamar itu. Tetapi sekali lagi Widuri meraih lengannya. "Kau marah karena aku menanyakan suamiku?" "Kau cuma memikirkan suamimu! Padahal apa yang dilakukannya untukmu? Akulah yang semalaman menungguimu! Aku yang membawamu kemari! Aku lebih pantas menjadi ayah anak itu!" "Fan! Kau menagih jasa? Kukira kau rela melakukan semua ini untukku!""Aku hanya minta dihargai.' Tapi kau dan semua orang tolo di sini cuma repot memberi selamat Jc pada suamimu.' Padahal apa yang telah diberikannj kepada anakmu? Cuma setitik benih! Fan Kenapa mesti ngomong begitu? "Karena aku iri pada suamimu. "Kau seperti anak kecili Cepat ngambek untuk hal-hal yang kecil saja!" "Kalau begitu, selamat melalaikan hal-hal yang besar untuk suamimu.' Aku mau pulang.'" "Mengapa buru-buru?" "Aku harus melakukan faal yang kedi tapi penang!" "Apa?" desak Widuri antara bingung dan kuaur. "Tiduri" sahut Irian sambil pura-pura menguap. Padahal dia sama sekali tidak mengantuk Hatinya sedang panas dibakar kemarahan. Mana ada tempat untuk kantuk. *** Ketika Widuri masuk ke kamar Tanto, lengan yang telah lama terkulai bisu di atas tempat tidur itu tiba-tiba terkembang. Dan Widuri menghambur untuk membenamkan dirinya ke dalam pelukan Tanto. Tak ada kata-kata yang terurai. Hanya pelukan bisu dan air mata yang diam-diam mengalir ke pipi mewarnai pertemuan yang mengharukan itu. "Siapa namanya, Mas?** bisik Widuri sambil mengecup pipi suaminya. "Kau sudah punya nama untuk anak kita?" Tanto mengangguk. Walaupun dia sudah tidak dapat mengucapkan nama yang dipilihnya. Widuri-lah yang harus arif menebak nama apa yang ingin dicetuskan Tanto melalui gerak-gerak bibirnya. B erkali-kali dia mesti mengulangi nama itu. Membisikkkannya kembali di telinga Tanto. Sampai mereka punya nama yang bagus untuk buah hati mereka. Parisianto Wkak-sono Sutanto. Tanto menggumamkan nama itu untuk terakhir kalinya sebelum matanya kehilangan sinarnya untuk selama-lamanya. Sia-sia para dokter berjuang untuk menyelamatkannya. Untuk memperpanjang hidupnya beberapa hari saja sampai ayahnya tiba. Ibu Tanto masih dirawat di ICCU karena serangan jantung. Tetapi ayahnya sudah bersiap-siap untuk terbang ke Paris ketika Widuri mengabarkan keadaan Tanto yang makin gawat beberapa hari terakhir ini. "Jika aku tidak keburu menemuinya lagi, desis ayah Tanto lirih di depan pesawat teleponnya, "katakan padanya, Widuri... ibunya baik-baik saja..." Widuri mendengar orang tua itu menelan ludah dengan sulit sebelum suaranya terdengar kembali, lebih basah daripada tadi. "...Ayah akan menjaga Ibu baik-baik...." Tanto memang sudah meninggal sebelum sempat bertemu dengan ayahnya. Dengan ibunya yang amat dicintainya. Tetapi dia meninggal dalam pelukan istrinya. Sesudah melihat anak yang sangat didambakannya. Dia tidak mengucapkan separah kata pun sebagai perpisahan kepada istrinya yang telah mendampinginya dengan seria selama sakitnya yang lama dan penuh penderitaan. Hanya matanya yang semakin memudar tak lepas-lepas menatap Widuri di sisinya, yang menggigit bibir menahan tangis. Lalu tangannya yang menggenggam lemah tangan Widuri terkulai. Dan matanya yang redup tidak bersinar lagi. Di luar malam mulai merangkak menyapa senja. EH sini tatkala keheningan mencekam seisi kamar, maut mulai mencengkeramkan kuku-kukunya merenggut Tanto dari sisi istrinya. Seorang yang baik telah pergi... seorang laki-laki yang punya sebongkah hati yang teramat lembut... yang tak pernah menyakiti hati orang lain___ Widuri merangkul tubuh Tanto sambil menangis. Pecahlah tangis yang sudah sejak tadi ditahan-tahan-nya. Dia tidak mau menangis di depan Tanto. Dia tidak mau mengiringi kepergian suaminya dengan air mata. Tetapi bagaimana harus menahan kesedihan yang demikian mendera? Telah pergi suaminya yang baiki Telah berlalu laki-laki paling baik yang telah dianugerahkan Tuhan untuknya! Dia datang ke pelukan Tanto untuk mencari siksa. Namun cinta jugalah yang telah ditemuinya di sana. Cinta berbalut kelembutan, meskipun gayung tak pernah bersambut! Cinta Tanto kepadanya ibarat sumber air yang menyejukkan. Tidak pernah kering, tidak pernah terputus, dan tidak pernah mengharapkan balasan.... "Mengapa meninggalkan aku seorang diri di negeri orang, Mas?" bisik Widuri getir. "Kita berangkat bersama-sama, mengapa harus pulang sendiri-sendiri?" Dipeluknya tubuh Tanto yang sudah tidak bergerak lagi. Dirabainya sekujur parasnya yang pucat pasi. Di-belai-belainya rambutnya yang telah menipis dirajam keganasan penyakit dan obat. Tak ada yang tersisa pada dirimu! Tak ada! Kecuali sepotong hati yang lembut berbalur cinta, tak ada lagi yang tertinggal di sini! Semua telah direnggut dengan kejam! ._ Irian yang sedang tegak termangu di ambang pintu memalingkan mukanya, tidak sampai hati melihat Widuri yang sedang meratapi mayat suaminya. Alangkah malangnya nasib perempuan yang diam-diam dikasihinya itu. Belum genap sebulan umur bayinya, dia telah ditinggal mati oleh suaminya. Dan malam itu, ketika sedang menelusuri lorong-lorong rumah sakit yang sepi, ketika hanya detak-detak langkah sepatunya yang terdengar menyapa lantai yang licin, Irfan berjanji kepada dirinya sendiri, dia tidak akan pernah membiarkan Widuri menanggungnya seorang diri. Dia akan mendampingi perempuan itu melewati masa-masa yang paling sulit dalam hidupnya. Dia akan mendampingi Widuri membawa bayinya dan mayat suaminya ke Jakarta.... Meskipun tak tahu apa yang harus dihadapinya di sana! *** Ketika pesawat terbang mereka mendarat di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, sekali lagi air mata Widuri menitik. Delapan bulan yang lalu dia meninggalkan tempat ini bersama Tanto. Waktu itu, Tanto masih dapat melangkah di sisinya walaupun dengan langkah yang tertatih-tatih. Senyum masil menjenguk bibirnya yang pucat. Ha rapan masih mengintip di celah-celah hati Widuri. Sekarang dia kembali ke tempat ini. Tetapi Tanto sudah tidak mampu melangkah lagi. Dia terbaring dalam perinya yang gelap. Berteman kesunyian sepanjang masa. lak ada lagi hitungan hari. Tak ada lagi batasan waktu. Dia telah bersatu dengan keabadian. Hanya ayah Tanto yang menyambut mereka. Ibu Tanto baru keluar dari ICCU. Begitu melihat cucunya dalam gendongan Widuri, air matanya menetes lagi, mengalir sendu ke pipinya yang keriput digerogoti usia dan kesedihan. "Dia begitu mirip Tanto ketika masih bayi...," erangnya getir. "Ayah merasa seperti melihat Tanto lagi... menggendongnya... menimang-nimangnya.... Oh, semuanya seperti baru terjadi kemarin.'" Diciumi-nya cucunya sambil menangis. "Tanto...," rintihnya lirih. "Tanto...." Dia baru tersadar dari kesedihan yang mencekam ketika bayi itu menjerit dan menangis. "Sudahlah, Pak..." Irfan membawa lelaki tua yang masih terisak-isak itu duduk sebentar. "Tabahlah...." Sekarang ayah Tanto baru melihat laki-laki muda yang sejak tadi mendampingi Widuri dan anaknya. Sejak masih di tangga pesawat. "Maaf, Nak...," desisnya parau. "Apakah anak ini teman Widuri?" "Dia malaikat penolong yang dikirim Tuhan kepada saya, Ayah," sahut Widuri yang masih sibuk menimang-nimang anaknya untuk meredakan tangisnya. "Kalau tidak ada Irfan, entah sekarang kami sudah jadi apa...." Untuk kedua kalinya Widuri mengenakan pakaian hitam. Untuk kedua kalinya dia termangu di tepi liang lahat. Untuk kedua kalinya dia menyaksikan pemakaman orang yang pernah mencintainya sampai ajal datang merenggut. Dan untuk kedua kalinya dia meminta maaf kepada jazad maya berkalang tanah di bawah sana, karena sampai saat terakhir dia masih belum dapat mencintainya... belum dapat mengembalikan cinta yang diberikan dengan demikian tulus kepada dirinya... Yang hadir dalam hatinya hanya sebongkah belas .kasihan yang dironai kesetiaan seorang istri. Dan bilah-bilah penyesalan yang teranyam dalam sebuah tanya, mengapa dia tidak bisa mencintai laki-laki yang sebaik Tanto? Cintanya sendiri sudah terbang mengawang entah ke mana, dilarikan oleh seorang laki-laki yang sudah tidak pernah dijumpainya lagi... yang sudah tidak ingin ditemuinya lagi! Buat apa berjumpa, kalau cintanya hanya membawa petaka kepada orang-orang yang mengasihinya? Benarkah dirinya berarti bencana? BAB XIII Sejak semula orangtua Tanto, lebih-lebih ibunya, tidak menyukai kehadiran Irian di rumah mereka. Sikapnya dianggap terlalu bebas. Baginya tidak ada batasan bergaul dengan orang tua. Tua atau muda sama saja. Semua dianggap teman. Bagi Irfan, itu wajar. Tetapi buat orangtua Tanto, itu namanya tidak sopan. Apalagi kalau tiap hari dia berkeliaran di dalam rumah dengan bertelanjang dada, tidak peduli ada siapa di rumah itu. Panas, katanya. Padahal hampir setiap ruangan di rumah mereka memakai AC. Ibu Tanto selalu membuang muka dengan rikuh setiap kali tatapannya berpapasan dengan bulu-bulu hitam yang menyemak di dada Irfan. Buru-buru dia menyingkir sambil menghela napas kesal dan mengurut dada. Tetapi anak muda itu sendiri tampaknya tenang-tenang saja. Jangankan salah tingkah, merasa saja tidak! Senyum yang menyapa di bibirnya mengingatkan anak-anak muda yang suka mengganggu perempuan lewat di ujung gang sana. Bedanya pemuda yang satu ini selalu tersenyum, tidak peduli berapa banyak uban yang telah menyembul di kepala perempuan yang diajaknya tersenyum. Tentu saja Widuri tahu perasaan mertuanya. Tetapi dia harus bagaimana? Mengusir Irfan tentu tidak mungkin. Apa namanya orang yang mengusir teman yang telah membantunya dengan begitu setia? Lagi-pula... Irfan harus menyingkir ke mana? Seingat Widuri, Irfan tidak pernah menceritakan tentang keluarganya. Sejak sampai di Jakarta, Irfan pun tidak pernah mengunjungi rumah orangtuanya. Sanak saudaranya. Atau temannya sekalipun. Masa dia tidak punya keluarga sama sekali di sini? Dia toh tidak lahir dari lubang batu? Irfan cuma tersenyum kalau Widuri menanyakan hal itu. Dan melihat senyumnya, Widuri tahu, percuma mendesak lebih lanjut. Barangkali ada latar belakang hitam yang  menyebabkan Irfan menyembunyikan identitasnya. Atau mungkin ada pertikaian keluarga yang membuat dia lari ke luar negeri dan menetap di sana? Tentu saja itu bukan urusan Widuri kalau saja Irian tidak tinggal di rumah mertuanya. Widuri tidak mungkin membawanya tinggal di rumah yang dibelikan Tanto untuknya. Rumah itu memang masih ada. Tetapi tidak pantas tinggal berdua saja dalam satu rumah bersama seorang laki-laki yang bukan suaminya, bukan pula saudaranya. Tinggal di rumah Ibunya lebih tidak mungkin lagi. Rumah mereka sudah cukup sempit. Tidak ada kamar tamu. Mau ditaruh di mana laki-laki itu? Belum lagi makanannya. Irfan lebih suka makan daging daripada nasi. Kalau dia tinggal di rumah mereka, jangan-jangan si Putih tidak kebagian daging lagi. Dan daging lebih mahal daripada tempe. Padahal keadaan ekonomi keluarga mereka masih morat-marit. Ibu masih tetap berlumur tepung terigu dan telur. Ade belum juga mampu membayar uang kuliahnya sendiri, meskipun sekarang dia sudah dapat memperbaiki radio tetangga. Menuk lebih suka jadi sekretaris daripada tukang kue. Kuku-kukunya yang panjang dan berwarna-warni itu lebih aman dipakai mengetik daripada mengaduk telur. Tetapi uang pangkal untuk masuk ke sekolah sekretaris tidak dapat dibayar dengan kue. Widuri sendiri belum dapat bekerja. Dia masih repot mengurus bayinya. Minta uang terus pada orangtua Tanto dia malu. Mereka sudah mengeluarkan uang cukup banyak untuk membiayai pengobatan Tanto selama delapan bulan di luar negeri. Kalau hanya sekadar makan pakaian untuk dirinya sendiri dan bayinya, Widuri memang tidak perlu I kuatir. Ayah Tanto yang membiayainya. Tetapi untuk menyokong keluarganya? Bagaimana Widuri harus minta? Paling-paling dia hanya mampu mengorupsikan uang belanja. Itu pun tidak banyak. Ibu Tanto cukup ekonomis. Dia tahu persis berapa j biaya yang diperlukan untuk merawat seorang bayi.Dia selalu mau tahu berapa uang yang dikeluarkan widuri. Dan dia selalu curiga kalau adik-adik Widuri datang berkunjung. Apalagi kalau Widuri mengatakan ingin menjenguk ibunya. Maklum. Orang miskin. Selalu dicurigai. Padahal berapa banyak yang mampu diselundupkan Widuri untuk keluarganya? Lagi pula bukankah pantas seorang anak memberi sedikit uang kepada orangtuanya? "Aku ingin kerja," cetus Widuri ketika bersama Irfan dia duduk-duduk di atas rumput yang terhampar menghadap danau buatan di Taman Ria Remaja Senayan. Parisianto tertidur pulas dalam pangkuannya, meskipun suasana di sana begitu ributnya seperti ada kebakaran. Akhir-akhir ini memang cuma Irfan tempat Widuri mengadu dan berkeluh kesah. Ibu sudah terlalu repot. Lagi pula dia tidak sampai hati mengadukan kesulitan-kesulitannya. Di depan Ibu, semua harus tampak baik-baik saja. Widuri tidak mau Ibu tambah berduka. Dengan Menuk, Widuri sudah tidak bisa lagi berbicara dari hati ke hati. Sejak putus dengan kekasihnya, muka Menuk selalu lebih pahit daripada vitamin B-kompleks. Lebih asam daripada vitamin C. Walaupun tidak pernah dikatakannya, Widuri tahu, Menuk menimpakan kesalahan di atas pundaknya. Kepada Ade, pernah dia kelepasan bicara, lebih baik tidak punya kakak daripada punya kakak perempuan seperti Widuri. Tidak ada gunanya apa-apa. Cuma bikin jelek nama keluarga saja. Walaupun hatinya pedih, Widuri tidak ingin menegur adiknya. Menuk menjadi korban kebuasan man usia yang menyamaratakan sifat akibat persamaan darah. Padahal dia gadis baik-baik. Tidak terlalu cantik. Dan sejak dulu pacarnya cuma satu. Tidak mungkin ada lelaki yang mati terbunuh karena memperebutkannya. Tidak mungkin pula ada pemuda yang masuk penjara untuk mendapatkannya, selama masih banyak gadis yang secantik kakaknya. Lagi pula ada apanya kekasih Menuk itu sampai ibunya begitu kuatir? Jangankan berkelahi menghadapi laki-laki, melawan larangan ibunya saja Rustam tidak berani. Begitu dilarang bergaul dengan Menuk, dia langsung mengubur diri dalam lubang yang digali oleh ibunya untuk dirinya. Padahal kalau dia mau, dia masih bisa memanjat jendela kamarnya untuk mendapatkan Menuk Mengapa mesti putus asa kalau baru pintu yang ditutup? Terus terang Widuri ti dak suka tipe lelaki sepera itu. Tipe ayam sayur. Tetapi kalau cuma dia yang menaruh hari pada Menuk, kalau cuma kepadanya Menuk bisa bercinta, Widuri tidak dapat menyalahkan adiknya. Widuri begitu ingin berbaik kembali dengan Menuk. Dia ingin membetulkan apa yang sudah di-rusak orang. Dia ingin menyambung kembali benang persaudaraan di antara mereka. Tetapi bagaimana caranya? Menuk selalu menjauh. Widuri tidak tahu apa yang diinginkannya. Apa yang dapat diperbuatnya untuk adiknya. Satu-satunya peluang barangkali cuma ini, dia bisa membantu Menuk meraih cita-citanya untuk menjadi seorang sekretaris. Dari Ibu, Widuri mengetahui kesulitan Menuk. Semuanya akhirnya terpulang pada benda yang satu itu. Benda berbau yang dicintai semua orang. Benda berbau yang bernama uang. Kalau saja dia punya uang... dia bisa membantu Menuk... barangkali dia juga bisa mengembalikan kepercayaan adiknya kepada dirinya! Tetapi dari mana dia dapat memperoleh uang? "Bayimu mau kaukemanakan?" Irfan masih tetap sesantai biasa. Dia sedang berbaring di sisi Widuri dengan lengan sebagai bantal pengganjal kepalanya. "Daripada aku mesti memakai rok merawat bayimu di rumah, lebih baik aku yang kerja cari duit" "Aku serius, Fan!" "Lho, siapa bilang aku main-main?" "Aku perlu uang untuk menyokong keluargaku. Ibuku. Adik-adikku...." "Itu yang tidak dapat dipahami oleh orang Barat." "Tapi aku orang Timur. Keluargaku, tanggung jawabku." "Keluargamu cuma suami dan anak-anakmu." "Aku tidak ingin bergantung terus pada mertuaku." "Kau tidak bergantung pada mertuamu." "Mereka yang menghidupi aku. Membiayai anakku." "Bukan mertuamu. Tapi suamimu. Kau janda anaknya. Bayimu cucu mereka. Kalau suamimu meninggal, sebagai jandanya, kau berhak atas warisan yang ditinggalkan suamimu." "Aku ingin bekerja untuk menghidupi diriku sendiri. Untuk merawat Paris dengan tanganku sendiri." "Nah, mengapa engkau tidak kawin saja?" "Kawin?" Widuri tertegun bingung. "Carilah seorang suami." "Untuk apa?" "Engkau ingin lepas dari mertuamu. Engkau ingin punya uang sendiri. Engaku ingin merawat bayimu dengan tanganmu sendiri.... Nah, carilah suami!" "Aku tidak dapat melepaskan diri dari bayangan Mas Tanto..." "Kau harus dapat! Itu hakmu!" "Aku tidak mau menikah lagi?" desah Widuri lirih. Ditatapnya bayinya dengan penuh haru. "Mulai kini, hidupku hanya untuk dia..." "Jangan lupa," potong Irfan. "Dia bukan cuma membumhkan dirimu. Bayimu perlu ibu. Tapi dia juga butuh seorang ayah!" "Apakah ini sebuah lamaran?" "Aku belum pernah melamar perempuan lain." "Mengapa melamarku?" "Karena untuk menidurimu, aku harus melamarmu lebih dahulu." "Cuma karena itu?" "Karena aku mencintaimu." "Pasti bukan baru pertama kali ini kauucapkan kata-kata itu di depan seorang wanita." "Aku malah sudah lupa di mana kuucapkan pertama kalinya," Tidak apa. Yang penting, kau ingat yang terakhir." Irfan bangkit untuk duduk di samping Widuri. Sambil mencangkung lututnya, dia menatap Widuri dengan serius. "Kau belum jawab lamaranku." Sekarang Widuri menoleh. Dan matanya bertemu dengan mata yang binal itu. Dia memang berandal. Penampilanya menguatirkan. Sikapnya terlalu bebas. Seenak perutnya sendiri. Tetapi setelah bergaul setengah tahun lebih, Widuri mulai lebih dapat memahami dirinya. Irfan tidak seburuk seperti yang disangkanya sejak semula. Dia penuh perhatian. Jujur. Meskipun kadang-kadang terlalu santai. Cepat marah. Egois. Tetapi kalau ada seorang perempuan di sisinya, seorang perempuan yang dapat mendorongnya ke arah yang positif, barangkali masih banyak sifat-sifatnya yang baik yang masih dapat dikembangkan. "Bagaimana dengan Gita?" "Oh, tidak sulit baginya untuk menggaet Alain Delon sekalipun." "Maksudku... kau mencintainya, bukan?" "Dengan Gita, soalnya bukan cinta, tapi kebutuhan." "Cinta bisa lahir dari saling membutuhkan." "Tapi aku belum pernah melamarnya. Berpikir ke sana saja tidak!" "Kenapa? Dia tidak cukup baik untukmu?" "Dia teman yang baik di tempat tidur. Tapi bukan istri yang baik untuk seorang laki-laki." "Lalu mengapa memilihku? Aku bukan malaikat yang kaucari. "Aku butuh istri yang terdiri atas da rah dan daging "Kalau kau serius, carilah perempuan lain, Fan Widuri memalingkan wajahnya dengan sedih. "Hidup ku kelam. Garis perjalanan nasibku penuh dengan malapetaka. Semua lelaki yang mencintaiku mendapat musibah. Entah dosa apa yang telah diperbuat ayahku ketika Ibu mengandungku, lapi yang jelas, hidup bersamaku berarti kutukan." Irian tertawa lebar. Tenang dan santai seperti biasa. "Dongeng tidak pernah menakutkan aku." "Tapi ini bukan dongeng.'" "Apa pun istilahmu, aku tidak takut." "Aku yang takut!" "Bersamaku... kutukan yang menimpa dirimu akan menjadi berkati Percayalah.'" "Aku tidak berani... lagi pula, kata siapa aku mencintaimu?" "Ah, itu tidak penting.' Yang penting, aku mencintaimu! Orang bilang, lebih baik kawin dengan lelaki yang mencintaimu daripada dengan lelaki yang kaucintai, bukan?" "Tapi aku ingin kawin dengan lelaki yang kucintai dan mencintaiku!" "Buktinya kau kawin dengan Tanto.'" Dan Widuri terdiam. Terpojok oleh kata-katanya sendiri. Kancil ini memang cerdik.' Terlalu cerdik! Tapi justru karena itu dia jadi semakin menarik... dan semakin berbahaya! *** "Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan dia?" Tiba-tiba saja suara ibu mertuanya menyengat telinga Widuri. Sudah lama dia membaca pertanyaan semacam itu di mata ibu Tanto. Tapi baru sekarang berani diungkapkannya dalam bentuk kata-kata. Begitu tiba-tiba. Langsung ke sasaran. Membuat Widuri yang sedang sibuk memandikan bayinya tertegun sejenak. "Tidak ada apa-apa," sahut Widuri setelah terdiam sesaat. "Cuma teman biasa." "Dari kau biasa mengundang teman lelakimu masuk ke kamar?" Astaga. Sampai terlepas Paris dari cengkeramannya. Bukan karena licinnya sabun yang melumuri tubuhnya. Tapi" karena tangan ibunya mendadak mengejang. Paris nyaris tergelincir masuk ke dalam baskom. Dia tersentak kaget dan menangis ketika air yang telah mencapai mulutnya tersedak masuk ke leher. Widuri demikian marahnya melihat Paris terbatuk-batuk sambil menangis. Dia tidak dapat memaafkan dirinya sendiri. Dan tidak dapat menerima tuduhan mertuanya. Tadi malam Irfan memang masuk ke kamarnya. Tapi bukan Widuri yang mengundangnya! Kebetulan orangtua Tanto sedang pergi. Pasti salah seorang dari pembantu mereka yang mengatakannya. Atau... ibu Tanto sendiri yang menanyakannya? Widuri sedang menidurkan Paris tatkala tiba-tiba saja Irfan muncul di pintu kamarnya. "Belum tidur?" tanyanya separo berbisik. Widuri cuma menggeleng. Dia sendiri heran. Biasanya Irian tidak pernah berani melangkahi pintu kamarnya. Apalagi malam-malam begini. Dan rupanya dia bukan hanya melangkahi ambang pintu. Irian benar-benar masuk ke kamar. Lebih kurang ajar lagi, dia langsung duduk di tepi pembaringan tanpa diundang. "Ada apa?" tanya Widuri dengan perasaan tidak enak. Nalurinya membisikkan agar dia berhati-hati. Susah memang jadi janda. Apalagi janda terhormat. "Nggak apa-apa. Iseng saja sendirian di luar." "Sanalah nonton TV." "Oh, TV-mu bukan hiburan. Tidak bisa dinikmati. Aku merasa sekolah lagi kalau melihat TV-mu." "Sebentar lagi ada film." "Lebih enak di sini. Menemanimu." "Aku tidak mengundangmu kemari." "Oh, laki-laki tidak perlu diundang." "Keluarlah, Ran." Widuri menghela napas mencoba sabar. "Jakarta bukan Paris. Tidak enak dilihat orang." "Apanya yang tidak enak?" "Kau masuk ke kamarku." "Salahkah itu?" "Salah, karena aku janda" "Justru karena kau sudah janda aku bebas kemari." "Fan, aku tidak perlu mengusirmu, kan?" "Kenapa sih kau takut sekali padaku? Aku toh ti- I dak akan memerkosamu!" j "Bukan takut. Aku cuma merasa tidak enak. Apa kata orang..." "Persetan! Apa pun kata mereka!" "Aku akan menidurkan Paris sebentar. Sesudah itu, akan kutenuni kau nonton TV. Oke?" "Aku lebih suka di sini. Dan aku tidak akan pernah menjual kesenanganku untuk menyenangkan orang lain! Peduli amat dengan pandangan orang!" "Tapi aku peduli!" potong Widuri tegas. "Aku memang janda. Tapi aku masih menghormati suamiku. Biarpun dia kini tinggal sepotong nama, aku menghargai nama yang diwariskannya untuk anakku! Aku tidak sudi nama suamiku dihina orang karena perbuatanku yang tercela." "Itulah kesalahanmu seja k dulu! Kau terlalu meributkan pendapat orang lain! Kalau tidak, kau tidak perlu kawin dengan lelaki yang tidak kaucintai, hanya supaya anakmu punya nama'" "Kau keliru!" desis Widuri tersinggung. "Paris di-ciptakan di atas ranjang pengantin kami, sesudah aku dan Mas Tanto resmi menjadi suami-istri!" "Lalu buat apa kau kawin dengan dia? Karena dia kaya? Karena dia bisa menghadiahkan istana untukmu? Masa depan untuk anakmu?" "Kau tidak akan pernah dapat mengerti. Karena isi kepalamu terlalu sederhana. Karena yang ada di sana cuma materi!" "Bagaimanapun aku manusia yang terdiri atas darah dan daging! Bukan cuma sepotong namai" "Aku sudah bosan bertengkar denganmu." "Siapa bilang kita bertengkar?" "Lantas kausebut apa semua ini?" "Kita hanya berlainan pendapat," sahut Irfan santai. "Dan sedang mencoba menyamakannya." "Dengan saling membentak dan membelalakkan mata?" "Itu cuma membuktikan bahwa kita ini orang-orang yang punya pendirian." "Pikiran kita tidak sealiran. Bagaimana kita bisa cocok?" "Katamu aku materialistis. Egois. Individualistis. Tapi paling tidak, aku lelaki yang punya pendirian! Biarpun macam binatang buas, orang masih lebih menghormatinya daripada kambing yang selalu meng-emhtkT "Jangan menghina almarhum suamiku!" desis Widuri marah. "Aku tidak menyesal pernah memilikinya sebagai suamiku. Kalau boleh memilih lagi, sekarang pun aku akan memilihnya pula!" "Itulah kelemahan perempuan Timur! Terlampau memuja suami! Tidak bisa berpikir dengan rasio!" "Nah, kalau aku tidak cocok untukmu, buat apa kaulamar aku?" "Karena aku mencintaimu!" "Tapi kita berbeda di dua jalan yang berbeda! Dua garis sejajar tidak akan pernah bertemu!". "Cinta kita akan mempertemukannya," "Tapi aku tidak pernah mencintaimu!" Dan Irian meninggalkan kamar itu dengan marah. Di pintu dia masih sempat menoleh. Matanya hangus dibakar api kemarahan. "Kutinggalkan Paris untuk mengejarmu. Kutinggal kan perempuan yang telah mendampingiku dengan setia selama enam tahun! Tanpa imbalan apa-apa! Tidak bahkan sepotong surat nikah pun! Kau tahu mengapa? Karena aku jatuh cinta padamu! Untuk memperolehmu, aku rela dikurung dalam penjara perkawinan. Aku nekat menyelundup ke Indonesia, meskipun namaku sudah di-blacklist di sini!" Irfan keluar sambil membanting pintu. Meninggalkan Paris yang tersentak kaget dan menangis menjerit-jerit. Meninggalkan Widuri yang masih tertegun bengong menatap pintu yang sudah tertutup rapat. *** "Kami orang-orang terhormat," kata ibu Tanto lagi setelah tangis Paris mereda. Widuri membungkus anaknya baik-baik dengan handuk. "Kami tidak sudi rumah ini dikotori oleh perbuatan mesum seperti itu!" "Seperti apa?" protes Widuri sengit. "Kami tidak melakukan apa-apa yang salah!" "Tapi lelaki itu masuk ke kamarmu! Malam-malam pula!" "Ibu." Widuri berpaling dan menatap ibu mertuanya sambil menahan marah. "Saya menghormati Ibu dan Ayah. Saya menghormati Mas Tanto. Saya tidak mau menodai nama baik keluarga ini. Saya tidak mau memberi malu kepada Paris. Saya tahu batas-batas mana yang tidak boleh saya lewati. Saya sudah dewasa!" "Ibu tahu. Tapi apa mereka juga tahu?" Ibu mengelingkan matanya ke luar. Tidak ada siapa-siapa di luar. Tetapi meskipun tidak diucapkannya, Widuri tahu, pembantulah yang dimaksudkannya. Mereka selalu dijadikan kambing hitam, walaupun yang hitam sebenarnya hati majikannya. "Saya tidak suka dimata-matai." "Siapa yang memata-mataimu? Mereka begitu karena mereka punya matai" "Kalau begitu, saya akan meninggalkan rumah ini, supaya martabat Ibu dan Ayah tidak jatuh di mata mereka cuma karena saya." "Kau boleh kawin dengan pemuda itu. Tapi tinggalkan Paris di sini. Bersama kami, masa depannya lebih terjamin." "Ke mana pun saya pergi, saya akan membawa Paris." "Kami lebih tahu bagaimana harus membesarkan seorang anak daripada lelaki pengangguran itu." "Kata siapa dia yang akan membesarkannya? Saya akan membesarkan Paris dengan tangan saya sendiri." "Pekerjaan saja kau tidak punyai Dengan apa mau kauongkosi anakmu? Warisan Tanto sudah habis untuk biaya perawatannya di luar negeri!" "Ibu tidak usah kuatir," desah Widuri tersin ggung. "Saya tidak akan menuntut warisan Mas Tanto. Saya tidak minta apa-apa." *** Tapi rumah suamimu masih ada!" geram Irfan berang. Mereka sedang duduk menunggu giliran masuk ke kamar periksa. Paris agak demam. Dan Widuri berkeras ingin membawanya ke dokter sore itu juga. Irian mengantarkannya tanpa diminta. Ketika Widuri menceritakan pembicaraannya dengan mertuanya tadi pagi, kemarahan Irfan langsung meluap. "Rumah itu milikmu! Kau berhak memilikinya!" "Sudahlah, buat apa ribut-ribut? Aku datang ke rumah itu tanpa membawa apa-apa. Biarlah aku keluar juga tanpa membawa apa-apa." "Bodoh! Mengalah saja diperlakukan sewenang-wenang begitu! Mereka boleh menindasmu seenak perutnya, kalau tidak ada aku!" "Lalu kau mau apa?" "Akan kutuntut rumah itu untukmu! Kalau perlu, lewat pengadilan!" "Statusmu saja orang gelap! Salah-salah kau malah yang ditangkap! Apa sebenarnya salahmu? Kenapa kau lari ke luar negeri?" "Aku anggota gerakan mahasiswa yang terlarang. Tahun '66 aku lari ke salah satu negara tirai besi, melanjutkan studi di sana. Tapi aku tidak betah. Aku orang yang sangat mencintai kebebasan. Gita-lah yang menolong menyelundupkan aku ke luar. Meskipun di perbatasan dia harus berhadapan dengan moncong-moncong senjata tentara berseragam yang menggeledah mobilnya." "Dia pasti sangat mencintaimu." "Aku lelaki hebat. Dia sangat mengagumiku." "Kenyataannya... kau ditinggal juga!" "Karena aku meninggalkannya! Padahal dia tidak pernah menuntu apa-apa. Cinta. Anak. Surat nikah. Tidak satu pun! Dia menerima diriku seperti apa adanya." "Kalau kau kembali, dia pasti masih mau menerimamu" "Tentu. Tapi aku baru mau kembali ke Paris kalau rumah itu telah menjadi milikmu." "Jangan ikut campur, Fan. Kau orang luar." "Aku telah telanjur menolongmu." "Tapi bukan soal-soal seperti ini." "Ingat, Widuri, anakmu butuh rumah. Dan rumah ku rumah ayahnya." "Aku masih bisa bicara baik-baik dengan orangtua Mas Tanto." "Oke, cobalah bicara! Kalau kau gagal, biar aku yang maju!" Tidak dengan jalan seperti itu, Irfan! Aku masih menghormati mertuaku." "Nah, lihatlah apa mereka juga masih menghormati hakmu?" Widuri tidak perlu menunggu lama untuk menemukan jawaban pertanyaan Irfan. Malam itu juga, tatkala Widuri masih sibuk mengompres kepala Paris, mertuanya memanggilnya ke mang tamu. Irfan yang sejak tadi membantu Widuri dengan tekun mengangkat mukanya. Dan untuk sesaat matanya beradu dengan mata Widuri. Tinggal sebentar ya, Fan," bisik Widuri sambil menaruh handuk basah di dalam baskom yang berisi air es. Tanpa berkata apa-apa, Irfan merendam handuk itu, meremasnya baik-baik dan meletakkannya di kepala Paris. Diam-diam Widuri merasa terharu melihat apa yang dilakukan Irfan untuk anaknya. "Widuri, ini Oom Jamal," kata ayah Tanto begitu Widuri muncul di ruang tamu. "Selamat malam." Laki-laki separo baya yang berpakaian amat rapi itu langsung berdiri dan menyalami Widuri dengan begitu hormatnya, sampai Widuri merasa rikuh sendiri. "Duduklah" pinta ayah mertuanya, meskipun nadanya mirip perintah daripada permintaan. Widuri segera meraih kursi yang paling dekat. Dan duduk diam-diam di sana sampai ayah Tanto membuka mulutnya lagi. Ibu mertuanya sendiri tidak kelihatan. Dan ini merupakan isyarat bagi Widuri, yang akan mereka bicarakan bukan persoalan keluarga. "Oom Jamal akan membantu kita. Bukan apa-apa. Cuma formalitas saja." Widuri tidak kenal Oom Jamal. Dia malah merasa belum pernah melihat lelaki ini. Tetapi ketika Oom Jamal meletakkan tas kantornya di atas meja dan mengeluarkan sebuah map, Widuri sudah dapat menerka, dia pasti seorang pengacara. "Ibu sudah mengatakan apa yang kalian bicarakan tadi pagi," sambung ayah Tanto lagi. "Kami tidak keberatan kau pergi dari sini. Itu hakmu. Kau sudah janda. Kau bebas memilih jalan hidupmu sendiri." Buat apa khotbah yang tidak perlu ini, pikir Widuri kesal. Dan untuk apa pengacara ini dibawa-bawa? "Kami berterima kasih untuk semua yang telah kaulakukan untuk Tanto.... Kami sadar, kau masih muda. Kau berhak untuk memilih seorang pengganti...." Sengaja ayah Tanto berhenti sejenak. Berde-ham beberapa kali, seakan-a kan memberi kesempatan kepada Oom Jamal untuk melanjutkan tugasnya. "Pak Hem berkenan memberi tunjangan kepada anak Anda, seratus ribu rupiah tiap bulannya selama Anda masih tetap menjanda. Sesudah Anda menikah lagi, dengan sendirinya tunjangan tersebut akan dihentikan." Oom Jamal menyodorkan map yang terbuka ke hadapan Widuri. "Jika Anda setuju, silakan tanda tangan di sini" Widuri membaca pernyataan yang telah diketik rapi di atas kertas bermaterai itu. Bahasanya begitu sempurna di mata hukum. Halus tapi tegas. Lunak tapi menjerat. Dalam jalinan kata-kata yang hanya seotang ahli hukum yang mampu mengarangnya, Widuri telah kehilangan semua haknya sebagai istri Tanto, kecuali tunjangan bagi anaknya sebesar seratus ribu rupiah setiap bulan selama dia masih menjanda. "Kau sendiri yang mengatakan tidak mengharapkan apa-apa lagi dari Tanto, bukan?" desak ayah Tanto ketika melihat keraguan melintas di mata menantunya. "Kami telah mengeluarkan begitu banyak uang untuk membiayai perawatannya selama sakit." "Dia memang tidak menginginkan apa-apa lagi dari almarhum suaminya." Tiba-tiba saja menyeruak suara bernada kurang ajar memecah keheningan yang menyelimuti ruangan itu. Ketika tiga pasang mata yang tersentak kaget sama-sama menoleh ke pintu, Irfan sudah tegak di sana. Bersandar di bingkai pintu ¦_____: dengan lengan terlipat di dada. "Yang diinginkannya cuma mengambil apa yang sudah menjadi haknya." "Apa-apaan ini?" geram ayah Tanto dengan marah. Dia sudah bangkit dari kursinya. Siap menerjang Irfan dan melemparkannya ke luar. Tetapi Irfan tidak memandang sebelah mata pun kepadanya. Dia hanya menatap Widuri dengan tenang. "Jangan mau menandatangani surat apa pun, Widuri," katanya sambil menyulut sebatang rokok. "Kalau tidak mau ditipu." "Keluar kau dari rumahku!" bentak ayah Tanto sengit. "Ini bukan urusanmu!" "Pantas saja kau punya istana." Irfan mengembuskan asap rokoknya ke muka ayah Tanto yang sedang menghampirinya dengan berang. "Mantumu sendiri saja kautipu!" "Keluar kau!" Ayah Tanto sudah mengulurkan lengannya untuk mencengkeram leher Irfan. Tetapi melihat tatapan pemuda itu, tiba-tiba saja dibatalkannya kembali. Sekejap tangannya mengejang di udara, untuk cepat-cepat ditariknya lagi sebelum sempat menjangkau leher Irfan. Dan seulas senyum kurang ajar bermain di bibir pemuda itu. "Tega." Digeleng-gelengkan kepalanya separo mengejek. "Baru ditinggal mati suami, punya bayi tujuh bulan, rumah satu-satunya mau ditipu juga!" "Keluar kau!" geram ayah Tanto menahan marah. "Sebelum kupanggil polisi!" "Tidak usah." Ada senyum berbahaya meronai bibirnya. "Saya yang akan memanggil polisi jika Bapak paksa Widuri menandatangi surat itu." "Saudara sebenarnya mau apa?" sela Oom Jamal sambil mengambil kembali mapnya dan buru-buru menyimpannya di dalam tas. "Punya hubungan apa dengan klien saya?" "Tunda saja pertanyaan Anda sampai di pengadilan nanti." Irfan melemparkan puntung rokoknya ke lantai dan mengijaknya dengan tenang. Ditatapnya Oom Jamal dengan tajam. Untuk beberapa detik tatapan mereka terkunci dalam bentrokan yang panas. "Atas nama Widuri, saya akan mengklaim rumah itu untuk anaknya. Kalau kalian masih kurang ajar, saya akan mengklaim lebih banyak lagi." Setelah melontarkan lirikan ancaman kepada Oom Jamal dan Pak Hem, Irian meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan ayah Tanto beku dalam kemarahan. Dan meninggalkan Oom Jamal gerah dalam penasaran. "Siapa lelaki itu?" desaknya begitu Irfan tidak kelihatan lagi. Ayah Tanto menggeram sambil melirik Widuri. Tanya padanya! Dia yang membawa bajingan itu dari Paris!" "Dia teman saya dan Mas Tanto." Tiba-tiba saja Widuri memperoleh suaranya kembali untuk membela Irfan. Tanto tidak punya teman seperti itu!" bantah ayah Tanto sengit. Tidak pernah!" "Dia yang membantu Mas Tanto selama di rumah sakiti" "Tapi dia bukan teman Tanto! Barangkali dia cuma temanmu!" "Cukup," potong Oom Jamal tiba-tiba. Matanya mendadak bersinar kembali. "Mari kita pecahkan soal ini dengan kepala dingin. Duduklah lagi, Mas Heru." Tidak sebelum pengacau itu keluar dari rumahku!" "Kalau Ayah mengusirnya, Ayah men yinggung perasaan saya. Irfan teman saya dan Mas Tanto. Dia sudah begitu banyak membantu kami." "Kalau kau mau keluar juga, kau boleh pergi!" geram Pak Heru berang. "Bawa juga anakmu kalau kau mau!" "Ayah!" desis Widuri antara terkejut dan tersinggung. Tidak menyangka mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut mertuanya. "Paris sedang sakit!" "Persetan! Aku tidak sudi melihat tampang bajingan itu lagi! Suruh dia keluar sekarang juga! Kau yang membawa penyakit itu kemari! Kau juga yang harus mengusirnya!" "Kami akan pergi, Ayah. Tapi tunggulah sampai besok pagi. Malam-malam begini ke mana saya harus membawa Paris? Dia sedang sakit." "Pak Heru tidak mengusir Anda," sela Oom Jamal lunak. "Beliau hanya tidak ingin melihat teman Anda di sini. Nah, maukah Anda duduk kembali dan menceritakan kepada saya bagaimana sebenarnya hubungan Anda dengan dia?" "Cuma teman," sahut Widuri kesal. "Sudah saya katakan, Irfan teman saya dan Mas Tanto." "Bah!" dengus Pak Heru sengit. Cuma itu. Karena Oom Jamal lekas-lekas melambaikan tangannya menyuruh diam. "Saya percaya," kata Oom Jamal ramah. "Saya tidak peduli Anda percaya atau tidak." Dengan ketus Widuri bangkit dari kursinya. "Selamat malam. Anak saya sedang sakit." "Anda tidak akan merusak hubungan baik dengan mertua Anda hanya karena teman Anda yang bera-ngasan itu, kan?" "Antara saya dan mertua saya tidak ada persoalan apa-apa. Anda yang datang membawa persoalan." "Sam pertanyaan lagi," kejar Oom Jamal separo berdiri dari tempat duduknya. "Anda tidak akan mengikuti ulah teman Anda, bukan?" Tentu saja tidak kalau Ayah menghormati teman saya sebagai tamu di rumah ini." "Juga kalau dia kurang ajar kepadaku?" Pak Heru menggeram lagi. "Berlagak jadi jagoan di rumahku?!" "Dia hanya ingin membela kepentingan saya." "Dengan menghina orang tua yang telah memberi tumpangan hidup selama berbulan-bulan kepadanya? Bah! Dia harus pergi sekarang juga! Atau kupanggilkan polisi!* "Mas Heru, dengar dulu...," pinta Oom Jamal setelah Widuri pergi. "Rumah berharga seratus juta itu atas nama Tanto. Sekarang menjadi milik anaknya yang sah. Belum lagi saham-saham perusahaan atas namanya yang telah diwariskannya kepada istrinya. Tahukah kau apa artinya itu semua?" Sekali lagi Pak Hem menggeram. Kali ini lebih sengit. Membuatnya mirip bulldog yang sedang marah melihat orang asing yang memasuki rumah majikannya. "Sekarang semua ini tergantung pada tanda tangan menantumu. Tergantung pada hubungan baik kalian. Kelihatannya dia perempuan baik-baik. Tidak kemaruk. Tidak mata duitan. Tapi lelaki itu betul-betul berbahaya." "Dia harus keluar dari rumahku malam ini juga'" "Itu tidak melenyapkan bahaya! Malah melenyapkan peluangmu untuk memiliki rumah itu!" "Dia tidak punya hak apa-apa!" "Tapi dia bisa mempengaruhi menantumu!" "Lantas aku mesti bagaimana? Diam saja dihina di rumahku sendiri?" "Tahanlah sebentar marahmu. Demi rumah itu...." "Tidak bisa! Bajingan itu mesti keluar malam ini juga! Aku tidak sudi melihatnya lagi berkeliaran di sini seperti monyet telanjang setiap hari!" *** "Tapi kita mesti pindah ke mana?" desah Widuri bingung. "Paris sedang sakit...." "Kau punya rumah, mengapa mesti bingung?" balas Irfan tenang-tenang. "Mari kita pindah ke rumahmu. Dan lihat bagaimana mereka bisa mengusirmu dari sana." "Kita tidak bisa membawa Paris malam-malam begini...." "Mengapa tidak? Kau punya mobil. Mercedes di garasi itu atas nama suamimu, kan?" "Kau tidak perlu pergi" sela ibu Tanto menahan kemengkalan hatinya. Tentu saja kepada Widuri, yang sedang kebingungan memandang anaknya yang telah tertidur dengan nyenyaknya. Bukan kepada Irfan yang duduk santai di sofa sambil menopangkan kaki dengan kurang ajar sekali. "Kami tidak mengusirmu. Tidak mengusir Paris. Kami cuma mengusir orang itu! Dialah yang harus pergi sekarang juga!" "Tapi dia harus pergi ke mana malam-malam begini, Bu?" keluh Widuri. "Dia tidak punya sanak saudara di sini" "Kalau begitu yang tahu dirilah menumpang di rumah orang!" "Kaku ada kata-kata Irfan yang salah, biarlah saya yang minta maaf, Bu..." "Suruhlah dia minta maaf pada Ayah!" sahut ibu  Tanto tanpa menoleh sekejap pun ke arah Irfan. "Barangkali masih ada belas kasihannya. Kalau dia tidak mau jadi gelandangan di Jakarta, ajari dia supaya jangan usil mencampuri urusan orang lain!" "Lho, mengapa saya yang harus minta maaf?" Irfan menyeringai mengejek. "Kalau orang tua itu tidak mau kehilangan muka, sebaiknya dialah yang mesti cepat-cepat minta maaf karena kepergok hendak menipu menantunya sendiri!" "Kau keluar dari rumahku!" bentak ayah Tanto yang tahu-tahu muncul di ambang pintu. "Sekarang juga! Kalau tidak, kupanggil polisi!" "Silakan, panggillah," sahut Irfan sambil tersenyum. Sedikit pun dia tidak bergerak dari tempat duduknya. Dengan gemas ayah Tanto meraih pesawat telepon dan sudah memutar sebuah nomor ketika Widuri menghambur ke hadapannya. "Ayah," pintanya sungguh-sungguh. "Berilah kesempatan untuk malam ini saja. Besok pagi kami pindah." "Kau tidak perlu pindah! Ini rumahmu! Kau dan anakmu boleh tinggal di sini sampai kapan saja kau mau. Tapi bajingan itu..." Ayah Tanto menudingkan telunjuknya dengan geram ke arah Irfan. "Tapi dia teman saya, Ayah. Dia sudah banyak menolong Mas Tanto semasa sakitnya sampai meninggal. Saya tidak ingin membalas budinya dengan menjebloskannya ke dalam kesulitan.""Kalau begitu suruh dia pergi!" Ayah Tanto membanting pesawat teleponnya dengan kasar. "Aku hitung sampai tiga. Kalau dia masih bercokol di situ juga, aku panggil polisi!" "Biarlah saya yang mengalah, Ayah," keluh Widuri sambil menghela napas. "Malam ini izinkan kami tinggal di rumah Mas Tanto." "Paris jangan dibawa!" potong ibu Tanto marah. "Dia sedang sakit!" "Ke mana pun saya pergi, dia harus ikut," sahut Widuri tegas. "Boleh pinjam mobilnya, Ayah?" *** "Bajingan itu luar biasa berbahaya!" geram Pak Heru sengit. "Hidungnya tajam seperti kucing mencium daging!" "Biarkan duk mereka menikmati kemenangannya Mas Heru," bujuk Oom Jamal. "Kita tidak bisa me runnihkan Napoleon di puncak kejayaannya." "Pengacara apa kau ini!" bentak ayah Tanto berang. "Kalau bukan untuk mengubah kekalahan menjadi kemenangan, buat apa kupanggil pengacara?" "Tenanglah. Semua itu ada waktunya. Perlu kesabaran. Perlu taktik. Bukan asal gebrak saja." "Aaaaah," dengus ayah Tanto jengkel.' "Kau ini cuma pintar omong saja!" "Lho, itu kan memang modal saya, Mas Heru! Mana ada pengacara yang bisu?" "Pokoknya aku mau rumahku kembali!" "Beres!" "Mobilku juga!" "Beres?" "Dan saham-saham perusahaanku...." "Serahkan saja kepada saya. Anak bawang itu merasa dirinya yang paling pintar! Padahal dia" cuma tahu Paris! Dia tidak tahu, di sini semuanya serba mungkin Widuri sendiri sampai terheran-heran ketika keesokan harinya ibu Tanto datang mengunjunginya. Dan dia tidak sendirian. Dia datang bersama seorang temannya. Katanya seorang penata rumah. "Maaf, Bu. Rumahnya masih berantakan. Belum sempat dibereskan." "Ala, buat apa repot-repot begitu!" Keramahannya malah membuat Widuri curiga. "Ini Ibu bawakan seorang home decorator terkenal dari Jepang. Biarkan saja dia yang mengatur kembali rumah ini. Untuk bersih-bersih, Ibu bawa juga Sriti dan Sainem. Biar mereka bantu-bantu kau di sini. Ya namanya juga rumah sudah setahun lebih tidak ditempati, pantas saja kotor! Mana Paris? Ibu sudah kangen sama cucu." Lalu mulailah ibu Tanto mengomandokan pem-bantu-pembantunya. Dan dia sibuk mengatur sebelum home decorator terkenal itu sempat membuka rasnya. Untung Irfan tidak ada di rumah. Dia sedang mencoba mobil barunya. Kalau tidak, dia pasti sudah mengusir mereka semua. Begitu ributnya suasana di sana sampai Paris yang sedang tidur pulas terbangun dan menangis. Tergopoh-gopoh Widuri meninabobokannya lagi. "Jangan malu-malu telepon Ibu kalau perlu apa-apa lagi," pesan ibu mertuanya sesaat sebelum pergi; Widuri sampai lupa menjawab karena bingungnya. Tidak menyangka mendapat tawaran yang demikian menarik. Dia baru mengerti ketika Irian tertawa sumbang mendengar ceritanya. "Tunggu saja," katanya mantap. "Beberapa hari lagi dia pasti kembali dengan seorang pengacara." Dan Widuri tidak usah menunggu terlalu lama untuk melihat kenyataannya. Beberapa hari kemudian ibu T anto memang kembali bersama Oom Jamal. Setelah puas menggendong dan menghujani Paris dengan ciuman seorang nenek yang rindu, setelah mengobrol obrolan yang penuh diselubungi tawa ceria, Oom Jamal menyodorkan sebuah map. Ada sehelai kertas bermaterai yang harus ditandatangani oleh Widuri. "Saya perlu rumah, Bu," kata" Widuri murung. Menyadari betapa busuknya manusia kalau hatinya sudah ditukar dengan uang. "Saya dan Paris tidak punya tempat berteduh lagi. Saya rasa, di tempatnya yang abadi pun Mas Tanto merelakan kami berteduh di rumah ini." "Tapi kan tidak perlu rumah sebesar ini, iya toh?" desak ibu Tanto manis. "Cukup rumah kecil jika kau mau hidup berdua dengan anakmu." "Gubuk pun saya tidak punya." "Oh, ku kan soal kecili Soal gampang/ Apa sih yang susah di Jakarta ku? Oom Jamal akan mengajakmu melihat rumah yang cocok. Mungil tapi nyaman. Di tempat yang aman, daerah yang tenang untuk hidup berdua saja." "Dan rumah ini?" "Akan kita jual untuk menutup utang-utang perusahaan." Tapi ini satu-satunya milik Paris, Bu! Peninggalan ayahnya"Utang-utang itu juga dibuat oleh ayah Paris, Widuri. Kau pasti tahu berapa biaya yang telah kami keluarkan untuk Tanto...." "Anda tidak perlu keluar sekarang dari rumah ini," sela Oom Jamal lunak. "Keluarlah kapan saja Anda mau. Selama belum mendapat rumah yang sesuai dengan keinginan Anda, Anda boleh tinggal di sini. Seenaknya saja. kan sama orangtua sendiri." "Betul, Wid. Mobil juga boleh kaupakai semaunya. Mobil kami kan mobilmu juga. Kalau tunjangan bulan ini kurang, misalnya saja karena Paris sakit, perlu dokter dan obat-obatan, minta saja pada kami. Kau boleh minta berapa saja. Paris kan cucu kami juga. Iya toh, Dik Jamal?" "Betul itu!" Oom Jamal tertawa ramah. Perlahan-lahan disodorkannya pulpennya ke tangan Widuri. "Ini cuma formalitas saja. Mana ada yang bisa memutuskan hubungan anakmu dengan kakek-neneknya? Apalagi cuma selembar kertas!" "Selembar kertas memang tidak bisa memutuskan hubungan darah," sambar Irfan yang tiba-tiba saja muncul dari dalam. "Tapi dapat memutuskan hubungan secara hukum. Dan dapat mengusir kau dari rumah ini, Widuri. Jangan lupa, kau sekarang punya anak. Anakmu perlu makan. Perlu pakaian. Perlu sekolah. Dan perlu rumah. Ayahnya tidak bisa memberi apa-apa lagi kecuali apa yang telah diberikannya sekarang. Jangan sia-siakan warisannya ke tangan orang-orang serakah ini, Widuri! Demi anakmu! Pertahankanlah apa yang telah kaumiliki! Itu hakmu! Bukan perampasan!" Ibu Tanto mengentakkan kakinya dengan marah. "Siapa kau ini sebenarnya? Punya hak apa kau ikut campur dalam urusan keluarga kami?" "Anggap saja aku malaikat yang diutus untuk melindungi menantu dan cucumu dari tindakan kejam kalian!" Dengan sengit ibu Tanto meninggalkan rumah mereka. Dia ingin mencaci lelaki itu. Ingin menyumpahinya. Tetapi martabatnya sebagai wanita terhomat,akan luluh kalau dia memaki orang dengan kata-kata yang kotor. Padahal dia sudah begitu ingin menceraikanbajingan yang satu ini. Sayang, di sana ada Ada orang lain. Kalau tidak... "Saudara Irian, apakah saya boleh bicara dengan Saudara?" potong Oom Jamal segera. • "Tidak boleh," sahut Irfan separo mengejek. "Karena saya terlalu pintar untuk dibohongi." "Saudara tidak punya hak apa-apa di sini." "Siapa yang bicara soal hak saya?" Irfan menyeringai sinis. "Mengusir Saudara pun saya harus meminta izin Widuri dulu. Boleh?" tanyanya sambil berpaling kepada Widuri. Tetapi Widuri tidak menjawab. Dia cuma mengangkat bahu. BAB XIV "Apa pun alasannya, kita bakal kalah." Dengan lemas Oom Jamal meletakkan tas kantornya di atas meja tulis di kamar kerja ayah Tanto. "Tanto telah mewariskan semua harta bendanya untuk anak dan istrinya. Hitam di atas putih semacam itu terlalu kuat untuk dikelabui." "Bagaimana kalau kita tuduh istrinya menyeleweng? Aku yakin bajingan itu bukan teman Tanto! Dia pasti gigolo yang dipungut Widuri dari selokan!" "Perbuatan serong seorang istri tidak memusnahkan warisan yang diturunkan seorang ayah kepada anaknya." "Aturlah bagaimana saja asal rumah itu kembali kepadaku!" "Salah-salah bukan rumahmu yang kembali mala h sahammu ikut hilang!" "Ala, pengacara apa kau ini! Apa aku harus mencari pengacara baru yang lebih pintar? "Sekarang mereka sudah puas dengan rumah dan mobil itu, Mas Heru. Kalau kauungkit-ungkit lagi, tidak mustahil mereka akan mengklaim yang lain juga! Kerugian malah jadi lebih besar lagi," "Aku ingin tahu siapa pemuda itu, gumam ayah Tanto dengan mata berkilat-kilat menahan marah. "Cari tahu siapa dia, Jamal! Cari apa kelemahannya! Aku belum akan mati dengan mata terpejam kalau belum berhasil menghancurkannya!" "Mas Heru, saya ini pengacara. Bukan detektif sewaan...." "Ah, jadi pengacara pun kau tidak becus!! Hampir setahun kau tuntut rumah sengketa itu! Mana hasilnya? Melawan pemuda ingusan saja kau sudah keok!" *** Tanah pemakaman sudah lama direnggut sepi. Rombongan yang baru saja mengubur kerabatnya sudah pulang semua. Beberapa orang yang sedang menyambangi makam keluarganya pun telah pergi. Tinggal taburan bunga yang mewarnai ranah makam di sana-sini. Lembayung senja menggantung hening di atas pe-kuburan. Sementara matahari yang sudah digenggam kantuk mengintai malu-malu dari sela-sela dedaunan pohon yang rindang Tetapi Widuri masih bersimpuh di depan pusara Tanto. Sudah hampir setengah harian dia mendekam di sini. Bukan hanya setahun sekali.. Hampir setiap akhir minggu dia menyambangi makam suaminya. Tetapi hari ini, dia bukan hanya menyambangi. Hari ini dia ingin mencari ketenangan. Hanya di sini dia merasa dekat dengan Tanto. Merasa akrab dengan arwah suaminya. Di dekat jasad berkalang tanah yang tinggal papan nama di bibir nisan ini, dia bebas mengadu. Di rumah, semuanya ribut. Tidak ada kedamaian. Paris yang mulai nakal, berjalan ke sana kemari meraih barang apa saja yang dilihatnya. Kalau bukan barang yang pecah berantakan, tentu dia yang nangis dicubit Widuri atau dimarahi Irfan. Rumah yang masih saja disengketakan di pengadilan; walaupun sudah hampir setahun mereka menempati rumah itu. Anggaran rumah tangga yang semakin besar, padahal tunjangan dari keluarga Tanto semakin seret datangnya. Widuri benar-benar merasa gerah di rumahnya. Dia ingin bekerja. Tapi dengan siapa Paris di rumah? Irfan belum bekerja Tidak ada kantor yang mau menerima pegawai yang tidak punya surat keterangan bebas G-30-S. "Kalau aku punya modal," katanya selalu. "Aku bisa usaha!" Tapi modal dari mana? Rumah dan mobil mereka masih dalam sengketa. Bagaimana dapat dijual? Meninggalkan Paris di rumah bersama Irfan, Widuri tidak tega. Bagaimanapun lelaki tidak cocok mengasuh anak. Apalagi anak senakal Paris. Irfan tidak sabaran. Mana dia telaten mengurus anak kecil! Kalau Paris celaka, Widuri akan menyesal seumur hidup. Minta ibunya tinggal di rumah lebih tidak mungkin lagi. Ibu masih repot bikin kue. Dari sanalah mengepul asap dapur mereka. Minta adik-adiknya tinggal di rumah juga tidak mungkin. Adik-adiknya masih sekolah semua. Selama ini mereka memang bergantian menemani Widuri. Tidak enak tinggal bertiga saja bersama Paris dan Irfan. Karena itu secara bergantian, adik-adiknya tinggal di rumahnya kalau malam. Ibu sendiri sudah berulang-ulang mendesaknya agar menerima saja lamaran Irfan. Tidak baik dilihat orang tinggal bersama seperti itu." "Tapi kami tidak tinggal bersama, Bu," protes Widuri tersinggung. "Dia cuma numpang kok!" "Ah, di mata orang luar apa bedanya? Mereka toh tidak bisa mengintip ke kamar tidurmu?" "Saya tidak bisa mengawininya, Bu." "Mengapa? Katamu dia baik, bukan? Dia selalu menolongmu. Membelamu. Kalau bukan karena dia rumah ini sudah bukan milikmu lagi." "Tapi saya tidak mencintainya, Bu." "Cinta akan datang perlahan-lahan, WId. Tidak selamanya cinta mesti hinggap pada pandangan pertama. Kadang-kadang cinta baru singgah di atas ranjang pengantin." "Sebenarnya..." Widuri menggigit bibir sambil menundukkan tatapannya. Matanya tersembunyi di balik bulu matanya yang panjang dan lentik. "Saya takut, Bu..." "Takut? Kau takut apa? Kau takut menikah lagi?" "Saya belum dapat meyakini diri saya sendiri.... saya selalu membawa bencana kepada pria-pria yang mencintai saya...." "Kau masih punya Tuhan dalam hatimu kan, WId? N ah, mengapa kausandang sendiri ketakutanmu?" Widuri mengangkat mukanya. Dan menatap ibunya dengan penuh haru. Sejenak tatapan mereka terkunci dalam kabut keharuan. "Ibu...," desahnya sambil lari memeluk ibunya "Tahukah Ibu...?" "Apa, Sayang?" "Ibu sudah banyak sekali berubah...." Sambil tersenyum pahit ibunya membelai-belai kepalanya. Sama seperti yang sering dilakukannya belasan tahun yang lalu, ketika Widuri masih kecil. Di belakang pondok mereka ada sebatang pohon asam yang rindang. Kalau matahari sedang menyengatkan panasnya, ibu Widuri selalu membawa anaknya ber-teduh di bawah pohon itu. Di sana sambil bernyanyi-nyanyi kecil dia membelai-belai kepala Widuri sampai anak yang sudah separo mengantuk itu jatuh tertidur. "Kau juga sudah berubah, Widuri," bisik Ibu lirih. "Tapi jangan sampai penderitaan menghancurkan dirimu! Ingat anakmu. Ingat Ibu. Ingat adik-adikmu. Kami semua membutuhkan dirimu." "Kadang-kadang saya tidak tahu mau ke mana nasib ini membawa saya, Bu...." "Kau harus tabah, Nak." "Saya tidak tahu mengapa Mas Tanto harus pergi pada saat kami baru saja punya anak...." Air mata meleleh diam-diam membasahi pipi Widuri. "Saya tidak tahu mengapa orang sebaik Parlin mesti masuk penjara, mengapa Rizal harus mati... mengapa orang-tua Tanto begitu memusuhi saya, padahal saya cuma rninta rumah untuk tempat saya berteduh bersama anak saya.... Mereka punya begitu banyak kambing... mengapa kambing saya yang hanya satu-satunya ini yang mau mereka ambil untuk disembelih?" "Ketamakan selalu menjadi sumber bencana, Wid," bisik ibu Widuri getir. "Tapi Tuhan tidak buta. Yang dengki itu selalu ada balasannya. Sabarlah, Wid. Orang sabar dikasihani Tuhan." "Saya kurang sabar bagaimana lagi, Bu? Kalau mengikuti adat Irian, sudah saya tuntut semua hak Mas Tanto untuk diwariskan kepada Paris. Tapi saya cuma rninta rumah ini. Sekadar tempat berteduh. Mobil pun sudah berulang-ulang saya minta kepada Irian agar dikembalikan... buat apa mobil mewah seperti itu? Bayar bensinnya saja sudah kewalahan!" "Irfan bermaksud baik, Wid. Katanya mobil itu akan dijual. Uangnya akan dijadikan modal untuk berdagang. Dia ingin menghidupi keluargamu tanpa mengharapkan tunjangan lagi dari keluarga suamimu. Bukankah itu niat yang sangat baik? Sayang mobil itu masih dalam sengketa. Belum bisa dijual." Diam-diam Widuri menghela napas panjang. Bukan baru sekali ini saja dia mendengar Ibu berpihak kepada Irfan. Padahal biasanya Ibu paling alergi terhadap lelaki semacam dia. Sudah tampangnya berandal, sikapnya teriak bebas, pengangguran, lagi! Kalau Ibu selalu mendesaknya untuk menerima lamaran Irian, pasti ada alasannya. 296 "Kasihan adik-adikmu, Wid." Alasan itu muncul dalam perkataan yang berikutnya. "Siapa yang berani melamar Menuk, Riri, dan Wiwin kalau kakak perempuan mereka tinggal bersama dengan seorang lelaki tanpa menikah?" *** Dan Widuri menelungkup ke atas pusara Tanto. Menangis tanpa suara, disaksikan oleh kembang-kembang bisu yang baru saja ditebarkannya. Mestikah aku menikah dengan dia, Mas? Tidak marahkah kau di atas sana? Tidak berbalikkah jasadmu di perut bumi kalau aku menerima lamarannya? Dan sebuah tepukan lembut menyentuh bahunya. Ketika Widuri mengangkat wajahnya, dia melihat Irfan membungkuk sambil tersenyum di hadapannya. "Bukan di situ harus kaucari jawabannya, Widuri," katanya setenang biasa. Diraihnya lengan perempuan itu. Dihelanya ke dalam pelukannya. 'Tapi di sini, di dada lelaki yang menyimpan sebongkah cinta untukmu." Widuri tidak melawan ketika Irfan membawanya pulang. Bersama-sama mereka melangkahi jalan setapak dengan gundukan tanah-tanah bisu di kiri-kanannya. Sementara sinar matahari senja yang kemerah-merahan bersorot redup di balik punggung mereka. Pelataran parkir pun telah sepi. Hanya mobil mereka yang masih menunggu di sana. Irfan langsung membukakan pintu untuk Widuri. Dan tanpa berkat apa-apa, Widuri masuk ke dalam. Irian naik dari pintu yang lain. Duduk di beJakari kemudi. Dan menghidupkan mesin. Tidak ada yang bicara sampai mobil meluncur mulus di jalan raya. "Jangan cepat-cepat, cetus Widuri tatkala sisi kiri  mobil mereka hampir menyerempet motor. "Kau kan tidak punya SIM." "Sudah hampa pukul enam. Kita mesti buru-buru. Aku cari kau ke mana-mana. Hampir lapor polisi. "Memangnya kira mau ke mana?" "Jemput tuan muda di rumah ibumu." "Paris?" Widuri mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Irian ingat membawa Paris kalau mereka sedang pergi berdua. Malam pula. Dia lebih senang kalau acara mereka berdua tidak diganggu oleh ulah koboi kecil yang nakal itu, "Aku janji jemput Paris pukul lima. Sekarang sudah hampir pukul enam." "Nggak apa-apa. Dia suka kok main di rumah Ibu." "Kita mau pergi sama-sama." "Ke mana?" "Ke restoran." "Sama Paris?" "Jangan kuatir. Cuma minum es krim. Takut kuajari minum anggur?" "Sore-sore begini minum es krim? Dia bisa sakit perut! "Salahmu sendiri! Kau menghilang!" "Ada apa sebenarnya?" desak Widuri curiga. Kenapa kau tiba-tiba ingin mengajak Paris minum .es krim?" "Merayakan kemenangannya." Irfan tersenyum lebar. Sengaja menanti pertanyaan Widuri yang berikutnya. Membuat dia lebih penasaran. Dan lebih bersemangat lagi mendesak terus. Mengejarnya dengan pertanyaan. "Kemenangan apa? Dia main apa?" "Perkara rumah sengketa itu telah putus. Pengadilan memberikan rumah dan mobil Tanto untuk Paris. Kau menjadi walinya sampai dia berumur dua puluh satu tahun. Apa kemenangan gemilang ini tidak perlu kita rayakan?" Widuri tertegun. Untuk sejenak dia tidak tahu hams tertawa atau menangis. Setelah melalui bulan-bulan yang mendebarkan dan sidang-sidang yang menegangkan, akhirnya mereka memenangkan perkara itu! Lho, kok malah bengong?" goda Irfan sambil meraih tangan Widuri dan menggenggamnya kuat tapi lembut. "Tidak gembira nih?" "Gembira," sahut Widuri tersendat. "Kita rayakan bersama Paris. Oke?" "Jangan minum es krim. Sudah malam. Nanti sakit perut." "Oke. Apa saja yang kauman! Bagaimana maumu cara kita merayakannya? Tidak es krim, lalu apa? Paris belum lagi genap dua tahun, tapi dia sudah menjadi jutawan!" Irfan tertawa gelak-gelak. Begitu riangnya sampai sekujur parasnya berlumur senyum. "Kita ajak dia makan bubur, beli mainan, lalu pulang. "Kalau begitu ajak Menuk." "Menuk?" Sekali lagi dahi Widuri berkerut. "Biar dia yang menunggui Paris. Pulang makan, kita jalan lagi. Merayakan kemenangan ini berdua saja. Oke?" Sebelum Widuri sempat menjawab, Irian telah membanting kemudi. Mobil mereka membelok dan berhenti tepat di depan pintu rumah ibu Widuri. Baru saja Irian mematikan mesin, Paris telah berlari-lari keluar dengan langkahnya yang masih tertatih-tatih menyongsong ibunya. "Obing! Obing!" teriaknya sambil tertawa-tawa. "Kut obing!" "Dia mau ikut naik mobil," tersenyum Irian. Buru-buru dia membuka pintu dan menerima Paris dalam pelukannya. "Kok nggak ada yang jaga?" gerutu Widuri sambil turun dari mobilnya. "Kalau dia lari ke jalanan bagaimana?" "Repot," sahut Menuk pendek. Dia baru saja keluar membuntuti Paris. Seperti biasa, mukanya mendung terus seperti langit kala musim hujan. "Tapi Paris tidak boleh dilepas sendirian," gumam Widuri jengkel. "Pintu terbuka lagi. Dia bisa kabur ke jalanan." "Memangnya nggak ada kerjaan lain? Semua juga lagi repori Mana nakalnya bukan main, lagi! Nggak ada diamnya! Siapa yang sempat ngurusin dia terus?!" Tanpa berkata apa-apa lagi Widuri masuk ke rumah, meninggalkan Menuk yang masih menggerutu di luar. "Maaf ya, Nuk." Sambil menggendong Paris, Irfan menghampiri Menuk. "Terlambat lagi nih!" Tanpa menjawab sepatah kata pun Menuk membuang muka dan memutar tubuhnya masuk ke dalam. "Kesal, ya?" goda Irfan yang mengikutinya dari belakang. "Kok ngambek? Masa disuruh jaga anak saja sudah kewalahan. Katanya mau jadi ibu?!" "Cih!" dengus Menuk sengit. Tetapi Irfan tidak undur digetak. Bentakan sekalipun. Apalagi cuma disodori muka masam seperti itu. Senyum tidak lekang dari bibirnya, biarpun isi perutnya sudah hampir tumpah melihat tandusnya wajah Menuk yang cemberut dinodai kemarahan. "Ikut yuk! Jalan-jalan." Jadi babu?!" sergah Menuk begitu cepatnya sampai Irfan jadi terkejut sendiri. "Jagain Paris?" "Oh, Paris tidak' perlu dijaga kalau naik mobil! Dia akan duduk diam-diam di pangkuan  Ibunya mengawasi saya menyetir mobil." "Lalu buat apa saya diajak? Emoh ah jadi kambing congek!" "Lho, siapa bilang jadi tempolong kalau ikut kami? Kita sama-sama pergi untuk merayakan kemenangan Paris atas rumah dan mobil yang diwariskan ayahnya! Nah, hebat nggak? Jutawan cilik ini sudah mengalahkan kakek ubanan di pengadilan sana!" Sambil mengangkat Paris tinggi-tinggi melewati kepalanya, Irfan mengikuti Menuk masuk ke dalam. "Mau ikut Papa naik mobil nggak?" "Nggak," Paris membeo dengan lucunya. Padah dia mau ikut. "Mau ikut Papa?" "Kut." Papa, pikir Menuk jijik. Bukan Oom! Paman! atau persetan apa pun! Asal jangan Papa! Bapak! Ayahnya-kah lelaki itu? Berani-berani dia mengaku Bapak! IH ruang dalam mereka bertemu dengan Widuri yang sedang duduk mengobrol dengan ibunya. Menuk langsung membuang muka dan menghilang ke belakang tanpa berkata sepatah pun. Ruang yang hening itu mendadak penuh dengan rawa Irfan dan kekeh Paris yang masih asyik bercanda. "Jutawan cilik." Irfan mendudukkan Paris di bahunya. "Panggil Mama!" "Mamaaaa...!" Puris langsung mengulurkan tangannya minta digendong. Widuri bangkit mengambilnya dan Paris menggeliat manja dalam gendongan ibunya. "Obing...," ocehnya lucu. "Kut...." Dalam gendongan ibunya, Paris melambai-lambaikan tangannya kepada Irfan, seakan-akan minta diajak dan takut ditinggal lagi di sana. Dia begitu suka naik mobil sampai kadang-kadang Widuri kewalahan menumu kehendaknya. Irfan-iah yang selalu dengan sabar mendukungnya ke mobil dan membawanya berputar-putar dengan mobil mereka. *** Karena Menuk tetap menolak ikut, terpaksa mereka pergi beraga saja merayakan kemenangan itu. Sebenarnya Widuri sudah malas keluar lagi. Sesudah menidurkan Paris, dia tidak ingin ke mana-mana lagi. Lebih-lebih di rumah tidak ada orang. Dengan siapa Paris ditinggal? Cuma Ade yang malam ini tinggal di rumah Widuri. Dan pemuda itu selalu kalang kabut kalau tiba-tiba Paris terjaga dari tidurnya dan menangis. Irfan-lah yang memaksa Widuri pergi. "Di kepalamu cuma ada Paris!" Seperti biasa, Irfan selalu marah-marah kalau kemauannya tidak dituruti. "Masa tidak ada waktu sedikit pun untukku?" Terpaksa Widuri pergi. Hanya untuk menyatakan terima kasihnya kepada lelaki yang telah berjuang selama berbulan-bulan mempertahankan milik Paris, warisan dari ayahnya. Tetapi Irfan memakai kesempatan itu bukan hanya untuk merayakan kemenangan mereka. Dia menggunakannya sekaligus untuk melamar Widuri sekali lagi. Kali ini secara resmi. Dia meraih tangan Widuri yang masih terkulai di atas meja selesai bersantap malam. Mengenakan sebentuk cincin di jari manisnya. Dan mengecupnya dengan mesra. "Kawinlah dengan aku, Widuri," pintanya lembut. "Esok pagi kita mulai hidup baru." Sesaat Widuri tepekur menatap kilatan cincin di jari manisnya. Dia merasa terharu. Sekaligus sesak. "Hidup kita masih berantakan, Fan," bisiknya lirih. "Masih banyak yang harus kita bereskan. Kau sendiri masih menganggur. Statusmu masih gelap. Bagaimana kita bisa menikah?" "Walau pulang dari pengadilan tadi telah kubicarakan semua dengan pengacara kita. Mobil itu bisa kita jual. Rumah bisa kita gadaikan di bank. Kita bakal punya banyak uang. Kau tahu apa artinya itu? Aku bisa mulai usaha. Soal status, Pak Joyo berjanji akan membereskannya! Akhirnya semuanya terpulang juga pada uang! Kalau kita punya uang, apa yang tidak dapat kita lakukan? Apa yang tidak dapat dibeli dengan uang?" "Tapi semua itu bukan uang kita!" desah Widuri antara bingung dan cemas. "Uang Paris!" "Tentu! Itu semua uang Paris! Tapi kalau aku menikah dengan ibunya, dengan sendirinya aku jadi ayahnya juga, bukan? Tidak bolehkah aku memutar uang anakku sendiri? Semuanya untuk Paris! Untuk masa depannya!" "Papa!" Tiba-tiba saja terngiang kembali teriakan Paris tadi. "Papa!" O, alangkah merdunya' Alangkah bahagianya Mas Tanto kalau dia masih sempat mendengar anaknya memanggil dia Papa! Sekarang Paris memanggil Papa kepada Irfan. Paris memang belum tahu apa-apa. Widuri selalu menyuluhnya memanggil Irfan dengan sebutan Oom. Tetapi Papa memang lebih mudah daripada Oom. Bukan salah Paris kalau dia m emanggil Papa. Apalagi Irian selalu membahasakan dirinya dengan sebutan ku. "Anakmu butuh ayah," kata Irfan dulu. "Bukan cuma ibu." Anak lelaki memang membutuhkan seorang pria untuk tokoh identitasnya. Sebentar lagi Paris akan melewati tahap kecemburuan kepada ayahnya sendiri. Dia merasa disaingi untuk merebut cinta kasih ibunya. Tetapi justru karena dia tidak mampu mengalahkan ayahnya, dia akan mencari identitas dirinya dalam figur ayah. Dan fase itu hanya tinggal dua-tiga tahun lagi. Masih sempatkah dia mencari seorang ayah lain yang cukup baik untuk Paris? Irfan memang bukan tokoh ayah yang sempurna. Dia masih menganggur, meskipun selalu berjanji mau berusaha kalau ada modal. Sikapnya terlalu bebas. Kebebasan yang dianutnya pasti sedikit-banyak akan menular kepada Paris. Dan yang paling dibenci Widuri, dia atheis. Tidak percaya Tuhan. Dia memang tidak melarang istri dan anak-anaknya menganut agama. Tetapi kalau ayahnya seorang atheis, tidakkah anak-anaknya akan terpengaruh juga nantinya? Bagaimanapun dasar beragama yang baik itu munculnya dari keluarga yang saleh. Mungkinkah dari atas batu karang yang tandus tumbuh sekuntum bunga yang segar semarak? "Aku akan memeluk agamamu," bisik Irian ketika mereka sedang berciuman di atas permadani di muka televisi. Ade sudah lama tidur. Dan Paris tidak terjaga sejak tadi. Tidak ada orang lain di sana. Irfan memanfaatkan suasana romantis yang telah mereka bawa semenjak masih di restoran. Malam ini Widuri tidak menolak ketika Irfan men aumnya. Dan Irfan dapat menerka dengan tepat keraguan yang melintas di mata Widuri ketika dia melamarnya sekali lagi. Kalau cuma agama soalnya, berapa susahnya untuk ditanggulangi? Irian tidak keberatan masuk agama apa pun asal dia bisa menikah dengan Widuri. Tetapi apakah cara seperti ini dapat menjamin ketaatan beragama? "Paling tidak dia sudah punya iktikad baik untuk mulai mempercayai Tuhan," kata ibunya ketika Widuri mencoba berkonsultasi keesokan harinya. "Ini permulaan yang baik, Widuri. Siapa tahu sebagai istrinya, engkau dapat menyelamatkan sebuah jiwa dari jilatan api neraka." "Barangkali Bang Irfan bukan lelaki yang baik," tutur Ade waktu Widuri minta pendapatnya juga. "Dia terlalu berpengalaman. Ngeri deh kalau dengar dia menceritakan pengalaman-pengalamannya. Mulai dari perempuan sampai minuman keras dia ahli. Main kaminya tidak usah ditanya lagi, jenis apa pun dia rnahir. Tapi kalau dia sudah insaf, mau bertobat dan memeluk agama karena ingin menikah denganmu, jangan ditolak, Mbak. Justru karena dia mencintaimu kau harus memanfaatkan cintanya itu untuk mendorongnya ke arah yang positif. Cuma kau yang bisa mengubahnya jadi lelaki yang baik, Mbak. Dia sudah kelewat rusak. Tapi di mata Tuhan, tidak ada kerusakan yang tidak dapat diperbaiki, bukan?" Menuk tidak dapat ditanya. Dia sudah menyingkir i sebelum Widuri sempat membuka mulurnya. Lagi J pula jawaban-jawabannya pasti cuma terasa pedasnya. Buat apa bertanya kalau hanya menyakiti diri sendiri? Tanto pun sudah membisu untuk selama-lamanya. Di rumah maupun di pusaranya tidak ada lagi yang menghubungkan mereka. Padahal Widuri ingin sekali rninta izinnya. Paris masih terlalu kecil untuk dimintai pendapatnya. Siapa yang paling sering membawanya berkeliling naik mobil, itulah papa. Irfan sendiri tidak mendesaknya untuk cepat-cepat mengambil keputusan. "Aku sudah menunggu hampir dua tahun," katanya sabar. "Menunggu dua tahun lagi pun aku tidak keberatan." Yang keberatan justru ibu Widuri. "Ingat adik-adikmu," terngiang kembali kata-kata ibunya. Hampir setiap malam sebelum Widuri terielap di atas peraduannya. "Siapa yang mau melamar adik-adikmu kalau kakak perempuannya tinggal bersama seorang lelaki tanpa menikah?" Padahal Irfan cuma menumpang hidup di rumahnya! Duh, susahnya jadi perempuan yang hidup sendirian. Apalagi kalau perempuan itu kebetulan seorang janda! Muda. Cantik pula. Banyak mulut usil yang gatal kalau melihatnya. Yang laki-laki gatal untuk bersiul. Yang wanita gatal untuk menyebar desas-desus. Seperti Ibu Eoh yang tinggal di rumah sebelah. Hampir tiap hari dia datang bertandan g. Katanya sih bawa barang. Baju-baju dari Singapura. Berlian dari Hongkong. Tetapi kenyataannya biarpun Widuri tidak pernah membeli apa-apa, dia selalu datang dan datang lagi. Matanya berkeliaran mencari apa yang dapat diceritakannya kepada ibu-ibu yang lain dalam pertemuan arisan bulan depan. "Jangan keluar kalau aku sedang ada tamu," tegur Widuri kepada Irfan. "Nanti mereka cerita yang bukan-bukan tentang kau!" "Uh, persetan!" dengus Irfan acuh tak acuh. "Ada urusan apa sama mereka? Anak bukan saudara juga bukan, kok bolehnya ikut ribut?" "Sudah berapa kali aku bilang, kalau anak gadisnya Ibu Eoh kemari, kau mesti pakai baju! Sengaja ya, bikin dia tersipu-sipu begitu?" "Lho, cemburu nih? Kira-kira dong! Masa aku nak-sir sama guci tauco? Kalau Liz Taylor sih boleh juga, biar gembrot masih sexy "Kalau Liz Taylor aku malah tidak kuatir. Soalnya kau tidak masuk bilangan." "Eh, jangan menghina! Kau tahu nggak, di Barat sana, laki-laki macam aku laku keras!" "Tapi di sini kau bukan apa-apa! Jangan bikin malu aku! Kau tahu apa yang mereka ceritakan tentang kita di luar sana?" "Masa bodoh! Mereka punya mulut! Yang lain punya kuping!" "Tapi aku tidak bisa bermasa bodoh seperti kau! Mukaku tipis!" "Nah, kalau begitu kawinlah dengan aku! Habis perkara! Kau janda, aku jejaka, apa salahnya? Kita punya anak, punya rumah bagus, punya mobil, sebentar lagi aku mulai dagang, punya penghasilan, kau tunggu apa lagi Kita bisa membina keluarga yang paling bahagia di kawasan ini. Dan guci taucomu itu boleh gigit jari! Biar dia mulai lagi mencari objek lain!" *** Ketika Parisianto merayakan ulang tahunnya yang kedua, Widut i dan It fan memakai kesempatan itu untuk sekaligus meresmikan pernikahan mereka. Tidak ada pesta besar-besar. Tidak ada upacara yang meriah. Hanya sebuah peresmian. Tidak ada pesta lagi seumur hidupku, Widuri masih tetap setia pada sumpahnya. Kita cuma akan mengundang Ibu dan adik-adikku. Seperti biasa, Irfan selalu setuju. Baginya soal-soal begitu hanya soal remeh. Di Paris orang juga tidak mengadakan pesta besar-besaran kalau menikah, katanya santai. Buat apa buang-buang uang memberi makan orang banyak? Mereka juga datang karena terpaksa. Tidak enak kalau diundang tidak datang. Lihat saja kado-kado mereka. Apa yang mereka bawa tidak mencerminkan perhatian kepada kedua mempelai. Paling-paling yang benar-benar berbahagia hanya keluarga dekat mereka. Yang lain cuma menyuburkan tumbuhnya pabrik-pabrik gelas saja. Tetapi ketika malam itu Ibu Eoh dan tetangga-tetangga yang lain berdatangan mengucapkan selamat, Widuri tetap menerima mereka dengan baik. Bagaimanapun dia toh tetap wanita Timur. Yang meng-hargai kedatangan tamu. Meskipun mereka datang lebih banyak karena rasa ingin tahu daripada sungguh-sungguh ikut bergembira. "Nah, begitu dong!" Ibu Eoh tertawa renyah, begitu gurih tawanya seperti oncom raos. "Kenapa baru sekarang? Dari dulu-dulu kan menikah lebih baik! Tidak baik lho hidup bersama tanpa diikat oleh tali perkawinan. Dari sudut agama, dosa. Di mata masyarakat, noda. Iya toh, Bu?" "Sebenarnya mereka belum hidup bersama," sela ibu Widuri, tidak dapat menahan dirinya lagi. "Mempelai prianya teman baik menantu saya waktu di Paris dulu. Dia menumpang di sini karena tidak punya keluarga lagi." "Iya." Ibu Eoh tertawa lebih gurih lagi, sampai karena terlalu gurihnya, yang mendengar hampir muntah. "Tapi orang luar kan tidak tahu! Iya toh, Bu?" "Silakan dicicipi makanannya, Bu Eoh," potong Widuri menelan kemuakannya. "Nanti keburu kenyang kalau kebanyakan ngobrol!" "Siapa sih yang bawa radio rusak itu kemari?" gerutu Irfan kesal. "Sstt!" Widuri menginjak kaki suaminya. "Jangan keras-keras! Kita kan tetap mesti menghormati tamu!" "Tamu!" geram Irfan mengkal. "Melihatnya saja aku sudah silau! Badannya persis kapstok tempat menggantung segala macam barang!" Tubuh Ibu Eoh memang sarat dengan segala macam benda yang berkilau-kilauan. Lehernya diganduli kalung bermata berlian. Pergelangan tangannya dilingkari gelang-gelang emas. Dan jari-jemarinya penuh cincin, seperti jari Firaun. Pakaiannya demikian semarak seperti penyanyi y ang sedang beraksi di atas panggung. Make-up-nya pun begitu seronok, sehingga kalau dia lebih muda sedikit lagi saja, orang pasti mengira dia yang jadi pengantin. "Kita mulai saja sekarang?" tanya Pendeta Yonathan sudah pusing mendengarkan ocehan ibu-ibu yang sedang duduk di sampingnya sejak tadi. "Cincinnya sudah siap?" Menuk yang sejak tadi sibuk melayani tamu mengambil sebuah kotak kecil dari atas meja dan menyodorkannya ke tangan Pendeta Yonathan. "Siap, De?" tegur Widuri kepada Ade yang masih asyik memotreti pacarnya. "Sudah dulu dong motret-nya, nanti filmnya keburu habis!" "Pengantinnya yang ini, De!" gurau Irfan. "Buat foto yang bagus, ya! Kalau bisa, lebih bagus dari aslinya!" "Barangkali mesti tambah lampu untuk menyoroti mukamu, Bang," Ade balas berkelakar. "Soalnya Mbak Widuri putih, kau hitam. Nanti fotonya gelap sebelah." "Mari kita mulai." Pendeta Yonathan membawa kitab suci dan kotak cincin itu ke hadapan Widuri yang telah tegak bersanding di sisi Irfan. "Tukang fotonya sudah siap?" "Siap," sahut Ade dengan gaya tukang potret profesional. Padahal memotret saja dia baru belajar. "Tolong pegang kotak cincin ini," pinta Pendeta Yonathan kepada Menuk yang tegak di sisinya. "Jika saya telah selesai memberkati mereka nanti, tolong sodorkan kepada saya." Menuk cuma menggangguk sedikit. Dan menerima kotak itu dengan kedua belah tangannya. Ibu Widuri berdiri di belakang kedua mempelai. Menggendong Paris yang kebingungan melihat ibunya ditonton begitu banyak orang. Dia masih bertanya terus kepada neneknya, meskipun Pendeta Yonathan sudah mulai membaca kitab suci, sehingga terpaksa disingkirkan dulu ke belakang. Ibu Widuri mendukungnya masuk kembali cepat pada saat Pendeta Yonathan minta cincin kepada Menuk. Suasana menjadi amat hening. Hanya lampu kilat kamera Ade yang sebentar-sebentar berkelebat menyilaukan mata. Pendeta Yonathan mengambil sebentuk cincin emas belah rotan dan mengulurkannya kepada Irfan. Tanpa ragu-ragu Irfan mengambilnya. Dia mengambil tangan Widuri. Dan memasukkan cincin itu ke jari manisnya. Tetapi sesaat sebelum cincin melingkari jari Widuri, cincin itu terlepas dari genggaman Irfan. Jatuh ke lantai dan bergulir ke dekat kaki Menuk. Serentak seisi ruangan memekik kaget. Dan Paris menangis menjerit-jerit karena terkejut. "Ya, Tuhan!'' desis ibu Widuri dengan wajah pucat pasi "Pertanda apa pula ini?" "Aduh!" desah Ibu Eoh panik "Cincin kawin tidak boleh jatuh lho? "Ah, tidak apa-apa." Buru-buru Irfan memungut dadanya. "Guna licin sedikit. Maaf, Pak Pendeta. Apa upacaranya bm diulang lagi dari semula?" "Tentu," sahut Pendeta Yonathan sambil berdoa dalam hati. "Tentu." Irfan berbalik kepada Widuri. Maksudnya hendak menenangkan istrinya. Tetapi melihat pucatnya wajah Widuri, dia jadi kaget sendiri. Wajah Widuri demikian pucatnya. Begitu kontras dengan gaun hijau daun yang dikenakannya. Matanya membelalak menatap Irfan dengan ketakutan. Belum pernah Irfan melihat Widuri sepanik itu. Bahkan ketika suaminya meninggal. Atau ketika Paris sakit sekalipun.... Irian meraih tangan Widuri. Dan tangan itu terasa dingin dalam genggamannya, "Ah, jangan berpikir yang bukan-bukan!" hibur Irfan tegas. "Ini kan cuma kecelakaan kecil. Cincin itu licin, jadi jatuh." "Pertanda apa, ya?" Ibu-ibu di belakang mereka berbisik-bisik, "Sudahlah, Bu." Irfan menepuk bahu ibu Widuri yang sedang menyeka air matanya. "Buat apa na-ngis?" "Ini alamat jelek, Fan!" desah ibu Widuri separo mengerang. "Masa cincin kawin bisa jatuh!" "Nonsens!" Irfan melambaikan tangannya menepis udara. "Ibu masih percaya yang begituan? Takhayul!" "Mari kita ulangi lagi," sela Pendeta Yonathan muram. "Mudah-mudahan Tuhan melindungi kita semua dan memberkati pernikahan Ini. "Ayolah, Wid." Irfan meraih bahu Widuri dengan lembut untuk menenteramkannya. "Masa kau juga masih percaya hal-hal seperti itu? Masih sekuno mereka? Omong kosong kaku cincin jatuh saja dianggap pertanda jelek! Iya kan, De? Rimnya habis," keluh Ade murung. "Tunggu sebentar, saya ganti dulu." "Wah, bagaimana kau ini! Dasar tukang potret amatir!" Irian masih mencoba bergurau. Tetapi ti dak ada lagi yang menanggapi kelakarnya. Semua masih terpaku dilibat oleh pikiran masing-masing. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir ini Widuri menikmati haknya sebagai seorang istri. Di atas peraduan yang sama seperti ketika dia menikmatinya bersama Tanto dulu. Tetapi dengan suami yang berbeda. Cara yang berbeda pula. Dengan Tanto, Widuri merasa menjadi seorang pembimbing meskipun sama-sama buta. Dengan Irfan, dia cuma murid. Dibawa ke mana saja yang dikehendaki oleh suaminya. Walaupun Widuri tidak ingin membandingkannya, dia toh harus mengakui, Irfan jauh lebih hebat. Lebih berpengalaman. Lebih romantis pula. Dengan Irfan, Widuri merasa menjadi seorang wanita. Lengkap. Sempurna. Peraduannya yang selalu dingin digenggam sepi kini semarak dihangati gairah yg menggelora indah ditaburi bunga bunga nirwana yang mekar memesona tak ada lagi relung gelap yang digeluti sunyi Kehangatan telah menyusup sampai ke pelosok yang paling tersembunyi diam-diam Widuri memejamkan matanya, mengucap syukur kepada Tuhan. Memohon berkat dan "lindungan Ilahi atas keluarganya. Irfan sudah lama lerlelap- Tubuhnya yang belum bertutup masih basah bersimbah peluh. Tetapi dengkurannya telah terdengar, puas dan teratur. Wajahnya begitu bening. Polos seperti wajah Paris yang sedang tidur nyenyak. Hati-hati Widuri menyelimuti tubuh suaminya. Puntung rokoknya yang masih separo terbakar mengepulkan asap di dasar asbak. Dengan sabar Widuri memadamkannya. Dan meletakkan asbak itu kembali ke tempatnya semula. Lalu ditariknya perlahan-lahan separo selimut Irfan. Diselubungkannya ke mbuhnya sendiri. Di luar malam semakin larut. Sepotong langit hitam membayang di jendela. Tetapi tidak terlalu kelam. Ada bulan tersenyum menebarkan cahayanya. BAB XV Hati-hati Widuri mengendarai pick-up-nya. menelusuri gang yang gelap tanpa penerangan. Belum ada lampu jalanan di sana. Mobil yang lalu lalang pun tidak banyak Padahal becak tak berlampu berseliweran seperti hantu dalam kegelapan. Rumah-rumah di kanan-kiri gang itu tampak suram dengan penerangan hanya beberapa watt saja di depan pintunya Beberapa rumah lagi malah belum menyalakan lampu. Hemat energi barangkali. Mereka baru merasa perlu memasang penerangan tambahan kalau sudah kemalingan. Untung saja Widuri sudah hafal yang mana rumah ibunya. Rasanya dengan mata terpejam pun dia dapat menemukannya Kalau tidak, barangkali dia sudah mesti pakai kacamata. Tiap malam harus kemari menjemput Paris. Sebenarnya Widuri tidak mau menyusahkan ibunya. Ibu sudah cukup repot. Tetapi dia harus bagaimana lagi? Sejak Menuk pulang ke kampung tujuh bulan yang lalu, tidak ada lagi orang yang dapat dipercaya menjaga Paris di rumah. Bagaimanapun, Ibu pasti lebih baik daripada pembantu. Lebih hati-hati. Walaupun sepuluh kali lebih cerewet. Widuri ingat anak temannya yang jatuh waktu diasuh pembantu. Karena takut, pembantu itu tidak berani lapor. Tahu-tahu anaknya panas. Muntah-muntah. Orangtuanya sendiri tidak tahu apa-apa. Keduanya sama-sama kerja. Tidak tahu anaknya masuk rumah sakit. Gegar otak. Sejak itu Widuri tidak berani memercayakan Paris kepada pembantu. Apalagi setelah dia melihat dengan mata kepala sendiri, pembantu di rumah sebelah sedang minum susu. Padahal susu itu dibeli majikannya untuk anaknya. Waktu ada Menuk dulu, semua beres. Berkat sikap dan pendekatan Irfan, Menuk bersedia menjaga rumah selama Widuri pergi. Malam, kalau Widuri sudah pulang kerja, baru dia pulang ke rumah Ibu. Tetapi sejak pertengkaran mereka tujuh bulan yang lalu, Menuk tidak pernah muncul lagi di rumah Widuri. Kata Ibu, dia pulang ke kampung menemani nenek yang sudah lumpuh. Tanpa pamit sama sekali. Padahal kalau dikaji kembali, pertengkaran mereka tidak terlalu hebat. Wajar kan dua orang perempuan bertengkar? Apalagi kakak-adik. Dan soalnya sepele sekali. Widuri pulang malam seperti biasa. Otaknya masih penuh dengan angka-angka setoran yang masuk. Tubuhnya lelah sehari-harian mengendarai pick-up-nya mengantarkan barang ke toko-toko dan rumah langganannya. Sebenarnya Widuri tidak perlu kerja kalau Irian tidak sedang menganggur. Irfan mengg adaikan rumah mereka untuk membuka rumah judi. Ketika judi dilarang, usahanya bangkrut. Dia coba mengalihkan usahanya ke bidang lain. Membuka tempat penyewaan kaset video, yang merupakan bisnis baru yang sedang ngetop. Herannya semakin banyak tempat penyewaan video yang tumbuh seperti jamur di musim hujan, semakin mundur pula usaha Irfan. Padahal dengan semakin tidak menariknya acara TV, mestinya orang semakin tertarik kepada video. Sementara utang di bank sudah mendesak, bunga yang sudah bertumpuk mengejar mereka seperti bayangan yang tak pernah mau berpisah dari tubuh. Terpaksa Widuri meninggalkan rumah untuk bekerja Dia membeli sebuah pick-up kecil. Belajar mengemudi. Dan membuka usaha delivery. Menyalurkan barang-barang kebutuhan rumah tangga ke rumah-rumah langganannya. Ketika hubungannya dengan pemilik-pemilik toko mulai membaik, dia juga mencoba memasukkan barang-barang tertentu ke toko mereka langsung dari pabrik atau agennya. Modalnya cuma dua. Pembawaan yang menarik. Dan kepercayaan. Widuri selalu mengerjakannya sendiri. Tidak menyerahkan begitu saja ke tangan pembantu-pembantunya. Setelah berjuang hampir dua tahun, usahanya memang maju pesat. Tetapi keadaan ekonomi keluarganya masih pengap diburu utang bank. Sementara Irfan bukan berusaha bagaimana menghindarkan rumah warisan Tanto ini dari sitaan bank, malah enak-enakan santai di rumah bermain dengan Paris dan Menuk. "Habis aku harus bagaimana?" sergah Irfan sengit. Akhir-akhir ini memang tidak ada lagi kedamaian di rumah mereka. Baik Irfan maupun Widuri sama-sama menjadi pemarah. Cepat meledak. "Kalau aku punya modal, aku pasti dapat mulai berusaha lagi. Tapi kalau aku tidak ada modal, mau dagang pakai apa?" "Yang ada di kepalamu cuma modal! Modal melulu! Mobil sudah kaujual, rumah sudah kaugadaikan, masih kurang modalmu? Mertuaku sudah tidak mau kenal aku gara-gara rumah ini, sekarang kausuruh aku menuntut lagi saham Tanto untuk modal usahamu?" "Itu hakmu! Kenapa mesti malu-malu? Kenapa ha-tus segan?" Aku bukan perempuan pengeretan!" "Kau menuntut hakmu!" "Untuk kauhabiskan di meja judi!" "Siapa bilang aku main?" "Lantas ke mana semua uangmu?" "Usahaku ditutup! Aku bangkrut!" "Dan kau menyuruhku minta uang lagi kepada bekas mertuaku? Mau kautaruh di mana mukaku?" "Aku menyuruhmu menuntut hakmu sendiri! Dengan uang itu, aku bisa mulai berusaha lagi!" "Berusahalah dengan uangmu sendiri!" "Apakah uang istriku bukan uangku sendiri?" "Itu uang Tantol Bukan uangku!" "Orang mati tidak punya uang! Mereka cuma punya belatung!" Dan tangan Widuri naik begini cepatnya menampar wajah Irfan. Sekejap mereka sama-sama tertegun. Pandangan mereka terkunci dalam suatu bentrokan yang panas. Lalu Irfan mulai merasakan kepedihan yang menyengat pipinya. Rasa sakit menjalar ke otaknya dan meledak dalam suatu entakan kasar ke lengan Widuri. "Kau masih juga mencintai bangkai yang sudah habis di makan cacing itu!" "Aku menghargai suamiku!" "Aku suamimu!" "Kau kasar!" Widuri menepiskan cekalan Irfan di lengannya. Tetapi Irfan mengetatkan cengkeramannya sampai Widuri menyeringai kesakitan. "Lepaskan! Kau menyakiti tanganku!" Tidak, sampai kau dapat menghormati aku sebagai suamimu!" "Kalau begitu mulailah berusaha menjadi suami yang terhormat!" balas Widuri ketus. Dikebaskannya lengannya sekali lagi. Kali ini Irfan melepaskannya. Dan Widuri segera meninggalkannya tanpa menoleh lagi. "Mama!" Tupai kecil itu bertengger di pegangan tangga. Padahal sudah beberapa kali Widuri melarangnya naik ke sana. Widuri takut Paris jatuh ke bawah dan kepalanya membentur lantai seperti anak temannya itu. "Paris! Sudah berapa kali Mama bilang, jangan naik-naik! Ayo turun! Nanti jatuh!" Bergegas Widuri menghampiri Paris untuk menggendongnya turun. Tetapi Menuk yang tiba-tiba muncul dari atas lebih cepat meraihnya. Tidur," katanya lebih mirip perintah daripada ajakan. "Ngngng... masih sore." Paris merajuk dalam bimbingan Menuk, yang menariknya separo menyeret ke dalam kamarnya. "Mau main sama Mama dulu..." Lalu dengan cerdiknya tupai kecil itu menoleh kepada Widuri sambil mengerang manja minta dikasihani, " Mama...." Tak tahan Widuri melihat air mukanya yang demikian penuh permohonan. Mengapa Paris harus selalu tidur pada saat ibunya pulang? Lagi pula malam belum terlalu larut. Baru pukul delapan. "Biar Paris main-main sama Mbak dulu, Nuk," kata Widuri sambil menyusul mereka ke atas. "Nanti tidurnya susah, Mbak!" protes Menuk kurang senang. "Bisa tidur sama Mbak." "Jangan dikeloni, Mbak! Nanti kebiasaan! Kalau tidurnya susah kan aku yang repot!" "Lho, masa Mbak tidak boleh memanjakan anak sendiri, Nuk?" Terus terang Widuri tersinggung. Sudah lama Menuk bertindak seolah-olah Paris bukan anaknya. Sejak diberi mandat mengasuh Paris, Menuk merasa seakan-akan cuma dia yang berkuasa menentukan apa yang boleh dilakukan oleh Paris. Mula-mula Widuri memang menghormatinya, semata-mata untuk menjaga gengsi Menuk di mata anaknya. Kalau Widuri menjatuhkan wibawa Menuk, Paris pasti tidak mau runduk padanya. Padahal sehari-hari Menuk-Iah yang mengasuhnya. Mulai dari memandikannya pagi-pagi, mengantar dan menjemputnya ke sekolah, memberinya makan sampai menidurkannya siang maupun malam. Terapi sekali-sekali Widuri ingin juga merasakan bagaimana rasanya jadi ibu. Dia ingin juga main-main dengan anaknya. Meskipun lelah, dia selalu menyediakan waktu untuk bermanja-manja dengan Paris. Justru Menuk-Iah yang rampaknya tidak senang.' Padahal apa salahnya bermain-main dengan anak sendiri? Apa salahnya tidur lebih malam sedikit? "Kalau begitu uruslah sendiri.'" cetus Menuk sengit. "Aku kan bukan babysitter? Dilepaskannya Paris. Di-ringgaikannya begitu saja. Terpaksa Widuri menahan diri. Dia tidak mau bertengkar di depan Paris. Padahal mulutnya sudah ingin membalas kata-kata Menuk. Panas rasanya diperlaku- J kan begitu kasar oleh adik sendiri. Maka begitu Paris J teridap, Widuri langsung mencari Menuk. Belum yoga sempat membuka mulutnya, Menuk f sudah mendahului berkata tanpa menoleh. Tangannya I sibuk membereskan barang-barangnya. "Besok tidak perlu dijemput lagi," katanya dingin. I "Aku mau kerja." I "Nuk, apa-apaan ini?" Kemarahan Widuri langsung j buyar. Berganti dengan kebingungan. "Kau mau kerja I apa?" "Apa saja. Pokoknya yang menghasilkan duit" "Untuk apa? Kalau kau perlu uang, kau bisa minta f 'Sudah bosan jadi babysitter di sini!" (-Siapa bilang kau jadi orang gajian di sini? Kau lean adikku." "Lebih baik kerja di kantor daripada mengurus anak! Capek-capek tidak kelihatan hasilnya!" "Hasil apa? Kau kan menolong Mbak, Nuk!" "Cari saja babysitter! Yang bisa disuruh dan diatur semaunya!" "Lho, kau marah karena Mbak ingin main-main dulu dengan Paris?" "Main sih waktu tidur!" "Nyatanya tidurnya gampang!" "Nanti jadi biasa. Tiap kali mau tidur mesti di-keloni!" "Namanya juga anak kecil, Nuk." "Tapi aku yang repoti Mbak sih enak, pulang-pulang semua sudah beres!" "Mbak kan kerja, Nuk. Cari uang. Bukan enak-enakan di jalan-jalan. Kau kan tahu, usaha Bang Irian macet. Utang di bank sudah jatuh tempo, bunganya yang sudah bertumpuk. Kalau Mbak tidak bekerja keras, rumah ini bisa disita!" "Tapi aku tidak mau tua di rumah! Mengurus anak dan suamimu seperti babul" "Kalau begitu, carilah kerja di luar," potong Widuri tidak sabar. "Kalau kau tidak mau membantu Mbak, tidak ada yang memaksa!" Dan Menuk tidak pernah kembali lagi. Sia-sia Widuri menunggunya. Ketika datang ke rumah Ibu untuk menjemputnya, Menuk telah pulang ke kampung Aneh. Padahal katanya dia ingin bekerja di kantor. "Kalau dia marah pada saya, tidak perlu melarikan diri ke kampung," gerutu Widuri penasaran. "Kalau dia tidak mau tua di rumah, dia bisa bekerja di kantor! Tidak usah menunggui Paris kalau dia tidak mau!" "Biar dia menemani Nenek di kampung," sahut Ibu lesu, "Kalau kau repot, bawa saja Paris kemari." Ade sudah bekerja. Sementara kedua orang adik Widuri yang lain masih sekolah. Irian tidak bisa diharapkan menjaga Paris di rumah. Kalau ada objek, dia bisa meninggalkan rumah kapan saja dia mau. Jadi terpaksa Paris yang diungsikan ke rumah Ibu. Setiap pagi Widuri mengantarnya ke taman kanak-kanak tempat Paris bersekolah. Siang salah seorang adik Widuri yang menjemputnya. Malam sepula ngnya teria, Widuri menjemput Paris di rumah ibunya. Tidak mudah merebut hari seorang anak kalau sudah terlalu lama di tangan perempuan lain. Lama sesudah Menuk meninggalkan mereka, hampir setiap malam Paris selalu menanyakannya. Mula-mula Paris memang gembira ke sekolah diantar, ibunya, tidur ditemani ibu pula. Tetapi lama-lama dia ingin diantar ke sekolah oleh Menuk saja. "Ke mana Tante Nuk, Ma?" Mata yang bening itu, mata jernih yang belum disentuh dosa, menerawang jauh ke depan, menembusi kaca mobil yang suram dibelai gerimis pagi. "Kok nggak datang-datang?" "Kenapa?" Widuri yang sedang mengendarai mobilnya menoleh sekilas ke arah Paris yang duduk tepekur di sisinya. "Paris kangen?" I"He-eh. Tante Nuk ngambek sama lis ya, Ma?" "Nggak kok. Tante Nuk marah sama Mama." "Lama marahnya, Ma? Nggak balik lagi?" "Nanti juga balik kalau marahnya sudah hilang. Orang marah perlu waktu dan tempat yang tenang untuk menenangkan dirinya. Paris juga kalau lagi ngambek terus ngumpet di kamar, kan?" "Kalau sudah nggak ngambek, Tante Nuk mau ngantar sekolah lagi?" "Tentu." Terus terang Widuri agak tersinggung. "Paris tidak suka diantar Mama?" "Suka," sahut Paris dengan ketulusan seorang bocah berusia lima tahun. "Tapi lebih suka Tante Nuk..." "Kenapa?" desak Widuri penasaran. 'Tante Nuk pintar bikin ayam-ayaman...." "Oh." Widuri menelan kemengkalannya. "Tante Nuk yang bikin prakarya Paris?" "Kalau lis nggak bisa...." "Mama juga bisa bikin ayam," tukas Widuri sambil berjanji dalam hati untuk-pulang lebih sore nanti malam. Ada tugas baru sedang menunggu di rumahnya. Masa dia kalah dengan Menuk? "Tante Nuk baik sama tukang gundu di depan sekolahan... beli lima dapat enam...." Jadi dia mengajari anakku jajan! geram Widuri dalam hati. Kalau cuma kelereng biarlah. Tapi kalau jajan makanan yang kotor-kotor.... dia bisa cacingan! Bisa sakit perut! Bisa.... "Kalau lis capek, Tante Nuk bilang nggak usah sekolah...." Nah, yang ini sudah keterlaluan! Anak kecil tida boleh dibiasakan membolos, apa pun alasannya! Kalau ada Papa di rumah, kita pergi lihat monyet Kenapa Papa sekarang nggak pernah ngajak lis pergi ke kebun binatang lagi, Ma?" Jadi mereka pergi jalan-jalan, pikir Widuri gemas. Dulu Irfan memang sering mengajak mereka jalan-jalan. Ke kebun binatang. Ke pantai. Ke* Taman Ria. Tapi memasuki awal tahun ketiga dari perkawinan mereka, Irfan lebih senang pergi sendiri daripada mengajak anak-istrinya. Apalagi setelah Widuri semakin sibuk dilihat pekerjaannya- Mereka hampir-hampir tidak punya waktu untuk bertemu. Pagi-pagi Widuri sudah berangkat, sementara Irfan masih meringkuk di tempat tidurnya. Sebaliknya Widuri selalu sudah tidur kalau Irfan pulang sampai larut malam. Kadang-kadang Widuri bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, apakah Irfan merasa minder atas kemajuan usahanya? Perasaan rendah diri itukah yang membuat Irfan sengaja menjauhi istrinya sendiri? Atau... dia sudah bosan dengan suguhan yang itu-itu juga di tempat tidur mereka? Dia mendambakan seorang wanita yang hangat dan bergairah, bukan seorang istri yang dingin dan loyo, yang selalu sampai di peraduannya dengan sisa-sisa keletihannya? Irfan seorang laki-laki yang romantis. Sekaligus pembosan. Dia selalu ingin sesuatu yang baru. Tidak mau kalau cuma dilayani dengan separo hati oleh istrinya. Sering Widuri merasa bersalah kalau Irfan marah-marah karena keinginannya tidak terpenuhi. "Aku tahu kau capek," gerutunya sengit. "Tapi kau juga mesti tahu, lelaki bisa jajan di luar kalau tidak kenyang di rumah!" Kalau sudah begitu, terpaksa Widuri mengikuti kehendak suaminya, meskipun matanya sudah separo terpejam. Sialnya dia justru menguap pada saat Irfan sedang menciuminya. Widuri memang tidak sengaja Kantuknya menyerang tanpa kenal tempat dan wakil. Tetapi sejak itu Irfan menjauhinya. Di luar maupun di dalam kamar tidur mereka. Hanya sekali-sekali saja dia minta dilayani istrinya. Itu pun tidak seperti dulu lagi. Laut yang dulu selalu bergelora kini diam bagai telaga. Kalaupun sekali-sekali ombak menyapa pantai, hanya riak kecil-kecil saja yang muncul di permukaan. Terus terang Widuri  memang tidak sanggup lagi melayani suaminya sesering dulu. Usahanya mulai maju. Order meningkat. Pesanan bertambah. Sesudah bekerja keras sepanjang hari, dia membutuhkan istirahat yang cukup untuk mengejar hari esok. Apalagi setelah Menuk pulang ke kampung. Dengan perginya Menuk, tugas Widuri menjadi dua kali lebih berat. Dia mesti bekerja. Mesti mengurus rumah. Mesti' mengasuh Paris pula. Tetapi Widuri tidak menyesal. Dia malah merasa mendapat tantangan untuk merebut hati anaknya kembali. Dia merasa terhina kalau anaknya lebih menyukai perem- , puan lain daripada ibunya sendiri, siapa pun perempuan itu. Banyak memang kebiasaan yang mesti diubah. Kebiasaan-kebiasaan Menuk yang tidak sesuai dengan keinginan Widuri. Sekarang Paris tidak boleh jajan lagi. Tidak boleh bolos. Dan harus membuat prakarya sendiri. Widuri hanya membantu. Mengajarkan. Tapi tidak membuatkan. Mula-mula memang susah menaklukkan hati seorang anak laki-laki yang sedang nakal-nakalnya. Widuri sendiri sudah hampir kewalahan. Kalau sedang jengkel melihat ulah Paris, kadang-kadang Widuri berpikir, alangkah enaknya jika dia punya anak perempuan saja. Anak perempuan lebih berperasaan. Lebih mudah diatur. Lebih tertarik kepada dongeng-dongeng yang selalu diceritakan Widuri sebelum Paris tidur. Suatu kebiasaan yang pasti tidak pernah sempat dilakukan Menuk. Padahal dongeng sebelum tidur amat bermanfaat bagi anak-anak. Membentuk jiwa mereka dan menanamkan rasa tanggung jawab. Membangkitkan kasih sayang terhadap sesama. Dan mengajarkan kepada mereka bahwa kejahatan akhirnya tidak pernah menang. Paris memang suka didongengi. Seperti anak-anak kin, dia senang menikmati kegagahan Gatotkaca mengarungi angkasa. Dia mengagumi jiwa ksatria Rama dalam memerangi kejahatan yang ditokohkan oleh Rahwana. Dia kecanduan mendengar petualangan-petualangan Flash Gordon di ruang angkasa. Atau kehebatan Superman mengganyang musuh-musuhnya. Tetapi kalau ok pagi prakarya dikumpulkan padahal miliknya belum jadi juga, dongeng yang seperti apa pun bagusnya tidak mampu mencegahnya supaya tidak uring-uringan. "Mana Tante Nuk?" gerutunya separo menangis. Dibantingnya dengan kesal kotak-kotak korek api yang telah disusunya baik-baik sejak sore. "lis mau Tante Nuk! Mau sama Tante Nuk ajal" "Tante Nuk juga tidak bisa membantumu!" bentak Widuri kesal. Hari ini order-nya gagal semua. Barang-barang banyak yang dikembalikan karena rusak. Dia sudah lelah berdebat dengan pemilik toko yang nyinyir itu. Sekarang dia harus tarik urat lagi dengan tupai kecil ini. Paris ingin Widuri yang membuatkan rumah-rumahan dari kotak korek api itu. Dia sudah mencoba dari sore. Tapi hasilnya tidak sebagus kepunyaan Todi. Biasanya kalau ada Tante Nuk, dialah yang turun tangan. Kalau Tante Nuk tidak bisa, dia tidak segan-segan minta tolong pada Papa. Kalau Tante Nuk yang suruh, Papa pasti mau membantu. Dan pekerjaan tangan Papa bukan main bagusnya! "Mama sih nggak bisa apa-apa!" keluh Paris separo menyesali. "Coba ada Tante Nuk... ada Papa...." "Sudah! Kalau tidak bisa buang saja! Tidak usah bikin kalau tidak mau berusaha!" "Besok lis nggak mau sekolah!" Paris menginjak kotak korek apinya sampai gepeng. Dilempar-lempar-kannya semua alat-alat yang ada di atas meja. Gunting, lem, dan mistar berserakan di lantai. "Pungut!" geram Widuri panas. "Ayo, ambil semua!" Tetapi Paris malah membuang muka. Dia sudah lari ke kamarnya ketika Widuri memanggilnya kembali. "Bereskan dulu!" ancam Widuri tajam. "Siapa yang mengajari Paris buang-buang barang begitu?!" Sambil merengut Paris memunguti barang-barangnya. Ditaruhnya barang-barang itu di atas meja Sebenarnya bukan ditaruh, rapi dibanting. Kertas-kertas yang masih berserakan di atas meja dikumpulkannya. Diremas-remasnya dengan gemas lalu dibuangnya ke tempat sampah. Dengan wajah cemberut, ditinggalkannya ruangan itu tanpa menoleh lagi. Widuri menjatuhkan dirinya dengan kesal di sofa. Dilunjurkannya kakinya yang pegal-pegal. Tiba-tiba saja dia merasa letih. Amat letih. Dia telah berjuang mati-matian untuk menyelamatkan rumah ini Supaya keluarganya masih punya tempat untuk berte duh. Tetapi di mana keluarganya itu? Irian belum pulang sampai malam begini. Paris sudah lama masuk ke kamar. Barangkali dia sudah tidur. Widuri ditinggalkan seorang diri di suri. Dalam sepi yang mencekam. Dan sakit yang mengiris pedih. Anaknya sendiri, satu-satunya alasan yang membuat dia masih ingin melihat matahari esok pagi, sudah berani kurang ajar, padahal umurnya baru lima tahun! Diam-diam dua tetes air mata mengalir ke pipinya, makin deras setiap kali Widuri menghapusnya. Dan tiba-tiba... tiba-tiba saja, suara itu datang. Begini dekat. Dekat sekali. Di belakang kepalanya. Perlahan. Lemah. Ragu-ragu. Padahal Widuri mengira dia telah tertidur sejak setengah jam yang lalu! "Mama...." Ketika Widuri menoleh, Paris menyentuh pipi ibunya yang basah dengan ujung jarinya, seakan-akan dia tidak percaya Mama menangis. Dia tidak pernah melihat air mata Mama. Ketika akhirnya dia melihatnya juga, dia merasa bersalah. "Mama nangis... lis nakal ya, Ma?" Widuri meraih anaknya ke dalam pelukannya. "Mama sedih Paris nggak mau sekolah. Mama capek-capek cari uang untuk menyekolahkan Paris. Supaya Paris pintar." "lis mau sekolah, Ma! lis mau jadi dokter!" "lis mau jadi dokter?" "Biar bisa ngobatin Mama. Kaki Mama masih suka pegal ya, Ma?" Widuri meregangkan pelukannya dan menatap Paris dengan terharu. "Sekarang juga sakit." "lis pijit ya, Ma? Ya?" "Nggak disuntik?" Widuri ingin tertawa. Sekaligus ingin menangis. "Pak dokter bisa mijit?" "Uh, bisa dong! Pakai minyak ya, Ma? Minyak kayu putih? lis ambil, ya?" Widuri mengangguk sambil tersenyum. Ketika senyumnya merekah, air matanya meleleh lagi. Sulit memang memasuki dunia anaknya kalau sudah ada orang lain di sana. Tetapi sekali dia berhasil masuk ke sana, Tante Nuk cuma tinggal catatan sejarah. Dikenang tapi tidak diharapkan kembali. Widuri memarkir mobilnya di depan rumah ibunya. Biasanya begitu mendengar deru mesin mobil ibunya, Paris berlari-lari keluar. Tetapi malam ini yang berlari keluar bukan Paris. Melainkan Wiwin. Dan bukan Wiwin saja. Riri dan Ade pun ikut keluar. Ketika ibu-nya juga muncul di ambang pintu, firasat Widuri sudah membisikkan sesuatu yang tidak menyenangkan telah terjadi "Di-mana Paris?" tanya Widuri ketika tidak duihat-nya juga anak itu. "Saya menjemputnya ke sekolah siang tadi," kata Rki yang baru duduk di kelas tiga SMA. "Kata ibu gurunya, sudah dijemput ayahnya." Irian? Ada perasaan tidak enak menjalar ke sudut hati Widuri Irian menjemput Paris? Ada apa? Apakah gara-gara pertengkaran mereka tadi malam? Irian memaksa Widuri menandatangani surat kuasa. Dia ingin menuntut saham Tanto di perusahaan ayahnya. Padahal Widuri sudah tidak ada muka lagi menemui bekas mertuanya. Apalagi menuntut haknya. Lagi pula dia tidak sampai hati. Mengapa harus sekejam itu kepada otang tua yang sudah kehilangan anaknya? Barangkali mereka memang tamak. Serakah. Tetapi ku karena mereka sudah bekerja keras hampir di sepanjang hidupnya. Widuri merasa tidak berhak menuntut harta mereka, meskipun 25% dari saham di perusahaan itu milik Tam©. Mendapat rumah dan mobil saja dia sudah merasa lebih dari cukup. Mengapa harus menuntut lagi? Tetapi Irfan berkera. ingin menyewa seorang pengacara. Dia ingin menuntut saham Tanto melalui pengadilan. Barangkali dia ingin mengulangi suksesnya tiga tahun yang lalu, ketika dia berhasil memenangkan rumah dan mobil atas nama Paria. Ketika Widuri menolak, dia malah minta surat kuasa untuk bertindak atas nama Widuri. "Aku berjuang untuk kita sekeluarga! Kau mau rumah ini disita?" "Tapi rumah ini tanggung jawab kita, Fan! Kita yang berutang di bank! Kita yang menggadaikannya! Kalau sekarang kita tidak bisa menebusnya, mengapa harus membuat susah orang lain!" "Kita tidak bikin susah orang! Kita cuma menuntut apa yang sudah jadi hak kita!" "Bayangkan perasaan mereka, Fan.... Tiga tahun yang lalu kita tuntut rumah ini Masa sekarang kita mau menuntut lagi?" "Ah, persetan dengan perasaan mereka! Mereka manusia serakah!" "Selama ini kita tidak ikut bekerja di perusahaan mereka. Ayah Tanto yang berjuang menjalankan perusahaan itu. Masa datang-datang lata mau ambi l untungnya saja?" "Aku bisa kerja di perusahaan mereka! Berapa susahnya sih jadi direktur? Asal tua bangka itu mengizinkan! Kalau anak mereka yang loyo itu bisa, masa aku tidak bisa!" "Jangan menghina Tanto!" "Dia memang seperti itu! Aku cuma mengatakan apa adanya!" Ketika Widuri memutar tubuhnya dengan marah untuk meninggalkan ruangan itu, Irfan segera me nyambar lengannya dan membalikkan tubuhnya kembali. "Mau ke mana?" "Tidur"" sahur Widuri singkat. Dikebaskannya tangannya dari cengkeraman Irfan. "Tanda tangani dulu surat kuasa ini.' Besok pagi aku bisa langsung kerja.'" Tidak!" cetus Widuri tegas. "Aku tidak mau!" "Kau lebih suka melihat rumah ini disita bank?" "Daripada mesti menyusahkan orang lain lagi?" "Ingat Paris, Widuri," bisik Irfan sambil memegang bahunya. Tetapi Widuri menghindar dan cepat-cepat masuk ke kamar tidur mereka. Seperti yang telah diduganya, Irfan juga mengikutinya ke dalam. Dia duduk di tepi tempat tidur, mengawasi Widuri bertukar baju. "Ingat masa depannya. Dia perlu uang untuk sekolah. Dia perlu rumah untuk berteduh." "Jangan bawa-bawa Paris!" potong Widuri pedas. "Aku masih mampu membiayainya dengan tanganku sendiri. Tidak usah meminjam tangan orang lain. Lebih-lebih merampok uang mertuaku!" Sesudah itu Irfan memang tidak berkata apa-apa lagi. Dia masuk ke kamar mandi. Dan keluar dari sana sesudah Widuri separo tidur. Ketika mendengar bunyi air di kamar mandi, Widuri tahu apa yang diinginkan Irfan kalau dia mandi malam-malam begini. Apalagi ketib bau parfumnya membelai hidung Widuri tatkala Irfan mencium belakang telinganya. at menjauhkan diri. Dipejamkannya matanya rapat-rapat. Dibalikkannya tubuhnya membelakangi Irfan. "Aku ingin punya anak, Wid," bisik Irfan sambil memeluk istrinya dari belakang. "Ingat waktu kau hamil dulu? Hubungan kita begitu mesra kalau kau sedang hamil. Kau baru membutuhkan diriku jika punya anak." "Aku juga ingin punya anak lagi," sahut Widuri separo menguap. "Tapi tidak sekarang." "Paris sudah hampir lima tahun." "Tapi aku masih repot." "Kau tidak perlu kerja lagi. Kau di rumah saja mengurus Paris. Biar aku yang kerja." 'Dari mana modalnya?" sambar Widuri sinis. "Kau tahu dari mana." "Tidak kalau dari mertuaku." "Aku tidak mau bertengkar lagi, Wid. Aku mandi dan menyirami tubuhku sampai wangi begini bukan untuk mengajakmu bertengkar!" "Aku capek!" "Jangan kira karena kau yang cari duit kau bisa menolak suamimu seenak perutmu!" "Kenapa kau jadi begini bernapsu? Sudah lama kau tidak bergairah!" "Apa sekarang harus mencari alasan kalau mau menggauli istriku sendiri?!" Malam itu mereka bertengkar hebat untuk keseldan kalinya. "Kau memang tidak pernah mencintaiku!" geram Irfan sambil membanting asbak kristal di atas meja disamping tempat tidur. ada di kepalamu cuma Paris! Cuma karena dia kau kawin dengan aku! Karena Paris buruh seorang ayah!" Dari dulu pun kau tahu aku tidak pernah dapat mencintaimu, keluh Widuri dalam hari. Disekanya air mata yang mengalir diam-diam ke pipinya. Bahkan pada permulaan perkawinan mereka, ketika Irfan masih mampu mempersembahkan kenikmatan dalam kebersamaan mereka, Widuri tidak pernah berhasil mencintainya. Tetapi dia tetap menghargai suaminya. Menghormati hidup perkawinan mereka. Mencoba belajar mencintai laki-laki di atas peraduannya itu. Bukan salahnya kalau sudah hampir tiga tahun menikah, hatinya masik tetap bukan milik Irfan. *** Bergegas Widuri mengendarai mobilnya pulang ke rumah. Harinya yang gundah memacu kakinya untuk menginjak pedal gas sampai ke dasar. Padahal dia tahu mobil seperti ini kurang stabil untuk ngebut. Tadinya Ade ingin ikut. Tetapi Widuri tidak sabar menunggu sampai dia selesai menukar baju. Lagi pula kalau ribut dengan Irfan, Widuri tidak mau ada saksi. Dia malu. Kalau benar Irian yang menjemput Paris... apa salahnya? Dia toh ayahnya juga. lapi kata Riri tadi dia langsung ke rumah sepulangnya dari sekolah Paris. Baik Irfan maupun Paris tidak ada di sana. Ke mana mereka pergi? Mungkinkah Irfan mengajak Pari» jalan-jalan dulu? Untuk apa? Duk memang Irian lebih dekat kepada Paris. Lebih memanjakannya. Tetapi dua t ahun belakangan ini, dia lebih suka minum-minum sendiri di bar daripada mengajak Paris minum es krim. Sejak usahanya bangkrut, Irfan memang sudah jauh berubah. Jangankan memanjakan Paris, memanjakan Widuri saja sudah jarang. Padahal dulu dia begitu romantis. Begitu penuh perhatian. Mungkinkah Irian tiba-tiba ingat untuk menjemput Paris pulang dari sekolahnya? Apakah gara-gara pertengkaran mereka tadi malam? Atau... Irfan ingin mengambil hati Widuri? Dia melakukan pendekatan melalui Paris? Tetapi ketika Widuri menemukan rumahnya masih terkunci, kecurigaannya kepada Irfan langsung bertunas. Mungkinkah Irfan berbuat begitu? Dia memakai Paris sebagai sandera untuk mendesak Widuri menandatangani surat kuasa itu? Benar-benar sadis! Tetapi... mengapa tidak? Irian tampaknya sudah benar-benar terdesak. Butuh uang. Entah untuk apa. Katanya untuk memulai usaha baru. Dia perlu modal. Usaha apa? Entah sudah beberapa belas kali Widuri bolak-balik ke dekat pesawat telepon. Menghubungi rumah sakit untuk menanyakan barangkali ada kecelakaan? Atau... menghubungi polisi? Tetapi apa yang harus dilaporkannya? Anaknya hilang diculik oleh ayahnya sendiri? HahaJ Mereka pasti mengira dia gila. Apalagi kalau tahu dia pernah dirawat di rumah sakit jiwa! Klop. Gilanya kumat. Dia mesti minta tolong pada Ibu. Pada Ade. Pada Riri. Tetapi apa yang mesti dikatakannya? Ibu, tolong saya! Irfan menculik Paris! Cari dia! Cari di mana? Malam-malam begini. Cuma menambah kesedihan Ibu saja. Selama ini Ibu tidak pernah mengkritik Irian. Meskipun dia tidak pernah menyukainya. Tampaknya Ibu sudah menerima Irian sepera apa adanya. Widuri juga tidak pernah menceritakan kejelekan suaminya sendiri. Biar kepada Ibu sekalipun. Sekarang, apa yang harus dikatakannya? Tapi... Paris! Ke mana anak itu? Sudah makankah dia malam-malam begini? Kasihan. Biasanya dia sudah tidur lelap. Widuri teringat saat-saat ketika dia menidurkan Paris kemarin malam. Dia sudah selesai mendongeng. Dan Paris sudah hampir sepuluh menit memejamkan matanya. Tidak bertanya apa-apa lagi. Widuri mengira anaknya sudah tidur. Sedang bermimpi menjadi Gatot-kaca, melayang-layang di angkasa. Tetapi baru saja dia berpikir untuk beringsut bangun dari tempat tidur, tiba-tiba saja Paris membuka matanya kembali. "Mama," sapanya sambil menatap ibunya dengan tatapan ganjil. "Sayang?" Widuri menghela napas. "Kok belum ti"Anak umur lima tahun sudah besar ya, Ma?" "Ya," sahut Widuri sambil berpikir-pikir mengapa Paris bertanya demikian. "Sudah boleh naik sepeda di jalanan?" "Di rumah boleh" sahut Widuri sabar. "Di halaman juga boleh. Di jalanan tidak. Banyak mobil. Bahaya." "Bulan k Punya sepeda ya, Ma?" Widuri tersenyum melihat mata yang bening itu menatapnya dengan penuh keingintahuan. Ingatkah ibunya? Ingatkah Mama... bulan depan dia ulang tahun? "Kalau Mama punya uang," Widuri pura-pura lupa. "Dan kalau Paris tidak nakal." Paris memejamkan matanya menyembunyikan kekecewaannya. Tetapi dia tidak berkata apa-apa lagi. Tidak merajuk. Tidak menangis. Diam-diam Widuri merasa bangga. Bangga karena anak laki-lakinya tidak ngotot minta sesuatu seperti anak lain. Bangga karena meskipun baru bemmur lima tahun, Paris sudah punya taktik tidak minta sesuatu secara langsung. Paris memang nakal. Tetapi nakalnya wajar. Nakalnya seorang anak laki-laki. Dia pandai. Cerdik. Dan berani. Sekarang anak itu belum pulang. Jadi korban perselisihan orangtuanya. Ke mana dia? Dan bel berdering begitu kerasnya memecahkan keheningan yang menyelimuti rumah itu. Refleks Widuri meraih telepon di dekatnya. Dia baru sadar bukan telepon yang berbunyi ketika terdengar bunyi dengung panjang di telinganya. Cepat-cepat diletakkannya kembali ke telepon itu. Dan bel berdering lagi. Kali ini Widuri tahu dari mana asalnya. Astaga, tentu saja! Itu bel pintu! Bergegas dia lari ke depan. Membuka pintu demikian cepatnya sampai dia sendiri heran mengapa engselnya tidak lepas. "Paris!" teriaknya tanpa sempat menarik napas lagi Dan dia mundur kembali dengan terkejut sambil menebah dadanya yang tiba-tiba menjadi sesale... Tidak ada Paris di depan pintu. Tidak ada  Irian. Penerangan di depan rumahnya menerangi seraut wajah gelap yang dikotori cambang dan janggut. Sesaat Widuri mengira dia akan dirampok. Walaupun kakinya lemas, dia masih berusaha meraih daun pintu untuk menutupnya kembali. Laki-laki kurus tinggi berjaket gelap ini pasti rampok! Dan malam ini dia seorang diri di rumah! Ya, Tuhan, seandainya ada Irfan,..! "Widuri-J" Lelaki itu menahan pintu dengan kakinya. Dan seandainya segala sesuatu pada dirinya sudah berubah sekalipun, Widuri tidak akan pernah dapat melupakan suaranya! "Pariin... desisnya kaget seperti dicekik hantu. "Mana kunci mobilmu?" Ya, Allah! Dia masih bisa bersikap setenang itu pada saat Widuri sudah hampir pingsan.... Kunci mobil! Persetan! Siapa yang ingat pada segala macam j kunci pada saat-saat seperti ini! "Mobilmu belum dikunci. Tadi sudah ada dua orang yang mengintainya." Hilang pun aku tidak peduli, pikir Widuri masih dicekam oleh kebingungan. Benarkah Parlin yang datang ini? Dia sudah begitu banyak berubah. Tubuhnya lebih kurus. Kulitnya lebih hitam. Dan cambang yang menyamak di pipinya itu... janggut yang mengotori "Ambil dulu kunci mobilmu," kata Parlin lagi. Tetap setenang tadi. "Biar saja. Aku mau pergi lagi. Anakku belum pulang." "Kalau tidak kaukunci dulu, kau malah tidak bisa mencari anakmu. Meninggalkan mobil tidak terkunci sepera itu di luar...." "Tadi aku sedang terburu-buru." "Sekarang kau masih terburu-buru?" "Ya Allah, Parlin!" "Rupanya aku datang pada saat yang tidak tepat" "Kenapa datang malam-malam begini?" "Siang kau tidak pernah ada." "Kau sudah bebas?" "Kita tidak bisa bicara di dalam? Suamimu ada?" "Pergi dengan anakku." "O ya? Lalu mengapa kau begini gelisah? Dia tidak mengajak anakmu main judi, kan?" "Parlin!" "Aku kenal suamimu. Dia sering main judi. Sering minum bersama seorang perempuan Indo." "Kau malah belum pernah melihat Irfan!" "Aku melihatnya di tempat yang tidak pantas untuk dilihat." Parlin mengambil rokoknya. Dan menyulutnya sebatang. Sambil bersandar ke pintu membelakangi Widuri, diembuskannya asap rokoknya dengan tenang. "Lelaki baik-baik tidak akan berada di tempat seperti itu. Apalagi kalau sudah punya istri." "Kau tidak tahu yang mana suamiku!" "Aku tahu semua lelaki yang pernah jadi suamimu "Kau tidak datang untuk mematai-matai suamiku, kan?" "Aku datang untuk menemuimu." Widuri menghela napas. "Aku bersyukur kau sudah bebas, Parlin. Kau sudah kerja?" "Ada pekerjaan untuk seorang bekas narapidana?" "Jangan putus asa, Parlin. Bukan cuma kau yang masih menganggur. Suamiku bukan bekas narapidana. Tapi dia juga masih nganggur. Jangan minder dengan statusmu. Sekarang kau tidak ada bedanya lagi dengan orang-orang terhormat lainnya." "Tapi suamimu bukan orang terhormat." "Bagaimanapun dia suamiku. Aku tidak mau kau menghina dia." "Dia menghina dirinya sendiri." "Parlin." Tiba-tiba saja dada Widuri berdebar aneh. "Kau lihat suamiku hari ini?" "Suamimu sudah terbang bersama perempuan Indo itu." Parlin membuang puntung rokoknya ke tanah dan menginjaknya sampai padam dengan tumit sepatunya. "Ke Paris." "Dan anakku?" pekik Widuri kaget. "Kau lihat anakku?!" Dengan histeris diguncang-guncangnya lengan Parlin. "Kau lihat Paris? Di mana dia?" Parlin meraih tangan Widuri yang masih mencengkeram lengannya. Digenggamnya tangan yang halus itu erat-erat. Ditatapnya Widuri langsung ke biji matanya. Dan melihat tatapan yang penuh kerinduan itu, terpaksa Widuri menundukkan kepalanya. "Di mana Paris?" gumam Widuri separo sadar. "Kau lihat anakku?" "Anak laki-laki berumur empat-lima tahun? Pakai seragam sekolah?" "Kau lihat dia?!" jerit Widuri panik. Dicengkeramnya jaket Parlin kuat-kuat. Diguncang-guncangnya sambil menangis. "Di mana dia, Parlin? Katakan di mana anakku?!" "Bajingan itu membawanya terbang." Parlin mengatupkan rahangnya menahan geram. "Kalau saja aku tahu dia anakmu...." "Paris!" jerit Widuri histeris. "Paris! Oh, Tuhan!" "Maafkan aku, Wid," Parlin merangkul tubuh yang sudah merosot lunglai ke tanah itu. "Kukira anak ku anak gelap mereka..." Tetapi Widuri sudah tidak mendengar apa-apa lagi. Kegelapan telah merangkum nya dalam hitam yang amat pekat.... *** Lapat-lapat Blowing in the Wind menyentuh telinga Widuri. Suara-suara merdu mengalun bersama embusan angin malam diiringi petikan gitar Parlin. Lidah api unggun yang menjilat-jilat udara bagai lengan penari yang menggapai-gapai mengikuti irama lagu. Denting-denting gitar Parlin semakin melilit keheningan. Alunan suara nyanyian mereka semakin menyatu dengan suasana malam. Semakin merenggut kesyahduan di depan kemah-kemah yang terpancang dilereng gunung Gede. Dua-tiga muda-mudi duduk di atas batu, menghitung bintang yang mengerling genit di atas kepala mereka. Sisanya mencangkung lutut di sekitar api unggun, dicekam tarian api yang meliuk-liuk merangkul malam. Widuri merasa dadanya hangat dalam deburan nuansa yang tak pernah menyentuhnya lagi selama beberapa tahun terakhir ini. Kehangatan yang mengalir turun dari mata yang menatap lembut di atas wajahnya... dan seraut wajah Parlin yang merunduk dekat semakin kabur... semakin samar... lalu wajah Parlin yang muda belia itu berubah menjadi wajah yang kelam dikotori oleh janggut dan cambang yang menyemak... makin jelas... bertambah nyata... begitu dekat dengan mukanya sendiri... "Widuri...," bisik Parlin dengan suara yang amat dikenalnya. Suara itu masih tetap miliknya. Suara yang jantan. Suara yang membuat Widuri merasa membutuhkan seorang pelindung. Dan Widuri mengerdip-ngerdipkan matanya dengan bingung. Di manakah dia? Barusan dia masih berada di lereng gunung. Di depan kemah mereka. Di muka api unggun yang membelah kegelapan malam. Dia serasa masih mendengar suara teman-temannya bersenandung. Dia masih mendengar petikan gitar Parlin yang merdu membelai-belai telinganya. Tetapi di mana itu sekarang? Di mana teman-temannya? Di mana api unggun? Di mana kemah-kemah mereka? Widuri terbaring lesu di atas ranjangnya yang empuk. Tatapannya menjelajahi langit-langit kamarnya «ang suram. Ada lampu kecil yang menyala menebar-Ican sinarnya yang temaram di sisi pembaringannya. Dan seorang laki-laki asing berlutut di sisinya.... Widuri ingin menjerit. Tetapi baru saja dia membuka mulutnya, lelaki itu telah menutup mulutnya dengan lembut. "Kau sudah cukup berteriak-teriak malam ini, Widuri," bisiknya lunak. "Aku mengerti perasaanmu. Tapi berteriak-teriak saja tidak akan mengembalikan anakmu." Anak? Anak....? A-n-a-k...?! Anak!! Paris! Tiba-tiba saja ingatan itu menyengat pikirannya kembali... Paris! Ya, Tuhan! Irfan menculiknya! Bergegas Widuri beringsut bangun. Dia ingin melompat kalau bisa. Tetapi kaki ini... duh,"lemasnya! "Paris...," gumamnya getir. Dia berdiri dengan limbung. Terhuyung-huyung sambil menggapai-gapai pintu untuk menghambur ke kamar anaknya. Tetapi Parlin menahannya dengan sabar. "Anakmu tidak berada di kamarnya lagi," kata Parlin terharu. Alangkah menyedihkan melihat kekasihnya dalam keadaan seperti ini. Rambutnya kusut masai. Mukanya pucat. Matanya merah berair. Pikirannya seolah-olah tidak berada di dalam kepalanya lagi. "Tidak!" erang Widuri separo menangis. "Paris!" "Widuri...." Dengan lembut Parlin merangkulnya. Heran, bagaimana seorang bekas narapidana yang punya pembawaan begitu kasar bisa bersikap demikian lembut. Dia memeluk tubuh Widuri begitu hati-hati, seolah-olah kuatir kuku-kunya yang panjang melukai dan menyakiti kulit Widuri yang halus. Padahal dadanya sedang bergemuruh menahan gejolak perasaannya sendiri. Enam tahun dia tidak menyentuh wanita. Sekarang, perempuan yang dirindukannya berada dalam pelukannya. Hanya cinta yang mencegah Parlin memuaskan napsunya. "Percayalah padaku. Aku akan membawa anakmu kembali. Biar ke neraka sekalipun akan kucari dia." Widuri menangis terisak-isak di dada Parlin. "Mengapa dilakukannya padaku, Parlin? Aku tidak pernah berbuat jahat kepadanya!" "Dia iblis, Widuri! Iblis berbuat jahat pada siapa saja!" Parlin mendekap Widuri erat-erat ke dadanya. Dibiarkannya air mata perempuan yang dicintainya itu membasahi bajunya. Dalam selnya yang gelap, berapa malam yang dilewatkannya tanpa merindukan perempuan ini? Perempuan yang membuyarkan cita-citanya. Menghancurkan masa depannya. Menguru ng dirinya dalam kepengapan penjara. Tetapi sampai kapan dia baru dapat memusnahkan cintanya kepada Widuri? Dia sudah dua kali menjadi istri orang lain. Sudah punya anak. Penderitaan meninggalkan gurat-gurat ketuaan yang menodai kecantikannya. Namun bagi Parlin, Widuri tetap secantik Dewi Sinta. Dia tetap seindah sekuntum seruni yang merekah penuh madu. Untuk perempuan ini, dia rela melakukan apa saja. Termasuk mencari bajingan yang melarikan anaknya ku... dan membunuhnya sekalipun! Biarpun penjara menjadi taruhannya! BAB XVI Untuk terakhir kalinya Widuri melayangkan pandangannya ke setiap pelosok kamar Paris. Di sini dia tidur setiap malam. Di sini Widuri mengukir dongeng di hati Paris. Di sudut sana dia menyimpan mobil-mobilannyayang sudah hampir selemari penuh. Di jendela itu Paris melongok setiap malam kaku ibunya pulang, waktu masih diasuh oleh Menuk dulu. Dinding-dinding kamarnya sudah penuh oleh coretan-coretan tangannya. Irian tidak pernah mengizinkan Widuri menghapusnya. Apalagi menghilangkannya dengan cat tembok baru. Lukisan-lukisan itu masih utuh sampai sekarang. "Itu karya seni," gurau Irfan seuap kali Widuri menggeleng-gelengkan kepalanya melihat coretan batu. "Kalau dia jadi Piccasso nanti, rumah ini jadi museum." Dan jadilah dinding kamar Paris penuh lukisan tangannya sendiri. Mulai dari corat-coret yang tak bermakna dengan pensil warna, sampai gambar-gambar yang lebih berbentuk dengan spidol. Sekarang Widuri harus meninggalkannya. Untuk selama-lamanya. Rumah ini reiah disita oleh bank. Widuri harus mengosongkannya dalam walau yang telah ditentukan. Selamat tinggal lukisan din ding yang penuh kenangan! Esok akan datang penghuni baru. Dan mereka pasti akan segera membeli cat tembok baru begitu melihat dinding ini Mereka akan memusnahkannya. Dan menggantinya dengan dinding baru yang lebih bersih. Lebih semarak dengan warna-warni yang indah. Tetapi tanpa arti. Tidak ada lagi coretan polos seorang bocah. Manifestasi kebebasan dunia anak-anak yang tanpa batas. 0, seandainya dia dapat memindahkan dinding ini ke ramahnya! "Aku pergi dulu, Wid!" teriak Parlin dari bawah. "Coltnya sudah penuh!" Parlin menyewa sebuah colt untuk mengangkuti barang-barang Widuri ke rumah ibunya. Sementara Ade memakai pkk-up Widuri untuk memindahkan perkakas yang kecil-kecil. Setelah enam tahun berlalu, akhirnya Widuri harus kembali juga ke rumah ibunya. Istananya yang penuh kenangan haru» ditinggalkannya. Dari gubuk dia berasal, ke gubuk juga dia harus kembali "Widuri" Parlin terpaksa naik ke atas setelah sia-sia menunggu jawaban Widuri. Dan dia menemukan perempuan itu masih tegak di tempatnya semula. Tertegun di ambang pintu kamar Paris. Menatap beku dinding-dinding bisu di hadapannya. "Widuri." Parlin menyentuh tangannya dengan kuadr. "Kau tidak apa-apa?" "Pergilah duluan," desah Widuri tanpa menoleh. "Biarkan aku di sini dulu." "Kau sudah hampir sejam berdiri di sini!" "Biarkan aku dalam kesendirian di kamar Paris." "Widuri..." Parlin menghela napas pahit. Dipegangnya bahu Widuri dengan iba. "Aku tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan begini." "Aku tidak apa-apa." Dan bunyi klakson colt dari bawah sana menyentakkan Parlin. "Aku pergi sebentar. Kau tunggu di sini sampai aku atau Ade kembali. Janji?" Widuri cuma mengangguk. Tatapannya tetap terkunci pada dinding penuh coretan di hadapannya. Terapi yang dilihatnya sebenarnya bukan cuma dinding. Dia melihat seorang anak laki-laki kecil yang sedang mencorat-coret dinding itu dengan penuh kegembiraan.... "Anak umur lima tahun sudah besar ya, Ma?" Paris! Widuri seperti melihat kembali anaknya terbaring di atas peraduannya. Di sisinya. Matanya yang bulat dan bening menatap penuh keingintahuan. "Bulan depan lis punya sepeda ya, Ma?" "Paris!" desah Widuri separo merintih. Esok hari ulang tahunnya. Hari yang ditunggu-tunggu. Mama ingat hari ulang tahunmu, Nak! Mama tak mungkin melupakan hari lahirmu! Tak pernah! Saat itu ayahmu sedang sakit keras. Sudah tidak ada harapan lagi. Tetapi Tuhan Yang Maha Pengasih masih berkenan menganugerahkan mukjizatnya. Ayahmu masih dapat menunggu sampai eng kau lahiri Padahal dokter-dokter yang pandai di sana pun sudah tinggal menghitung hari. Setiap saat Malaikat Maut dapat menjemputnya. Tetapi ketika engkau datang, ayahmu masih hidup. Dia masih dapat melihatmu, mendengar tangismu. Menyentuh kulitmu. Malah mencarikan nama untukmu! Engkau pernah bertanya mengapa namamu Paris, bukan? Engkau dulu pernah bertanya kepada Mama dari mana asalnya nama itu? Ayahmu yang memberikannya, Nak! Ayahmu yang mencarikan nama itu untukmu. Karena engkau lahir di Paris. Engkau mendampingi ayahmu selama dia dirawat di sana! Di mana engkau sekarang, Nak? Di tempat dari mana engkau datang? Lima tahun yang lalu engkau lahir di sana. Kini kau kembali. Tetapi di dalam tangan orang-orang yang tidak mengasihimu. Tidak memerhatikan dirimu. Kedinginankah engkau? Apakah mereka memberimu baju hangat? Tidakkah ayah tirimu lupa menyelimutimu? Sedang menangiskah engkau sekarang, Paris? Perutmu lapar? Atau,» engkau rindu ibumu? Engkau takut? Jangan menangis, Sayang. Anak lelaki tidak boleh cengeng. Engkau haru» tabah. Berani. Menghadapi tantangan apa pun yang datang menghadangmu. Apakah ibu titimu berlaku kasar terhadapmu? Atau... ayahmu melupakan engkau karena terlalu sibuk dengan perempuan Indo itu...? Perempuan Indo... apakah bukan Gita? Irfan memang seorang pemburu. Dia hanya mencintai mangsa yang berlari di hadapannya. Kalau tidak ada lagi yang perlu diburu, dia akan mengejar mangsa yang lain. Perempuan baru yang akan merangsang gairahnya. Tetapi mengapa harus mengorbankan Paris? Mengapa harus membawa anaknya? Sebagai sandera kalau dia mendapat kesulitan pulang ke Indonesia nanti? Atau... sebagai jaminan kalau dia perlu uang? Dengan Paris dalam tangannya, dia bisa minta apa saja yang dia suka. Dia bisa menyuruh Widuri melakukan apa saja... termasuk menuntut saham Tanto...? O, manusia celaka itu! Mengapa dia selalu membuat susah orang lain? Mengapa harus membawa bibit penyakit itu pulang kemari? *** Sudah sebulan Widuri kalang kabut mencari anaknya. Yang berwajib pun sudah dihubungi. Tetapi tidak mudah mencari Irfan. Dia orang gelap. Di Kedutaan Besar Indonesia pun arsip tentang dirinya tidak dapat ditemukan. Parlin sudah bertekad untuk mencari mereka. Dia harus menemukan Paris. Harus membuat perhitungan dengan Irfan. Tetapi tidak mudah membuat paspor untuk seorang bekas narapidana yang baru saja bebas dari penjara. Apalagi Widuri masih terikat utang pada bank. Dia tidak dapat lari begitu saja ke luar negeri. Lagi pula mereka tidak punya cukup uang untuk membeli tiket pesawat ke Paris. Belum lagi untuk hidup di sana selama mencari Irfan. Sudah sebulan Widuri tidak bekerja. Dia sudah berniat menjual pick-up-rrya. Dengan hasil penjualan mobil itu dia bisa membeli tiket pesawat. Bagaimanapun juga, dia nekat berangkat. Dia harus mencari Paris! Apa pun yang terjadi. Tetapi pick-up itu tidak pernah kembali. Ade yang mengemudikannya untuk mengangkuti barang Widuri yang masih tertinggal di rumahnya pulang dalam keadaan babak belur. Beberapa orang laki-laki tak dikenal mencegatnya. Mereka membawa pick-up itu ke luar kota dan membakarnya sampai habis. Ade disuruh pulang setelah dianiaya. Dia dipukuli habis-habisan sehingga terpaksa dirawat di rumah sakit. Semalam-malaman Widuri meratapi nasibnya. Dia tidak mengerti mengapa nasib begitu kejam kepadanya. Satu-satunya rruljknya dibakar habis. Adiknya luka-luka. Untuk apa semua ini? Apa dosanya kepada mereka? "Kau punya musuh?" tanya Parlin ketika mereka sedang duduk menunggui Ade di rumah sakit. Widuri menggeleng. Siapa yang sakit hati padanya? Dia tidak pernah melukai hati orang lain. Menyinggung perasaannya. Atau merugikan miliknya. "Saingan?" "Banyak Namanya juga usaha." "Ada yang iri padamu?" "Sampai begitu? Mustahil. Membakar mobil dan menganiaya orang perbuatan kriminal. Kalau dia sampai sanggup menyewa orang untuk melakukan ini padaku, sakit hatinya pasti luar biasa!" "Kalau aku ada di sana, akan kupaksa orang-orang bayaran itu mengaku!" geram Parlin penasaran. "Sudah ditangani yang berwajib, kau tidak perlu ikut campur. Ingat statusmu, kau residivis!" "Kau y ang bilang statusku sekarang sudah sama dengan orang lain!" . "Tapi kalau kau bikin ribut lagi, hukumanmu lebih berat karena kau sudah pernah dihukum!" "Ingin kulumatkan kepala orang yang menyuruh melakukan perbuatan keji seperti ini!" dengus Parlin berang. Walaupun tidak dikatakannya, Widuri juga ingin meludahi muka orang itu kalau dia tertangkap nanti. Kasihan Ade. Mukanya babak belur. Akan cacatkah mukanya nanti? Tetapi ketika sebulan kemudian Widuri dipanggil menghadap ke kantor polisi untuk melihat orang yang menyuruh membakar mobilnya dan menganiaya Ade, Widuri tidak bisa lagi meludah. Orang itu sedang duduk membelakangi pintu di depan meja tulis petugas yang memeriksanya. Dia tidak menoleh ketika Widuri masuk. Tetapi dari belakang pun Widuri telah mengenali ayah Tanto.... Dan dia hampir tidak mampu membuka mulutnya karena shock. "Kenal orang ini?" Widuri mengangguk tanpa merasa per J u memandang muka ayah Tanto. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam begitu petugas itu mempersilakannya duduk di depan mertuanya. "Pak Heru telah mengakui perbuatannya. Menyuruh orang membakar mobil Anda dan menganiaya pengemudinya." "Mengapa melakukan ini pada saya, Ayah?" Widuri tidak dapat menahan tangisnya, lagi. "Apa kesalahan saya?" Tetapi ayah Tanto malah mendengus sambil membuang muka. "Tiga tahun yang lalu Anda telah mengklaim rumah dan mobil milik tertuduh. Benar?" "Milik suami saya," sahut Widuri tersendat-sendat. "Anaknya." "Anda berhasil?" Widuri mengangguk. "Sekarang Anda mencoba menuntut lagi 25% saham suami Anda dari perusahaan tertuduh. Benar?" Tidald" cetus Widuri terkejut. Begitu cepat sampai dia tidak sempat lagi menarik napas. Ayah Tanto mendengus lagi mendengar jawabannya. Lebih keras daripada tadi. "Pengacara Anda telah datang menuntut melalui pengadilan." Tidak mungkin! Saya tidak menyewa pengacara!" Suami Anda telah memberi kuasa kepada pengacara itu," "Dia tidak berhak!" geram Widuri gemas, mewariskan saham-sahamnya kepada saya." "Tanto "Anda telah menandatangani surat kuasa di atas segel...." "Tidak!" Sekarang Widuri separo menjerit. Tidak sadar dia sudah bangkit dari tempat duduknya. "Saya tidak pernah memberi kuasa kepada siapa pun!" "Maksud Anda, suami Anda yang memalsukan tanda tangan Anda?" "Saya tidak tahu...." Widuri terduduk kembali dengan lunglai di kursinya. "Baiklah. Yang berwajib akan memeriksa keaslian tanda tangan Anda. Tapi itu perkara lain. Pemalsuan." "Dan... kasus ini?" tanya Widuri bingung. Tidak tahu harus benci atau kasihan pada mertuanya. Atau kedua-duanya. "Perkara pembakaran milik orang lain dan penganiayaan harus diselesaikan di pengadilan. Anda akan mendapat panggilan lagi sebagai saksi. Keterangan Anda akan didengar di depan sidang." "Ayah...." Widuri menatap mertuanya dengan mata berlinang. Tetapi ayah Tanto tidak berpaling sama sekali. "Maafkan saya...." "Minta maaf pada Tanto!" dengusnya sengit. "Jangan padaku!" "Ibu baik?" tanya Widuri separo terpaksa. Sekadar basa-basi. "Istriku meninggal karena serangan jantung," desis Pak Heru geram. "Pengacaramu yang membunuhnya. Semoga arwah Tanto datang mencekik suamimu!" Ibu Tanto dimakamkan di samping pusara putranya. Lama Widuri bersimpuh di depan kubur yang tanahnya masih merah itu. Minta ampun atas semua dosa-dosanya. Minta ampun atas semua kesalahan Irfan. Lalu dia tersungkur di depan nisan suaminya. Menaburkan bunga di atas pusaranya. Dan menelungkup sambil menangis tersedu-sedu. "Maafkan aku, Mas...," bisiknya di sela-sela tangisnya. "Aku telah menyakiti hatimu... mengecewakan ibumu... tolong lindungi anak kita, Mas.... Jaga Paris di mana pun dia berada...." Parlin-lah yang membawanya pulang sore itu. Dan Widuri hampir tidak memercayai matanya sendiri ketika melihat Menuk menyongsongnya sambil menangis. "Menuk!" cetus Widuri terkejut. "Kau kembali?" "Mbak...." Menuk menubruk dan merangkul kakaknya sambi tersedu sedan. "Sudahlah, Nuk...." Widuri membelai-belai kepala adiknya yang terkulai di bahunya. "Mbak senang kau pulang ke rumah Ibu...." Dan kata-katanya berhenti dengan sendirinya ketika melihat Ibu keluar dari dalam.... menggen dong seorang bayi yang kedua belah matanya diperban. "Ibu???" belalak Widuri heran. "Anak siapa? Mengapa matanya ditutup?" Ibu tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepalanya Dua tetes air mata mengalir bisu ke pipinya yang telah keriput dimakan usia dan penderitaan. Widuri merasa bahunya semakin bergetar diguncang tangis Menuk. Dan tiba-tiba saja suatu kesadaran menyengat nalurinya.... "Menuk!" cetusnya kaget. Didorongnya tubuh adiknya. Ditatapnya matanya dengan nanar. "Kau...?" "Mbak!" Menuk membuang dirinya kembali ke dalam pelukan Widuri. Tangisnya meledak lagi. Tetapi lengan-lengan Widuri telah mengejang dalam kesadaran yang menyakitkan. "Siapa yang melakukan ini padamu, Nuk?" geramnya gemas. "Siapa?" Seorang laki-laki tinggi tegap muncul dari balik tubuh Ibu. Dan mata Widuri terbelalak seperti melihat hantu. Sekejap mereka saling pandang dengan pefluh keharuan sebelum Parlin melompat menerjang laki-laki itu sambil mendengus marah. "Bedebah!" "Parlin!" Ibu Widuri lebih cepat maju ke depan melindungi laki-laki itu dari terkaman Parlin. 'Tunggu dulu!" "Dia bapak anak ini?" Parlin memandang bengis sambil mengepal tinjunya. "Dia yang menghamili Menuk?" "Jangan salah sangka," kata Ibu cepat-cepat. "Dimaz yang telah menolong Menuk. Bukan dia bapak anak ini." Sejenak kedua laki-laki itu berhadapan sambil saling pandang dengan tajam. Tepat seperti beberapa tahun yang lalu ketika mereka sama-sama hendak menjemput Widuri di rumah ini. Di ruangan ini juga. "Tabahkan hatimu, Widuri...." Ibu menghampiri Widuri yang masih tertegun seperti orang linglung. "Cobaanmu memang luar biasa beratnya... tapi Ibu mohon, kasihanilah Menuk..." Ibu menyeka, air matanya dengan lengan bajunya. "Kasihanilah anak ini... umurnya bani seminggu... rapi matanya hampir buta karena penyakit kotor yang ditularkan ibunya waktu dia lahir...." Widuri memandang bayi dalam gendongan ibunya itu dengan nanar. Kerongkongannya tersumbat. Mulutnya terkunci Tetapi nalurinya masih bekerja. Dia tahu siapa bapak ini! Dia tahu mengapa Menuk menangis memeluknya... dia tahu mengapa Ibu memintanya tetap tabah... sekarang dia juga tahu mengapa sembilan bulan yang lalu Menuk tiba-tiba menghilang dari rumahnya pulang ke kampung! Tetapi penyakit kotori Ya, Tuhan! Tidak disangkanya Irian sampai sekotor itu! Penyakitnya telah menular kepada Menuk. Kepada bayinya. Bahkan kepada Widuri juga! Sambil menahan tangisnya, Widuri melepaskan pelukan Menuk. Menghambur ke kamarnya. Dan me^ nangis menyesali diri di atas tempat tidurnya. Untuk pertama kalinya Widuri sadar, dia ikut bersalah. Dialah yang memberi kesempatan itu kepada mereka. Dia terlalu sibuk dilihat pekerjaan. Ditinggalkannya suaminya yang sedang kesepian dan frustasi di rumah bersama adik perempuannya yang tengah patah hati. Sekarang Widuri baru menyesal. Mengapa terlalu kikir memberikan tubuhnya kepada suaminya sendiri? Sampai suaminya terpaksa mencuri tubuh wanita lain! Dan wanita itu... ya, Tuhan! Wanita itu adik kandungnya sendiri... darah dagingnya Irfan memang buaya. Ketika pertama kali bertemu pun Widuri sudah tahu. Tetapi mengapa tidak dihalaunya buaya itu ke air? Mengapa dibiarkannya saja dia merayap ke darat mencari mangsanya? Widuri telah gagal. Dia telah gagal menjinakkan buaya yang menjadi suaminya! Dia ingat bagaimana Irfan selalu merayunya. Bagaimana dia menginginkannya. Frekuensinya memang terlalu sering untuk ukuran suami-istri yang telah menikah lebih dari satu tahun. Tetapi itulah Irfan. Sebagai istri, Widuri harus menerima suaminya seperti apa adanya Dialah yang harus menyesuaikan diri. Mengimbangi kemauan suaminya Melayani Irfan kapan saja dia mau. Mumpung dia masih minta pada istrinya, bukan pada perempuan lain. Tetapi sejak usahanya maju pesat, berapa banyak permintaan Irfan yang ditolaknya? Widuri hanya menerimanya kalau terpaksa. Kalau Irfan sudah hampir merajuk. Widuri memang sibuk. Letih. Perlu istirahat. Tapi itu bukan alasan untuk menjadikan ranjang pengantinnya sekadar tempat tidur. Justru pada saat kebanggaan Irfan sebagai laki-laki di ambang krisis, justru pada saat dia sedang tersungkur dit udungi bayang-bayang kesuksesan istrinya, dia ditolak oleh istrinya sendiri! Barangkali Irfan ingin memakai superioritasnya di atas peraduannya sebagai kompensasi kegagalan usahanya. Namun di sana pun dia tidak mendapat sambutan. Dia mencari cakrawala baru untuk merentangkan sayapnya. Membuktikan dirinya masih seekor rajawali perkasa yang mampu mengarungi angkasa. Bukan cuma seekor punai yang sia-sia mengembangkan bulunya. Dan Irfan menemukan Menuk. Di dalam pelukan wanita yang belum mengenal laki-laki inilah ayam jantan yang telah kalah bertarung itu dapat menegakkan kembali kepalanya untuk berkokok. Widuri tidak bisa menyalahkan adiknya. Menuk memang bukan tandingan Irfan. Pengalaman Irian dalam menghadapi wanita yang bagaimanapun tipenya membuat Menuk menjadi bulan-bulanan di tangan seorang yang ahli. Walaupun tidak melihat, Widuri tahu bagaimana cara Irfan merayu Menuk. Dia dapat membayangkannya. Dan dia merasa jijik. Tetapi sampai muntah pun dia tidak berhasil membenci Menuk. Tidak berhasil menyumpahi Irfan. Widuri malah menyalahkan dirinya sendiri. Dia yang telah membawa bibit penyakit itu kemari, untuk membagi malapetaka kepada orang-orang di sekelilingnya! BAB XVII Dimaz hampir tidak memercayai matanya sendiri... pasien itu duduk tepekur di depan meja tulisnya sambil menggendong bayi.... "Menuk!" cetusnya kaget. "Kau... Menuk, bukan?" "Mas..." Menuk mengangkat wajahnya antara terkejut dan malu. "Mas yang jadi dokter di sini?" "Aku baru saja lulus, Nuk. Ditempatkan di puskesmas ini. Kau tinggal di sini? Mana suamimu? Ini bayimu? Widuri baik?" Menuk cuma mengangguk. Pertanyaan Dimaz memburu seperti ombak yang menggulung ganas ke pantai. Mengempaskannya dalam kerikuhan. Membuat mukanya dijalari rona merah. "Widuri masih di Jakarta? Ketika kembali dari Jerman, kudengar dia telah menikah lagi. Suaminya yang pertama sudah meninggal di Paris. Benar?" "Benar, Mas...." "Anaknya pasti sudah besar...." Ada kepedihan terasa membayang dalam suara Dimaz. Matanya menyembunyikan perasaannya. Tatapannya yang seakan merenung menukik ke atas meja. "Dia bahagia..?" Ketika tidak didengarnya jawaban Menuk, diangkatnya kembali wajahnya. Dan tatapannya bertemu dengan bayi dalam gendongan Menuk. "Anakmu?" cetusnya tiba-tiba, seakan-akan baru sadar dari pesona yang memukaunya. "Berapa hari? Apa yang sakit?" "Enam hari, Mas. Matanya bengkak. Meram saja Banyak kotorannya lagi." Dimaz bangkit mengitari separo meja tulisnya. Membungkuk di depan Menuk sambil memasang lampu senter dan mengintai ke dalam mata bayi itu melalui sebuah loupe. Kaku Menuk tidak terlalu repot mendiamkan bayinya- yang sedang menangis, dia pasti melihat perubahan wajah Dimaz selesai memeriksanya. "Nuk," katanya hati-hati setelah duduk kembali di kursinya. Tangannya meraih bolpen, tapi dia tidak menulis apa-apa di kartu status yang masih kosong di hadapannya. "Suamimu kerja apa?" Menuk mengangkat mukanya dengan kaget, untuk cepat-cepat menunduk kembali menyembunyikan parasnya yang merah padam, seakan-akan dia baru saja ditampar orang. "Maaf, Nak," kata Dimaz lagi setelah lama menunggu jawaban Menuk dengan sia-sia. "Aku kan bukan orang lain bagimu. Aku tidak punya maksud apa-apa. Cuma ingin menolongmu." "Mas...." Menuk menggagap tanpa berani mengangkat mukanya. Air mata mengembang menggenangi matanya. Membuat Dimaz yang sedang memerhatikannya dengan serius mengerutkan kening. "Penyakit anakmu ini mungkin ada hubungannya dengan ayahnya." Tidak ada jawaban. Sepi melingkupi ruang praktek yang berukuran 3x3 meter itu. Dimaz berpaling kepada perawat muda yang mendampinginya di sana. "Tolong tinggalkan kami sebentar, Nar," katanya tegas tapi sopan. "Adik ini kenalan baik saya waktu di Jakarta dulu." "Baik, Dokter." Lama sesudah pintu tertutup kembali di balik tubuh perawat itu, Menuk masih tetap membisu. Genangan air matanya telah membentuk butir-butir air mata yang mengalir bagai dua anak sungai di pipinya yang cekung dan pucat. Ceritakanlah sedikit mengenai ayah anakmu." "Dia masih nganggur, Mas...," cetus Menuk terbata-bata. Tidak berani mengangkat mukanya. "O." Hanya itu ya ng keluar dari celah-celah bibir Dimaz. Lalu dia termenung merenungi kartu status kosong di atas meja tulisnya sambil menggigit ujung bolpennya. Sekarang Menuk-lah yang tidak sabar melihat sikap Dimaz. "Anak saya sakit apa, Mas?" desaknya kuatir. Dimaz mengetuk-ngetuk kepalanya dengan ujung bolpennya, seakan-akan dia sedang berpikir keras. "Kalau dugaan saya benar, kau dan suamimu juga mesti diperiksa, Nuk." "Lho?" Menuk terbelalak bingung. "Memangnya dia sakit apa, Mas? Apa ketularan dari kami? "Kemungkinan terbesar ketularan kamu waktu lahir, Nuk," sahut Dimaz murung. "lapi saya tidak sakit apa-apa, Mas!" protes Menak penasaran. Tidak ada keputihan selama ini?" Dimaz tidak mengangkat mukanya. Tidak sampai hari menatap wajah pasiennya. Tetapi ketika tidak didengarnya juga suara Menuk, dia sudah tahu apa jawabannya, walaupun tanpa melihat wajah perempuan itu. "Suamimu tidak pernah mengeluh? Kencing panas dan sakit, atau... maaf, ujung alatnya merah dan bengkak? Yang seperti itu maksud saya?" "Tidak tahu, Mas...," sahut Menuk lirih. "Dia tidak pernah..." "Saya mengerti. Penyakit ini pada laki-laki gejalanya lebih hebat. Penderitanya akan cepat mencari pertolongan dokter. Tetapi pada wanita, gejalanya minim dan samar-samar. Banyak wanita yang tidak tahu dia telah ketularan dari suaminya sampai..." "Saya sakit apa, Mas?" potong Menuk ngeri. Matanya melebar ketakutan. "Saya akan mengambil sedikit kotoran mata anakmu, Nuk," kata Dimaz sambil menghela napas. "Sebentar kalau sudah ada hasilnya, kira bicarakan lagi, ya?" Tetapi ketika hasil pemeriksaan laboratorium dari kotoran mata bayi itu sudah diperoleh, Menuk melihat muka Dimaz lebih murung lagi. Sejak masuk sampai duduk di balik meja tulisnya, tidak sekejap pun dia berani membalas tatapan Menuk. "Saya ingin kau membawa anak ini ke Jakarta, Nuk," katanya sambil mempermainkan bolpen untuk menutupi kegugupannya. "Tapi sebelumnya, bawa juga suamimu kemari. Kau dan dia harus diobati juga." "Anak saya sakit apa, Mas?" desak Menuk panik. "Matanya tidak dapat diobati di sini saja?" "Dia harus dirawat di rumah sakit. Kalau terlambat., bisa buta." Menuk memekik kaget. Matanya terbelalak. Mulutnya separo terbuka. Mukanya pucat. Tidak sadar lengannya memeluk bayinya erat-erat. "Pernah dengar penyakit kelamin yang disebut Gonorrhoea? Sekali lagi Menuk memekik tertahan. Kali ini sambil menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. "Anakmu ketularan waktu kau melahirkan dia" Dimaz menghela napas berat. "Sekarang tidak penting siapa yang membawa penyakit itu ke rumahmu. Tapi kau dan suamimu bisa saling menularkan. Kalau kalian berdua tidak sama-sama diobati, percuma berobat,..." Tapi saya belum kawin, Mas!" Sekarang Dimaz yang tertegun bengong seperti orang linglung. "Barangkali saya yang berdosa kepada Mbak Wid..." erang Menuk lirih. Tapi mengapa anak saya yang harus dihukum?" "Mbak... Wid...?" Dimaz menggagap dengan sulitnya. Rahangnya mengejang. Lidahnya kaku. Tidak mau digerakkan. Tetapi keingintahuan yang menggebu-gebu di kepalanya akhirnya tercetus dalam sebuah tanya, "Soal apa? Kauapakan dia?" "Ayah anak ini..." Menuk menunduk dan menatap bayinya dengan nanar, "suami Mbak Wid, Mas...." Sekarang Dimaz terenyak dikursinya. Dia sampai lupa bagaimana harus menutup mulutnya kembali. Dia bahkan lupa mulutnya masih separo ternganga. *** Penyakit kotor.... gonorrhoea... buta! Setengah berlari Menuk membawa bayinya pulang. Dan dia menangis bersama-sama bayi dalam gendongannya. Kutukan Tuhan telah tiba. Kutukan atas dosanya. Berzinah dengan suami kakaknya! Padahal Widuri begitu baik padanya... dia memang jengkel kepada Widuri. Tapi tidak benci. Jauh dalam hati kecilnya, Menuk juga menyadari, tidak pantas dia memusuhi kakaknya. Semua itu bukan salah Widuri. Bukan kesalahannya kalau tiga orang pemuda menjadi korban karena memperebutkannya. Bukan salahnya kalau dia terpaksa masuk rumah sakit jiwa... Bukan kemauannya hidup bersama laki-laki setelah menjadi janda... dia. tidak tega. mengusir teman yang telah banyak menolongnya.... Bukan kesalahannya pula kalau ibu Rustam melarang anaknya bergaul denga n Menuk! ng-kadang Menuk tidak mengerti dirinya sendiri. Irikah dia kepada kakaknya? Itukah sebabnya dia memusuhi Widuri? Sejak kecil Widuri lebih disukai orang. Lebih disayang oleh Ibu. Lebih pintar bergaul. Makin dewasa, makin tertinggal Menuk di belakang. Makin terhimpit dia di bawah bayang-bayang keanggunan kakaknya. Widuri tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang jadi rebutan. Pemuda-pemuda tampan silih berganti memanjakannya. Sementara Menuk dicampakkan oleh satu-satunya lelaki yang pernah menginginkannya. Dan perasaan iri itulah yang memproyeksikan kegagalan dirinya sebagai kesalahan di pundak Widuri. Tuhan telah mengutuk dosa-dosanya. Iri hatinya. Pengkhianatannya bersama laki-laki yang sudah menjadi milik kakaknya.... Benarkah Tuhan yang telah mengutuknya? Benarkah kutukan Tuhan yang membuat mata bayinya hampir buta? Atau... dosanya sendiri yang telah menjebloskannya ke dalam neraka ini? Yang telah menyiksa anaknya sendiri? Menuk masih ingat kapan pertama kali Irfan melakukannya. Hari itu Paris bolos sekolah. Dan seperti biasa, Irfan membawa mereka berjalan-jalan. Kali ini Irfan mengajak mereka ke pantai Bina Ria. Hari biasa, bukan hari libur, masih pagi pula, pantai itu hampir-hampir tanpa pengunjung. Hanya tukang-tukang perahu dan pedagang-pedagang yang menjajakan dagangannya lewat di sana. Itu pun hanya satu-dua orang saja. Irfan membawa Paris bermain air di pantai. Sementara Menuk duduk di bawah pohon menyaksikan mereka dari kejauhan. Dan melihat kelucuan-kelucuan Paris, melihat dada Irian yang bidang itu terbuka menantang matahari, sekali lagi Menuk merasa iri kepada Widuri. Apa yang belum diberikan Tuhan kepada kakaknya? Seorang suami yang ganteng. Anak laki-laki yang kuat dan lucu. Rumah bagus. Sukses pula dalam usahanya. Lalu Menuk melihat dirinya sendiri. Apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya? Dia tidak punya apa-apa. Tidak punya seorang laki-laki gagah yang akan melindungi dan memanjakannya. Tidak punya anak yang akan melipur hati di kala lara, menopang di hari tuanya kalau dia sudah bungkuk nanti. Rumah jangankan bagus, gubuk pun. dia tidak punya. Dan usaha? Usaha apa yang bisa dilakukannya? Dia cuma memiliki selembar ijazah S MA. Bakat wiraswasta tidak ada. Tampang tidak punya. Keahlian bergaul pun kurang. Dan entah dari mana datangnya tahu-tahu Irian telah berada di belakangnya. "Uh, melamun lagi!" katanya sambil mencubit pipi Menuk. Akhir-akhir ini memang bukan cuma matanya saja yang lancang, tangannya pun kadang-kadang kurang ajar. Tetapi untuk suatu alasan yang waktu itu Menuk tidak tahu, dia suka diperlakukan demikian. Dia merasa mendapat perhatian. Dari seorang laki-laki. Ganteng pula. Sesuatu yang jarang, diperolehnya dalam khasanah pergaulannya. Laki-laki itu bukan hanya tampan. Gagah. Menarik Sekaligus dia-juga pintar merayu. Murah canda. Murah pujian. Tidak kikir pula dalam memberi pemanjaan yang didambakan setiap wanita. Sampai karena begitu memikatnya figur ini, Menuk lupa, dia sudah menjadi milik perempuan lain. Milik kakaknya sendiri. "Di mana Paris?" Menuk pura-pura mencari-cari Paris dengan matanya, padahal dia cuma ingin menyembunyikan parasnya yang kemerah-merahan. "Ituuu!" Irfan menunjuk Paris yang masih asyik bermain pasir di pantai. "Nggak kelihatan ikan segitu gede?" "Pulang yuk, sudah panas." Dengan rikuh Menuk meraih tasnya. "Biar panas. Kalau pipimu merah, kau malah jadi tambah menggemaskan." Sialan, Menuk menunduk dengan tersipu-sipu. Apakah begini juga caranya merayu Widuri? Pernahkah diucapkannya kata-kata seperti itu kepada kakaknya? Dulu waktu baru menikah, mereka sering ke pantai. Merah jugakah paras Widuri? O, dia pasti amat cantik. Pipinya yang putih mulus itu kemerah-merahan dengan segarnya... tidak seperti buah kesemek busuk ini! Sudah hitam, dibakar matahari pula, gelaplah semuanya seperti cerobong asap! Tetapi Irfan tahu bagaimana harus memuji seorang gadis berkulit hitam sama ahlinya seperti memuja seorang wanita berkulit putih. Dia memperlakukan Menuk sedemikian rupa sampai untuk pertama kalinya Menuk tidak menyesali apa yang sudah melekat di tubuhnya. Dia ba hkan sempat merasa bangga, karena semua perbedaan yang diciptakan Tuhan atas dirinya membuat Irfan yang sudah bosan pada Widuri berpaling padanya. "Mau ke mana?" Irfan meraih lengan Menuk yang sudah bangkit hendak memungut keranjang minuman mereka. "Pulang." "Ngapain buru-buru?" "Mau belanja, Bang. Kan sudah siang nih. Pulang yuk." "Buat apa repot-repot belanja? Siapa yang mau makan?" "Paris mau disuruh makan batu?" "Kita makan di luar saja nanti." Sambil berkata begitu, Irfan merengkuh Menuk ke dalam pelukannya. "Boleh kan mengajakmu makan siang?" "Jangan ah, Bang!" Cepat-cepat Menuk mencoba melepaskan dirinya. Mukanya terasa panas sekali, seolah-olah seribu ton batu bara tengah memanggangnya sampai hangus. "Nanti dilihat Paris!" "Lho, kenapa? Aku kan ayahnya!" "Justru karena kau ayahnya! Nanti dia ngadu sama ibunya!" "Ah, Widuri nggak apa-apa kok." Irfan mendekap tubuh Menuk erat-erat ke dadanya. Dia tahu Menuk juga menginginkannya. Perlawanannya cuma separo hati, mungkin juga kurang. Penolakannya hanya kulit luarnya saja. Di dalam, Irfan yakin, ada sepotong hati yang sedang menggelegak digodok kawah candradimuka. Asapnya yang panas terasa menjalar sampai ke dalam relung-relung jantungnya. Memacu aliran darahnya secepat kuda yang benari dalam arena pacuan. Sudah lama Irfan tidak mengalami dorongan seperti ini lagi. Sudah lama semuanya berlangsung rutin seperti mengerjakan pekerjaan rumah. Sekarang ada tantangan baru. Tantangan untuk menaklukkan seorang perawan di ambang senja masa remajanya. "Jangan, Bang...r desah Menuk gugup ketika Irfan menghelanya ke balik pohon. Mengangkat dagunya. Dan mengecup bibirnya dengan mesra. Menuk memejamkan matanya rapat-rapat. Ada sensasi aneh yang meledakkan gempa di hatinya. Menumbangkan pohon-pohon kaktus yang tumbuh gersang di padang pasir yang kering kerontang. Memorak-porandakan terali-terali sangkar yang mengurungnya dari oase bening pemuas dahaga. Kali ini kilauan air sejuk yang menyilaukan matanya bukan lagi secercah fatamorgana! Kali ini air yang didambakannya itu benar-benar ada di hadapan matanya... dia dapat minum sepuas-puasnya melepaskan dahaga... dia dapat menceburkan diri berendam dalam kesejukan yang tiada tara.... Dan seperti Dewi Nawangwulan yang lupa dia karena terlalu asyiknya mandi, Menuk pun baru sadar selendangnya telah dicuri orang ketika dia keluar dari kolam yang memabukkan itu. Tetapi semuanya telah terjadi. Terlambat untuk menyesali diri. Nirwana sudah terlampau jauh dari jangkauannya. Kini hanya dunia yang penuh derita yang sedang menantinya... siap melumatkan dirinya dalam kesengsaraan dan aib yang tak kunjung berakhir.... Menuk menemukan dirinya terkapar di atas peraduan kakaknya... bersimbah peluh dan air mata. Irfan tidak membiusnya. Tetapi bagaimana dan kapan dia sampai di sana, Menuk sendiri tidak tahu. "Jangan nangis, Sayang...." Irfan membelai-belai rambumya dengan lembut. Begitu sempurna dia melakukannya, sampai Menuk jadi bertanya-tanya sendiri, berapa banyak gadis yang telah diperlakukannya seperti ini? "Akan kita atasi semuanya bersama-sama.—" "Apa yang harus kukatakan kepada Mbak Wid, Bang?" keluh Menuk separo menangis. "Kau tidak perlu bilang apa-apa, Nuk. Aku yang akan bicara." Irfan memeluk perempuan itu dengan mesra, seakan-akan hendak menabahkan hatinya. "Jangan loiatir," katanya lagi, tegas dan mantap. Seolah-olah semuanya cuma mimpi yang akan lenyap begitu mereka terjaga nanti. "Percayalah padaku." "Aku tidak berani lagi melihat muka Mbak Wid, Bang." "Ah, jangan begitu! Dia toh tidak bakal tahu!" "Tapi lama-lama dia kan pasti tahu!" Itu urusanku! Sudah terlalu lama aku merasa diremehkan. Mentang-mentang dia yang cari duit seenaknya saja dia memperlakukan suaminya!" "Bang..." Menuk menatap Irfan dengan sedih. Matanya yang berkaca-kaca seperti sembilu yang berbinar-binar merobek-robek hati Irfan. "Kau tidak melakukan semua ini padaku sekadar untuk membalas dendam kepada Mbak Wid, kan?" "Tentu saja tidak, Manis..." Irfan mencium ujung hidung Menuk dengan lembut, seakan-akan kuatir hidung yang telah memerah lembap itu akan terluka. "Aku c inta padamu. Sejak pertama kali melihatmu, aku menyesal telah memilih Widuri..." Menuk memejamkan matanya, seakan-akan ingin mendengar dengan lebih jelas lagi... benarkah ada lelaki yang memilihnya, meskipun dia sudah memiliki perempuan yang secantik kakaknya...? Dan Irfan tahu sekali apa yang cliharapkan Menuk. Di hadapannya, Menuk cuma sebuah buku yang terbuka. Irfan dapat membaca semua keinginan gadis itu seperti membaca buku. "Kau lembut, feminin, sederhana... kau membuat setiap laki-laki yang melihatmu membayangkan sebuah rumah, bukan cuma sebuah ranjang..." 0, alangkah indahnya! Hati Menuk sampai tergetar mendengarnya.... Tahukah Irfan betapa lamanya dia telah merindukan sebuah perkawinan? Sebuah keluarga yang rukun dengan seorang laki-laki sebagai ayah anak-anaknya? "Bang...," desahnya sambil membuka matanya, seolah-olah ingin melihat bagaimana reaksi Irfan waktu mendengar pertanyaannya. "Bagaimana kalau aku hamil?" "Aku akan bercerai," sahut Irfan tegas, semantap menjawab 2x2 adalah 4. "Dan mengawinimu." "Mungkinkah itu, Bang?" Ada sinar terpancar dari balik genangan air mata Menuk. Cuma sekilas. Tapi Irfan cukup jeli untuk melihatnya. "Widuri sudah tidak membutuhkan aku lagi. Hanya di sisimu aku merasa sebagai lelaki kembali." Kali ini Irfan memang tidak berdusta. "Tapi, Bang..." desis Menuk ragu, "mungkinkah... kita bisa menikah setelah kau bercerai...? Apa kata orang nanti?" "Persetan! Yang akan kawin kita, bukan orang lain!" "Kalau Mbak Wid tidak mau menceraikanmu?" "Tidak ada yang dapat menghalangi cinta kita, Menuk!" sahut Irfan selancar membaca puisi. "Kecuali..." "Kecuali apa, Bang?" desak Menuk penasaran. Irfan menatap Menuk seakan-akan sengaja membiarkan gadis itu semakin gelisah menunggu dalam kubangan tanya. "Kecuali apa?!" "Kecuali..." Irfan mendekatkan wajahnya ke wajah Menuk yang hanya beberapa send saja di bawahnya. "Kecuali kalau kau tidak mencintaiku...." "Oh, Bang...." Menuk memejamkan matanya seolah-olah malu kalau Irfan melihat kelegaan yang melumuri matanya. Diembuskannya kata-kata itu bersama helaan napasnya yang sempat tertahan tadi. "Kau cinta padaku, Sayang?" bisik Irfan meskipun dia tahu jawabannya seperti dia tahu berapa buah tulang rusuk gadis itu, Menuk cuma mengangguk. Dan Irfan merunduk lebih dekat untuk mengecup bibir Menuk. "Katakanlah...," pinta Irfan mesra. "Katakanlah, Sayang..." "Aku mencintaimu, Bang...," bisik Menuk separo menangis menahan perasaannya. Irfan menghapus air mata Menuk dengan ujung jarinya. "Kenapa mesti menangis? Kau sedang mengucapkan sejarah, Nuk. Belum pernah aku merasa bahagia seperti sekarang.... Maukah kau kawin dengan aku, Sayang?" Dua tetes air mata merembes dari balik bulu matanya, mengalir diam-diam untuk mewartakan betapa bahagianya dia kepada setiap benda di kamar itu. "Aku merasa tidak pantas, Bang..." "Mengapa? Kau perempuan pertama yang kulamar di atas ranjang." "Di mana kaulamar Mbak Wid?" "Lupa. Tapi yang pasti bukan di tempat tidur." "Apa bedanya kaulamar dia di atas ranjang atau di kolong ranjang?" "Seorang laki-laki yang tergolek puas di atas ranjang tidak akan sempat ingat pada perkawinan!" "Tapi kau ingat!" "Karena kau perempuan pertama yang membuatku merindukan sebuah perkawinan." "Bukan Mbak Wid?" "Dengan dia, mula-mulanya cuma kasihan." "Kau tidak mencintainya?" Kali ini Irfan tidak segera menjawab. Dia menjatuhkan mbuhnya ke samping. Telentang menatap langit-langit kamar dengan kedua belah tangan terkulai di samping kepalanya. Sekarang Menuk-lah yang mengejar. Dia memiringkan mbuhnya menghadap Irfan. Bertelekan di atas sikunya agar matanya dapat cukup jelas mengawasi pembahan air muka laki-laki itu. "Kau mencintainya?" "Aku tidak tahu," sahut Irfan tanpa menoleh. Matanya menatap lurus ke atas, seakan-akan mencari jawaban pertanyaan Menuk di sana. "Dulu kukira begitu. Tapi setelah menikah tiga tahun, aku sendiri tidak tahu benarkah aku mencintainya." "Mengapa kau ragu? Karena dia lebih sukses dari-mu?" "Karena ternyata aku mencintaimu." Irfan membalikkan mbuhnya menghadap Menuk. Ditatapnya mata gadis itu dalam-dalam. Dibelai-belainya  pipi Menuk dengan lembut. "Mungkinkah seorang laki-laki mencintai dua orang wanita, Nuk?" "Aku tidak tahu, Bang," jawab Menuk jujur. "Aku juga baru tahu barusan. Ternyata aku benar-benar mencintaimu. Belum pernah aku merasa sepuas tadi. Kau juga menikmatinya, Nuk?" Menuk mengangguk malu. "Tapi;.." desisnya bimbang, "aku takut, Bang...." "Serahkan saja padaku, Nuk. Nanti akan kubicarakan dengan Widuri. Aku rninta cerai. Tidak jadi Tuan Widuri terus." "Tuan Widuri...." Menuk tersenyum geli. "Lucu sekali kedengarannya!" "Apa namanya lelaki yang diberi makan oleh istrinya?" "Kalau kita kawin nanti, kau akan bekerja, Bang?" "Tentu! Sekarang pun aku mau! Widuri yang tidak memberi kesempatan." "Modal maksudmu?" "Dia tidak percaya lagi padaku." "Tapi aku juga tidak punya modal, Bang!" "Kau punya, Nuk." "Apa?" "Kepercayaan. Kau masih percaya padaku, kan? Widuri tidak lagi." Menuk memang percaya pada Irfan. 101%. Dia percaya iktikad baik lelaki itu. Dia percaya Irfan benar-benar mencintainya. Dia percaya dia akan mengawininya. Tetapi setelah beberapa minggu berlalu belum ada juga tanda-tanda Irfan akan minta cerai dari Widuri, Menuk mulai ragu. Kepercayaannya mulai surut seperti air yang menguap dipanggang matahari. Apalagi kalau Irfan marah-marah setiap kali Menuk menolak keinginannya untuk mengulangi perbuatan serong mereka. "Perbuatan apa maksudmu?" geram Irfan marah. Menuk sampai kaget mendengar suaranya. Belum pernah dia melihat Irfan semarah itu. Dulu dia selalu manis. Selalu sabar. Penuh humor. "Kauanggap apa keinginanku terhadap dirimu? Sesuatu yang menjijikkan? Yang kotor? Yang tercela? Kalau cuma perempuan soalnya, berapa susahnya mencari lonte di Planet sana? Tapi keinginanku bukan cuma kebutuhan biologis semata-mata! Aku benar-benar mencintaimu!" Kalau sudah sampai di sana, biasanya Menuk-lah yang mengalah. Dia menyerah. Membiarkan Irfan meneruskan keinginannya. Memuaskan dirinya. "Dalam dirimu aku menemukan sesuatu yang tidak kutemukan pada Widuri," bisik Irfan hangat setiap kali menggauli Menuk. "Aku benar-benar membutuh-kanmu, Nuk." Tetapi pada saat Menuk membutuhkan Irfan, lelaki itu malah seakan-akan menghindar. Dia marah-marah ketika Menuk mengadukan haidnya yang terlambat. "Bodohi Kaukemanakan pil-pil yang kuberikan padamu? Tidak kauminum, ya?" "Aku takut, Bang...," desah Menuk bingung. "Lagi pula... aku kepingin punya anak.... Sudah lama aku iri pada Mbak Wid.... Aku ingin punya anak seperti Paris... anak kita sendiri, Bang...." "Anak tidak akan menyelesaikan persoalan kita! Malah bikin repot saja' Kau kan tahu aku belum kerja!" "Aku bisa kerja, Bang. Aku bisa cari uang." "Dan meninggalkan aku di rumah bersama anakmu? Seperti Widuri?!" Anakmu! Teriris hati Menuk mendengarnya. Bukan anak kita. Beginikah kumbang bila madu dari bunga yang diisapnya sudah habis? Dia terbang mencari kuntum lain, membiarkan yang layu gugur ke bumi untuk diinjak-injak orang! Dimaz tidak peduli seandainya dia dipecat oleh Depkes sekalipun. Dia mengambil cuti tanpa permisi lagi. Hari itu juga dia berkemas-kemas untuk berangkat ke Jakarta. Dia harus menemui Widuri. Kalau suaminya sakit, dia pasti sudah ketularan! Esok paginya Dimaz berangkat dengan Menuk ke Jakarta. Mula-mula Menuk memang menolak ikut. Dia takut bertemu dengan kakaknya. Tetapi dia lebih takut lagi kalau anaknya sampai buta. Ketika anak itu masih dalam kandungan, Menuk memang membencinya. Dia mengusahakan segala macam cara agar anaknya tidak pernah lahir. Anak yang akan membuka rahasianya di depan Widuri. Anak yang akan mencorengkan aib di keningnya.... Tetapi ketika aib itu menangis memohon air susunya, ketika mulutnya yang mungil itu menyentuh payudaranya, naluri keibuan Menuk langsung tergugah. Curahan kasih sayang yang tersendat oleh iri hati kepada Widuri tatkala merawat Paris dulu kini menemukan tempat pelampiasannya. Inilah anaknya. Anaknya sendiri. Darah dagingnya. Meskipun dia lahir dari benih seorang pengkhianat, Menuk mencintainya. Dan dia tidak rela kalau anaknya sampai buta! Apalagi buta karena ketularan penyakitnya... penyakit kotor pula! Kalau dia yang berd osa, mengapa anaknya yang harus menanggung hukumannya? Apa pun akan &lt;hlakukannya untuk menyembuhkan bayinya. Jalan yang seperti apa pun sulitnya akan di-, tempuhnya juga. Jangankan cuma menghadap Widuri, menghadap Malaikat Maut pun dia mau! Tetapi sesampainya di rumah ibu Menuk, Widuri tidak ada di sana. Dia sedang dipanggil ke kantor polisi. Dimaz ingin langsung membawa bayi Menuk ke rumah sakit. Keadaan matanya benar-benar menguatir-kan. Menunggu lagi berarti membiarkan matanya jadi buta. Tetapi baru saja mereka mau berangkat, Widuri tiba bersama Parlin. Dan melihat mata yang dicintainya itu, hati Dimaz luluh lantak dilumatkan keharuan. Mengapa begitu berat penderitaan wanita yang dicintainya ini? Mengapa musibah silih berganti menyudutkannya? Dia sudah berubah. Lebih kurus. Lebih hitam. Jauh lebih tua. Tetapi wajahnya masih tetap cantik, walaupun tidak sesegar tujuh tahun yang lalu. Bibirnya masih tetap mengundang gairah, walaupun bibir ku kini sedang bergetar diguncang tangis. Rumah makan kecil itu masih tetap berdiri di bilangan Jalan Thamrin. Sengaja Dimaz memesan meja yang sama seperti tujuh tahun yang lalu. Suasana yang sama. Makanan yang sama pula. Lilin di tengah meja itu masih tetap melumatkan dirinya sendiri untuk membagi kehangatannya ke sekelilingnya. Untuk pertama kalinya setelah menjadi ibu, Widuri juga melepaskan sanggulnya. Rambutnya yang panjang tergerai bebas ke punggungnya. Dan Dimaz hampir tidak berkedip matanya. "Rambutmu sudah jauh lebih panjang," desis Dimaz perlahan. "Aku tidak pernah memotongnya." "Terima kasih, Widuri." Dimaz mengulurkan tangannya, meraih tangan Widuri yang terkulai di atas meja. "Terima kasih karena telah memberiku kesempatan sekali lagi untuk melihatmu dalam keadaan seperti ini" "Aku bukan Widuri yang dulu lagi." "Aku juga sudah berubah. Tapi cinta kita tidak pernah berubah, bukan?" I "Kita tidak pantas lagi membicarakannya." "Tidak perlu. Cinta tidak usah dibicarakan. Dia ada. Dan kita dapat merasakannya." "Aku bangga padamu, Dimaz. Tak pernah terpikirkan olehku kau mau melanjutkan studimu." "Suratmu masih kusimpan. Surat yang kutemukan di apartemen pamanmu di Wina. Hari itu kita sudah janji akan melayari Sungai Donau bersama-sama. Tapi kau menghilang." "Aku harus melakukannya. Dan aku bersyukur telah melakukannya. Aku tidak menyesal, Dimaz. Kalau aku mendapat kesempatan sekali lagi, aku akan melakukannya juga. Kalau tidak karena surat itu, kau belum tentu jadi dokter." "Surat itu menjadi jimat bagiku. Aku membacanya siang dan malam. Melecut semangatku untuk melanjutkan studi di Jerman." Seorang pelayan menghidangkan makanan di hadapan mereka. Dimaz menunggu sampai pelayan itu pergi sebelum menggumam lagi. "Aku pernah berjanji akan mengajakmu mencicipi bistik semacam ini di Moven Pick. Ingat?" Senyum mengembang di bibit Widuri: "Waktu itu, aku masih begitu yakin ada bulan madu buat kita." Widuri tidak menjawab. Dia mulai memotong daging bistik di piringnya dan membawa sepotong daging ke mulutnya dengan garpu."Katamu dulu, kau baru mau menikah setelah jadi . dokter." Widuri tidak menjawab- Dia mengunyah daging bistiknya perlahan-lahan. Dan menukikkan kembali tatapannya ke piring. Tidak mau membalas tatapan Dimaz. Kuatir laki-laki itu dapat membaca perasaannya. Tidak pantas lagi pacaran dengan laki-laki lain. Dia masih punya suami. Dan sudah punya anak pula. Tetapi bagaimana menyembunyikan sekuntum mawar cinta yang mulai merekah lagi di hatinya? Duri mawar itu menusuk pedih relung-relung nuraninya. Tapi bahkan dalam kepedihan pun tikamannya terasa nikmati "Sampai sekarang aku tidak pernah mengerti mengapa engkau menikah dengan suamimu." Dimaz tidak melepaskan tatapannya sekejap pun dari seraut wajah yang dirindukannya itu. "Belum juga aku dapat memahami perkawinanmu yang pertama, engkau telah menikah lagi. Mengapa, Widuri? Katakanlah padaku supaya aku tidak menyesal dalam libatan tanya seumur hidup." "Anakku membutuhkan seorang ayah." "Kau bisa menungguku. Atau memilih lelaki yang lebih baik" "Irfan sangat baik. Pada permulaannya tentu saja. Waktu Mas Tanto sakit, dialah y ang selalu menolongku." "Aku begitu kecewa ketika pulang kemari. Suamimu sudah meninggal, kata mereka. Dan kau lalu menikah lagi." "Aku tidak berani lagi mengharapkanmu. Orang tuamu orang-orang terhormat." "Kau masih memikirkan diriku?" Hampir setiap malam dalam hidupku, sahut Widuri dalam hati. Tetapi dia tidak menjawab. Walaupun demikian, Dimaz telah membaca jawaban itu di matanya yang merunduk redup, tersembunyi di balik bulu matanya yang rimbun. Dalam-perjalanan pulang, Dimaz mampir dulu di Cikini. "Beli martabak," katanya sambil menghentikan mobilnya di tepi jalan. "Buat Ibu dan adik-adikmu." Widuri memalingkan wajahnya. Dan menggigit bibir menahan isaknya. Masa lalu itu alangkah indahnya! Alangkah pedihnya untuk dikenang kembali! Dulu mereka sering kemari setiap kali pulang jalan-jalan. Dimaz tidak pernah melupakan keluarganya. Dimaz turun untuk membeli dua bungkus martabak telur. Ketika dia sudah mengemudikan mobilnya kembali dan tidak didengarnya juga suara Widuri, dia menoleh sekilas. Widuri sedang memalingkan wajahnya ke kiri. Memandang bisu ke kegelapan malam di luar sana. "Widuri...." Dimaz meraih bahu Widuri dan melingkarkan lengannya untuk merangkul wanita itu. Widuri tidak menyahut. Dia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Dimaz, karena begitu dia membuka mulutnya, tangisnya pasti tidak dapat ditahan lagi. Kerongkongannya panas disekat air mata. Matanya berat diganduli titik-titik air yang menggantung di kelopaknya. Dimaz sendiri senyap dalam racikan perasaannya sendiri. Tujuh tahun yang lalu entah sudah berapa belas kali dia merangkul Widuri. Namun tidak seperti saat ini. Saat ini dia seolah-olah menyatu dalam lamunan yang membuai Widuri. Sentuhan tubuh mereka mengantarkan angan-angan yang mengawang tinggi, tidak mungkin terengkuh oleh lengan yang hanya sedepa. Jalan Kuningan yang membentang lurus di hadapan mereka seakan-akan tak pernah berujung. Sama seperti garis cinta yang ditakik di kedua belah hati mereka. Tak ada ujung yang akan mempertemukannya. Tetapi selama hati itu masih berwarna merah, selama masih ada butir-butir darah yang mengaUrinya, selama itu pula garis yang tertakik di sana akan tetap tergurat abadi. Cinta mereka akan tetap menjelang, sekalipun perkawinan tak pernah datang. *** Widuri baru saja pulang dari rumah sakit ketika Ibu menyongsongnya di depan pintu. Kalau sampai Ibu sendiri yang menyambutnya di ambang pintu, pasti ada sesuatu yang penting sedang menunggunya di dalam. "Bagaimana bayi Menuk, Wid?" desak Ibu tidak sabar. "Ah, kasihan amat perempuan kalau sampai cacat!" Widuri memang baru pulang menengok anak Menuk. Sekalian berobat. Untuk suatu alasan yang dapat dipahami oleh Dimaz, dia menolak diperiksa dan diobati oleh lelaki itu. Dimaz sendiri yang mengantarkannya ke dokter. Sementara Menuk menunggui anaknya di rumah sakit. Parlin sudah beberapa hari tidak muncul. Sejak melihat Dimaz di rumah Widuri. "Aku selalu tersingkir setiap kali dia muncul," katanya sinis. "Nanahnya masih banyak, Bu," sahut Widuri kepada ibunya. "Dia menangis terus. Nanti siang suruh Riri bawa makanan buat Menuk Saya mau ke kantor polisi. Barangkali sudah ada berita tentang Paris." , "Kasihan bocah itu," gumam Ibu sedih. "Itu mertuamu ada di dalam. Katanya ada kabar dari Irfan." "Ibu!" cetus Widuri kaget. Tanpa ingat apa-apa lagi Widuri menghambur ke dalam. Dan mendapatkan ayah mertuanya sedang duduk mengisap rokok. Widuri langsung berlutut untuk sungkem. Dengan rikuh ayah Tanto menerimanya. "Duduklah," katanya parau. Dia menjentik abu rokoknya di asbak, seakan-akan sengaja tidak mau membalas tatapan Widuri. "Ada kabar tentang Paris, Ayah?" "Suamimu betul-betul bajingan," geramnya sengit. Diisapnya rokoknya dalam-dalam. Diembuskannya asapnya dengan jengkel. "Aku telah keliru menilaimu, Widuri." Dia diam sejenak, seolah-olah untuk mengumpulkan keberaniannya kembali. "Aku bersedia mengganti kerugian untuk mobilmu. Aku juga rela membayar ongkos-ongkos perawatan adikmu." Asal kau tidak dituntut di depan pengadilan, sambung Widuri dalam hati. Tetapi yang ada di kepalanya sekarang cuma Paris. "Bagaimana anak s aya, Ayah?" "Irfan tadi malam meneleponku. Katanya dia sudah beberapa kali menelepon ke rumahmu. Dia tidak tahu rumah itu sudah disita." "Dia mau apa?" "Dia minta kau pergi ke Swiss. Sendirian." "Dia betul-betul sinting!" "Kau harus menjemput Paris di sana." "Ayah!" "Dia tidak mau polisi ikut campur. Nyawa Paris sebagai jaminannya." "Apa yang dikehendakinya?" desah Widuri putus asa. "Ke neraka sekalipun saya akan pergi kalau untuk menjemput Paris!" jfifeff"Dia minta sepuluh juta rupiah. Katanya dia kasihan kepadamu. Walaupun sebenarnya harga itu terlalu murah untuk sebuah nyawa...." "Sepuluh juta?!" jerit Widuri panik. "Dari mana saya punya uang sebanyak itu?" "Kau harus menuntut padaku. Katanya itu hanya sepersekian persen saja dari nilai saham yang diguga-nya." "Ya Tuhan..." keluh Widuri separo menangis. "Aku sudah memikirkannya," kata ayah Tanto tanpa memberi kesempatan kepada Widuri untuk menarik napas. "Saldo uangku di bank masih cukup. Aku bisa memberi uang yang kaubutuhkan. Berapa saja. Untuk tiket. Untuk biaya perjalananmu. Dan untuk menebus anakmu. Anggap saja ini sebagai ganti kerugian karena telah membakar mobilmu dan menganiaya adikmu. Kau setuju?" "Saya ingin bicara sendiri dengan Irfan," cetus Widuri tiba-tiba. Dia tidak mau dipermainkan lagi. Pengalaman selalu mengajarkan padanya untuk selalu berhati-hati. Banyak musang yang berbulu ayam, meskipun di kandang sendiri. Kalau ini cuma merupakan akal bulus si tua supaya lolos dari jerat hukum, dia tidak mau dibodohi lagi. Sebelum menyerahkan uangnya, ayah Tanto pasti minta Widuri menandatangani surat pernyataan bahwa dia telah menarik tuntutannya. Dan bahwa perkara mereka akan diselesaikan dengan cara damai. "Bedebah!" Parlin mengatupkan rahangnya menahan marah. "Aku ingin menguburnya hidup-hidup dalam lubang semut!" "Jangan!" pinta Widuri ketika mereka sedang merundingkan problem itu bersama-sama. "Ingat Paris! Keselamatannya tergantung dari tindakanku." "Lebih baik kita lapor polisi," usul Dimaz geram. "Dia tidak bisa bertindak seenak perutnya sendiri. Kau bisa jadi sapi perahan seumur hidup!" "Tapi Paris bisa celaka! Kalau aku membawa-bawa yang berwajib, mungkin aku tidak dapat bertemu lagi dengan anakku!" "Kau yakin dia akan berlaku jujur? Kau perem-uan. Datang sendirian membawa uang sebanyak itu. ~ Kau percaya dia akan mengembalikan anakmu setelah kau menyerahkan uang tebusannya?" "Aku ikut!" potong Parlin tegas. "Takkan kubiarkan kau menemui bajingan itu seorang diri!" "Jangan, Parlin! Kalau dia tahu aku membawamu, Paris bisa celaka!" "Kau tidak bisa pergi ke sana sendirian! Bahaya!" "Bahaya apa pun akan kutempuh demi Paris! Untuk menyelamatkan anakku, jangankan cuma ke Swiss, ke dasar laut pun aku akan pergi!" "Bagaimana kalau dia menipumu?" "Semua jalan harus kucoba! Kau tidak mengerti perasaan seorang ibu!" "Aku mengerti! Tapi kita harus pakai otak' Jangan seenaknya saja dia permainkan kita." "Pokoknya kalian jangan ikut campur," potong Widuri tandas. "Biar aku sendiri yang memutuskannya. Aku akan menjemput Paris. Sendirian. Kalau kalian masih sayang padaku, biarkan aku menempuh jalan ini! Aku mohon!" Beberapa malam setelah itu Widuri terpaksa menginap di rumah mertuanya bersama Riri. Menunggu telepon Irfan. Dan telepon yang ditunggu-tunggu itu datang dua malam kemudian. "Widuri...?" Suara Irfan masih setenang biasa. Widuri harus menggigit bibirnya menahan perasaannya. Dia harus selalu ingat, nyawa anaknya berada di tangan laki-laki itu. "Paris baik?" Widuri memburu dengan gugup. "Dia tidak apa-apa? Dia ada di situ? Aku bisa bicara dengannya?" "Bicaralah." Lalu hening sejenak Widuri serasa menunggu berabad-abad dalam debaran jantung yang kalang kabut sebelum mendengar suara yang dikenalnya itu... suara yang dirindukannya... kecil... ragu-ragu.... "Mama...?" "Paris!" jerit Widuri menyayat hati. "Mama! Mama!" Paris juga berteriak dalam tangis kerinduan. Dan suara itu disingkirkan. Diganti dengan suara yang tenang tapi mantap. "Puas?" "Irfan, kau jahat!" geram Widuri di sela-sela isaknya. "Sampai hati kau..." "Maafkan aku, Widuri...." Suara Irfan merenda h. Nadanya benar-benar penuh penyesalan. "Aku terpaksa. Gita muncul di Jakarta. Dia akan kawin dengan pria Indonesia yang sudah pantas jadi kakeknya. Aku terangsang untuk merebutnya kembali. Tapi perjuanganku tidak murah, Wid. Kujual seluruh modal usahaku, kukorbankan semua hartaku...." Hartamu! Yang mana hartamu, maki Widuri dalam hati. Kau tidak punya apa-apa kecuali sepotong hati yang busuk! Cuma itu yang kaubawa ke dalam perkawinan kita! "...Ternyata dia masih terlalu mahal juga. Terpaksa aku minta padamu. Kau tidak marah, bukan? Kau perempuan paling baik yang pernah kujumpai, Widuri! Masih tetap perempuan terbaik sampai sekarang!" Aku ingin membunuhmu, geram Widuri dalam hati. Masih bisa merayu pada saat kautikam jantungku dengan belati berbisa! jjjpK "Kami sedang berbulan madu keliling Eropa, Wid. Tapi kehabisan duit. Aku ingin pulang ke Indonesia. Menagih hak kita....* Hak kita! Manusia atau setankah yang sedang diajaknya bicara ini? Dia punya hak apa? "... pada mertuamu yang pelit itu. tapi dia pasti keberatan. Barangkali ingin dibawanya ke kubur semua harta bendanya yang banyak itu. Biar kuburannya dibongkar maling nanti! Eh, ngomong-ngomong, katanya rumah kita disita?" "Kau tidak punya apa-apa," desis Widuri gemas. "Yang mana rumahmu?" "Ala, sudahlah!" Irfan tertawa renyah, seakan-akan semua tragedi ini cuma mimpi buruk yang akan lenyap kalau mereka bangun nanti. "Aku masih tetap suamimu, kan?" "Kembalikan Paris padaku, Fan!" Widuri memaksa dirinya untuk mengucapkan permohonan itu sehalus mungkin. Barangkali dia iba. Barangkali dia kasihan. Barangkali hati setannya lumer dibakar panasnya api neraka! "Tentu. Tapi harganya sepuluh juta. Murah, ya? Karena aku masih tetap sayang padamu...." Ya, Tuhan! dia mengucapkannya tanpa nada sinis. Dia benar-benar binatang jalang! "Bagaimana si tua bangka itu? Pengacara yang kusewa sudah berhasil menuntut saham Tanto di perusahaannya? Dua puluh lima persen berarti hampir dua ratus lima puluh juta. Kau bisa beli rumah baru, Wid!" "Ke mana harus kubawa uang sepuluh juta itu?" potong Widuri muak. Percuma bicara dengan orang gila. "Kau tahu tidak mudah membawa uang sebanyak itu ke luar negeri!" "Maaf terpaksa menyusahkanmu, Wid. Tadinya aku ingin pulang sendiri. Tapi di Halim pasti telah tersedia pasukan yang akan menangkapku. Aku tidak bisa menyelundup masuk lagi ke tanah airku sendiri. Aku sudah terbuang..." "Ke mana aku harus menyerahkannya?" sela Widuri jemu. "Di mana aku bisa menjemput Paris?" "Oh, agak jauh! Aku akan menunggumu di Swiss! Pemandangannya bagus sekali. Kau pasti tidak akan menyesal datang ke sana. Dengar baik-baik, Widuri. Kau harus datang sendiri. Jangan bawa polisi. Jangan bawa tukang pukul. Katakan saja kepada yang berwajib, kau pasti sudah melaporkan kehilangan Paris, ini cuma salah paham. Kita bertengkar dan suamimu kabur membawa Paris. Tapi sekarang semuanya sudah beres lagi. Jadi jangan ikut campur, ini cuma persoalan keluarga. Pertengkaran suami-istri..." "Ke mana aku harus pergi?" potong Widuri tidak sabar. Sakit rasanya mendengar Irfan mengoceh terus. "Datanglah ke Zurich. Di seberang stasiun kereta api, ada sebuah sungai yang mengalir membelah kota. Nah, di tepi Sungai Limat ini, ada sebuah hotel..." Irfan menyebutkan nama hotel itu dan mengulanginya dengan jelas sampai dua kali. "Tinggallah di hotel itu. Bilang pada kakek botak pemiliknya, kau sedang menunggu aku. Sudah kukatakan padanya, istriku akan datang. Jelas, Wid? Ingat, uangnya harus dalam dolar Amerika. Kau tahu bagaimana cara membawanya. Jangan lupa, kau harus datang seorang diri. Itu kalau kau sayang pada Paris. Aku juga sayang padanya. Tapi kau pasti lebih sayang lagi. Oke, Manis? Sampai jumpa! Aku cinta padamu." Dikecupnya pesawat teleponnya dengan mesra. "Ingat, jangan lama-lama. Paris sudah kangen padamu!" "Paris! Paris!" teriak Widuri parau. Sia-sia. Hubungan telah terputus. Telepon lepas dari genggamannya. Dan tubuhnya merosot lemas ke lantai. Untung Riri sigap merangkulnya. Dan memapahnya ke kursi. "Air!" perintahnya ketus kepada ayah Tanto yang masih tegak mematung di dekat merek a., Menatap bengong tanpa tahu harus berbuat apa lagi. "Lekas!" Bergegas orang tua itu lari ke belakang. Untuk pertama kalinya dia disuruh oleh seorang wanita. Seorang gadis pula. Gadis yang baru duduk di kelas tiga SMA! iLik *** Terus terang Dimaz tidak mengira Parlin sudi datang ke rumahnya. Sejak pertemuan pertama di rumah Widuri itu, mereka tidak pernah bicara secara langsung. Kelihatannya, Parlin malah selalu menghindar kalau ada Dimaz. Sekarang tiba-tiba saja dia muncul seperti hantu. Dimaz baru pulang dari rumah Widuri. Dikiranya Parlin datang untuk membuat keonaran. Dari dulu adatnya jelek. Kasar. Tukang berkelahi. Apalagi sekarang. Bekas orang hukuman. Tinggalnya saja tidak tetap. Berkeliaran ke sana kemari tidak menentu. Orangtuanya sudah lama pulang ke Medan. Tetapi Parlin lebih suka bertualang di Jakarta. Pekerjaannya tidak tetap. Apa saja dilakukannya asal bisa memperoleh uang. Padahal hidup di Jakarta tidak mudah. Dimaz tahu Parlin masih mencintai Widuri. Dia pasti bersedia melakukan apa saja untuk merebut wanita itu kembali. Untuk itukah dia datang malam-malam begini? Untuk membuat perhitungan karena Dimaz baru saja menemui Widuri? "Kita sama-sama mencintai Widuri," kata Parlin tanpa salam pembuka lagi. Dia menghadang Dimaz di depan rumahnya. Baru saja Dimaz turun dari mobil untuk membuka pintu gerbang rumahnya, Parlin muncul dari kegelapan. Tubuhnya yang tinggi muncul begitu saja seperti bayang-bayang dari balik pohon. Kedua belah tangannya dimasukkannya ke dalam saku celananya. Kalau ada pisau di sana, pasti sudah ditikamnya Dimaz sejak tadi. "Kita pasti sama-sama tidak rela membiarkan dia menempuh bahaya seorang diri." "Maksudmu?" tanya Dimaz hati-hati. Dia bersandar ke mobilnya dengan waspada. Menjaga setiap kemungkinan. Mencurigai setiap gerakan. "Aku akan menemani Widuri mencari anaknya." "Dia tidak mau ditemani." "Tapi bahaya sekali pergi menemui bajingan itu sendirian! Kau rela melepaskan dia menempuh perjalanan sejauh itu?" "Tentu saja tidak." "Nah!" "Tapi Widuri barusan minta agar aku bersumpah..." "Sumpah?" "Tidak akan menyertainya ke sana." "Mesti pakai sumpah segala?" - "Dia kuatir aku pergi dengan diam-diam. Dia tidak mau diikuti. Kuatir ketahuan. Dia takut Paris akan menanggung akibatnya." "Kalau begitu biar aku yang pergi." "Kau?" "Aku bisa menguntitnya diam-diam." "Tanpa setahu Widuri?" "Tanpa setahu siapa pun." "Kalau ketahuan?" "Bajingan itu tidak kenal padaku." "Widuri bisa marah padamu." "Persetan! Aku lebih takut dia kena bahaya daripada dimarahi!" "Tapi keselamatan anaknya..." "Aku tahu apa yang harus kulakukan." "Lalu buat apa kau menemuiku?" "Aku perlu uang," sahut Parlin tegas, tanpa ragu-ragu. "Uang?" gumam Dimaz bingung. "Untuk beli tiket pesawat. Kau yang harus menyediakannya." "Kenapa mesti aku?" "Karena kau juga mencintainya." Sekarang Dimaz mengawasi pemuda itu antara kagum dan bingung. Parlin membalas tatapannya tanpa rasa malu sedikit pun. Mata yang gelap itu begitu dingin. Tetapi tatapannya demikian pasti, seakan-akan dia tahu betul apa yang dilakukannya. Dia benar-benar seorang laki-laki. "Kalau aku punya uang, aku tidak akan datang padamu." "Aku tahu. Kalau kau mau, aku bisa carikan kau pekerjaan." "Jangan lakukan apa-apa untukku," potong Parlin datar. Suaranya sedingin tatapannya. "Lakukan untuk Widuri!" "Baik" Dimaz mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Akan kuurus semua keperluanmu. Surat-surat dan tiket." Parlin menatap tangan Dimaz dengan ragu-ragu. Lalu dia mengangkat mukanya. Menatap Dimaz dengan dingin. Dan menjabat tangannya dengan mantap. "Cuma kita berdua yang tahu. Oke?" "Oke," sahut Dimaz tegas. "Janji seorang laki-laki." *** Dimaz memeluk Widuri erat-erat. "Apa pun yang terjadi di sana, Wid," bisiknya getir, "Ingatlah ada seorang laki-laki yang sedang menunggumu di sini. Lelaki yang masih tetap mencintaimu biarpun bumi tidak akan berputar lagi. Jika berhasil, bawalah anakmu pulang. Aku belum pernah melihatnya. Tetapi jika gagal... pulanglah, Wid. Kita akan berangkat lagi bersama-sama mencarinya. Janji?" Widuri mengangguk. "Jangan susul aku," katanya lir ih. "Ingat janjimu. Keselamatan Paris tergantung dari tindakanku."Dimaz mendekapkan Widuri ke dadanya. "Hati-hati," bisiknya kuatir. "Kirim kabar secepatnya." Widuri mengangguk. "Titip Ibu dan adik-adik, ya. Tolong jaga Menuk dan anaknya." "Serahkan saja semuanya padaku. Kau jaga dirimu baik-baik." Sekali lagi mereka saling berpelukan, seakan-akan tidak pernah lagi mau saling melepaskan. Lalu Widuri mencium Ibu dan adik-adiknya yang ikut mengantar ke lapangan terbang. Terakhir dia melihat Parlin. Berdiri agak jauh di belakang. Widuri menghambur merangkulnya. Sejenak mereka saling membisu dalam rangkulan yang mengharukan. Dimaz terpaksa memalingkan wajahnya. Tidak ingin melihat adegan itu. Tetapi walaupun tidak melihat, hatinya terasa perih juga. "Hati-hati" Cuma itu yang keluar dari celah-celah bibir Parlin yang kering. Widuri mengangguk. Dia memungut tasnya dan mencium ibunya sekali lagi sebelum melewati pintu yang memisahkan mereka. BAB XVIII Widuri menelusuri tepi Sungai Limat yang membelah kota Zurich. Dan mencari hotel yang dimaksudkan Irfan. Hari sudah senja. Lampu-lampu reklame cokelat Swiss yang terkenal ke seluruh dunia itu berkerlap-kerlip di puncak gedung-gedung bertingkat. Trem berwarna biru hilir-mudik membawa penumpang yang tidak seberapa jumlahnya. Sementara jalan yang tidak pernah macet membentang antara Sungai Limat dan hotel yang dicarinya. Widuri menyeberang dengan tergesa-gesa. Sebuah mobil yang sedang melaju cepat hampir saja menyenggolnya. Sebuah kepala berambut jagung melongok keluar dan memaki Widuri dalam bahasa yang untung tidak dipahaminya. Tetapi Widuri tidak peduli. Dia tidak peduli seandainya seluruh dunia memakinya sekalipun. Lonceng gereja di kejauhan berdentang beberapa kali. Gemanya seakan-akan membiaskan kerinduan yang tidak terbendung ke hati Widuri. Ingat genta di puncak menara gereja di sekolah Paris. Sering sekali dia mendengar genta itu berdentang kalau sedang duduk menunggu Paris pulang sekolah. Tetapi belum pernah dia merasa begini trenyuh mendengar lonceng berbunyi. Bergegas Widuri mendorong pintu hotel itu. Bukan sebuah hotel yang besar. Tapi cukup rapi dan-bersih. Ada tangga yang menghubungkan pintu depannya dengan meja portir. Seorang laki-laki tua berkepala botak duduk di balik meja itu. Widuri menyapanya dalam bahasa Inggris dan kakek itu membalas sapaannya dengan ramah. Widuri hampir tidak dapat lagi menahan kerinduannya. Dia begitu ingin bertemu dengan Paris. Di manakah dia? Di salah satu kamar hotel ini? Widuri membawa sebuah mobil-mobilan baru. Untuk Paris. Dia pasti sudah lama tidak main mobil-mobilan. Irian mana sempat membelikannya. Sudah makankah dia? Sedang apa dia sekarang di kamarnya? Tahukah dia ibunya sudah datang? "Oh, Nyonya Irfan?" Kakek itu tersenyum ramah. "Betul. Ada kamar yang sudah dipesan oleh suami Nyonya. Mari saya antarkan." "Mereka ada di sana?" desak Widuri tidak sabar. "Mereka?" "Suami dan anak saya?" "Belum. Suami Nyonya memesan kamar itu untuk Anda." Ada rasa kecewa yang amat menyakitkan menikam hati Widuri. Dia harus menggigit bibirnya menahan diri. Tertatih-tatih dia mengikuti langkah si kakek mendaki beberapa belas anak tangga menuju ke kamar yang ditunjukkannya. Kamar itu tidak mewah. Tetapi bersih dan cukup luas. Hawanya tidak berbau apek. Dan tilam tempat tidurnya bersih. Ada kamar mandi tersendiri. Ada air hangat pula. Tadinya Widuri mengira Irfan akan memesan kamar yang lebih jelek lagi. Orang yang sedang kehabisan uang pasti tidak royal. Kasihan Paris. Tetapi kalau kamarnya sudah seperti ini saja, Widuri dapat menarik napas lega. Mudah-mudahan seperti ini juga kamar anaknya, di mana pun dia berada! "Jika Anda lapar, ada restoran kecil di bawah," kata kakek itu dari ambang pintu. "Terima kasih. Saya belum lapar," sahut Widuri lesu. Dia duduk di atas tempat tidur, memandang ke luar melalui jendela yang terbuka. Senja yang temaram sedang turun menyelubungi kota. Dari restoran di bawah kamarnya, lagu-lagu rakyat Swiss mengalun mengajak kaki ikut bergoyang mengikuti irama tarian mereka. Tetapi yang ada di kepala Widuri cuma Paris. Di mana d ia? *** Pukul sepuluh malam telepon di samping tempat tidurnya berdering. Widuri yang sudah separo lelap karena lelahnya langsung meraih telepon itu. Jantung- * nya hampir berhenti berdetak ketika mendengar suara Irfan. "Selamat datang di Swiss, Sayang!" Suara Irfan begitu cerah. "Sudah makan?" "Di mana Paris?" desak Widuri tak sabar. "Di sini, bersamaku. Jangan kuatir." "Di mana? Mengapa kalian tidak kemari?" "Kau istirahat dulu, ya? Capek, kan?" "Irian," desah Widuri menahan tangis karena kesalnya. "Di mana Paris? Jangan kaupermainkan aku lagi'" "Sabarlah. Tidur saja yang tenang malam ini. Tadinya aku ingin mengajakmu makan malam. Sudah lama aku tidak dansa bersamamu. Tapi kau tahu sendiri, Gita cemburuan sekali!" "Aku harus bertemu dengan Paris malam ini juga!" "Besok pagi saja ya, Manis? Sekarang kau makan dan tidur yang puas. Besok pagi aku telepon lagi. Oke? Sampai jumpa, Sayang! Aku cinta padamu!" Dan hubungan terputus. Sia-sia Widuri menekan-nekan tombol teleponnya. Sia-sia dia berteriak-teriak. Irfan telah menaruh teleponnya. Tidak ada suara lagi. Dia benar-benar jahat!. Binatang! Iblis! Dan Widuri tersungkur tak berdaya di atas tempat tidurnya. Bahunya naik-turun diguncang tangis. Hatinya yang pedih dalam galau kerinduan kepada anaknya menjerit putus asa. Tetapi tidak ada yang mendengar jeritannya. Tidak ada lagi yang menghiraukan tangisnya. Sepotong langit hitam mengintai dari jendela kamarnya yang masih terbuka lebar. Zurich mulai ditelan malam. Dilanda kegelapan. Lagu-lagu yang merdu masih mengalun silih berganti dari bawah sana, membelai-belai telinga Widuri. Menyapa hatinya yang gundah digenggam kuatir. Benarkah Paris tidak apa-apa? *** Pagi-pagi sekali Widuri telah sarapan pagi. Semalam-malaman dia tidak makan. Untung sempat minum kopi di lantai bawah hotelnya masih sepi. Dia dilayani dengan cepat. Sama cepatnya dengan cara Widuri menyantap sarapannya. Dia ingin buru-buru naik ke kamarnya kembali. Menunggu telepon Irfan. Kalau dia memanggil nanti, Widuri harus sudah siap. Dan baru saja teleponnya berdering satu kali, Widuri telah mengangkatnya. "Selamat pagi!" sapa Irfan lembut. "Sudah bangun?" "Belum," sahut Widuri muak. "Di mana Paris?" "Kau bangun pagi sekali, Sayang. Sudah sarapan?" "Di mana Paris?" "Di sini, bersamaku. Jangan kuatir. Dia tidak apa- , apa kok! Aku kan ayahnya!" "Aku harus menemuinya!" "Tentu, Manis. Untuk itu kau datang jauh-jauh, kan? Nah, uangnya sudah siap?" Widuri mengangguk. Ketika disadarinya Irfan tidak bisa melihat anggukannya, buru-buru dia mengiya* kan. "Sepuluh juta rupiah?" "Ya." "Dalam dolar Amerika?" "Ya." "Kau benar-benar perempuan yang paling baik, Widuri." "Di mana Paris?" "Jempudah dia di Luzern." "Kenapa tidak kaubawa kemari saja?.'" bentak Widuri jengkel. "Biar kau jalan-jalan sedikit. Pemandangannya indah, kan? Lagi pula aku harus yakin kau tidak diikuti." "Kau tidak percaya padaku!" "Tentu aku percaya padamu. Tapi aku tidak percaya kepada mereka." "Mereka?" "Polisi selalu mau ikut campur." "Mereka tidak tahu. Kataku ini cuma persoalan keluarga.'' "Syukurlah. Kau benar-benar baik, Widuri, aku terharu....* "Demi Tuhan, aku mohon padamu, Irfan..." Tapi masih adakah Tuhan di hati seorang atheis? "Datanglah ke Luzern, Widuri. Aku telah membeli sebuah jam kukuk untukmu. Anggaplah sebagai kenang-kenangan dari suamimu. Kau akan selalu teringat padaku setiap kali melihat jam itu...." Aku selalu ingat padamu setiap kali menarik napasku, geram Widuri mengkal. Karena aku ingin sekali mencekikmu! "Ambillah jam kukuk itu, Wid...." Irfan menyebutkan nama sebuah toko suvenir di kota Luzern. "Sebutkan saja namaku. Tante penjaga toko itu sudah tahu." "Aku tidak mau jam!" teriak Widuri tidak sabar lagi. "Aku mau anakku!" "Di dalam jam itu ada secarik kertas yang menunjukkan tempat di mana kau bisa menemukan kami. Jangan lupa namanya ya, Wid? Dan... oh, ya, jangan lupa juga uangnya! Aku betul-betul terjepit nih. Perlu duit! Sampai tidak bisa bayar hotel. Sampai jumpa, Sayang! Aku cinta padamu." dan Irfan mengecup pesawat teleponnya dengan mesra. Ya Tuhan, pekik Widuri putus asa. Beb askanlah diriku dari cengkeram orang gila ini! Panorama di luar jendela busnya demikian indah. Padang rumput yang terhampar luas bagai permadani hijau yang menyelimuti bukit-bukit di kejauhan. Sementara sapi-sapi belang yang kekenyangan berbaring-baring di rumput seperti noktah-noktah hitam putih di atas selimut hijau yang membentang sejauh-jauh mata memandang. Rumah-rumah tradisional dari kayu, dengan bunga-bunga merah semarak di jendelanya, bagai mengucapkan selamat jalan kepada setiap mata yang menyapanya. Tetapi di mata Widuri hanya ada Paris. Dan kalau Paris sudah melekat di sana, keindahan kota Luzern pun cuma menumpang lewat saja di matanya. Turun dari bus, dia bergegas mencari toko yang dimaksud Irian. Tidak memedulikan gerombolan manusia yang berdiri di jembatan kayu yang berhiaskan bunga-bunga yang melekat indah di dindingnya, sambil mengagumi menara air yang tegak di samping jembatan itu. "Ada pesan buat saya?" tanya Widuri tanpa basa-basi lagi begitu dia masuk- ke toko yang dicarinya. Tante penjaga toko itu langsung tersenyum lebar tatkala Widuri menyebutkan nama Irfan. Diambilnya sebuah bungkusan berwarna-warni. Diserahkannya kepada Widuri. "Kado dari suami Anda," katanya ramah. Tetapi Widuri tidak menyambuti keramahannya. Tersenyum saja tidak Masa bodoh dibilang kulit berwarna yang congkak. Dia tidak sempat lagi berbasa-basi. Kertas pembungkus segera dirobeknya. Demikian pula kardus yang membungkus jam itu. Si Tante penjaga toko sampai tidak jadi memaki dalam hati. Heran dan bingung melihat keganasan Widuri. Tetapi Widuri tidak peduli. Dia membuka papan triplex tipis yang menutupi bagian belakang jam itu. Di dalam ruang mesin, dia menemukan surat yang dicari-carinya. Si Tante menghela napas melihat yang keluar cuma sehelai kertas. Sekilas tadi, dikiranya bom. Dan senyum paten yang selalu dipamerkannya kepada setiap turis yang mampir di tokonya mengembang lagi. "Selamat datang di Luzern, Sayang! Teleponlah nomor yang tertulis di bawah ini. Kalau aku yakin kau tidak dibuntuti, akan kuberitahu tempat pertemuan kita. Cium mesra, Irfan." Dengan gemas Widuri meremas-remas kertas itu. Dia benar-benar merasa dipermainkan. Disambarnya saja jam kukuk itu. dilemparkannya ke dalam tempat sampah pertama yang ditemuinya. Lalu dia mencari telepon umum. Dan menghubungi nomor yang tertera di kertas yang sudah kumal itu. "Maaf menyusahkanmu, Widuri." Irfan sudah mengetahui siapa yang menghubunginya pada saat mengangkat pesawat teleponnya. "Capek?" "Jangan main-main!" geram Widuri gemas. "Di mana Paris?" "Duh, galaknya!" "Di mana Paris, Irfan?" "Uang itu kaubawa?" "Tentu!" "Oke, Manis! Temui aku di Mount Pilatus!" *** Dengan sebuah kereta gunung Widuri memanjat gunung karang yang curam itu. Pohon-pohon cemara yang berlari di kiri-kanannya tidak lagi menarik perhatiannya. Matanya terus menatap nyalang ke atas bukit karang yang tegak dengan congkaknya di hadapannya. Kemudian dengan sebuah kereta gantung, dia melayang di udara, meninggalkan kota Luzern jauh di bawah. Rumah-rumah beratap merah bagai kotak-kotak korek api bertebaran di atas permadani yang membentang hijau di kaki bukit. Sementara danau yang luas membiru berkilauan bagai kaca dikelilingi gunung-gunung yang menjulang megah. Tetapi Paris belum ditemuinya juga. Bahkan sesudah tha turun dari lift di tempat rekreasi berbentuk piringan yang dibangun di puncak gunung itu, Irfan tidak juga datang menyongsongnya. Di mana dia? Di mana dia menyembunyikan Paris? Kabut tipis yang melayang-layang bukan saja dingin tetapi sekaligus mengaburkan pandangan. Membuat Widuri semakin sulit mencari-cari Paris. Tetapi dia belum putus asa. Widuri keluar ke pelataran. Mencari-cari buah hatinya di antara orang-orang yang berkerumun di sana. Menikmati lagu yang dibawakan oleh tiga orang musisi yang sedang meniup trompet tradisional Swiss yang panjang ujungnya sampai menyentuh tanah. Anak-anak berdesak-desakan di depan menonton mereka. Tetapi tidak ada, Paris. Tidak ada anak yang sudah sangat dirindukannya itu. Jangankan Paris. Irfan pun tidak ada di sana. Widuri sudah hampir putus asa. Dia su dah memutar tubuhnya untuk masuk kembali ke dalam ketika tiba-tiba didengarnya teriakan Irfan dari lubang bukit di seberang sana. "Paris!" jerit Widuri begitu melihat Irian melambai-lambaikan tangannya. Tanpa memedulikan keheranan orang-orang di sekitarnya, Widuri lari menelusuri jalan berpagar terali yang masuk ke lubang di perut bukit. Untung mereka masih asyik menikmati lagu-lagu yang dipersembahkan ketiga musisi Swiss itu. Kalau tidak, Widuri pasti sudah jadi bahan tontonan. - "Halo, Sayang!" Irfan menyosongnya dengan mesra, seakan-akan dia sungguh-sungguh merindukan istrinya. Disorongkannya bibirnya untuk mengecup bibir Widuri. Tetapi karena Widuri mengelak dengan memalingkan mukanya, bibir Irian hanya menyentuh pipinya. "Aku cinta padamu, Widuri." "Aku benci padamu!" balas Widuri sengit "Di mana Paris?" "Pipimu dingin." Irfan tersenyum sabar. "Kedinginan?" "Di mana Paris?" desak Widuri tak sabar. Suaranya bergetar menahan perasaannya. Matanya nyalang menatap ke sana kemari, mencari-cari Paris di antara orang yang lalu lalang di gua itu. Tetapi tidak ada Paris. Tidak ada anak yang sudah sangat dirindukannya itu.... "Mana uangnya?" tanya Irfan tenang. Dia masuk ke dalam gua dan duduk di tepi lubang. Widuri membuntutinya. Dilemparkannya tasnya begitu saja ke kaki Irfan. "Semuanya ada di sana." Irfan memungut tas itu dengan santai. Membukanya. Dan tersenyum melihat lembaran-lembaran hijau yang menantang matanya. "Aku ingin menciummu untuk mengucapkan terima kasih, Widuri. Kau sangat baik. Benar-benar perempuan terbaik yang pernah...." "Cium saja duitmu!" potong Widuri tak sabar. "Di mana Paris?" "Kau tidak rindu padaku? Aku kangen padamu." "Simpan saja kangenmu untuk gendakmu! Mana Paris?" "Di sana...." Irfan menunjuk ke belakang tubuh Widuri. "Sedang menunggumu. Sudah berapa malam dia nangis terus mencarimu." Secepat lalat Widuri memutar tubuhnya. Dan jauh di dalam sana, di lorong gelap di perut bukit, dia melihat buah hatinya... Wajahnya yang mungil hanya terlihat samar-samar, sebagian malah gelap, karena sinar yang menyorot masuk dari lubang di dinding gua terhalang tubuh Gita yang tegak di sampingnya. Tetapi dalam gelap-gulita sekalipun Widuri masih mampu mengenali anaknya! "Paris!" jerit Widuri histeris. Dia menghambur mendapatkan anaknya. Sementara dari ujung lorong yang lain, Paris berteriak-teriak sambil berlari-lari menyongsong ibunya. Mereka berpelukan di tengah jalan. Disaksikan oleh Irfan di ujung sini dan Gita di ujung sana. "Paris!" Widuri menciumi anaknya dengan penuh kerinduan. Tidak peduli bau badan Paris yang demikian menyengat karena tak pernah mandi. "Paris...." Diremas-remasnya rambut anaknya. Didekapkannya kepalanya erat-erat ke dadanya. "Sudah puas?" sela Irfan yang tiba-tiba sudah berduri di dekat mereka. "Mari ikut." "Kami mau pulang," berkeras Widuri. "Oke, oke!" Irfan menarik Widuri yang masih berlutut memeluki Paris. "Tapi surat-surat Paris kan masih di tempatku." "Jangan main-main, Fan!" desis Widuri curiga. "Sepuluh juta masih kurang?" I "Lho, siapa bilang?" "Jangan menipuku!" "Kata siapa aku mau menipumu?" Irfan tersenyum sabar. "Aku cuma ingin mengundang istri dan anakku makan siang. Masa tidak boleh?" "Aku akan membawa Paris pulang." "Tentu. Tapi dengan seizinku. Aku toh ayahnya." "Dengan atau tanpa izinmu, aku tetap akan membawanya pulang!" "Petugas di Airport Ziirich akan menahanmu. Keterangan tentang Paris kan melekat di pasporku." "Aku akan mengurusnya," desah Widuri putus asa. "Kalau perlu, aku minta bantuan yang berwajib." "Apa yang akan kaukatakan pada mereka? Anakmu diculik oleh ayahnya?" "Tolonglah aku, Irfan!" pinta Widuri separo meratap. "Aku tidak pernah menyusahkanmu...." "Kau memang perempuan yang paling baik.... "Biarkan aku kembali dengan Paris ke Jakarta. Uang itu boleh kauambil. Aku tidak akan menggugat. Tapi tolonglah, jangan ganggu kami lagi!" "Tinggallah beberapa hari lagi bersama kami, Wid," pinta Irfan lembut. "Lalu kita sama-sama pergi ke Paris." "Buat apa? Aku sudah bosan ke sana!" "Kau tidak ingin kembali ke tempat-tempat yang membangkitkan nostalgia untukmu? K au tidak ingin melihat lagi jalan kenangan yang begitu berkesan bagi cinta kita?" "Aku mau pulang! Kenangan yang kautinggalkan padaku cuma sakit hati dan kepedihan!" "Tinggallah di sini sampai mertuamu mengirimkan sisanya." "Sisa apa?" cetus Widuri kaget. "Bagian dari saham si tua bangka itu." "Kau sakit, Irian!" desis Widuri jijik. "Kau gila! Monster yang paling serakah dan tak tahu malu!" "Aku melakukan semua ini karena cinta padamu. Tanpa aku, kau tidak sampai hati menggugatnya terus!" "Dia sudah tua, sebatang kara pula. Anak-istrinya sudah meninggal. Mengapa tidak kaubiarkan dia melewati sisa hidupnya dengan tenang?" "Sudah kukatakan tadi, karena aku cinta padamu." "Dan kautitipkan penyakit kotormu pada perempuan yang kaucintai?!" sindir Widuri pedas. "Oh, soal itu...." Tidak ada rasa malu tebersit dalam senyum Irfan. "Maafkan aku, Wid. Tadinya sudah mau kukatakan padamu. Dokter juga sudah menyuruhku membawamu berobat. Tapi aku belum berani mengatakannya padamu. Lagi pula, kau repot terus, kan? Tapi jangan kuarit, sekarang aku sudah sembuh." "Dan anakmu hampir buta!" "Anak?" Baru kali ini Widuri melihat irfan terkejut. "Kau hamil?" "Menuk" Widuri menyemburkan nama itu bersama dengusan napasnya. Dia ingin sekali mencekik leher lelaki ini untuk apa yang telah dilakukannya terhadap adiknya. "Anak perempuanmu ketularan penyakit kotormu. Matanya hampir buta." "Aku benar-benar menyesal." Baik nada maupun suaranya melukiskan seakan-akan dia benar-benar menyesal. Padahal dia sudah tidak punya hati lagi. Hatinya sudah habis digerogoti kuman-kuman pembusuk! "Kalau kau tidak sedingin ini, Widuri, aku tidak perlu mencari kehangatan di tempat lain. Aku tidak perlu mengejar-ngejar adikmu. Dia tidak ada apa-apa-nya dibandingkan dengan dirimu..." "Jangan bandingkan kami!" potong Widuri tersinggung. Bagaimanapun, Menuk tetap adiknya. Dia tidak rela adiknya dihina orang. Meskipun yang menghina suaminya sendiri. "Aku tidak perlu mengejar-ngejar Gita. Dia memang masih tetap st-stey dulu. Jauh lebih cantik daripadamu. Tetapi kau punya segalanya yang dibutuhkan seorang suami agar betah di rumah. Kita bisa membina keluarga yang bahagia, karena aku betul-betul mencintaimu. Tapi kau terlalu angkuh..." "Kapan kita berangkat?" potong Gita jemu. Tentu saja dalam bahasa Prancis. Mana mau dia bicara dalam bahasa bapaknya? "Sampai kapan kalian mau berpantun-pantunan di sini?" "Marilah." Irfan meraih Paris ke dalam gendongannya. Tetapi Widuri lebih cepat lagi menjangkaunya. "Dia capek. Jalan terus dari tadi. Biar kugendong." "Aku saja yang gendong," sahut Widuri ketus. Di-gendongnya Paris sambil mendahului mereka berjalan keluar dari gua itu. "Lho, aku kan ayahnya!" protes Irfan seraya membuntuti mereka dari belakang. "Masa nggak boleh gendong anak sendiri!" *** Kereta gunung berwarna merah itu masih kosong. Orang-orang belum ada yang mau turun. Masih asyik makan siang di restoran di atas sana sambil menikmati panorama yang indah. Pengemudinya pun belum naik. Tetapi.ketika melihat Widuri menggendong anak, dia cepat-cepat membukakan pintu kereta. Justru pada saat ini, jaket Irfan yang sedang berdiri di samping pintu ditarik orang dari belakang. "Parlin!" pekik Widuri kaget, tidak jadi masuk ke dalam kereta. Tetapi Parlin tidak menoleh. Dengan kasar dia menyentakkan Irfan dan menghajar mukanya dengan tinjunya. Irfan jatuh tunggang-langgang. Ketika Parlin hendak menerjang untuk menghajarnya lagi pengemudi kereta itu menahannya. Terpaksa Parlin menjotosnya juga. Tetapi pengemudi itu melawan. Sementara mereka terlibat dalam perkelahian. Irfan bergegas melompat masuk ke dalam kereta sambil menyambar tas yang berisi uang. Dia langsung melepas rem dan kereta mulai bergerak turun. Tidak dihiraukannya Gita yang berteriak-teriak minta ikut. Yang ada dalam ingatannya hanya melarikan diri. Dikiranya Parlin polisi yang mengejarnya dari Indonesia. Daripada ribut, lebih baik dia kabur bersama uangnya. "Tunggu dulu, jahanam!" teriak Parlin geram. "Mari kita bikin perhitungan!" "Parlin, jangan!" pinta Widuri ketakutan. Dipeluknya Paris erat-erat. "Jagai saja anakmu, " sahut Parlin tanpa menoleh. "Ini urusan laki-laki." Dia sudah melompat hendak memburu naik ke atas kereta, tetapi petugas itu menghalanginya. "Apa-apaan ini?" teriaknya panik dalam bahasa Jerman. "Dia orang jahat!" sahut Parlin sambil meninjunya sekali lagi. Dia sampai lupa, orang itu tidak mengerti bahasa Indonesia. Begitu dia jatuh tunggang-langgang, Parlin melompat ke dalam kereta yang sedang bergerak turun perlahan-lahan. Irfan menendang Parlin demikian kerasnya sampai tubuh Parlin terjajar ke belakang dan menghantam pintu. Pintu menjeblak terbuka dan tubuh Parlin nyaris terlempar ke luar kalau tangannya tidak cekatan menjambret pintu. Sekarang tubuhnya yang menggelantung separo di udara. Dan Widuri yang menyaksikannya dari atas memekik ngeri sambil memalingkan mukanya. "Tolong mereka!" pinta Widuri kepada petugas-petugas yang berkerumun menonton. "Demi Tuhan, tolong mereka!" Tetapi kereta sudah meluncur turun dengan cepatnya sehingga dari atas, kereta itu hanya tampak seperti ulat merah yang sedang melata di atas permadani hijau. Sementara Parlin sedang berjuang menyelamatkan nyawanya, Irfan sedang bekerja keras menguasai kereta. Tikungan-tikungan tajam dari jalan menurun curam sampai kemiringan 60 derajat menghadang di depan mereka. Dan jurang berdinding batu karang yang terjal menganga menantikan mangsanya dengan sabar di bawah sana. Dengan susah payah Parlin merayap naik. Baru saja tubuhnya tersungkur di atas lantai kereta, Irfan telah menendangnya lagi. Tetapi kali ini, Parlin lebih gesit menangkap kakinya. Dengan sisa tenaganya, Parlin menarik kaki Irfan kuat-kuat sampai laki-laki itu ter-jerembap ke lantai. Dan pergulatan sengit pun terjadi di dalam kereta yang sedang meluncur turun tak terkendali. Seorang petugas yang bertugas memindahkan rel kalau ada kereta lewat, terkejut setengah mati melihat kereta yang sedang turun dengan cepat itu. Dia berteriak-teriak dengan panik untuk memperingatkan pengemudinya. Tetapi kereta itu telah tergelincir keluar dari rel. Untuk kemudian terguling ke dalam jurang yang akan melumatkannya dengan ganas sampai hancur lebur. Dari atas, kereta itu cuma tampak seperti sebuah kotak kecil berwarna merah yang melayang di udara, dilatarbelakangi oleh dinding karang Gunung Pilatus yang masih tetap menjulang angkuh mencakar langit. 414 PENUTUP Terhuyung-huyung Widuri menuruni tangga pesawat yang mendaratkannya di landas an Pelabuhan Udara Halim Perdanakusuma. Lima tahun yang lalu dia mendarat di sini sambil menggendong Paris. Sekarang dia mendarat pula di sini bersama anak itu. Tetapi Widuri sudah tidak kuat lagi menggendongnya. Paris melangkah gagah di sisi ibunya. Mukanya tampak lelah. Tetapi dia masih berusaha membimbing tangan ibunya sedemikian rupa, seakan-akan dialah yang menopang Mama. Beberapa orang petugas langsung mengerubunginya. Mengamankan dirinya dari serbuan wartawan. Tetapi Widuri tidak memedulikan apa-apa lagi. Dia sudah merasa amat letih. Satu-satunya keinginannya saat ini hanyalah membaringkan kepalanya dengan tenang. Dan melupakan segala-galanya. Dan satu-satunya lelaki yang diharapkannya dapat menyediakan bahunya sebagai tempat untuk menyandarkan kepalanya tidak datang seorang diri menyambutnya. Dimaz memang langsung merangkulnya. Memapahnya masuk ke dalam dengan penuh kasih yang berbalut kekuatiran. Tetapi naluri Widuri membisikkan, bahwa perempuan tak dikenal yang selalu mendampinginya itu bukan perawat yang dibawanya untuk membantu Widuri. Baru di dalam mobil yang membawanya pulang Dimaz memperkenalkan wanita hu. "Wid, ini Asoi" Dan Widuri tidak jadi meletakkan kepalanya di bahu Dimaz. Dia berpaling kepada wanita yang duduk di bangku depan bersama Ade, tepat pada saat Astri menoleh ke arahnya. Sekejap pandangan mereka terkunci dalam kebisuan. Lalu perempuan yang cantik itu mengulurkan tangannya lebih dulu. Tetapi Widuri tidak menjabat tangannya. Dia berpaling kepada Paris yang duduk di sampingnya. Paris menatap ibunya sedemikian rupa seakan-akan dia dapat merasakan kesedihan Mama dan memahami apa yang tersirat di balik tatapannya yang getir. Lalu anak laki-laki  kecil itu menyodorkan bahunya. Seolah-olah di atas pundaknya yang masih kecil dan lemah itu dia ingin memikul semua beban penderitaan yang memberati ibunya, Widuri membalas tatapan Paris dengan penuh keharuan. Dan dia merebahkan kepalanya di sana sambil memejamkan matanya. 416 "Astri diceraikan suaminya." Dimaz menunduk dengan perasaan bersalah. Mereka sedang duduk berdua di ruang tamu di rumah ibu Widuri. "Dia sedang mengandung. Anaknya sudah tiga. Masih kecil-kecil." "Dan kau masih mencintainya," sambung Widuri sabar tapi datar. Dia duduk separo berbaring di atas kursi panjang, menatap hampa dinding di hadapannya. Seandainya dinding tua yang telah retak-retak itu dapat bercerita, alangkah banyak yang dapat diceritakannya! Alangkah banyak yang telah disaksikannya! "Aku malah tidak tahu ke mana sirnanya cinta dan kapan cinta itu berlalu." "Aku mengerti," desah Widuri, seirama dengan ayunan sembilu yang tengah mengoyak-ngoyak hatinya. "Dia cintamu yang pertama." "Bagi seorang laki-laki, yang penting adalah cintanya yang terakhir." "Tidak perlu kaukatakan siapa yang kaumaksudkan." "Boleh aku bertanya, Widuri? Jangan jawab kalau tidak mau." "Masih ada yang perlu ditanyakan?" "Kau mencintai almarhum suamimu?" "Hanya belas kasihan dan kesetiaan seorang istri yang mengikatku kepada Mas Tanto. Dengan Irfan, soalnya cuma kebutuhan, anakku butuh seorang ayah." "Kalau aku melamarmu, kau akan menerimanya? Aku mencintaimu, Widuri. Dulu kukira aku tidak bisa mencintai perempuan lain kecuali Astri. Setelah benemu dengamu, baru aku sadar, cuma kau yang kucintai. Maukah kau menikah dengan aku, Widuri?" Aku mau, Dimaz! Aku mau! Ingin Widuri meneriakkan kata itu. Tapi tak ada suara yang keluar dari celah-celah bibirnya. Yang muncul di depan rongga matanya cuma seorang perempuan hamil yang sedang menggendong bayi sambil menuntun dua anak kecil di kiri-kanannya. Bekas-bekas kecantikan masih membayang di wajahnya yang penuh gurat-gurat penderitaan. Matanya redup memancing iba. "Ketika aku melihatmu," katanya di depan Widuri kemarin, "aku sadar, tidak ada harapan lagi untuk memiliki Dimaz." Astri datang bersama ketiga anaknya ke rumah Widuri, tanpa Dimaz. "Barangkali aku yang tidak tahu diri. Tapi ketika melihat dia masih sendirian, kukira dia masih menungguku. Lalu aku mendengar tentang kau. Dan melihat caranya bercerita, aku tahu, aku telah keliru. Bukan aku yang ditunggunya. Dimaz begitu mencintaimu. Memuja dirimu. Ketika dia hendak menjemputmu ke airport, aku yang memaksa ingin ikut. Aku penasaran ingin melihat seperti apa perempuan yang demikian dikaguminya. Yang membuatnya cintanya yang demikian berkobar-kobar kepadaku cuma lembaran-lembaran catatan harian kami. Mula-mula kupikir kau seorang perempuan yang hebat. Perempuan yang mempunyai dua orang suami dan memiliki tiga kekasih yang rela mengorbankan jiwa raganya 418 pasti seorang perempuan yang hebat. Dan perempuan yang terlalu hebat biasanya punya banyak kelemahan. Aku masih punya harapan untuk merebut kekasihku kembali. Tetapi ketika aku melihatmu, aku sadar, tak ada harapan lagi untuk memiliki Dimaz. Kau terlalu sempurna untuk disaingi." Lalu Widuri memalingkan wajahnya. Menatap satu , per satu makhluk-makhluk kecil yang mengerubungi Astri. Dua anak perempuan bermata sendu, yang mengawasi ibunya dengan tatapan hampa. Sementara dalam gendongan sang ibu, seorang bayi laki-laki yang berumur hampir setahun, duduk pun belum mampu. Kepalanya besar. Dahinya lebar. Matanya seperti terbelalak ke luar, dengan bagian hitam mengintai di tepi kelopak bawah matanya, laksana matahari terbit di batas cakrawala. "Kami bertemu di rumah sakit," kata Dimaz terus terang. "Ketika Astri membawa bayinya berobat. Anak itu menderita Hydrocephalus. Pengumpulan cairan otak yang berlebihan dalam rongga-rongga di otaknya. Mesti dioperasi." Operasi. Tanpa ayah. Hanyar didampingi oleh seorang ibu yang sedang hamil. Sampai hatikah dia mengambil Dimaz dari sebuah keluarga yang sangat membutuhkannya? Lalu ingatan Widuri kembali pada sebuah kamar mayat di Swiss. Dua sosok jenazah dibaringkan berdampingan. Wajah mere ka sudah hampir tidak dapat dikenalinya lagi. Tetapi dari dua jazad -yang sudah separo hancur itu, Widuri masih dapat mengenali yang mana Irfan, yang mana Parlin. Mereka tidak meninggalkan pesan apa-apa. Tidak ada kata-kata perpisahan. Tidak ada salam terakhir. Tetapi dalam kesunyian di tengah ruangan berdinding batu pualam yang dingin membeku, Widuri seakan-akan mendengar kembali suara Parlin, sinis tapi getir. "Aku selalu tersingkir setiap kali dia muncul." . Dan kini Widuri tidak ingin lagi Parlin tersingkir dari harinya. Tidak setelah dia mengorbankan nyawanya, merelakan tubuhnya hancur dirajam batu karang. Widuri tidak menunggu sampai Dimaz datang kembali untuk menjemputnya di rumah ibunya. Malam itu Dimaz telah berjanji untuk membawanya makan malam di restoran favorit mereka. Widuri belum menjawab lamarannya. Dan Dimaz ingin mendengar jawabannya di sebuah tempat yang pernah memberikan kenangan-kenangan yang amat mengesankan bagi mereka berdua. "Kalau ya jawabanmu," katanya lirih, "kita akan merayakannya di sana. lapi kalau kau menolak, tempat itu akan menjadi tempat perpisahan kita." Namun Widuri tftfek menunggu sampai Dimaz menjemputnya. Dia tidak ingin menemuinya lagi. Dia tidak ingin mata yang dicintainya itu meluluhkan kembali tekadnya. Dia harus pergi. Pagi-pagi sekali, Widuri telah membawa Paris ke rumah mertuanya. Kemarin dia mengembalikan sisa uang sepuluh juta yang selama ini ditahan yang berwajib sebagai barang bukti kepada ayah Tanto. Dan orangtua yang sudah mulai sakit-sakitan itu sudah banyak berubah. "Kemarin ulang tahunku yang ketujuh puluh," katanya sambil mengisap cerutu seorang diri di taman belakang rumahnya yang luas bagai padang rumput. "Kau tahu di mana aku memperingatinya? Di tempat tidur. Sendirian. Tak ada anak. Tak ada istri. Cuma ditemani oleh encok' yang menggerogoti tulang-tulangku yang sudah keropos." Widuri melayangkan pandangannya jauh ke tengah taman. Mengawasi sebuah batu besar yang tegak sendirian di tepi kolam. Sepanjang hari batu itu termenung di sana, mendengar gemericik air mancur di tengah kolam, memandangi ikan-ikan yang bergurau di bawah sana, tanpa dapat ikut terjun menikmatinya bersama-sama mereka. Seperti itulah hidup ayah Tanto sekarang. Dikelilingi kemewahan duniawi, tetapi tidak mampu menikmatinya. "Kemarin tiba-tiba saja aku sadar, uang tidak ada lagi artinya bagiku. Aku merasa kesepian. Tidak tahu untuk apa lagi hidup ini. Tapi aku pun takut mati. Takut mati sendirian di tempat tidur. Berhari-hari mayatku membusuk tanpa ada yang tahu..." "Ayah perlu teman," potong Widuri, tidak tahan mendengar betapa getirnya kata-kata mertuanya. "Perlu seorang perawat. Kalau Ayah mau, akan saya carikan..." "Maukah kau tinggal di sini bersama Paris, Widuri?" Sekarang orangtua itu sendiri yang menyela kata-kata Widuri. "Kalau kau sudah menemukan laki-laki yang cukup baik untuk ayah Paris, Ayah rela dia tinggal bersama kita di sini." Sejenak Widuri tertegun. Ditatapnya orang tua itu dengan bengong. Baru disadarinya betapa tuanya dia sudah. Wajahnya penuh kerut-merut. Matanya yang sudah hampir lamur dilingkari putihnya serat-serat katarak. Pandangannya redup dan hampa. Punggungnya bungkuk. Tidak ada lagi gambaran laki-laki tua yang dengan gagahnya yang duduk di balik meja tulis di kamar kerjanya yang mewah. Di mana direktur utama yang sombong itu, yang tidak punya waktu sama sekali untuk menerima menantunya sendiri? EH mana tuan besar yang disegani dua ratus orang karyawannya itu, yang tanda tangannya berharga ratusan juta rupiah? Di sini dia duduk seorang diri, lemah, sakit-sakitan dan kesepian... memohon menantu dan cucunya agar sudi menemaninya pada hari-hari terakhir hidupnya, karena dia takut mati sendirian! Alangkah tragisnya akhir hidup seorang pengumpul uang yang hebat! Pada akhir hidupnya, uang yang digumulinya sejak muda ternyata tidak mampu mengusir hantu kesepian yang ditakutinya. Dia malah tidak malu-malu lagi melelehkan air matanya ketika merangkul Paris. ** "Dia begitu mirip Tan to...," desahnya lirih sambil membelai-belai rambut Paris. "Demi aku, Widuri, biarlah dia tin ggal di sini. Berilah aku kesempatan untuk menghabiskan sisa umurku bersama cucuku sendiri. Seluruh kekayaanku miliknya. Milikmu juga. Kalau kau mau, aku rasa kau sanggup mengelola perusahaan kita. Maukah kau, Widuri? Maukah kau-lupakan semua kekhilafanku di masa lalu? Ketika aku membayar mereka untuk membakar mobilmu dulu, Irfan-lah yang kumaksudkan untuk dihajar, bukan adikmu." Widuri memang sudah lama memaafkan perbuatan ayah Tanto membakar mobilnya. Tetapi dia tidak dapat melupakan cacat yang ditinggalkannya di wajah Ade. Hanya karena orang tua itu ayah dari seorang suami yang sebaik Tanto-lah Widuri masih mampu menahan Ade untuk tidak menggugatnya terus di pengadilan. Karena itu pulalah mereka sudi menerima permohonan damai yang diajukan pengacara ayah Tanto. Dan menyelesaikan perkara tersebut secara kekeluargaan. Padahal Ade penasaran sekali. Ayah Tanto tidak pernah ditahan, semata-mata hanya karena dia punya uang untuk membayar uang jaminan. Uang pulalah yang mengganjal perkara mereka sehingga tidak pernah sampai di pengadilan. Ketika Widuri hendak mengembalikan uang damai itu kepada ayah Tanto, Ade sampai melonjak karena gusarnya. "Kau bukan manusia, Mbak!" dengusnya kesal. "Kau malaikat. Karena itu tempatmu bukan di sini! Pantas saja seluruh dunia menolakmu...." Apa pun yang dikatakan adiknya, Widuri tetap ber-keras untuk mengembalikan sisa uang yang sepuluh juta itu. Dan untuk duduk sebagai direktur boneka di perusahaan ayah Tanto, dia tidak sudi! Apalagi tinggal di rumahnya. Jika dikiranya hartanya masih mampu membeli apa saja yang diinginkannya, dia akan kecewa. Widuri memilih mengelola perubahannya sendiri, walaupun dia harus mulai dari bawah lagi, daripada menerima begitu saja warisan yang disodorkan kepadanya. Meskipun miskin, dia masih punya harga diri. Dan tidak mau hidup sebagai benalu. "Sejak dulu pun sudah saya katakan, saya tidak pernah mengharapkan apa-apa lagi dari Mas Tanto, Ayah," sahut Widuri tegas tapi sopan. "Biarkanlah saya memilih jalan hidup saya sendiri. Paris akan sering saya suruh main-main ke sini menemani Ayah. Dia boleh menginap beberapa malam kalau dia mau. Tapi tidak boleh tinggal di rumah ini untuk seterusnya. Kemewahan hanya akan membuat dia menjadi laki-laki cengeng yang gampang menyerah pada nasib. Dia akan mendampingi saya. Bekerja keras untuk membangun masa depan kami sendiri. Akan saya berikan seorang perawat pria yang baik untuk merawat dan menemani Ayah." Ayah Tanto tidak berkata apa-apa lagi. Dia bahkan tidak menyambuti salam pamit Widuri Tetapi ketika Widuri dan Paris sudah mencapai pintu taman, orang tua itu memanggilnya sekali lagi. Widuri menoleh. Dan matanya bertemu dengan mata mertuanya. Di mata yang redup itu, Widuri menemukan keletihan seorang pengembara yang belum juga menemukan tempat peristirahatan yang tenang. "Kau mau ke mana?" "Tidak ke mana-mana, Ayah. Saya akan tetap tinggal di Jakarta. Kota ini memang kejam. Tapi karena kerasnya perjuangan untuk hidup di sini, saya merasa mendapat tantangan. Saya tidak akan melarikan diri dari kesulitan, Ayah. Saya akan mulai berusaha lagi. Meskipun saya harus mencoba dari tempat yang paling bawah sekali." "Buat apa? Aku bisa mengirimmu' tunjangan yang cukup setiap bulan." "Saya ingin berdikari, Ayah. Lagi pula bukan hanya Paris yang harus saya biayai sekarang. Saya ingin mengambil tanggung jawab keluarga dari pundak ibu saya." "Kau punya, andil dua puluh lima persen dalam perusahaanku."" "Terima kasih, Ayah. Tapi saya merasa tidak pantas memilikinya." c "Itu milikmu sendiri! Milik anakmu. Warisan suamimu." "Maafkan saya, Ayah. Saya tidak bisa menerimanya." "Kalau begitu ambillah uang ini." Ayah Tanto menunjuk uang yang baru saja dikembalikan Widuri. "Untuk modal." "Saya tidak mau membangun perusahaan di atas segumpal uang darah, Ayah!" "Tapi ini uangmu!" keluh ayah Tanto putus asa. "Uang ini telah kuberikan sebagai ganti rugi kepada adikmu. Ambillah untuk membenahi cacat di mukanya." "Maafkan saya, Ayah. Saya tidak dapat mengambilnya. Di atas uang itu mengalir darah dua orang laki-laki. Saya tidak ingin teringat kepada le laki lain setiap kali memandang wajah adik saya." Ayah Tanto terkulai lunglai di kursinya. Sampai saat terakhir pun dia tidak mampu menaklukkan perempuan ini dengan uang dan kekuasaannya] Bahkan ketika dia ingin berbuat baik dengan uangnya, dia tetap ditolak. Ketika dia ingin menolak uang yang selama ini dikejarnya, uang itu malah menolak untuk pergi dari dirinya! O, alangkah pandainya perempuan yang satu ini menghukumnya, yaitu dengan uang dan kekuasaannya sendiri! Sengaja hari itu Widuri pulang ke kampungnya. Dia ingin tinggal beberapa hari di sana sebelum memulai hidupnya di Jakarta. Tekad Widuri memang telah bulat. Dia harus meninggalkan Dimaz. Semalam-malaman dia berdebat dengan dirinya sendiri. Kalau dia menikah dengan Dimaz, dia harus ikut suaminya. Dia harus mendampingi Dimaz yang masih terikat tugas sebagai dokter inpres selama lima tahun di puskes masnya di pelosok Jawa sana. Dia harus meninggalkan ibunya yang masih berjuang untuk menghidupi adik-adiknya dengan cucuran keringatnya Dia harus meninggalkan Menuk bersama anaknya. Padahal Menuk belum bekerja. Dan anak itu tidak punya ayah. Dia harus mengecewakan Astri yang bersama anak-anaknya sedang menunggu dengan sia-sia kembalinya Dimaz. Dan demi satu-satunya lelaki yang pernah sungguh-sungguh dicintainya itu…. Widuri tidak rela kalau Dimaz juga harus mengakhiri hidupnya dengan tragis seperti semua laki-laki yang pernah mencintainya…. Biarlah dia tetap hidup, meskipun di tangan perempuan lain! Lagi pula Paris pun belum menginginkan hadirnya seorang ayah baru. Baginya, cuma Irfan-lah ayahnya. Bagaimanapun buruknya perlakuan ayahnya memisahkan dirinya secara paksa dari ibunya, Paris masih tetap berduka kehilangan figur yang dikaguminya itu. Dan Widuri tidak mau merusak perkembangan jiwa anaknya dengan memberikan seorang ayah baru, justru pada saat Paris baru saja kehilangan ayahnya. Dia perlu waktu untuk menyesuaikan dirinya. Untuk menyerap semua kejadian tragis itu dalam sebuah pengertian, v. Widuri sadar, untuk saat ini, anaknya belum membutuhkan seorang ayah lagi. Substitusi yang tergesa-gesa malah membuatnya tambah bingung. Paris lebih membutuhkan dirinya. Seutuhnya sebagai ibu. Justru pada saat jiwanya yang masih muda belia itu sedang mengalami keguncangan hebat karena kehilangan figur ayah. Kalau Widuri terburu-buru mengisinya dengan memaksakan Dimaz memasuki hidupnya, bukan tidak mungkin Paris malah akan kehilangan kepercayaan kepada ibunya. Maka ketika malam itu Dimaz datang untuk menjemputnya, hanya surat Widuri yang ditemukan di rumah ibunya. “Kalau hidup ini punya cetakan kedua, barangkali akan ada perkawinan yang akan menutup kisah cinta kita, Dimaz. Tetapi tanpa perkawinan pun, cinta kita akan tetap utuh dan kekal Karena selama hati kita masih berwarna merah, selama masih ada butir-butir darah yang mengalirinya, selama itu pula garis cinta yang tertakik di sana akan tetap tergurat abadi, meskipun tidak ada ujung yang pernah mempertemukannya.” Dimaz menyimpan surat Widuri di dalam sakunya. Dan berjalan ke luar. Tubuhnya yang tinggi menjulang hitam bagai siluet, disorot dari belakang oleh cahaya lampu yang keluar melalui pintu rumah Widuri. Malam belum terlalu larut. Tetapi bulan telah tersenyum di langit sana, meskipun yang tampak hanya seketat Sinarnya redup, membelai hati Dimaz yang sedang gundah. Kau keliru Widuri, keluhnya dalam hati. Kau keliru kalau mengira aku akan menikah dengan Astri jika lamaranku kautolak. Aku tidak akan menukar cintaku dengan belas kasihan! Aku akan menolong Astri. Tapi tidak akan mengawininya. Yang ada dalam hatiku sekarang cuma iba, bukan cinta! Akar cintaku yang telah telanjur tertanam dalam di hatimu, tidak mungkin dicabut lagi, biarpun oleh sebuah traktor yang bernama cinta pertama! Sambil mengayunkan langkahnya Dimaz menengadah ke angkasa. Matanya menyapa bintang yang mengerdip lincah. Yang mengingatkannya kepada kerlingan mata seorang gadis manis yang melenggak-lenggok di atas panggung pada malam pelelangan cami-cami tujuh tahun yang lalu. Dimaz menghela napas berat. Hatinya terasa pedih. Pucuk-pucuk pohon yang m eliuk-liuk diembus angin malam ibarat rambut gadis yang diekor kuda, yang terayun lembut ke kanan dan ke kiri kalau dia menggerakkan kepalanya sambil tersenyum…. Dimaz teringat kepada malam itu… malam pertama dia melihat Widuri menggeraikan rambutnya…. Di sanakah cinta mulai bersemi? Dia begitu mengagumi gadis itu. Begitu mencintainya. Tetapi mengapa dia tidak boleh memilikinya? Mengapa dia tidak boleh memetik seruni yang dipujanya itu ketika kuncupnya sedang merekah, tidak juga waktu kelopaknya gugur tercampak ke dalam kubangan duka? Dimaz memasukkan kedua belah tangannya ke dalam saku celananya. Dan ujung jarinya menyentuh kertas itu. Surat dari Widuri. Tidak sengaja ingatannya kembali kepada surat yang lain. Surat yang dibacanya di tepi Sungai Donau di bumi Austria beberapa tahun yang lalu. Dan sebuah tekad lahir di hatinya. Kalau ada kesempatan yang ketiga, pikirnya mantap, takkan kuberi kau kesempatan lagi untuk menghilang dan meninggalkan surat!

http://www.rajaebookgratis.com/2011/01/seruni-berkubang-duka-mira-w.html

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.630 pengikut lainnya.